Dari Ratapan Menuju Gerakan
Ustadz Ahmad kemudian mengajak hadirin melihat makna tangisan Asyura dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, ratapan atas tragedi Karbala bukanlah ekspresi emosional yang berhenti pada kesedihan, melainkan energi yang membangkitkan kesadaran untuk ikut terlibat dalam perjuangan melawan kezaliman.
“Ikhwan sekalian, ada yang menarik untuk kita renungkan bersama. Ketika peristiwa ini masuk ke dalam kesadaran emosional kita yang paling dalam, lalu menyentuh perasaan kita sehingga kita berbelasungkawa dengan tangisan dan memukul dada, sesungguhnya kita sedang mempercepat detak jantung perjuangan kita di hadapan berbagai peristiwa yang sedang terjadi. Dengan begitu, diri kita menjadi lebih progresif dan lebih aktif dalam membela Aba Abdillah al-Husain, yang wujudnya adalah perlawanan terhadap Zionis, dan kita mengambil bagian di dalamnya.”
Beliau menjelaskan bahwa ungkapan duka atas kesyahidan Imam Husain a.s. merupakan sarana membangunkan kembali sel-sel kesadaran yang telah lama mati akibat kelalaian dan ketidakpedulian terhadap perjuangan agama.
“Tepuk dada tidak berhenti sebagai ungkapan belasungkawa. Ia menggerakkan seluruh sel-sel dalam diri kita yang mati, yang kehilangan momentum, yang tidak siap bergerak, yang malas, yang tidak peduli, yang kehilangan kepekaan terhadap matinya dakwah agar kembali hidup dan berkembang di tengah kehidupan kita.”

