ANAKMU AMANATNYA
38. PEMIKIRAN POLITIK DAN SOSIAL
Memberi Wawasan Masa Depan pada Anak-anak
Anak-anak hari ini adalah pemuda pada hari esok. Mereka akan terlibat dalam persoalan-persoalan sosial di masa depan. Kesadaran dan pemahaman mereka akan keniscayaan politik bagi negara akan menjadi sesuatu yang sangat penting. Mereka akan menjadi penjaga kekayaan budaya dan ekonomi bangsa. Mereka harus berusaha dan berjuang untuk memelihara dan mengembangkan kejayaan tanah air. Mereka harus menghadapi kaum imperialis agresor dan berjuang melawan tipu daya serta persekongkolan mereka.
Oleh karena itu, anak-anak harus dipersiapkan dari masa-masa awal kehidupannya untuk berkhidmat kepada negara. Tanggung jawab terbesar terletak di pundak para orang tua untuk mempersiapkan anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya.
Dasar-dasar kecakapan politis dan sosiologis juga harus diberikan dan dipersiapkan sejak dini. Ketika seorang anak mencapai usia remaja, dia akan memiliki kepekaan dan kesadaran atas masalah-masalah sosial dan politik yang dihadapi masyarakat tempat dia tinggal. Dia akan menaruh perhatian pada kemiskinan dan keterbelakangan yang melanda negaranya.
Keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan pemerintah harus dijelaskan kepada anak yang akan segera menapaki masa remajanya. Mereka harus diberitahu tentang ketidakjelasan yang berkembang di masyarakat. Ya, mereka harus tahu kondisi umum yang terjadi di kota-kota dan desa-desa.
Anak-anak memang belum memiliki hak suara dan belum mampu memberikan hak suaranya, tetapi para orang tua harus menjelaskan kepadanya manfaat pemilihan umum dan pemimpin yang dihasilkannya. Mereka juga harus menjelaskan kepadanya, sebagai contoh, bagaimana memilih kandidat terbaik di antara daftar nama kontestan yang bertarung di daerah itu.
Para orang tua dapat menjelaskan kepada anak, misalnya, pilihan mereka sendiri atas seorang kandidat karena kualitas-kualitas yang dimilikinya. Anak juga boleh menghadiri proses pemungutan suara.
Dia boleh bergabung bersama orang-orang dalam meneriakkan semboyan dan slogan, atau juga menyebarkan brosur-brosur dari seorang kandidat yang menurutnya layak dipilih. Kegiatan ini akan memberikan dorongan tambahan bagi tumbuhnya kesadaran dalam dirinya.
Anak-anak dan Revolusi Islam
Revolusi Islam Iran telah membuktikan bahwa anak-anak dan remaja dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi proses politik di sebuah negara. Ya, mereka adalah para pemuda yang dengan slogan, rapat-rapat umum, demonstrasi, dan partisipasi aktifnya telah membuat rezim yang menindas itu (Syah) menyerah.
Mereka telah membebaskan rakyat tertindas Iran dari cengkeraman agen dan kaki tangan Syah yang kejam. Dunia tahu bahwa keberhasilan Revolusi Islam Iran disebabkan oleh pengorbanan tertinggi yang dipersembahkan oleh anak-anak muda bangsa ini.
Mendiskusikan Masalah Politik dengan Anak
Penting bagi anak-anak untuk mempelajari situasi politik negara mereka pada khususnya dan dunia pada umumnya. Mereka dapat melakukan ini dengan membiasakan diri membaca sebuah koran yang baik setiap hari. Mereka juga bisa menonton dan mendengarkan berita di televisi dan radio. Mereka juga dapat membentuk kelompok diskusi bersama orang tua dan teman-temannya.
Dengan cara ini, mereka akan dapat menumbuhkan perhatiannya atas keselamatan saudara sebangsa dan dirinya sendiri. Proses ini akan membantu anak dalam membangun kesadaran politik dan sosial yang baik. Tak diragukan lagi, masa depan negara akan berada di tangan mereka dan di tangan beribu-ribu pemuda lain di seluruh negeri.
Anak-anak harus memahami bahwa kehidupan duniawi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ukhrawi. Demikian pula, keimanan takkan pernah dapat dipisahkan dari masalah politik. Para pemuda bangsa harus melebur secara aktif dengan seluruh peristiwa-peristiwa politik dan sosial yang terjadi di negerinya. Anak muda harus diberi kebebasan memilih yang lebih besar untuk berpartisipasi di dalam proses politik di negaranya.
39. ANAK MANJA
Adalah kenyataan bahwa setiap anak mendambakan cinta dan kasih sayang. Namun, cinta yang berlebihan sama dengan memanjakan. Cinta itu seperti makanan. Dalam batas tertentu, ia bermanfaat; namun, bila berlebihan, akan membahayakan. Pemanjaan akan memberikan pengaruh buruk dalam pengasuhan anak. Anak bukanlah alat permainan bagi orang tua, dan tak semestinya diperlakukan sebagai sumber hiburan bagi mereka.
Kenyataannya, anak merupakan calon manusia pada masa depan. Ia mesti diasuh secara hati-hati dan metodis. Tanggung jawab terhadap pengasuhan, pelatihan, dan pendidikan anak terletak pada orang tua. Anak tumbuh dewasa dan menjadi bagian dari masyarakat. Ia mesti menghadapi fluktuasi kehidupan, kesuksesan, kegagalan, jatuh, bangun, suka, dan duka yang silih berganti sepanjang hidupnya.
Pendidik yang baik akan memiliki semua faktor tersebut pada benaknya, sehingga mampu mempersiapkan generasi yang akan sanggup menghadapi semua ujian dan rintangan yang menghadang.
Orang tua mesti menyadari kenyataan bahwa cinta dan kasih sayang itu esensial dalam pengasuhan anak, tetapi bila berlebihan dapat membuahkan hasil yang tak diinginkan. Anak yang memperoleh cinta dan kasih sayang berlebihan akan menjadi manja, yang berakibat buruk bagi dirinya.
Jika Cinta Orang Tua Terlalu Permisif
Saat anak menyadari bahwa orang tua sangat mencintainya dan selalu mengizinkan apa saja yang ingin dilakukan, maka tuntutannya pun akan semakin meningkat. Ia menjadi terbiasa menuntut pemenuhan dari orang tuanya, yang memang tak ingin melihatnya kecewa. Akhirnya, karakter despotisme tertanam dalam dirinya, yang akan meningkat seiring berjalannya waktu.
Sehingga, ketika kelak berbaur dalam masyarakat, ia pun akan menuntut masyarakat untuk selalu memenuhi keinginannya, sebagaimana yang biasa dilakukan pada orang tuanya dan anggota keluarga lainnya.
Namun, tentu saja orang-orang tak akan menyukai seseorang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Sikap orang-orang ini akan menciutkan semangatnya dan ia pun menjadi korban perasaan kalah dan bosan. Sehingga kemudian perasaan itu berkembang menjadi kompleks rendah diri dan cenderung menyendiri.
Pada kasus-kasus akut, mereka bahkan berpikir untuk bunuh diri demi terlepas dari tekanan-tekanan psikologis. Sedangkan kehidupan rumah tangga orang semacam itu juga secara umum tak tenteram. Ia terlalu mengharap cinta yang banyak dari pasangannya, dan menghendaki agar pasangannya memenuhi semua keinginannya sekalipun yang tidak masuk akal.
Sementara dalam hidup perlu saling menerima dan memberi (take and give), dan jarang ada pasangan yang mau tunduk dalam hubungan satu arah. Banyak sekali istri yang tak mau menerima permintaan tak masuk akal suaminya. Akibatnya, terjadilah pertengkaran di antara mereka. Sama halnya dengan anak perempuan yang manja.
Ketika menikah, ia mengharap cinta yang lebih besar dari suaminya ketimbang yang diperoleh dari orang tuanya. Ia menghendaki suaminya memenuhi semua keinginannya, sekalipun itu tak masuk akal. Umumnya, suami tak bersedia memenuhinya. Akibatnya, terjadilah percekcokan di antara mereka.
Kelakuan mereka itu juga bisa dilihat sebagai kelanjutan dari kebiasaan mereka pada masa muda dulu. Mereka begitu kekanak-kanakan dengan bertingkah-laku seperti itu pada saat dewasa kini.
Anak yang Manja, Lemah Fisiknya
Anak-anak yang terlalu dimanjakan orang tuanya, umumnya memiliki fisik yang lemah. Mereka biasa mencari bantuan orang lain dan tidak mandiri. Kapan saja menemui kesulitan, mereka selalu berupaya melarikan diri darinya. Mereka tak berani menanggung tugas-tugas besar dan sulit. Bila mendapati kesulitan, mereka segera mencari pertolongan orang lain tanpa mencoba menyelesaikannya sendiri dan bergantung kepada Allah Swt.
Orang yang menerima asuhan melalui pemanjaan umumnya egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Karena terbiasa menerima pujian-pujian semu di masa lalu, mereka akan menanggung kepalsuan di kemudian hari. Mereka tak mampu melihat kegagalan diri sendiri. Bahkan sebaliknya, kekurangan itu mereka anggap sebagai kelebihan mereka. Mereka bekerja dalam naungan kebanggaan semu, yang sebenarnya merupakan penyakit psikologi yang parah.
Imam Ali as. berkata, "Egoisme adalah sesuatu yang paling buruk."[1]
Beliau as. juga berkata, "Seorang yang egois dan hidup dengan dirinya sendiri tidak akan menyadari kekurangan dan kegagalannya dirinya."[2]
Orang seperti ini selalu mengharap orang lain terus memuji-muji dirinya. Oleh karena itu, ia akan dikelilingi para penjilat. Sedangkan orang-orang yang lurus tidak akan memperoleh tempat di sisinya. Orang egois tentu saja tidak akan menarik simpati orang lain, melainkan justru akan mengundang kemarahan mereka.
Imam Ali as. berkata, "Seorang yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri akan berhadapan dengan banyak kesulitan."[3]
Pemanjaan Membuahkan Penguasaan pada Orang Lain
Anak yang memperoleh cinta dan perhatian berlebihan serta terlalu dimanja orang tuanya, secara bertahap akan mendominasi orang tua. Ketika dewasa, mereka akan tetap memiliki watak dominasi tersebut dan tuntutan mereka melebihi kemampuan orang tuanya.
Bila orang tua memperlihatkan ketidakmampuannya dalam memenuhi kebutuhannya, mereka pun mencari jalan untuk membuat kericuhan. Anak seperti itu tahu betul bahwa orang tuanya memanjakannya, sehingga selalu memiliki jalan untuk berbohong demi memperoleh apa yang diinginkannya.
Orang tua, disebabkan kecintaan mereka, terkadang meremehkan perlunya pengasuhan yang baik dan cenderung menuruti tingkah laku dan keinginan anak. Mereka menutup mata terhadap kekurangan anak dan mengabaikan tugas memperbaikinya. Demi menyenangkan anak, orang tua terkadang bahkan meremehkan norma-norma yang telah diatur agama (syariat).
Imam Muhammad Baqir as. berkata, "Seburuk-buruknya ayah adalah yang berlebihan mencintai anaknya."[4]
Anak semestinya hidup dengan optimisme dan rasa takut kepada Allah. Ia mesti merasa bahwa orang tuanya benar-benar mencintai dirinya dan akan siap menolongnya kapan saja diperlukan. Namun, ia juga mesti menyadari bahwa setiap kesalahan orang tuanya akan mengakibatkan dirinya menjadi orang yang tak bertanggung jawab.
Dr. Jalali menulis:
"Bila anak hidup dalam lingkungan yang memanjakannya, yang orang lain selalu berpihak kepadanya, menutup mata terhadap kesalahannya, dan ia pun tak dilatih untuk menghadapi kenyataan yang keras pada masa mendatang, kelak akan menjadi korban dari banyak kesulitan dalam masyarakat. Sejak dini, anak mesti dilatih bahwa dirinya harus hidup bersama orang lain dalam masyarakat dan keinginannya harus selaras dengan keinginan masyarakat."[5]
Dr. Jalali juga menulis:
"Mencintai anak itu perlu sekali. Namun, menumbuhkan perasaan pada anak bahwa orang tuanya akan selalu menyenangkan keinginannya adalah tidak baik."[6]
Orang Tua Harus Tegas
Bila anak menangis dan mengekspresikan kemarahan agar orang tuanya memenuhi tuntutannya yang tak masuk akal, orang tua harus secara tegas dan bijaksana menolaknya. Mereka sebaiknya meninggalkannya sendiri untuk sementara waktu, agar menyadari bahwa dirinya tak selalu bisa memaksakan hal itu. Bila orang tua bersabar dalam situasi seperti itu, niscaya lambat laun anaknya akan berhenti juga.
Bila anak jatuh, orang tua tidak perlu segera mengambilnya. Biarkan anak bangun sendiri ketika jatuh. Latihlah ia untuk berhati-hati agar tidak jatuh lagi. Ketika anak terbentur sesuatu, orang tua tidak perlu langsung menciumnya atau terlalu memanjakannya. Melainkan, latihlah ia untuk berhati-hati agar hal itu tidak terjadi lagi.
Namun, bila ia terluka, segera berikan perawatan. Perhatian yang layak harus diberikan pada anak yang sakit, namun aktivitas sehari-hari tetap harus dilakukan seperti biasa. Orang tua juga harus beristirahat, tidur, dan makan secara normal. Bukan menghabiskan waktunya di samping tempat tidur menemani anaknya yang sakit.
Pemanjaan tidak akan menolong anak, melainkan dapat memperburuk kebiasaan anak dalam menarik perhatian orang tuanya.
Seorang wanita menulis:
"Setelah dua anak perempuan pertama lahir, orang tuaku memperoleh anak lelaki. Aku tak dapat melupakan kebahagiaan ibuku saat itu. Orang tuaku amat memanjakannya, karenanya, pada umur dua tahun, ia kerap memukul kami, saudara perempuannya. Ia biasa menggigit kami, dan kami tak berani melawannya.
Apapun yang ia inginkan selalu dipenuhi. Ia kerap bersikap nakal kepada anak-anak lain. Ia juga kelihatannya saja senang pergi sekolah, tetapi enggan mengerjakan tugas sekolah. Ia sedikit pun tak pernah mengindahkan guru-gurunya. Sehingga, ia pun tak memperoleh kemajuan dan akhirnya putus sekolah.
Sekarang, ketika dewasa, ia menjadi orang yang tak berpendidikan dan penyendiri. Ia tak berkeinginan melakukan pekerjaan apapun dan menjadi sangat perasa. Ia juga tak punya rasa cinta pada saudara-saudara perempuannya. Saudara lelakiku itu telah menjadi korban salah asuhan dan pemanjaan berlebihan dari orang tuaku."
Catatan Kaki:
[1] Ghurar al-Hikam, hal.446.
[2] ibid., hal.685.
[3] ibid., hal.659.
[4] ibid.
[5] Rowan Shinashi Kudak, hal.354.
[6] ibid., hal.461.