Taklif Sosial Membutuhkan Kesadaran Kolektif
Lebih lanjut, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa taklif memiliki dua dimensi, yaitu individual dan sosial. Menurutnya, ibadah personal memang dapat dilaksanakan secara sendiri-sendiri, tetapi perjuangan membangun peradaban tidak mungkin diwujudkan tanpa kerja kolektif.
“Taklif kita ada dua bentuk, yaitu individual dan sosial. Mungkin kita bisa menyelesaikan urusan salat kita sendiri, berwudu dengan benar, memahami hukum salat, puasa, zakat, haji, dan umrah. Semua itu bersifat personal. Tetapi bagaimana seluruh ibadah personal itu memberi dampak sosial? Sebab, kehidupan sosial bergerak secara nyata melalui sistem yang bekerja di luar diri kita. Jika kita menghadapi sistem besar yang dapat menggilas kita, lalu kita memilih berdiri sendirian, percayalah, kalau tidak dipecundangi maka kita akan menjadi pecundang. Tujuan diturunkannya agama dan diutusnya para nabi bukan hanya membangun kesadaran individual, melainkan juga membangun kesadaran kolektif demi terwujudnya peradaban yang terpimpin. Untuk itulah Aba Abdillah al-Husain meninggalkan Madinah, menuju Makkah, kemudian syahid di Karbala.”
Oleh karena itu, menurut beliau, tujuan akhir mengikuti madrasah Muharram bukan sekadar memperoleh pengalaman spiritual, melainkan melahirkan karakter yang partisipatif dan siap mengambil peran dalam perjuangan bersama.
“Menyadari dan meyakini semua ini, semestinya kita keluar dari sepuluh hari Madrasah Karbala bukan lagi sebagai orang yang merasa cukup bergerak sendirian. Keluar dari madrasah ini harus terbangun dalam diri kita kesadaran kolektif dan partisipatif. Karena setiap kita memiliki kelemahan, setiap kita dha’if, setiap kita tidak memiliki apa-apa. Tidak ada yang layak kita persembahkan sebagai individu. Memangnya apa modal kita sebagai individu untuk dibawa ke hadapan Rasulullah SAW?”

