Cinta kepada Nabi dan Ujian bagi Umat
Penghormatan yang paling jujur kepada Rasulullah SAW tampak dalam kesediaan umat yang mengaku mengikuti beliau untuk tetap memikul jalan yang telah beliau buka.
Maulid kehilangan kedalamannya apabila umat begitu lantang mengagungkan Nabi, tetapi mudah memusuhi sesama Muslim. Seruan persatuan pun kehilangan maknanya apabila kepentingan kelompok selalu ditempatkan di atas kepentingan umat. Sebuah peringatan tidak akan berarti banyak apabila pesan yang diperingati tidak menemukan bentuk dalam sikap dan tindakan.
Rasulullah SAW telah menyampaikan risalah dan membangun umat yang melampaui batas suku dan bangsa. Yang diwariskan kepada generasi setelah beliau bukan hanya kenangan tentang seorang Nabi yang mulia, melainkan amanah untuk menjaga jalan yang telah dibuka.
Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pekan Persatuan Islam, amanah itu kembali hadir melalui sebuah perintah yang singkat, tetapi berat.
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Beristiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan.”
Perintah itu kemudian dilanjutkan dengan kalimat yang menjadikan beban tersebut sebagai tanggung jawab seluruh pengikut Rasulullah SAW.
وَمَنْ تَابَ مَعَكَ
“Dan mereka yang berjalan bersamamu.”
Rasulullah SAW telah menjalankan amanahnya. Risalah telah disampaikan dan jalan telah dibuka. Beban sejarah kemudian berada di tangan mereka yang mengaku sebagai pengikutnya.
Apakah umat masih bersedia berada di jalan itu ketika jalan tersebut tidak mudah?
Pertanyaan tersebut memberi makna yang lebih dalam kepada Maulid. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW menjadi saat bagi umat untuk menguji diri sendiri: apakah mereka masih memiliki keteguhan untuk menjaga jalan yang telah diwariskan?
Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah SAW tidak diukur dari seberapa sering umat menyebut namanya, tetapi dari seberapa teguh mereka mempertahankan kebenaran, keadilan, dan persaudaraan yang beliau perjuangkan. []

