Iman dan Kufur (bagian1)

Iman dan Kufur (bagian1)0%

Iman dan Kufur (bagian1) pengarang:
Kategori: Akidah

Iman dan Kufur (bagian1)

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

pengarang: Markaz Al Risalah
Kategori: Pengunjung: 623
Download: 261

Komentar:

Pencarian dalam buku
  • Mulai
  • Sebelumnya
  • 12 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 623 / Download: 261
Ukuran Ukuran Ukuran
Iman dan Kufur (bagian1)

Iman dan Kufur (bagian1)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

IMAN DAN KUFUR

Markaz Risalah

PENGANTAR PENERBIT

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam-Nya semoga terlimpahkan kepada Rasul-Nya yang terpercaya, Muhammad Al-Mushthafa dan keluarganya yang suci a.s.

Pembahasan mengenai iman bukanlah pembahasan ulangan yang menjemukan sebagaimana isu-isu yang disebarkan oleh kaum materialis yang saat kini sedang berada dalam masa keemasannya dan sedang membangun asas tersendiri. Karena itu isu-isu tersebut secara langsung berhadapan dengan nilai dan tuntunan-tuntunan iman yang tinggi. Kesimpulan ini diambil dari pengalaman-pengalaman hidup yang membuktikan bahwa propaganda-propaganda mereka hanya terbatas pada ide yang tidak memiliki realita.

Karena itu mereka ingin menciptakan manusia yang bukan manusia yang ada sekarang ini atau mereka menyangka bahwa agama hanyalah khayalan belaka. Akan tetapi ketika mereka melihat bahwa kenyataan bukan seperti yang mereka bayangkan, mereka menyadari selama ini mereka hidup dalam khayalan. Mereka mengatakan bahwa manusia hanyalah sekumpulan daging, darah dan tulang yang hanya hidup di alam ini.

Pemikiran semacam ini dengan sendirinya akan hancur menghadapi realita bahwa manusia adalah makhluk dwi-dimensi dan tidak mungkin mematikan salah satu dimensinya.

Atas dasar ini, iman bukanlah khayalan belaka, akan tetapi iman adalah sebuah realita yang membahas alam manusia dan mengisi kehidupannya.

Dari sisi lain, ketika berbicara tentang iman, Al Qur’an membahasnya dari berbagai sisi dan dimensi, dan tidak menjadikan imam hanya sekedar sarana yang hanya digunakan hari ini demi ketenangan di hari esok sebagaimana keyakinan para pengikut aliran sufi.

Al Qur’an ―pada satu sisi― mengungkapkan bahwa iman adalah sebuah alat individu untuk bertemu Tuhannya dan kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah swt berfirman :

﴿إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات اولئك هم خير البرية﴾

(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, mereka adalah yang paling baik)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

﴿أفمن کان مؤمنا کمن کان فاسقا لا يستوون﴾

(Apakah manusia yang beriman sama seperti orang fasiq? Tentu mereka tidak sama)

﴿کنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنکر و تؤمنون بالله﴾

(Kamu adalah umat terbaik yang telah dilahirkan demi man usia. (Tugas kamu adalah) amar ma’ruf - nahi munkar dan beriman kepada Allah)

Dan Al Qur’an pada sisi yang lain mengungkapkan bahwa iman adalah perangkat masyarakat dan umat yang memiliki peranan penting dalam merancang masa depannya dan membangun eksistensinya di muka bumi ini. Allah berfirman:

﴿ولو استقاموا علی الطريقة لأسقيناهم ماء غدقا﴾

(Seandainya mereka istiqamah memegang jalan (agama) ini, niscaya Kami akan memberikan minuman mereka air yang sejuk)

﴿ولو أن اهل القری آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم برکات من السماء والأرض ولکن کذبوا فأخذناهم بما کانوا يکسبون﴾

(Jika penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan menurunkan berkah yang berlimpah kepada mereka dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, lalu Kami siksa mereka karena ulah mereka sendiri)

Begitu juga ia membahas iman sebagai norma-norma kemanusiaan agung yang menjamin terbentuknya sebuah masyarakat ideal. Allah berfirman:

﴿تلك الدّارُ الآخرة نجعلها ببذين لايريدون علوا في الأرض ولا فسادا والعاقبة للمتقين﴾

(Itulah kediaman (abadi) di akhirat. Kami peruntukkan kediaman itu untuk orang-orang yang tidak menyombongkan di muka bumi ini dan tidak berbuat kerusakan. Akibat (kemenangan terakhir) akan dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa)

Ini adalah gambaran, hakekat dan dimensi-dimensi iman menurut Al Qur’an.

Iman bukanlah sekedar “cinta sufi” yang menganjurkan setiap manusia menyembunyikan dirinya di puncak-puncak gunung yang tinggi (untuk beribadah) dan bukan sekedar kata-kata yang manis diucapkan. Iman adalah sebuah cakrawala luas yang meliputi pemikiran, suluk dan hubungan manusia dengan sesamanya. Iman adalah sebuah lautan dalam yang sui it untuk diselami, apalagi mengungkapkannya. Iman adalah rahasia kebangkitan dan berkembangnya sebuah umat, sedang kufur adalah rahasia kehancuran dan kemusnahannya.

Atas dasar ini, ketika kita mempelajari hakekat iman dan kufur, bukan hanya sekedar untuk menggembirakan jiwa kita dengan harapan-harapan dan menakut-takutinya dengan siksaan-siksaan, sebagaimana yang dibayangkan oleh sebagian orang. Akan tetapi, tujuan kita sebenarnya adalah untuk menyeimbangkan kehidupan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.

Maka dari itu, ketika kami memilih tema ini sebagai bahan kajian, bukan berarti kami telah mengkaji seluruh tema tersebut dari segala sisi dan dimensinya. Paling tidak kami telah menambah khazanah dalam pembahasan keimanan dan sedikit menyingkap hakekatnya.

Tujuan sebenarnya bukan untuk memperluas wawasan pembaca dalam bidang ini, ataupun membebani pikiran dengan pembahasan yang ―sebenarnya― berat, akan tetapi tujuan utama kami adalah supaya pengetahuan tersebut menjadi sebuah penggerak yang dapat mewarnai kehidupan manusia, baik secara individu atau sosial masyarakat dengan tuntunan-tuntunan iman yang murni.

Akhirnya hanya Allahlah tempat kita meminta pertolongan, dan Ialah satu-satunya penunjuk ke jalan yang lurus.

Mu’assasah Ar-Risalah

MUKADIMAH

Segala puji bagi Allah yang telah menanam benih iman dalam hati hamba-hamba-Nya dan menghiasai hati mereka dengannya serta memberikan rasa benci terhadap kekufuran, kefasikan dan maksiat. Salawat dan salam-Nya semoga terlimpahkan kepada Penunjuk jalan dan kiblat mukminin, pembasmi orang-orang kafir dan para pengikut mereka, Muhammad Al-Musthafa dan keluarganya yang suci.

Amma ba’du. Iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab dan para rasul-Nya adalah inti akidah yang hak dan agama yang mulia ini. Keyakinan ini harus direalisasikan oleh muslimin dalam setiap masa dan generasi dan hendaknya mereka menjadikan iman sebagai tolok ukur hakiki dalam mengukur keistimewaan seseorang, bukan tolok ukur lain yang tidak ada nilainya menurut penilaian Al Qur’an.

Iman bukanlah sekedar syi’ar yang hanya enak digembar-gmborkan. Akan tetapi iman adalah suluk, tata krama dan akhlak yang harus diterjemahkan dalam kehidupan individu yang menghendaki kebaikan dan membenci kejelekan.

Jika bayi yang baru dilahirkan mempunyai keimanan secara fitrah akan tetapi ayah-ibunyalah yang memiliki peranan utama menjadikannya pengikut agama Yahudi, Kristen atau Majusi, fitrah semata tidak cukup dengan sendirinya untuk mengantarkan manusia mencapai tujuan iman seperti yang telah digariskan oleh Alquran, selama tidak disertai dengan pengajaran yang benar dan pendidikan yang tepat.

Jika tidak demikian, tuntunan-tuntunan iman yang tinggi ini akan musnah secara perlahan dan tidak akan membekas dalam sanubari manusia.

Sara tidak menemukan orang berakal yang tidak meyakini peranan iman dalam kehidupan individu dan sosial masyarakat. Jika kita menengok kemenangan dan keberhasilan umat-umat terdahulu dalam bidang materi, seperti menundukkan alam, kedokteran dan industri, hal ini adalah bukti terbaik atas apa yang kami katakan itu. Karena kemajuan dan keberhasilan-keberhasilan itu, dengan sendirinya tidak memiliki pengaruh positif dalam jiwa mereka, dan akibatnya, mereka tidak akan menemukan ketenanganjiwa dan kedamaian sejati hingga masa kita.sekarang ini.

Oleh karena itu, mereka akan menghadapi gelombang keraguan, kebimbangan dan ketakutan dalam menghadapi masa depan yang menyebabkan mereka lari dari realita atau bunuh diri yang merupakan fenomena hangat yang sedang dihadapi oleh masyarakat Barat. Oleh karena itu, para pemikir telah membunyikan lonceng bahaya sebagai peringatan atas bahaya yang sedang mengancam ini.

Begitu juga, kemajuan dan keberhasilan-keberhasilan secara materi ini, dengan sendirinya tidak memiliki pengaruh positif bagi sisi etika mereka. Hal ini dapat kita lihat dati menggejalanya dekadensi moral, meningkatnya kriminalitas dan penggunaan obat-obat terlarang secara bebas yang menimpa mayoritas negara dunia ini.

Lebih dari itu, tidak adanya gambaran yang benar bagi manusia mengenai tujuan wujud dan kehidupannya adalah hasil negatif lain dari keberhasilan-keberhasilan tersebut.

Yang sangat menakjubkan adalah munculnya model-model kekufuran baru yang didukung oleh yayasan-yayasan bergengsi, yang berusaha memerangi Islam, memusnahkan tuntunan-tuntunan dan menyimakan kedudukannya. Dengan bermunculannya golongan-golongan baru yang tersebar di seantero dunia, ruang lingkup kekufuran ini makin meluas dan secara terang-terangan mengajak manusia untuk meyembah syetan.

Untuk merealisasikan tujuannya tersebut, mereka menciptakan ritus-ritus keagamaan baru dan tempat-tempat peribadatan khusus yang dilengkapi dengan sarana-sarana media massa modem yang digunakan untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka.

Atas dasar ini, kita sangat perlu membahas problema iman dan kufur, karena problema ini adalah salah satu problema hayati dan primer yang semestinya harus kita perhatikan.

Betul, ada sebagian orang yang sempit pemikirannya dan tidak memiliki hasrat untuk membahas problema iman dan kufur (secara tuntas). Karena mereka menganggap problema ini sebagai problema sampingan yang tidak penting. Mereka menganggap di dunia ini ada problema-problema lain yang lebih penting dan hayati.

Mereka lupa bahwa problema iman dan kufur adalah salah satu problema yang menentukan masa depan individu dan sebuah masyarakat. Lebih-lebih, karena iman adalah sumber kebaikan dan kufur adalah sumber kerusakan bagi manusia.

Kekufuran telah memenuhi akal manusia dengan khurafat, memusnahkan etika dan mendatangkan permusuhan dan percekcokan.

Oleh karena itu, supaya dapat menyampaikan apa yang menjadi tujuan kami (dari penulisan buku ini), kami membagi pembahasan buku ini dalam empat pasal.

Kami berharap semoga buku kecil ini dapat membantu pembaca dalam membedakan kekufuran dan iman serta pengaruh-pengaruhnya atas kehidupan individu dan masyarakat. Setidaknya ini sebagai satu langkah yang penuh berkah ―insya-Allah― demi menguatkan dan menjaga fitrah manusia yang condang kepada iman dan tidak terjerumus ke dalam jurang kehidupan material dan menuntun mukminin untuk mencapai faktor-faktor yang dapat menguatkan iman dan mengangkat derajat mereka.

Akhirnya kepada Allah swt kami memohon pertolongan dan taufik.

PASAL I

IMAN DAN TANDA-TANDA MUKMIN

Arti dan Maksud Iman

Asal arti iman adalah membenarkan dan meyakini suatu kebenaran. Akan tetapi, kosa kata iman ini telah menjadi lambang khusus syari’at Nabi kita Muhammad saw.[1] Oleh karena itu, setiap mazhab dan aliran Islam berbeda pendapat dalam mengartikan kosa kata tersebut.

Mu’tazilah, Khawarij, Zaidiyah dan Ahlul Hadits meyakini bahwa iman adalah nama untuk pekerjaan-pekerjaan hati dan anggota badan yang disertai pernyataan lisan, dan iman meliputi ketaatan kepada Allah dan mengenal-Nya disertai dengan argumen-argumen aqli dan naqli. Oleh sebab itu, mengingkari salah satu dari hal-hal di atas menyebabkan kekufuran.

Abu Hanifah dan (Abul Hasan) Al-Asy’Ari meyakini bahwa iman dapat dicapai dengan keyakinan hati dan pernyataan lisan.

Kelompok ketiga meyakini bahwa iman cukup dengan keyakinan hati. Dari pendapat ini, muncul pendapat yang lebih ekstrim, yang hanya membatasi iman hanya dalam ruang lingkup mengetahui Allah dalam hati semata. Atas dasar ini, barang siapa telah meyakini Allah (denganinya) kemudian mengingkari-Nya dengan lisannya saja lalu ia mati, maka ia mati sebagai mu’min yang sempurna imannya.

Golongan keempat meyakini bahwa iman cukup dengan pengakuan lisan semata. Dari golongan ini muncul kelompok cabang yang meyakini bahwa iman di samping pengakuan lisan, harus disertai pula dengan mengetahui (Allah) di dalam hati.[2]

Akan tetapi, kalau kita meneliti ayat-ayat Alquran, kita akan menemukan hakekat iman yang berbeda dengan arti-arti yang telah disebut di atas. Iman bukanlah sekedar memiliki pengetahuan tentang sesuatu dan meyakini kebenarannya. Karena betapa banyak orang yang telah mengetahui dan meyakini kebenaran Islam, akan tetapi hal itu justru menjerumuskan mereka ke dalam jurang pengingkaran, kekufuran, menghalangi-halangi orang lain untuk berjalan di atas jalan Allah dan penentangan terhadap Rasulullah saw.

Berkenaan dengan hal ini Allah berfirman:

﴿إن الذين ارتدوا علی أدبارهم من بعد ما تبين لهم الهدی إن الذين کفروا وصدوا عن سبيل الله وشاقوا الرسول من بعد ما تبين لهم الهدی﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekufuran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syetan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa)...”, “Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi Rasulullah setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudlarat kepada Allah sedikitpun...”.[3]

Bahkan ada sebagian dari mereka yang disesatkan oleh Allah. Allah berfirman:

﴿وأضله الله علی علم﴾

“Dan Allah menyesatkannya dengan pengetahuan yang dimilikinya”.[4]

Oleh karena itu, pengetahuan dengan sendirinya tidak cukup untuk dijadikan tolok ukur iman selama tidak disertai oleh keyakinan hati yang mantap dan kemudian direalisasikannya dalam bentuk perilaku dan amal.

Pernyataan “iman hanyalah amal belaka” juga tidak dapat dibenarkan. Karena amal bisa tercampur dengan kemunafikan, bahkan orang-orang munafik mengenal kebenaran secara argumentatif. Meskipun demikian, orang munafik tidak termasuk golongan orang-orang beriman.[5]

Berkenaan dengan ini, telah sampai kepada kita hadits-hadits shahih yang mengartikan iman secara tepat dan menyatakan bahwa iman dapat ditegakan dengan tiga pilar utama: keyakinan, pernyataan lisan dan amal.

Amirul Mu’minin a.s. pernah ditanya tentang definisi iman. Beliau menjawab:

الإيمان معرفة بالقلب وإقرار باللسان وعمل بالأرکان

“Iman adalah keyakinan hati, pernyataan lisan dan amal.”[6]

Imam Al-Baqir a.s. ketika membedakan antara Islam dan iman berkata:

الإيمان إقرار وعمل والإسلام إقرار بلا علم

“Iman adalah pengakuan dan amal, sedangkan Islam adalah pengakuan tanpa amal”.[7]

Imam Ash-Shadiq a.s. menekankan keserasian antara perkataan dan amal demi terealisasikannya iman (dalam diri manusia). Beliau berkata:

ليس الإيمان بالتحلي ولا بالتمني، ولکن الإيمان ما خلص في القلب وصدقته الأعمال

“Iman bukanlah sekedar pakaian untuk berhias dan angan-angan. Akan tetapi, iman adalah keyakinan yang mantap di dalam hati yang kemudian dibenarkan oleh amal”[8]

Salam Al-Ja’fi berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah a.s. tentang iman. Beliau berkata: “Iman adalah taat kepada Allah dan tidak melanggar (perintah dan larangan-Nya)”[9]

Dari hadits-hadits di atas dan yang sejenisnya, jelas bahwa Ahlul Bayt a.s. menolak iman yang hanya pernyataan lisan, keyakinan hati atau kedua-keduanya (selama tidak disertai oleh amal). Pemahaman iman semacam ini adalah pemahaman yang sangat dangkal. Iman selama tidak disertai oleh ketaatan mutlak kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya adalah iman yang tidak memiliki rub dan kehidupan.

Oleh karena itu, iman selain keyakinan hati dan pernyataan lisan harus disertai oleh amal. Kita dapat melihat peluasan ruang lingkup iman dalam hadits Imam Ash-Shadiq a.s. ketika beliau menjawab pertanyaan, ‘Ajlan bin Shalih berkenaan dengan batas-batas iman. Beliau berkata: “ (Iman adalah) bersaksi bahwa tiada tuhan seiain Allah dan Muhammad Rasulullah, meyakini (kebenaran) segala yang beliau bawa dari sisi-Nya, menunaikan shalat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan Ramadlan, melaksanakan haji ke Baitullah, berwilayah kepada wali kami, memusuhi musuh-musuh kami dan bersama orang-orang yang benar”[10]

Atas dasar ini, iman menurut pandangan Ahlul Bayt a.s. bukan semata keyakinan hati yang tidak disertai oleh amal. Iman memiliki tiga pondasi yang tidak dapat dipisahkan antara satu dari yang lainnya : keyakinan hati, pernyataan lisan sebagai konsekuensi dari keyakinan hati tersebut dan amal sebagai konsekuensi dari dua pondasi itu.

Dalam kaitannya dengan ini Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Iman adalah sebuah pengakuan yang tidak dibenarkan kecuali dengan bukti. Dan bukti iman (seseorang) adalah amal dan niatnya”.[11]

Dalam hadits di atas Imam Ash-Shadiq a.s. telah meletakkan tolok ukur paten bagi iman: pertama, tolok ukur batiniyah yang mengacu kepada niat dan keyakinan hati seseorang, dan kedua, tolok ukur lahiriah yang mengacu kepada penerjemahan keyakinan hati tersebut dalam amal. Atas dasar ini, barang siapa yang ingin memisahkan iman dan amal, ia akan terjerumus ke dalam jurang kemunafikan.

Oleh karena itu, para imam a.s. menekankan, iman adalah satu kesatuan yang terbentuk dari tiga tonggak utama yang tidak dapat dipisahkan: keyakinan hati, pernyataan lisan dan amal.

Abush Shalt Al-Hirawi berkata: “”Aku pernah bertanya kepada Imam Ar-Ridla a.s. mengenai iman. Beliau menjawab:

الإيمان عقد بالقلب ولفظ باللسان وعمل بالجوارح، ولايکون الإيمان إلا هکذا

“Iman adalah keyakinan hati, pernyataan lisan dan amal. (Hakekat) iman tidak akan dicapai oleh seseorang kecuali dengan ketiga perkara tersebut”.[12] Ungkapan terakhir Imam Ar-Ridla a.s. tersebut adalah bukti jelas atas pandangan Ahlul Bayt a.s. di atas.

Pandangan Ahlul Bayt ini sebenarnya bersumber dari ajaran-ajaran wahyu yang murni, bukan pandangan yang tidak berasas atau yang terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran teologik (yang berkembang pada masa kehidupan mereka). Ketika kita meneliti hadits-hadits Rasulullah saw, akan kita temukan sebuah hadits yang berbunyi:

الإيمان والعمل شريکان في قرن، لايقبل الله تعالی أحدهما إلا بصاحبه

“Iman dan amal adalah dua sejoli (yang tidak dapat dipisahkan). Allah tidak akan menerima salah satunya kecuali jika disertai dengan yang lainnya”.[13]

Ayat-ayat Alquran menguatkan pandangan bahwa iman adalah berdirinya tiga pilar tersebut. Allamah Ar-Raghib Al-Ishfahani berkata: “Iman kadang-kadang digunakaIi sebagai nama semata bagi orang yang memeluk Islam, mengakui Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai Nabi-Nya. Allah berfirman:

﴿إن الذين آمنوا والذين هادوا والصابئين﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi dan Shabi’in”[14]

Ayat ini menyebutkan sifat semua orang yang menerima syari’at Allah adalah orang yang mengakui ketuhanan Allah dan kenabian Muhammad. Ayat lain menegaskan:

﴿وما يؤمن أکثرهم بالله إلا وهم مشرکون﴾

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukan (dengan sesembahan-sesembahan lain)”.[15]

Dalam arti yang lain, iman berarti keyakinan ati mengenai satu kebenaran. Arti ini memiliki tiga pondasi pokok: keyakinan hati, pengakuan lisan dan amal. Allah berfirman:

﴿والذين آمنوا بالله ورسله أولئک هم الصديقون﴾

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah Shiddiqin”.[16]

Jika seseorang berkata, Allah dalam sebuah ayat berfirman :

﴿والذين آمنوا وعملوا الصالحات أولئك أصحاب الجنة﴾

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka adalah penduduk surga”.[17]

Dalam ayat di atas Allah memisahkan iman dari amal dengan kata “dan”. Ini menunjukkan bahwa amal bukan bagian pokok dari iman.[18]

Jawab: yang dimaksud dengan iman dalam ayat di atas adalah sekedar keyakinan dan pembenaran, sebagaimana ayat yang menceritakan peristiwa saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.:

﴿وما أنت بمؤمن لنا ولو کنا صادقين﴾

“Dan kamu tidak akan membenarkan kami meskipun kami berkata benar”,[19] , Adapun iman yang sempurna hendaknya si mu’min beramal sesuai dengan tuntutan imannya, menjaga iman tersebut dari godaan hawa nafsu dan rela memikul segala kesulitan demi menjaga imannya. Semua ini dapat dicapai hanya dengan ketaatan mutlak kepada Allah swt.[20]

Kesimpulannya, iman memiliki dua ingkatan: pertama, sekedar pengucapan dua kalimat syahadah. Ini adalah tingkatan terendah dari iman. Setiap orang yang memeluk agama Islam dan mengakui Allah dan Nabi-Nya, memiliki iman ini. Kedua, di samping keyakinan dan pembenaran dengani, iman pada tingkatan ini juga disertai dengan pernyataan lisan dan amal. Yang dimaksud dengan amal di sini adalah menjalankan seluruh hukum Islam; melaksanakan kewajiban dan menjauhi kemunkaran. Iman tingkat kedua inilah yang dimaksud oleh Alquran dan sunnah, dan yang akan menjadi titik pembahasan kita di dalam buku ini.

Atas dasar ini, iman adalah program kehidupan manusia yang sempurna dan mencakup segala aspek kehidupan, bukan sekedar keyakinan yang terpendam di dalam hati atau pernyataan lisan belaka.

Hakekat Iman

Iman bukanlah hakekat materi yang dapat dijangkau oleh jiwa manusia melalui panca inderanya yang terbatas. Iman adalah hakekat spiritual (ma’nawiyah) yang hanya dapat dijangkau oleh hati yang bersih, terjelmakan dalam bentuk amal dan budi pekerti yang agung. Hakekat inilah yang akan terpatri di dalam sanubari mu’minin. Oleh karena itu, mereka memiliki karakter dan sifat-sifat agung yang dapat kita saksikan dalam praktek kehidupan mereka sehari-hari.

Di sini kami akan menyebutkan sebagian dari karakter-karakter agung tersebut dengan berlandaskan hadits-hadits suci para ma’shum a.s.

1. Menyerahkan Diri kepada Allah dan Rela atas segala Ketentuan-Nya

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hakekat. Dan seorang hamba tidak akan dapat menjangkau hakekat iman kecuali ia meyakini bahwa segala sesuatu yang akan menimpanya, pasti akan terjadi”.[21]

Mu’min yang sejati adalah orang yang percaya kepada Allah dan hikmah (seluruh pekerjaan)-Nya, dan pasrah diri di hadapan qadla’ dan qadar Ilahi dengan penuh percaya diri.

Syeikh Shaduq r.a. meriwayatkan, dalam sebuah perjalanan jauh Rasulullah saw berjumpa dengan sebuah rombongan. Kemudian beliau bertanya kepada mereka: “Siapakah kalian?” “Kami orang-orang mu’min”, jawab mereka tegas. Beliau bertanya kembali: “Apakah tanda-tanda keimanan kalian?” Mereka menjawab: “Kami rela atas qadla’ Allah, pasrah terhadap segala keputusan-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya”. Akhirnya Rasulullah bersabda: “Ulama yang bijak hampir-hampir menjadi nabi karena hikmah yang mereka miliki. Jika apa yang kalian katakan itu benar, maka janganlah kalian membangun rumah yang tidak kalian diami, janganlah kalian kumpulkan makanan yang tidak kalian makan dan takutlah kepada Allah karena kalian akan dikembalikan kepada-Nya”.[22]

Rela atas qadla’ Allah dan pasrah diri terhadap segala keputusan-Nya adalah jelmaan iman yang paling agung (yang tercerminkan dalam kehidupan mu’minin sehari-hari). Barang siapa yang memiliki kedua karakter di atas, ia akan mampu untuk sampai ke puncak piramida iman dan merasakan manisnya ilmu dan hikmah. Kedua karakter tersebut adalah karakter-karakter yang telah terjelmakan dalam diri para nabi a.s.

Dalam kaitannya dengan ini Abu Abdillah a.s. pernah ditanya: “Dengan tanda apa kita dapat mengetahui iman seseorang?” Beliau menjawab: “Dengan kepasrahannya kepada Allah dan kerelaannya tas segala peristiwa yang menimpanya, baik berupa kesenangan atau kesusahan”.[23]

2. Cinta dan benci karena Allah

Ketika seseorang lebih mementingkan apa yang dicintai oleh Allah daripada yang ia cintai dan membenci sesuatu karena Allah, bukan karena kepentingan pribadinya, tidak diragukan lagi bahwa sifat ini bersumber dari kedalaman dan kemantapan imannya.

Rasulullah saw bersabda: “Seorang hamba tidak akan pernah menemukan hakekat iman kecuali ketika marah, ia marah karena Allah dan ketika mencintai sesuatu, ia mencintainya karena Allah. Jika ia telah melakukan hal itu, ia telah sampai kepada hakekat iman”.[24] Imam Ash-Shadiq a.s. juga berkata: “Seseorang dari kalian tidak akan sampai kepada hakekat iman kecuali jika ia telah mencintai orang yang paling jauh darinya karena Allah dan membenci orang yang paling dekat darinya karena Allah”.[25]

3. Memegang kebenaran secara mutlak

Amirul Mu’minin a.s. berkata:

إن من حقيقة الإيمان أن تؤثر الحق و إن ضرك علی الباطل وإن نفعك

“Di antara tanda-tanda iman, hendaknya amu ebih mementingkan kebenaran meskipun kebenaran itu akan membahayakan dirimu daripada kebatilan meskipun kebatilan tersebut akan mendatangkan manfaat Baghmu”.[26]

Lebih mementingkan kebenaran yang mendatangkan bahaya bagi jiwa eseorang atas kebatilan yang mendatangkan manfaat baginya, tidak diragukan lagi ini adalah tanda kemantapan iman dalam sanubarinya.

4. Cinta Ahlul Bayt a.s.

Cinta Ahlul Bayt a.s. adalah satu hakekat pembeda antara iman sejati dan iman palsu. Zurr bin Hubaisy berkata: “Aku pernah melihat Amirul Mu’minin duduk di atas mimbar dan berkata: ‘Demi Zat yang menumbuhkan biji-bijian dan menciptakan makhluk, Nabi saw pernah bersabda: “Tidak akan mencintaimu (wahai Ali) kecuali orang mukmin dan tidal alan membencimu kecuali munafik”.[27]

Jabir bin Abdillah bin Hazam Al-Anshari berkata: “Suatu hari kami sekelompok orang Anshar duduk bersama Rasulullah saw. Beliau berkata kepada kami: “Wahai orang-orang Anshar, ujilah anak-anakmu mencintai Ali. Jika mereka mencintainya, maka mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka membencinya, maka mereka adalah sesat”.[28]

Abu Zubair Al-Makkiy berkata: “Aku melihat Jabir berkeliling di tempat perkumpulan orang-orang Anshar dengan berpandu kepada tongkatnya sambil berteriak: Ali adalah manusia paling baik. Barang siapa yang ingkar, ia telah kafir. Wahai orang-orang Anshar, didiklah putera-putera kalian untuk mencintai Ali. Jika mereka enggan mencintainya, maka lihatlah bagaimana ibunya”.[29]

Tsa’labi meriwayatkan sebuah hadits dalam tafsirnya yang juga dinukil oleh Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kassyaf, Qurthubi al-Maliki dalam dalam Al-Jami’ li Ahkamil Quran dan Fakhrur Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad; ia meninggal dalam keadaan syahid. Barang siapa meninggal dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad; ia meninggal dunia sedangkan dosanya telah diampuni. Barang siapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad; ia meninggal dunia dalam keadaan telah bertaubat. Barang siapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad; ia meninggal sebagai orang mu’min yang sempurna imannya. Barang siapa meninggal dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad; maka malaikat maul dan Munkar-Nakir akan memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga. Barang siapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad; ia akan diarak menuju surga sebagaimana pengantin wanita diarak menuju rumah suaminya. Barang siapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, akan terbuka untuknya dua pintu menuju surga di kuburannya. Barang siapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluraga Muhammad, maka Allah akan menjadikan kuburannya sebagai tempat persinggahan malaikat rahmat. Barang siapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, ia meninggal dunia di atas jalan sunnah dan jamaah. Dan barang siapa meninggal dunia dengan membawa kebencian kepada keluarga Muhammad, di hari kiamat kelak akan tertulis di keningnya orang yang putus asa dari rahmat Allah. Barang siapa meninggal dengan membawa kebencian kepada keluarga Muhammad, ia meninggal dalam keadaan kafir. Barang siapa meninggal dunia dengan membawa kebencian kepada keluarga Muhammad, ia tidak akan mencium bau surga”.[30]

Dari .hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa Ali dan keluarganya a.s. adalah lambang iman dan kesucian. Barang siapa mencintai mereka, iman telah meresap di sanubarinya. Mereka adalah lentera-lentera petunjuk dan hidayah. Barang siapa mencintai mereka, ia telah merasakan manisnya iman.

Abu Abdillah a.s. berkata: “Seorang hamba tidak akan menemukan hakekat iman kecuali jika ia meyakini bahwa kewajiban berwilayah kepada pengganti kami yang terakhir (Imam Mahdi), juga dimiliki oleh orang pertama dari kami (Imam Ali)”.[31]

Perlu diingat bahwa cinta belaka tidak akan berguna. Cinta yang akan berguna adalah cinta yang disertai kesiapan untuk memikul seluruh konsekuensinya. Abu Abdillah a.s. berkata:

إنا لا نعد الرجل مؤمنا حتی يکون بجميع أمرنا متبعا مريدا

“Kami tidak akan menganggap seseorang ebagai mu’min kecuali ia mengikuti kami sepenuhnya”.[32]

Imam Al-Baqir a.s. berkata: “Seseorang tidak akan sampai kepada hakekat iman kecuali jika ia memiliki tiga karakter ini: mati lebih ia sukai dari pada hidup, miskin lebih ia sukai dari pada kaya dan sakit lebih ia sukai dari pada sehat”. Kami (sahabat) bertanya: “Siapakah yang harus menyandang karakter-karakter tersebut?”. “Kalian semua”, jawab beliau. Lalu beliau bertanya:

“Manakah yang lebih kalian cintai, mati dengan membawa kecintaan kepada kami atau mati dengan tnembawa kebencian kepada kami?” “Demi Allah, kami lebih suka mati dengan membawa kecintaan kepada anda”, jawabku (perawi). Lantas Imam menimpali: “Berkenaan dengan kemiskinan hendaknya begitu juga ...”. “Demi Allah, benar hal itu”, bisikku”.[33]

Dari hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa tolok ukur hakekat iman adalah kecintaan kepada Ahlul Bayt a.s., taat kepada mereka dan memusuhi musuh-musuh mereka.

5. Teliti dan pandai mengambil ‘Ibrah

Kadang-kadang hakekat iman seseorang tampak jelas diketahui dari ketelitian dan kejeliaannya melihat perilaku orang-orang sekitarnya. Ketika ia melihat orang-orang sekitarnya berlomba-lomba memakmurkan dunia dan menelantarkan agama; lebih mementingkan hal-hal yang fana dari hal-hal yang abadi, ia memahami bahwa mereka cerdik dalam urusan dunia, akan tetapi bodoh dalam urusan agarna. Pemaharnan semacam ini sebagai bukti bahwa ia telah sampai kepada hakekat iman sejati.

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Dzar, kamu tidak akan sampai kepada hakekat iman kecuali jika kamu telah meyakini seluruh manusia bodoh dalam urusan agama dan pintar dalam urusan dunia”.[34]

Imam Ash-Shadiq a.s. berkata:

لن تکونوا مؤمنين حتی تعدوا البلاء نعمة والرخاء مصيبة

“Kalian tidak pantas menyandang gelar mu’min kecuali jika kalian telah meyakini cobaan sebagai ni’mat dan ni’mat sebagai musibah”.[35]

Perlu diingat, ketelitian dan kejelian memandang perilaku orang lain semata, tidak cukup dijadikan tolok ukur terealisasikannya iman di hati seseorang. Di samping itu, juga dituntut satu reaksi kontradiktif atas perilaku umum tersebut. Artinya, jika ia lebih mementingkan dunia dan melalaikan akherat, kita harus mementingkan akherat daripada dunia.

Suatu hari Rasulullah saw berjumpa dengan Haritsah. Beliau bertanya: “Wahai Haritsah, bagaimana keadaanmu pagi ini?” “Aku dalam keadaan beriman dipagi ini, ya Rasulullah”, jawabnya. Lalu beliau bertanya lagi: “Setiap iman memiliki hakekat. Apakah hakekat imanmu?” Ia menjawab: “Aku telah memutuskan hubungan dengan dunia, tidak tidur malam dan berpuasa di siang hari. Aku merasa seakan-akan berada di ‘Arsy Tuhanku dan Dia siap memperhitungkan (semua amal-amalku). Aku merasa seakan-akan berada di antara penduduk surga yang tenggelam dalam keni’matan dan penduduk neraka yang tenggelam dalam siksaan”. Rasulullah saw menimpali: “Kamu memang mu’min hakiki. Allah telah menerangkan cahaya iman di hatimu. Semoga Allah menetapkan iman tersebut di hatimu”.[36]

6. Kontinuitas ibadah (istiqamah)

Hakekat Iman kadang-kadang tampak jelas dari keaktifan seseorang menjalankan perintah-perintah Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya dan menasehati masyarakat untuk mencintai keluarga Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang menyempurnakan wudlu’nya, memperbaiki shalatnya, membayar zakat hartanya, tidak banyak berbicara, menahan amarahnya, meminta ampun dari dosa-dosanya dan menasehati orang lain untuk mencintai Ahlul Bayt Rasul-Nya, ia telah mencapai hakekat iman.

Pintu-pintu surga terbuka baginya (dan siap menerima kedatangannya)”.[37]

Kadang-kadan iman membuat seseorang lebih hati-hati dan mengatur pembicaraannya. Dalam kaitannya dengan hal ini Rasulullah saw bersabda:

لايعرف عبد حقيقة الإيمان حتی يخرج من لسانه

“Seorang hamba tidak akan mencicipi hakekat iman sebelum ia berhasil mengatur pembicaraannya”.[38]

7. Peka terhadap problem sosial

Hakekat iman kadang-kadang tampak jelas diketahui dari kepeduliaan sosial seseorang, seperti memberi infaq kepada orang yang lebih membutuhkan daripada dirinya, tidak menzalimi orang lain atau mengajarkan ilmu kepada orang yang bodoh. Rasa peduli sosial ini dapat mengantarkan seseorang untuk menaiki tangga-tangga hakekat dan kesempurnaan iman.

Rasulullah saw bersabda:

ثلاث من الإيمان: الإنفاق من الإفتار، وبذل السلام للعالم، والإنصاف من نفسك

“Tiga karakter ini adalah tanda-tanda iman: berinfaq meskipun dalam keadaan membutuhkan, mengucapkan salam kepada orang alim dan sadar diri (sehingga tidak menzalimi orang lain)”.[39]

8. Khauf (takut) dan raja’ (berharap)

Kadang-kadang hakekat iman seseorang terlihat pada kejeliaannya mengambil sikap dalam situasi takut dan pengharapan. Ketika ia merasa takut akan murka Allah, ia berharap kepada-Nya supaya dianugerahi rahmat dan ampunan-Nya, dan ketika ia berharap rahmat-Nya, ia memohon dari-Nya untuk dijauhkan dari siksa-Nya yang pedih.

Dalam kaitannya dengan hal di atas, Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Tidak akan sempurna iman seseorang mu’min kecuali ia memiliki dua sifat ini: rasa takut (terhadap kemurkaan Allah) dan rasa berharap (atas ampunan-Nya). Dan ia tidak akan memiliki kedua sifat tersebut kecuali ia berperilaku sesuai dengan tuntutan-tuntutan keduanya”.[40]

Tingkatan-tingkatan Iman

Seperti yang telah kita ketahui bersama, iman adalah pengetahuan dan keyakinan terhadap sesuatu yang disertai amal sesuai dengan tuntutan-tuntutan iman tersebut. Telah kita ketahui pula bahwa pengetahuan dan amal bisa bertambah dan bisa juga berkurang. Atas dasar ini, iman yang terbentuk dari dua karakter di atas, bisa bertambah dan bisa juga berkurang. Oleh karena itu, perbedaan tingkat dan derajat iman adalah satu fenomena ang idak diragukan lagi. Ini adalah pendapat mayoritas ulama yang dikuatkan oleh ayat-ayat Alquran seperti:

﴿لیزدادوا ایمانا مع ایمانهم﴾

“Supaya iman mereka bertambah dari iman yang telah mereka miliki”,[41] dan hadits-hadits para imam suci Ahlul Bayt, seperti yang diriwayatkan oleh Abdul Aziz Al-Qarathisi bahwa Abu Abdillah a.s. berkata kepadanya: “Wahai Abdul Aziz, iman memiliki sepuluh tangga seperti anak-anak tangga. Orang yang berada di tangga atas, janganlah berkata kepada yang berada di bawahnya: ‘Aku sudah tidak mampu lagi untuk naik lebih tinggi’, kecuali jika ia telah sampai ke tangga yang kesepuluh”.

Dalam kesempatan lain Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Islam adalah satu tingkat. Iman lebih tinggi satu tingkat dari Islam. Yakin lebih tnggi satu tingkat dari iman. Dan yakin adalah tingkatan tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia”.

Berkaitan dengan hal ini pula, Abu ‘Amr Az-Zubaidi meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Abdillah a.s. Beliau berkata: “... Iman memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda. Ada iman yang sempurna dan lemah serts iman yang tidak sempurna dan tidak lemah”. Aku bertanya: “Apakah iman bisa bertambah dan berkurang?” “Ya”, jawab beliau. Aku bertanya lagi: “Apakah penyebab bertambahnya iman itu?” Beliau enjawab: “Firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) sural ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat ini bertambahlah kekufuran mereka di samping kekufurannya (yang telah ada)...”. Dan firman Allah yang lain: ‘Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk’. Sekiranya iman tidak bertambah dan berkurang, niscaya seseorang tidak akan lebih utama dari yang lain, dan manusia seluruhnya serta ni’mat-ni’mat yang mereka miliki akan sama rata. Mu’minin masuk ke surga dengan iman yang mereka miliki. Dengan kemungkinan bertambahnya iman, mereka memiliki kedudukan yang berbeda di sisi Allah. Dan dengan berkurangnya iman, orang-orang yang lalai akan masuk neraka”.[42]

Dari hadits-hadits di atas, dapat dipahami bahwa iman memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda sesuai dengan tingkat pengetahuan dan amal saleh yang dilakukan seseorang. Dengan ini, manusia juga memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda sesuai dengan iman yang dimilikinya. Allah berfirman: “Mereka memiliki kedudukan yang berbeda di sisi Allah. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan”.[43]

Fudlail bin Yasar meriwayatkan sebuah hadits dari Imam Ridla a.s. Beliau berkata: “Iman lebih tinggi satu tingkat dari Islam. Taqwa lebih tinggi satu tingkat dari iman. Dan yakin adalah tingkat tertinggi yang dianugerahkan kepada Bani Adam”.[44]

Tidak diragukan lagi bahwa para nabi dan washi a.s. adalah orang yang paling sempurna imannya. Di bawah mereka, orang-orang yang mengerjakan kebaikan, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi yang dilatar belakangi keikhlasan karena Allah. Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Iman memiliki sepuluh tingkatan sebagaimana anak-anak tangga yang kita harus menaikinya satu demi satu. Miqdad berada di anak tangga kedua, Abu Dzar berada di anak tangga ke sembilan dan Salman berada di anak tangga kesepuluh”.[45]

Dan di bawah mereka, orang-orang yang masih dapat diombang-ambingkan oleh topan keraguan ketika mereka tertimpa kesulitan.

Husein bin Al-Hakam berkata: “Aku pernah menulis surat kepada Imam Kadzim a.s. Dalam surat itu aku bercerita kepada beliau bahwa aku ragu (mengenai agamaku). Dan aku mohon beliau memperlihatkan sesuatu kepadaku sehingga aku dapat memperoleh kembali keyakinanku yang hilang itu, sebagaimana hal ini pernah terjadi atas Nabi Ibrahim a.s. ketika beliau memohon

kepada Tuhan: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”.

Imam Al-Kadzim a.s. membalas suratku dan berkata: “Nabi Ibrahim (ketika memohon hal tersebut) dalam keadaan beriman secara sempurna dan beliau ingin bertambah imannya. Sedangkan kamu ragu. Dan tidak pantas bagi orang yang ragu meminta seperti permintaan Nabi Ibrahim”.[46]

Keraguan adalah penyebab keruntuhan iman, yang akhirnya akan menjauhkan seseorang dari Allah swt.