Maksud Hakiki dari Tawakal
Tawakal bukan berarti seseorang harus terus-menerus beri’tikaf di masjid, hanya sibuk beribadah dan berdoa kepada Allah SWT, serta menghabiskan waktu siang dan malam dalam kegiatan spiritual semata. Tawakal juga bukan alasan untuk meninggalkan aktivitas duniawi, seperti bekerja dan mencari nafkah, dengan harapan bahwa rezeki akan turun langsung dari langit tanpa usaha. Pemahaman seperti ini adalah kekeliruan besar dan jauh dari makna hakiki tawakal.
Sebagaimana yang diisyaratkan dalam sebuah riwayat, suatu hari Rasulullah SAW melihat sekelompok orang yang hanya duduk tanpa bercocok tanam atau berusaha. Beliau pun bertanya,
“Siapa kalian?”
Mereka menjawab,
“Kami adalah orang-orang yang bertawakal.”
Rasulullah SAW bersabda,
“Bukan, tetapi kalian adalah beban masyarakat.” (Mustadrak Al-Wasa’il, jilid 11, hal. 217)
Riwayat ini menegaskan bahwa tawakal bukan berarti pasif dan menyerahkan segalanya tanpa usaha. Justru, tawakal sejati adalah meyakini bahwa segala upaya manusia harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, sembari tetap menyandarkan hasil akhirnya kepada kehendak Allah SWT.
Pada hakikatnya, ketika seseorang benar-benar mengenal Allah SWT, ia akan memahami bahwa dunia ini berjalan berdasarkan hukum sebab-akibat yang telah ditetapkan oleh hikmah Ilahi. Segala sesuatu di alam semesta terwujud melalui proses yang ditentukan—baik berupa sebab-sebab materi maupun nonmateri. Sebab-sebab materi dapat berupa usaha manusia, seperti bekerja, belajar, dan berinovasi, sedangkan sebab-sebab nonmateri mencakup doa, keberkahan, dan ketentuan takdir yang tidak selalu terlihat secara langsung.
Dengan demikian, tawakal yang benar bukanlah meninggalkan ikhtiar, tetapi menggabungkan usaha maksimal dengan keimanan penuh kepada Allah SWT. Seorang petani yang menanam benih, merawat tanamannya, dan berharap panennya berhasil, adalah contoh nyata dari tawakal yang sejati. Ia telah melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya, namun tetap menyadari bahwa hasil akhirnya berada di tangan Allah SWT.
Tawakal yang hakiki mengajarkan keseimbangan antara usaha dan kepasrahan. Ia bukan sekadar sikap pasif yang menunggu pertolongan tanpa berbuat apa-apa, tetapi sebuah keyakinan kokoh bahwa manusia wajib berusaha, sementara Allah SWT yang menentukan hasil terbaik bagi mereka. []