• Mulai
  • Sebelumnya
  • 10 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 194 / Download: 64
Ukuran Ukuran Ukuran
Pesan Sang Imam (bagian1)

Pesan Sang Imam (bagian1)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

PESAN SANG IMAM

Penerjemah : Tim AI-Jawad

Penerbit : AI-Jawad Publisher

Tahun Penerbitan : Shafar 1421 H/Mei 2000 M

Khomeini, Ruhullah al-Musawi

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kepada Ilahi Rabbi yang dengan izinnya, saya dapat menyelesaikan penyusunan buku ini. Shalawat serta salam saya haturkan kepada junjunganku Rasulullah Saww beserta Ahlibaitnya yang disucikan, karena dengan bimbingan mereka telah memberikan jalan lurus kepada Sumber Pencipta.

Sebelumnya saya meminta maaf, karena buku ini hanyalah merupakan kumpulan khutbah-khutbah maupun tulisan Imam Khomeini yang dipilih dan dipilah dari beberapa buletin Islam, jurnal-jurnal lslam dan referensi-referensi lain. Dengan demikian, ini bukanlah karya utuh beliau. Akan tetapi, benang merah yang terjalin dalam pikiran-pikiran Sang Matahari Persia ini tetaplah akan memberikan citra beliau sebagai insan yang sempurna. Meskipun sedikit.

Besarnya kecintaan saya -untuk sekadar mewakili para pembela keadilan dan penegak kebenaran- kepada Imam Khomeini atas segala perjuangan dan pengorbanan yang dilakukannya dalam menegakkan Islam di tengah-tengah kezaliman abad ini memotivasi saya memberanikan diri menyusun buku ini. Sekadar mempublikasikan kepada khalayak ramai mengenai perjuangan Imam Khomeini agar kita dapat bercermin dan mengambil hikmah serta mengaplikasikannya dalam kehidupan kita untuk menegakkan Islam selaku umat Rasul dan para Imam suci.

Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada Yayasan AI-Jawad berkenaan dengan penerbitan buku ini; kepada ustadz Husein Alkaff, dan rekan-rekan staff AI-Jawad yang senantiasa membantu baik secara moral maupun spiritual. Khususnya terimakasih saya ucapkan sedalam-dalamnya kepada isteri dan anak saya tercinta Muhammad Mahdi Ruhullah, yang selalu memberikan dorongan untuk segera merampungkan buku ini.

Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada para penerjemah dan beberapa penulis khutbah Imam Khomeini yang saya ambil dari beberapa buku, karena tidak meminta izin atau permohonan sebelumnya untuk memuat khutbah-khutbah Imam. Saya semata-mata ingin menampilkan sosok Imam Khomeini dari berbagai sudut pandang perjuangan dan pengorbanan dengan keterbatasan sumber pustaka yang saya miliki.

Harapan saya yang utama adalah mudah-mudahan buku ini bisa membuka wawasan baru kepada umat Islam, khususnya para pemuda, yang memiliki ghirah tinggi sehingga mampu mengambil hikmah dari sejarah yang baru saja terjadi di abad XX.

Imam Khomeini adalah sosok yang sesuai sekali dengan gambaran Imam ‘Ali as. yaitu sebagai: “Orang yang menarik dan menolak”. Di satu sisi dia disanjung dan dicinta karena dia berada pada satu jalan baik keyakinan maupun prinsip-prinsipnya. Namun di lain pihak juga ditolak oleh kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan pinsip dan keyakinannya. Imam Khomeini sangat mencintai kebenaran dan amat murka terhadap kezaliman. Hal ini dapat kita ketahui dari khutbah-khutbahnya.

Terakhir, saya mohon maaf atas ketidaksempurnaan buku ini dan berharap para pembaca budiman bisa menyempurnakannya dengan buku-buku sejenis. Semoga ikhtiar kecil ini mulia di hadapan Allah dan diridhai Hazhrat Shahibuzzaman afs.

Bandung, Muharram 1420 H/Mei 1999 M

Sandy Alison

SEKAPUR SIRIH

Oleh : Husein Alkaff

Imam Khomeini, Siapa dia?

Sejak runtuhnya khilafah (imperium) Otsmaniyah di Turki, tepatnya setelah perang dunia pertama tahun 1919. Negara Turki secara drastis menjadi negara sekuler pertama di negeri-negeri Islam dibawah pimpinan seorang budak Zionis-Yahudi, Mushthofa Kamal Attaturk. Konsekuensi dari tegaknya pemerintahan sekuler adalah jilbab diharamkan, huruf Arab diganti dengan huruf latin, kumandang adzan yang berpahasa Arab dirubah dengan bahasa Turki dan kebijakan-kebiajakan lainnya uhtuk menghilangkan ciri-ciri Islami dari dataran pantai Meditarian dan pesisir Kaspia. Seorang orientalis kontemporer, John L. Esposito berkata, “Semenjak tahun 1924 sampai kepada wafatnya pada tahun 1938, Mustafa Kemal melaksanakan rangkaian pembaharuan yang bersifat sekuler, yang secara tuntas menciptakan negara bercirikan pemisahan agama dan politik sepanjang kelembagaan. (Islam dan Politik, hal. 133)

Sejak itu, nasib kaum muslimin makin terpuruk. Karena tidak ada imperium Islam yang kuat setelah itu. Wilayah kaum muslimin yang terbentang dari Tanja (Maroko) sampai Jakarta (Indonesia) yang meliputi benua hitam Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah dan beberapa dataran Eropa, seperti Albania, Bosnia, Sayajevo dan Ciprus, sampai Timur Jauh (negara-negara Asia Tenggara) menjadi wilayah kolonial bangsa Eropa. Negara-negara mereka bak kue lezat yang diperebutkan dan dibagi-dibagi oleh bangsa-bangsa Eropa yang telah lama menyimpan rasa dendam dan kebencian terhadap Islam. Saya teringat dengan ucapan guru saya yang sangat saya cintai, almarhum ustadz Husein bin Abubakar Alhabsyi, dihadapan beberapa santrinya, “Lihatlah benua Afrika (sambil menunjukkan benua Afrika dalam peta dunia) yang berwarna warni dan compang-camping. Itu adalah peninggalan kaum kolonialis Eropa”. Maksud beliau, negara-negara di Afrika yang tadinya satu dibawah dominasi Turki kemudian dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa (Inggris, Italia dan Perancis) terpecah menjadi negara-negara yang kecil.

Terdapat usaha-usaha dari kaum muslimin untuk bangkit menghadapi dominasi Eropa. Sayyid Jamaluddin Asad Abadi (atau AI-Afghani) dengan semangat Pan-Islaminya berkeliling ke negeri-negeri Islam dan berupaya menggugah para pemimpin dan ulama Islam untuk bersatu melawan barat dan para pemimpin Islam yang terbaratkan. Kesadaran kebangkitan Islam juga muncul dari tokoh-tokoh lain seperti Abula’la al-Maududi, Hasan al-Banna, Iqbal Lahore dan yang lainnya. Mereka menjadi kekuatan yang cukup ditakuti oleh para lawan. Meski, mereka tidak berhasil menegakkan pemerintahan Islam yang independen. Apalagi gerakan-gerakan yang mereka pimpin itu surut setelah ditinggalkan oleh para pendirinya.

Memang hampir di setiap zaman dan negeri Islam terdapat gerakan-gerakan yang ber-amar makruf - nahi munkar. Namun semua itu tidak banyak merubah penetrasi Barat di negeri mereka. Sebagian darinya terbatas dengan teritorial negeri mereka, yang lain sebatas penyadaran spirit Islami dan yang lain lagi hanya merubah kedewasaan berpikir saja. Dunia Islam secara umum dirundung rasa frustasi. Harapan untuk bangkit menampakkan identitas diri makin jauh dan kabur.

Di tengah kelesuan dan pudarnya harapan, dunia Islam dikejutkan dengan revolusi Islam Iran pada tahun 1979, yang secara radikal dan total merubah tatanan politik Iran, dalam maupun luar negeri Iran. Dominasi Barat (baca: Amerika) yang begitu kuat hilang serta merta tanpa bekas sama sekali. Sistem pemerintahan Pahlevi yang monarkis tumbang. Imam Khomeini ra. dengan revolusi yang spektakuler ingin menyatakan kepada dunia bahwa Iran yang Islami bisa hidup tanpa bersandar pada dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat dan Uni Soviet (laa syarqiyyah laa gharbiyyah). Dia menganggap Amerika Serikat sebagai si Setan Akbar, yang rakus dalam menguasai dunia dengan cara-cara yang licik dari jahat. Yang lebih menarik adalah sistem pemerintahan Iran sangat unik bagi Barat dan kebanyakan politisi dunia. Sistem pemerintahan wilayatul faqih tidak ada dalam kamus politik mereka. Jadi, Imam Khomeini benar-benar merubah sebuah pemerintahan yang tadinya sangat tergantung pada Barat, menjadi sebuah pemerintahan yang secara total lepas dari Barat. Hal itu memberikan wacana baru bagi dunia Islam, dan bahwa di dunia yang mungkin ini tidak ada yang tidak mungkin. Bagi kebanyakan manusia, termasuk di negeri kita juga, bahwa tidak mungkin sebuah bangsa berkembang dan maju tanpa mendekati Barat. Ternyata itu hanya perasaan bangsa yang inferior dan rendah diri. Imam Khomeini ingin menyatakan bahwa kemajuan sebuah negera tergantung kepada Barat itu hanya sekedar mitos yang mengada-ada, dan beliau ingin menghancurkan mitos tersebut. Beliau berkali-kali mengatakan ingin menegakkan Islam Muhammadi yang orisinil. Islam yang belum terkontaminasi dan terkooptasi oleh pemikiran-pemikiran yang membuat Islam kerdil dan tidak relevan dengan dunia modern.

Imam Khomeini ra., sebagai Man of The Year pada tahun 1979, berhasil menumbangkan boneka Amerika, Syah Reza Pahlevi, dan memotong tangan Amerika. Orangpun memujinya dengan menyebutnya sebagai seorang politikus ulung, seorang ulama fakih, seorang filosof dan seorang a’rif (baca: sufi).

Lantas apa yang melatar belakangi keberhasilan Imam Khomeini ra.?

Beliau berhasil menumbangkan rezim yang zalim dan menegakkan pemerintahan Islam bukan karena dia seorang politikus, karena banyak politikus lain yang lebih hebat darinya. Juga bukan karena beliau seorang ulama fakih karena banyak ulama yang barangkali lebih afqah darinya. Juga bukan karena dia seorang filosof dan a’rif, karena banyak filosof dan a’rif tetapi tidak seperti beliau.

Imam Khomeini ra. adalah, seperti yang sering dia katakan olehnya sendiri, hanya seorang santri kecil yang melaksanakan taklif-nya terhadap Allah Swt. B.eliau dalam menjalankan kehidupannya tidak punya cita-cita dan program yang muluk dan shofisticated. Beliau hanya menjalankan perintah Allah Swt. sebaik mungkin dan itu, menurutnya, sebuah keberhasilan. Adapun beliau telah berhasil menegakkan pemerintahan Islam, itu hanya karunia Allah Swt. semata. Beliau tidak pernah mengatakan atau beranggapan, bahwa revolusi Islam berhasil karena usahanya semata. Keberhasilan beliau terletak pada penyerahan dirinya secara total kepada Allah Swt. Sahabat dekatnya dan juga seorang ulama fakih besar, Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir Shadr, yang mati syahid, beberapa bulan setelah revolusi Islam di Iran dibunuh oleh rezim Ba’ath di Iraq, pernah memerintahkan kepada para pengikutnya, “Meleburlah kalian di dalam Khomeini sebagaimana dia telah melebur di dalam Islam”.

Keberhasilan dalam pandangan Islam bukan ditilik dari sejauh mana seseorang telah menarik massa yang banyak, membangun sekolah, menduduki pemerintahan dan meraih materi, walaupun memperoleh semacam itu tidak selalu tercela. Karena andaikan itu yang dijadikan sebagai ukuran, maka perjuangan para nabi dan rasul terdahulu dianggap tidak berhasil. Dan Adolf Hitler, Stalin, Lenin dan yang lain berhasil dalam menegakkan pemerintahan dan menarik massa. Keberhasilan dalam pandangan Islam dilihat dari sisi sejauh mana seseorang mengabdikan dan menyerahkan dirinya kepada Allah Swt. Dan itulah tugas manusia. Imam ‘Ali as. disaat kepala sucinya ditebas secara spontanitas berkata, “Demi Tuhannya Ka’bah, aku sungguh telah beruntung”. Mati syahid di atas kebenaran merupakan keberuntungan dan keberhasilan.

Para nabi, rasul, imam dan orang saleh hanya melihat Allah Swt. sebagai target dan tujuan. Mereka terilhami wahyu Ilabi yang berbunyi “Sesungguhnya kepada Tuhanmu perjalanan berujung”. (QS. an-Najm, 53: 42), dan ayat yang lainnya. Keberhasilan dalam bidang materi tidak begitu berarti bagi mereka, dan kegagalan di dalam bidang yang sama juga tidak membuat mereka kecewa. Karena materi tidak lain dari esensi itu sendiri (al-Mahiyyah) yang, dengan meminjam istilah filsafat Transendental (al-Hikmah Muta’aliyah)-nya Mulla Sadra ra., ada dan tidak ada baginya sama” (Iihat, Bidayah al-Hikmah, Allamah Thaba’thabai ra.). Yang mereka cari adalah haqiqat sebagai haqiqat. Keterkaitan mereka dengan materi hanya karena mereka diciptakan di alam materi an sich. Hubungan mereka dengan alam materi sebatas hubungan bagian wujud mereka yang materil. Sedangkan bagian yang non materi tidak bersentuhan dengan materi. Tentang mereka, Imam ‘Ali as. berkata, “Jasad mereka berada di alam dunia, tetapi ruh mereka bergelantungan di tempat yang sangat tinggi”. (al-Hikamah 143, Syarah Nahj al-Balaqhah).

Perjalanan menuju Allah Swt, sebagaimana Imam Khomeini ra. lakukan, merupakan taklif setiap manusia. Amat sangat indah, filosof Ilahi Muhammad Shadruddin al-Syirazi atau yang lebih dikenal dengan Mulla Sadra dalam karya monumentalnya, al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al Asfaar al Aqliyyah al Arba’ah, menjabarkan perjalananmenuju Allah Swt. dalam empat tahapan. Beliau dalam kata pengantarnya mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya para pesuluk dari kalangan ‘urafa dan auliya’ mempunyai empat perjalanan: pertama, perjalanan dari makhluk menuju al-Haq. Kedua, perjalanan dengan al-Haq di dalam al-Haq. Ketiga, kebalikan dari yang pertama, perjalanan dari al-Haq menuju makhluk dengan al-Haq, dan keempat, kebalikan dari yang kedua, perjalanan dengan al-Haq di tengah makhluk”.

Yang dilakukan Imam Khomeini ra. hanya berjalan dan bergerak menuju Allah Swt.dan yang menjadi fokus perhatian beliau adalah perjalanan akal dan ruh, bukan materi, kekuasaan dan popularitas. Untuk mencari materi, kekuasaan dan popularitas tidak diperlukan menempuh perjalanan spiritual. Beliau tidak ingin materi, karena sampai akhir hayatnya pun beliau tidak meninggalkan kekayaan kecuali beberapa jilid buku, karpet yang kusam dan beberapa helai pakaian. Menjadi wali faqih pun bukan karena ambisi kekuasaan, melainkan karena panggilan tanggung jawab dan tugas di hadapan Allah Swt. Seperti halnya Nabi Yusuf as.:“Jadikanlah aku menguasai kekayaan-kekayaan bumi. Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”. (QS. Yusuf, 12: 55)

Menurut Ayatullah Jawadi Amuli, seperti yang dikutip oleh Sayyid Kamal al-Haydari dalam kuliah filsafat dan kalamnya di Qum, bahwa Imam Khomeini dalam perjalanan spiritualnya telah sampai di tahapan yang ketiga. Penilaian tersebut, tentu, berlaku bagi orang yang sekelas Imam Khomeini atau orang yang punya kompetensi di bidang ‘irfan.

Sekapur sirih ini tidak ingin lebih jauh menjelaskan tentang Imam Khomeini ra., karena beliau adalah cahaya. Cahaya (nur) itu jelas dengan dirinya sendiri tanpa bantuan yang lain. Untuk mengetahui cahaya hanya diperlukan membuka mata. Karya-karya tulisnya, muri,d-muridnya dan revolusi yang beliau pimpin adalah kredit point yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun, beliau besar bukan karena orang-orang yang membesarkannya, dan beliaupun tidak merasa besar dengan itu. Beliau besar dengan Sang Maha Besar. Beliau besar karena pengabdiannya kepada Sumber Kebesaran.

Bandung, 5 Shafar 1421 H/9 Mei 2000 M

Wassalam,

Husein Alkaff

PENGANTAR PENERBIT

Ayatullah Ruhullah al-Musawi al-Khomeini adalah sosok agung yang muncul pada abad XX dalam menegakkan agama Rasulullah Saww dan para Imam Suci -‘alaihimussalam- di tengah penindasan dan tirani yang kejam. Revolusi Islam Iran yang terjadi antara tahun 1978 sampai 1979 telah menumbangkan kekuasaan monarki absolut Dinasti Pahlevi, satu rezim terkuat di Dunia Ketiga yangsemuanya dibantu oleh Amerika Serikat dan Inggris. telah berhasil ditumbangkan oleh gerakan rakyat yang dipimpinnya.

Tidaklah mengherankan kalau hal ini menjadi pembicaraanyang banyakdan menyeluruh di seantero dunia, dan menjadi penelitian penting bagi pakar sosial politik karena sangatlah di luar dugaan, ulama yang sudah tua dan selalu berada di pengasingan dapat menumbangkan rezim yang sangat absolut dan totaliter, kemudian menggantinya dengan Republik Islam. Perbedaan yang sangat bertolak belakang di mana Iran prarevolusi bisa disebut sebagai negara sekuler. maka Iran pascarevolusi bisa disebut sebagai negara teo-demokrasi yang sangat didominasi oleh kaum Mullah (Ulama Syi’ah).

Revolusi Islam merupakan hasil dari proses akumulasi ketidakadilan rakyat Iran terhadap kebijakan-kebijakan Syah di segala bidang baik ekonomi, politik, agama, dan sosial budaya. Semua ketidakpuasan itu telah dialami oleh rakyat Iran selama beratus-ratus tahun. Kunci sukses dari Revolusi Islam Iran adalah : (i) di satu sisi terbentuknya persatuan di antara kelompok-kelompok penentang Syah, baik berpaham nasionalis dan Islamis; (ii) di sisi yang lain muncul Sang Imam yang dapat menyatukan mereka semua menjadi kekuatan besar dan tak dapat dibendung oleh penguasa tiran. Hal ini besar kemungkinan karena tradisi dan ideologi Syi’ah yang sangat kuat berakar di hati rakyat Iran.

Revolusi besar Iran dalam banyak hal memiliki perbedaan-perbedaan dengan beberapa revolusi yang terjadi di dunia. la berbeda dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang sangat menitikberatkan kepada pendidikan individu (perorangan), juga berbeda dengan gerakan Jami’ati Islam Pakistan yang menitikberatkan pada tantangan intelektual. Bahkan Revolusi Iran berbeda jauh dengan Revolusi Prancis serta Revolusi Rusia. Revolusi Islam Iran mempunyai sejumlah keistimewaan di antaranya adalah revolusi yang dilandasi pada dasar keagamaan, keyakinan Islamis serta tujuan-tujuan hidup agamais dan Qurani. Juga tidak terlepas dari partisipasi ulama yang sangat bertanggung jawab di seluruh negara yang bertujuan untuk membentuk suatu bangsa Islami.

Perjuangan Imam Khomeini secara umum bertujuan untuk merombak tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang sudah berubah 180 derajat dari jalan kebenaran. Penggunaan sistem pemerintahan yang dilandasi oleh konsep Wilayat al-Faqih (perwalian fakih) yang dipublikasikan secara umum oleh Imam, merupakan konsep yang dikembangkan dari keyakinannya. Partisipasi dari kalangan ulama untuk menentukan arah politik di Iran berangkat dari keyakinan bahwa Islam tidak memisahkan antara agama dan politik. Kedua-duanya merupakan satu kesatuan, sehingga peran ulama di kalangan masyarakat tidak hanya sebagai pembimbing ruhani, namun juga sebagai tokoh politik yang menentukan arah bangsa.

Banyak tokoh dunia yang angkat topi dengan Imam, baik itu dari golongan Islam sendiri, Sunni maupun Syi’ah, Bahkan juga rasa kagum dan hormat dari orang-orang luar Islam. Tak terkecuali kalangan orientalis pun kagum atas kepribadian beliau. Kepribadian yang dimiliki Imam begitu bersahaja. Kesederhanaannya telah melekat mendarah daging. Namun keteguhan sikap serta ketegarannya dalam menentang kezaliman merupakanteladan yang patut dicontoh bagi semua tokoh Islam yang menginginkan kebebasan bangsanya dari penindasan dan ketidakadilan. Orang mengira dengan menguasai Iran secara keseluruhan Imam Khomeini mendapat keuntungan materi, tetapi semua itu sirna bila kita mengetahui lebih mendalam lagi mengenai sosok beliau. Banyak tokoh tercengang dan seakan tidak percaya ketika melihat kediamannya di Jamaran, Teheran. Rumah sederhana yang luasnya tidak lebih dari 100 m2 dan hanya dilengkapi perabot sederhana untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Itupun bukan rumah pribadi melainkan rumah kontrakan.

Begitu banyak teladan mulia dari kepribadian beliau yang tidak dapat kami gambarkan di sini. Akan tetapi pembaca dapat merenungkan kepribadian beliau dari beberapa khutbahnya di buku ini yang bisa Anda tarik sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam kehidupan. Walaupun sekarang sudah tidak bersama kita lagi, namun perjuangan dan pengorbanan beliau untuk menegakkan Islam, sangatlah inspiratif dalam memperkukuh semangat juang kaum muslimin selama kita tetap berpegang kepada AI-Quran, Rasulullah dan Ahlibaitnya yang suci.

Begitu banyak cerita yang dapat kita ambil hikmahnya dan manfaatnya dari perjalanan orang-orang suci. Khususnya Rasulullah dan para Imam, juga para wali Allah baik perjuangan dan pengorbanannya. Namun tokoh sejarah yang sudah dicatat yang dekat dengan kita adalah sejarah Imam Khomeini yang masih membekas dalam ingatan kita. Artinya perjuangan seorang hamba Allah, pengikut setia Rasulullah dan Imam Suci dapat menghasilkan pribadi yang agung dan perubahan yang begitu memukau umat manusia. Apalagi sesuatu yang dihasilkan oleh guru sekaligus pembimbing utamanya yaitu RasuJullah dan para Imam Suci, tentulah jauh lebih besar lagi dari apa yang kita lihat pada sosok Imam Khomeini.

Buku ini berisi beberapa khutbah dan wasiat-wasiat Imam Khomeini menjelang wafatnya, yang akan memberikan hikmah kepada kita dalam melaksanakan kebenaran dan menentang kezaliman.

Akhir kata, kami tutup buku ini dengan Bibiografi Imam Khomeini tentang kehidupan dan perjuangannya. Semoga kontribusi kecil ini mampu menggairahkan kembali semangat ber-lslam yang benar di saat bangsa kita dilanda berbagai krisis untuk diteladani perjuangannya dalam menengakkan panji-panji Islam. Amin.

Bandung, Shafar 1421 H/Mei 2000 M

AI-Jawad Publisher

PERAN ULAMA

Tanggung Jawab Utama Para Ulama

Sesungguhnya saudara memikul beban tanggung jawab yang sangat berat dan sulit bila saudara tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab di madrasah atau di pesantren-pesantren Islam. Begitu juga sekiranya saudara hanya mengetahui setengah-setengah tentang masalah fiqh dan ushuludin, maka jika keadaannya demikian, niscaya di masa mendatang saudara akan menjadi anasir-anasir yang melumpuhkan dan membawa kemunduran umat Islam. Barangkali saudara menjadi faktor yang membawa kesesatan kepada mereka. Oleh karenanya, mintalah perlindungan dari Allah terhadap yang demikian itu. Seandainya seorang diantara umat ini telah menyeleweng disebabkan oleh saudara, tindakan dan kaidah yang saudara bawa, maka saudara akan menanggung dosa yang amat besar, jauh sekali taubat saudara diterima oleh Allah.

Sebaliknya, adalah lebih baik bagi saudara hanya seorang manusia yang mendapat petujuk dengan izin Allah karena usaha-usaha saudara sebagaimana terpancarnya seberkas cahaya matahari seperti telah dinyatakan dalam sebuah hadis Rasulullah Saww. Sebagaimana yang dimaklumi bahwa tanggung jawab saudara bukan seperti tanggung jawab manusia biasa atau orang awam. Hal ini disebabkan karena semua urusan yang jaiz (boleh dilakukan) oleh manusia biasa atau orang awam, haram untuk saudara lakukan.

Sesungguhnya manusia tidak suka melihat terlalu banyak urusan yang saudara lakukan, apalagi kalau amalan-amalan tersebut dianggap hina dan tidak diterima oleh syariat Islam. Keadaan semacam itu menyebabkan Allah tidak memberi kelapangan dan kekuatan kepada saudara, sehingga keadaan tersebut menimbulkan anggapan dan gambaran buruk terhadap Islam dan para ulamanya.

Di sini saya kemukakan suatu ibarat dan gagasan yang perlu mendapat perhatian. Bahwa sesungguhnya manusia, apabila melihat jalan dan cara hidup yang menyimpang, yang dilakukan hanya oleh seorang saja dari tingkat golongan orang yang berpendidikan agama, niscaya mereka akan menganggap buruk semua orang dalam golongan itu, mereka tidak membatasi anggapan buruk dan negatif itu hanya kepada pribadi tertentu tetapi lebih jauh lagi mereka menjatuhkan hukuman dan anggapan yang sama kepada semua golongan yang lain.

Sesungguhnya semua umat manusia tidak mempertimbangkan kedudukan saudara ketika mereka melihat suatu tindakan yang patut oleh seorang ulama yang memakai sorban dan dilakukan perbuatan yang sama oleh orang awam atau pegawai pemerintah yang menyeleweng. Mereka akan mengatakan bahwa ulama-ulama itu tidak mempunyai kepribadian yang baik serta menyeleweng, kemudian mereka akan mengatakan si Fulan itu menyeleweng atau tidak baik atau hanya seorang pedagang biasa, mereka hanya mengatakan bahwa pedagang itu tidak baik. Sebaliknya jika seorang ulama yang bersorban, yakni mereka melihat penyelewengan dilakukan oleh seorang ulama, maka mereka akan berkata bahwa semua ulama yang memakai sorban dan berjubah itu jelek dan jahat. Oleh karenanya tanggung jawab para alim ulama dan orang-orang yang mempelajari ilmu Islam itu sungguh berat, dan tanggung jawab mereka itu lebih banyak daripada tanggung jawab semua golongan manusia yang lain.

Sekiranya dirujuk kepada kitab-kitab hadis, hal ini akan memberikan kepada kita fikrah atau pemikiran yang jelas tentang jawaban ini dan juga kepentingan-kepentingannya:

1. Dari Abu Basir, katanya: Aku telah mendengar Abu Abdullah berkata: Adalah Amirul Mukminin as. berkata: “Wahai penuntut (pencari ilmu) sesungguhnya ilmu pengetahuan itu mempunyai keutamaan-keutamaan yang banyak: sehingga kepalanya akan menunjukkan tawadhu, matanya terlepas dari perasaan dengki, ia menjaga percakapannya, hatinya mempunyai niat yang baik, akalnya dapat mengenali perkara dan urusan, tangannya senantiasa bersifat pemurah, kakinya senantiasa menziarahi para alim ulama, dadanya senantiasa berfikir tentang keselamatan, hidupnya wara’, keteguhan pribadinya senantiasa memohon kepada Allah, kepemimpinannya baik dan setia, senjatanya adalah kerelaan, atas kakinya senantiasa bergerak, kekuatannya adalah perilaku ulama, hartanya adalah menjauhi dosa, bekalnya adalah perkara yang ma’ruf; air mukanya jernih, pernyataanya adalah petunjuk, persahabatannya adalah kasih sarang.” (al-Kafi jil.4 hIm. 48)

2. Dari Abu Abdullah rh.,beliau berkata:Rasulullah Saww. bersabda: “Para Fuqaha (alim ulama) adalah pewaris para rasul, mereka sekali-kali tidak cenderung pada dunia”. Dikatakan, “wahai Rasulullah Saww, apakah yang dimaksud tidak cenderung kepada dunia?” Sabdanya: “Mengikuti penguasa: apabila mereka berbuat demikian, maka mereka menyimpang dari agamaku”. (al-Kafi, hlm. 46)

3. Dari Abu Abdullah rh. berkata, “Sesungguhnya kami menyukai seseorang yang berakal, faham, mendalami agama, lapang dada, sabar, jujur dan setia. Sesungguhnya Allah mengkhususkan kepada para Nabi as. dengan sifat-sifat akhlak yang mulia, maka barangsiapa yang mempunyai sifat-sifat itu hendaklah ia memuji Allah (bersyukur) atas hal yang demikian. Sebaliknya, sekiranya seseorang tidak memilikinya, maka hendaklah berusaha dan memohon kepada Allah. Apakah sifat-sifat kemuliaan akhlak itu? la adalah wara’, bersifat qana’ah (sabar, bersyukur, lemah lembut, malu, pemurah, berani, bercita-cita tinggi, baik, perkataannya benar, dan menunaikan amanah).” (al-Wasil, hlm. 155)

4. Amirul Mukminin ‘Ali kw. berkata: “Apa yang diperhitungkan oleh Allah atas ulama ialah bahwa mereka tidak bersama tindakan orang-orang yang zalim dan tidak pula ia membawa kesulitan kepada pihak yang dizalimi.”

5. Dari Jamil bin Darraj katanya: “Aku mendengar Abu Abdullah rh., berkata: “Apabila nyawa telah sampai di sini, lalu ia mengisyaratkan ke tenggorokkanya, seorang ulama tidak bisa lagi bertaubat. Kemudian ia membaca ayat yang artinya :Adapun taubat kepada Allah itu hanya bagi orang-orang yang berbuat kejahatan dalam keadaan jahil (tidak tahu).”” (QS. an-Nisaa’, 4: 17)

6. Dari Hafs bin Qiyas dari Abu Abdullah rh. katanya: “Wahai Hafs, Seorang yang jahil diampuni dosanya sehinga ia melakukan tujuh perkara dosa sebelum seorang yang berilmu memperoleh ampunan atas dosanya, walaupun satu dosa.” (al-Wafi, hlm. 52)

7. Rasulullah Saww. bersabda: “Dua golongan dari umatku apabila mereka baik, maka umatmu akan menjadi baik dan apabila mereka itu rusak, maka rusaklah umatku, dikatakan: Siapakah mereka itu? Sabda Rasulullah Saww: Alim Ulama dan para penguasa.”

8. Dari Salim bin Qais al-Hilali, katanya: “Aku telah mendengar Amirul Mukminin ‘Ali kw. menceritakan dari Nabi Saww., bersabda: “Maksudnya Alim ulama itu terbagi dua golongan, yaitu seorang laki-laki yang mempunyai ilmu pengetahuan dan menjadikan ilmunya sebagai mahkota. Satu lagi ialah seorang yang alim tetapi meninggalkan ilmunya, yang ini akan membinasakannya. Dan sesungguhnya ahli mendapat kehinaan dari himbauan-himbauan seorang alim yang meninggalkan ilmunya. Oleh karena itu, dalam ajaran Islam terdapat perbedaan besar antara seorang yang alim dengan seorang jahil berkenaan dengan perkara member manfaat dan membawa kerusakan.

Seorang alim yang menyeleweng mungkin akan menyesatkan umatnya dalam kepemimpinannya. Sementara seorang ulama yang mempunyai jiwa istiqamah serta menghias dirinya dengan akhlak terpuji, yang men-sucikan ruhaninya dan berpegang teguh dengan akhlak Islam, akan berupaya membenahi dan mendidik umatnya dengan kepemimpinannya. Sesungguhnya sepanjang pengamatan saya, di sebagian kota-kota besar yang pernah saya kunjungi, saya dapati bahwa sekiranya terdapat manusia yang berakhlak dan mempunyai kebersihan jiwa niscaya di sana terdapat seorang alim, insan yang bertakwa dan beramal saleh. Keberadaan seorang ulama yang bertakwa di suatu daerah atau wilayah itu, sebenarnya telah mencukupi untuk menyampaikan bimbingan kepada manusia serta mempengaruhi mereka dengan ajaran agama serta nasehat yang berguna.””

9. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Fadhl bin Abu Marrah dari Abu Abdullah rh. berkata: “Bahwa Rasulullah Saww. bersabda: “Orang-oranghawariyyun (pengikut Nabi Isa) berkata kepada Isa bin Maryam as.: Wahai Rasulullah, siapakah yang duduk itu? Kata Nabi Isa dia seorang yang mengerjakan amalan akhirat dan melipatgandakan amalan salehnya.””

10. Dan dari Abu Yakfur, berkata Abu Abdullah rh.: “jadilah kamu penyeru kepada manusia walaupun dengan bahasa yang lain, niscaya kamu akan melihat golongan yang wara’, berjihad, shalat dan baik dan sesungguhnya yang demikian itu suatu seruan dakwah.”

Dan sesungguhnya kita melihat begitu penting adanya seorang ulama berkepribadian yang senatiasa mengingat Allah dan menjadi panutan bagi seluruh umat manusia. Seperti yang kita maklumi sekarang ini bahwa sekiranya wilayah Teheran mempunyai ulama yang wara’ dan bertakwa, akan berbeda dengan apabila wilayah tersebut terdapat ulama yang bersorban tetapi menyeleweng dan rusak. Pada bagian yang pertama itu kita akan melihat manusia yang beriman dan beramal saleh, sedangkan pada bagian yang kedua manusia-manusia yang menyeleweng dan jauh dari ajaran Islam. Ini disebabkan orang-orang ‘alim mereka menjadikan masjid sebagai kedai perdagangan.

Sesungguhnya menjual agama dan ilmu tanpa amal adalah sarana menuju neraka jahanam. Demikian itu adalah amal-amal jahat yang dilakukan oleh ulama jahat di dunia ini, mendorong akibat buruk yang menghinakan di akhirat kelak. Bahkan bukan hanya sekedar itu saja, seorang yang berilmu telah mengakibatkan para pengikutnya di azab neraka bersamanya, tetapi lebih jauh dari itu, seorang ulama yang tidak beramal dengan pengetahuan agamanya dan tidak memiliki akhlak Islam akan berakibat buruk bagi seluruh makhluk di muka bumi ini.

Kesimpulan dari itu, seorang ulama yang berkelakuan buruk serta berfikir tentang tindakan-tindakan yang menyeleweng, akan menjadi bahaya yang sangat hebat. Sementara manusia biasa atau orang awam tidak akan sampai membawa keadaan yang sedemikian rupa, karena mereka tidak menjadi sebab setiap penyimpangan orang lain, sebagaimana yang telah dilakukan oleh seorang ulama yang bersorban dan berjubah. Orang awam tidak berupaya untuk mendakwahkan dirinya sebagai pemimpin,memberi petunjuk, mempunyai martabat kenabian dan ketuhanan.

Seorang ulama yang fasik dan rusak akan bertanggung jawab dalam membawa kerusakan dunia. Oleh karena itu, apabila alim ulamanya rusak, maka akan rusak pula dunia ini seluruhnya.

Penyelewengan Ulama Menyesatkan Umat

Sesungguhnya kebanyakan mereka yang menjadi sebab penyimpangan manusia adalah dari kalangan ‘alim ulama. Sebagian dari mereka pernah mendapat pendidikan di pusat-pusat pengkajian (pesantren-pesantren) Islam. Malah secara luas terdapat pemimpin segolongan manusia yang sesat pernah belajar di pesantren-pesantren Islam, akan tetapi pelajaran yang mereka peroleh tidak mempunyai pengaruh yang kuat atas pendidikan dan tarbiyah ruhaninya. Lebih jauh dari itu mereka tidak pernah menempuh jalan yang benar dan selaras dengan Islam. Akibat dari penyimpangan tersebut, membawa kerusakan. dan bencana buruk yang menimpa kehidupan ini.

Memang benar, sekiranya seseorang tidak membersihkan diri dari perkara-perkara yang hina dan keji, niscaya pelajaran yang diterima itu akan membawa keburukan. Sebab sudah menjadi sifatnya, ilmu pengetahuan yang rendah dan tidak bersih akan menumbuhkan tanaman serta hasil yang tercela pula. Lihat saja ketika ilmu pengetahuan seseorang itu bertambah sementara hatinya hitam dan jelek serta tidak mendapat pendidikan yang sempurna, niscaya kegelapan yang menutup dirinya akan semakin tebal. Seniua ini disebabkan karena ilmu pengetahuan itu akan menjadi hijab atau dinding yang amat gelap (ilmu tersebut menjadi penutup terhadap Kebenaran). Kesimpulannya, kejahatan seorang ulama yang rusak adalah lebih berbahaya dari segala kejahatan.

Pelajaran ilmu Tauhid sekalipun, sekiranya ia mempelajari bukan karena Allah atau bukan untuk menegakan jalan Allah, sudah barang tentu ia hanya akan menjadi dinding dan kegelapan serta kesesatan. Begitu juga kalau seseorang itu menghafal AI-Quran dengan bacaan qiraat empat belas sekalipun, tetapi bukan untuk mencari keridhaan Allah, maka tidak akan memberi sedikit pun manfaat kepada si penghafalnya, melainkan makin menjauhkan diri dari Allah Swt.

Oleh karena itu, apabila saudara menuntut ilmu dengan bersusah payah dan begitu tekun sehingga menjadi seorang ulama dan yang lebih penting adalah saudara mengetahui bahwa ada perbedaan yang besar antara seorang ulama dengan pendidik yang bersih jiwa dan ruhaninya. Ustadz kami rh. pernah berkata: "Mereka berkata: Adalah mudah menjadi seorang ulama, akan tetapi lebih sulit bagi seseorang untuk menjadi seorang insan. Tetapi kenyataan yang sebenarnya adalah sebaliknya, hendaklah kita mengatakan: Adalah sukar menjadi seorang ulama, dan lebih mustahif untuk menjadi seorang insan”.

Berdasarkan ungkapan tersebut jelas menunjukkan betapa usaha-usaha untuk mencapai ketinggian akhlak kemuliaan dan kebijaksanaan manusia itu merupakan beban yang sangat berat, penting dan memerlukan usaha-usaha keras. Janganlah saudara menyangka bahwa dengan menekuni serta mempelajari ilmu-ilmu syariat Islam dan fikih khususnya, yang merupakan semulia-mulia ilmu, itu saja sudah memadai. Dan jangan pula saudara menyangka bahwa am alan tersebut sudah memenuhi segala keperluan. Sekali-sekali tidak memadai selama saudara tidak mempunyai niat yang ikhlas. Jika saudara dalam keadaan demikian, maka ilmu-ilmu itu sedikit pun tidak memberikan manfaat kepada saudara.

Selama pencapaian inilah yang saudara peroleh itu bukan karena Allah -na’udzubillahi- dan semata-mata karena dorongan hawa nafsu, niscaya saudara hanya akan menghasilkan kepentingan duniawi dan kemasyarakatan semata. Dalam keadaan semacam ini segala pencapaian tersebut akan menuju kecelakaan, perlombaan hawa nafsu keserakahan dan bencana yang besar. Segala istilah ilmu pengetahuan dan perbendaharaan yang saudara capai dalam bidang ilmu akan membawa kemelaratan dan bahaya kepada umat Islam di dunia dan akhirat, selagi mempunyai hubungan dengan ketakwaan. Pencapaian yang sedemikian rupa tidak membawa kesan dan faedah.

Demikian juga, ilmu Tauhid sekalipun, apabila tidak disertai dengan kebersihan jiwa, maka akan berakibat buruk bagi yang menuntut ilmu-ilmu tersebut. Coba perhatikan berapa banyak tokoh-tokoh ilmu Tauhid, tetapi merekalah yang menjadi puncak penyebab penyelewengan dan kesesatan sebagian besar manusia. Betapa banyak pula mereka yang mempunyai upaya terhadap ilmu-ilmu dalam bidang ini, yang telah dipelajari oleh sebagian besar pelajar (para penuntut ilmu), tetapi karena mereka tidak membersihkan dan membenahi diri dan ruhaninya, telah menyebabkan mereka menjadi sarana yang membawa kerusakan dan kesesatan dalam masyarakat. Yakni setelah mereka menyertai kegiatan bermasyarakat. Sesungguhnya perbendaharaan ilmu pengetahuan yang kering-kerontang ini bila tersemaikan di alam pikiran tanpa senjata takwa dan pembersihan ruhaninya, maka akan membawa kepada bertambahnya sikap takabur dan kejahatan.

Seorang ulama jahat yang dipengaruhi oleh sifat takabur dan kelalaian tidak akan mampu membenahi dirinya sendiri dan lebih jauh lagi untuk dapat membenahi masyarakatnya. la tak akan memberi sumbangan apa pun kepada masyarakat kecuali membawa bahaya dan kerugian kepada Islam dan kaum muslimin.

Dapat ditegaskan bahwa walaupun mereka menghabiskan waktunya bertahun-tahun dalam bidang ilmu pengetahuan dan menghasilkan tugas-tugas agama, tetapi ia hanya akan menjadi penghalang bagi kemajuan umat Islam.

Sebaliknya, ia menjadi dasar kesesatan mereka. Apa yang dilakukannya walaupun dengan mendirikan madrasah atau pondok-pondok pesantren pengkajian ilmu pengetahuan Islam sekalipun, namun pembahasan dan pengkajian yang berlaku itu tidak sedikitpun memberi kesadaran kepada manusia untuk memahami hakikat ajaran AI-Quran. Bahkan lebih jauh dari itu, keberadaannya hanya akan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mengenal dan memahami Islam dan peranan ulama Islam.

Fuqaha: Benteng Islam

Hauzah-hauzah[1] haruslah menjadi hauzah fuqaha. Hauzah-hauzah fuqaha inilah yang telah menjaga Islam lebih dari seribu tahun. Berjalan sejak zaman dahulu yaitu dari zaman Aimmah al-Huda[2] , hingga zaman kita sekarang. Sebuah perjalanan yang dimiliki oleh ulama kita dan itu adalah penjagaan fuqaha. Janganlah kalian berfikir karena sekarang kita telah ikut campur ke dalam dunia politik, maka dunia ke-fuqaha-an tidak kita perhatikan lagi.

Tidak, Hauzah ke-fuqaha-an dengan fikih mereka haruslah sesuai dengan aturan dan sistemnya yang tradisional. Sama sekali tidak boleh dihapus! Dengan sistem belajar tradisional itu, fikih dan mukadimah fikih telah terjaga dengan kuat. Para imam jama’ah telah menjaga mesjid dan bimbingan mereka haruslah terus terjaga.

Pada waktu yang sama mereka harus memperhatikan keadaan negara mereka sebagaimana para saudagar menjaga pasar mereka, tapi dengan kehati-hatian. Jangan sampai, na’uzubillah, kita membelakangi fundamen yang mana merupakan dasar penjaga Islam sehingga hauzah kurang memperhatikan ke-fuqaha-an. Fuqaha inilah yang menjadi benteng Islam. Hauzah-hauzah harus memperhatikan fikih dan kefakihan lebih besar dari yang lain. Apabila hauzah-hauzah kefakihan, na’uzubillah, hilang atau terhapuskan, maka hubungan kita antara fuqaha dengan masyarakat akan terputus. Hauzah kefakihan inilah yang menjaga hubungan kita.

Apabila ada seseorang datang di hauzah, misalnya dengan memberikan pandangan bahwa fikih tidak perlu dengan panjang dan detail, dan Fulan membawakan sesuatu yang lain. Apa boleh buat, mereka ini salah atau sedang menjalankan misi.

Fikih dengan kekuatannya yang perdana haruslah tetap ada. Hauzah kefakihan juga memiliki ke-fuqaha-an yang harus tetap ada pula. Kita juga harus memiliki suatu masyarakat yang rasional dan berpendidikan di berbagai bidang ilmu, ulama akhlak di hauzah yang mendakwahkan ilmu akhlak kepada masyarakat, ulama dan ahli ilmu serta ahli maknawiyat dan ‘irfan yang mendakwahkan permasalahan dan pekerjaan mereka kepada masyarakat. Tapi kefakihan yang merupakan dasar tetap pada tempatnya dan haruslah begitu.

Masjid-masjid harus dengan kuat dipegang dan terjaga. Jangan berhati lembut terhadap antek-antek luar yang menyebar di antara masyarakat. Ketika kita aktif di dalam bidang politik dan pada kejadian-kejadian yang terjadi, maka kalian haruslah selalu memperhatikan.

Pentingnya Menjaga Islam dengan Menjaga Kefakihan

Jangan kalian berfikir bahwa sekarang kita tidak memerlukan lagi ulama. Sampai akhir nanti kita akan selalu memerlukan ulama dan Islam. Kalau ulama ini tidak ada, maka Islam akan sirna. Merekalah pakar Islam dan penjaga Islam hingga sekarang. Maka mereka harus ada untuk penjagaan Islam. Islam tidak akan terjaga oleh rushanfikr (intelektual). Rushanfakir-lah yang mempermainkan ayat-ayat AI-Quran yang jelas. Islam bersama kalian, bersama dengan tingkatan ini. Sehingga sampai di sini dan kalian harus berusaha dengan keras untuk menjadikan fakih, menjadikan mullah (ruhaniawan). Fakih dalam semua hal. Tidak ada ruginya menjadi seorang fakih. Ikut serta juga dalam urusan muslimin pun sama sekali tidak ada ruginya.

Tapi para pemuda haruslah berusaha untuk belajar. Hauzah-hauzah kefakihan haruslah maksimal dan lebih lagi para marja’ harus lebih banyak lagi memberikan dukungan, juga para pengajar harus lebih besar lagi memberikan dukungannya. Hauzah kefakihan, sebagaimana makna yang ada hingga sekarang haruslah dijaga. Apabila tidak dijaga, esok masyarakat tidak akan menerima kalian lagi. Masyarakat tidak memerlukan mu’aman (orang yang bersorban), masyarakat menginginkan ‘alim (orang yang berilmu), meskipun (mu’aman) merupakan tanda ilmu.

Apabila suatu waktu, na’uzubillah, hauzah ilmiyah terhenti dalam belajar, terhenti dalam memperkuat kefakihan, ketahuilah, ini merupakan pengkhianatan yang besar terhadap Islam. Sekalipun mereka berfikir untuk memperkuat, tapi kita tak harus kuat berusaha belajar kefakihan. Ini adalah fikiran setan, keberhasilan misi seperti Amerika untuk waktu panjang.

Kalian hauzah kefakihan, kalian saudara-saudara Khurasan, saudara-saudara Qum, saudara-saudara Tabriz, berbagai tempat, semua tempat yang ada hauzah ilmiyah, apabila tidak memperkuat fikih yang sekarang ada, fikih tradisional, apabila tidak memberikan fikih kepada masyarakat, ulama tidak memberikannya kepada masyarakat, maka tidak akan lebih setengah abad Islam tidak akan diketahui kecuali namanya.

Fuqaha-lah yang memperkenalkan kita kepada Islam dan bersusah- payah mengajar, menulis fikih Islam, dan mentransferkannya kepada kita. Kita haruslah mempertahankan sisi ini. Ini merupakan taklif IIahi syar’i[3] di mana hauzah harus diperkuat dan tentu saja di antara hauzah ada orang-orang yang berpartisipasi dalam permasalahan kemasyarakatan dan politik. Dan ini pun keharusan. Tapi kalau kita lupa dimana kita tidak harus lagi menangani kefakihan, kelupaan ini akan terjadi sebab, nauzubillah, sirnanya Islam setelah beberapa waktu. Hapuslah pondok dengan kekuatannya. Padahal setiap hari kekuatannya harus lebih lagi. Sekarang mereka berjalan dengan masalah yang lain, sekarang mereka mempermasalahkan sorban kalian, sekarang mereka telah terkubur, sekarang kalian harus menjaga diri.

Islam adalah menjaga kefakihan, Islam semuanya ada di buku-buku itu. Dengan menjaga kefakihan, dengan menjaga kitab-kitab ini, dengan menulis, dengan mendiskusikannya, dengan membangun hauzah, dengan menjaga semua ilmu-ilmu Islam, kitab-kitab yang telah sirna, kitab-kitab yang dibuka dalam pembahasan, maka ia merupakan benteng pertahanan yang kuat untuk menjaga Islam hingga kini. Kita harus menjaganya sebagaimana ia datang dan sampai ke tangan kita, sehingga kita dapat mentransfernya kepada generasi mendatang, Insya Allah. Semua itu kita berikan kepadagenerasi selanjutnya dan seterusnya hingga datangnya shabib-nya: Shahibaz-Zaman.

Daftar Isi :

PESAN SANG IMAM 1

Penerjemah : Tim AI-Jawad 1

Penerbit : AI-Jawad Publisher 1

Tahun Penerbitan : Shafar 1421 H/Mei 2000 M 1

Khomeini, Ruhullah al-Musawi 1

UCAPAN TERIMA KASIH 2

SEKAPUR SIRIH 5

Imam Khomeini, Siapa dia? 5

PENGANTAR PENERBIT 12

PERAN ULAMA 16

Tanggung Jawab Utama Para Ulama 16

Penyelewengan Ulama Menyesatkan Umat 23

Fuqaha: Benteng Islam 27

Pentingnya Menjaga Islam dengan Menjaga Kefakihan 29


[1] Pesantren/pusat kajian-kajian ilmiah

[2] Imam ‘Ali as.

[3] Tugas agama