Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Ibnu Sina : Filosof Par Excellence 1

0 Pendapat 00.0 / 5

Seorang filsuf yang sangat energik dengan kehidupan berwarna-warni; seorang politisi, wazir, dokter, ahli fisika. Pernah mengalami hidup dengan reputasi yang melambung dan sukses karirnya dalam bidang kedokteran yang mengantarkan menjadi tokoh selebriti di berbagai istana, namun kemudian terusir dan mengalami kehidupan yang berat. Menulis lebih dari 250 karya yang beruntung  masih bisa diselamatkan. Memiliki kemampuan menulis dalam segala situasi.

Selain kekuatan memori dan otaknya, ia juga dikarunia kekuatan fisik. Setelah menghabiskan waktunya,  ia masih bisa menuliskan karya-karya briliannya. Sezaman dengan para sufi besar seperti Abu Sa’id al-Khudri yang mengokohkan bahwa sufi dan filsafat bisa menyatu. Kata-kata yang terkenal lahir dari pertemuan ini bahwa apa yang dilihat seorang sufi dapat dipahami oleh  seorang filsuf dan apa yang dipahami oleh seorang filsuf dapat dilihat oleh seorang sufi.

Abu Ali Sina, atau yang bisa disebut Ibnu Sina dan dalam bahasa Latin Avicenna, lahir tahun 370/980 di dekat Bukhara di Asia Tengah. Pada usia 30 tahunan ia mulai mempelajari  kedokteran. Keahlian dalam bidang kedokteran menarik perhatian Sultan Bukhara yaitu Nuh bin Manshur.

Ia seorang  filsuf  Par Excelence dan figur yang merepresentasikan filsafat peripatetik yang sesungguhnya. Figur awal peripatetik Islam adalah al-Kindi, Farabi dan Ibnu Rusyd, namun kemudian di tangan Ibnu Sina lewat kitab-kitab Magnum Opus-nya.  Ilahiyah Syifa adalah kitab ensiklopedia Islam yang memuat hampir seluruh tema-tema, teori, konsep, dan definisi tentang filsafat Islam. Mulla Sadra pernah mengkritik Ibnu Sina yang masih memiliki kesibukan dalam urusan-urusan duniawi, padahal mungkin dalam pikiran Mulla Sadra, andaikata Ibnu Sina mencurahkan seluruh waktunya untuk urusan–urusan keilmuan saja, maka produktifitas dan konten filsafat Ibnu Sina akan lebih berkualitas dan lebih komprehensif.