• Mulai
  • Sebelumnya
  • 22 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 99 / Download: 41
Ukuran Ukuran Ukuran
Pesan sang Imam (bagian 11)

Pesan sang Imam (bagian 11)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

PESAN SANG IMAM

(Bagian 11)

Penerjemah : Tim AI-Jawad

Penerbit : AI-Jawad Publisher

Tahun Penerbitan : Shafar 1421 H/Mei 2000 M

Khomeini, Ruhullah al-Musawi

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kepada Ilahi Rabbi yang dengan izinnya, saya dapat menyelesaikan penyusunan buku ini. Shalawat serta salam saya haturkan kepada junjunganku Rasulullah Saww beserta Ahlibaitnya yang disucikan, karena dengan bimbingan mereka telah memberikan jalan lurus kepada Sumber Pencipta.

Sebelumnya saya meminta maaf, karena buku ini hanyalah merupakan kumpulan khutbah-khutbah maupun tulisan Imam Khomeini yang dipilih dan dipilah dari beberapa buletin Islam, jurnal-jurnal lslam dan referensi-referensi lain. Dengan demikian, ini bukanlah karya utuh beliau. Akan tetapi, benang merah yang terjalin dalam pikiran-pikiran Sang Matahari Persia ini tetaplah akan memberikan citra beliau sebagai insan yang sempurna. Meskipun sedikit.

Besarnya kecintaan saya -untuk sekadar mewakili para pembela keadilan dan penegak kebenaran- kepada Imam Khomeini atas segala perjuangan dan pengorbanan yang dilakukannya dalam menegakkan Islam di tengah-tengah kezaliman abad ini memotivasi saya memberanikan diri menyusun buku ini. Sekadar mempublikasikan kepada khalayak ramai mengenai perjuangan Imam Khomeini agar kita dapat bercermin dan mengambil hikmah serta mengaplikasikannya dalam kehidupan kita untuk menegakkan Islam selaku umat Rasul dan para Imam suci.

Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada Yayasan AI-Jawad berkenaan dengan penerbitan buku ini; kepada ustadz Husein Alkaff, dan rekan-rekan staff AI-Jawad yang senantiasa membantu baik secara moral maupun spiritual. Khususnya terimakasih saya ucapkan sedalam-dalamnya kepada isteri dan anak saya tercinta Muhammad Mahdi Ruhullah, yang selalu memberikan dorongan untuk segera merampungkan buku ini.

Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada para penerjemah dan beberapa penulis khutbah Imam Khomeini yang saya ambil dari beberapa buku, karena tidak meminta izin atau permohonan sebelumnya untuk memuat khutbah-khutbah Imam. Saya semata-mata ingin menampilkan sosok Imam Khomeini dari berbagai sudut pandang perjuangan dan pengorbanan dengan keterbatasan sumber pustaka yang saya miliki.

Harapan saya yang utama adalah mudah-mudahan buku ini bisa membuka wawasan baru kepada umat Islam, khususnya para pemuda, yang memiliki ghirah tinggi sehingga mampu mengambil hikmah dari sejarah yang baru saja terjadi di abad XX.

Imam Khomeini adalah sosok yang sesuai sekali dengan gambaran Imam ‘Ali as. yaitu sebagai: “Orang yang menarik dan menolak”. Di satu sisi dia disanjung dan dicinta karena dia berada pada satu jalan baik keyakinan maupun prinsip-prinsipnya. Namun di lain pihak juga ditolak oleh kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan pinsip dan keyakinannya. Imam Khomeini sangat mencintai kebenaran dan amat murka terhadap kezaliman. Hal ini dapat kita ketahui dari khutbah-khutbahnya.

Terakhir, saya mohon maaf atas ketidaksempurnaan buku ini dan berharap para pembaca budiman bisa menyempurnakannya dengan buku-buku sejenis. Semoga ikhtiar kecil ini mulia di hadapan Allah dan diridhai Hazhrat Shahibuzzaman afs.

Bandung, Muharram 1420 H/Mei 1999 M

Sandy Alison

SEKAPUR SIRIH

Oleh : Husein Alkaff

Imam Khomeini, Siapa dia?

Sejak runtuhnya khilafah (imperium) Otsmaniyah di Turki, tepatnya setelah perang dunia pertama tahun 1919. Negara Turki secara drastis menjadi negara sekuler pertama di negeri-negeri Islam dibawah pimpinan seorang budak Zionis-Yahudi, Mushthofa Kamal Attaturk. Konsekuensi dari tegaknya pemerintahan sekuler adalah jilbab diharamkan, huruf Arab diganti dengan huruf latin, kumandang adzan yang berpahasa Arab dirubah dengan bahasa Turki dan kebijakan-kebiajakan lainnya uhtuk menghilangkan ciri-ciri Islami dari dataran pantai Meditarian dan pesisir Kaspia. Seorang orientalis kontemporer, John L. Esposito berkata, “Semenjak tahun 1924 sampai kepada wafatnya pada tahun 1938, Mustafa Kemal melaksanakan rangkaian pembaharuan yang bersifat sekuler, yang secara tuntas menciptakan negara bercirikan pemisahan agama dan politik sepanjang kelembagaan. (Islam dan Politik, hal. 133)

Sejak itu, nasib kaum muslimin makin terpuruk. Karena tidak ada imperium Islam yang kuat setelah itu. Wilayah kaum muslimin yang terbentang dari Tanja (Maroko) sampai Jakarta (Indonesia) yang meliputi benua hitam Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah dan beberapa dataran Eropa, seperti Albania, Bosnia, Sayajevo dan Ciprus, sampai Timur Jauh (negara-negara Asia Tenggara) menjadi wilayah kolonial bangsa Eropa. Negara-negara mereka bak kue lezat yang diperebutkan dan dibagi-dibagi oleh bangsa-bangsa Eropa yang telah lama menyimpan rasa dendam dan kebencian terhadap Islam. Saya teringat dengan ucapan guru saya yang sangat saya cintai, almarhum ustadz Husein bin Abubakar Alhabsyi, dihadapan beberapa santrinya, “Lihatlah benua Afrika (sambil menunjukkan benua Afrika dalam peta dunia) yang berwarna warni dan compang-camping. Itu adalah peninggalan kaum kolonialis Eropa”. Maksud beliau, negara-negara di Afrika yang tadinya satu dibawah dominasi Turki kemudian dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa (Inggris, Italia dan Perancis) terpecah menjadi negara-negara yang kecil.

Terdapat usaha-usaha dari kaum muslimin untuk bangkit menghadapi dominasi Eropa. Sayyid Jamaluddin Asad Abadi (atau AI-Afghani) dengan semangat Pan-Islaminya berkeliling ke negeri-negeri Islam dan berupaya menggugah para pemimpin dan ulama Islam untuk bersatu melawan barat dan para pemimpin Islam yang terbaratkan. Kesadaran kebangkitan Islam juga muncul dari tokoh-tokoh lain seperti Abula’la al-Maududi, Hasan al-Banna, Iqbal Lahore dan yang lainnya. Mereka menjadi kekuatan yang cukup ditakuti oleh para lawan. Meski, mereka tidak berhasil menegakkan pemerintahan Islam yang independen. Apalagi gerakan-gerakan yang mereka pimpin itu surut setelah ditinggalkan oleh para pendirinya.

Memang hampir di setiap zaman dan negeri Islam terdapat gerakan-gerakan yang ber-amar makruf - nahi munkar. Namun semua itu tidak banyak merubah penetrasi Barat di negeri mereka. Sebagian darinya terbatas dengan teritorial negeri mereka, yang lain sebatas penyadaran spirit Islami dan yang lain lagi hanya merubah kedewasaan berpikir saja. Dunia Islam secara umum dirundung rasa frustasi. Harapan untuk bangkit menampakkan identitas diri makin jauh dan kabur.

Di tengah kelesuan dan pudarnya harapan, dunia Islam dikejutkan dengan revolusi Islam Iran pada tahun 1979, yang secara radikal dan total merubah tatanan politik Iran, dalam maupun luar negeri Iran. Dominasi Barat (baca: Amerika) yang begitu kuat hilang serta merta tanpa bekas sama sekali. Sistem pemerintahan Pahlevi yang monarkis tumbang. Imam Khomeini ra. dengan revolusi yang spektakuler ingin menyatakan kepada dunia bahwa Iran yang Islami bisa hidup tanpa bersandar pada dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat dan Uni Soviet (laa syarqiyyah laa gharbiyyah). Dia menganggap Amerika Serikat sebagai si Setan Akbar, yang rakus dalam menguasai dunia dengan cara-cara yang licik dari jahat. Yang lebih menarik adalah sistem pemerintahan Iran sangat unik bagi Barat dan kebanyakan politisi dunia. Sistem pemerintahan wilayatul faqih tidak ada dalam kamus politik mereka. Jadi, Imam Khomeini benar-benar merubah sebuah pemerintahan yang tadinya sangat tergantung pada Barat, menjadi sebuah pemerintahan yang secara total lepas dari Barat. Hal itu memberikan wacana baru bagi dunia Islam, dan bahwa di dunia yang mungkin ini tidak ada yang tidak mungkin. Bagi kebanyakan manusia, termasuk di negeri kita juga, bahwa tidak mungkin sebuah bangsa berkembang dan maju tanpa mendekati Barat. Ternyata itu hanya perasaan bangsa yang inferior dan rendah diri. Imam Khomeini ingin menyatakan bahwa kemajuan sebuah negera tergantung kepada Barat itu hanya sekedar mitos yang mengada-ada, dan beliau ingin menghancurkan mitos tersebut. Beliau berkali-kali mengatakan ingin menegakkan Islam Muhammadi yang orisinil. Islam yang belum terkontaminasi dan terkooptasi oleh pemikiran-pemikiran yang membuat Islam kerdil dan tidak relevan dengan dunia modern.

Imam Khomeini ra., sebagai Man of The Year pada tahun 1979, berhasil menumbangkan boneka Amerika, Syah Reza Pahlevi, dan memotong tangan Amerika. Orangpun memujinya dengan menyebutnya sebagai seorang politikus ulung, seorang ulama fakih, seorang filosof dan seorang a’rif (baca: sufi).

Lantas apa yang melatar belakangi keberhasilan Imam Khomeini ra.?

Beliau berhasil menumbangkan rezim yang zalim dan menegakkan pemerintahan Islam bukan karena dia seorang politikus, karena banyak politikus lain yang lebih hebat darinya. Juga bukan karena beliau seorang ulama fakih karena banyak ulama yang barangkali lebih afqah darinya. Juga bukan karena dia seorang filosof dan a’rif, karena banyak filosof dan a’rif tetapi tidak seperti beliau.

Imam Khomeini ra. adalah, seperti yang sering dia katakan olehnya sendiri, hanya seorang santri kecil yang melaksanakan taklif-nya terhadap Allah Swt. B.eliau dalam menjalankan kehidupannya tidak punya cita-cita dan program yang muluk dan shofisticated. Beliau hanya menjalankan perintah Allah Swt. sebaik mungkin dan itu, menurutnya, sebuah keberhasilan. Adapun beliau telah berhasil menegakkan pemerintahan Islam, itu hanya karunia Allah Swt. semata. Beliau tidak pernah mengatakan atau beranggapan, bahwa revolusi Islam berhasil karena usahanya semata. Keberhasilan beliau terletak pada penyerahan dirinya secara total kepada Allah Swt. Sahabat dekatnya dan juga seorang ulama fakih besar, Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir Shadr, yang mati syahid, beberapa bulan setelah revolusi Islam di Iran dibunuh oleh rezim Ba’ath di Iraq, pernah memerintahkan kepada para pengikutnya, “Meleburlah kalian di dalam Khomeini sebagaimana dia telah melebur di dalam Islam”.

Keberhasilan dalam pandangan Islam bukan ditilik dari sejauh mana seseorang telah menarik massa yang banyak, membangun sekolah, menduduki pemerintahan dan meraih materi, walaupun memperoleh semacam itu tidak selalu tercela. Karena andaikan itu yang dijadikan sebagai ukuran, maka perjuangan para nabi dan rasul terdahulu dianggap tidak berhasil. Dan Adolf Hitler, Stalin, Lenin dan yang lain berhasil dalam menegakkan pemerintahan dan menarik massa. Keberhasilan dalam pandangan Islam dilihat dari sisi sejauh mana seseorang mengabdikan dan menyerahkan dirinya kepada Allah Swt. Dan itulah tugas manusia. Imam ‘Ali as. disaat kepala sucinya ditebas secara spontanitas berkata, “Demi Tuhannya Ka’bah, aku sungguh telah beruntung”. Mati syahid di atas kebenaran merupakan keberuntungan dan keberhasilan.

Para nabi, rasul, imam dan orang saleh hanya melihat Allah Swt. sebagai target dan tujuan. Mereka terilhami wahyu Ilabi yang berbunyi“Sesungguhnya kepada Tuhanmu perjalanan berujung”. (QS. an-Najm, 53: 42), dan ayat yang lainnya. Keberhasilan dalam bidang materi tidak begitu berarti bagi mereka, dan kegagalan di dalam bidang yang sama juga tidak membuat mereka kecewa. Karena materi tidak lain dari esensi itu sendiri (al-Mahiyyah) yang, dengan meminjam istilah filsafat Transendental (al-Hikmah Muta’aliyah)-nya Mulla Sadra ra., ada dan tidak ada baginya sama” (Iihat, Bidayah al-Hikmah, Allamah Thaba’thabai ra.). Yang mereka cari adalah haqiqat sebagai haqiqat. Keterkaitan mereka dengan materi hanya karena mereka diciptakan di alam materi an sich. Hubungan mereka dengan alam materi sebatas hubungan bagian wujud mereka yang materil. Sedangkan bagian yang non materi tidak bersentuhan dengan materi. Tentang mereka, Imam ‘Ali as. berkata, “Jasad mereka berada di alam dunia, tetapi ruh mereka bergelantungan di tempat yang sangat tinggi”. (al-Hikamah 143, Syarah Nahj al-Balaqhah).

Perjalanan menuju Allah Swt, sebagaimana Imam Khomeini ra. lakukan, merupakan taklif setiap manusia. Amat sangat indah, filosof Ilahi Muhammad Shadruddin al-Syirazi atau yang lebih dikenal dengan Mulla Sadra dalam karya monumentalnya, al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al Asfaar al Aqliyyah al Arba’ah, menjabarkan perjalananmenuju Allah Swt. dalam empat tahapan. Beliau dalam kata pengantarnya mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya para pesuluk dari kalangan ‘urafa dan auliya’ mempunyai empat perjalanan: pertama, perjalanan dari makhluk menuju al-Haq. Kedua, perjalanan dengan al-Haq di dalam al-Haq. Ketiga, kebalikan dari yang pertama, perjalanan dari al-Haq menuju makhluk dengan al-Haq, dan keempat, kebalikan dari yang kedua, perjalanan dengan al-Haq di tengah makhluk”.

Yang dilakukan Imam Khomeini ra. hanya berjalan dan bergerak menuju Allah Swt.dan yang menjadi fokus perhatian beliau adalah perjalanan akal dan ruh, bukan materi, kekuasaan dan popularitas. Untuk mencari materi, kekuasaan dan popularitas tidak diperlukan menempuh perjalanan spiritual. Beliau tidak ingin materi, karena sampai akhir hayatnya pun beliau tidak meninggalkan kekayaan kecuali beberapa jilid buku, karpet yang kusam dan beberapa helai pakaian. Menjadi wali faqih pun bukan karena ambisi kekuasaan, melainkan karena panggilan tanggung jawab dan tugas di hadapan Allah Swt. Seperti halnya Nabi Yusuf as.:“Jadikanlah aku menguasai kekayaan-kekayaan bumi. Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”. (QS. Yusuf, 12: 55)

Menurut Ayatullah Jawadi Amuli, seperti yang dikutip oleh Sayyid Kamal al-Haydari dalam kuliah filsafat dan kalamnya di Qum, bahwa Imam Khomeini dalam perjalanan spiritualnya telah sampai di tahapan yang ketiga. Penilaian tersebut, tentu, berlaku bagi orang yang sekelas Imam Khomeini atau orang yang punya kompetensi di bidang ‘irfan.

Sekapur sirih ini tidak ingin lebih jauh menjelaskan tentang Imam Khomeini ra., karena beliau adalah cahaya. Cahaya (nur) itu jelas dengan dirinya sendiri tanpa bantuan yang lain. Untuk mengetahui cahaya hanya diperlukan membuka mata. Karya-karya tulisnya, muri,d-muridnya dan revolusi yang beliau pimpin adalah kredit point yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun, beliau besar bukan karena orang-orang yang membesarkannya, dan beliaupun tidak merasa besar dengan itu. Beliau besar dengan Sang Maha Besar. Beliau besar karena pengabdiannya kepada Sumber Kebesaran.

Bandung, 5 Shafar 1421 H/9 Mei 2000 M

Wassalam,

Husein Alkaff

PENGANTAR PENERBIT

Ayatullah Ruhullah al-Musawi al-Khomeini adalah sosok agung yang muncul pada abad XX dalam menegakkan agama Rasulullah Saww dan para Imam Suci -‘alaihimussalam- di tengah penindasan dan tirani yang kejam. Revolusi Islam Iran yang terjadi antara tahun 1978 sampai 1979 telah menumbangkan kekuasaan monarki absolut Dinasti Pahlevi, satu rezim terkuat di Dunia Ketiga yangsemuanya dibantu oleh Amerika Serikat dan Inggris. telah berhasil ditumbangkan oleh gerakan rakyat yang dipimpinnya.

Tidaklah mengherankan kalau hal ini menjadi pembicaraanyang banyakdan menyeluruh di seantero dunia, dan menjadi penelitian penting bagi pakar sosial politik karena sangatlah di luar dugaan, ulama yang sudah tua dan selalu berada di pengasingan dapat menumbangkan rezim yang sangat absolut dan totaliter, kemudian menggantinya dengan Republik Islam. Perbedaan yang sangat bertolak belakang di mana Iran prarevolusi bisa disebut sebagai negara sekuler. maka Iran pascarevolusi bisa disebut sebagai negara teo-demokrasi yang sangat didominasi oleh kaum Mullah (Ulama Syi’ah).

Revolusi Islam merupakan hasil dari proses akumulasi ketidakadilan rakyat Iran terhadap kebijakan-kebijakan Syah di segala bidang baik ekonomi, politik, agama, dan sosial budaya. Semua ketidakpuasan itu telah dialami oleh rakyat Iran selama beratus-ratus tahun. Kunci sukses dari Revolusi Islam Iran adalah : (i) di satu sisi terbentuknya persatuan di antara kelompok-kelompok penentang Syah, baik berpaham nasionalis dan Islamis; (ii) di sisi yang lain muncul Sang Imam yang dapat menyatukan mereka semua menjadi kekuatan besar dan tak dapat dibendung oleh penguasa tiran. Hal ini besar kemungkinan karena tradisi dan ideologi Syi’ah yang sangat kuat berakar di hati rakyat Iran.

Revolusi besar Iran dalam banyak hal memiliki perbedaan-perbedaan dengan beberapa revolusi yang terjadi di dunia. la berbeda dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang sangat menitikberatkan kepada pendidikan individu (perorangan), juga berbeda dengan gerakan Jami’ati Islam Pakistan yang menitikberatkan pada tantangan intelektual. Bahkan Revolusi Iran berbeda jauh dengan Revolusi Prancis serta Revolusi Rusia. Revolusi Islam Iran mempunyai sejumlah keistimewaan di antaranya adalah revolusi yang dilandasi pada dasar keagamaan, keyakinan Islamis serta tujuan-tujuan hidup agamais dan Qurani. Juga tidak terlepas dari partisipasi ulama yang sangat bertanggung jawab di seluruh negara yang bertujuan untuk membentuk suatu bangsa Islami.

Perjuangan Imam Khomeini secara umum bertujuan untuk merombak tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang sudah berubah 180 derajat dari jalan kebenaran. Penggunaan sistem pemerintahan yang dilandasi oleh konsep Wilayat al-Faqih (perwalian fakih) yang dipublikasikan secara umum oleh Imam, merupakan konsep yang dikembangkan dari keyakinannya. Partisipasi dari kalangan ulama untuk menentukan arah politik di Iran berangkat dari keyakinan bahwa Islam tidak memisahkan antara agama dan politik. Kedua-duanya merupakan satu kesatuan, sehingga peran ulama di kalangan masyarakat tidak hanya sebagai pembimbing ruhani, namun juga sebagai tokoh politik yang menentukan arah bangsa.

Banyak tokoh dunia yang angkat topi dengan Imam, baik itu dari golongan Islam sendiri, Sunni maupun Syi’ah, Bahkan juga rasa kagum dan hormat dari orang-orang luar Islam. Tak terkecuali kalangan orientalis pun kagum atas kepribadian beliau. Kepribadian yang dimiliki Imam begitu bersahaja. Kesederhanaannya telah melekat mendarah daging. Namun keteguhan sikap serta ketegarannya dalam menentang kezaliman merupakanteladan yang patut dicontoh bagi semua tokoh Islam yang menginginkan kebebasan bangsanya dari penindasan dan ketidakadilan. Orang mengira dengan menguasai Iran secara keseluruhan Imam Khomeini mendapat keuntungan materi, tetapi semua itu sirna bila kita mengetahui lebih mendalam lagi mengenai sosok beliau. Banyak tokoh tercengang dan seakan tidak percaya ketika melihat kediamannya di Jamaran, Teheran. Rumah sederhana yang luasnya tidak lebih dari 100 m2 dan hanya dilengkapi perabot sederhana untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Itupun bukan rumah pribadi melainkan rumah kontrakan.

Begitu banyak teladan mulia dari kepribadian beliau yang tidak dapat kami gambarkan di sini. Akan tetapi pembaca dapat merenungkan kepribadian beliau dari beberapa khutbahnya di buku ini yang bisa Anda tarik sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam kehidupan. Walaupun sekarang sudah tidak bersama kita lagi, namun perjuangan dan pengorbanan beliau untuk menegakkan Islam, sangatlah inspiratif dalam memperkukuh semangat juang kaum muslimin selama kita tetap berpegang kepada AI-Quran, Rasulullah dan Ahlibaitnya yang suci.

Begitu banyak cerita yang dapat kita ambil hikmahnya dan manfaatnya dari perjalanan orang-orang suci. Khususnya Rasulullah dan para Imam, juga para wali Allah baik perjuangan dan pengorbanannya. Namun tokoh sejarah yang sudah dicatat yang dekat dengan kita adalah sejarah Imam Khomeini yang masih membekas dalam ingatan kita. Artinya perjuangan seorang hamba Allah, pengikut setia Rasulullah dan Imam Suci dapat menghasilkan pribadi yang agung dan perubahan yang begitu memukau umat manusia. Apalagi sesuatu yang dihasilkan oleh guru sekaligus pembimbing utamanya yaitu RasuJullah dan para Imam Suci, tentulah jauh lebih besar lagi dari apa yang kita lihat pada sosok Imam Khomeini.

Buku ini berisi beberapa khutbah dan wasiat-wasiat Imam Khomeini menjelang wafatnya, yang akan memberikan hikmah kepada kita dalam melaksanakan kebenaran dan menentang kezaliman.

Akhir kata, kami tutup buku ini dengan Bibiografi Imam Khomeini tentang kehidupan dan perjuangannya. Semoga kontribusi kecil ini mampu menggairahkan kembali semangat ber-lslam yang benar di saat bangsa kita dilanda berbagai krisis untuk diteladani perjuangannya dalam menengakkan panji-panji Islam. Amin.

Bandung, Shafar 1421 H/Mei 2000 M

AI-Jawad Publisher

BIOGRAFI IMAM KHOMEINI

Ayatullah al-Uzma Sayyed Ruhullah al-Musawi al-Khomeini berasal dari keluarga religius yang tinggal di India, di daerah kecil Kintur, 40 mil arah timur laut Lucknow yang dulunya bekas kerajaan Awazd.

Imam Khomeinl adalah keturunan keluarga Sayyed yang merujuk ke pada Imam Musa al-Kazhim as. (Imam ke-7 dari 12 Imam Syi’ah) mulai bermukim di sana pada sekitar awal abad ke-18. Di wilayah tersebut mereka diakui sebagai ulama-ulama yang membimbing rakyat.

Dari pihak ayah, datuknya, Sayyed Din Ali Syah, kakeknya, Sayyed Ahmad Hindi, dan ayahnya, Ayatullah Sayyed Mustafa al-Musawi al-Khomeini, dikenal sebagai tokoh ulama yang sangat disegani pada masanya. Begitu juga dari pihak ibunya yang bernama Hajar Agha Khanom, Ayatullah Aqa Mirza Ahmad Khawansari, juga ulama besar yang dihormati.

Kakeknya, Sayyed Din ‘Ali Syah, seorang cendekiawan muslim yang berasal dari Nishapur, Iran timur laut, kemudian bermigrasi keKashmir dan menetap di sana. Anaknya, Sayyed Ahmad Hindi, pada pertengahan abad ke 19 mengembara ke Karbala dan Najaf (dua kota suci umat Islam Syi’ah di lrak) guna memperdalam ilmu agama yang telah diwarisi dari ayahnya. Sayyed Ahmad atas undangan temannya, Yusuf Khan, kemudian mengunjungi kota Khu-mayn. Yusuf Khan, meminta bantuan Sayyed Ahmad untuk memenuhi kebutuhan keagamaan masyarakatnya. Sayyed Ahmad memenuhi permintaan itu, dan kemudian menikah dengan adik Yusuf Khan, yang bernama Sukainah Khanum.

Sayyed Ahmad memperoleh empat orang anak (seorang laki-laki dan tiga perempuan). Pada saat anak laki-lakinya, Sayyed Mustafa al-Musawi (ayah Imam Khomeini), berumur 8 tahun, Sayyed Ahmad, berpulang ke rahmatullah. Sayyed Mustafa al-Musawi mengikuti kelaziman pola belajar pendahuluan di kota kelahirannya, kemudian beranjak ke tingkatan yang lebih tinggi di Isfahan. Gurunya yang terutama adalah Mir. Muhammad Taqi Mudarris, ayah Sayyid Hasan Mudarris. Kemudian Sayyed Mustafa meningkatkan pelajaran agamanya dengan berangkat ke lrak. Dalam memperdalam pengetahuan agama ini juga dengan bimbingan Ayatullah Aqa Mirza Ahmad Khawansari. Kemudian Sayyed Mustafa menikahi putri gurunya, Mirza Ahmad, yang bernama Hajar Agha Kklanom. Kemudian bersama istri .dan bayi perempuannya (Iahir 1887) berangkat ke Najaf. Di sana ia belajar hingga menjadi mujtahid. la ulama istimewa, sebagaimana. terlihat pada gelarnya yang terkenal ‘Fakhr al-Mujtahiduum’ (Kebanggaan Mujtahid).

Tidak diketahui persis kapan la kembali ke Khumayn, tapi jelas ia berada di sana tahun 1894. Sebagai ulama,ia segera menjadi tokoh populer dan berpengaruh yang dikenal hingga ke luar Khumayn. Sebagai tradisi keluarganya, ia berusaha sebisa mungkin seperti ayahnya, melindungi orang-orang tak berdaya dari kezaliman dan tekanan kaum feodal dan bajingan lokal. Pada masa pemerintahan dinasti Qajar yang zalim itu, ketika hidup, kehormatan dan hak milik rakyat berada di bawah belas kasihan golongan yang berkuasa, Sayyed Mustafa dengan beraninya melawan para khan (penguasa) setempat yang buas dan para penjahat feodal yang memangsa rakyat tak berdaya dan lemah.

Pada tahun 1903, ayah Imam Khomeini meninggal dunia pada usia 42 tahun, dibunuh oleh agen-agen rezim Dinasti Qajar yang bernama Ja’far Quli Khan dan Ridha Quli Sultan. Ketika sedang berkuda ke Arak untuk menemui gubernur provinsi, guna melaporkan keadaan Khomayn yang tidak aman. Semua ulama di Teheran, Arak, Isfahan, Golpaygan, dari Khumayn, mengadakan upacara untuk mengenang kematiannya. Oi Khumayn rakyat marah besar terhadap kejahatan itu dan mereka menyerang serta membakar rumah para pembunuh.

Sayyed Mustafa al-Musawi meninggalkan tiga putra, yang pertama Sayyed Murtadha (Iebih dikenal sebagai Ayatullah Pasandideh), kedua bernama Sayyid Nur AI-Din, kngketiga adalahRuhuliah (Ayatullah al-Uzma Sayyed Ruhullah al-Musawi aI-Khomeini).

Masa Anak-Anak dan Pendidikan Awal

Ayatullah al-Uzma Sayyed Ruhullah al-Musawi al-Khomeini dilahirkan di kota Khumayn, dekat Isfahan, sekitar 300 Km selatan Teheran, pada tanggal 24 September 1902 (20 jamadi-al-Thani 1320 H) bertepatan dengar) hari lahirnya putfitercinta Rasulullah Sayyidah Fatimah az-Zahra ash, istri terkasih Imam ‘Ali bin Abi Thalib as. (Imam pertama penganut Syi’ah) dengan nama Ruhullah. Nama Khomeini diambildari tempat lahirnya. Imam Khomeini baru berusia em pat bulan ketika ayahnya syahid

Setelah ayahnya meninggal; Imam Khomeini berada di bawah asuhan ibunya; Hajar A. Khanom (yang juga seorang guru madrasah di'Najaf dan Karbala) dan bibinya, Sahiba Khanom (Shahaba Khanun). Atas saran dari Aqa Sayyed Muhammad Kamreh'i (menantu Sayyed Mustafa), memutuskan kembali ke kota Khumayn. Masa kecil banyak waktunya diisi dengan bermain, ia bermain terus-menerus sepanjang hari di tempat-tempat terbuka Khumayn, dan pulang ke rumah ketika sudah larut malam dengan pakaian yang kotor dan sobek-sobek.

Khomeini kecil memulai pendidikannya dari pelajaran membaca dan menulis dari Mirza Mahmud (guru yang datang ke rumah). Kemudian memasuki Maktab Khaneh (sekolah tradisional untuk anak-anak) yang dimiliki Akhund Mulla Abu al-Qasim, yang tidak jauh dari rumahnya. Usia 7 tahun dia mulai belajar bahasa Arab di bawah bimbingan saudara sepupunya. Sheikh Ja’far, dan seorang guru yang bernama Mirza Mahmud. Kemudian Imam Khomeini mempelajari Jami' Muqaddimat (buku teks tentang logika dan tata bahasa Arab) dibawah bimbingan pamannya. Haji Mirza Muhammad Mahdi dan mantiq pada ipar laki-lakinya Haji Mirza Ridha Najafi.

Pada usia lima belas tahun, ia telah menyelesaikan studi Persianya. Kakaknya. Ayatullah Pasandideh sangat berperan dalam kehidupan Ruhullah Khomeini. Dalam memperdalam ilmu logika dan sintaksis (ilmu Nahu/kalimat) bahasa Arab Ruhullah Khomeini dibimbing kakaknya dan kakak iparnya, Haji Mirza Ridha Najaff. Ayatullah Pasandideh juga mengajarkan kaligrafi (Khatt-e nasta’lie ).

Ketika berusia enam belas tahun, Imam Khomeini di timpa duka dengan ditinggal ibunya menghadap Allah Swt. Selang beberapa waktu menyusul bibinya yang sangat dicintai. Mulai sejak itu, ia berada di bawah asuhan Ayatullah Pasandideh.

Ketika berusia 17 tahun, diputuskan untuk mengirimnya ke tempat-tempat belajar yang lebih tinggi. Awalnya diputuskan untuk mengirim Imam Khomeini ke Isfahan, mengikuti jejak ayahnya, tapi pada akhirnya saat usia 19 tahun ia dikirim ke Arak, kota yang tidak terlalu jauh. Mulailah hubungan hidup Imam Khomeini dengan lembaga-lembaga keagamaan. Dia belajar mantiq pada Syaikh Muhammad Gulpaigani dan pelajaran Syarh-e Lum’ah pada Aqa ‘Abbas Araki.

Guru dan Pembimbing Imam Khomeini

Setelah beberapa waktu menimba ilmu di Arak, Imam Khomeini meninggalkan Arak menuju Qum, empat bulan setelah Syaikh 'Abdul Karim Ha’iri (murid dari Mirza Hasan Syirazi di Irak) berpindah tugas mengajar dari Arak ke Qum. Oi Qum Imam Khomeini tinggal di madrasah Dar AI-Syifa dan memaksa dirinya untuk belajar tekun. Tahun 1962 ia menyelesaikan tingkatan kurikulum yang dikenal sebagai sath. Kemudian mulailah satu dasawarsa studi langsung di bawah Ha’ri sendiri. la mempelajari inti kurikulum itu, fikih dan ushul, penguasaan ilmu ini mutlak untuk karir seorang ‘alim.

Imam Khomeini telah ditakdirkan untuk menjadi seorang ‘alim yang lebih dari sejumlah besar ‘alim lainnya, la dengan cepat menjadi ahli fikih dan ushul. Selama tahun-tahun pertama di Qum, Imam Khomeini telah memulai studi mendalam dan penggalian aktif bidang hikmah (filsafat) dan ‘irfan (tasawuf), yaitu studi yang berhubungan dengan penyerapan kebenaran tertinggi secara rasional dan gnostik (ma’rifat) yang telah lama berkembang di kalangan Syi’ah Islam. Pembimbing pertamanya Mirza ‘Ali Akbar Yazdi (murid Hadi Sabzawari, pengarang termashur buku Syarh-i Manzuma). Pembimbing masa lainnya adalah Mirza Aqa Javad Maliki Tabrizi. Imam Khomeini juga belajar dari Sayyed Abdul Hasan Rafi’i Qazwini. Guru utamanya dalam gnosis dan tasawuf adalah Ayatullah Muhammad ‘Ali Syahbadi, yang disebutnya sebagai “guru kita dalam teosofi”. Untuk ‘irfan Imam Khomeini belajar dengan Syahabadi setiap Kamis, Jum’at, dan hari-hari libur lainnya.

Guru-guru lain yang membimbing Imam Khomeini diantaranya yaitu:

1. Ayatullah Aqa Mirza Muhammad Ali Adib Tehrani (1884-1949).

2. Ayatullah Aqa Mirza Sayyed ‘Ali Yatsrib Kasyani (1311-1379).

3. Ayatullah Haji Sayyed Muhammad Taqi Khawansari (1887-1951).

4. Ayatullah Haji Aqa Husain Burujerdi (1875-1960).

5. Ayatullah Haji Mirza Jawab Maliki Tabrizi (-1924).

6. Ayatullah Aqa Mirza ‘AIi Akbar Hakami Yazdi. (-1925).

7. Ayatullah Haji Sayyed Abu ai-Hasan Rafi'j Qazwini ( 1897-1976).

8. Ayatullah Haji Syaikh Muhammad Ridha Najafi Ishfahani (1870- 1943).

9. Ayatullah Sayyed Abu al-Qasim Dehkurdi Ishfahani (1855-1934).

10. Ayatullah Haji Syaikh ‘Abbas Qummi (1877-1940).

Sebagaimana dapat dilihat dari daftar guru di atas, minat dan pendidikan Imam Khomeini dalam ilmu-ilmu Islam sangatlah luas. la menerima pendidikan istimewa tidak hanya dalam fikih, ushul, had is, dan AI-Quran tapi juga dalam ilmu akhlak, filsafat dan ‘irfan. Juga ia punya minat sepanjang hidupnya pada khazanah Persia, terutama puisi. Pengetahuan sejaran Islam dan pemikiran politik umumnya nampak pada tulisan dan pidato-pidatonya.

Karir Mengajar Imam Khomeini

Pada usia 27 tahun, Imam Khomeini memulai karir mengajarnya. Pertama kali ia memberikan pelajaran dalam Hikmah. Setelah berjalan beberapa waktu, kemudian ia membuka kelas-kelas privat dalam ‘irfan, secara sembunyi-sembunyi, yang hanya terbuka untuk sedikit orang yang terpilih dari para pelajar di Qum, dangan materi pelajaran pasal nafs (jiwa) dalam karya Mulla Sadra, (Asfar AI-Arba’ah dan Syarh-i Manzuma) hingga tahun 1940-an. Di sinilah Imam Khomeini melatih dan memberikan inspirasi kepada teman-teman dekatnya, termasuk syahid Muthahhari dan Ayatullah Hasan ‘Ali Montazeri.

Imam Khomeini, mengajarkan ilmu akhlak (mulanya sekali seminggu, kemudian menjadi dua kali seminggu) pada hari Kamis dan Jum’at sore. Awalnya di Madrasah Faidhiyah dan kemudian, saat rezim Reza Khan membuat kesulitan, ia memindahkan tempat belajar ke pinggiran kota, tempat belajarnya dipindahkan kembali ke Madrasah Fidhiya.

Kuliah-kuliah Imam Khomeini dalam bidang fikih diadakan pada setiap hari di masjid dekatmakam Hadhrat Ma'shumah. Kuliah-kuliah ushul diadakan siangdi Madrasah Faidhiyah dan kemudian pindah ke Masjid Salmasi. Menurut banyak muridnya, pelajarannya yang tingkat dars-ekhaarij dianggap hanya setingkat di bawah Ayatullah Burujerdi dan kedua dalam kaitannya dengan jumlah ulama dan murid yang hadir.

Imam Khomeini seorang pemiklr orisinal dan mandiri sebagai filosof, sufi, fakih dan teoritikus politik. Sepanjang karier mengajarnya ia berusaha melatih murid-muridnya untuk berfikir mandiri dan berkembang sebagai peneliti sejati. Saat mengajar di tingkat dars-e khaarij dalam ilmu fikih Dan ushul, ia kecewa bila tak ada pertanyaan atau keberatan yang diajukan. la mendorong murid-muridnya untuk memandang setiap pendapat secara kritis! tak perduli seberapa tinggi otoritas yang mengajukan pendapat itu. Dalam kuliahnya, sementara ia menyebut para ahli fikih dengan rasa hormat dan respek, ia menguji pandangan mereka satu demi satu dengan kritik tajam dan kemudian menyatakan pendapatnya yang didukung dengan argumen-argumen yang kuat dan matang. Penghormatan kepada guru-guru besar sebelumnya tidak mesti menjadi halangan untuk kritik tanpa segan-segan; sikap sopan yang hati-hati terhadap para penulisnya dan sikap kritis yang tajam terhadap panda.ngan mereka berjalan beriringan. Tak ada cerita bagi peniruan mentah-mentah atas suatu otoritas.

Karya-karya Imam Khomeini

Imam Khomeini menulis buku Iebih dari tiga puluh judut, tentang berbagai masalah yang tidak dapat disebutkan satu-persatu dalam tulisan ini. Semua karya Imam boleh dikatakan tak ada bandingannya dalam segi masing-masing.

Buku monumental Kasyf al-Asraar yang ditulis 1941 merupakan penolakan terhadap selebaran anti-Islam yang muncul beberapa tahun sebelumnya. Imam Khomeini, menurut pernyataannya sendiri, sebagaimana dikutip Akhmad Khomeini, menghentikan pelajaran dars-e-khaarij selama dua bulan untuk menulis buku ini, segera setelah Reza Khan dipaksa turun tahta. Hal ini dirancang untuk membantah tulisan anti-Islam periode Reza khan dan ditulis selama ketenangan singkat dan melonggarnya tekanan Pahlevi menyusul terdepaknya sang diktator. Itu merupakan pernyataan politik Imam Khomeini yang pertama dan berisi catatan peringatan di mana sang Imam memperkirakan tahun-tahun gelap yang panjangdari pemerintahan Reza Pahlevi.

Di bidang fikih dan ushul. ia menulis kaidah-kaidah hukum dalam bentuk haasyiyah tantang ‘urwat al-Wustaqaa karya Sayyed Kazhim Yazdi yang mendapat status klasik modern dalam fikih Syi’ah.

Kitab al-Thahaarah; tiga jilid. terdiri dari kuliah hukum Islam yang ia sampaikan di Qum. Kuliah ushulnya di Qum di susun dalam bentuk Tahdziib al-Ushuul oleh Ayatullah Ja’far Subhani. Tahriir al-Wasiilah. karya fikih yang komprehensif, mencakup wasiilat al-Naajat karya Ayatullah Abu al-Hasan Ishfahani. buku yang telah ditambah oleh Imam Khomeini tentang masalah-masalah dan isu mendesak dan di dalam termasuk teks asli. Ini mulai ditulis selama massa pengasingannya di Turki dan diselesaikan di Najaf.

Kitab ai-Bay’, lima jilid. mencakup kuliah-kuliah fikihnya selama ia menetap lima belas tahun di Najaf.

Wilaayat al-Faqih atau Hukuumat-e Islaami menempati posisi unik di antara karya-karya Imam Khomeini. Quddisa sirruh. yang menghadirkan terencana konkret bagi kemunculan pemerintahan Islam dari pusat tradisi Syi’ah. Buku ini terdiri dari sebagian kuliah fikih Imam Khomeini yang biasa ia sampaikan di Masjid Syaikh Anshari di Najaf. Seluruh seri kuliah disusun dalam bentuk Kitab al-Bay'.

Kegiatan Politik Imam Khomeini

Kesyahidan ayahnya, Sayyed Mustafa melawan para tuan tanah adalah kesan awal yang mendalam tergores padadiri Imam Khomeini. Dengan kondisi yang demikian membentuk pribadinya pada suatu sikap perjuangan yang berdisiplin serta keseriusan yang sangat.

Sementara pemerintahan penindas rezim Reza Khan, dimana orang takut bersuara, Imam Khomeini menulis buku berjudul Kasyful Asrar (Mengungkap Rahasia). Dengan gaya tulisan yang tegas dan tidak mengenal kompromi, mengutuk keras rezim Reza Khan yang secara terang-terangan menggantungkan diri dan menyerah pada kekuatan asing.

A. Zaman Ayatullah Borujerdi

Pada waktu Ayatullah Borujerdi menjadi ulama besar di Qum, Imam Khomeini menduduki tempat yang menonjol. Sepanjang masa ini ia berusaha untuk menyimpulkan satu realisme politik serta membaiat kepada Ayatullah Borujerdi. la membangun banyak pengikut di kalangan ulama-ulama muda di Qum dan tempat-tempat lain, yang kemudian merupakan bagian kekuatan pengarah Revolusi Islam.

Kemunculan Imam Khomeini secara menonjol mulai dari tahun sesudah tumbangnya Mossdegh. Tahun 1963 Syah meresmikan ‘Revolusi Putih’ (karena diresmikan di gedung Putih, Amerika). Sebenarnya tidak patut disebut ‘Revolusi Putih’ karena selalu menumpahkan darah rakyat.

Slogan land reform Iran adalah satu penyamaran untuk penghancuran ekonomi agraris dalam saru cara yang direncanakan untuk menjamin keuntungan maksimum bagi keluarga raja, satu obligasi yang terikat kepada kepentingan agribisnis keluarga raja dan orang-orang asing, termasuk perusahaan-perusahaan penting yang berpusat di Amerika, Eropa dan istimewa Israel.

B. Slogan Tentang Hak-hak Wanita

Sehubungan dengan hak-hak kaum wanita, tindakan itu direncanakan lebih banyak untuk kepentingan konsumsi luar negeri daripada untuk tujuan domestik, karena penasehat-penasehat luar negeri Syah menyadari akan prasangka Barat yang sudah menjadi tradisi berkenaan dengan sikap Islam terhadap kaum wan ita dan cara ini merupakan jalan yang paling ampuh untuk membuat Syah menjadi kelihatan maju dan berjasa. yang bertindak untuk kepentingan Muslim Iran yang tertindas.

Dalam deklarasi-deklarasi Imam Khomeini yang dinyatakannya pada mulai bulan Maret 1963, dalam usahanya melawan Syah dan dalam usaha Syah untuk menipu pendapat umum di Iran dengan yang dinamakan Revolusi Putih. Adalah mencolok bahwa sampai pada saat menjelang Revolusi Islam, Pers Amerika dan Inggris menyebut tentang yang mereka namakan kaum Muslim konservatif, reaksioner dan fanatik di Iran yang berjuang melawan Syah karena mereka menentang land reform dan keinginan mereka untuk mengambil kembali yang mereka istilahkan dengan cara aneh sebagai ‘tanah gereja’ dan karena mereka menghendaki semua wan ita ditutup kapan dari kepala sampai kaki lagi. Sungguh ganjil sama sekali. Tidak berdasar baik bagi zaman Revolusi. maupun dalam masa lima belas tahun sebelumnya.

C. Hak Istimewa Amerika Serikat dqn Israel

Dalam deklarasi-deklarasi Imam Khomeini pada tahun 1963, ia memusatkan perhatian pada berbagai tema lain. Pertama ia menentang pelanggaran Syah yang terus menerus terhadap Undang-undang Dasar dan terhadap sumpah yang diikrarkan ketika naik tahta, bahwa ia akan memelihara dan melindungi Islam; kedua, ia menyerang tunduknya Syah pada kekuatan-kekuatan asing, terutama Amerika dan Israel.

Pernyataan Imam Khomeini adalah :

“Kami telah sampai pada kesimpulan bahwa mereka menentang Islam dan kepemimpinan agama. Israel hendak mendeskriditkan kitab suci kami dan menghapus kepemimpinan agama. Israel hendak mengeratkan cengkramannya atas ekonomi kita. perdagangan don pertanian kita.”

Pada kesempatan lain beliau juga mengatakan ;

“Mereka menanmakan kita reaksioner. suratkabar-suratkabar asing tertentu di suap dengan borosnya untukmehgatakan bahwa komi menentang segala perbaikan don berusaha membawa lran kembali ke zaman abad-abad pertengahan. Kaum ruhaniawan menentang penindasan dan penderitaan rakyat di sini. Kami menghendaki mereka memelihara kemerdekaan negara. Kami tidak menghendaki mereka menjadi pelayan-pelayan hina bagi orang lain.

Kami tidak menentang peradaban, tidak pula Islam menentangnya. Anda telah melanggar hukum-hukun manusiawi maupun Ilahi, Program-program radio dan televisi merusak saraf, pers meracuni pikiran pemuda, Anda di sini mempunyai penasehat militer dari Israel. Kami menentang semua ini, Kami tidak menentang kemerdekaan bagi kamu wanita, tetapi kami tidak menghendaki wanita dijadikan boneka untuk kepentingan pria, Sistem pendidikan Anda adalah untuk melayani kepentingan orang asing.”

Imam Khomeini dengan sifat khas yang tidak mengenal kompromi dengan kebatilan, mematahkan aturan itu dalam tahun 1963, dan menunjukkan hubungan yang sangat erat antara Israel dan rezim Pahlevi, dalam segi militer, politik intelejen serta ekonomi.

D. Serangan ke Qum

Setelah pembicaraan Imam Khomeini di sekolahnya di Qum dalam bulan Maret 1963, terjadilah satu serangan ke sekolah itu oleh paratrup dan polisi-polisi sekuriti, yang mengakibatkan matinya sejumlah rakyat.

Setelah mendengar kabar tentang pembantaian tersebut oleh Syah, Imam Khomeini berkata pada massa :

“Tenanglah. Anda adalah pengikut para imam yang menderita kezaliman yang besar. Kesewenang-wenangan semacam itu menjadi bumerang. Sangat banyak tokoh besar agama yang syahid untuk menegakkan Islam dan mengamanatkannya kepada Anda, Maka, terserah kepada Anda untuk memelihara warisan suci ini.”

Ucapan Imam itu berarti, bukan saja karena si pembicara itu sendiri terancam kematian, tetapi karena dalam keadaan yang demikian kritis itu ia menjanjikan kemenangan bagi umat dan kekalahan bagi Syah.

la juga mengatakan.

“Berteguh hatilah melawan tindakan tak sah dari rezim itu. Sekalipun pemerintah menempuh jalan kekerasan. jangan menyerah kepadanya, Biarlah menjadi pelajaran bagi mereka semua. Pemerintah lebih baik meninjau kembali kebijakannya dan menyerah kepada kehendak rakyat. Kami dalam jubah ulama, sedang berjuang untuk Islam. Tiada kekerasan, betapa besarnya, dapat membungkam kami.”

la ditahan berkaitan dengan peristiwa itu. Setelah ditahan beberapa lamanya, ia dibebaskan. Tetapi, jauh dari intimidasi, ia meningkatkan intensitas dan frekuensi serangan-serangan terhadap pemerintah itu. Dalam bulan Juni tahun itu, yang bertepatan dengari bulan Muharram, terjadi kampanye yang menyeluruh dalam negeri dalam hal penerangan untuk pembinaan pendapat umum, yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin agama di bawah pimpinan Imam Khomeini. Melalui deklarasi-deklarasi ini ia terus menyerang penyerahan Syah kepada kekuatan-kekuatan asing, terutama Amerika dan Israel, dan pelanggaran-pelanggarannya terhadap Islam dan Undang-undang Dasar Iran.

E. Kebangkitan 5 Juni 1963

Pada tanggal 5 juni 1963 terjadi kebangkitan besar di berbagai kota di Iran, yang ditumpas secara kejam oleh rezim itu. Dalam karir Syah, bukanlah pertama kali ia memberikan perintah kepada polisi sekuritinya dan kepada pasukan-pasukannya supaya menembak mati. Diperkirakan bahwa pada hari itu, dan pada peristiwa-peristiwa sehubungan dengan hari itu, setidak-tidaknya 15.000 rakyat terbunuh.

Imam Khomeini ditangkap lagi dan tidak lama kemudian ia diasingkan ke Bursa, Turki tanggal 4 November 1964. Cukup menarik bahwa, bertentangan dengan hukum yang berlaku di Turki, ia ditahan di satu rumah yang dijaga dengan ketat oleh anggota-anggota polisi sekuriti Iran. Perdana Menteri Turki pada massa itu ialah Sulayman Demirel, yang terkenal sebagai anggota freemason.

Bulan Oktober 1965 Imam Khomeini diperbolehkan meninggalk:an tempat pengasingan beliau di Bursa untuk dipindahkan ke lingkungan yang lebih sesuai di Najaf, salah satu Kota di Irak yang mempunyai tradisi sebagai pusat pengembagan pendidikan kalangan Syi’ah dan juga sebagai tempat perlindungan pemimpin-pemimpin agama dari Iran. Hal seperti yang disebutkan terakhir ini terjadi umpamanya dalam abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh Ketika sejumlah tokoh-tokoh pemimpin agama yang penting mendukung revolusi menuntut undang-lindang dasar atau gerakan boikot tembakau yangterjadi sebelumnya (di zaman Sayyed Jamaluddin Asada-badi). Mereka mengeluarkan pengarahan-pengarahan dari atabat yang relatif aman, yang terletak di luar Iran.

Namun, kepindahan itu sama sekali tidak berarti, bahwa Imam Khomeini telah mendapatk:an tempat yang benar-benar aman di lrak. Perlukah disebutkan dengan jelas dan tegas bahwa walaupun di pers Barat dikatakan selama bertahun-tahun, kehadiran Imam Khomeini di Irak sama sekali tidak merupakan sesuatu bentuk persekutuan, betapa kecil pun, antara Imam Khomeini dengan pemerintahan negara itu.

F. Mengarahkan Rakyat Iran dari Najaf

Dari Najaf Imam Khomeini meneruskan pengarahannya secara berkala dengan mengeluarkan deklarasi-dekalarasi tentang persoalan-persoalan Iran.

Pers Barat menyatakan bahwa Imam Khomeini muncul secara menonjol dalam masa Revolusi sebagai akibat dari salah satu kevakuman yaitu, kekosongan pemimpin, karena tidak ada alternatif lain yang cocok; tetapi penilaian ini terjadi karena ketidaktahuan akan perkembangan yang berangsur-angsur tentang peranan Imam Khomeini selama masa pengasingannya yang lebih dari empat belas tahun itu. Selama ia terasing di Najaf, sama sekali ia tidak tinggal diam. Sebaliknya ia mengeluarkan aneka ragam proklamasi tentang peristiwa-peristiwa dan urusan-urusan Iran, yang seluruhnya menembus masuk ke Iran, disebarluaskan dan berpengaruh besar dalam pembentukan pendapat umum rakyatlran.

Bulan April 1967, Imam Khomeini mengirimkan satu surat terbuka kepada PM. Iran pada waktu itu, Amir Abbas Hoveyda, di mana ia menentang Hoveyda dan Syah atas pelanggaran-pelanggaran meraka yang terus-menerus terhadap Islam dan Undang-undang Dasar Iran.

G. Seruan Kepada Muslimin Sedunia

Deklarasi Imam Khomeini selama pengasingannya pada bulan Mei 1970, ketika konsorsium penanam-penanam modal Amerika berkumpul di Teheran m.embicarakan jalan untuk penetrasi dan eksploitasi yang lebih efektif terhadap ekonomi Iran. Dalam peristiwa itu salah satu pengikut Imam Khomeini, Ayatullah Saidi, menentang konferensi itu dan berseru kepada rakyat Iran untuk bangkit dan memprotesnya. la ditahan oleh polisi sekuriti Syah, dan dianiaya hingga mati, dan Imam Khomeini mengeluarkan seruan yang menyerukan kepada rakyat untuk memperbaharui perjuangan mereka melawan rezim Pahlevi.

Imam Khomeini menentang pengeluaran uang secara mubazir, kegila-gilaan, untuk merayakan yang dinamakan peringatan 2.500 tahun kerajaan itu, suatu pesta perayaan yang digagaskan dan direncanakan oleh orang-orang Israel tertentu yang menjadi penasehat rezim itu. Dipengasingan di Najaf, ketika mendengar tentang pesta para Perayaan Ulang Tahun ke 2.500 (1975). Imam mengatakan:

“Rezim itu mengira soya gembira hidup begini. Seya lebih suka mati don kembali kepada Allah daripada melihat penderitaan orang:-orang yang tertindas. Soya merasa wajib memprotes. Dikatakan berulang-ulang kepada kami untuk tidak mencampuri urusan negara. Kami dilarang berjuang melawan rezim itu. Tetapi sejarah umat manusia menyaksikan bahwa selalu para nabi dan tokoh-tokoh keagamaan yang bangkit melawan para penguasa otokrat. Kalangan ulama berjumlah lebih dari 150.000 orang, termasuk teolog-teolog kenamaan dan pewenang urusan keagamaan. Apabila mereka bersatu dan menyuarakan apa yang mereka ketahui tentang kezaliman rezim itu, tentulah mereka akan mencapaikemenangan.

Rakyat jelata yang kehilangan hak-haknya, kelaparan, sementara mereka rnenghambur-hamburkan delapan ratus juta rial untuk Teheran hanya untuk pesta-pesta kerajaan. Anda memperingati orang mati tetapi mengabaikan orang hidup. Rezim itu menjarahi harta rakyat dan memberikan hak kepada orang-orang asing untuk memanfaatkan sepenuhnya sumber-sumber kekayaan nasional kita.

Kemudian ia juga mengutuk peresmian sistem satu partai di Iran dengan mengatakan bahwa siapa saja yang turut serta dalam partai itu secara sukarela tanpa paksaan, maka adalah ia pengkhianat terhadap bangsa maupun terhadap Islam, dan terutama tentang peranan Israel.

Tahun 1971 Imam Khomeini menyerukan juga kepada dunia Islam umumnya, untuk solidaritas di kalangan kaum muslimin serta kerjasama di antara sesama muslimin untuk memecahkan masalah-masalah bersama umat Islam.