Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Ghadir dan Kesinambungan Hidayah

0 Pendapat 00.0 / 5

Sepulang dari Haji Wada’ pada 18 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, Rasulullah SAW menghentikan ribuan kaum Muslimin di sebuah tempat bernama Ghadir Khum. Di tengah padang yang panas, beliau menyampaikan pernyataan yang kemudian menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Islam.

“Man kuntu mawlahu fa hadza ‘Aliyyun mawlahu.” “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.”

Sebagian orang melihat peristiwa tersebut sebagai penegasan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib a.s,. Sebagian lain melihatnya sebagai bagian dari polemik politik awal Islam. Namun bagi Syiah, Ghadir melampaui dua pembacaan itu. Ghadir menjadi deklarasi tentang kesinambungan hidayah setelah berakhirnya kenabian.

Ghadir tidak pernah selesai sebagai peristiwa sejarah. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya soal siapa yang memimpin umat. Persoalannya lebih dalam lagi. Siapa yang menjaga arah agama ketika wahyu tidak lagi turun?

Peristiwa Ghadir sering dikaitkan dengan turunnya Surah Al-Ma’idah ayat 67. “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa wilayah bukan perkara pinggiran dalam agama. Jika penyampaiannya disejajarkan dengan keseluruhan risalah, maka wilayah menyentuh struktur paling dasar hidayah dalam Islam.