Fenomena Eksploitasi Manusia Dibalik Kata Khidmat 2
Seringkali, kita mendengar kalimat, “Imam Mahdi yang membalasnya” atau “Allah yang akan membalasnya”. Meskipun pernyataan ini secara teologis benar, menggunakannya untuk menghindari kewajiban membayar upah layak adalah manipulatif. Pertama, ketika kita sendiri yang mengambil manfaat dari usaha orang lain, mengapa tanggung jawab membalas jasa itu dilimpahkan kepada Imam atau Allah? Kedua, dengan kalimat tersebut, seseorang merasa sungkan untuk meminta haknya, karena “dijamin Allah”—sebuah manipulasi yang halus tetapi menyakitkan. Ketiga, dengan alasan ini, kita menjadi abai terhadap kehidupan nyata para pemuka agama tersebut. Kita tidak tahu bagaimana kondisi dapurnya, kesehatan keluarganya, bahkan isi perut mereka sehari-hari.
Memberikan apresiasi yang layak bukanlah penolakan terhadap keberkahan spiritual. Justru dengan memberi apresiasi secara materi yang layak, kita turut berpartisipasi dalam keberkahan tersebut. Dengan demikian, ilmu yang kita dapatkan dari pemuka agama menjadi berkah, harta kita pun mendapat keberkahan karena digunakan di jalan yang benar, dan semua ini menjadi investasi amal jangka panjang di hari pembalasan.Kondisi kurangnya apresiasi ini membawa dua kemungkinan buruk. Pertama, seorang pemuka agama atau talabeh harus mencari sumber penghasilan lain, seperti berbisnis atau bekerja di bidang yang tidak terkait dengan khidmatnya. Hal ini mengakibatkan berkurangnya fokus mereka dalam mendalami ilmu agama, yang pada akhirnya mengurangi kualitas khidmatnya. Kedua, kondisi lebih parah adalah mereka terpaksa meminta bantuan dari lembaga atau pihak tertentu, menempatkan mereka dalam posisi yang sangat rentan dan tidak nyaman secara martabat manusia.

