Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Imam Baqir a,s: Pemrakarsa Kebangkitan Intelektual Syiah 2

0 Pendapat 00.0 / 5

“Untuk menghapus rasa takut dari hati umat, tidak cukup hanya dengan menyampaikan hukum-hukum Fikih. Diperlukan sesuatu yang lebih mendalam, pendekatan strategis yang mengakar. Inilah yang dilakukan oleh Imam Baqir (a,s). Ia tidak hanya berbicara; ia membentuk umat, menyusun barisan, dan menyalakan api kesadaran yang sebelumnya hampir padam.”

Ayatullah Khamenei membantah klaim sebagian sejarawan yang menyatakan bahwa Imam Baqir dan Imam Shadiq memanfaatkan perselisihan antara Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.

“Pernyataan bahwa Imam Baqir memanfaatkan konflik Umayyah-Abbasiyah keliru besar. Di masa beliau, perselisihan itu belum muncul. Imam hidup dari tahun 95 hingga 114 Hijriyah, di bawah kekuasaan tokoh-tokoh paling kejam dari keluarga Marwan, termasuk Hisyam. Tapi meski dikepung tirani, beliau berhasil membangun basis kekuatan dan memperluas jaringan pemikiran Syiah.”

Imam Baqir (a,s) bahkan dua kali ditawan dan dibawa ke Suriah; pertama kali di usia empat tahun pada masa Yazid, dan kedua bersama Imam Shadiq (a,s) pada masa Hisyam. Kedua peristiwa penawanan itu memiliki nilai strategis dan spiritual tinggi yang memengaruhi arah perjuangan umat Islam.

Salah satu langkah cerdas Imam Baqir (a,s) yang disoroti oleh Ayatullah Khamenei adalah wasiat beliau agar umat mengadakan majelis duka untuknya di Mina selama sepuluh hari.

“Imam tidak meminta berkabung demi dirinya pribadi. Tapi beliau melihat Mina sebagai medan strategis: tempat berkumpulnya umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Saat orang bertanya, ‘Majelis ini untuk siapa? Mengapa kalian berkabung?’ Maka pesan perjuangan dan pengorbanan Imam Baqir akan tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Ini adalah strategi politik cemerlang yang hanya dimiliki para Imam Ma’shum.”

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa seluruh upaya Imam Baqir (a,s) adalah bagian dari Jihad Intelektual dan perjuangan untuk menghidupkan kembali umat yang tertindas dan tercerai-berai pasca-Karbala. Melalui ilmu, kesabaran, dan kebijaksanaan, Imam Baqir membentuk pondasi peradaban yang hari ini menjadi kekuatan kokoh dalam wajah Islam yang menolak tunduk pada arogansi kekuasaan.[]