Karb wa Bala’ sebagai Ujian Sikap
Menjelang akhir ceramahnya, Ustadz Ahmad Hidayat mengajak seluruh jemaah untuk melakukan refleksi yang jujur di hadapan Imam Aba Abdillah al-Husain a.s. Pertanyaan tentang posisi dan peran, menurut beliau, bukan sekadar renungan intelektual, melainkan ukuran sejauh mana seseorang telah menjadikan Karbala sebagai pedoman hidup.
“Ikhwan sekalian, jika demikian adanya, pertanyaannya saya ulangi, posisi kita di mana? Peran apa yang hendak kita ambil setelah Asyura ini? Mari kita definisikan dan identifikasi diri kita dengan baik di hadapan Aba Abdillah al-Husain.”
Menurut beliau, ketidakjelasan dalam menentukan posisi sejatinya merupakan bentuk Karb wa Bala’ yang dihadapi setiap manusia. Karena itu, doa Imam Husain a.s. ketika memasuki Karbala tidak hanya menjadi doa historis, tetapi juga menjadi pelajaran bagi setiap mukmin agar mampu bersikap tegas dalam memilih antara kebenaran dan kebatilan.
“Imam Husain a.s., pada hari pertama memasuki Karbala, mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Ya Allah, lindungi aku dari Karb wa Bala’. Maksud doa ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga meninggalkan pesan bahwa Karb wa Bala’ akan selalu hadir dalam kehidupan kita. Ketika kita dihadapkan pada dua pilihan yang membuat kita bimbang untuk menetapkan mana kebenaran yang harus diperjuangkan dan mana kezaliman yang harus ditinggalkan secara total, atau ketika kita memilih mengambang di antara hak dan batil sehingga tidak memiliki ketegasan dalam sikap hidup.”

