Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Filsafat & Irfan

Standar Ganda terhadap Ahlulbait2

Standar Ganda terhadap Ahlulbait2

Cerita-cerita itu diterima dan dibukukan para sejarawan. Mereka begitu telaten mengumpulkan kisah-kisah sejarah itu, menyusunnya dengan rapi di lembar-lembar buku dan kitab, lalu mewariskannya sebagai fakta yang layak dipercaya. Namun, anehnya, ketika sejarah mulai bertutur tentang mu’jizat dan karamah Ahlulbait as, nada mereka tiba-tiba berubah. Senyum sinis menggantikan ketelitian, tawa mengejek menutupi kejujuran ilmiah dan cap khurafat serta sesat pun dijatuhkan begitu saja.

Baca Yang lain

Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan 2

Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan 2 Membaca keseluruhan bab ini, kita mulai memahami mengapa penulis tesis memilih judul Tasawuf Syi’i dalam Pemikiran Tasawuf Jalaluddin Rakhmat. Yang ia temukan bukan sekadar penggunaan istilah-istilah tasawuf.

Baca Yang lain

Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan 1

Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan 1 Di sinilah perjalanan ruhani mencapai puncaknya. Setelah seseorang belajar bertaubat. Setelah ia membersihkan hati. Setelah ia mengenal Allah melalui sifat-sifat keagungan dan kasih sayang-Nya. Setelah ia berjuang melawan hawa nafsunya. Apa yang tersisa? Doa.

Baca Yang lain

Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan

Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan Kalau ada satu bulan yang paling sering dibicarakan Kang Jalal ketika menjelaskan tasawuf, bulan itu adalah Ramadhan. Tetapi Ramadhan, dalam pandangan beliau, bukan sekadar bulan untuk memperbanyak ibadah.

Baca Yang lain

Sesudah hati, ruh, dan akal, barulah Nafs

Sesudah hati, ruh, dan akal, barulah Nafs Sesudah hati, ruh, dan akal, Kang Jalal membawa pembaca kepada lawan terbesar manusia. Yaitu nafs.

Baca Yang lain

Sesudah qalb, Tasawuf Kang Jalal mengajak kita memahami ruh

Sesudah qalb, Tasawuf Kang Jalal mengajak kita memahami ruh Beliau menjelaskan bahwa ruh juga mempunyai dua pengertian. Ada ruh yang berkaitan dengan kehidupan jasmani, dan ada ruh sebagai dimensi ruhani yang menjadi pusat kesadaran manusia. Dalam pengertian kedua inilah ruh hampir tidak dapat dipisahkan dari qalb. Ruh merasakan kebahagiaan, penderitaan, kerinduan, ketenangan, dan kedekatan dengan Allah. Ruh bukan sesuatu yang dapat dilihat mata, tetapi pengaruhnya menentukan seluruh arah kehidupan manusia.  

Baca Yang lain

Tasawuf dimulai dari qalb

Tasawuf dimulai dari qalb Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menerjemahkan qalb sebagai hati. Namun Kang Jalal menjelaskan bahwa dalam khazanah tasawuf, qalb mempunyai dua pengertian. Pertama adalah jantung sebagai organ fisik yang memompa darah ke seluruh tubuh. Kedua adalah hati dalam pengertian ruhani, yaitu pusat kesadaran manusia, tempat lahirnya cinta, keikhlasan, ketakutan, harapan, dan seluruh keputusan moral. 

Baca Yang lain

Tasawuf tidak mengajak orang hidup dalam ketakutan

Tasawuf tidak mengajak orang hidup dalam ketakutan Beliau mengajak manusia mengenal Allah sebagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya sendiri: Mahaperkasa sekaligus Maha Pengasih, Mahaadil sekaligus Maha Penyayang.  

Baca Yang lain

Tasawuf selalu mendorong manusia menuju perubahan

 Tasawuf selalu mendorong manusia menuju perubahan Kang Jalal menjelaskan bahwa Al-Qur’an memperkenalkan Allah melalui banyak nama yang indah, Asmaul Husna. Dari nama-nama itu, para sufi kemudian melihat adanya dua dimensi besar dalam cara manusia mengenal Tuhannya.  

Baca Yang lain

Puncak perjalanan itu disebut Kang Jalal sebagai tasawuf madzhab hakikat

Puncak perjalanan itu disebut Kang Jalal sebagai tasawuf madzhab hakikat Pada tahap ini, seorang hamba tidak lagi menjadikan Allah sekadar objek ibadah. Allah menjadi tujuan hidupnya. Seluruh perjalanan, seluruh kerinduan, seluruh harapan, seluruh cinta, akhirnya bermuara kepada-Nya. Seorang sufi berusaha melepaskan sifat-sifat rendah dalam dirinya agar semakin memantulkan sifat-sifat Allah berupa kasih sayang, keadilan, kelembutan, dan kebijaksanaan.  

Baca Yang lain

Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 3

Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 3 Makrifat bukanlah pengetahuan yang diperoleh melalui membaca buku semata. Dalam penjelasan Kang Jalal yang dikutip penulis tesis, makrifat adalah pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepada hati yang telah dibersihkan. Tradisi tasawuf mengenalnya sebagai ilmu laduni atau ilmu hudhuri, yakni pengetahuan yang lahir dari kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.  

Baca Yang lain

Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 2

Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 2 Beliau tidak pernah memandang tasawuf sebagai jalan yang terpisah dari Al-Qur’an dan Sunnah. Justru sebaliknya. Dalam berbagai tulisannya yang dikaji dalam tesis ini, Kang Jalal berulang kali menunjukkan bahwa tasawuf adalah usaha membersihkan diri dengan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah secara lebih mendalam. Ia bukan tambahan di luar agama, tetapi dimensi terdalam dari agama itu sendiri. BAB IV.pdf  

Baca Yang lain

Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 1

Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 1 Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun di situlah sesungguhnya seluruh bangunan pemikiran tasawuf KH. Jalaluddin Rakhmat berdiri. Beliau meyakini bahwa perubahan masyarakat tidak pernah lahir dari kebencian, tidak pula dari banyaknya perdebatan. Perubahan selalu dimulai dari manusia. Dan perubahan manusia selalu dimulai dari hati.  

Baca Yang lain

Kejahatan, Keburukan, dan Tatanan Terbaik (Nizham Ahsan)

Kejahatan, Keburukan, dan Tatanan Terbaik (Nizham Ahsan) Kehadiran perang dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari pembahasan yang lebih luas tentang keberadaan kejahatan dan keburukan di alam ini. Para filsuf dan teolog sepakat bahwa alam materi adalah alam paradoks—alam yang di dalamnya terdapat tazahum (saling berbenturan) antara berbagai kepentingan dan potensi.  

Baca Yang lain

Kesimpulan: kapasitas mendahului konvensi

Kesimpulan: kapasitas mendahului konvensi Pengalaman historis Muhammad al-Jawād—baik dalam literatur Syiah maupun Sunni—dan paralel modern dalam dunia akademik menunjukkan satu prinsip yang mendasar: kapasitas intelektual dan moral tidak terikat oleh kalender biologis.

Baca Yang lain

Relevansi kontemporer: melawan ageisme epistemik

Relevansi kontemporer: melawan ageisme epistemik Studi kasus Muhammad al-Jawād memiliki relevansi langsung terhadap isu kontemporer tentang ageisme epistemik—yaitu kecenderungan untuk mendiskreditkan atau meremehkan pengetahuan seseorang semata-mata berdasarkan usia mereka, baik terlalu muda maupun terlalu tua.  

Baca Yang lain

Menuju Peradaban Ilmu yang Berakar: Catatan Reflektif dari Konferensi Filsafat dan Islamisasi Pengetahuan(2)

Menuju Peradaban Ilmu yang Berakar: Catatan Reflektif dari Konferensi Filsafat dan Islamisasi Pengetahuan(2) Untuk menghindari stagnasi dan fragmentasi konsep, Prof. Mottaghi mengusulkan tujuh langkah strategis bagi integrasi ilmu dan Islam. Langkah pertama adalah menyepakati definisi. Selama kita berbeda dalam memahami apa itu ilmu, Islamisasi, dan integrasi keilmuan, maka seluruh wacana hanya akan berakhir pada perdebatan terminologi. Langkah kedua adalah menyepakati kosakata keilmuan. Istilah yang kabur hanya melahirkan pemikiran yang kabur.

Baca Yang lain

Menuju Peradaban Ilmu yang Berakar: Catatan Reflektif dari Konferensi Filsafat dan Islamisasi Pengetahuan(1)

Menuju Peradaban Ilmu yang Berakar: Catatan Reflektif dari Konferensi Filsafat dan Islamisasi Pengetahuan(1) Dalam wacana keilmuan Islam kontemporer, kita sering mendengar istilah seperti filsafat ilmu, epistemologi Islam, dan Islamisasi pengetahuan. Namun sebagaimana disampaikan Prof. Hossein Mottaghi dalam Konferensi Filsafat & Islamisasi Ilmu Pengetahuan, sesungguhnya apa yang kita diskusikan hari ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Peradaban manusia telah lama berbicara tentang asal-usul ilmu, tujuan ilmu, validitas pengetahuan, serta hubungan antara wahyu dan akal.

Baca Yang lain

Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (6)

Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (6) Berikutnya adalah konsep al-‘aql al-kulli atau Akal Universal dalam filsafat Sadra. Ini merupakan prinsip intelektif kosmik yang menjadi sumber dan horizon kesatuan pengetahuan. Akal Universal ini adalah realitas intermedial antara Yang Mutlak dan dunia partikular, dan merupakan wadah bagi forma-forma universal dan prinsip-prinsip eksistensial yang mendasari keteraturan kosmos.   

Baca Yang lain

Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (5)

Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (5) Prinsip keempat dalam filsafat Sadra adalah ashalat al-wujud (أصالة الوجود) atau “primordialitas wujud” . Prinsip ini menyatakan bahwa wujud atau eksistensi adalah realitas primer dan sejati, sedangkan mahiyah atau esensi bersifat sekunder dan hanya konsep mental belaka. Dalam pandangan ini, yang benar-benar ada dan real di dunia luar adalah wujud itu sendiri, bukan esensi-esensi seperti “manusia”, “pohon”, atau “batu”.   

Baca Yang lain