Filsafat & Irfan
Standar Ganda terhadap Ahlulbait2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Salim Muhsin, M.Pd.
Cerita-cerita itu diterima dan dibukukan para sejarawan. Mereka begitu telaten mengumpulkan kisah-kisah sejarah itu, menyusunnya dengan rapi di lembar-lembar buku dan kitab, lalu mewariskannya sebagai fakta yang layak dipercaya. Namun, anehnya, ketika sejarah mulai bertutur tentang mu’jizat dan karamah Ahlulbait as, nada mereka tiba-tiba berubah. Senyum sinis menggantikan ketelitian, tawa mengejek menutupi kejujuran ilmiah dan cap khurafat serta sesat pun dijatuhkan begitu saja.
Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- kang jalal
Membaca keseluruhan bab ini, kita mulai memahami mengapa penulis tesis memilih judul Tasawuf Syi’i dalam Pemikiran Tasawuf Jalaluddin Rakhmat.
Yang ia temukan bukan sekadar penggunaan istilah-istilah tasawuf.
Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- kang jalal
Di sinilah perjalanan ruhani mencapai puncaknya.
Setelah seseorang belajar bertaubat.
Setelah ia membersihkan hati.
Setelah ia mengenal Allah melalui sifat-sifat keagungan dan kasih sayang-Nya.
Setelah ia berjuang melawan hawa nafsunya.
Apa yang tersisa?
Doa.
Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- kang jalal
Kalau ada satu bulan yang paling sering dibicarakan Kang Jalal ketika menjelaskan tasawuf, bulan itu adalah Ramadhan.
Tetapi Ramadhan, dalam pandangan beliau, bukan sekadar bulan untuk memperbanyak ibadah.
Sesudah hati, ruh, dan akal, barulah Nafs
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Sesudah hati, ruh, dan akal, Kang Jalal membawa pembaca kepada lawan terbesar manusia.
Yaitu nafs.
Sesudah qalb, Tasawuf Kang Jalal mengajak kita memahami ruh
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Beliau menjelaskan bahwa ruh juga mempunyai dua pengertian. Ada ruh yang berkaitan dengan kehidupan jasmani, dan ada ruh sebagai dimensi ruhani yang menjadi pusat kesadaran manusia. Dalam pengertian kedua inilah ruh hampir tidak dapat dipisahkan dari qalb. Ruh merasakan kebahagiaan, penderitaan, kerinduan, ketenangan, dan kedekatan dengan Allah. Ruh bukan sesuatu yang dapat dilihat mata, tetapi pengaruhnya menentukan seluruh arah kehidupan manusia.
Tasawuf dimulai dari qalb
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menerjemahkan qalb sebagai hati. Namun Kang Jalal menjelaskan bahwa dalam khazanah tasawuf, qalb mempunyai dua pengertian. Pertama adalah jantung sebagai organ fisik yang memompa darah ke seluruh tubuh. Kedua adalah hati dalam pengertian ruhani, yaitu pusat kesadaran manusia, tempat lahirnya cinta, keikhlasan, ketakutan, harapan, dan seluruh keputusan moral.
Tasawuf tidak mengajak orang hidup dalam ketakutan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Beliau mengajak manusia mengenal Allah sebagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya sendiri: Mahaperkasa sekaligus Maha Pengasih, Mahaadil sekaligus Maha Penyayang.
Tasawuf selalu mendorong manusia menuju perubahan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Kang Jalal menjelaskan bahwa Al-Qur’an memperkenalkan Allah melalui banyak nama yang indah, Asmaul Husna. Dari nama-nama itu, para sufi kemudian melihat adanya dua dimensi besar dalam cara manusia mengenal Tuhannya.
Puncak perjalanan itu disebut Kang Jalal sebagai tasawuf madzhab hakikat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Pada tahap ini, seorang hamba tidak lagi menjadikan Allah sekadar objek ibadah. Allah menjadi tujuan hidupnya. Seluruh perjalanan, seluruh kerinduan, seluruh harapan, seluruh cinta, akhirnya bermuara kepada-Nya. Seorang sufi berusaha melepaskan sifat-sifat rendah dalam dirinya agar semakin memantulkan sifat-sifat Allah berupa kasih sayang, keadilan, kelembutan, dan kebijaksanaan.
Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 3
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Makrifat bukanlah pengetahuan yang diperoleh melalui membaca buku semata. Dalam penjelasan Kang Jalal yang dikutip penulis tesis, makrifat adalah pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepada hati yang telah dibersihkan. Tradisi tasawuf mengenalnya sebagai ilmu laduni atau ilmu hudhuri, yakni pengetahuan yang lahir dari kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.
Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Beliau tidak pernah memandang tasawuf sebagai jalan yang terpisah dari Al-Qur’an dan Sunnah. Justru sebaliknya. Dalam berbagai tulisannya yang dikaji dalam tesis ini, Kang Jalal berulang kali menunjukkan bahwa tasawuf adalah usaha membersihkan diri dengan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah secara lebih mendalam. Ia bukan tambahan di luar agama, tetapi dimensi terdalam dari agama itu sendiri. BAB IV.pdf
Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun di situlah sesungguhnya seluruh bangunan pemikiran tasawuf KH. Jalaluddin Rakhmat berdiri. Beliau meyakini bahwa perubahan masyarakat tidak pernah lahir dari kebencian, tidak pula dari banyaknya perdebatan. Perubahan selalu dimulai dari manusia. Dan perubahan manusia selalu dimulai dari hati.
Kejahatan, Keburukan, dan Tatanan Terbaik (Nizham Ahsan)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- M. Taqi Misbah Yazdi
Kehadiran perang dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari pembahasan yang lebih luas tentang keberadaan kejahatan dan keburukan di alam ini. Para filsuf dan teolog sepakat bahwa alam materi adalah alam paradoks—alam yang di dalamnya terdapat tazahum (saling berbenturan) antara berbagai kepentingan dan potensi.
Kesimpulan: kapasitas mendahului konvensi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Muhsin Labib
Pengalaman historis Muhammad al-Jawād—baik dalam literatur Syiah maupun Sunni—dan paralel modern dalam dunia akademik menunjukkan satu prinsip yang mendasar: kapasitas intelektual dan moral tidak terikat oleh kalender biologis.
Relevansi kontemporer: melawan ageisme epistemik
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Muhsin Labib
Studi kasus Muhammad al-Jawād memiliki relevansi langsung terhadap isu kontemporer tentang ageisme epistemik—yaitu kecenderungan untuk mendiskreditkan atau meremehkan pengetahuan seseorang semata-mata berdasarkan usia mereka, baik terlalu muda maupun terlalu tua.
Menuju Peradaban Ilmu yang Berakar: Catatan Reflektif dari Konferensi Filsafat dan Islamisasi Pengetahuan(2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Prof.Dr. Hossein Mottaghi
Untuk menghindari stagnasi dan fragmentasi konsep, Prof. Mottaghi mengusulkan tujuh langkah strategis bagi integrasi ilmu dan Islam. Langkah pertama adalah menyepakati definisi. Selama kita berbeda dalam memahami apa itu ilmu, Islamisasi, dan integrasi keilmuan, maka seluruh wacana hanya akan berakhir pada perdebatan terminologi. Langkah kedua adalah menyepakati kosakata keilmuan. Istilah yang kabur hanya melahirkan pemikiran yang kabur.
Menuju Peradaban Ilmu yang Berakar: Catatan Reflektif dari Konferensi Filsafat dan Islamisasi Pengetahuan(1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Prof.Dr. Hossein Mottaghi
Dalam wacana keilmuan Islam kontemporer, kita sering mendengar istilah seperti filsafat ilmu, epistemologi Islam, dan Islamisasi pengetahuan. Namun sebagaimana disampaikan Prof. Hossein Mottaghi dalam Konferensi Filsafat & Islamisasi Ilmu Pengetahuan, sesungguhnya apa yang kita diskusikan hari ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Peradaban manusia telah lama berbicara tentang asal-usul ilmu, tujuan ilmu, validitas pengetahuan, serta hubungan antara wahyu dan akal.
Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (6)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Berikutnya adalah konsep al-‘aql al-kulli atau Akal Universal dalam filsafat Sadra. Ini merupakan prinsip intelektif kosmik yang menjadi sumber dan horizon kesatuan pengetahuan. Akal Universal ini adalah realitas intermedial antara Yang Mutlak dan dunia partikular, dan merupakan wadah bagi forma-forma universal dan prinsip-prinsip eksistensial yang mendasari keteraturan kosmos.
Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (5)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Prinsip keempat dalam filsafat Sadra adalah ashalat al-wujud (أصالة الوجود) atau “primordialitas wujud” . Prinsip ini menyatakan bahwa wujud atau eksistensi adalah realitas primer dan sejati, sedangkan mahiyah atau esensi bersifat sekunder dan hanya konsep mental belaka. Dalam pandangan ini, yang benar-benar ada dan real di dunia luar adalah wujud itu sendiri, bukan esensi-esensi seperti “manusia”, “pohon”, atau “batu”.

