• Mulai
  • Sebelumnya
  • 13 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 465 / Download: 189
Ukuran Ukuran Ukuran
Renungan Jumat; Meraih Cinta Ilahi (3(

Renungan Jumat; Meraih Cinta Ilahi (3(

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

Renungan Jumat; Meraih Cinta Ilahi

Al- Huda

PENGANTAR EDITOR

Kehidupan manusia sejak kecil adalah meniru orang-orang yang di sekitamya. Seorang anak akan menjadikan kedua orang-tuanya sebagai contoh pertama dalam dalam menjalani hidupnya. Apa yang dilakukan dan diajarkan orang-tua bagi seorang anak akan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Apabila orang-tuanya mengajarkan kehidupan dengan akhlak yang buruk, maka kehidupan selanjutnya (walaupun tidak selalu) bagi si anak akan dijalani dengan akhlak yang buruk pula.

Namun, apabila orang-tuanya mengajarkan cinta dan kasih sayang pada anaknya, maka anaknya akan tumbuh pula dengan jiwa kasih sayangnya. Begitu pula dengan ajaran keimanan yang diberikan orang-tuanya, akan menjadikan kehidupan anak itu penuh dengan keimanan pula. Kekuatan iman yang telah tumbuh dalam dirinya selanjutnya akan tumbuh menciptakan dunia cinta. Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Imam Ali, Rasulullah saw menjawab pertanyaan tentang berkasih sayang sesama mereka (orang-orang beriman) (QS. Al-Fath:29) dengan berkata, “Jiwa yang paling disayangi Allah adalah yang kukuh dalam agama, suci dalam iman, dan baik hati terhadap orang-orang beriman.”

Menumbuhkan kekuatan keimanan sehingga berbuah akhlak yang mulia adalah adalah persoalan yang sulit. Salah satu cara untuk mendapatkan kemuliaan akhlak adalah dengan metode mencontoh seperti yang dilakukan oleh anak kecil itu. Cara lainnya adalah dengan memahami konsep tentang akhlak mulia dan menjalaninya. Agama Islam mengajarkan bahwa Nama-nama Allah (Asma-ul Husna) itu merupakan konsep tentang akhlak yang mulia.

Adalah Laleh Bakhtiar, pakar Psikologi Konseling dari Institute for Traditional Psychoethics yang menulis sebuah buku Moral Healing through the Most Beatiful Names, yang isinya menyatakan bahwa kunci penyembuhan jiwa secara moral bagi pesuluk (pejalan ruhani) adalah dengan mengaktulisasikan Asma-ul Husna. Setidaknya ada dua ayat al-Quran yang memerintahkan kita untuk berakhlak dengan Asma-ul Husna ini. Dua ayat al-Quran itu adalah surat al-A’raf ayat 180 dan surat Thâhâ ayat 8, yang berbunyi, Hanya milik Allah Asma-ul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu, dan, Dia mempunyai Asma-ul Husna. Dua ayat itu dengan jelas memerintahkan manusia untuk meneladani Asma-ul Husna agar dapat menyempurnakan jiwanya untuk dapat meraih cinta Ilahi.

Perjalanan meraih cinta Ilahi tidaklah mudah. Berbagai perjuangan batin harus dilaluinya untuk mendapatkannya. Karena dengan ‘jiwa’ ini manusia dapat menjalankan hidupnya sesuai dengan kehendak bebasnya; manusia dapat bertindak adil dan terpuji atau buruk dan merusak. Dalam hal ini, perjuangan manusia untuk memilih tindakan adil dan terpuji sehingga berbuah akhlak mulia merupakan tindakan yang penuh perjuangan dan penderitaan. Memang bukan hal mudah untuk melawan godaan hawa nafsu yang menjauhkannya dari sifat kesempurnaan (baca:yang sesuai dengan Asma-ul Husna).

Untuk meraih sifat kesempurnaan itu, kita terlebih dahulu harus mengenal apa yang disebut dengan ‘jiwa’, sehingga kita dapat mengarahkan jiwa menuju kesempurnaan. Jiwa pada prinsipnya berbeda dengan tubuh dan ia berdiri sendiri. Jiwa itu baru atau tidak bersifat kadim. Untuk mengetahui, mempelajari, dan memahami jiwa hanya dapat dilakukan secara tidak langsung melalui daya nalar kognitif atau persepsi mental, dengan mengamati kegiatan yang berasal dari jiwa tersebut. Jiwa terjelma dalam keadaan yang terus-menerus berubah, sehingga perlu dipusatkan agar sifatnya dapat disempurnakan.

Pada dasarnya jiwa mempunyai fungsi untuk menangkap hal-hal yang bersifat imaterial dengan esensinya sendiri dan mengatur serta mengendalikan tubuh fisik dengan menggunakan fakultas dan organ. Jiwa bukanlah tubuh, tidak bersifat fisik, dan tidak dapt ditangkap oleh indra. Jiwa mencakup jiwa nabati (fakultas nutritif, fakultas augmentatif, dan fakultas yang mengalami pertumbuhan san kehancuran), jiwa hewani (fakultas persepsi san motivasi), san jiwa manusiawi, yang mengandung empat aspek utama: ruh (rûh), hati (qalb), akal (‘aql), dan hawa nafsu atau aspek irasional jiwa.

Dalam hati inilah terdapat ruh yang tak memiliki jumlah, kuantitas, atau ukuran. Ruh adalah sumber dari Asma-ul Husna yang akan diberikan kepada hati, agar hati dapat menjalani kehidupan, mendapatkan pengetahuan, dan kemampuan kognitif. Hal ini merupakan berkah bagi hati, karena sebagai pusat kesadaran tentang Allah, hati dapat mengantarkan jiwa menuju kesempurnaan. Hati disebut qalb yang berarti ‘berbolak-balik’. Pada kenyataannya hati memang senantiasa berbolak-balik antara dua dunia —material dan spiritual.

Menjaga hati agar terus dalam kondisi menuju kesempumaan jiwa memang tidak mudah. Menurut Imam Ghazali, sebagaimana dikutip Laleh, ada tiga cara agar manusia dapat memperoleh pengetahuan jiwa. Pertama, pengetahuan tentang makna Asma-ul Husna sebagai ayat-ayat Allah di ufuk dan di dalam jiwa dapat melalui penyaksian dan penyingkapan. Kedua, dengan memuliakan dan menghormati sifat-sifat ini, yang ingin dimiliki pesuluk agar ia bertambah dekat dengan-Nya dalam arti kualitas bukan tempat. Sedangkan yang ketiga adalah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, pesuluk mengosongkan diri dari semua hasrat kecuali untuk Allah.

Dengan mengaktulisasikan Asma-ul Husna ini, maka manusia dapat menyucikan hatinya, sehingga Cahaya fitrah yang terkandung dalam dirinya dapat mewujud. Melalui bimbingan Cahaya fitrah ini, maka hati akan mengikuti akal budi menuju nilai spiritual, dan menjauhi hawa nafsu dan dunia materi. Wujud dari bimbingan Cahaya fitrah itu adalah seorang pesuluk dapat mengaplikasi Asma-ul Husna dalam pergaulannya di masyarakat dengan mempunyai akhlak yang mulia dan terpuji.

Dengan terhujam dan menyatu Asma-ul Husna dalam dirinya, maka seorang pesuluk akan menjelmakannya menjadi kepatutan moral seorang yang saleh dan cerdas. Ia akan mengenali tujuan hidupnya adalah untuk menyempurnakan dirinya. Tanpa moralitas, tak akan ada kesempurnaan. Tanpa disiplin diri tak akan ada moralitas. Dalam kesehariannya seorang pesuluk akan bersifat penyantun, tidak tergesa-gesa menghakimi sesama. Kepatutan moral menyebabkan ia merenungkan apa yang dianggapnya agung mengenai dirinya, dan menjauhi dirinya dari hal yang dapat menuntun dirinya kepada kesombongan, keangkuhan, dan takabur kepada sesama.

Seorang pesuluk akan memperkuat imannya sebagai ahli tauhid yang saleh dan cerdas, dan ia dapat menjadi penutup kesalahan orang lain dan bersyukur kepada Allah atas berkahnya. Ia akan menjalankan sifat kedermawanan terhadap sesama demi Allah semata. Dalam kehidupannya, seorang pesuluk adalah pengemban amanat Allah untuk alam semesta. Ia menjadi kuat dan kukuh dalam mengalahkan musuh dan menjadi teman untuk ‘teman-teman’ (baca:pengikut) Allah. Dalam ibadahnya ia menjadi yang paling awal, dan yang terakhir dalam menegur kesalahan sesamanya dengan terlebih- dahulu menegur kesalahan dirinya.

Pada puncak ruhaninya, seorang pesuluk akan menjelmakan dalam kehidupannya, yakni pengetahuan, perasaan dan perilakunya sebagai Cahaya Allah. Sehingga seorang pesuluk merupakan petunjuk bagi sesama, dan selalu menyibukkan dirinya dengan amal-amal saleh dengan penuh kesabaran. Akhlak mulia dan terpuji itu merupakan buah dari proses riyadhah (penyucian diri) yang dilakukan seorang pesuluk dalam meraih cinta Ilahi.

Buku Renungan Jumat: Meraih Cinta Ilahi yang sedang Anda baca ini memaparkan bahwa dalam meraih cinta Ilahi itu tidaklah mudah. Buku ini banyak menjelaskan mengenai bagaimana kita dapat beriman kepada Allah dan menumbuhkan cinta kepada-Nya sehingga berbuah akhlak yang mulia sebagaimana tercermin dalam Asma-ul Husna-Nya. Berbagai pengertian yang sering terdapat dalam istilah akhlak juga dijelaskan dalam buku ini seperti taubat, itsar, qalb, hawa nafsu, zikir, dan lain-lain dengan penjelasan yang mudah dipahami. Buku ini merupakan buku kedua dari kumpulan tulisan Buletin Jumat yang diterbitkan oleh Islamic Culture Centre melalui divisi penerbitannya Al-Huda. Adapun buku pertamanya adalah Renungan Jumat: Penyuluh Akhlaqul Karimah, yang telah mendapat sambutan baik dari pembaca.

Penerbitan buku ini didukung oleh tim redaksi Buletin Jumat yakni Ahmad Subandi, Arif Mulyadi, Ali Alatas, Andito, dan Irman Abdurrahman. Namun demikian, seluruh tulisan ini merupakan tanggung jawab saya selaku editor dan penanggung jawab Buletin Jumat. Begitu pula dengan Ahmad Rivai yang mengerjakan proses produksinya. Tak lupa saya haturkan terima kasih kepada seluruh staf Al-Huda yang dengan caranya masing-masing telah membantu penerbitan buku ini. Terakhir buku ini saya persembahkan kepada anak saya, Dewi Nadya Maharani, yang menjadi penguat hati saya dalam menjalani kehidupan yang kadang penuh dengan cobaan.

Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dari karya sederhana ini, yang merupakan sumbangan al-Faqir bagi perkembangan dakwah Islam. Semoga pula Allah meridhai apa-apa yang menjadi amal saleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Amien.

Depok, Sya’ban 1424 H/Oktober 2003 M

Rudhy Suharto

BAB III: METODE PERBAIKAN AKHLAK

Metode Perbaikan Akhlak

Coba kita perhatikan sekeliling kita, ada manusia yang berperilaku baik dan ada yang berperilaku buruk. Perbedaan tingkah laku manusia ini menurut Islam adalah dalam masalah akhlaknya. Menurut al-Ghazali akhlak adalah gambaran tentang kondisi yang menetap di dalam jiwa. Semua perilaku bersumber darinya dengan penuh kemudahan tanpa memerlukan proses berpikir dan merenung. Jika kondisi yang menjadi sumber berbagai perilaku yang indah dan terpuji bersifat rasional dan syar’i, maka kondisi itu disebut akhlak yang baik. Sebaliknya, jika berbagai perilaku yang bersumber darinya buruk, maka kondisi yang menjadi sumber itu disebut akhlak yang buruk.

Dalam hal ini, akhlak manusia bukanlah sesuatu yang melekat tanpa berubah. Akhlak manusia dapat berganti dari yang buruk ke yang baik atau sebaliknya. Perubahan itu terjadi karena berbagai faktor seperti keluarga, pendidikan dan lingkungan masyarakat. Imam al-Ghazali menolak anggapan yang mengatakan bahwa akhlak tidak dapat berubah. Karena, menurutnya seandainya akhlak tidak mengalami perubahan, maka wasiat, nasihat, dan pendidikan tidak berarti apa-apa.

Rasulullah saw pernah bersabda, “Perbaikilah akhlak kalian.” Ini menandakan bahwa akhlak manusia itu dapat berubah. Bahkan tak hanya manusia, hewan pun dapat berubah akhlaknya. Misalnya kuda dari hewan liar menjadi hewan yang jinak dan patuh. Hal ini jelas menandakan adanya perubahan akhlak (perilaku).

Untuk mengenal akhlak yang baik, maka manusia harus mengenal karakteristik akhlak yang baik. Akhlak yang baik adalah titik tengah antara sesuatu yang terlalu berlebihan (radikal kanan) dan sesuatu yang terlalu kurang (radikal kiri). Misalnya, kedermawanan merupakan akhlak yang terpuji, dan akhlak ini berada di tengah-tengah antara sifat kikir dan sifat mubazir. Allah Swt telah memberikan pujian dengan berfirman,

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. al-Furqân:67)

Demikian dalam ayat,

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelengu pada lehermu, dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. al- Isrâ’:29)

Tentu tujuan dari perubahan akhlak ini bukan dimaksudkan untuk mengekang instink yang ada pada dasar biologis manusia, semisal syahwat dan emosi. Tetapi tujuan dari pendidikan akhlak adalah mengendalikan dan mendorong ke arah yang normal (titik tengah). Misalnya, jika manusia mempunyai syahwat sex atau makan, maka keduanya bukan dikekang tapi dikendalikan. Sex yang benar haruslah dengan pernikahan, begitu pula dengan makan yaitu dengan normal, tidak rakus dan tidak pula kehilangan selera makan. Allah Swt berfirman,

...Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. (QS. al-Araf:31)

Dengan demikian, diperlukan sebuah usaha untuk mempunyai akhlak yang baik. Bagaimana caranya? Cara pengobatan ini sebenarnya tak ubahnya dengan pengobatan fisik? Menurut al-Ghazali sesungguhnya kesehatan badan ada pada normalitas kondisi, dan sakit badan bersumber dari kecenderungan kondisi badan untuk menjauhi normalitas. Demikian pula pada akhlak merupakan kesehatan jiwa, dan kecenderungan untuk menjauhi normalitas adalah penyakit dan gangguan.

Cara pengobatan badan dilakukan dengan menghilangkan berbagai sebab dan penyakit yang mengganggu normalitas kondisinya; sedangkan cara memperoleh kesehatan badan adalah dengan mengembalikan kondisi yang normal. Demikian pula pengobatan jiwa dilakukan dengan cara menghilangkan berbagai kenistaan dan akhlak buruk darinya, serta memberikan keutamaan dan akhlak yang baik kepadanya.

Al-Ghazali mengemukakan, “Kondisi badan yang umum adalah yang normal. Perut terancam bahaya karena makanan, keinginan dan berbagai situasi. Demikian pula, semua anak kecil dilahirkan dalam keadaan fitri, tetapi kedua orang tuanya yang menjadikannya Nasrani, Yahudi dan Majusi. Atau dengan kata lain, melalui proses pembiasaan dan pendidikan, maka kenistaan-kenistaan diperoleh. Badan pada mulanya tidak diciptakan dalam keadaan sempurna, tetapi ia menjadi sempurna dan kuat melalui proses pertumbuhan dan pemeliharaan dengan makanan.

Demikian pula jiwa yang diciptakan dalam keadaan kurang, akan dapat mengalami kesempurnaan melalui proses pendidikan dan pengajaran akhlak serta santapan ilmu. Jika mengubah kehormatan badan yang sakit hanya dapat diatasi dengan lawannya- misalnya, panas dengan dingin atau sebaliknya, dingin dengan panas- begitu pula akhlak buruk yang merupakan penyakit hati juga dapat diobati dengan lawannya. Oleh karena itu, penyakit kebodohan diobati dengan belajar, penyakit bakhil diobati dengan berusaha dermawan, penyakit sombong diobati dengan sikap rendah hati, dan penyakit rakus diobati dengan mengurangi selera makan.

Al-Ghazali melukiskan metodenya dalam mengobati penyakit hati tersebut adalah dengan perilaku yang berlawanan dari keinginan dan kecenderungan jiwa. Allah Swt telah mengemukakan hal itu di dalam al-Quran dalam satu kalimat yang berbunyi,

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (QS. an-Naziat:40-41)

Oleh karena itu, terapi akhlak atau perilaku yang buruk adalah dengan memaksakan diri melakukan perilaku atau akhlak yang baik dan bertentangan dengan yang hendak diobati, serta terus melakukannya sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan tabiat. Dengan metode ini, akhlak atau perilaku buruk akan hilang dan digantikan dengan akhlak atau perilaku yang baik.

Jika akhlak buruk yang harus diobati bersifat menetap atau kuat di dalam perilaku, maka al-Ghazali menasihati untuk menerapkan metode at-tadrij (bertahap) dalam mengobatinya, yaitu dengan memindahkan si individu dari akhlak yang buruk menuju akhlak lain yang lebih ringan dan terus seperti itu, sehingga akhirnya ia terbebas dari akhlak buruk yang harus diobati. Misalnya, jika seseorang melihat kerakusan menguasai dirinya, maka ia harus berpuasa dan mengurangi makan. Setelah itu, ia harus memaksakan diri menyediakan makanan yang enak dan memberikannya kepada orang lain dan ia sendiri tidak boleh memakannya, sehingga jiwanya kuat menghadapi hal itu. Alhasil, kesabaran menjadi kebiasaan dan kerakusan akan menghilang.

Tahapan-tahapan itu harus dilalui jika kita ingin mengobati penyakit hati yang telah bersarang dalam diri kita. Padahal ada yang lebih penting dari mengobati yakni menjaga jiwa atau hati dalam keadaan seminim mungkin dari perbuatan dosa sejak masih kecil. Karena, menurut al-Ghazali bahwa anak kecil tumbuh dalam keadaan jiwa yang kosong dari semua lukisan dan gambaran. Jiwanya siap menerima semua ‘ukiran’. Jika jiwanya dibiasakan dengan akhlak yang baik, maka jiwanya akan tumbuh berdasarkan kebiasaan yang baik. Soalnya, anak kecil dengan substansinya diciptakan untuk siap menerima semua nilai baik dan nilai buruk, tetapi kedua orang tua yang membuatnya condong ke salah satu dari keduanya. Oleh karena itu, orang tuanya harus menganjurkan anak-anaknya untuk mempelajari akhlak yang buruk, serta memperhatikan aspek pendidikan, pelatihan dan pembiasaan akhlak yang baik.

Mendidik Hati

Manusia masa kini sering mengalami kegamangan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hal ini dapat kita saksikan bahwa manusia masa kini sedang berenang dalam ketidaksadaran, konsumerisme, selingan yang membekukan pikiran, subjektivitas tanpa tujuan, individualisme yang neurotik, dan fragmentasi filsafat. Semua itu telah menjadikan manusia kehilangan orientasi dalam kehidupannya.

Begitu pula kondisi artifisial inasyarakat industri modem dan pasca industri semakin mempercepat waktu, meningkatkan stres, mengisolasi setiap orang, mengurangi interaksi, merusak hati kita, dan memecah-belah setiap aspek eksistensi kita. Kita telah kehilangan makna dan tujuan hidup. Karena keutuhan kita telah hilang, kita membentuk suatu dunia yang tidak menyerupai teman melainkan sebuah tempat di mana manusia diperbudak, di mana keindahan alam dijarah, dimana keadilan dan peperangan yang tidak perlu menghancurkan apa yang hendak dibangun oleh hati manusia.

Peristiwa dan kondisi yang ada dalam masyarakat ini merupakan cermin yang ada dalam diri kita (ego). Keberadaan ego yang penuh hasrat ini merupakan monster yang berkepala banyak, momok yang bisa berubah bentuk.

Semua itu ternyata telah merasuk ke dalam diri kita, sehingga menjadikan diri mempunyai sifat-sifat serakah, egois dan kedustaan dalam menyikapi hidup ini.

Mengapa hal itu dapat terjadi? Ini semua akibat terjadinya fragmentasi diri, yang merupakan akibat langsung dari hilangnya pengetahuan objektif kita tentang diri dan realitas. Dengan demikian, merupakan hal yang penting bagi kita untuk mengetahui hakikat diri kita itu.

Mengetahui hakikat diri, sebenamya tak lepas dari tradisi spiritual yang ada di dunia. Tradisi spiritual inilah yang membentuk pandangan manusia terhadap dirinya. Tradisi ini juga memberikan arah dan tujuan hidup manusia itu. Sekarang ini, manusia seyogyanya meninggakan tradisi spiritual yang memelihara iman dengan membuta dan penuh dengan kepicikan, yang lebih pantas untuk manusia masa lampau.

Selanjutnya, akankah mayoritas manusia dewasa ini bersedia menerima spiritualitas umum, spiritualitas media massa yang diperoleh dari literatur yang terus meningkatkan pertolongan untuk diri sendiri, yang sebagian besarnya mengandung tema-tema ego yang hidup dari dirinya ketimbang dari sumber yang autentik? Atau akankah spiritualitas dibajak oleh mereka yang menawarkan penyederhanaan secara kaku atau indoktrinisasi pada realitas berdimensi tunggal? Kita membutuhkan suatu spiritualitas bemuansa lembut, juga objektivitas. Kita membutuhkan suatu agama yang kandungan seninya sama banyak dengan hukumnya.

Namun begitu, kita sadar bahwa pengetahuan yang objektif yang kita butuhkan tidak bisa dibangun oleh akal manusia saja. Akal dapat menjalankan banyak fungsi yang bermanfaat; ia dapat membagi, mengkritik, dan menolak, tetapi akal bukan sumber pengetahuan tentang tujuan hidup yang berasal dari ilham. Dugaan akal terlampau sering hanya menghantar ke suatu kumpulan opini yang membingungkan. Di sinilah tradisi sufisme mempunyai tempatnya. Tradisi ini memberikan manusia harapan untuk membuka cakrawala baru tentang dirinya.

Sufisme bukan semata-mata hasil dari terkaan manusia. Ia didasarkan pada wahyu Ilahiah, kitab-kitab suci, yang telah diturunkan kepada umat manusia dan memberikan pengetahuan esensial yang kita butuhkan untuk mengembangkan kemanusiaan kita. Allah berfirman,

Sebenarnya al-Quran adalah tanda-tanda yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu; dan tidak ada yang mengingkari tanda-tanda Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS. al-Ankabût:49)

Begitu pula hadis Nabi saw banyak berbicara tentang nilai ruhani. Nabi Muhammad saw berkata, “Carilah ilmu sampai di negeri Cina.” Manusia diminta menjadi pencari ilmu yang aktif, bukan penerima dogma yang pasif. Tetapi pengetahuan yang kita cari tidak boleh cuma bersifat kuantatif, pengetahuan faktual, melainkan kualitatif, pengetahuan spiritual juga. Hati manusia menempati posisi penting dalam anatomi realitas. “Langit dan bumi tidak dapat menampung-Ku.” Begitu Kabir Helminski berucap tentang pentingnya hati.

Kita harus mendidik hati agar mendapatkan pengetahuan kualitatif ini. Hati bukan sekedar suatu metafora samar yang menjelaskan kapasitas untuk merasakan yang tidak dapat didefinisikan. Hati adalah kekuatan kognitif yang objektif di luar otak. Ia adalah alat persepsi yang dapat mengenali dunia sifat-sifat spiritual. Hatilah yang dapat mencintai, memuji, memaafkan, dan merasakan Keagungan Tuhan. Hanya hati manusia yang dapat mengatakan ‘ya’ membuktikan keutuhan, dan mengenal Yang Mutlak. Hati dapat, melalui bimbingan pemahaman batin, memahami hal yang Riil.

Menurut psikologi spiritual tasawuf, hati (qalb) adalah titik tengah antara diri (ego, nafs) dan ruh. Hati tergantung di antara dua kekuatan yang sama kuat dan saling menarik. Jika hati hanya menyerahkan dirinya pada diri, ia tidak menerima apa yang dibutuhkan untuk kehidupan dirinya yang sehat. Ia menjadi tertabiri, mengeras, dan akhirnya sakit. Jika hati membuka diri pada pengaruh ruh, ia memulai energi spiritual dan mengedarkannya ke setiap bagian manusia dan ke dunia luas. Akan tetapi, sayangnya hati benar-benar tidak berdaya di antara dua kekuatan nafs dan ruh.

Dengan retorikanya yang menggugah, Sufi asal Amerika ini bertanya; Kekuatan apa yang meletakkan hati kita yang lembut dalam situasi yang tampaknya kejam ini dan mengapa? Mungkinkah keadaaan ini menyadarkan kita bahwa kita dalam dilema agar bisa belajar berseru dalam kelemahan kita, meminta pertolongan, menyeru dengan jelas kepada yang Mahakuasa?

Ia pun menjelaskan dengan lugas jawaban atas pertanyaannya sendiri. Kebutuhan manusia yang riil dan esensial selama berabad-abad belum berubah benar. Siapa yang tidak sepakat, misalnya, dengan penilaian al-Ghazali delapan abad yang lalu bahwa “kesempurnaan manusia ada di dalam hati, bahwa cinta Tuhan harus menaklukkan hati manusia dan menguasai sepenuhnya, dan meskipun ia tidak menguasai sepenuhnya, ia harus dominan di dalam hati atas kecintaan terhadap segala hal lainnya.”

Yang telah berubah adalah bentuk dan tekanan kekuatan cinta, sehingga dapat memindahkan cinta Tuhan dari hati. Dan yang mungkin berubah lebih lanjut adalah manusia bisa kehilangan semua konsepsi cinta Tuhan sebagai kriteria kesempumaan dan kebaikannya. Dalam al-Quran dikatakan,

Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (QS. Maryam:96)

Sebagai manusia, kita merindukan spiritualitas yang menghangatkan, merindukan, dan menciptakan cinta bukan sebaliknya. Karena spiritualitas semacam itulah yang bisa memberikan manusia kedamaian, kasih sayang sesamanya dan juga mengenal jati dirinya sebagai manusia. Dengan spiritualitas semacam itulah kita dapat membangun dunia yang penuh dengan nilai-nilai harmonisasi.

Kemuliaan Akhlak Muhammad saw

Pribadi Nabi Muhammad saw merupakan wujud kesempurnaan dan kemuliaan dari seluruh manusia. Muhammad saw adalah manusia pilihan Allah Swt untuk diutus sebagai pemberi kabar-Nya kepada manusia. Dia adalah rasul yang terakhir. Muhammad saw adalah makhluk Allah yang memiliki banyak keistimewaan dari segi kecerdikan, serta sifat-sifat keutamaan nabi seperti jujur, siddiq, amanah dan tabligh. Mukjizatnya yang paling luar biasa adalah wahyu Ilahi, al-Quran.

Kemuliaan akhlaknya bukanlah di mulai saat kenabian, tapi merupakan sifat yang inheren dalam dirinya sejak ia dilahirkan. Allah telah menjadikan beliau sempurna keadaan fitrahnya, karena beliau kelak akan diutus untuk membawa agama fitrah, agama yang cocok dengan akal yang merdeka dan pandangan ilmu pengetahuan. Allah menyempurnakan beliau dengan akhlak yang luhur, sebab beliau akan diutus untuk membawa agama yang menyempurnakan dan menjunjung budi pekerti yang mulia.

Sejak kecil beliau sudah mulai membenci penyembahan berhala, khurafat dan takhayul serta pekerjaan-pekerjaan hina lainnya, lalu beliau sangat menyenangi ‘uzlah’ menyepi sendiri, sehingga terhindar dari kebiasaan-kebiasaan buruk bangsanya saat itu (berupa kebiasaan bergelimang dalam kesenangan badani, pelampiasan kejahatan nafsu hewani; seperti pembunuhan: pelanggaran hak-hak orang, pemerasan, perampasan dan keserakahan dengan makan harta orang secara tidak benar), itu semua karena beliau akan diutus Allah untuk memperbaiki jiwa manusia yang sudah rusak, untuk menyucikan perilaku manusia yang sudah bejat, dengan percontohan akhlak yang mulia. Allah menjadikan beliau sebagai manusia teladan tertinggi, karena beliau akan diutus Allah untuk melaksanakan apa yang diwahyukan Allah kepadanya, berupa undang-undang dan hukum yang luhur.

Sepanjang usianya beliau teguh dengan akhlaknya: hidup sederhana, murah tangan dan santun. Hatta sesudah mendapatkan banyak harta rampasan perang (ghanimah) dari kaum musyrikin dan Yahudi, beliau tetap memilih hidup sederhana, meskipun agama tidak melarang makan dan memakai rezeki yang baik-baik. Ini dikarenakan beliau lebih mementingkan kebutuhan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Beliau suka menjahit pakaian sendiri dan menambal terompah sendiri, padahal agama memperbolehkan berhias, malah memerintahkan berpakaian sebaik-baiknya kalau mau pergi ke masjid, mengerjakan shalat. Beliau selalu membantu keluarganya dalam urusan-urusan rumah tangga

Dengan kesempurnaan dan kemuliaannya itu, alangkah rindunya kita untuk mendapatkan kasih dan syafaat Rasulullah saw. Alangkah rindunya kita untuk hidup di bawah tuntunan Rasulullah saw, sebagaimana Allah telah berfirman,

Inilah satu-satunya jalanku yang lurus (yaitu Islam) maka hendaklah kamu mengikutinya. Jangan mengikuti jalan- jalan lain, niscaya kamu akan berpecah daripada jalan Allah. Yang demikian itu telah diwasiatkan oleh Allah kepada kamu supaya kamu bertakwa. (QS. al- An’am:153)

Ketulusan iman dan cinta pada Rasulullah saw harus memenuhi segenap sudut dan ruang hati kita. Sehingga keimanan ini lahir dalam bentuk amalan-amalan yang memperlihatkan kecintaan kita kepada Rasulullah saw dan keyakinan kepada Allah. Allah berfirman,

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul yang benar dari Tuhan kamu, maka hendaklah kamu beriman. Itu adalah lebih baik bagi kamu. (QS. an-Nisa’:170)

Sesudah beriman kepada Nabi saw, kita dituntut pula mentaatinya. Bukan sekedar pengakuan beriman saja, tetapi sebaliknya hendaklah mempraktikkannya dalam semua urusan hidup baik di dalam rumahtangga, mendidik anak-anak, pergaulan dengan masyarakat, di tempat kerja dan di mana-mana saja. Kita dikehendaki taat sepenuhnya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Allah berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul. (QS an-Nisa’:159)

Berdasarkan firman ini, ketaatan kepada Allah Swt dan Nabi saw merupakan kewajiban, bukan sunah. Untuk merasa ridha dengan perintah ini kita perlu melalui proses yang betul untuk melahirkan ketaatan, kepatuhan sepanjang hayat, sehingga kita dipanggil pulang menemui Allah.

Kita hendaknya berusaha meningkatkan kefahaman, kesadaran, keyakinan dan semangat kita dari masa ke masa sehingga dapat taat sepenuhnya di dalam kehidupan untuk mencari keridhaan Allah Swt. Allah berfirman,

Katakan Wahai Muhammad: Jika kamu kasih kepadn Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu. (QS Ali ‘Imran:31)

Untuk mendapat kasih Allah dan Rasul-Nya kita hendaknya mengikuti Rasulullah saw. Hanya dengan patuh kepada Rasulullah barulah kita akan mendapat kasih Allah. Rasulullah saw bersabda, “Semua kamu akan masuk surga, kecuali orang-orang yang membantah. Sahabat,sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah yang membantah?’ Rasulullah bersabda, ‘Siapa yang mentaati aku dia akan masuk surga dan siapa yang membantahi atau mengingkari aku maka sebenamya dia membantah.”

Setiap muslim wajib beradab dengan Rasulullah saw karena itu adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman. Hal itu disebutkan pula oleh Allah di dalam Surat al-Hujurat ayat 1 yang berbunyi, Wahai orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Ini berarti sebelum kita mengerjakan sesuatu, kita perlu merujuk kepada Allah dan Rasulullah (yakni al-Quran dan al-Sunah) terlebih dahulu. Sifat seperti ini sentiasa menjadi tabiat sahabat-sahabat Rasulullah. Pada suatu ketika seorang sahabat lewat di antara dua lembah yang terletak di antara dua bukit. Di situ terdapat kawasan berair yang jemih lagi tawar aimya. Lalu sahabat itu berkata kepada dirinya, “Alangkah baiknya kalau aku dapat tinggal di sini. Tetapi aku tidak boleh berbuat demikian kecuali mendapat keizinan dari Rasulullah terlebih dahulu.”

Setelah mengetahui perkara itu, Rasulullah berkata, “Jangan sekali-kali kamu berbuat demikian. Sekiranya kamu beribadah selama 60 tahun masih belum sama dengan seorang yang keluar berjihad di jalan Allah.” Kita perlu mentaati Rasulullah saw dalam semua hal. Hal ini lebih penting lagi terutama bagi seorang pendakwah karena ia bukan saja perlu menjadi seorang yang saleh, bahkan berbuat baik dan mengajak orang lain menjadi baik.

Dalam surah al-Hujurat ayat 2, Allah berfirman, Janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Rasulullah. Ayat itu diturunkan selepas peristiwa Thabit bin Qais bercakap dengan suara yang tinggi di hadapan Rasulullah. Ketika ayat itu turun, Thabit merasa bersalah yang amat sangat. Dia tidak keluar dari rumahnya karena merasa Allah murka dengannya. Kehilangan Thabit menyebabkan Rasulullah saw bertanya-tanya mengenainya. Ketika seorang sahabat datang ke rumahnya, Thabit berkata, “Sayalah yang mengangkat suara melebihi suara Nabi. Habis musnah segala amalan saya dan saya termasuk dalam golongan ahli neraka.” Ketika kabar itu sampai kepadanya, Rasulullah bersabda, “Tidak, dia adalah ahli surga.”

Bagaimanakah sifat itu dapat tumbuh dalam diri sahabat Rasulullah? Sebenamya mereka telah mengenal Rasulullah saw dan mengetahui riwayat hidupnya sejak kecil hingga dewasa. Kemudian mereka mengikuti proses pendidikan di madrasah Rasulullah saw. Dengan itu Allah menampakkan rasa kasih sedemikian rupa hingga memenuhi setiap sudut dan ruang di dalam hati mereka. Itulah para sahabat Rasulullah saw, lalu bagaimana dengan kita!

Shalawat: Ungkapan Cinta kepada Nabi saw

Dalam al-Quran, Allah Swt mengajarkan kepada kita tentang keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad saw. Ketundukan sempurna dan total dalam cinta kepada Rasulullah saw merupakan syarat mutlak guna meraih keberhasilan dalam perjalanan ruhani. Allah dan para malaikat-Nya terus menerus menyampaikan shalawat kepada Nabi saw sebagaimana termaktub dalam surat al-Ahzab:56. Dalam ayat itu, orang-orang beriman pun diperintahkan untuk menyampaikan shalawat dan salam kepada Nabi saw. Riwayat menyebutkan, pembacaan shalawat Nabi saw mestilah menyertakan keluarganya (âli Muhammad).

Tentunya, ada hikmah dan tujuan tertentu ketika Allah menempatkan keluarga Muhammad (âli Muhammad) bergandengan dengan nama Nabi saw dalam bacaan tasyahud. Sayyid Ali Khameini, misalnya, mengungkapkan, dengan membaca shalawat seorang hamba akan senantiasa sadar bahwa dirinya harus berpedoman kepada mereka serta terus memperbaharui hubungannya dengan mereka (Ahlulbait Nabi saw). Artinya, dalam berislam kita diharuskan mengikuti mereka yang menjadi contoh hidup kesempurnaan manusia.

Ketika menyadari kelemahan diri dan kerendahan wujudnya, maka seorang hamba akan dengan penuh santun menyampaikan salam kepada Rasulullah saw dan Ahlulbaitnya. Dengan begitu, shalawat menjadi penghubung spiritual antara dirinya dan Nabi saw.

Allah Swt sendiri berfirman kepada Nabi saw, “Katakanlah kepada mereka: ‘Jika engkau mengklaim engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku. Maka Allah akan mencintaimu’.” Untuk mendapatkan cinta Allah Swt, kita harus mengambil langkah penting dengan menjelmakan cinta kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya sampai ke suatu derajat di mana cinta menembus setiap atom diri kita dan mewarnai kehidupan, pemikiran, dan aktivitas kita sehari-hari. Nabi saw berkata, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Sabdanya lagi, “Agamamu adalah akhlak.” Separuh agama adalah ibadah. Kita bisa mengibaratkan ibadah sebagai suatu pabon dan akhlak sebagai buahnya. Tak seorangpun bisa menjadi pencinta sejati sampai keinginan dan hasratnya sejalan dengan keinginan Nabi saw. Di sinilah perlunya kita memeriksa diri kita apakah keinginan dan tindakan kita sudah sejalan ataukah tidak dengan ajaran Nabi Muhammad saw.

Tentang ini, ada satu doa menarik dan perlu direnungkan. Dalam doa dikatakan, “Ya Allah, hidupkan kami dengan kehidupan Muhammad dan keluarga Muhammad dan matikan kami dengan kematian Muhammad dan keluarga Muhammad.” Makna doa ini amatlah dalam. Doa ini semacam peneguhan atas shalawat yang dibaca kaum Muslimin berupa janji setia agar kehidupan dan kematian kita berpandukan kepada hidup-matinya Muhammad dan keluarga Muhammad.

Kisah berikut amat menarik untuk direnungkan karena mengungkapkan cinta seorang perempuan tua kepada Nabinya. Ada seorang perempuan tua penjual bunga. Setiap usai berjualan, ia shalat di masjid Agung di kotanya. Selesai zikir dan wirid seperlunya, ia membersihkan dedaunan kering yang berserakan di halaman masjid. Dengan tangannya yang renta, ia melakukan hal itu setiap hari. Perbuatannya itu diketahui oleh pengurus masjid. Karena iba, pengurus masjid membersihkan dedaunan tersebut sebelum si nenek itu datang. Akhimya, si nenek itu bertanya dengan nada protes mengapa itu dilakukan. Pengurus masjid menjawab bahwa mereka merasa iba kepadanya. “Kalau iba,” timpal si nenek, “Beri aku kesempatan untuk membersihkan dedaunan itu dari halaman masjid.”

Permintaan itu pun diluluskan. Akhimya perempuan tua itu menjalani aktivitasnya yang semula: mengumpulkan dedaunan. Seorang Kyai diminta untuk menanyakan kepada si nenek mengapa ia begitu bersemangat mengumpulkan dedaunan. Alasannya, sungguh membuat kita terharu (dan ia meminta agar alasanya tidak disampaikan kecuali setelah ia meninggal)

“Saya ini perempuan bodoh, Pak. Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat di akhirat kelak tanpa syafaat Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah saw. Kelak jika saya mati, saya ingin Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.” Begitulah kecintaan tulus dari perempuan tua tersebut.

Sedangkan menyangkut kesaksian benda-benda mati atas perbuatan manusia, salah seorang maksumin as mengatakan bahwa setiap langkah menjadi saksi atas perbuatan manusia.

Karena itu, hendaknya manusia memperhatikan apa yang dipikirkan dan diperbuatnya.

Kita harus bertanya kepada diri kita sebagai Muslim: “Apakah kita benar-benar mencintai Nabi Muhammad saw lebih daripada anak-anak kita, bisnis kita, dan keluarga kita? Inilah sesuatu yang diminta dari kita jika kita benar-benar ingin sukses dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Untuk hal ini, patutlah kita bercermin pada kehidupan Ali bin Abi Thalib as. Kecintaannya yang sangat kepada Nabi saw menyebabkannya rela untuk menggantikan Nabi saw di tempat tidur. Sampai-sampai al-Quran memujinya juga. Ketika kita sepenuhnya tunduk kepada cinta dan ajaran Muhammad saw, maka kita menjadi seorang pencinta sejati. Ketika cinta ini menginfus wujud kita, menukil dalam-dalam ke atom kita, maka keberhasilan adalah milik kita.

Dalam kajian ilmiah ditunjukkan tiga pengaruh dari keajaiban cinta terhadap perilaku menurut teori psikolog sosial Herbert C. Kelman. Pertama, ketundukan (compliance). Ini pengaruh yang paling dangkal. Orang lain patuh kepada kita karena khawatir kehilangan sesuatu yang menguntungkan atau mengundang sesuatu yang merugikan. Seorang pegawai patuh kepada majikannya karena takut gajinya dipotong. Orang patuh pada aturan lalu lintas karena takut ditilang polisi. Kedua, internalisasi. Ini pengaruh yang lebih dalam. Orang Islam mengikuti Nabi Muhammad saw karena yakin ia benar. Seorang pasien mengikuti karena anjuran dokternya benar. Murid mengikuti gurunya karena sang guru benar. Dengan kata lain, berdasarkan otoritas atau keahlian.

Ketiga, identifikasi. Dalam identifikasi, setiap orang berusaha untuk ‘to be like or actually to be the other person’, ingin seperti atau betul-betul menjadi orang lain itu. Anak kecil yang meniru orang tuanya, siswa yang mencontoh perilaku gurunya, atau fans yang mengambil tingkah laku idolanya merupakan contoh-contoh identifikasi. Karena cintalah proses identifikasi muncul. Inilah yang dimaksudkan dengan ucapan Nabi saw, “Anta ma’a man ahhabta.” Engkau bersama orang yang engkau cintai.

Dalam hal ini, kaum Muslim patut bersyukur lantaran Allah memberi kita rahmat besar berupa kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. Kita harus menyediakan waktu dalam kehidupan kita sehari-hari tidak sekedar mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi saw, namun pada akhimya mencoba mengejawantahkan kehidupan dan etiket risalahnya. Dialah guru akhlak mulia dan contoh al-Quran yang hidup. Sehingga tidak ada keberhasilan dalam hidup ini (untuk di dunia dan akhirat) selain dengan mengikuti Rasulullah saw. La hawla wa la quwwata illa billah. Wallahu a’lam bishawwab.

Meraih Kesucian Hati Dengan Wudhu

Dalam ajaran Islam ada dua sisi dalam melihat perintah Allah, yaitu sisi syariah dan sisi ruhani. Sisi ruhani ini merupakan dimensi spiritual yang akan menyentuh hati, memberi kekuatan ruhani, kebahagiaan dan rasa ketenangan. Sisi ruhani ini ada dalam setiap orang yang mempunyai keinginan menuju Allah melalui hatinya.

Dalam penerapannya, aspek ruhani ini tak lepas dari aspek syariah. Salah satu aspek yang penting dalam pelaksanaan syariah adalah berwudhu. Begitu pentingnya wudhu, sehingga orang yang tidak berwudhu dilarang untuk shalat, thawaf, menyentuh Mushaf (al-Quran). Pada kesempatan ini, kita akan membahas aspek ruhani dari berwudhu yang merupakan bagian dari thaharah. Thaharah menurut bahasa berarti bersih. Menurut ahli fuqaha (ahli fiqih) berarti membersihkan hadas atau menghilangkan najis yaitu najis jasmani seperti darah, air kencing, dan tinja. Hadas secara maknawi berlaku bagi manusia. Mereka yang terkena hadas ini terlarang untuk melakukan shalat, dan untuk menyucikannya mereka wajib wudhu, mandi dan tayamun. Thaharah dari hadas maknawi itu tidak akan sempurna kecuali dengan niat taqarrub dan taat kepada Allah Swt.

Wudhu yang merupakan bagian dari thaharah mempunyai arti penting dalam ibadah. Dalam beberapa riwayat Rasulullah saw bersabda tentang pentingnya berwudhu, “Barangsiapa berwudhu, lalu membaguskan wudhunya, dan kemudian shalat dua rakaat tanpa terbersit suatu urusan keduniaan dalam pikirannya, ia keluar dari dosa-dosanya seperti ketika dilahirkan ibunya.” Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi saw bertanya di tengah para sahabatnya, “Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang karenanya Allah menghapuskan dosa-dosa manusia dan meninggikan derajatnya, yaitu membaguskan wudhu ketika malas mengerjakannya; melangkahkan kaki ke masjid; dan menanti waktu shalat berikutnya setelah menyelesaikan satu shalat.” Nabi saw berwudhu satu kali-satu kali, lalu bersabda, “Inilah wudhu yang menyebabkan Allah menerima shalat.” Beliau berwudhu dua kali-duakali, lalu bersabda, “Barangsiapa berwudhu dua kali-dua kali, Allah memberikan pahalanya dua kali..” Kemudian beliau berwudhu tiga kali-tiga kali, lalu bersabda, “Inilah cara wudhuku, wudhu para nabi sebelumku, dan wudhu kekasih ar-Rahman, Ibrahim as.”

Pada riwayat-riwayat di atas, menunjukkan bahwa wudhu berfungsi sebagai penghapus dosa, meninggikan derajatnya dan meningkatkan pahala. Tapi semua itu akan mempunyai nilai jika sisi ruhani diutamakan. Seperti yang diungkapkan Rasulullah saw, “Barangsiapa yang mengingat Allah ketika berwudhu, Allah akan menyucikan seluruh tubuhnya. Barangsiapa yang tidak mengingat Allah ketika berwudhu, Allah hanya akan menyucikan anggota tubuhnya yang tersiram air wudhu.”

Jadi dalam berwudhu kita tidak hanya membersihkan aspek lahir saja. tapi juga aspek batin. Ini terungkap dalam hadis yang berbunyi seperti ini. Beliau pernah bersabda, “Apabila hamba Muslim berwudhu lalu berkumur, keluarlah dosa-dosa dari mulutnya. Apabila ia menghirupkan air ke hidung dan mengeluarkannya lagi, keluarlah dosa-dosa dari hidungnya. Apabila ia membasuh wajahnya, keluarlah dosa-dosa dari wajahnya hingga yang ada di bawah kelopak matanya. Apabila ia membasuh kedua tangannya, keluarlah dosa-dosa dari kedua tangannya hingga yang ada di bawah kuku jari-jari tangannya. Apabila ia mengusap kepala, keluarlah dosa-dosa dari kepalanya hingga yang ada di bawah telinganya. Apabila ia membasuh kedua kakinya, keluarlah dosa-dosa dari kedua kakinya hingga yang ada di bawah kuku jari-jari kakinya. Kemudian langkahnya menuju masjid dan shalatnya merupakan ibadah sunah baginya.”

Terhapusnya dosa-dosa ketika berwudhu merupakan simbolisasi dari perbuatan yang kita lakukan melalui raga yang dibasuhi dengan air wudhu. Jadi ketika mulut kita berkumur dengan air wudhu, ini mengisyaratkan apapun yang kita masukan dan keluarkan dari mulut tidak membawa hal-hal yang haram. Karena air wudhu yang mengalir di mulut telah mensucikan mulut itu dari yang haram. Ini berarti memasukkan makanan dan minuman hanya yang halal-halal saja, tidak dari hasil perbuatan haram. Demikian pula jika mengucapkan perkataan tidak akan menyakiti hari orang lain. Setiap ucapannya memberikan kesejukan kepada yang mendengamya. Kata-katanya tidak bermaksiat kepada Allah.

Selanjutnya ketika ia membersihkan hidungnya. maka hidungnya itu tidak mencium bau-bauan haram, seperti minuman keras dan yang merangsang syawat. Ia menjaga kesucian hidungnya dengan hanya mencium yang halal. Dan ia banyak mencium karamah-karamah Allah, yang Allah berikan melalui para nabi dan walinya. Jika ia seorang pemimpin maka ia harus banyak mendengar keluhan rakyatnya, bukan hanya ucapan manis bawahannya. Ia harus banyak mendengar suara orang-orang yang membutuhkan perhatiannya, seperti kaum miskin dan anak-anak terlantar.

Manusia yang berwudhu akan menjaga kesucian mukanya dari polesan-polesan semu. Ia akan ceria dan tersenyum kepada semua manusia. Ia beramal dengan senyumnya. Wajahnya memberikan kedamaian kepada yang melihatnya. Dan matanya terlindung dari melihat hal-hal yang haram. Melihat hanya yang dihalalkan Allah. Cahaya kesucian terpancar dari raut wajah dan sinar matanya. Air wudhu telah membersihkannya dari kotoran jasmani dan ruhani.

Sehingga tangan dan kakinya hanya menyentuh yang dihalalkan dan kakinya melangkah di tempat-tempat yang tersucikan. Tangan yang tersucikan akan selalu ringan memberi daripada menerima. Ia banyak menolong orang-orang yang kesulitan hidup dan membutuhkan pertolongannya. Kakinya ringan melangkah untuk membantu sesama saudaranya. Langkah-langkahnya jauh dari tempat-tempat maksiat. Jika ia seorang pemimpin umat ia akan dengan cepat tangan mengulurkan bantuan kepada rakyatnya. Ia tidak rela melihat rakyatnya ditimpa bencana sedangkan ia asyik di rumah dinasnya. Kaki dan tangannya yang telah suci dengan air wudhu, akan terus bergerak memberikan pertolongan kepada rakyatnya.

Diriwayatkan, Umar ibn Khathab mengutus salah seorang sahabat Rasulullah saw ke Mesir untuk mengambil tirai Kabah. Lalu orang itu singgah di salah satu wilayah Syam tempat adanya pertapaan seorang rahib. Tidak ada rahib lain yang lebih alim darinya. Utusan Umar ini ingin menemuinya dan mengetahui ilmunya. Lalu ia mendatanginya dan membuka pintu rumahnya. Akan tetapi, pintu itu tidak dapat terbuka. Setelah beberapa lama, baru utusan itu dapat menemui rahib, lalu bertanya untuk mendengarkan dan mengagumi ilmunya. Ia pun mengadukan kepadanya tentang dirinya yang tertahan di pintu rumahnya. Rahib itu menjawab, “Ketika kami melihatmu, datang kepada kami, dalam keadaan takut kepada penguasa, kami takut kepadamu. Kami menahanmu di pintu semata-mata karena Allah Swt berfirman kepada Musa as, “Wahai Musa, apabila kamu takut kepada penguasa, berwudhulah, dan perintahkanlah keluargamu berwudhu. Sebab, barangsiapa yang berwudhu, ia berada dalam perlindungan-Ku dari apa yang kamu takutkan. Oleh karena itu kami mengunci pintu itu bagimu hingga engkau berwudhu dan berwudhu pula semua orang yang ada di dalam rumah, serta kami shalat. Karenanya kami merasa tenteram terhadapmu, kemudian membukakan pintu untukmu.” (Imam Ghazali, Menyingkap Hati Menghampiri Ilahi. Pustaka Hidayah)

Dengan dernikian orang yang berwudhu akan mempunyai kesucian lahir dan batin. Sehingga wudhunya rnenjadi perisai bagi dirinya. Ia akan selalu terjaga dari kekotoran ruhani dan jasmani, dan maksud jahat dari orang-orang yang berniat jahat. Seperti wudhunya para wali Allah, yang telah tersucikan hatinya.