Tangisan Nabi dan Kabar dari Langit 2
Jibril kemudian berkata, “Sesungguhnya umatmu akan membunuh cucumu ini. Jika engkau menghendaki, aku akan menunjukkan kepadamu tempat ia akan gugur.”
Sebagai tanda atas peristiwa itu, Jibril menyerahkan segenggam tanah merah dari Karbala kepada Rasulullah SAW. Tanah tersebut kemudian dipercayakan kepada Ummu Salamah seraya berpesan agar disimpan. Rasulullah SAW. bersabda, apabila suatu hari tanah itu berubah menjadi darah, saat itulah Imam Husain telah gugur sebagai syahid.
Bagi Ustadz Zahir, riwayat tersebut tidak dimaksudkan semata-mata untuk membangkitkan kesedihan. Ada pesan yang jauh lebih besar yang hendak dipahami umat.
“Perhatian para nabi terdahulu dan juga Nabi Muhammad SAW. terhadap peristiwa syahidnya Imam Husain menunjukkan keagungan peristiwa tersebut di mata para nabi dan tentu juga di mata Allah SWT.”
Ustadz Zahir mengajak hadirin menarik sebuah kesimpulan mendasar. Jika syahadah Imam Husain telah diberitakan kepada para nabi dan mendapat perhatian sedemikian besar dari Rasulullah SAW., maka pengorbanan yang terjadi di Karbala pasti mengandung tujuan yang sama agungnya.
“Peristiwa pengorbanan agung yang terjadi di Karbala tidak mungkin terjadi kecuali untuk sebuah tujuan dan pelajaran yang juga agung.”
Menurutnya, terlalu sederhana apabila tragedi Karbala dipahami hanya sebagai ajakan melawan kezaliman. Nilai itu memang ada, tetapi bukan inti dari seluruh pengorbanan Imam Husain.
“Allah tidak mungkin merelakan kekasih-Nya, Al-Husain, terbantai dengan cara yang begitu tragis apabila tujuannya hanya untuk menyampaikan konsep sederhana yang bahkan telah dipahami umat Islam, seperti keharusan melawan kezaliman.”
Kalimat itu menjadi titik balik seluruh ceramahnya. Dengan intonasi yang tenang namun tegas, Ustadz Zahir kemudian menyampaikan tesis yang menjadi benang merah pembahasan selanjutnya.
“Ketahuilah, melawan kezaliman hanyalah bagian kecil dari tujuan kebangkitan Imam Husain.”

