Rasulullah & Ahlulbait
-
Artikel Umum
Artikel: 62 -
Rasulullah saw
Artikel: 507 -
Imam Ali as
Artikel: 292 -
Fathimah az Zahra as
Artikel: 270 -
Imam Hasan as
Artikel: 61 -
Imam Husein as
Artikel: 454 -
Imam Ali bin Husein as
Artikel: 95 -
Imam Baqir as
Artikel: 57 -
Imam Shadiq as
Artikel: 67 -
Imam Kazhim as
Artikel: 64 -
Imam Ridha as
Artikel: 65 -
Imam Jawad as
Artikel: 61 -
Imam Hadi as
Artikel: 32 -
Imam Hasan al Askari as
Artikel: 46 -
Imam Mahdi ajf
Artikel: 275
Makna Abbas bagi Umat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayyid Musa ash-Shadr
Abbas bin Ali syahid pada usia 34 tahun. Tubuhnya tercabik hingga sulit diangkat. Ia dimakamkan di tempat ia gugur, sebagai saksi abadi kesetiaan.
Abu Fadhl Penjaga Kebenaran di Malam Asyura
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayyid Musa ash-Shadr
Pada malam Asyura, saat para sahabat Imam Husain a.s. menghidupkan malam dengan ibadah, Abbas berkeliling perkemahan dengan pedang terhunus. Ia menjaga keluarga Rasulullah saw. dari ancaman musuh. Malam itu, Abbas menunjukkan bahwa ibadah tidak selalu berupa rukuk dan sujud, tetapi juga kesiapsiagaan menjaga kebenaran.
Akhlak dan Keutamaan Abu Fadhl
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayyid Musa ash-Shadr
Abbas dikenal dengan gelar Abu Fadhl—pemilik banyak keutamaan. Ia bertubuh tinggi, gagah, dan berwibawa, hingga dijuluki Qamar Bani Hasyim, Bulannya Bani Hasyim. Namun keindahan sejatinya terletak pada akhlak dan iman.
Didikan Ummu Banin: Melahirkan Jiwa Pengorbanan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayyid Musa ash-Shadr
Peran Ummu Banin dalam membentuk kepribadian Abbas tidak dapat diabaikan. Ia berasal dari kabilah Banu Kilab, yang dikenal dengan keberanian dan keteguhan. Namun keberanian Abbas bukan sekadar warisan darah; ia adalah hasil pendidikan akhlak dan ideologi. Ummu Banin mendidik anak-anaknya untuk hidup demi Ahlul Bait, bukan demi diri sendiri.
Abu Fadhl Abbas: Kesetiaan Tanpa Syarat di Jalan Kebenaran
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayyid Musa ash-Shadr
“Demi Allah, walaupun tangan kananku terputus, aku tidak akan melepaskan agamaku dan tidak akan meninggalkan Imamku.”
Wasiat Maksum untuk Semua Manusia
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Taqi Misbah Yazdi
Sebagian orang mungkin bertanya: apakah seorang maksum memerlukan wasiat seperti ini? Jawabannya terletak pada tujuan wasiat itu sendiri. Imam Ali as tidak menyampaikan wasiat ini dalam kapasitas kemaksuman, tetapi sebagai ayah. Dengan demikian, beliau menjadikan dirinya dan putranya sebagai “peraga” agar setiap ayah dan anak dapat bercermin.
Bulan Sya‘ban: Bulan Kelahiran Para Manusia Agung dan Malam Harapan (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- Wikishia
“Saya mengucapkan selamat kepada semua kaum Mukminin atas datangnya bulan Syakban yang penuh berkah. Bulan ini adalah bulan di mana Imam Husain ibn Ali (as), Imam Ali ibn al-Husayn (as), dan Abal Fazl al-Abbas dilahirkan. Bulan ini merupakan kesempatan yang besar untuk kembali kepada Allah dan memohon ampunan.”
Mawaddah: Cinta sebagai Kewajiban Agama
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mahdi Ayatullahi
Ayat ketiga yang mengikat posisi Imam Al-Husain a.s. adalah Ayat Mawaddah:
“Katakanlah, aku tidak meminta kepadamu upah apa pun atas seruanku, kecuali kasih sayang terhadap keluargaku.” (QS. asy-Syura: 23)
Siapakah Keluarga Nabi saw yang Wajib Dicintai?
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Syahid Murtadha Muthahhari
Pertanyaan penting berikutnya adalah: siapakah yang dimaksud dengan “keluarga Nabi” dalam ayat tersebut? Jawabannya dijelaskan secara gamblang dalam hadis-hadis sahih lintas mazhab.
Wanita Jenius Bani Hasyim, Sayyidah Zainab
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Salim Muhsin, M.Pd.
Ilmu adalah akar dari seluruh kebaikan. Manusia yang paling berharga adalah mereka yang memiliki pengetahuan paling banyak dan manusia yang paling rendah nilainya adalah mereka yang paling sedikit ilmunya.
Imam Ali as berkata:“Orang bodoh itu mati, walaupun ia hidup.”
Kehangatan Keluarga Zainab sa
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Salim Muhsin, M.Pd.
Keluarga Nabi sangat erat kaitannya antara satu dengan yang lainnya dan penuh kasih sayang, khususnya kepada putri kecil Zainab as. Nabi saw sering menangis setiap kali ia berbicara dengannya.
Sayyidah Zainab, Wanita Jenius Bani Hasyim
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Salim Muhsin, M.Pd.
Dalam kitab Biharul anwar disebutkan bahwa Imam Ali Zainal Abidin as berkata tentang Bibinya Sayyidah Zainab:
أنتِ بحمدِ اللهِ عالِمَةٌ غيرُ
مُعَلَّمَة، وفهِمَةٌ غيرُ مُفَهَّمَة
Engkau berkat karunia Allah berilmu tanpa ada yang mengajari dan memahami tanpa ada yang memahamkan.
Ketakwaan Sayyidah Zainab as
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Salim Muhsin, M.Pd.
Setelah peristiwa Karbala, rombongan tawanan dari keluarga Nabi saw digiring dari Kufah menuju Syam. Dalam perjalanan itu, mereka menempuh jarak jauh dengan penderitaan yang berat, haus, lapar, kelelahan, dan kesedihan yang mendalam. Imam Ali as-Sajjad as menceritakan:
Makna Nama Zainab dan Identitasnya
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Salim Muhsin, M.Pd.
Beliau adalah Zainab putri Amirul mukminin Ali as, putri Fatimah az-Zahra as dan cucu perempuan pertama Rasul saw. Beliau lahir di Madinah pada tanggal lima Jumadil ula tahun ke lima dari hijrahnya Rasul saw (05/05-05 H).
Menelusuri Akar Kekerasan terhadap Perempuan dalam Pemikiran Imam Khamenei (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Zahra Shafei
Industri mode, kecantikan, periklanan, dan pornografi telah menjadikan perempuan sebagai instrumen penghasil keuntungan. Tubuh perempuan diperas, dikemas, dan dijual atas nama kebebasan. Padahal, kenyataannya, perempuan direduksi menjadi alat objektifikasi seksual.
Akhlak Ahlulbait: Teladan yang Menghidupkan
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Sejarah mencatat betapa Ahlulbait tidak hanya mengucapkan etika ini, tetapi mewujudkannya dalam perilaku yang memikat hati manusia.
Pelajaran dari Zainab untuk Dunia
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Zahrasadat Sheykholeslam
Sayidah Zainab sa mengajarkan bahwa untuk mengubah sejarah, perempuan tidak harus meniru laki-laki. Cukuplah menjadi perempuan yang sadar, beriman, dan teguh pada nilai-nilai ilahi.
Zainab, Kekuatan Feminin dalam Cermin Iman
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Zahrasadat Sheykholeslam
Zainab sa adalah potret perempuan dengan kepribadian multidimensional: seorang alimah, pengasuh, pendidik, pemimpin politik, dan pejuang spiritual. Namun ada satu rahasia yang tak boleh dilupakan: kekuatannya justru bersumber dari keperempuannya.
Zainab Dari Pengajar hingga Pemimpin Revolusi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Zahrasadat Sheykholeslam
Sebelum tragedi Karbala, peran utama Sayidah Zainab adalah sebagai pendidik dan pengajar. Ia mengajarkan Al-Qur’an, fikih dan hadis kepada masyarakat, dan menjadi sumber ilmu bagi banyak perempuan dan lelaki di Madinah. Para ulama menyebutnya sebagai “alimah ghayru mu‘allamah”—seorang yang berilmu tanpa pernah diajari, karena ilmunya bersumber dari kesucian Ahlulbait as.
Zainab sa: Cahaya yang Tak Padam di Tengah Kegelapan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Zahrasadat Sheykholeslam
Sayidah Zainab adalah teladan abadi tentang bagaimana kekuatan feminin berakar dari iman, bukan dari rivalitas dengan laki-laki. Ia menyingkapkan kapasitas intelektual dan spiritual perempuan jauh melampaui yang pernah dibayangkan manusia. Dalam sejarah Islam, ia dikenal sebagai Aqilah Bani Hasyim—perempuan paling bijak di antara suku paling mulia, Bani Hasyim.

