Iman dan Kufur (bagian4)

Iman dan Kufur (bagian4)0%

Iman dan Kufur (bagian4) pengarang:
Kategori: Akidah

Iman dan Kufur (bagian4)

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

pengarang: Markaz Al Risalah
Kategori: Pengunjung: 192
Download: 87

Komentar:

Pencarian dalam buku
  • Mulai
  • Sebelumnya
  • 9 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 192 / Download: 87
Ukuran Ukuran Ukuran
Iman dan Kufur (bagian4)

Iman dan Kufur (bagian4)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

IMAN DAN KUFUR

Markaz Risalah

PENGANTAR PENERBIT

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam-Nya semoga terlimpahkan kepada Rasul-Nya yang terpercaya, Muhammad Al-Mushthafa dan keluarganya yang suci a.s.

Pembahasan mengenai iman bukanlah pembahasan ulangan yang menjemukan sebagaimana isu-isu yang disebarkan oleh kaum materialis yang saat kini sedang berada dalam masa keemasannya dan sedang membangun asas tersendiri. Karena itu isu-isu tersebut secara langsung berhadapan dengan nilai dan tuntunan-tuntunan iman yang tinggi. Kesimpulan ini diambil dari pengalaman-pengalaman hidup yang membuktikan bahwa propaganda-propaganda mereka hanya terbatas pada ide yang tidak memiliki realita.

Karena itu mereka ingin menciptakan manusia yang bukan manusia yang ada sekarang ini atau mereka menyangka bahwa agama hanyalah khayalan belaka. Akan tetapi ketika mereka melihat bahwa kenyataan bukan seperti yang mereka bayangkan, mereka menyadari selama ini mereka hidup dalam khayalan. Mereka mengatakan bahwa manusia hanyalah sekumpulan daging, darah dan tulang yang hanya hidup di alam ini.

Pemikiran semacam ini dengan sendirinya akan hancur menghadapi realita bahwa manusia adalah makhluk dwi-dimensi dan tidak mungkin mematikan salah satu dimensinya.

Atas dasar ini, iman bukanlah khayalan belaka, akan tetapi iman adalah sebuah realita yang membahas alam manusia dan mengisi kehidupannya.

Dari sisi lain, ketika berbicara tentang iman, Al Qur’an membahasnya dari berbagai sisi dan dimensi, dan tidak menjadikan imam hanya sekedar sarana yang hanya digunakan hari ini demi ketenangan di hari esok sebagaimana keyakinan para pengikut aliran sufi.

Al Qur’an ―pada satu sisi― mengungkapkan bahwa iman adalah sebuah alat individu untuk bertemu Tuhannya dan kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah swt berfirman :

﴿إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات اولئك هم خير البرية﴾

(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, mereka adalah yang paling baik)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

﴿أفمن کان مؤمنا کمن کان فاسقا لا يستوون﴾

(Apakah manusia yang beriman sama seperti orang fasiq? Tentu mereka tidak sama)

﴿کنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنکر و تؤمنون بالله﴾

(Kamu adalah umat terbaik yang telah dilahirkan demi man usia. (Tugas kamu adalah) amar ma’ruf - nahi munkar dan beriman kepada Allah)

Dan Al Qur’an pada sisi yang lain mengungkapkan bahwa iman adalah perangkat masyarakat dan umat yang memiliki peranan penting dalam merancang masa depannya dan membangun eksistensinya di muka bumi ini. Allah berfirman:

﴿ولو استقاموا علی الطريقة لأسقيناهم ماء غدقا﴾

(Seandainya mereka istiqamah memegang jalan (agama) ini, niscaya Kami akan memberikan minuman mereka air yang sejuk)

﴿ولو أن اهل القری آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم برکات من السماء والأرض ولکن کذبوا فأخذناهم بما کانوا يکسبون﴾

(Jika penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan menurunkan berkah yang berlimpah kepada mereka dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, lalu Kami siksa mereka karena ulah mereka sendiri)

Begitu juga ia membahas iman sebagai norma-norma kemanusiaan agung yang menjamin terbentuknya sebuah masyarakat ideal. Allah berfirman:

﴿تلك الدّارُ الآخرة نجعلها ببذين لايريدون علوا في الأرض ولا فسادا والعاقبة للمتقين﴾

(Itulah kediaman (abadi) di akhirat. Kami peruntukkan kediaman itu untuk orang-orang yang tidak menyombongkan di muka bumi ini dan tidak berbuat kerusakan. Akibat (kemenangan terakhir) akan dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa)

Ini adalah gambaran, hakekat dan dimensi-dimensi iman menurut Al Qur’an.

Iman bukanlah sekedar “cinta sufi” yang menganjurkan setiap manusia menyembunyikan dirinya di puncak-puncak gunung yang tinggi (untuk beribadah) dan bukan sekedar kata-kata yang manis diucapkan. Iman adalah sebuah cakrawala luas yang meliputi pemikiran, suluk dan hubungan manusia dengan sesamanya. Iman adalah sebuah lautan dalam yang sui it untuk diselami, apalagi mengungkapkannya. Iman adalah rahasia kebangkitan dan berkembangnya sebuah umat, sedang kufur adalah rahasia kehancuran dan kemusnahannya.

Atas dasar ini, ketika kita mempelajari hakekat iman dan kufur, bukan hanya sekedar untuk menggembirakan jiwa kita dengan harapan-harapan dan menakut-takutinya dengan siksaan-siksaan, sebagaimana yang dibayangkan oleh sebagian orang. Akan tetapi, tujuan kita sebenarnya adalah untuk menyeimbangkan kehidupan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.

Maka dari itu, ketika kami memilih tema ini sebagai bahan kajian, bukan berarti kami telah mengkaji seluruh tema tersebut dari segala sisi dan dimensinya. Paling tidak kami telah menambah khazanah dalam pembahasan keimanan dan sedikit menyingkap hakekatnya.

Tujuan sebenarnya bukan untuk memperluas wawasan pembaca dalam bidang ini, ataupun membebani pikiran dengan pembahasan yang ―sebenarnya― berat, akan tetapi tujuan utama kami adalah supaya pengetahuan tersebut menjadi sebuah penggerak yang dapat mewarnai kehidupan manusia, baik secara individu atau sosial masyarakat dengan tuntunan-tuntunan iman yang murni.

Akhirnya hanya Allahlah tempat kita meminta pertolongan, dan Ialah satu-satunya penunjuk ke jalan yang lurus.

Mu’assasah Ar-Risalah

MUKADIMAH

Segala puji bagi Allah yang telah menanam benih iman dalam hati hamba-hamba-Nya dan menghiasai hati mereka dengannya serta memberikan rasa benci terhadap kekufuran, kefasikan dan maksiat. Salawat dan salam-Nya semoga terlimpahkan kepada Penunjuk jalan dan kiblat mukminin, pembasmi orang-orang kafir dan para pengikut mereka, Muhammad Al-Musthafa dan keluarganya yang suci.

Amma ba’du. Iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab dan para rasul-Nya adalah inti akidah yang hak dan agama yang mulia ini. Keyakinan ini harus direalisasikan oleh muslimin dalam setiap masa dan generasi dan hendaknya mereka menjadikan iman sebagai tolok ukur hakiki dalam mengukur keistimewaan seseorang, bukan tolok ukur lain yang tidak ada nilainya menurut penilaian Al Qur’an.

Iman bukanlah sekedar syi’ar yang hanya enak digembar-gmborkan. Akan tetapi iman adalah suluk, tata krama dan akhlak yang harus diterjemahkan dalam kehidupan individu yang menghendaki kebaikan dan membenci kejelekan.

Jika bayi yang baru dilahirkan mempunyai keimanan secara fitrah akan tetapi ayah-ibunyalah yang memiliki peranan utama menjadikannya pengikut agama Yahudi, Kristen atau Majusi, fitrah semata tidak cukup dengan sendirinya untuk mengantarkan manusia mencapai tujuan iman seperti yang telah digariskan oleh Alquran, selama tidak disertai dengan pengajaran yang benar dan pendidikan yang tepat.

Jika tidak demikian, tuntunan-tuntunan iman yang tinggi ini akan musnah secara perlahan dan tidak akan membekas dalam sanubari manusia.

Sara tidak menemukan orang berakal yang tidak meyakini peranan iman dalam kehidupan individu dan sosial masyarakat. Jika kita menengok kemenangan dan keberhasilan umat-umat terdahulu dalam bidang materi, seperti menundukkan alam, kedokteran dan industri, hal ini adalah bukti terbaik atas apa yang kami katakan itu. Karena kemajuan dan keberhasilan-keberhasilan itu, dengan sendirinya tidak memiliki pengaruh positif dalam jiwa mereka, dan akibatnya, mereka tidak akan menemukan ketenanganjiwa dan kedamaian sejati hingga masa kita.sekarang ini.

Oleh karena itu, mereka akan menghadapi gelombang keraguan, kebimbangan dan ketakutan dalam menghadapi masa depan yang menyebabkan mereka lari dari realita atau bunuh diri yang merupakan fenomena hangat yang sedang dihadapi oleh masyarakat Barat. Oleh karena itu, para pemikir telah membunyikan lonceng bahaya sebagai peringatan atas bahaya yang sedang mengancam ini.

Begitu juga, kemajuan dan keberhasilan-keberhasilan secara materi ini, dengan sendirinya tidak memiliki pengaruh positif bagi sisi etika mereka. Hal ini dapat kita lihat dati menggejalanya dekadensi moral, meningkatnya kriminalitas dan penggunaan obat-obat terlarang secara bebas yang menimpa mayoritas negara dunia ini.

Lebih dari itu, tidak adanya gambaran yang benar bagi manusia mengenai tujuan wujud dan kehidupannya adalah hasil negatif lain dari keberhasilan-keberhasilan tersebut.

Yang sangat menakjubkan adalah munculnya model-model kekufuran baru yang didukung oleh yayasan-yayasan bergengsi, yang berusaha memerangi Islam, memusnahkan tuntunan-tuntunan dan menyimakan kedudukannya. Dengan bermunculannya golongan-golongan baru yang tersebar di seantero dunia, ruang lingkup kekufuran ini makin meluas dan secara terang-terangan mengajak manusia untuk meyembah syetan.

Untuk merealisasikan tujuannya tersebut, mereka menciptakan ritus-ritus keagamaan baru dan tempat-tempat peribadatan khusus yang dilengkapi dengan sarana-sarana media massa modem yang digunakan untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka.

Atas dasar ini, kita sangat perlu membahas problema iman dan kufur, karena problema ini adalah salah satu problema hayati dan primer yang semestinya harus kita perhatikan.

Betul, ada sebagian orang yang sempit pemikirannya dan tidak memiliki hasrat untuk membahas problema iman dan kufur (secara tuntas). Karena mereka menganggap problema ini sebagai problema sampingan yang tidak penting. Mereka menganggap di dunia ini ada problema-problema lain yang lebih penting dan hayati.

Mereka lupa bahwa problema iman dan kufur adalah salah satu problema yang menentukan masa depan individu dan sebuah masyarakat. Lebih-lebih, karena iman adalah sumber kebaikan dan kufur adalah sumber kerusakan bagi manusia.

Kekufuran telah memenuhi akal manusia dengan khurafat, memusnahkan etika dan mendatangkan permusuhan dan percekcokan.

Oleh karena itu, supaya dapat menyampaikan apa yang menjadi tujuan kami (dari penulisan buku ini), kami membagi pembahasan buku ini dalam empat pasal.

Kami berharap semoga buku kecil ini dapat membantu pembaca dalam membedakan kekufuran dan iman serta pengaruh-pengaruhnya atas kehidupan individu dan masyarakat. Setidaknya ini sebagai satu langkah yang penuh berkah ―insya-Allah― demi menguatkan dan menjaga fitrah manusia yang condang kepada iman dan tidak terjerumus ke dalam jurang kehidupan material dan menuntun mukminin untuk mencapai faktor-faktor yang dapat menguatkan iman dan mengangkat derajat mereka.

Akhirnya kepada Allah swt kami memohon pertolongan dan taufik.

PASAL IV

PENGARUH IMAN DAN KUFUR ATAS KEHIDUPAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Iman adalah sumber segala keutamaan sementara kufur adalah sumber segala kehinaan. Seseorang yang telah berlumuran dosa, syirik dan menjadi hamba hawa nafsu, patung-patung sesembahan dan kekuatan-kekuatan sosial yang dimilikinya, berkat iman ia akan tersucikan dari noda-noda kotor itu.

Dengan iman pula ia mampu menguasai hawa nafsunya dan menemukan jalan yang benderang untuk mengikis karakter-karakter jahiliyahnya.

Kita dapat saksikan pada masyarakat jahiliyah yang terpecah belah menjadi beberapa kabilah dan golongan dan tidak ada keadilan dalam hidup mereka, ketika mereka beriman dan akidah tauhid terpatri kokoh di dalam sanubari mereka, mereka menjadi umat yang bersatu atas dasar kebenaran dan keadilan.

Bukti sejarah yang menjelaskan dengan tegas .terjadinya revolusi budaya atas kehidupan individu dan masyarakat yang dikobarkan oleh iman, adalah dialog antara Ja’far bin Abi Thalib dengan Najasyi, raja Habasyah ketika ia ditanya tentang sebab hijrah dan ‘murtad’ dari agama kaumnya.

Ia berkata: “Wahai Raja, (sebelum datangnya Islam) kami adalah masyarakat jahiliyah yang menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan segala kejahatan dan kehinaan, memutuskan hubungan dengan kerabat, mengganggu tetangga. Yang terkuat di antara kami menindas yang lemah. Keadaan ini berjalan sehingga Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami yang kami kenal nasab keturunannya, jujur, amanat dan punya harga dirinya.

Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya serta meninggalkan patung-patung yang disembah oleh kami dan nenek moyang kami.

Ia memerintahkan kami untuk berkata benar, menyampaikan amanat kepada pemiliknya, menyambung tali persaudaraan dengan kerabat, menghormati tetangga dan menghentikan seluruh perbuatan haram serta melarang menumpahkan darah orang yang tak berdosa.

Ia melarang kami dari berbuat keji, berkata bohong, memakan harta anak yatim dan menuduh berzina perempuan yang telah bersuami.

Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya...”.[1]

Dengan ini terungkaplah bagi Najasyi revolusi budaya yang dikobarkan oleh Islam dalam waktu yang relatif singkat. Hal itu disebabkan Islam memiliki pengaruh yang kuat terhadap kehidupan individu dan sosial masyarakat. Kita akan lebih memahami realita di atas melalui pembahasan-pembahasan berikut.

Pengaruh Iman atas Kehidupan Individu

Islam adalah titik pennulaan kelahiran satu generasi baru yang cinta akan nilai-nilai luhur dan hikrnah, mengarungi samudra ilmu dan pengetahuan, tampil dengan penuh percaya diri dan rasa kemanusiaan yang tinggi.

Perubahan drastis ini tidak timbul dari kehampaan dan secara kebetulan, akan tetapi hal itu didasari oleh tuntunan-tuntunan iman yang menyimpan nilai-nilai peradaban yang tinggi. Dalam kesempatan ini selayaknya kita membahas tuntunan-tuntunan yang tersimpan dalam iman melalui pengaruhnya yang besar dalam beberapa segi dan dimensi kehidupan manusia.

1. Pengaruh ilmiah (intelektual)

Dengan cahayanya yang cemerlang, Islam telah berhasil membuka pintu-pintu ilmu dan pengetahuan yang tertutup rapat di hadapan masyarakat jahiliyah yang tidak mengenal ilmu dan pengetahuan samawi.

Islam telah membentuk cara berpikir masyarakat yang positif. Ia merangsang mereka untuk merenungkan segala kekuatan dan rahasia alam yang tersembunyi di dunia yang luas ini.

Hal ini dilandasi oleh tujuan-tujuanyang bermacam-macam. Yang terpenting adalah mengenal Allah Ta’ala dan keberadaan-Nya melalui apa yang dapat dirasakan dan dilihat oleh manusia. Begitu juga, dengan perenungan tersebut, agar mereka dapat mengungkap hukum dan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini dengan teliti dan jitu. Hal ini membantu tumbuhnya satu gerakan ilmiah yang dapat dimanfaatkan oleh ulama dan para ilmuwan ilmu alam dari sejak munculnya Islam hingga sekarang ini.

Pengaruh iman tidak hanya terbatas sampai di sini. Terdapat pengaruh-pengaruh iman dalam bidang ekonomi, politik, ilmu sosial, sejarah, filsafat dan teologi yang digunakan oleb para ahli sebagai bahan rujukan dalam penelitian-penelitian mereka.

Lebih dari itu, Alquran juga memiliki aturan, perintah dan hukum-hukum politik yang tersusun secara teliti.

Ringkasnya, peradaban Islam yang dikagumi oleh bangsa-bangsa Eropa selama beberapa abad terakhir, muncul oleh dinamisme iman yang merangsang para pengikutnya untuk selalu berusaha keras dalam menimba ilmu pengetahuan.

Hal ini dapat kita lihat dengan jelas dalam usaha membasmi buta huruf semenjak Islam berkembang. Rasulullah saw meminta dari para tahanan perang Badar agar mengajar muslimin jika mau bebas.

Hal ini dikarenakan buta huruf adalah wahab penyakit yang dapat menghancurkan satu umat. Oleh karena itu, telah sampai kepada kita himbauan Islam agar orang-orang pintar bersedia mengajar orang-orang bodoh.

Amirul Mu’minin a.s. berkata: “Allah tidak memerintahkan orang-orang bodoh untuk belajar kecuali sebelum itu telah memerintahkan orang-orang alim untuk mengajarkan ilmunya”.[2]

Dan satu sisi, Islam juga menganjurkan para pengikutnya untuk menambah ilmu yang bermanfaat dan dapat mendekatkan dirinya kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda: “Jika aku berada di suatu hari dan pada hari itu aku tidak dapat menambah ilmu yang dapat mendekatkan diriku kepada Alia Ta’ala, maka hari itu bukanlah hari yang memiliki berkah bagiku”.[3]

Dalam sebuah hadits, Imam Ali a.s. menyebutkan hasil-hasil positif iman dan peran pentingnya dalam kemajuan dan kebahagiaan manusia. Beliau berkata : “Tuntutlah ilmu, niscaya ilmu tersebut akan memberikan kehidupan kepada kalian”.[4]

Menurut Islam, ilmu memiliki peran yang sangat penting (dalam segala bidang). Atas dasar ini, ilmu lebih utama dari ibadah.

Rasulullah saw bersabda: “Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaanku dibanding dengan orang yang terendah derajatnya dari kalian”.

Abu Hamzah meriwayatkan dari Abu Ja’far a.s., beliau berkata: “Seorang alim yang bermanfaat ilmunya lebih utama dari tujuh puluh orang ahli ibadah”.[5]

Hadits-hadits di atas memberikan gambaran kepada kita betapa Islam selalu mendorong setiap individu untuk berlomba-lomba dalam menggali ilmu pengetahuan. Karena pengetahuan adalah satu kepandaian dan kearifan, dan kepandaian adalah satu kekuatan.

2. Pengaruh amaliah

Pengaruh iman dapat dilihat dengan jelas dalam akhlak dan perilaku seorang mu’min. Orang kafir akan menggunakan segala cara dan perantara tanpa mempertimbangkan nilai dan norma-norma akhlak untuk menggapai satu tujuan. Sedangkan orang mu’min, demi mencapai tujuannya, ia akan meniti jalan yang dilandasi oleh norma-norma akhlak yang mulia.

Atas dasar ini, orang yang sempurna imannya, akan sempurna pula akhlaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya”.[6] Oleh karena itu, kita melihat tuntunan-tuntunan etik tersebar luas di dalam ajaran-ajaran agama kita, hal itu tak lain karena adanya hubungan antara iman dan akhlak.

Atas dasar ini, orang-orang yang hidup di dalam masyarakat yang tak beriman, akan mengalami dekadensi moral yang dahsyat (dengan tercerabutnya rasa malu dari hati mereka). Karena rasa malu adalah cabang iman, bahkan dalam hadits Nabi saw: “Rasa malu dan iman adalah dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satunya musnah, maka yang lainnyapun akan musnah”.[7]

Di samping itu, iman menganjurkan setiap individu untuk beramal dan bekerja yang halal. Iman mencegah setiap pengikutnya untuk bermalas-malasan dan menengadahkan tangan kepada orang lain.

Di antara wasiat Imam Ash-Shadiq a.s. kepada muslimin secara umum dan kepada pengikut beliau: “Janganlah kalian malas untuk mencari rezeki demi kehidupan kalian. Karena kakek-kakek kami giat dalam mencari rezeki (demi memakmurkan kehidupan mereka)”. Beliau telah merealisasikan wasiatnya tersebut dalam bentuk amal.

Al-Faudlail bin Abi Qurrah berkata: “Kami masuk ke rumah Abu Abdillah a.s. dan beliau sedang bekerja di halaman. Kami berkata berkata beliau: ‘Biarlah kami atau pembantu yang mengerjakannya untuk anda!” Beliau menyanggah seraya berkata: ‘Jangan! Biarlah aku yang mengerjakannya. Karena aku ingin Allah melihatku bekerja dengan kedua tanganku dan mencari rezeki halal dengan jalan melelahkan diriku”.[8]

Selain menuntun para pengikutnya dengan perkataan, Imam Ash-Shadiq a.s. juga menuntun mereka melalui praktek amaliah. Inilah metode mendidik yang digunakan oleh Ahlul Bayt a.s. Hal ini dikarenakan praktek amaliah memiliki peranan yang besar dalam membentuk arah pandang dan kepribadian (seseorang), di samping itu, amal dan praktek amaliah lebih kuat pengaruhnya dari perkataan.[9]

Dari pembahasan di atas jelaslah bahwa iman mampu mendorong setiap individu untuk berperilaku ideal yang terjelmakan dalam akhlak yang terpuji dan amal saleh.

3. Pengaruh rohani (kejiwaan)

Ketika seorang mu’min mengingat Allah dan mengadakan interaksi dengan kekuatan Ilahi yang agung, maka akan sirnalah rasa takut dan kelemahannya, dengan demikian hatinya menjadi tenang.

Allah berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram”. Dalam ayat yang lain Ia juga berfirman: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang yang mendapatkan keamanan dan petunjuk”.[10]

Iman membawa ketenangan jiwa dan memusnahkan rasa takut seseorang ketika cobaan-cobaan hidup datang silih berganti.

Dalam sejarah, banyak kita temukan bukti-bukti kesimpulan ini. Qanbar, pembantu yang sangat mencintai Amirul Mu’minin a.s., selalu membuntuti beliau dari belakang secara diam-diam sambil menenteng pedang.

Suatu malam Imam Ali a.s. melihatnya sedang membuntutinya. Beliau bertanya: “Wahai Qanbar, apa yang sedang kau lakukan?” Ia menjawab: “Wahai Amirul Mu’minin, aku ingin mengawal anda dari belakang. Karena masyarakat ―sebagaimana yang anda ketahui―, memusuhi anda. Aku khawatir akan keselamatan anda”. Beliau bertanya kembali: “Apakah kamu ingin menjagaku dari bahaya penghuni langit atau penghuni bumi?” “Dari bahaya penghuni bumi”, jawabnya. Beliau berkata: “Sesungguhnya penghuni bumi tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap diriku tanpa izin Allah azza wa jalla dari langit. Karena itu, pulanglah!”.[11]

Ya’Ia bin Murrah berkata: “Sudah menjadi kebiasaan Imam Ali a.s. keluar malam menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat sunnah. Kami datang berkumpul untuk menjaga beliau. Setelah beliau selesai melaksanakan shalat, beliau menghampiri kami seraya berkata: “Mengapa kalian duduk di sini?” “Kami sedang menjaga anda”, jawab kami. “Apakah kalian menjagaku dari (bahaya) penghuni langit atau penghuni bumi?”, tanya beliau kembali. “Kami menjaga anda dari (bahaya) penghuni bumi”, jawab kami. Beliau berkata: “Tidak akan terjadi suatu peristiwa di bumi kecuali jika sudah ditentukan di langit. Setiap orang dijaga oleh dua malaikat yang selalu menyertainya hingga datang ajalnya. Jika ajalnya telah tiba, mereka akan pergi darinya. Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan sebuah perisai kokoh kepadaku. Jika ajalku telah tiba, Allah akan mencabutnya dariku... Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman sehingga ia meyakini bahwa sesuatu yang telah ditentukan akan menimpanya, tidak akan meleset dan sesuatu yang telah ditentukan tidak akan menimpanya, hat itu tidak akan terjadi alas dirinya”.[12]

Iman akan mendorong orang mu’min untuk pasrah penuh terhadap qadla’ dan qadar IIahi. Dengan itu, jiwanya akan teramankan dari perasaan takut dan khawatir.

Atas dasar ini, iman adalah satu unsur penting yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa. Hal ini telah diakui oleh mayoritas ahli psikologi, antara lain Dr. Ernest Adolf, seorang asisten dosen di universitas Sant Jhon’s, Amerika Serikat.

Ketika ia ditanya tentang faktor-faktor utama stres ia berkata: “Faktor-faktor utama penyakit ini adalah rasa berdosa atau bersalah, dengki, takut, khawatir, kesedihan, kebimbangan, keraguan dan kejemuan.

Yang sangat disayangkan, para ahli pengobatan penyakit jiwa sebetulnya mampu mendeteksi faktor-faktor kegoncangan jiwa yang menyebabkan stres itu, akan tetapi mereka gagai total dalam usaha mengobatinya. Hal ini dikarenakan mereka tidak menanamkan keimanan pada Tuhan di dalam sanubari para penyandang penyakit ini ketika mengobatinya”.[13]

Atas dasar ini, poin penting yang dapat membantu penyembuhan penyakit-penyakit jiwa seseorang adalah kita harus membantunya untuk mengakui kesalahan-kesalahannya. Karena mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukannya akan mengembalikan keseimbangan dan ketenangan kepada jiwanya yang goncang itu.

Secara teori, Alquran mengakui keabsahan cara pengobatan ini. Akan tetapi Alquran menegaskan supaya pengakuan tersebut dilakukan di hadapan Tuhan di saat seseorang menyendiri dengannya, bukan di hadapan orang lain.

Ketika seseorang berkata dalam qunut shalatnya:

﴿ربّنا ظلمتا أنفسنا وأن لم تغفر لنا وترحمنا لنکوتنّ من الخاسرين﴾

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi”.[14] ia akan merasa lega dan terbebas dari tekanan perasaan berdosa.

Alquran telah menukil beberapa pengakuan dari hamba-hamba saleh dan para nabi. Seperti pengakuan Nabi Musa a.s. ketika beliau membunuh seseorang tanpa sengaja:

﴿رب انی ظلمت نفسی فاغفرلی﴾

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu, ampunilah aku”.[15]

Lebih dari itu, keyakinan manusia bahwa ia tidak sendiri dan Allah selalu menyertainya, akan menimbulkan suatu ketenangan dan rasa percaya diri serta membasmi rasa takut, bimbang dan kesendirian darinya. Hal ini dikarenakan Allah sendirilah yang menenangkannya.

Ia berfirman: “Dan Ia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.[16]

Ringkasnya, iman akan memadamkan api ketakutan, kebimbangan dan kegundahan seseorang. Sebagai gantinya, iman tersebut akan memberikan kesehatan jiwa dan jasmani kepadanya.

Psikologi menegaskan bahwa ketika manusia ditimpa oleh ketakutan, kesusahan atau kemarahan, akan terjadi perubahan dan kegoncangan-kegoncangan psikologis yang berbahaya baginya jika hal itu telah kronis.

Kegundahan yang telah mengeras dan kontinyu kadang-kadang bisa menyebabkan luka lambung atau usus dua betas jari. Sedang kebencian yang terpendam dalam waktu yang panjang dapat menyebabkan tekanan darah.[17]

Di samping itu, iman juga mendatangkan ketentraman dan ketenangan bagi jiwa seseorang sehingga ia tidak pernah merasa hidup sendiri. Amirul Mu’minin a.s. berkata: “Ya Allah, Engkau adalah teman yang terbaik bagi para kekasih-Mu. Jika mereka mereka dilanda kesepian, mereka akan tenteram dengan mengingat-Mu. Dan ketika mereka ditimpa musibah, mereka akan berlindung di bawah naungan-Mu. Karena mereka meyakini bahwa tali kendali segala urusan ada di tangan-Mu”.[18]

4. Pengaruh iman dalam membentuk kepribadian seorang mu’min

Iman adalah titik tolak manusia untuk mencapai kemuliaan. Karena iman membekalinya dengan etika dan budi pekerti yang luhur, dan membantunya untuk selalu percaya diri dan berjalan menuju tujuan akhirnya dengan langkah yang pasti.

Lukman Al-Hakim pernah ditanya: “Bukankah kamu pembantu keluarga orang itu?”

“Ya”, jawabnya. Kemudian ia ditanya kembali: “Apakah yang menyebabkan kamu sampai kepada derajat yang kau miliki sekarang ini?”

Ia menjawab: “Berkata benar, memegang amanat, meninggalkan sesuatu yang tidak kubutuhkan, menjaga mataku (dari melihat hal-hal yang dilarang), menjaga mulutku, dan makan yang halal. Barang siapa yang mengerjakan sebagian dari apa yang telah aku sebutkan itu, maka ia berada di bawahku. Barang siapa yang melakukan lebih dari itu, niscaya ia berada di atasku. Dan barang siapa yang mengerjakan segala apa yang telah kusebutkan tadi, maka kedudukannya seperti kedudukanku”.[19]

Iman akan memberikan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi kepada manusia, dan dengan itu, kehinaan tidak akan pernah menghampirinya. Dalam hal ini Allah berfirman: “Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mu’min. Tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui”. Imam Ash-Shadiq a.s. juga berkata: “Sesungguhnya Allah telah menyerahkan kepada orang mu’min semua urusannya (yakni, ia bisa melakukan segala yang ia sukai). Akan tetapi, Allah tidak rela jika ia hina”.[20]

Iman juga menjadikan seseorang berwibawa sehingga orang lain akan memandangnya dengan penuh hormat dan pengagungan. Seseorang pernah berkata kepada Imam Hasan bin Ali a.s.: “Anda memiliki keagungan”. Beliau membalas: “Tidak! Aku memiliki kemuliaan. Allah berfirman: ‘Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan mu’minin”.[21]

Iman juga menimbulkan satu revolusi besar dalam kehidupan manusia yang dapat membebaskannya dari perbudakan maksiat menuju ketaatan. Dari iman itu ia akan mencapai anugerah-anugerah Ilahi yang tidak dapat diperkirakan harganya.

Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Ketika Allah azza wa Jalla telah menyelamatkan seorang hamba dari perbudakan maksiat menuju kemuliaan takwa, maka Allah telah membuatnya kaya tanpa harta, memuliakannya tanpa kerabat dan menenteramkannya tanpa manusia lain”.[22]

Atas dasar ini, penghambaan kepada Allah adalah sumber kemuliaan, kebanggan dan ketinggian derajat. Amirul Mu’minin a.s. berkata: “Tiada kemuliaan yang lebih tinggi dari pada Islam dan tiada kemuliaan yang lebih mulia dari takwa”. Ketika bermunajat kepada Allah, beliau berkata:

الهي، کفی بي عزّا أن أکون لك عبدا وکفی بي فخرا أن تکون لي ربّا

“Ya Tuhanku, alangkah mulianya aku ketika aku sebagai hamba-Mu, dan alangkah bangganya aku ketika Engkau sebagai Tuhanku”.[23]

Ringkasnya, iman akan meninggikan kedudukan manusia (di mata manusia) dan mengangkat tingkat spiritualitasnya yang tercennin dalam kekokohan dan keagungan pribadinya.

5. Pengaruh-pengaruh iman yang lain:

a. Memperkuat kontrol diri

Iman dapat memberikan kemampuan kepada seseorang untuk mengontrol dirinya sehingga ia mampu menyembunyikan segala musibah, kesusahan, penyakit yang menimpanya dan amal-amal baik yang pernah dilakukannya karena takut riya’.

Allah swt memuji orang-orang yang dapat menguasai diri dan memendam amarahnya. Ia berfirman: “... Dan orang-orang yang menahan amarahnya”.[24]

Begitu juga iman akan memberikan kemampuan kepadanya untuk mengontrol lidahnya sehingga ia tidak akan mengucapkan sesuatu yang mengundang amarah Allah, karena ia hidup dengan penuh perhitungan, baik dalam perkataan atau amal.

Berbeda dengan orang kafir. Dalam sebuah hadits termaktub: “Lidah orang mu’min berada di belakang hatinya. Jika ia ingin mengucapkan sesuatu, ia akan merenungkannya terlebih dahulu kemudian mengucapkannya. Dan lidah orang munafik berada di depan hatinya. Jika ia ingin mengucapkan sesuatu, ia akan mengucapkannya tanpa perenungan sebelumnya”.[25]

b. Keteguhan dan Keberanian

Iman dapat menwnbuhkan keberanian dan keteguhan dalam diri orang mu’min ketika ia berada di medan jihad. Dengan keberanian dan keteguhan itu, ia akan mampu menguasai hawa nafsunya yang condong kepada kehidupan dunia dan tidak mau sulit.

Pada peristiwa perang Badar, muslimin yang berjumlah sedikit, dengan bekal dan persenjataan yang tidak memadai mampu mengalahkan pasukan Quraisy yang bersenjata lengkap dengan kekuatan iman mereka.

Seorang orientalis modern, Jack Reizler, penulis buku Yaqdhatul Islam (Kebangkitan Islam) dan Al-Hadlarah Al-‘Arabiyah (Peradaban Arab) yang telab dicetak di Perancis pada tabun 1962 M menulis: “Dengan munculnya agama Islam, peradaban Arab mulai berkembang pesat. Perkembangan dan tersebaruya peradaban ini (di seantero dunia) disebabkan oleh beberapa faktor, yang terpenting adalah meningginya semangat spiritual di dada muslimin sebagai hadiah agama baru ini.

Semangat spiritual inilah yang memberikan keberanian kepada mereka sehingga mereka tidak takut mati dijalan Allah”.[26]

c. Waspada dan mawas diri

Iman dapat memberikan kepada seseorang suatu kemampuan untuk memandang kehidupan di sekitarnya dengan teliti.

Ia tidak akan tertipu oleh rayuan-rayuan dunia yang menggiurkan. Ia akan mencari harta dunia hanya sekedar dapat hidup dan tidak tergiurkan oleh kekayaan (yang menjadi dambaan mayoritas manusia).

Amirul Mu’minin a.s. berkata: “Orang mu’min memandang dunia demi mengambil pelajaran (‘ibrah), berbekal harta dunia hanya sekedar dapat hidup dan (dalam sanubari) ia tidak mencintai dunia sedikitpun”.[27]

Suwaid bin Ghaflah berkata: “Setelah Amirul Mu’minin dibai’at menjadi khalifah, aku bertamu ke rumah beliau. (Ketika aku masuk), beliau sedang duduk di atas tikar yang terbuat dari pelepah kurma. Aku tidak melihat perabotan lain dalam rumah itu selain tikar tersebut.

Aku berkata (dengan penuh keheranan): ‘Wahai Amirul Mu’minin, harta Baitul Mal ada di tangan anda, tapi aku tidak melihat perabotan di rumah ini yang layak dimiliki oleh sebuah rumah!’. Beliau menjawab: ‘Wahai putera Ghaflah, orang yang berakal dan cerdik tidak akan memenuhi rumah sementaranya dengan perabotan yang berwarna-warni. Kami memiliki satu rumah abadi nan tenteram dan kami telah memindahkan perabotan yang terbaik ke rumah tersebut, dan tidak lama lagi kami akan pergi menuju ke sana”.[28]