• Mulai
  • Sebelumnya
  • 12 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 194 / Download: 91
Ukuran Ukuran Ukuran
Renungan Jumat; Meraih Cinta Ilahi (2)

Renungan Jumat; Meraih Cinta Ilahi (2)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

Renungan Jumat; Meraih Cinta Ilahi

Al- Huda

PENGANTAR EDITOR

Kehidupan manusia sejak kecil adalah meniru orang-orang yang di sekitamya. Seorang anak akan menjadikan kedua orang-tuanya sebagai contoh pertama dalam dalam menjalani hidupnya. Apa yang dilakukan dan diajarkan orang-tua bagi seorang anak akan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Apabila orang-tuanya mengajarkan kehidupan dengan akhlak yang buruk, maka kehidupan selanjutnya (walaupun tidak selalu) bagi si anak akan dijalani dengan akhlak yang buruk pula.

Namun, apabila orang-tuanya mengajarkan cinta dan kasih sayang pada anaknya, maka anaknya akan tumbuh pula dengan jiwa kasih sayangnya. Begitu pula dengan ajaran keimanan yang diberikan orang-tuanya, akan menjadikan kehidupan anak itu penuh dengan keimanan pula. Kekuatan iman yang telah tumbuh dalam dirinya selanjutnya akan tumbuh menciptakan dunia cinta. Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Imam Ali, Rasulullah saw menjawab pertanyaan tentang berkasih sayang sesama mereka (orang-orang beriman) (QS. Al-Fath:29) dengan berkata, “Jiwa yang paling disayangi Allah adalah yang kukuh dalam agama, suci dalam iman, dan baik hati terhadap orang-orang beriman.”

Menumbuhkan kekuatan keimanan sehingga berbuah akhlak yang mulia adalah adalah persoalan yang sulit. Salah satu cara untuk mendapatkan kemuliaan akhlak adalah dengan metode mencontoh seperti yang dilakukan oleh anak kecil itu. Cara lainnya adalah dengan memahami konsep tentang akhlak mulia dan menjalaninya. Agama Islam mengajarkan bahwa Nama-nama Allah (Asma-ul Husna) itu merupakan konsep tentang akhlak yang mulia.

Adalah Laleh Bakhtiar, pakar Psikologi Konseling dari Institute for Traditional Psychoethics yang menulis sebuah buku Moral Healing through the Most Beatiful Names, yang isinya menyatakan bahwa kunci penyembuhan jiwa secara moral bagi pesuluk (pejalan ruhani) adalah dengan mengaktulisasikan Asma-ul Husna. Setidaknya ada dua ayat al-Quran yang memerintahkan kita untuk berakhlak dengan Asma-ul Husna ini. Dua ayat al-Quran itu adalah surat al-A’raf ayat 180 dan surat Thâhâ ayat 8, yang berbunyi, Hanya milik Allah Asma-ul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu, dan, Dia mempunyai Asma-ul Husna. Dua ayat itu dengan jelas memerintahkan manusia untuk meneladani Asma-ul Husna agar dapat menyempurnakan jiwanya untuk dapat meraih cinta Ilahi.

Perjalanan meraih cinta Ilahi tidaklah mudah. Berbagai perjuangan batin harus dilaluinya untuk mendapatkannya. Karena dengan ‘jiwa’ ini manusia dapat menjalankan hidupnya sesuai dengan kehendak bebasnya; manusia dapat bertindak adil dan terpuji atau buruk dan merusak. Dalam hal ini, perjuangan manusia untuk memilih tindakan adil dan terpuji sehingga berbuah akhlak mulia merupakan tindakan yang penuh perjuangan dan penderitaan. Memang bukan hal mudah untuk melawan godaan hawa nafsu yang menjauhkannya dari sifat kesempurnaan (baca:yang sesuai dengan Asma-ul Husna).

Untuk meraih sifat kesempurnaan itu, kita terlebih dahulu harus mengenal apa yang disebut dengan ‘jiwa’, sehingga kita dapat mengarahkan jiwa menuju kesempurnaan. Jiwa pada prinsipnya berbeda dengan tubuh dan ia berdiri sendiri. Jiwa itu baru atau tidak bersifat kadim. Untuk mengetahui, mempelajari, dan memahami jiwa hanya dapat dilakukan secara tidak langsung melalui daya nalar kognitif atau persepsi mental, dengan mengamati kegiatan yang berasal dari jiwa tersebut. Jiwa terjelma dalam keadaan yang terus-menerus berubah, sehingga perlu dipusatkan agar sifatnya dapat disempurnakan.

Pada dasarnya jiwa mempunyai fungsi untuk menangkap hal-hal yang bersifat imaterial dengan esensinya sendiri dan mengatur serta mengendalikan tubuh fisik dengan menggunakan fakultas dan organ. Jiwa bukanlah tubuh, tidak bersifat fisik, dan tidak dapt ditangkap oleh indra. Jiwa mencakup jiwa nabati (fakultas nutritif, fakultas augmentatif, dan fakultas yang mengalami pertumbuhan san kehancuran), jiwa hewani (fakultas persepsi san motivasi), san jiwa manusiawi, yang mengandung empat aspek utama: ruh (rûh), hati (qalb), akal (‘aql), dan hawa nafsu atau aspek irasional jiwa.

Dalam hati inilah terdapat ruh yang tak memiliki jumlah, kuantitas, atau ukuran. Ruh adalah sumber dari Asma-ul Husna yang akan diberikan kepada hati, agar hati dapat menjalani kehidupan, mendapatkan pengetahuan, dan kemampuan kognitif. Hal ini merupakan berkah bagi hati, karena sebagai pusat kesadaran tentang Allah, hati dapat mengantarkan jiwa menuju kesempurnaan. Hati disebut qalb yang berarti ‘berbolak-balik’. Pada kenyataannya hati memang senantiasa berbolak-balik antara dua dunia —material dan spiritual.

Menjaga hati agar terus dalam kondisi menuju kesempumaan jiwa memang tidak mudah. Menurut Imam Ghazali, sebagaimana dikutip Laleh, ada tiga cara agar manusia dapat memperoleh pengetahuan jiwa. Pertama, pengetahuan tentang makna Asma-ul Husna sebagai ayat-ayat Allah di ufuk dan di dalam jiwa dapat melalui penyaksian dan penyingkapan. Kedua, dengan memuliakan dan menghormati sifat-sifat ini, yang ingin dimiliki pesuluk agar ia bertambah dekat dengan-Nya dalam arti kualitas bukan tempat. Sedangkan yang ketiga adalah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, pesuluk mengosongkan diri dari semua hasrat kecuali untuk Allah.

Dengan mengaktulisasikan Asma-ul Husna ini, maka manusia dapat menyucikan hatinya, sehingga Cahaya fitrah yang terkandung dalam dirinya dapat mewujud. Melalui bimbingan Cahaya fitrah ini, maka hati akan mengikuti akal budi menuju nilai spiritual, dan menjauhi hawa nafsu dan dunia materi. Wujud dari bimbingan Cahaya fitrah itu adalah seorang pesuluk dapat mengaplikasi Asma-ul Husna dalam pergaulannya di masyarakat dengan mempunyai akhlak yang mulia dan terpuji.

Dengan terhujam dan menyatu Asma-ul Husna dalam dirinya, maka seorang pesuluk akan menjelmakannya menjadi kepatutan moral seorang yang saleh dan cerdas. Ia akan mengenali tujuan hidupnya adalah untuk menyempurnakan dirinya. Tanpa moralitas, tak akan ada kesempurnaan. Tanpa disiplin diri tak akan ada moralitas. Dalam kesehariannya seorang pesuluk akan bersifat penyantun, tidak tergesa-gesa menghakimi sesama. Kepatutan moral menyebabkan ia merenungkan apa yang dianggapnya agung mengenai dirinya, dan menjauhi dirinya dari hal yang dapat menuntun dirinya kepada kesombongan, keangkuhan, dan takabur kepada sesama.

Seorang pesuluk akan memperkuat imannya sebagai ahli tauhid yang saleh dan cerdas, dan ia dapat menjadi penutup kesalahan orang lain dan bersyukur kepada Allah atas berkahnya. Ia akan menjalankan sifat kedermawanan terhadap sesama demi Allah semata. Dalam kehidupannya, seorang pesuluk adalah pengemban amanat Allah untuk alam semesta. Ia menjadi kuat dan kukuh dalam mengalahkan musuh dan menjadi teman untuk ‘teman-teman’ (baca:pengikut) Allah. Dalam ibadahnya ia menjadi yang paling awal, dan yang terakhir dalam menegur kesalahan sesamanya dengan terlebih- dahulu menegur kesalahan dirinya.

Pada puncak ruhaninya, seorang pesuluk akan menjelmakan dalam kehidupannya, yakni pengetahuan, perasaan dan perilakunya sebagai Cahaya Allah. Sehingga seorang pesuluk merupakan petunjuk bagi sesama, dan selalu menyibukkan dirinya dengan amal-amal saleh dengan penuh kesabaran. Akhlak mulia dan terpuji itu merupakan buah dari proses riyadhah (penyucian diri) yang dilakukan seorang pesuluk dalam meraih cinta Ilahi.

Buku Renungan Jumat: Meraih Cinta Ilahi yang sedang Anda baca ini memaparkan bahwa dalam meraih cinta Ilahi itu tidaklah mudah. Buku ini banyak menjelaskan mengenai bagaimana kita dapat beriman kepada Allah dan menumbuhkan cinta kepada-Nya sehingga berbuah akhlak yang mulia sebagaimana tercermin dalam Asma-ul Husna-Nya. Berbagai pengertian yang sering terdapat dalam istilah akhlak juga dijelaskan dalam buku ini seperti taubat, itsar, qalb, hawa nafsu, zikir, dan lain-lain dengan penjelasan yang mudah dipahami. Buku ini merupakan buku kedua dari kumpulan tulisan Buletin Jumat yang diterbitkan oleh Islamic Culture Centre melalui divisi penerbitannya Al-Huda. Adapun buku pertamanya adalah Renungan Jumat: Penyuluh Akhlaqul Karimah, yang telah mendapat sambutan baik dari pembaca.

Penerbitan buku ini didukung oleh tim redaksi Buletin Jumat yakni Ahmad Subandi, Arif Mulyadi, Ali Alatas, Andito, dan Irman Abdurrahman. Namun demikian, seluruh tulisan ini merupakan tanggung jawab saya selaku editor dan penanggung jawab Buletin Jumat. Begitu pula dengan Ahmad Rivai yang mengerjakan proses produksinya. Tak lupa saya haturkan terima kasih kepada seluruh staf Al-Huda yang dengan caranya masing-masing telah membantu penerbitan buku ini. Terakhir buku ini saya persembahkan kepada anak saya, Dewi Nadya Maharani, yang menjadi penguat hati saya dalam menjalani kehidupan yang kadang penuh dengan cobaan.

Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dari karya sederhana ini, yang merupakan sumbangan al-Faqir bagi perkembangan dakwah Islam. Semoga pula Allah meridhai apa-apa yang menjadi amal saleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Amien.

Depok, Sya’ban 1424 H/Oktober 2003 M

Rudhy Suharto

BAB II: MERAIH CINTA ILAHI MELALUI ZIKIR

Meraih Cinta Ilahi Melalui Zikir

Suatu saat Muhammad al-Baqir as bersabda, “Tertulis dalam Taurat yang tidak berubah, bahwa Musa as bertanya kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhan! Apakah Engkau dekat denganku, sehingga aku harus berdoa kepada Engkau dengan bisikan, atau Engkau jauh, sehingga aku harus bersuara keras menyeru-Mu?’ Kemudian Allah Swt mewahyukan kepadanya: ‘Wahai. Musa! Aku bersama yang mengingat-Ku.’ Musa berkata, ‘Siapakah mereka yang akan Engkau lindungi pada hari ketika tak kan ada perlindungan kecuali perlindungan-Mu?’ Dia menjawab, ‘Mereka yang mengingat-Ku, dan Aku mencintai mereka; mereka yang saling mencintai demi Aku, dan Aku mencintai mereka. Mereka adalah orang-orang yang Kuingat, kapan pun Aku hendak menimpakan musibah atas penduduk bumi, dan karenanya menghindarkan mereka karena mereka.”

Hadis ini memperlihatkan bahwa Taurat yang sekarang ada di tangan kaum Yahudi itu sudah rusak dan diubah. Dari kandungan Taurat dan Injil yang ada sekarang ini terlihat bahwa kedua kitab ini tidak memenuhi standar pembicaraan yang umumnya diterima orang sekalipun, apalagi kriteria firman Tuhan.

Al-Majlisi berkata, “Tampaknya maksud Nabi Musa as dengan pertanyaan ini adalah mencari-tahu tara cara berdoa, padahal beliau tahu bahwa Allah lebih dekat dengan seseorang daripada urat lehernya, dengan kedekatan yang didasarkan pada pengetahuan, kuasa dan efisiensi kausal. Beliau bermaksud mengatakan, ‘Apakah Engkau suka kalau hamba-Mu berdoa kepada-Mu dengan bisikan, seperti orang yang berbicara dengan orang lain di dekatnya, ataukah aku harus menyeru-Mu seperti orang yang menyeru orang lain yang ada di tempat jauh?’ Dengan kata lain,

‘Bila aku melihat-Mu, aku dapati engkau lebih dekat dibanding apa pun yang dekat, dan bila aku melihat diriku sendiri, aku dapati diriku ada di tempat jauh. Maka aku tidak tahu apakah aku harus mempertimbangkan situasi-Mu dalam doaku atau kondisiku sendiri.’ Mungkin juga pertanyaan ini diajukan atas nama orang lain, seperti pertanyaan yang berkaitan dengan kemungkinan melihat Yang Mahaindah.” (tersebut dalam QS. al-A’râf:143).

Mungkin Musa bermaksud mengungkapkan rasa kebingungannya dan rasa ingin tahunya bagaimana sikap dalam berdoa. Dia bermaksud mengatakan, “Ya Tuhan, Engkau terlalu suci dan di atas segalanya untuk dinisbahi kata dekat dan jauh, sehingga aku akan menyapa-Mu sebagai yang dekat atau yang jauh. Karena itu aku kebingungan dalam masalah ini, sebab aku tidak melihat cara berdoa yang sesuai dengan kedudukan-Mu yang agung. Maka izinkanlah aku berdoa, dan tunjukkanlah caranya. Ajarilah aku cara yang sesusai dengan kedudukan-Mu yang suci.” Datanglah jawaban dari Sumber Agung lagi Mulia, “Aku, sebagai Pemberi rezeki, ada dalam semua tingkat dan eksistensi. Segenap alam merupakan kehadiran-Ku. Namun Aku bersama mereka yang mengingat-Ku dan bersama mereka yang menyeru-Ku.”

Tentu saja, dekat dan jauh tidak dapat dinisbahkan kepada Zat Suci itu. Zat Suci itu memberikan rezeki kepada segala yang maujud dan keberadaan-Nya meliputi segenap wilayah maujud dan seluruh aliran realitas. Namun, yang disebutkan dalam ayat-ayat mulia Kitab Allah yang Suci ini mengenai penisbahan dekat kepada Allah Swt, seperti ayat-ayat,

Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (katakan kepada mereka) Aku dekat untuk menjawab seruan orang yang menyeru-Ku... (QS. al-Baqarah: 186);

atau,

...dan Kami tahu apa yang dibisikkan jiwanya di dalam dirinya, dan kami Kami lebih dekat dengannya daripada urat lehernya (QS. Qâf:16),

dan ayat-ayat lain seperti itu merupakan kiasan. Sebab wujud suci-Nya berada di atas dekat dan jauh, fisik maupun imaterial. Karena kualitas-kualitas ini mengandung keterbatasan (tahdid) dan keserupaan (tasybih), sedangkan Allah Swt berada di luar itu semua dan kehadiran segala wujud di istana suci-Nya merupakan kehadiran relasional, dan bahwa Zat Suci itu meliputi semua partikel alam semesta dan rantai-rantai wujud. Artinya, Dialah yang memberikan rezeki kepada semuanya itu.

Dari hadis di atas, dan beberapa hadis lainnya juga, dapat disimpulkan bahwa zikir diam (dzikr-e khafi) dan di dalam hati lebih disukai. Allah berfirman,

Ingatlah Tuhanmu dalam jiwamu, dengan rendah hati dan takut, bukan dengan suara keras, pada pagi dan petang hari. (QS. al-A’râf:205)

Dalam beberapa keadaan, yang zikir dengan suara keras, seperti zikir di depan orang yang lalai demi mengingatkannya lebih disukai. Dalam al-Kafi disebutkan bahwa siapapun yang berzikir kepada Allah Swt di tengah orang-orang yang lalai, maka dia seperti orang yang berperang melawan kaum muharibun (yaitu orang-orang yang mengangkat senjata melawan Allah dan Islam). Begitu pula, adalah mustahab (dianjurkan) berzikir keras-keras dalam azan, dalam khutbah, dan lain-lain.

Dalam Uddat al-Da’i karya Ibnu Fahd disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Orang yang berzikir kepada Allah di pasar dengan ikhlas, di antara orang-orang yang sibuk dengan urusan-urusan mereka, maka Allah menuliskan baginya seribu kebaikan dan mengampuninya pada hari Kiamat dengan apa pun yang belum pernah terlintas dalam hati.”

Dalam hadis mulia ini disebutkan bahwa berzikir kepada Allah, dan saling cinta dan bersahabat demi Allah, lebih penting daripada karakteristik tertentu. Salah satunya, yang lebih penting daripada yang lainnya, adalah bahwa zikir kepada Allah yang dilakukan oleh sang hamba mengakibatkan Allah ingat kepadanya. Masalah ini juga disebutkan dalam hadis-hadis lain. Zikir ini merupakan lawan dari-orang yang lalai (nisyam), seperti disebutkan oleh Allah Swt dalam hubungannya dengan orang yang melupakannya ayat-ayat Allah. Dia mengatakan, “Ya Tuhanku, kenapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulu dapat melihat?”

Allah menjawab, Demikianlah Ayat Kami datang kepadamu, namun kamu melupakannya; maka hari ini kamu terlupakan. (QS. Thâhâ:126)

Kebutaan di akhirat diakibatkan karena melupakan ayat-ayat Allah dan batin tidak melihat manifestasi-manifestasi keagungan dan keindahan Allah. Namun hal itu tidak terjadi bila kita mengingat ayat-ayat Allah, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya serta mengingat Allah, keindahan-Nya dan kemuliaan-Nya. Bila mengingat ayat-ayat Allah menjadi watak (malakah), maka penglihatan batiniah menjadi sedemikian kuat, sehingga mulailah terlihat keindahan Ilahiah dalam ayat-ayat-Nya. Mengingat Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya mengakibatkan melihat Allah dalam manifestasi-manifestasi Nama-nama dan Sifat-sifat (tajalliyat-e asma’iyyah wa shifatiyyah).

Jelaslah, cinta Allah memiliki berbagai derajat, sebab cinta demi Allah Swt juga memiliki banyak tingkat dalam hal keikhlasan dan kelemahannya. Keikhlasan penuh bahkan bebas dari cacat pluralitas Nama dan Sifat (katsrat-e asma’i wa shifatz) akan melahirkan cinta yang sempurna. Pencinta sejati senantiasa selaras dengan peraturan cinta, dan tidak akan ada penghalang antara pencinta dan Yang Dicintai.

Berdasarkan penjelasan ini, kita dapat mengetahui maksud pertanyaan Musa as di atas. Dia ingin menemukan identitas orang-orang yang akan mencapai persatuan itu, sehingga dia dapat menunaikan tugasnya dalam segala aspeknya. Karenanya dia bertanya: Siapakan mereka yang akan Engkau lindungi pada hari ketika yang ada hanyalah perlindungan-Mu? Siapakah mereka, yang karena Engkau lindungi, terbatas dari segala keterikatan dan merdeka dari segala rintangan, dan bersama dengan Mahaindah-Mu? Datanglah jawaban, “Mereka adalah dua golongan: merekalah Orang-orang yang mengingat-Ku, dan orang-orang yang saling mencintai satu sama lain, yang juga mengingat-Ku, ingat akan manifestasi sempurna keindahan-Ku. Mereka aku lindungi, Aku bersama mereka dan milik mereka.”

Hadis tentang Musa as memperlihatkan bahwa kedua golongan tersebut memiliki satu kualitas mulia yang melahirkan karakter mulia lainnya. Karena Allah mengingat dan mencintai mereka, maka mereka pun mendapatkan perlindungan-Nya pada hari ketika tidak ada perlindungan, dan mereka bersama Allah di tempat yang benar-benar tersendiri. Karakteristik lainnya adalah bahwa Allah Swt menghindarkan makhluk-makhluk-Nya dari siksaan demi kemuliaan mereka. Yaitu, selama mereka berada di tengah-tengah makhluk, Dia tidak menurunkan azab dan malapetaka atas makhluk-makhluk demi mereka.

Manifestasi Zikir kepada Allah Swt

Tadzakkur (ingat) merupakan basil dari tafakkur (merenung). Karena itu kedudukan tafakur dianggap mendahului kedudukan tadzakur. Khwajah ‘Abdullah al-Anshari berkata, “Tadzakur berada di atas tafakur, karena sesungguhnya tafakur adalah mencari (Yang Dicintai), sedangkakan tadzakur adalah mencapai (Yang Dicintai).”

Selama manusia berada dalam pencarian, dia terpisah dari yang dicari. Dengan ditemukannya yang dicari, dia terbebas dari upaya mencari. Kuat dan sempurnanya tadzakur bergantung pada kuat dan sempurnanya tafakur. Tafakur yang menghasilkan tadzakur-sempurna akan Yang Disembah, kebaikan dan keutamaannya tidak dapat dibandingkan dengan amalan-amalan lain. Karena itu, dalam hadis-hadis mulia, satu jam bertafakur dipandang lebih baik daripada ibadah satu tahun, atau bahkan ibadah enam puluh atau tujuh puluh tahun.

Jelaslah bahwa tujuan akhir dan buah ibadah adalah tahu dan ingat akan Allah Swt, dan ini lebih dapat dicapai melalui tafakur yang sempurna. Barangkali, satu jam bertafakur akan membukakan bagi sang pejalan ruhani jalan menuju pengetahuan mistis, dan jalan ini tidak dapat dibuka walau dengan tujuh puluh tahun beribadah. Atau, tafakur akan membuat manusia sedemikian ingat akan Yang ercinta, sedangkan berzuhud selama beberapa tahun belum dapat memberikan hasil seperti itu.

Mengingat akan Yang Tercinta dan menyibukkan hati dengan mengingat Yang Disembah akan memberikan banyak hasil bagi semua golongan manusia. Bagi kaum sempurna, yaitu para wali dan urafa, itu merupakan tujuan puncak harapan-harapan mereka, dan berdasarkan inilah mereka bersama kemegahan Yang Tercinta. Ini memberikan banyak kebaikan kepada mereka. Bagi orang biasa dan kaum mutawassithun, itu adalah semulia-mulianya sarana pembentuk moralitas dan perilaku, dalam kehidupan lahiriah maupun batiniah.

Kalau manusia senantiasa ingat akan Allah Swt dalam keadaan apa pun, dan menyadari dirinya hadir di hadapan Zat Suci, tentu dia menahan diri dari masalah-masalah yang tidak sesuai dengan keridhaan-Nya dan mengendalikan diri agar tidak bersikap durhaka. Semua malapetaka dan penderitaan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan setan terkutuk disebabkan karena lupa akan Allah Swt dan hukuman-Nya. Lupa akan Allah semakin mempergelap hati, dan memberi peluang kepada hawa nafsu dan setan untuk menguasai manusia. Dan ini artinya memperbesar penderitaannya hari demi hari.

Ingat akan Allah membersihkan dan mengkilapkan hati; menjadikan hati sebagai tempat keindahan Yang Tercinta; mensucikan jiwa dan membebaskan diri dari perbudakan. Cinta akan dunia, yang merupakan sumber segala kesalahan dan segala dosa akan tersingkir dari hati, kalau kita mencari keutamaan-keutamaan formal dan spiritual, kalau kita menempuh jalan akhirat, kalau kita sedang menuju Allah. Maka biasakanlah hati ingat akan Yang Tercinta.

Zikir Sempurna

Berzikir kepada Allah Swt merupakan kualitas hati, dan jika hati tenggelam dalam zikir maka akan memperoleh banyak manfaat. Namun sebaiknya zikir dalam hati diikuti dengan zikir lisan. Derajat paling sempurna dan paling baik dari zikir adalah zikir pada semua tingkat keberadaan manusia, yang wilayahnya meliputi alam wujudnya yang lahiriah maupun batiniah, yang nyata dan tersembunyi.

Batiniah hati dan jiwa membentuk ingatan akan Yang Tercinta, dan gerak-gerik hati dan tubuh akan membentuk zikir. Allah Swt menjadi nyata dalam inti wujudnya. Tujuh bidang wujud jasadi, maupun bidang batiniahnya, ditaklukkan oleh zikrullah dan ditundukkan oleh ingat akan Yang Mahaindah. Kalau bentuk batiniah hati berupa realitas zikir, dan alam hati ditaklukkan olehnya, maka kedaulatannya meliputi semua wilayah lainnya. Gerak dan diamnya mata, lidah, tangan dan kaki, serta gerak-gerik anggota-anggota dan fakultas-fakultas lainnya disertai ingat akan Allah Swt, sehingga tidak ada gerakan yang bertentangan dengan tugas-tugas mereka. Kemudian gerak dan diamnya mereka dimulai dan diakhiri dengan zikrullah, Bismillah akan menjadi jalannya dan menjadi tempat berlabuhnya. (QS. Hûd:41).

Pengaruh zikir sampai ke semua bidang, yang terjadi sebagai hasil dari selaras dengan realitas Nama-nama dan Sifat-sifat. Semua bidang itu membentuk Nama-nama Agung Allah (ism Allah al-a’zham), dan menjadi menifestasi (mazhhar)-Nya. Inilah batas puncak kesempurnaan manusia, dan tujuan akhir dari harapan-harapan orang-orang pilihan Allah (ahl Allah).

Meski demikian, kita harus waspada mengingat derajat keutamaan manusia yang belum sempurna dapat mempengaruhi kualitas zikir. Ini karena berbagai bidang eksistensi manusia saling berkaitan, mempengaruhi dan merasuki antara yang batin dan lahir satu sama lain.

Dari sinilah diketahui bahwa zikir lisan, yang merupakan tingkat terendah zikir, juga ada manfaatnya. Karena, pertama-tama, lidah melaksanakan kewajibannya, meskipun gerakannya formal belaka dan tidak ada ruhnya. Kedua, ada kemungkinan lantunan zikir ligan secara terusmenerus, asal sesuai dengan syarat-syaratnya, bisa menjadi sarana untuk terbukanya lidah hati pula.

Syahabadi, seorang arif sempurna, berkata, “Dzakir (orang yang berzikir), selama berzikir, harus seperti orang yang mengajarkan kata-kata kepada seorang anak kecil yang belum bisa berbicara. Dia ulangi kata itu sampai lidah anak kecil itu dapat mengucapkannya. Setelah itu, sang guru mengikuti sang anak, sampai kelelahannya yang disebabkan karena mengulang itu tersingkirkan, seakan-akan dia telah menerima bantuan dorongan dari sang anak. Begitu pula, orang yang berzikir harus mengajarkan zikir kepada hatinya, yang belum dapat mengucapkannya dengan baik. Maksud di balik mengulang-ulang zikir itu adalah agar lidah hati terbuka, dan tandanya adalah bahwa setelah itu lidah mengikuti hati terbuka dan tersingkirkanlah kesulitan dalam melakukan pengulangan. Pertama, lidahlah yang berzikir, dan lalu hati juga berzikir dengan dibantu oleh lidah dan dengan bimbingan lidah. Setelah itu lidah hati jadi tahu cara mengucapkannya dengan benar, lidah mengikutinya dan menjadi dzakir dengan dibantu oleh hati dengan bantuan gaib Allah.”

Ketahuilah bahwa tindakan lahiriah dan tindakan formal tidak memiliki kepastian hidup di dunia gaib atau malakut, kecuali mendapat bantuan dari alam batiniah jiwa dan inti hati, yang memberi tindakan-tindakan itu dalam kehidupan spiritual (hayat-e malakuti). Nafas spiritual itu, yang merupakan bentuk keikhlasan niat, adalah seperti jiwa batiniah, yang setelahnya tubuh juga dibangkitkan kembali di alam malakut dan diizinkan masuk ke hadirat Ilahi. Karena itu, dalam hadis-hadis mulia dikatakan bahwa diterimanya perbuatan-perbuatan (fisik) didasarkan pada ukuran tanggapan dan kesediaan hati untuk menerima.

Meskipun demikian, kita hendaknya tetap melakukan zikir lisan, karena ini membawa manusia untuk mencapai kebenaran. Karena itu, dalam hadis-hadis dan riwayat-riwayat, zikir lisan sangat dipuji. Ada beberapa topik zikir yang banyak dibahas oleh banyak hadis, sebanyak hadis yang membahas topik zikir.

Zikir lisan juga amat dipuji dalam ayat-ayat suci, sekalipun kebanyakannya bertalian dengan zikir batiniah (dzikr-e qalbi), jiwa yang berzikir. Ingat akan Allah (zikir) mendatangkan rahmat, pada tingkat apa pun zikir itu terjadi. Pada tahap ini kami akhiri pembicaraan ini dengan menyebutkan beberapa hadis mulia demi mendapatkan berkahnya.

Diriwayatkan dengan sanad yang sahih dari al-Fudhail ibn Yasar bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq as bersabda, “Tidak ada majelis di mana yang bajik dan pendosa bersama-sama, dan setelah itu bangkit pergi tanpa menyebut Allah Swt, kecuali bahwa itu akan menyebabkan mereka menyesal pada hari kiamat.” Jelaslah bahwa bila manusia mengetahui hasil dari berzikir kepada Allah di hari kiamat, sementara dia sendiri tidak mendapatkan hasil-hasil itu, akan sadarlah bahwa dia telah rugi besar yang tidak bisa ditebus, yaitu tidak memiliki karunia-karunia dan kenikmatan-kenikmatan. Akibatnya dia terbenam dalam penyesalan. Karena itu, selama masih ada kesempatan, manusia hendaknya memanfaatkan majelis-majelisnya, jangan sampai mejelis-mejelis itu tidak ada zikrullahnya.

Imam al-Baqir as bersabda, “Barangsiapa yang ingin mendapatkan rahmat Allah yang penuh, hendaknya mengatakan ketika bangkit berdiri dari majelisnya: ‘Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Mahaperkasa, dari apa yang mereka gambarkan. Dan salam atas para Rasul; dan segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam’(Subhana Rabbika Rabbil-‘Izzati ‘ammâ yashifuun, wa salâmun ‘alal-Mursaliin. Wal-Hamdulillâhi Rabbil-‘Alamîn).”

Dan diriwayatkan dari Imam ash-Shadiq as bahwa Amir al-Mukminin ‘Ali as bersabda, “Barangsiapa yang ingin menerima pahala yang penuh pada hari kiamat, hendaknya membaca ayat-ayat mulia ini setelah shalat.” Juga diriwayatkan dalam sebuah hadis mursal dari Imam ash-Shadiq as bahwa membaca ayat-ayat ini pada akhir suatu majelis merupakan taubat atas dosa-dosa.

Dalam sebuah hadis marfu’, dari Imam as yang bersabda: “Allah Swt berkata kepada ‘Isa as, ‘Wahai ‘Isa, ingatlah Aku dalam dirimu, sehingga Aku akan mengingatmu dalam Diri-ku. Sebutlah Aku dalam majelismu, sehingga Aku akan menyebutmu dalam suatu majelis yang lebih baik daripada majelisnya manusia. Wahai ‘'Isa, lembutkanlah hatimu untuk-Ku dan ingatlah Aku banyak-banyak dalam kesendiriaanmu. Ketahuilah bahwa Aku senang kalau kamu melakukan tabashbush kepada-Ku. Dan hiduplah di situ dan janganlah mati’.” Arti tabashbush adalah anjing yang mengibaskan ekornya, karena takut atau berharap, dan ini menggambarkan intensitas hasrat dan kerendahan hati. Yang dimaksud dengan “hidup” dalam zikir adalah kehadiran dan perhatian hati.

Imam ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya Allah Swt telah berfirman, ‘Orang yang karena mengingat-Ku lalu tidak sampai meminta sesuatu dari-Ku, maka Aku berikan kepadanya sebaik-baik apa yang telah Aku berikan kepada pemohon yang meminta sesuatu dari-Ku’.”

Ahmad ibn Fahd meriwayatkan dalam ‘Uddat al-Da’i dari Rasulullah saw yang bersabda, “Sebaik-baik perbuatanmu di sisi Allah, dan sesuci-suci dan semulia-mulia perbuatanmu, dan sebaik-baik yang disinari matahari, adalah zikir kepada Allah Swt. Sesungguhnya Dia telah memberitahumu, dengan kata-kata, Aku bersama dia yang menginga-Ku.”

Hadis-hadis mengenai keutamaan zikir, caranya, tata caranya, dan syarat-syaratnya, banyak sekali, sehingga tak dapat disebutkan semuanya dalam halaman-halaman ini. Dan segala puji bagi Allah pada awal dan akhirnya, batiniah maupun lahiriah.

Buah Berzikir

Untuk mencapai tingkat keruhanian yang tinggi yang paling penting adalah sikap ikhlas dalam mengabdi kepada-Nya. Betapa kesederhanaan terkadang lebih efektif dibanding dengan ibadah yang berlebihan namun tanpa keikhlasan. Ada sebuah cerita yang saya dapat dari seorang sahabat saya di mailing list. Sahabat saya ini bercerita bahwa ia dulu pemah datang ke seorang ‘pejalan ruhani’ di sebuah kota untuk meminta nasihat. Di antara nasihatnya, dia pernah bercerita tentang seorang ibu tukang sayur yang dia lihat di pasar di sebuah kota.

Suatu hari, si pejalan ruhani ini pernah melihat seorang ibu tukang sayur di pasar. Tapi, dalam pandangannya, si ibu ini begitu ‘bercahaya’. Ini hal yang sangat tidak biasa untuk seseorang yang hidup di pasar, di zaman ini. Lalu ia mendatangi ibu tersebut untuk mengobrol dan bertanya. Ia ingin tahu, apa yang membuat ibu tukang sayur ini, secara spiritual, cukup menonjol dibandingkan manusia lain.

Ia menanyakan apakah ibu tersebut melakukan ibadah, ibadah tertentu, yang berat. Dijawab, tidak. Apakah ia rajin berzikir? Dijawab, tidak. Apakah ia rajin shalat tahajjud dengan banyak rakaat? Dijawab, tidak. Ia bilang, saya hanya seorang tukang sayur, yang pagi-pagi sekali harus berangkat dari rumahnya. Sepulang dari pasar, ia pun harus mempersiapkan dagangannya untuk besok. Setelah malam, biasanya dia kelelahan. Dan harus tidur cepat karena pagi-pagi sekali besok dia harus berangkat. Itulah yang dia lakukan setiap hari. Rasanya ibadah saya biasa-biasa saja, kata ibu itu.

Si pejalan ruhani ini meminta ibu itu mengingat-ingat hal apa yang biasanya dilakukannya. Sebab mungkin saja itu hanya sebuah hal yang, dalam pandangan manusia, tidak begitu berarti. Ibu ini menjawab begini, kurang lebih, Rumah saya kecil, gubuk, di daerah yang agak jauh dari perumahan. Tidak ada kamar mandi. Sumur pun jauh dari rumah, harus melewati kebun. Biasanya kalau malam air di gentong sudah habis. Saya orang yang penakut. Sebenarnya saya ingin shalat malam, tapi takut, karena untuk ke air malam-malam harus melewati kebun. Jadi karena takut, tapi ingin shalat malam, jadi setiap malam saya bangun sebentar. Lalu duduk bersimpuh di tikar tempat dia biasa tidur. Tidak shalat, karena tidak berwudhu. Hanya berdoa saja, karena Allah pasti tahu kalau saya takut ke jamban, harus lewat kebun. Setelah itu, ya tidur lagi. Tidak bisa lama-lama, sebab kalau kelamaan nanti saya kesiangan bangun.

Rupanya inilah yang biasa dilakukan oleh ibu itu, setiap malam, selama bertahun-tahun. Dari cerita itu, si pejalan ruhani ini memberi nasihat kepada saya. Bahwa sebagaimana kita harus mempersembahkan sesuatu yang se’spesial’ mungkin untuk orang yang kita cintai, begitu juga kepada Allah. Kita harus menemukan apa ibadah kita yang spesifik, yang khusus dipersembahkan hanya untuk Allah. Bisa saja itu merupakan hal yang ‘berat’ seperti tahajjud seratus rakaat, misalnya, tapi bisa pula itu hanya hal yang sangat sederhana, benar-benar tergantung kemampuan kita. Intinya, kita harus memiliki ‘sesuatu’ yang khusus hanya kita persembahkan pada Allah.

Kisah ibu tadi menggambarkan bahwa keikhlasan dalam mengabdi kepada-Nya walaupun terlihat dengan cara yang sederhana namun telah memberikan nilai spiritual yang tinggi. Ibu ini selama hidupnya telah menjalani suatu tradisi yang ada dalam tradisi tasawuf, yaitu berzikir dan berdoa kepada Allah dengan waktu yang khusus sehingga menghasilkan kualitas ruhani yang tinggi.

Memang di kalangan kaum sufi, mereka dalam melaksanakan zikir selalu dilakukan dengan begitu asyik dan khusyuknya karena merasakan kenikmatan, kelezatan dan kemanisan. Nah ibu tadi, selama menjalankan doa-doanya telah mengamalkan ajaran sufi ini, walaupun ibu tadi tidak pernah berguru kepada seorang guru sufi (Mursyid). Namun semuanya tidak menjadi hambatan, karena kecintaannya pada Allah mengalahkan segala kenikmatan di waktu malam.

Dalam tradisi tasawuf, jika seseorang melakukan zikir dan berdoa, maka ia akan begitu dekat dengan Tuhannya (qurb), merasa tenang jiwanya, merasakan tidak ada sesuatupun bahkan dirinya kecuali Allah (fana), dan memperoleh ilmu pengetahuan yang hakiki (ma’rifat). Abu Sa’id al-Harraz berkata, “Apabila Allah hendak mengangkat seorang hambanya menjadi Wali dari hamba-hambanya yang lain, ia membuka kepadanya pintu zikir, maka apabila ia merasa lezat berzikir, dibuka kepadanya ‘babul qurb’, kemudian diangkatnya ke Majlisul Uns (tenang bathin), kemudian ditempatkan dia di atas kursi Tauhid, kemudian diangkat daripadanya hijab (penutup) dan lalu dimasukkan dia ke dalam ‘darul fardaniyyah’ dan dibukakanlah kepadanya ‘Hijabul jalali wal’uzmati’. Apabila sampai pada ‘jalali wal’uzmati’, ia merasa tak ada lagi yang lain, hanya Huwa (Dia) Allah, maka takala itu seorang hamba berada dalam masa fana.”

Dalam hal ini, kejauhan dan kedekatan seorang hamba dari Tuhannya bukanlah berarti kejauhan atau kedekatan tempat dan waktu, tetapi sesungguhnya kejauhan atau kedekatan itu semata-mata karena lupa atau ingat hati terhadap Allah. Kejauhan itu lupa hati. Kedekatan itu ingat hati. Kejauhan itu hijab (tertutup). Kedekatan itu kasyaf (terbuka). Hijab itu gelap, Kasyaf itu Nur. Gelap itu jahil, Nur itu Ma’rifat. Rasulullah saw bersabda dalam hadis, “Aku ini sebagaimana yang disangka oleh hambaku, Aku bersama dia apabila ia ingat kepada-Ku, apabila ia mengingat-Ku dalam dirinya, Akupun ingat padanya dalam diri-Ku, dan apabila ia mengingat-Ku dalam ruang yang luas, aku pun ingat padanya dalam ruang yang lebih baik.” (Hadis Qudsi diriwayatkan oleh Bukhari).

Seorang guru sufi pemah berkata, “Hatimu sekarang bersama Tuhanmu dan Tuhanmu bersama engkau, tidak jauh dari engkau, Ia mendekatkan engkau kepada-Nya, dan mengenalkan engkau dengan-Nya.” Orang yang menjalankan thariqat-zikir secara sungguh-sungguh tidak mempuhyai rasa khawatir dalam menjalani hidup, tidak was-was dalam menjalankan sesuatu kebenaran, dan tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Hati mereka tenang, jiwa mereka tenteram. Firman Allah Swt,

...(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan zikrullah. Ingatlah hanya dengan zikrullah hati rnenjadi tenang. (QS. ar-Ra’d:28).

Zikir Menyucikan Hati

Dalam diri manusia yang terdiri dari wujud jasmani dan ruhani terdapat berbagai penyakitnya masing-masing. Penyakit jasmani dapat disembuhkan dengan pengobatan medis, sedangkan penyakit ruhani proses penyembuhannya harus melalui metode khusus atau yang biasanya disebut riyadhah. Riyadhah ini berfungsi menyembuhkan penyakit ruhani seperti sombong, kikir, dengki, pemarah, jauh dari Allah dan lain-lain.

Proses penyembuhan penyakit ruhani ini (riyadhah) meliputi bertaubat, membersihkan tauhid, taqarrub kepada Allah, mengikuti sunah Nabi, memperbanyak ibadah, qiyamul lail, tidak makan/minum yang haram, tidak menghadiri tempat yang menambah nyala api hawa nafsu, tidak melihat pemandangan yang haram, menahan diri dari ajakan syahwat, dan lain-lain. Selain itu proses riyadhah ini adalah dengan metode yang disebut zikrullah, berzikir dengan menyebut nama Allah. Zikir ini berfungsi sebagai metode untuk membersihkan hati sehingga menjadi suci. Dengan zikir inilah manusia dapat meraih Nur yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera tetapi tertangkap oleh hati. Dengan Nur tersebut keluarlah manusia dari gelap gulita ke terang, benderang dengan izin Tuhannya.

Kini, banyak orang di kota-kota besar gandrung untuk menangkap Nur Ilahi ini. Tengok saja berbagai majelis taklim sekarang ini marak dengan orang yang berzikir, padahal mereka adalah orang-orang yang dari sisi materi tidak kekurangan, namun mereka merasakan kekurangan dari sisi ruhaninya. Memang zikir merupakan menjadi metode yang tepat untuk penyembuhan berbagai penyakit ruhani.

Tentu saja, metode zikir ini tidak tanpa alasan. Banyak ayat al-Quran yang menjelaskan tentang masalah ini seperti:

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-nikmat)Ku. (QS. Al-Baqarah:152)

Dan juga ayat,

Wahai orang,orang yang benman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktupagi dan petang”, “Adapun orang laki-laki yang banyak berzikrullah, demikian juga orang-orang wanita, disediakan Allah baginya ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Ahzab:35).

Demikian pula ayat,

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka, menjadi tenteram dengan zikrullah. Ingatlah hanya dengan zikrullah hati menjadi tenang. (QS. ar-Ra’d:28).

Selain ayat-ayat al-Quran, banyak juga hadis Nabi saw yang mengajarkan tentang zikir ini. Nabi Muhammad saw dalam satu hadisnya mengatakan, “Bahwasanya hati itu kotor seperti besi yang berkarat dan pembersihnya adalah zikrullah”, “Bagi setiap sesuatu ada alat pernbersihnya, dan alat pembersih hati adalah “zikrullah”, dan “Jauhkanlah setanmu itu dengan ucapan ‘Lâ Ilâha illallah, Muhammadur Rasulullah’, katena setan itu kesakitan dengan ucapan kalimat tersebut, sebagaimana kesakitan seekor unta disebabkan banyaknya penunggang dan banjirnya muatan di atasnya”, “Zikir kepada Allah Swt , jadi benteng dari godaan setan”, dan “Allah berfirman ‘Lâ Ilâha illallah adalah bentengKu. Barangsiapa rnengucapkannya, rnasuklah ia ke dalarn benteng,Ku. Dan barangsiapa masuk ke dalam benteng-Ku, maka amanlah ia dari azab-Ku. (Hadist Qudsi).”

Pengertian umum zikir adalah mengingat Allah; dengan demikian, setiap ibadah (baik yang fardlu maupun sunnat) seperti shalat, zakat, puasa, haji, membaca al-Quran, dakwah, belajar, berusaha, dan lain-lain yang dilakukan semata atas nama Allah atau dengan mengingat Allah adalah zikir. Akan tetapi di samping melaksanakan hal-hal tersebut, biasanya para pesuluk melaksanakan thariqat-zikir secara khusus yang merupakan cara pembersihan ruh pada sisi Allah (hati).

Adapun tahap-tahap zikir adalah pertama berzikir dengan lidah (zikir zahar, zikir dengan suara keras) , kemudian meningkat secara teratur ke zikir hati (zikir khafi, zikir yang tidak bersuara karena di dalam hati) yang awalnya disengajakan kemudian menjadi kebiasaan, lantas meningkat lagi ke zikir sirri (zikir di dalam hatinya hati). Hamba Allah yang sudah mampu berzikir sirri ini tidak akan pemah terputus zikirnya meskipun ia terlupa berzikir.

Dengan berzikir ini para pesuluk dapat membersihkan cerrnin hatinya dari sifat-sifat yang rendah secara sedikit demi sedikit. Pada saat itu, akan terbangun suatu penyesalan atas dosa-dosa yang dilakukan sehingga ia mencucurkan air mata dan berkehendak memperbaiki tingkah lakunya. Para pesuluk tidak rela untuk berada lagi dalam kelupaan dan kemaksiatan dengan mengikuti hawa nafsunya. Ia bertaubat dan minta ampun dan mengikuti petunjuk Tuhannya. Maka cermin hatinyapun mulai dapat menerima dan memancarkan Nur Ilahi yang kemudian merasuk ke seluruh tubuhnya dan mempengaruhi segala ucapan, tingkah laku, dan perbuatannya dengan segala keutamaan.

Jika kita melaksanakan zikir dengan asyik dan khusyuk maka kita akan merasakan kenikmatan, kelezatan dan kemanisannya. Dengan berzikir, maka jiwa manusia akan begitu dekat dengan Tuhannya (qurb), merasa tenang jiwanya, merasakan tidak ada sesuatupun bahkan dirinya kecuali Allah, dan memperoleh ilmu pengetahuan yang hakiki (ma’rifat). Salah seorang sufi termasyhur, Abu Sa’id al-Harraz berkata, “Apabila Allah hendak mengangkat seorang hambanya menjadi wali dari hamba-hambanya yang lain, ia membuka kepadanya pintu zikir, maka apabila ia merasa lezat berzikir, dibuka kepadanya ‘babul qurb’, kemudian diangkatnya~ ke “majlisul uns” (tenang bathin), kemudian ditempatkan dia di atas kursi Tauhid, kemudian diangkat darinya hijab (penutup) dan lalu dimasukkan dia ke dalam ‘darul fardaniyyah’, dan dibukakanlah kepadanya ‘hijabul jalali wal’uzmati’. Apabila sampai pada ‘jalali wal’uzmati’, ia merasa tak ada lagi yang lain, hanya Huwa (Dia, Allah), maka takala itu seorang hamba berada dalam masa fana.”

Dalam hal ini, kejauhan dan kedekatan seorang hamba dari Tuhannya bukanlah berarti kejauhan atau kedekatan tempat dan waktu, tetapi sesungguhnya kejauhan atau kedekatan itu semata-mata karena lupa atau ingat hati terhadap Allah. Rasulullah saw bersabda, “Firman Allah, Aku ini sebagaimana yang disangka oleh hamba-Ku, Aku bersama dia apabila ia ingat kepada-Ku, apabila ia mengingat-Ku dalam dirinya, Akupun ingat padanya dalam diri-Ku, dan apabila ia mengingat-Ku dalam ruang yang luas, aku pun ingat padanya dalam ruang yang lebih baik.” (Hadis Qudsi, Bukhari).

Dengan demikian, orang yang menjalankan thariqat-zikir secara sungguh-sungguh tidak mempunyai rasa khawatir dalam menjalani hidup, tidak was-was dalam menjalankan sesuatu kebenaran, dan tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Hati mereka tenang, jiwa mereka tenteram. Firman Allah Swt, ...(Yaitu) orang,orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan zikrullah. Ingatlah hanya dengan zikrullah hati menjadi tenang. (QS. Ar-Ra’d:28)