• Mulai
  • Sebelumnya
  • 10 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 172 / Download: 67
Ukuran Ukuran Ukuran
Renungan Jumat; Meraih Cinta Ilahi (1)

Renungan Jumat; Meraih Cinta Ilahi (1)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

Renungan Jumat; Meraih Cinta Ilahi

Al- Huda

PENGANTAR EDITOR

Kehidupan manusia sejak kecil adalah meniru orang-orang yang di sekitamya. Seorang anak akan menjadikan kedua orang-tuanya sebagai contoh pertama dalam dalam menjalani hidupnya. Apa yang dilakukan dan diajarkan orang-tua bagi seorang anak akan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Apabila orang-tuanya mengajarkan kehidupan dengan akhlak yang buruk, maka kehidupan selanjutnya (walaupun tidak selalu) bagi si anak akan dijalani dengan akhlak yang buruk pula.

Namun, apabila orang-tuanya mengajarkan cinta dan kasih sayang pada anaknya, maka anaknya akan tumbuh pula dengan jiwa kasih sayangnya. Begitu pula dengan ajaran keimanan yang diberikan orang-tuanya, akan menjadikan kehidupan anak itu penuh dengan keimanan pula. Kekuatan iman yang telah tumbuh dalam dirinya selanjutnya akan tumbuh menciptakan dunia cinta. Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Imam Ali, Rasulullah saw menjawab pertanyaan tentang berkasih sayang sesama mereka (orang-orang beriman) (QS. Al-Fath:29) dengan berkata, “Jiwa yang paling disayangi Allah adalah yang kukuh dalam agama, suci dalam iman, dan baik hati terhadap orang-orang beriman.”

Menumbuhkan kekuatan keimanan sehingga berbuah akhlak yang mulia adalah adalah persoalan yang sulit. Salah satu cara untuk mendapatkan kemuliaan akhlak adalah dengan metode mencontoh seperti yang dilakukan oleh anak kecil itu. Cara lainnya adalah dengan memahami konsep tentang akhlak mulia dan menjalaninya. Agama Islam mengajarkan bahwa Nama-nama Allah (Asma-ul Husna) itu merupakan konsep tentang akhlak yang mulia.

Adalah Laleh Bakhtiar, pakar Psikologi Konseling dari Institute for Traditional Psychoethics yang menulis sebuah buku Moral Healing through the Most Beatiful Names, yang isinya menyatakan bahwa kunci penyembuhan jiwa secara moral bagi pesuluk (pejalan ruhani) adalah dengan mengaktulisasikan Asma-ul Husna. Setidaknya ada dua ayat al-Quran yang memerintahkan kita untuk berakhlak dengan Asma-ul Husna ini. Dua ayat al-Quran itu adalah surat al-A’raf ayat 180 dan surat Thâhâ ayat 8, yang berbunyi, Hanya milik Allah Asma-ul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu, dan, Dia mempunyai Asma-ul Husna. Dua ayat itu dengan jelas memerintahkan manusia untuk meneladani Asma-ul Husna agar dapat menyempurnakan jiwanya untuk dapat meraih cinta Ilahi.

Perjalanan meraih cinta Ilahi tidaklah mudah. Berbagai perjuangan batin harus dilaluinya untuk mendapatkannya. Karena dengan ‘jiwa’ ini manusia dapat menjalankan hidupnya sesuai dengan kehendak bebasnya; manusia dapat bertindak adil dan terpuji atau buruk dan merusak. Dalam hal ini, perjuangan manusia untuk memilih tindakan adil dan terpuji sehingga berbuah akhlak mulia merupakan tindakan yang penuh perjuangan dan penderitaan. Memang bukan hal mudah untuk melawan godaan hawa nafsu yang menjauhkannya dari sifat kesempurnaan (baca:yang sesuai dengan Asma-ul Husna).

Untuk meraih sifat kesempurnaan itu, kita terlebih dahulu harus mengenal apa yang disebut dengan ‘jiwa’, sehingga kita dapat mengarahkan jiwa menuju kesempurnaan. Jiwa pada prinsipnya berbeda dengan tubuh dan ia berdiri sendiri. Jiwa itu baru atau tidak bersifat kadim. Untuk mengetahui, mempelajari, dan memahami jiwa hanya dapat dilakukan secara tidak langsung melalui daya nalar kognitif atau persepsi mental, dengan mengamati kegiatan yang berasal dari jiwa tersebut. Jiwa terjelma dalam keadaan yang terus-menerus berubah, sehingga perlu dipusatkan agar sifatnya dapat disempurnakan.

Pada dasarnya jiwa mempunyai fungsi untuk menangkap hal-hal yang bersifat imaterial dengan esensinya sendiri dan mengatur serta mengendalikan tubuh fisik dengan menggunakan fakultas dan organ. Jiwa bukanlah tubuh, tidak bersifat fisik, dan tidak dapt ditangkap oleh indra. Jiwa mencakup jiwa nabati (fakultas nutritif, fakultas augmentatif, dan fakultas yang mengalami pertumbuhan san kehancuran), jiwa hewani (fakultas persepsi san motivasi), san jiwa manusiawi, yang mengandung empat aspek utama: ruh (rûh), hati (qalb), akal (‘aql), dan hawa nafsu atau aspek irasional jiwa.

Dalam hati inilah terdapat ruh yang tak memiliki jumlah, kuantitas, atau ukuran. Ruh adalah sumber dari Asma-ul Husna yang akan diberikan kepada hati, agar hati dapat menjalani kehidupan, mendapatkan pengetahuan, dan kemampuan kognitif. Hal ini merupakan berkah bagi hati, karena sebagai pusat kesadaran tentang Allah, hati dapat mengantarkan jiwa menuju kesempurnaan. Hati disebut qalb yang berarti ‘berbolak-balik’. Pada kenyataannya hati memang senantiasa berbolak-balik antara dua dunia —material dan spiritual.

Menjaga hati agar terus dalam kondisi menuju kesempumaan jiwa memang tidak mudah. Menurut Imam Ghazali, sebagaimana dikutip Laleh, ada tiga cara agar manusia dapat memperoleh pengetahuan jiwa. Pertama, pengetahuan tentang makna Asma-ul Husna sebagai ayat-ayat Allah di ufuk dan di dalam jiwa dapat melalui penyaksian dan penyingkapan. Kedua, dengan memuliakan dan menghormati sifat-sifat ini, yang ingin dimiliki pesuluk agar ia bertambah dekat dengan-Nya dalam arti kualitas bukan tempat. Sedangkan yang ketiga adalah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, pesuluk mengosongkan diri dari semua hasrat kecuali untuk Allah.

Dengan mengaktulisasikan Asma-ul Husna ini, maka manusia dapat menyucikan hatinya, sehingga Cahaya fitrah yang terkandung dalam dirinya dapat mewujud. Melalui bimbingan Cahaya fitrah ini, maka hati akan mengikuti akal budi menuju nilai spiritual, dan menjauhi hawa nafsu dan dunia materi. Wujud dari bimbingan Cahaya fitrah itu adalah seorang pesuluk dapat mengaplikasi Asma-ul Husna dalam pergaulannya di masyarakat dengan mempunyai akhlak yang mulia dan terpuji.

Dengan terhujam dan menyatu Asma-ul Husna dalam dirinya, maka seorang pesuluk akan menjelmakannya menjadi kepatutan moral seorang yang saleh dan cerdas. Ia akan mengenali tujuan hidupnya adalah untuk menyempurnakan dirinya. Tanpa moralitas, tak akan ada kesempurnaan. Tanpa disiplin diri tak akan ada moralitas. Dalam kesehariannya seorang pesuluk akan bersifat penyantun, tidak tergesa-gesa menghakimi sesama. Kepatutan moral menyebabkan ia merenungkan apa yang dianggapnya agung mengenai dirinya, dan menjauhi dirinya dari hal yang dapat menuntun dirinya kepada kesombongan, keangkuhan, dan takabur kepada sesama.

Seorang pesuluk akan memperkuat imannya sebagai ahli tauhid yang saleh dan cerdas, dan ia dapat menjadi penutup kesalahan orang lain dan bersyukur kepada Allah atas berkahnya. Ia akan menjalankan sifat kedermawanan terhadap sesama demi Allah semata. Dalam kehidupannya, seorang pesuluk adalah pengemban amanat Allah untuk alam semesta. Ia menjadi kuat dan kukuh dalam mengalahkan musuh dan menjadi teman untuk ‘teman-teman’ (baca:pengikut) Allah. Dalam ibadahnya ia menjadi yang paling awal, dan yang terakhir dalam menegur kesalahan sesamanya dengan terlebih- dahulu menegur kesalahan dirinya.

Pada puncak ruhaninya, seorang pesuluk akan menjelmakan dalam kehidupannya, yakni pengetahuan, perasaan dan perilakunya sebagai Cahaya Allah. Sehingga seorang pesuluk merupakan petunjuk bagi sesama, dan selalu menyibukkan dirinya dengan amal-amal saleh dengan penuh kesabaran. Akhlak mulia dan terpuji itu merupakan buah dari proses riyadhah (penyucian diri) yang dilakukan seorang pesuluk dalam meraih cinta Ilahi.

Buku Renungan Jumat: Meraih Cinta Ilahi yang sedang Anda baca ini memaparkan bahwa dalam meraih cinta Ilahi itu tidaklah mudah. Buku ini banyak menjelaskan mengenai bagaimana kita dapat beriman kepada Allah dan menumbuhkan cinta kepada-Nya sehingga berbuah akhlak yang mulia sebagaimana tercermin dalam Asma-ul Husna-Nya. Berbagai pengertian yang sering terdapat dalam istilah akhlak juga dijelaskan dalam buku ini seperti taubat, itsar, qalb, hawa nafsu, zikir, dan lain-lain dengan penjelasan yang mudah dipahami. Buku ini merupakan buku kedua dari kumpulan tulisan Buletin Jumat yang diterbitkan oleh Islamic Culture Centre melalui divisi penerbitannya Al-Huda. Adapun buku pertamanya adalah Renungan Jumat: Penyuluh Akhlaqul Karimah, yang telah mendapat sambutan baik dari pembaca.

Penerbitan buku ini didukung oleh tim redaksi Buletin Jumat yakni Ahmad Subandi, Arif Mulyadi, Ali Alatas, Andito, dan Irman Abdurrahman. Namun demikian, seluruh tulisan ini merupakan tanggung jawab saya selaku editor dan penanggung jawab Buletin Jumat. Begitu pula dengan Ahmad Rivai yang mengerjakan proses produksinya. Tak lupa saya haturkan terima kasih kepada seluruh staf Al-Huda yang dengan caranya masing-masing telah membantu penerbitan buku ini. Terakhir buku ini saya persembahkan kepada anak saya, Dewi Nadya Maharani, yang menjadi penguat hati saya dalam menjalani kehidupan yang kadang penuh dengan cobaan.

Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dari karya sederhana ini, yang merupakan sumbangan al-Faqir bagi perkembangan dakwah Islam. Semoga pula Allah meridhai apa-apa yang menjadi amal saleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Amien.

Depok, Sya’ban 1424 H/Oktober 2003 M

Rudhy Suharto

BAB I:

MENJALANI HIDUP DENGAN IMAN

Menjalani Hidup dengan Iman

Dalam diri manusia hal yang paling penting dalam hidupnya adalah masalah keimanan. Karena keimanan inilah yang memberi manusia kepastian dalam menjalani kehidupannya. Kepastian ini berupa arah tujuan hidup manusia. Apabila manusia ingin dalam kehidupannya dijalani dengan baik maka ia harus dilandasi dengan keimanan, sedangkan jika kehidupannya tanpa iman maka ia akan mengalami ketidakpastian hidup bahkan dapat terjerumus ke jurang kenistaan.

Memang menjalani hidup dengan iman tak mudah, karena di sana terdapat ujian, halangan dan rintangan. Ada seorang sahabat Nabi saw yang bernama Bilal, ia adalah seorang budak yang masuk Islam. Ketika ia menerima hidayah iman, ia pun harus menerima berbagai siksaan. Namun ia tetap tabah dalam menjalaninya, sampai akhirnya ia dibebaskan oleh seorang sahabat Nabi saw, Abu Bakar, dari status budaknya.

Bilal adalah orang yang tidak sekedar menjadikan Islam sebagai pengetahuan, tapi ia manusia yang beriman. Memang keimanan itu berbeda dengan pengetahuan. Dalam keimanan, kita akan diuji dengan berbagai cobaan bahkan terkadang nyawa menjadi taruhannya. Sedangkan pengetahuan hanya mensyaratkan kita hanya untuk memahaminya. Pengetahuan juga tak mensyaratkan untuk meyakini apa yang diketahuinya. Untuk lebih jelasnya, dapat diterangkan bahwa iman itu berbeda dari pengetahuan tentang Allah, Keesaan Wujud-Nya, dan Sifat-sifat-Nya yang lain –seperti sifat al-kamaliyyah (Kesempurnaan), al-jalaliyyah (Keagungan), atau sifat-sifat yang lain –pengetahuan tentang malaikat, Kitab-kitab Suci, dan Hari Akhir. Sehingga apabila seseorang memiliki pengetahuan tentang semua itu tidak lantas mukmin, karena mukmin tidaknya seseorang tergantung dari faktor keimanannya.

Masalah pengetahuan itu tidak identik dengan keyakinan, misalnya ini terjadi pada Iblis. Iblis memiliki pengetahuan tentang semua itu lebih daripada manusia, tetapi ia tetap tidak beriman. Iman adalah kerinduan hati – suatu pengalaman batin, yang jika tidak sejati sifatnya tidak menjadi iman. Setiap orang yang telah memiliki pengetahuan tentang agama melalui argumen rasional harus tunduk kepada pengetahuan itu sepenuh hatinya, dengan seluruh totalitas eksistensinya dan segera memenuhi penggilan hatinya –yaitu, penyerahan sempurna kepada Allah, dengan kerendahan hati dan rasa takut, dan menerima seluruh tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh tanpa pertanyaan. Hanya dengan demikianlah ia menjadi mukmin sempurna.

Jika seorang yang menjadi mukmin, maka ia akan mencapai puncak iman yang ditandai dengan ciri-ciri kedamaian dan ketenangan batin. Ketika cahaya iman telah mantap, hatinya pun menjadi tenang dan mantap, dan ini adalah sesuatu yang tidak muncul dari pengetahuan. Pengetahuan hanya menjadikan manusia mempunyai pemahaman tentang sesuatu, namun jika ia tidak mengimaninya maka hal itu tidak akan banyak berpengaruh langsung dalam kehidupanya, seperti Iblis yang mengetahui Allah, tapi tidak mau mentaati perintah-Nya.

Sebabnya, pengetahuan hanya merupakan proses akal bukan proses hati yang dapat menyentuh sisi-sisi kehidupan ruhani manusia. Dalam hal ini, mungkin saja akal mengakui sesuatu yang sesuai dengan aturan dan logikanya, namun hatinya bisa jadi tidak siap untuk bersepakat dengan akalnya dan dengan demikian pengetahuan tersebut menjadi sia-sia. Sebagai contoh, engkau tahu melalui akalnya bahwa seorang yang telah mati tidak dapat membahayakan dirimu dan bahwa semua orang mati di dunia ini tidak memiliki kekuatan untuk melakukan suatu perbuatan, meskipun itu hanya sekedar kekuatan seekor lalat, dan bahwa semua daya jasmaniah dan ruhaniah terlepas segera setelah seseorang mati. Tetapi karena hatimu tidak menerimanya dan tidak menyetujui penilaian akal, engkau tidak berani melewatkan malam dengan sebuah tubuh yang telah mati. Tetapi jika hatimu bersepakat dengan akal, tugas tersebut tidak akan menjadi sulit lagi bagimu. Setelah melakukan beberapa usaha, hati setuju dengan akal, dan dalam hatimu tidak ada lagi rasa takut terhadap orang mati.

Jadi, ada satu fakultas dalam diri manusia yang menentukan tingkat keimanan seseorang yakni hati. Hati inilah tempat bernaungannya dimensi keimanan itu, sedangkan akal tempat bersemayamnya pemahaman. Dengan hati manusia menjadi insan perasa yang dapat merasakan keimanan dengan manis, dengan akal manusia dapat memahami sesuatu dengan terpuaskan. Dua fakultas inilah yang akan menentukan perilaku kehidupan manusia. Jika manusia ingin beriman gunakanlah hati, jika manusia ingin paham gunakanlah akal.

Karena itu, jelas bahwa ketundukan yang merupakan perbuatan hati berbeda sama sekali dari pengetahuan yang merupakan perbuatan akal. Mungkin saja seseorang dapat membuktikan kebenaran Keesaan Wujud Allah, Hari Akhir, dan keimanan-keimanan lainnya secara logis. Namun, hal itu tidak lantas dapat dianggap sebagai iman, dan orang tersebut tidak dapat dianggap sebagai mukmin; dapat saja ia tergolong kafir, munafik atau musyrik.

Maka dengan hati itulah keimanan terpatri, yang akan melahirkan nilai-nilai ruhaniah yang membumbung dengan melintasi dimensi raga. Sedangkan jika hati tertutup, maka saat itulah diri kita tertutup, dan kita tidak memiliki pandangan ilahiah.

Demikian pula mata lahiriah kita tidak mampu mencerap-Nya; dan ketika yang tersembunyi disingkapkan dan kerajaan surga ditampakkan, karena hatinya terhalangi dari-Nya maka engkau bukanlah seorang yang memiliki iman sejati terhadap Allah dan penilaian rasionalmu tidak sejalan dengan imanmu.

Selanjutnya, sebelum kalimat la ilaha ila Allah (tidak ada tuhan selain Allah) tertulis dalam kitab hati dengan pena akal, manusia bukanlah seorang mukmin sejati terhadap Keesaan Allah. Ketika ajaran suci itu digoreskan pada hati, dengan sendirinya hati menjadi tempat kerajaan Yang Mahakuasa. Hanya setelah itulah manusia tidak lagi melihat sesuatu yang lain sebagai suatu wujud yang berpengaruh dalam wilayah kebenaran. Ia tidak lagi mengharapkan kedudukan apa pun, atau kelebihan dalam harta dari yang lain. Ia tidak lagi mengejar kemasyhuran dan kehormatan dengan bantuan orang lain, dan hatinya tidak menjadi munafik dan bersifat keduniawian.

Sifat-sifat keduniawian merupakan penghalang manusia menuju keimanan sejati. Keduniawian ini seringkali akan melahirkan sifat riya’ yang akan merusak kesucian hati. Karena itu, jika melihat riya’ menyelinap ke dalam hati kita, sadarilah bahwa hati kita belum sepenuhnya menunclukkan dirinya kepada akal, dan keimanan belum mencerahkan hati kita. Keimanan mensyaratkan untuk meyakini la ilaha ila Allah, karena jika engkau menganggap makhluk lain sebagai tuhan, memandangnya sebagai salah satu penyebab terjadinya peristiwa di dunia ini, dan kau tidak mempercayai-Nya sebagai satu-satunya Allah, maka itu berarti engkau telah bergabung dengan kelompok orang-orang munafik dan syirik.

Menjadi kelompok orang munafik dan syirik membuat diri kita termasuk dalam golongan ahli neraka. Jika itu terjadi, kita termasuk manusia yang tidak merasakan nikmatnya keimanan itu. Sebab, hidup dalam iman merupakan kenikmatan dan keberuntungan jiwa. Semua kerusakan moral dan perilaku terjadi akibat ketiadaan iman di dalam hati. Sungguh jika ini terjadi dalam diri kita, maka merugilah kehidupan kita selama di dunia ini.

Menumbuhkan Iman dengan Cinta

Untuk mencapai tatanan kehidupan yang baik di dalam masyarakat haruslah didasarkan atas cinta. Cinta akan memberi kehangatan dalam pergaulan dan kepercayaan. Tanpa landasan cinta maka kehidupan di masyarakat akan timbul sikap saling curiga dan iri. Kalau masyarakat terikat oleh cinta maka mereka akan serasi dan tak akan terjadi konflik. Karena jika manusia mencintai sesama manusia lainnya maka ia akan menghendaki bagi orang lain apa yang dikehendaki bagi dirinya sendiri. Hal itu tak akan terwujud dalam keadaan saling percaya atau tolong menolong, kecuali di antara orang-orang yang saling mencintai. Apabila orang bekerja sama dan dipersatukan oleh cinta, maka mereka akan memperoleh apa yang mereka inginkan dan takkan gagal mencapai apa yang mereka cari, betapapun sulitnya

Cinta dan kehendak merupakan dasar dari setiap perbuatan, maka cinta juga merupakan dasar bagi agama. Sebab, sesungguhnya agama mencakup perbuatan lahir dan batin. Agama adalah ketaatan, ibadah dan perilaku. Agama adalah ketaatan yang harus dilakukan secara kontinyu sehingga menjelma menjadi sebuah perilaku dan kebiasaan.

Oleh karena itu, perilaku diartikan sebagai agama sebagaimana tercantum dalam firman Allah,

Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur (QS. al-Qalam:4).

Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, ia mengatakan,“Akhlak beliau adalah al-Quran.”

Agama mengandung makna merendahkan diri dan paksaan, di samping mengandung makna ketundukkan dan ketaatan. Agama itu merupakan Duntullâha wa duntu lillâhi, wa fulânun lâ yadînullâha dînan, walâ yadînullâ bidînin. Kata Dânallâh artinya taat, cinta dan takut kepada Allah, sedangkan kata Dâna lillâh artinya khusyuk, tunduk, merendahkan diri kepada-Nya. Agama yang bersifat baik adalah yang mengandung cinta dan merendahkan diri. Hal ini berbeda dengan agama yang hanya bersifat zahir, sebab ia tidak mengharuskan adanya kecintaan meskipun boleh jadi ada sikap kepatuhan.

Agama seseorang yang dilakukan karena Allah akan diterima jika didasarkan kepada kecintaan dan keridhaan-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Akan merasakan manisnya iman seseorang yang rela Allah menjadi Tuhannya, Islam menjadi agama, Muhammad saw menjadi utusan-Nya.” Agama Islam berdiri di atas dasar kecintaan, karena cinta agama ini disyariatkan dan di atas cinta pula ia dibangun.

Agama Islam menganjurkan lebih banyak shalat berjamaah daripada shalat sendiri-sendiri. Ini dimaksudkan agar sifat bersahabat dalam diri manusia dapat mereka nikmati dan sifat ini melahirkan rasa cinta yang memang telah ada dalam diri mereka dalam bentuk potensi. Dengan demikiran persahabatan manusia akan menjadi aktual dan akan diperkuat dengan kepercayaan-kepercayaan yang benar dan mempersatukan mereka.

Demikian pula dalam shalat Id manusia berkumpul untuk ibadah di tanah lapang. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat tertampung sehingga mereka bisa saling bertemu dan meningkatkan persahabatan yang diliputi rasa cinta yang mempersatukan mereka. Nabi saw juga mewajibkan paling tidak sekali seumur hidup kaum Muslimin berkumpul di kota Mekkah. Maka manusia dari berbagai negara yang saling berjauhan dapat berkumpul sebagaimana masyarakat sebuah kota, dan dapat mencapai cinta, masyarakat yang baik dan bahagia.

Cinta merupakan suatu jenis yang dibawahnya terdapat beberapa macam cinta yang beraneka ragam dalam kadar dan sifatnya. Cinta yang paling banyak dibicarakan adalah cinta kepada Allah yang merupakan cinta sejati. Ini diwujudkan dalam bentuk beribadah, bertaubat, dan lain sebagainya. Ibadah dan taubat tidaklah pantas diserahkan kecuali hanya kepada Allah saja. Cinta yang mutlak telah disebutkan Allah dalam firman-Nya,

Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cinta dan mereka pun mencintai-Nya. (QS. al-Ma’idah:54)

Ibadah kepada Allah, dalam arti hakikinya, yakni gairah cinta dan semangat ketundukan dan khidmat di jalan Allah, kehadiran-Nya abadi dalam pikiran dan ingatan-Nya, arti kepuasan dan kebahagiaan ada dalam cinta dan ibadah kepada-Nya. Ia sama sekali tidak sejalan dengan cinta-diri, sikap hedonis, dan yang ditawan oleh kegelamoran dan daya tarik benda-benda materi.

Satu-satunya, cinta yang tak diwarnai agitasi dan takkan tergoyahkan oleh bencana apa pun adalah cinta seorang hamba terhadap penciptanya. Cinta agung ini nanya dimiliki orang yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Orang lain tidak bisa memilikinya. Bagaimana mungkin seseorang dapat mencintai Tuhan kalau dia tak tahu. Mereka yang mengaku memiliki jenis cinta kepada Allah ini sangat banyak. Akan tetapi sedikit sekali orang yang memang memiliki cinta Ilahi. Sebab, cinta serupa ini sangat berkaitan erat dengan dengan ketaatan clan pengagungan.

Cinta kepada Allah ini adalah perkara yang paling tinggi sekali clan itulah tujuan kita yang terakhir. Kesempumaan manusia itu terletak dalam Cinta kepada Allah ini. Cinta kepada Allah ini hendaklah menakluki dan menguasai hati manusia itu seluruhnya. Kalau pun tidak dapat seluruhnya, maka sekurang-kurangnya cinta kepada Allah melebihi cinta kepada yang lain.

Sebenarnya mengetahui Cinta Ilahi ini bukanlah satu perkara yang ringan. Sehingga ada satu golongan orang bijak pandai agama yang langsung menafikan cinta kepada Allah atau Cinta Ilahi itu. Mereka tidak percaya manusia boleh Mencintai Allah karena Allah itu bukanlah sejenis dengan manusia. Kata mereka; maksud Cinta Ilahi itu adalah semata-mata tunduk dan patuh kepada Allah saja. Sebenamya mereka yang berpendapat demikian itu adalah orang yang tidak tahu apakah hakikatnya agama itu. Semua orang Islam setuju bahwa cinta kepada Allah itu adalah satu tugas. Allah berfirman berkenaan dengan orang-orang mukmin, Allah Cinta kepada mereka dan mereka Cinta kepada Allah.

Begitu pula dalam sebuah hadis Nabi pernah bersabda, “Belum sempurna iman seseorang itu hingga ia mencintai Allah dan Rasulnya lebih daripada yang lain.” Apabila malaikat maut datang hendak mengambil nyawa Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim berkata, “Pernahkah engkau melihat sahabat mengambil nyawa sahabat?” Allah berfirman, “Pernahkah engkau melihat sahabat tidak mau melihat sahabatnya?” Kemudian Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Izrail! Ambillah nyawaku!” Doa ini diajarkan Nabi kepada sahabatnya; “Ya Allah, karuniakanlah kepada ku Cinta terhadap-Mu dan Cinta kepada mereka yang Mencintai-Mu, dan apa saja yang membawa aku hampir kepada Cinta-Mu, dan jadikanlah Cinta-Mu itu lebih berharga kepadaku dari air sejuk kepada orang yang dahaga.”

Karakteristik cinta dan ibadah kepada Allah itu berkenaan dengan hati. Orang yang cinta kepada Ilahi hatinya dipenuhi dengan cinta, khususnya cinta akan watak spiritual, semisal nilai-nilai kemanusiaan, atau agama dan keyakinannya. Ia akan terbakar dengan cahaya cinta Tuhan ataupun menerima suatu pencerahan atau inspirasi dari-Nya. Syarat penting untuk penerimaan karunia Ilahi dan realisasi kemanusiaan yang autentik adalah membersihkan kuil hatinya dari setiap noda keterikatan materialistik dan membunuh semua berhala emas dan perak serta menghancurkannya di Kabah hati.

Derajat Tawakal Seorang Hamba

Dan orang yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah akan mencukupkan keperluannya. (QS.ath-Thalaq:3)

Imam Ali berkata, “Ada beberapa derajat tawakal kepada Allah. Salah satunya adalah kau menyerahkan segala urusanmu kepada Allah, dan kau ridha dengan apapun yang dilakukan-Nya kepadamu, kau mengetahui dengan pasti bahwa ia tidak berhenti memberikan kebaikan dan nikmat-Nya kepadamu, dan kau mengetahui bahwa segala hukum atau perintah di dalamnya adalah milik-Nya. Maka bertawakallah, letakkanlah kepercayaanmu kepada Allah, serahkan kepada-Nya, dan bersandarlah kepada-Nya dalam hal itu, dan hal-hal lain.”

Tawakal secara harfiah berarti pengakuan ketakmampuan seseorang dan penyandaran pada seseorang selain dirinya. Dalam kajian tasawuf, tawakal memiliki beberapa derajat sesuai dengan maqam hamba Allah Swt. Khwajah ‘Abdullah al-Anshari dalam Manazil al-Sairin, mendefinisikan tawakal sebagai mempercayakan atau menyerahkan seluruh masalah kepada Sang Penguasa dan bersandar kepada kemampuan-Nya dalam menangani masalah-masalah itu.

Beberapa arif berkata, “Tawakal berarti menundukkan badan (seperti dalam sujud) dalam ibadah dan mengikatkan hati kepada Rububiyyah-Nya (Allah sebagai Rabb, penguasa).” Ini berarti menggunakan kekuatan-kekuatan tubuh seseorang untuk mengabdi kepada Allah Swt dan tidak turut campur dalam urusan-urusan (hati), dan menyerahkannya kepada Allah Swt.” Beberapa arif lain berkata, “Tawakal kepada Allah berarti seseorang hamba memutuskan segala pengharapan dari makhluk (dan mengikatkan hanya kepada Allah).”

Makna-makna di atas berkaitan. Namun yang perlu dikatakan di sini adalah bahwa tawakal memiliki beragam derajat sesuai dengan maqam sang hamba.

Tawakal Lisan

Pengetahuan manusia tentang Rububiyyah Allah Swt amat beragam. Sebagian orang memandang Allah Swt sebagai Pencipta esensi segala sesuatu tetapi mereka tidak mempercayai bahwa ia memiliki kekuatan yang menentukan atas segala sesuatu. Keimanan dan tauhid kelompok manusia ini, yang di dalamnya kita juga termasuk, tidak sempurna.

Kelompok manusia dengan keimanan seperti ini, dalam menyelesaikan seluruh urusan dunianya, mereka tidak bersandar kepada apapun dan hanya memperhitungkan sebab-sebab lahiriah dan faktor-faktor material saja. Jika sesekali mereka mengarahkan perhatiannya kepada Allah dan memohon sesuatu dari-Nya maka itu adalah karena taqlid saja. Atau mengharapkan sesuatu dari-Nya, karena mereka bukan saja melihat tidak adanya keburukan dalam hal itu, tetapi juga melihat kemungkinan memperoleh keuntungan darinya. Dengan demikian, ada sedikit kesan tawakal di sini, meskipun ketika mereka memandang faktor-faktor dan sebab, sebab lahiriah lebih tepat untuk suatu masalah, mereka lalu melupakan Allah Swt sepenuhnya.

Ketidakmampuan melihat Rububiyyah Allah dan Allah sebagai sebab efektif (tasharruf) dari segalanya, dan melihat sebab-sebab material sebagai independen adalah bertentangan dengan tawakal. Mereka berharap dapat mencapai derajat tawakal hanya dengan sekedar berucap “Allah Mahatinggi” atau “Aku bertawakal kepada Allah.” Namun, dalam persoalan duniawi, mereka menyatakan, “Kerja dan usaha tidak bertentangan dengan tawakal kepada Allah dan berserah diri kepada kemurahan-Nya.” Jelas ini menyembunyikan nafsu dirinya dan setan. Pengakuannya hanyalah ucapan-ucapan kosong dan gerakan-gerakan mulut tanpa makna saja.

Ini bukanlah tawakal kepada Allah Swt, baik dalam urusan dunia maupun ukhrawi. Tetapi karena mereka memandang urusan-urusan duniawi sebagai lebih penting, mereka menyandarkan dirinya pada sebab-sebab material, dan bukan kepada Allah Swt.

Tawakal Akal

Kelompok ini adalah mereka yang, setelah diyakinkan oleh akal ataupun wahyu, membenarkan pandangan bahwa Allah adalah satu-satunya pemutus perkara, sebab dari seluruh sebab, memiliki kekuasaan yang menentukan dalam keseluruhan alam wujud. Mereka mampu memberikan bukti-bukti rasional untuk membenarkan tawakal. Mereka juga meneguhkan keyakinan rasional bahwa Ia dalam Zat-nya tidaklah kikir, Cinta dan Kasih-Nya bagi hamba-hamba-Nya, Ia tidak membiarkan seorang hamba tanpa memperoleh apa yang baik bagi mereka, bahkan jika mereka sendiri tak mampu membedakan atau menentukan apa yang baik dan buruk bagi mereka.

Meskipun masuk kelompok mutawakkil (kelompok yang bertawakal) pada tingkat pengetahuan rasional, mereka belum mencapai tingkat iman. Kepercayaan mereka masih terguncang jika berhadapan dengan urusan-urusan kehidupan. Ada konflik antara akal dengan hati mereka. Akal dikuasai oleh hati yang masih mempercayai sebab-sebab material dan bukan kekuasaan dan tasharruf Allah Swt.

Tawakal Hati

Selain kedua kelompok itu, ada kelompok ketiga. Kelompok ini meyakini kekuasaan Allah Swt sampai ke relung hati mereka. Mereka inilah yang telah mencapai maqam tawakal. Tetapi orang-orang yang termasuk kelompok ini pun berbeda satu dari yang lainnya dalam hal tingkat keimanan. Tingkat tertinggi adalah rasa puas atau berkecukupan. Hati mereka tidak terpengaruh oleh segala sebab, dan terikat kepada rububiyyah Allah. Kepada-Nya mereka bersandar dan dengan-Nya mereka merasa cukup. Inilah tawakal yang dalam kata-kata para arif didefinisikan sebagai ‘melepaskan tubuh dalam ibadah kepada Allah dan mengikatkan hati kepada rububiyyah-Nya.”

Maqam tawakal, ridha, taslim, dan maqam-maqam lainnya dicapai secara bertahap. Pada mulanya, pejalan ruhani (salik) mungkin melakukan tawakal dalam beberapa urusannya dan dalam hubungannya dengan sebab-sebab yang tersembunyi dan tidak teramati. Lalu secara bertahap, tawakalnya makin meluas, dari sebab-sebab batiniah yang tersembunyi kepada sebab-sebab lahiriah yang tampak, dan dari urusan-urusan orang yang dekat dengannya. Sesuai dengan itu, disebutkan dalam hadis, “Salah satu derajat tawakal adalah berserah diri kepada Allah dalam segala urusanmu.”

Sesungguhnya, maqam ridha lebih tinggi dan bercahaya. Mutawakil mencari kebaikan dan keuntungan bagi dirinya sendiri, dan mempercayai seluruh urusannya kepada Allah Swt yang dipandangnya sebagai pemberi kebaikan. Sedangkan radhi (yang mencapai maqam ridha) adalah orang yang telah meleburkan kehendaknya dalam Kehendak Allah, dan tidak memiliki lagi kehendak dirinya sendiri. Ketika seorang salik ditanya, “Apakah kehendakmu?” Ia menjawab, “Kehendakku adalah tidak memiliki kehendak.” Yang dimaksudkannya adalah maqam ridha.

Lebih jauh, tawakal tidak tercapai kecuali setelah hadirnya salah satu penyebabnya, yaitu urusan yang untuk penyelesaiannya seorang hamba berserah diri kepada Allah Swt. Salah satu contohnya adalah tawakal Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam menghadapi ancaman kaum musyrik ketika mereka diberitahu; Kepada mereka dikatakan,

Sesungguhnya orang-orang yang telah berkumpul untuk melawan kalian, karena itu takutlah kepada mereka. Tetapi hal ini justru meningkatkan iman mereka, dan mereka berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan sungguh Ia adalah sebaik-baik pengatur segala urusan.’ (QS. al-Imrân:173)

Namun, seringkali tawakal adalah pendahulu dari sebab yang dirujuknya, sebagaimana tampak pada doa Rasulullah saw, “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu; aku mencari perlindungan kepada-Mu; dan aku serahkan segala urusanku kepada-Mu.”

Ibadah dan Perjalanan Ruhani

Manusia dalam hidupnya berusaha untuk mencari nilai-nilai kesempurnaan. Ia bersedia mengorbankan apa saja demi tujuannya itu. Seorang yang berpandangan materialistis akan melihat banyaknya kekayaan merupakan jalan menuju kebahagiaan dan kesempumaan. Manusia yang haus akan kekuasaan akan berusaha dengan segala cara untuk merebutnya. Begitulah perilaku dan tabiat manusia yang jiwanya dipenuhi bayang-bayang dunia materi yaitu uang dan kekuasaan.

Padahal sebagai manusia, yang mempunyai dimensi ruhani di samping materi, tidak seharusnyalah ia menomorsatukan hal-hal yang bersifat materi. Seharusnya ia melihat bahwa tujuan kesempurnaan hidup manusia adalah menghadap yang menciptakaannya. Jika manusia sadar akan hakikat dari kemanusiaannya, tentu ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk berbuat yang berlebihan terhadap kebutuhan duniawi. Manusia tersebut tentu akan berusaha untuk beribadah kepada yang menciptakannya, yaitu Allah dengan penuh suka cita.

Ibadah kepada Allah merupakan satu bentuk penolakan terhadap segala sesuatu yang lain sebagai objek sesembahan dan pemujaan selain Allah. Hal ini merupakan salah satu ajaran penting dari Tuhan yang selalu disampaikan melalui ajaran-ajaran para nabi. Dalam Islam, ibadah kepada Allah menempati kedudukan yang amat luhur, dan tidak dianggap sebagai serangkaian ritual kebaktian semata yang terpisah dari kehidupan sehari-hari dan hanya terkait dengan dunia lain. Ibadah dalam Islam ditempatkan dalam konteks kehidupan dan merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari filsafat kehidupan Islam.

Menurut Islam, setiap amal baik dan bermanfaat jika ditunaikan dengan niat tulus mencari ridha Allah dipandang sebagai ibadah. Oleh karenanya, belajar, menuntut ilmu, dan mencari nafkah dan pelayanan sosial, jika dilakukan karena Allah, merupakan laku-laku ibadah. Di sisi lain, Islam menetapkan aturan-aturan ritual dan tindakan-tindakan formal ibadah seperti shalat, puasa dan lain-lain, yang memiliki filsafat tertentu bagi yang menjalankannya.

Misalnya, shalat merupakan ekspresi total dari ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah. Shalat telah diatur sedemikian sehingga seorang manusia yang ingin shalat di sudut sendirian pun dipaksa untuk menjalankan hal tertentu yang relevan secara sosial dan moral, seperti kesucian, menghargai hak-hak sesama, menjaga keteraturan, memiliki kepedulian akan waktu, mengendalikan emosi diri, dan ekspresi kehendak-baik dan kasih sayang kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Inilah ekspresi sosial ibadah kepada Allah, yang dilakukan secara individual. Dalam kumpulan khutbahnya di Nahjul Balaghah, Imam Ali mengatakan, “Sesungguhnya shalat menggugurkan dosa-dosa seperti gugurnya daun-daun pepohonan, dan membebaskan kalian dari belenggu (dosa) yang mengitari lehermu. Nabi saw mengibaratkannya dengan sebuah sungai yang terletak di pintu rumah seseorang. Di dalamnya, orang bisa mandi lima kali sehari semalam. Maka adakah noda yang masih melekat padanya setelah melakukan lima kali mandi tersebut?”

Pada kitab itu juga Imam Ali dalam berbagai khutbahnya mengungkapkan bagaimana keutamaan dan pengalaman ruhani dari orang yang beribadah kepada Allah dengan khusyu’ dan bersungguh-sungguh. Sehingga ibadah tersebut bukanlah sebuah rangkaian ritual kering dan tanpa makna. Gerakan-gerakan tubuh merupakan ibadah tubuh lahiriah, sementara jiwa dan maknanya adalah sesuatu yang lain. Ibadah baru bisa bernilai, hanya ketika dilimpahi dengan makna dan ruh. Ibadah sejati berarti melampaui alam tiga dimensi menuju cakrawala spiritual, yang merupakan alam kebahagiaan abadi dan sublimasi jiwa serta sumber energi dan kekuatan bagi hati, yang memiliki kepuasan-kepuasannya sendiri.

Dalam Nahjul Balaghah juga diungkapkan tentang ciri-ciri orang yang takwa dan saleh serta menguraikan ciri-ciri ketakwaan mereka, perhatian dan kepuasan mereka akan ibadah, penyesalan dan kesedihan terus menerus atas dosa-dosa dan seringnya membaca al-Quran, pengalaman ekstatik mereka, dan keadaan yang mereka dapatkan selama mereka menjalankan ibadah-ibadah mereka dan perjuangan melawan kecenderungan diri bendawi mereka. Dan juga membahas peran ibadah dalam mengangkat jiwa manusia dari kegelapan dosa dan perbuatan-perbuatan jahat, dan sering menunjukkan pengaruh ibadah dalam menyembuhkan penyakit moral dan fisik. Ia juga membicarakan kebahagiaan murni, tidak dapat dilebihi, dan tulus dan ekstase para penempun jalan spiritual dan para penyembah Allah yang ikhlas.

Para penempuh jalan spiritual itu, di malam hari, mereka merapatkan kaki, seraya membaca ayat-ayat al-Quran secara tertib, berhenti sejenak guna merenungkan makna-maknanya, merawankan hati mereka dengan bacaan tersebut serta membangkitkan penawar bagi segala yang mereka derita. Apa yang mereka dengar dari al-Quran seakan-akan mereka saksikan dengan mata kepala sendiri. Setiap kali menjumpai ayat pemberi harapan, tertariklah hati mereka mendambakannya, seakan surga telah berada di hadapan mata. Dan bila melewati ayat pembawa ancaman, mereka hadapkan seluruh “pendengaran” hati kepadanya, seakan desir neraka jahanam dan gelegaknya bersemayam dalam telinga mereka. Mereka senantiasa membungkukkan punggung, meletakkan dahi clan telapak tangan, merapatkan lutut clan ujung kaki dengan tanah, memohon beriba,iba kepada Allah agar dibebaskan dari murka-Nya. Adapun di siang hari, mereka orang-orang yang penuh kemurahan hati, berilmu, berbakti, dan bertakwa.

Manusia seperti itu menjaga akalnya tetap hidup dan membunuh hawa nafsunya, sampai badannya kurus, dan menjadi ramping, kekeras kepalaan menjadi kelembutan hati. Kemudian suatu sinar, laksana petir, turun ke dalam hatinya dan menyinari jalan di hadapannya, membuka semua pintu, dan mengantarkannya ke jalan yang benar. Begitu pun kakinya, yang memikul tubuhnya, berada dalam posisi yang teguh dan kokoh menapaki jalan keselamatan (di atas shirâth) dan nyaman lantaran ia menjaga hatinya tetap sibuk dengan perbuatan-perbuatan baik dan memperoleh ridha Tuhannya. Al-Quran menyatakan,

Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (QS al-Insyiqaq:6)

Dalam ayat lainnya, al-Quran mengatakan,

...Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar... (QS al-Ankabut:45)

Di tempat lain, al-Quran mengatakan,

...dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (QS Thâhâ:14)

Inilah bukti bahwa orang yang shalat sesungguhnya mengingat Allah dan menyadari sepenuh hati bahwa Dia selalu mengamati dan mengawasinya, serta tidak melupakan bahwa dirinya sendiri adalah hamba-Nya. Mengingat Allah, yang merupakan tujuan ibadah, artinya menyinari hati dan sebagai sarana penyuciannya. Dengan mengingat Allah, orang menyiapkan hatinya untuk merenungi Cahaya Tuhan di dalamnya. Tentang mengingat Allah dan arti ibadah, Imam Ali mengatakan, “Sesungguhnya Allah, Yang Mahamulia, telah menjadikan ingatan kepada-Nya sebagai penerang hati, yang menjadikan mereka mendengar setelah tuli, melihat setelah buta, dan menjadikan mereka taat setelah berontak. Dalam setiap kurun waktu, ketika tidak ada para nabi, ada individu-individu tertentu yang kepadanya Dia berbicara secara perlahan-lahan melalui kesadaran dan akal mereka...” Kalimat-kalimat ini membicarakan pengaruh luar biasa dari zikrullah (mengingat Allah) pada hati, sampai ke tingkat menjadikannya mampu menerima ilham Ilahi dan mengakrabkannya dengan Tuhan.

Dunia dalam Pandangan Cahaya Ilahi

Jalaluddin Rumi dalam aforisme sufistiknya menceritakan suatu hadis Nabi Muhammad saw yang berbunyi, “Seburuk-buruk ulama adalah ulama yang mengunjungi penguasa, dan sebaik-baiknya penguasa adalah penguasa yang mengunjungi ulama. Berbahagialah seorang penguasa yang berada di depan pintu orang miskin, dan celakalah orang miskin yang berada di depan gerbang penguasa!”

Sekilas, hadis itu seakan bermakna bahwa tidak layak bagi seorang ulama mengunjungi pemerintah. Perbuatan seperti itu menjadikan seorang ulama menjadi ulama terburuk. Tapi hadis itu tidak bermakna sedemikian dangkal. Makna sebenamya dari hadis itu adalah bahwa seburuk-buruknya ulama adalah ulama yang menerima sokongan dari penguasa. Dia melakukannya karena ingin memperoleh penghidupan dari sang penguasa. Anugerah serta pemberian penghidupan dari seorang penguasa dijadikan tujuan utama kehidupan dan pencarian ilmunya. Dia ingin memuji penguasa dan berkata kepadanya dengan berbagai penghargaan yang tinggi. Ulama-ulama seperti itu akan membiasakan dirinya dengan berbagai tingkah laku yang akan disukai oleh setiap penguasa. Ulama- ulama buruk itu akan selalu menempatkan dirinya sebagai tamu dan selalu menganggap penguasa sebagai tuan rumah.

Ulama seperti ini, dalam pandangan Islam mempunyai jenis hubungan antara dirinya dan dunia yang kokoh, yang hal ini akan mengikis kepribadiannya dan mengorbankan dirinya untuk nilai-nilai materi. Karena nilai seseorang dalam mengejar suatu sasaran lebih rendah ketimbang sasaran itu sendiri, yang dalam ungkapan al-Quran—jatuh dalam tingkatan asfal al-sâfilîn, dengan demikian menjadi makhluk yang paling celaka, cacat, dan terhina. Kemudian, ia akan kehilangan tidak hanya nilai mulianya namun juga jati diri kemanusiaannya.

Pada sisi lain, seorang ulama yang telah mengenakan jubah keilmuannya, dia melakukan bukan demi seorang penguasa, melainkan, pertama dan paling utama, karena Allah. Ketika seorang ulama berperilaku dan berjalan sepanjang jalur kebenaran, sebagaimana yang semestinya dilakukan oleh seorang ularna clan tidak berperilaku untuk alasan lain, maka semua orang akan berdiri hormat terhadapnya. Semua orang merasa mendapatkan limpahan cahaya yang memantul darinya. Baik mereka sadar ataupun tidak. Segala perilaku ulama itu selalu diatur oleh nalar dan naluri kebaikan. Dia hanya bisa hidup dalam kebaikan, seperti ikan yang hanya dapat hidup dalam air. Apabila ulama seperti itu pergi ke seorang penguasa maka dialah yang bertindak sebagai tuan rumah dan penguasa sebagai tamu. Karena sang penguasa akan menerima bantuan darinya dan bergantung padanya.

Ulama seperti itu jiwanya merdeka dan tidak terikat pada seorang penguasa. Dia akan selalu melimpahkan cahaya bagaikan matahari. Hidupnya semata-mata untuk memberi dan memberkahi. Matahari mengubah bebatuan biasa menjadi rubi dan permata carnelian. Matahari akan mengubah gunung, gunung di bumi menjadi tambang emas, tembaga, perak dan timah. Matahari membuat buni hijau dan segar, menghasilkan bermacam buah-buahan dan berbagai tanaman. Tugasnya hanyalah memberi dan membekali; dia tidak mengambil apa pun. Ada sebuah pepatah Arab yang berbunyi, “Kami telah belajar untuk memberi, tidak untuk mengambil.” Ulama seperti itu akan selalu menjadi tuan rumah dalam keadaan bagaimanapun. Dan penguasa akan selalu menjadi tamu mereka.

Ulama-ulama yang seperti ini dalam memandang dunia tidaklah dengan hasrat memiliki tapi menjadi. Mereka menjadikan dunia ini merupakan tempat untuk memberikan kontribusi pikiran dan tenaganya untuk berbakti kepada Penciptanya, bukan berhasrat untuk menikmati dunia ini demi kesenangan dirinya semata. Baginya dunia dan benda-benda duniawi dikorbankan di altar kemanusiaannya dan digunakan untuk melayani manusia ketika ia menuntut kembali ideal-ideal luhurnya. Itulah mengapa dikatakan dalam sebuah hadis qudsi, “Wahai putra Adam! Telah Aku ciptakan segala sesuatu demi kebutuhanmu, tapi Aku ciptakan engkau untuk Diri-Ku sendiri.”

Pandangan Islam menyangkut hubungan manusia dengan dunia adalah bahwa hasrat memiliki dunia dapat tumbuh sampai ke tingkat yang menjadi bencana dan kesulitan pada jiwa manusia. Jiwa manusia akan terbelengu dan terikat oleh dunia. Dalam hal ini, Islam telah melakukan sebuah perjuangan yang tak kenal menyerah yang menganggap dunia sebagai tercela. Dalam nilai-nilai Islam, dunia yang ditolak adalah dunia yang menjadi tujuan dan sasaran dan bukan sebagai suatu jalan atau sarana.

Jika dunia telah menjadikan hubungan manusia sampai pada tingkat penghambaan dan kepatuhan, maka dunia telah mengantarkan kepada penafian dan penghancuran semua nilai insani yang lebih tinggi. Padahal nilai martabat manusia terletak pada kebesaran dalam tujuan dan sasaran yang dikejarnya. Jelaslah, jika seluruh usaha dan aspirasi manusia adalah hanya sekitar perutnya, maka nilainya tidak akan melebihi dari apa yang keluar dari perutnya. Itulah mengapa Imam Ali as berkata, “Nilai manusia yang tujuannya hanya untuk memenuhi perutnya setara dengan apa yang dikeluarkan dari perutnya.” Seiring dengan ucapan Imam Ali, al-Quran mengungkapkan,

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan . (QS al-Kahfi: 46)

Ayat ini, sebagaimana terpampang, membahas harapan puncak manusia. Harapan puncaknya adalah sesuatu yang untuknya ia hidup dan tanpanya kehidupan tidak bermakna sama sekali dalam pandangannya.

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS Yûnus: 7-8)

Dalam ayat ini, yang dianggap tercela adalah tiadanya harapan dan percaya akan kehidupan akhirat serta kepuasan dan kebahagiaan dengan benda-benda materi.

Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka... (QS an-Najm: 29-30)

Pada ayat lain dikatakan,

Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan di dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS ar-Ra’d:26)

Demikian pula,

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS ar-Rûm:7)

Banyak ayat lain yang memiliki arti yang sama. Dalam semua ayat tersebut, menjelaskan tentang penafian dunia sebagai tujuan dan ideal dari keinginan dan harapan tertinggi rnanusia dan sasaran akhir dari hasratnya, dan satu-satunya sumber kebahagiaan dan kepuasannya. Nâshir Khusraw dalam mengungkapkan hasratnya tentang dunia berucap:

Tak pernah aku akan jatuh kepada dunia sebagai mangsa dengan mudah,

Karena tak pernah lagi bencananya membebani hatiku Sesungguhnya akulah pemburu dan dunia adalah mangsaku,

Meski ia pernah mengejarku sebagai buruannya.

Meski banyak manusia telah jatuh terpotong-potong karena anak panahnya,

Dunia tidak bisa membuatku sebagai sasarannya,

Jiwaku terbang melintasi gelombang dunia Dan aku tidak lagi khawatir akan gelombang-gelombang dan gelora-geloranya.

Syair ini menjelaskan bahwa dunia bukanlah sesuatu yang dominan dalam diri seorang yang mencari cahaya Ilahi. Baginya dunia hanyalah debu yang hanya mengotori jiwanya dalam mengabdi kepada Allah. Manusia seperti ini telah menjadikan dunia sebagai sarana bukan tujuan. Karena tujuan hidup baginya adalah Sang Penciptanya. Alangkah mulianya para ulama jika memandang dunia seperti tuntunan al-Quran ini.