Ibnu Sina : Filosof Par Excellence 2
Sejak masih muda ia selalu haus dengan ilmu. Ia selalu berusaha mencari dan belajar dari guru-guru yang terbaik di zamannya, dari agama dan bangsa manapun dan biasanya setelah itu ia melampaui sang guru. Ia sangat beruntung hidup dalam dua bahasa Persia dan Arab. Bahasa persia adalah bahasa ibunya dan bahasa arab adalah bahasa pendidikannaya. Ia sangat menguasai bahasa Arab hanya dalam 3 tahun dan menulis puisi dan sastra dalam bahasa Arab.
Sebagian besar karya-karyanya bisa diselamatkan, tapi ada beberapa kitab brilian seperti al-inshaf dalam dua puluh jilid kitab komparasi antara Timur dan Barat tentang filsafat Aristoteles yang hilang semasa hidupnya. Konon Kitab al-Inshaf memuat puluhan ribu teori baru.
Ibn Sina adalah seorang polymat dan pemikir yang haus akan berbagai ilmu. Ia menguasai berbagai ilmu dari fisika, metafisika, biologi, matematika, kedokteran, etika dan sebagaianya. Sejak usia 7 tahun, Ibnu Sina sudah hafal akan al-Quran. Selain karena kecerdasan Ibnu Sina juga memiliki energi yang sangat besar untuk menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di tengah-tengah kesibukan dan aktifitasnya beliau masih sempat menuliskan kitab-kitab brilian seperti : Ilahiyah Syifa, an-Najat, al-Mabda wa Ma’ad, al-Mubahatsat dan kitab terakhirnya al-isyarat wa at-Tanbihat. Ibnu Sina juga menguasai geometri euclid, astronomi ptolemi dan logika Aristoteles. Lantaran ayahnya telah menginvestasikan pendidikan untuk Ibnu Sina. Ayahnya pula yang mendorong sang anak untuk mempelajari ilmu-ilmu dari Yunani, angka dari India dan tentunya juga ilmu-ilmu tradisional Islam seperti sastra Arab.

