Nabi dan Kesadaran Ketuhanan 1
Al-Qur’an menegaskan bahwa tanda-tanda Tuhan hadir di setiap arah kehidupan manusia. Dalam QS. Al-Baqarah [2]:115 disebutkan:
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Milik Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun engkau menghadap, di sana terdapat wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”
Ayat ini menegaskan bahwa realitas ketuhanan melingkupi segala sesuatu. Dengan demikian, setiap manusia sesungguhnya tidak pernah lepas dari kehadiran Tuhan. Namun muncul pertanyaan: jika demikian, mengapa Nabi masih perlu diutus? Bukankah kesadaran akan Tuhan sudah inheren dalam diri manusia?
Al-Qur’an menyebut bahwa setiap manusia telah membawa fitrah pengenalan terhadap Tuhan. Dalam QS. Ar-Rum [30]:30 ditegaskan:
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“(Itulah) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
Artinya, manusia pada dasarnya telah memiliki kecenderungan alami untuk mengenal Tuhan. Dari perspektif ini, dapat dikatakan bahwa seluruh manusia memang “bertuhan”. Kesadaran ini bukan hasil ciptaan budaya atau tradisi semata, melainkan sesuatu yang melekat pada esensi kemanusiaan.
Meski setiap manusia memiliki fitrah ketuhanan, Al-Qur’an menegaskan dimensi lain yang lebih mendalam: seluruh wujud manusia bersifat relasional, bergantung secara mutlak kepada Tuhan. Dalam QS. Fāṭir [35]:15 dinyatakan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia! Kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.”

