Fenomena Eksploitasi Manusia Dibalik Kata Khidmat
Istilah “khidmat” yang secara harfiah berarti mengabdi atau setia kepada sesuatu yang mulia—Allah, umat, atau Imam Mahdi—semestinya membawa makna luhur dalam praktiknya. Namun, kenyataannya, banyak para pemuka agama atau talabeh (pelajar agama) mengalami ketidakadilan dalam apresiasi atas khidmat mereka. Penghargaan yang layak sebagai manusia seringkali diabaikan, justru dengan alasan bahwa mereka sedang berkhidmat di jalan Allah.
Realitasnya, seseorang yang berkhidmat juga membutuhkan jaminan hidup yang layak. Mereka perlu makan, keluarganya perlu biaya pendidikan, dan kesehatan harus terjamin. Jika apresiasi tidak diberikan secara memadai, fokus mereka akan terpecah antara berkhidmat dengan memikirkan hal-hal mendasar dalam kehidupan sehari-hari.
Penting dipahami bahwa apresiasi yang dimaksud bukanlah bentuk hedonisme yang berlebihan, seperti upah ratusan juta sekali ceramah atau kegiatan agama yang glamor. Sebaliknya, apresiasi adalah bentuk tanggung jawab moral kita kepada mereka yang telah mencurahkan tenaga, ilmu, dan waktu demi umat. Prinsip ini sejalan dengan hukum alam: take and give. Kita tidak bisa hanya mengambil sebanyak mungkin tanpa memberi sebanyak mungkin pula.

