Karbala: Perjuangan Martabat, Bukan Semata-mata Perlawanan 2
Kalimat itu menjadi fondasi argumentasi yang terus di bangun. Ustadz Zahir mengajak hadiri membaca kembali sejarah Karbala secara utuh, bukan hanya melalui akhir tragedinya. Menurutnya, Imam Husain tidak pernah menjadikan peperangan sebagai tujuan. Sejarah menunjukkan bahwa beliau masih membuka berbagai jalan untuk menghindari pertumpahan darah selama kehormatan manusia tetap terjaga.
Situasi berubah ketika pasukan Yazid memaksakan satu pilihan yang tidak lagi menyisakan ruang bagi kebebasan nurani. Imam Husain hanya dihadapkan pada dua kemungkinan: tunduk melalui baiat kepada Yazid atau mempertahankan kehormatan dengan segala konsekuensinya.
Dalam keadaan seperti itulah Imam Husain mengucapkan kalimat yang kemudian bergema sepanjang sejarah. “Hayhāt minnā al-dhillah.” Jauh dari kami menerima kehinaan.
Menurut Ustadz Zahir, kalimat tersebut bukan hanya slogan perjuangan, melainkan deklarasi tentang hakikat manusia. Imam Husain menolak segala bentuk ketundukan yang lahir dari paksaan karena kehormatan manusia tidak dapat dipertukarkan dengan keselamatan sesaat.
“Al-Husain bangkit dan gugur untuk menegakkan kehormatan, kemuliaan, dan martabat manusia,” tegasnya.
Ustadz Zahir kemudian mengingatkan agar pesan Karbala tidak dipersempit hanya menjadi simbol jihad atau amar makruf nahi mungkar. Semua dimensi itu memang hadir dalam perjuangan Imam Husain, tetapi bukan alasan utama mengapa beliau dibunuh.

