SEMUA PERLU TAHU

SEMUA PERLU TAHU0%

SEMUA PERLU TAHU pengarang:
Kategori: Akidah

SEMUA PERLU TAHU

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

pengarang: Ibrahim Amini
Kategori: Pengunjung: 186
Download: 67

Komentar:

SEMUA PERLU TAHU
Pencarian dalam buku
  • Mulai
  • Sebelumnya
  • 47 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 186 / Download: 67
Ukuran Ukuran Ukuran
SEMUA PERLU TAHU

SEMUA PERLU TAHU

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

SEMUA PERLU TAHU

Allamah Ibrahim Amini

Judul: Semua Perlu Tahu

Judul asli: Hamed boyad bedonand

Karya: Ibrahim Amini

Penerjemah: Faruq Dhiya

Penyunting: Arif Mulyadi

Setting: Widhy Arto

Desain Sampul: Eja Assagaf

Hak terjemahan dilindungi undang-undang

All rights reserved Cetakan I: Agusts 2006

ISBN: 979-3515-93-7

Diterbitkan oleh Penerbit Al-Huda PO. BOX. 7335 JKSPM 12073

e-mail: info@icc-jakarta.com

1 SEMUA PERLU TAHU

Prakata Penerbit

PERSOALAN akidah dalam Islam, paling tidak secara teoritis, bukanlah masalah dogmatis. Ia menuntut pembuktian secara rasional. Ketakmungkinan untuk menerima akidah secara dogmatis, setidaknya ada dua alasan yang dapat diajucan: Islam harus sanggup melawan arus ideologi dari "sang lain", seperti materialisme, spiritualisme tanpa Tuhan, dan sebagainya.

Pembekalan rasional atas akidah Islam akan menjadikan penegikutnya mampu membertahankan keyakinannya secara rasional dan pada saat yang sama ia bisa berbicara tanpa kendala komunikasi lantaran bahasa yang dipakai bersifat universal, yakni rasionalitas manusia.

Ketakmungkinan yang kedua adalah bahwa pencarian terhadap eksistensi Yang Mahatinggi merupakan sifat dasar manusia. Konon kata "manusia" yang bahasa Arabnya adalah insan, menunjukkan kerinduan pada sesuatu yang lebih tinggi.

Jadi, alih-alih lupa (nisyan) pada Sang mutlak, sesungguhnya manusia merindu ('uns) pada Yang Kuasa. Alhasil, manusia selalu mencari eksistensi di luar dirinya dan alam semesta. Jelaslah, hal itu mau tidak mau dilakukan melalui optimalisasi fakultas rasionalnya sebelum yang lainnya.

Buku ini merupakan upaya penulis untuk memandu pembaca-terutama yang tidak sempat menekuni secara intensif persoalan agama, secara khusus akidah-agar mendapatkan pemahaman rasional atas akidah.

Kekhasan penulis ini adalah kemampuannya untuk menyederhanakan sebuah persoalan yang rumit bagi sebagian orang. Karena itu, bagi mereka yang gemar terhadap pemikiran spekulatif, jangan harap menemukannya di sini.

Akhirnya, buku bagian pertama ini-yang mendedah masalah ketuhanan, kenabian, imamah, dan kebangkitan-bagaimanapun, layak untuk dibaca oleh siapa saja, karena "semua orang harus tahu".

Jakarta, Juli 2006

Penerbit Al-Huda

Pendahuluan

Apakah alam ini, ada penciptanya ataukah mewujud dengan sendirinya tanpa ada sebab? Jika ada penciptanya, lalu bagaimanakah sifat-sifat perbuatan-Nya? Apakah Tuhan telah menetapkan bagi kita suatu kewajiban sedikit pun ataukah tidak? Apakah para nabi itu jujur dalam pengakuannya ataukah mereka pembohong? Apakah setelah kehidupan di dunia ini akan ada kehidupan lain dan manusia akan melihat konsekuensi atau akibat dari segala perbuatannya?

Berdasarkan fitrah dan penciptaannya, akal manusia ingin menyingkap hakikat ini dan menangkap rahasia di balik tabir yang sangat misterius serta menemukan jawaban?dari semua pertanyaan tadi serta ratusan pertanyaan yang lain. Akal manusia memiliki kelebihan yaitu dapat membedakan akidah-akidah yang benar dari yang salah dan secara fitrahnya, akal manusia terus berupaya mencari hakikat dan sebab-sebab dari segala sesuatu dan tidak akan tenang sampai ia memiliki sandaran dan pegangan yang tetap.

Tema-tema mendasar seperti ini dinamai ush? ad-d?. Ush? ad-d? adalah persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pemikiran dan ruh manusia dan berhubungan dengan dalil-dalil atau burhan aqliyah dan semua gerakan dan perbuatan manusia serta program hidupnya bermuara dari sana. Dalam masalah ini, setiap mukallaf tidak diperbolehkan taqlid.

Sebaliknya, ia mesti meraihnya dengan dalil dan burhan. Andaikata manusia membangun bangunan akidahnya dengan fondasi yang kukuh dan mendasarkan program hidupnya dengan dasar akidah yang seperti itu, maka ruh dan pikirannya akan damai dan di saat itulah, ia akan dapat melanjutkan kehidupannya dengan intuisi yang tenang.

Anak Kecil dan Remaja

Waktu yang paling tepat untuk tarbiyah, adalah masa kanak-kanak dan remaja. Halaman otak dan ruh anak-anak dan remaja yang sederhana dan kosong laksana lembaran kosong yang dapat digambari apa saja.

Mereka yang masih polos ini?bila digembleng dengan benar dan diberikan pemikiran-pemikiran yang benar dengan dalil dan burhan?maka semua itu akan terpatri di otak mereka dan akan mendarah daging dalam diri mereka. Individu-individu seperti ini tidak akan sesat dan menyeleweng?di lingkungan manapun mereka hidup dan dengan siapapun mereka bergaul.

Bila mereka berada di tengah masyarakat yang rusak, mereka bukan kemudian mengikuti warna masyarakat itu, melainkan mereka akan berupaya menarik masyarakat yang rusak itu kepada kebaikan dan mewarnai masyarakat itu dengan kebaikan.

Namun sangat disayangkan, lapisan masyarakat yang besar ini?maksudnya kanak-kanak dan remaja?tidak memiliki tarbiyah agama yang benar dan tidak mendapatkan perhatian sebagaimana lazimnya. Akidah-akidah agama yang mereka miliki pada umumnya berasal dari ayah-ayah dan ibu-ibu mereka. Itu pun diperolehnya tanpa dalil dan burhan serta tanpa program. Karena itu, iman dan akidah mereka tidak dibangun di atas fondasi yang kukuh dan tiada sandaran yang kuat.

Kedua, mereka tidak jarang menganggap hal-hal kosong dan tidak berdasar sebagai bagian dari hakikat agama dan bahkan meyakininya. Mereka melenggang masuk ke sekolah dasar, kemudian ke jenjang pendidikan menengah (SMP), terus ke jenjang pendidikan berikutnya SMU hingga akhirnya memasuki lingkungan universitas.

Semua jenjang pendidikan tersebut ditempuh dengan membawa serta pemikiran dan akidah yang sangat tidak logis dan primitif. Selanjutnya, mereka berinteraksi dengan berbagai jenis manusia dengan segala macam akidah. Lantas, lantaran dasar keimanannya tidak kukuh, maka dengan sedikit saja keraguan atau kritikan, mereka akan menjadi bingung dan gundah.

Dari sisi ilmu dan pengetahuan, mereka belum sampai kepada satu tahap untuk dapat membedakan hak dan batil dan memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Dari itulah, mereka berprasangka buruk terhadap agama itu sendiri secara dasarnya dam tenggelam dalam kebingungan dan tiada kepastian.

Tahu-tahu, mereka sudah keluar dan berpaling secara total dari agama atau, setidaknya, dasar akhlak dan perbuatan mereka menjadi goyah dan menjadi manusia yang tidak peduli. Kalian semua menyaksikan akibat dari tarbiyah salah dan meremehkan perkara tarbiyah yang sangat penting ini dengan sangat gamblang. Tiada seorang pun yang memikirkan jalan bagaimana untuk menyelamatkan manusia-manusia yang tak berdosa ini dari lembah kesesatan dan kejatuhan.

Tanggung Jawab Semua

Para pemuka agama, para ulama (ruhaniawan), para ayah-ibu, guru, pendidik, penulis, serta orang-orang kaya, mereka semua bertanggung jawab terhadap ancaman besar yang akan menjebloskan generasi akan datang ke lembah kesesatan (ateis) atau lemahnya akidah. Adalah benar, bahwa kita semua bertanggung jawab dan bila kita tidak melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab ini, maka generasi mendatang akan mengutuk kita.

Pada hari kiamat nanti, kita akan diinterogasi dan ditanya. Maka tidak ada jalan lain, kecuali kita menyusun strategi yang benar dan program yang sempurna dan mengisi lembaran otak-otak lapisan-lapisan yang masih polos tadi dengan akidah yang benar dan dengan logika dan dalil. Akidah yang salah dan menyeleweng haruslah diperangi, dan haruslah disiapkan untuk mereka kitab-kitab ilmiah dan sederhana.

Selain itu, kita pun harus mendirikan perpustakaan, menyediakan bagi mereka buku-buku gratis atau setidaknya murah dan mendorong mereka agar suka membaca.

Kelebihan Buku Ini

Buku ini disediakan atau ditulis untuk generasi muda dan para pemula yang hendak mempelajari agama dan dalam penulisannya telah dipelihara poin-poin berikut ini:

1. Pembahasan-pemabahasan dalam buku ini, meskipun sederhana, namun syarat dengan dalil dan argumentasi demonstratif. Dalam kaitan dengan persoalan-persoalan rasional, dibawakan dalil-dali rasional sedangkan dalam hal-hal ubudiyah dan syariat ditulis berdasarkan ayat-ayat dan riwayat hadis dan di sebagian tempat yang penting diperjelas dengan penguat (madrak) atau bukti di dalam catatan kaki. Namun guna memelihara agar tetap ringkas, di sebagian pembahasannya tidaklah disebutkan madrak atau bukti.

2. Terdapat perbedaan tentang kelahiran dan wafat Rasululullah saw dan para imam suci. Namun guna memelihara agar tetap ringkas, penulis memilih salah satu pendapat dan lainnya tidak disebutkan.

3. Penulis dalam batas yang memungkinkannya telah berupaya untuk menyederhanakan pembahasan-pembahasan ilmiah sehingga mudah dimengerti semua. Dalam buku ini, penulis menghindari penggunaan kata-kata terminologis dan filosofis dan juga dalil-dalil yang bertele-tele dan melelahkan.

4. Penulis menghindari pula dari buku ini penyebutan persoalan-persoalan yang meragukan dan merusak serta lemah dan kurang manfaaat.

5. Dalam buku ini, penulis mendedah persoalan-persoalan yang bagi setiap Muslim sangat perlu mengetahuinya yang memperkenalkan agama Islam dengan sangat ringkas sehingga otak para pembaca menjadi siap dan dapat merujuk kepada kitab-kitab yang terperinci dan risalah-risalah amaliyah.

Khususnya mengenai furu' ad-din semuanya itu tidaklah disebutkan dan ditulis dengan begitu ringkasnya.

Pembahasan-pembahasan kitab ini secara keseluruhannya dibagi menjadi tiga bagian:

Pertama, persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pemikiran dan akal manusia dan digunakan argumentasi-argumentasi rasional dan tiada diperbolehkan taqlid di dalamnya.

Kedua, akhlak yakni persoalan-persoalan yang berkaitan dengan nafs dan perasaan manusia yang mengendalikan keinginan-keinginan dan menyeimbangkan jiwa serta menempatkan manusia di jalan yang lurus (shirah al-mustaqim) kemanusiaan.

Ketiga, furu' ad-din yakni kewajiban-kewajiban dan konsep-konsep ilmiah yang berhubungan dengan jasad manusia yang harus diamalkan.

Sebagai penutup, kami memohon dari para pembaca yang mulia, apabila Anda memiliki usulan atau pendapat, atau melihat adanya kekurangan di dalam buku ini, maka berilah peringatan kepada penulis, sehingga pada pencetakan berikutnya, bisa dimanfaatkan.

Qum, Hauzah Ilmiyah

Ibrahim Amini

Khurdad 1330

3 SEMUA PERLU TAHU

Makrifat Tentang Allah

ISLAM adalah agama ilmu dan pengetahuan. Ia menganjurkan kaum Muslimin agar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu pengetahuan. Islam meletakkan nilai seseorang dari kacamata ilmunya.

Dan, menurut agama suci ini, belajar ilmu merupakan suatu kewajiban umum dan diwajibkan bagi setiap Muslim. Dalam al-Quran Allah Swt berfirman, Apakah kalian mengira bahwa orang-orang yang alim adalah sama dengan yang jahil.*

Allah berfirman,...niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang mukmin di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. al-Mujadilah: 11).

Rasulullah saw bersabda, "Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap lelaki dan wanita Muslim."

Di lain kesempatan ayahanda Fathimah Zahra bersabda, "Manusia yang paling pandai adalah yang paling pandai belajar dari pengetahuan orang lain dan menambah ilmu pengetahuannya. Dan, manusia yang paling bernilai adalah orang-orang yang ilmunya lebih luas, sementara manusia yang paling tidak bernilai ialah mereka yang tidak memiliki pengetahuan sedikit pun."

Ali bin Abi Thalib as berkata,"Tiada harta karun yang lebih baik daripada ilmu pengetahuan."

Imam Ja'far Shadiq as berkata,"Aku tidak suka melihat para pemuda kalian, kecuali berada pada salah satu keadaan ini, entah pandai ataukah sedang menuntut ilmu. Apabila tidak kedua-duanya, mereka telah melakukan kesalahan dan telah menyia-nyiakan umur dan barangsiapa yang menyia-nyiakan umurnya, ia adalah pendosa dan masuk ke neraka."

Imam Muhammad Baqir as berkata,"Barangsiapa yang siang dan malamnya mencari ilmu pengetahuan, maka ia tergolong orang yang dirahmati oleh Allah Swt."

Rasulullah saw berkata kepada Abu Dzar,"Satu jam duduk di majelis ilmu adalah lebih baik di sisi Allah daripada seribu malam beribadah, yang setiap malamnya dilalui dengan shalat seribu rakaat."

Makrifah tentang Allah

Dunia ini memiliki Tuhan yang menciptakan dan mengaturnya. Tiada satu pun fenomena yang wujud dengan sendirinya ada tanpa ada penyebabnya. Misalnya, bila kita melihat sebuah bangunan baru, maka kita yakin bahwa bangunan tersebut dibangun oleh seorang insinyur dan para tukang, dan bangunan tersebut tegak berkat jerih payah dan kerja keras mereka. Kita tidak akan pernah berpikir bahkan memberikan kemungkinan bahwa bangunan tersebut berdiri dengan sendirinya tanpa adanya penyebab.

Bila kita meletakkan pena dan kertas putih di atas meja tulis kita, kemudian kita keluar kamar, dan sekembalinya ke kamar, kita menyaksikan kertas itu berubah menjadi hitam dan telah terdapat tulisan di halamannya, maka kita akan meyakini bahwa di saat ketiadaan kita tadi, ada orang yang pergi ke sisi meja dan menuliskan sesuatu di atas kertas tadi. Bila ada yang mengatakan, pena itu bergerak dengan sendirinya, dan menulis sesuatu, maka kita akan menertawakan omongan orang tadi dan bahkan menganggapnya gila.

Bila kita menyaksikan sebuah papan yang berisikan lukisan yang sangat indah dan gambar-gambar yang pemandangannya memukau siapa saja yang melihat, maka kita akan berkata pada diri kita, "Sungguh seniman yang melukis di papan ini, memiliki cita rasa yang sangat baik, dan papan yang sebelumnya tiada berharga berubah menjadi tinggi nilainya lantaran goresan tangannya yang lihai dan kecerdasannya yang luar biasa sehingga papan yang tak bernilai berubah menjadi hal yang sangat berharga.

Suatu ketika, katakanlah, kita duduk di dalam mobil sambil berbincang-bincang. Mobil yang kita kendarai melaju begitu cepat, tiba-tiba, mesinnya berhenti, dan mobil juga otomatis tidak lagi bergerak. Pengemudi yakin, bahwa mesin tidaklah berhenti tanpa adanya alasan dan rusaknya mobil itu pasti ada alasannya.

Tiada seorang pun dari yang menumpang mobil itu yang meragukan persoalan ini. Dari itulah, si pengemudi langsung turun dari kendaraannya dan mencari tahu penyebabnya hingga dia menemukan sebab yang menghentikan mesin dan berupaya memperbaikinya. Ia tidak akan pernah berkata, "Baiklah kita akan bersabar selama satu jam, mungkin mesin mobil ini akan betul dengan sendirinya dan bekerja lagi."

Bila jam Anda berhenti bergerak, maka Anda tidak ragu bahwa rusaknya jam Anda memiliki sebab. Demikian halnya gerakan jarum jam tidaklah tanpa alasan dan bekerjanya jam itu pun niscaya memerlukan sebab.

Anda mengetahui secara umum bahwa tiada satu pun fenomena yang muncul tanpa adanya sebab dan pencipta. Perasaan mencari tahu sebab merupakan fitrah seluruh manusia. Kini kami akan bertanya kepada Anda, apakah Anda memberikan kemungkinan bahwa alam yang terhampar luas ini tidak ada yang menciptakannya dan mewujud dengan sendirinya? Anggapan seperti ini sungguh mustahil terjadi.

Alam yang luas ini, bumi dan lautannya yang luas, bintang-bintang dan matahari yang besar, semua binatang yang menakjubkan, pepohonan yang berbagai jenis dan indah, dan pada akhirnya semua alam ini, mustahil tanpa ada yang mewujudkannya.

Keberaturan dan Ketertiban Alam

Sesungguhnya akal waras akan menghukumi bahwa sebuah bangunan yang begitu rapi-yang di dalamnya ada ketertiban dan susunan yang sangat detail dan teratur, adanya hubungan dan keselarasan yang sempurna, adanya prediksi-prediksi yang lazim dilakukan sehingga tiada satu pun kekurangan dan cela, sehingga bangunan itu memiliki listrik dan air, ruang makan, kamar tidur, ruangan menjamu tamu, kamar mandi dan sarana pemanas serta pendingin, dengan menggunakan pipa-pipa yang dipasang dengan begitu teliti dan keran-keran air yang ditempatkan secara sesuai dan pantas, serta memperhatikan dasar-dasar kesehatan sehingga bangunan itu menyerap sinar matahari yang cukup-tidaklah berdiri dengan sendirinya, melainkan dibangun oleh para pendirinya yang memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga membangunnya dengan dasar arsitektur yang benar dengan ketelitian yang nyaris sempurna.

Setelah membawakan contoh ini, kini kami akan mengajak Anda memerhatikan salah satu sudut dari kehidupan siang dan malam kita.

Untuk melanjutkan hidupnya, manusia memerlukan makanan dan air agar mengobati rasa lapar dan dahaganya serta menyediakan kebutuhan yang lazim bagi sel-sel tubuh. Agar sel-sel tubuh kita tetap hidup dan melanjutkan kehidupannya, maka haruslah sel-sel tersebut memperoleh berbagai jenis makanan. Jika tiada mendapatkan atau kekurangan dari salah satunya, maka ia akan menghancurkan atau merusakkan kehidupan kita. Manusia memerlukan udara untuk bernapas, dan dengan jalan itulah, ia menarik zat yang berfaedah dari udara dan menolak racun tubuh.

Sekarang, cobalah kalian perhatikan, bagaimanakah semua kebutuhan dan keperluan tubuh kita ada dan tersedia di luar. Bila kita menghendaki makan, maka di luar telah tersedia. Bila kita menginginkan berbagai jenis makanan, maka sudah tersedia di luar. Bila kita memerlukan gandum dan beras serta sayuran serta buah-buahan dan daging serta hal-hal lainnya yang lazim, semua itu tersedia di luar.

Bila kita memerlukan air dan udara, semua itu ada. Kita memiliki kaki sehingga kita dapat mencari makan. Kita punya mata sehingga kita dapat menemukan makanan-makanan yang sesuai. Kita juga punya tangan sehingga dengannya kita dapat mengambil makanan, tangan kita ini diciptakan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi keperluan-keperluan kita dengan baik, dan secara sepenuhnya berada di dalam kekuasaan kita. Ia bergerak, kemana pun yang kita kehendaki. Dengan kemauan kita, ia terbuka dan tertutup serta naik dan turun. Penciptaan jari-jari dan telapak tangan yang begitu teliti dan lembut sungguh amat menakjubkan.

Kita mengambil makanan dengan tangan dan meletakkannya di mulut. Mulut kita ini tercipta sedemikian rupa sehingga buka dan tutupnya tergantung keinginan kita. Bibir diciptakan sedemikian rupa sehingga menutup pintu mulut dan mencegah keluarnya makanan yang kita masukkan ke mulut itu.

Masalah yang mendasar adalah meskipun semua keperluan makanan tubuh terdapat di berbagai jenis makanan, namun bukan seperti itu langsung dapat dimanfaatkan oleh sel-sel. Makanan-makanan itu harus mengalami perubahan dan proses aksi-reaksi mendetail sehingga makanan tersebut dapat digunakan. Alat pencernaan melumat makanan terbagi dalam empat tahapan.

Secara ringkas, kami akan mengingatkannya:

Tahap pertama, kita mengunyah makanan melalui gigi dan menghaluskannya. Gigi-gigi yang diserahkan kepada kita begitu berkesesuaian dengan jenis makanan kita. Lidah itu bergerak di mulut dan makanan itu berada di bawah gigi sehingga lembut dengan baiknya. Selain dari itu, sebagaimana seorang petugas cukai yang benar, ia mengontrol dan memeriksa makanan.

Selain dari itu, ia juga membedakan mana yang buruk dan yang baik, yang sehat dan yang sakit atau rusak. Kelenjar-kelenjar ludah meneteskan cairan khusus di mulut sehingga makanan itu menjadi lembut dengan baik dan dimakan dengan mudah, selain dari itu, air mulut membantu proses pencernaan makanan dan mendatangkan pengaruh kimiawi yang cukup mencolok.

Tahap kedua, tatkala makanan itu dikunyah dengan baik, maka dari mulut akan masuk ke tenggorokan dan dari jalan kerongkongan lalu masuk ke lambung, dan ketika menelan makanan, mulut kecil menutup jalan hidung, dan tabir khusus menutup jalan pernapasan dan batang tenggorokan.

Tahap ketiga, makanan itu untuk beberapa lama haruslah berhenti di lambung sehingga dicerna. Di dinding lambung, terdapat ribuan kelenjar kecil yang meneteskan cairan khusus darinya dan melalui itu, makanan dicerna dan berubah menjadi cairan yang mengalir.

Tahap keempat, makanan masuk ke usus kecil. Pundi-pundi empedu meneteskan kelenjar besar yang bernama pankreas, cairan khusus di atas makanan, yang untuk mencernanya sangat lazimlah dan keharusan. Terdapat ribuan kelenjar kecil di dinding usus yang tetesan-tetesannya sangat berfaedah untuk pencernaan makanan.

Makanan di usus kecil berubah menjadi cairan yang encer, dan ketika itu, bahan makanannya disedot melalui dinding usus dan masuk ke darah. Kemudian darah menyampaikannya ke seluruh tubuh. Hati melalui detak-detak teraturnya menyampaikan zat-zat itu bersama dengan darah ke seluruh tubuh. Dengan demikian, masing masing sel-sel signifikan manusia mendapatkan makanan-makanannya yang sesuai.

Kini, berpikirlah sedikit, dengan adanya hubungan dan keberaturan yang mendetail yang berlangsung di antara anggota tubuh manusia dan fenomena-fenomena dunia lainnya, apakah mungkin seseorang mengatakan, manusia dan fenomena-fenomena dunia lainnya dengan sendirinya terciptakan?

Apabila kita merenungkan bangunan dalam wujud diri kita dan ketelitian yang begitu mendetail di dalam penciptaaan anggota tubuh dan susunan dan keteraturan yang begitu menakjubkan serta hubungan mendalam yang berlaku di antara anggota tubuh kita dan seluruh fenomena dunia, maka kita akan memperoleh sebuah persoalan bahwa manusia dan maujud-maujud lainnya tidaklah tercipta dengan sendirinya, melainkan memiliki pencipta yang menciptakan manusia dengan ilmu dan tadbir (kebijaksanaan yang teliti) dan memprediksikan semua keperluan manusia.

Adakah kekuatan selain dari kekuatan Allah Swt yang tiada batas yang mahabijaksana dan dapat menciptakan ketertiban dan kebersusunan yang menakjubkan di tengah fenomena-fenomena dunia? Apakah watak yang tidak memiliki kesadaran dan kehendak mampu menciptakan kelenjar-kelenjar ludah yang senantiasa membasahi mulut?

Apakah mulut kecil dan tabir penjaga batang tenggorokan? dengan tugasnya yang teramat berat-tercipta dengan sendirinya? Apakah semua kelenjar yang membasahi dinding lambung tiada yang menciptakannya? Kekuatan apakah yang memerintahkan kepada pankreas dan kantung empedu agar membasahi perut dengan cairan yang diperlukan terhadap makanan?

Apakah dua organ penting mengetahui nilai eksistensi dirinya? Kekuatan apakah yang memaksa hati sehingga tiada pernah berhenti-siang dan malam sibuk melaksanakan tugas dan menyampaikan bahan yang signifikan kepada negara-negara tubuh yang luas?!

Demikianlah adanya, selain dari Tuhan semesta alam dan Mahabijaksana, tiada seorang pun yang dapat mewujudkan keberaturan yang sungguh amat luar biasa ini di antara fenomena-fenomena dunia dan mengatur sistem penciptaan yang luar biasa.

Manusia yang paling pandai adalah

yang paling pandai belajar dari

pengetahuan orang lain dan

menambah ilmu pengetahuannya.

Dan, manusia yang paling bernilai

adalah orang-orang yang ilmunya

lebih luas, sementara manusia yang

paling tidak bernilai ialah mereka

yang tidak memiliki

pengetahuan sedikit pun

Masa Kanak-kanak

Kini marilah kita perhatikan sebagian besar dari kehidupan kita sendiri. Ketika kita lahir ke dunia, kita adalah maujud yang tidak bisa apa-apa. Kita tidak bisa berjalan untuk menyediakan makanan untuk diri kita. Bahkan tangan kita tidak mampu untuk mengambil makanan. Kita tidak memiliki gigi untuk mengunyah makanan, lambung kita tidak kuasa untuk mencerna makanan, sedangkan untuk anak-anak tiada makanan yang lebih sesuai daripada susu yang tidak dapat kita bayangkan.

Ketika kita lahir ke dunia oleh Allah, telah disediakan susu yang segar di buah dada para ibu kita. Kecintaan dan sayang telah ditanam pada jiwa ibu kita, agar ia mencintai dan menyayangi kita dan menjaga kita siang dan malam dan sama sekali tiada pernah mengeluh dan bosan menjaga dan mengasuh kita.

Setelah agak besar tangan, kaki, mata serta telinga dan lambung serta usus kita sudah lebih mampu, maka kita memerlukan makanan-makanan yang lebih berat, sedikit-demi sedikit gigi-gigi kita tumbuh di mulut kita dan kita dapat mengkonsumi makanan jenis lainnya.

Berilah Penilaian

Siapakah yang sedemikian mencintai kita dan saat kita masih kanak-kanak dan tidak mampu, telah memprediksikan semua kebutuhan kita? Siapakah Zat yang menciptakan bumi yang luas dan semua bintang besar dan matahari yang bersinar? Siapakah yang menciptakan alam raya ini dan menggerakkannya dengan teliti dan teratur? Siapakah yang mewujudkan siang dan malam secara kontinu dan musim semi dan musim panas dan lisan serta lambung, hati, paru-paru, ginjal, usus, tangan, kaki serta urat-syaraf dan organ tubuh lainnya?!

Apakah mungkin, watak yang tidak memiliki perasaan dan kehendak merupakan penyebab dari terwujudnya organ tubuh manusia dan hewan yang sangat menakjubkan, padahal, setiap dari organ tubuh, seperti mata sedemikian teliti dan detailnya sehinggga para cendekiawan sekalipun setelah melakukan penelitian yang begitu panjang, masih belum menguasai sepenuhnya detail dan keterperincian penciptaaan dan susunannya?

Adalah sangat mustahil, melainkan Allah Swt yang menciptakan segalanya, dan mengatur alam semesta? Allah Swt mencintai hamba-Nya dan menciptakan seluruh nikmat untuknya. Dialah yang selalu ada dan memberikan wujud atau eksistensi kepada ciptaan-Nya. Di hadapan-Nya, kita tunduk dan mematuhi perintah-perintah-Nya. Selain Allah tiada yang patut ditaati dan disembah, dan di hadapan selain-Nya, kita tidak akan (pernah) bersujud dan menghamba.

4 SEMUA PERLU TAHU

Setiap Maujud Mungkin (Mumkin al-Wujud) Memerlukan Sebab

Setiap dari maujud di alam penciptaan kalau kita teliti dan kita pikirkan bagaimana ia diciptakan, maka secara intuitif, kita memahami, bahwa kita sebenarnya tidak memiliki sesuatu apapun dari diri kita, dan wujud yang kita miliki bukanlah dari jenis wujud dzatiyah (wujud secara esensial). Di dalam zatnya, adalah kosong dari wujud dan 'adam serta memiliki potensi untuk ada ataupun tiada.

Maujud yang seperti ini dinamakan mumkin al-wujud. Misalnya, apabila kita memerhatikan air, maka secara intuitif, kita menyadari bahwa air merupakan sebuah hakikat selain dari wujud dan juga bukan 'adam. Bukannya secara dzatiyah menuntut wujud ataupun 'adam, melainkan tiada menuntut satu pun dari kedua tadi. Ia dapat menerima eksistensi ataupun ketiadaan.

Semua peristiwa dan fenomena-fenomena dunia seperti air, di dalam kedudukan zatnya, kosong dari wujud dan 'adam (ketiadaan). Di sini akal Anda menghukumi, maujud dan fenomena-fenomena dunia lantaran di dalam maqam zatnya adalah tiada. Apabila dikehendaki, maka haruslah ada faktor lain yang menghilangkan keperluan dan kekurangan dzatiyah-nya dan memberikan eksistensi kepadanya.

Seluruh fenomena dunia yang kurang dan cacat dari segi dzatiyah-nya dan bersifat memungkinkan, dan tiada memiliki kemandirian dan wujud, maka akan berujung dan berakhir dengan wujud yang sempurna dan mandiri serta tiada memerlukan yang eksistensinya, yaitu (disebut) 'ain adz-dzat. Baginya, ketiadaan dan kebinasaan tidaklah mungkin.

Wujud sempurna seperti ini kita sebut wujud niscaya-ada (wajib al-wujud) dan Tuhan semesta alam. Allah Swt adalah 'ain al-wujud. Ketiadaaan dan kebinasaan tidak bisa dibayangkan untuknya. Ia berdiri di atas wujud-Nya dan seluruh wujud yang lain memerlukan, dan bergantung, kepada-Nya serta mendapat wujud dari-Nya.

Sifat-sifat Allah

Sifat Allah secara keseluruhan terbagi menjadi dua bagian, yang pertama sifat-sifat tsubutiyah (positif) dan sifat-sifat salbiyah (yang dinafikan) atau sifat jamal dan jalal.

A. Sifat-sifat Tsubutiyah

Setiap sifat yang bermuara dari kesempurnaan inti wujud dan menambah nilai wujud yang disifatinya, dan menyempurnakan zatnya-dengan syarat kejasmanian yang disifati dan perubahannya tidaklah dilazimkan-maka itu dinamakan sifat tsubutiyah atau sifat jamal, seperti ilmu, qudrah, kehidupan, berbicara, dan iradah (berkehendak).

Jika kita membandingkan dua maujud secara bersamaan, yang salah satunya adalah alim dan lainnya jahil, maka secara intuitif kita memahami bahwa maujud adalah seorang alim yang lebih sempurna dan lebih berpengaruh dan bernilai dari yang jahil. Dari situlah, kita dapat menghukumi bahwa ilmu merupakan salah satu dari kesempurnaan ashalat al-wujud. Sifat-sifat kesempurnaan lainnya, dapat kita kenali dengan perbandingan yang seperti ini.

Allah Swt memiliki semua sifat kesempurnaan (kamaliyyah) dan keagungan (jamaliyyah) dan semua itu adalah tsabit (tetap) bagi zat-Nya. Untuk membuktikan persoalan ini, kami akan mencukupi dengan dua dalil sederhana.

Dalil pertama, setiap kesempurnaan dan kebaikan yang ada di dunia semuanya itu diciptakan oleh Allah yang diberikan kepada maujud-maujud yang ada.

Karena itu, sebagaimana makhluk-makhluk di dalam inti wujudnya memerlukan Allah, kesempurnaan wujud dan sifat jamal juga memerlukan Allah. Sebagaimana halnya, inti wujud diberikan oleh Allah kepadanya dan sama sekali tiada memiliki kemandirian, mereka memperoleh kesempurnaan wujud dari Allah, maka pencipta semua maujud dan sifat kesempurnaaan mereka adalah Allah.

Kini, setelah Anda sedikit merenung, maka akal Anda akan mengatakan, Allah Swt yang memberikan semua kesempurnaaan kepada makhluk-makhluk-Nya ini.

Adalah tidak mungkin zat-Nya sendiri hampa dari kesempurnaan-kesempurnaan itu. Bila Dia tidak memiliki, maka Dia tidak akan dapat memberikannya kepada yang lain, karena sumber dan muara kesempurnaan tiada akan kosong dari-Nya. Lampu apabila ia sendiri tidak menyala, maka ia tidak akan dapat menjadi dian pelita bagi lain-lainnya. Minyak apabila ia tidak lumas ia tidak akan dapat melumasi benda-benda lainnya. Begitu juga kalau air tidak basah, maka ia tidak akan dapat membasahi lain-lainnya.

Dalam sebuah syair Persia dikatakan:

Zat yang tidak memiliki wujud,

lalu bagaimana ia akan dapat memberikan wujud?

Dalil kedua, zat Allah adalah eksistensi mutlak dan tiada sedikit pun memiliki batasan. Karena ia tidak terbatas dan kurang, maka tidak memerlukan selain-Nya.

Wujudnya tidak diambil dari selain-Nya, yakni wajib al-wujud. Karena itu, setiap sifat dari kesempurnaan wujud adalah permanen untuk Allah. Zat-Nya terhadap diri-Nya, tiada memiliki batasan dan tiada akan pernah kehilangannya. Apabila Zat Allah tidak memiliki kesempurnaan, maka ia akan memerlukan dan terbatas, dan wajib al-wujud, dan tiada akan kaya secara zat-Nya.

Dari dalil ini dan dalil sebelumnya, dapat dipetik suatu kesimpulan bahwa Zat Allah Swt pencipta alam semesta adalah sempurna dari segala sisi dan tiada terbatas dan memiliki semua kesempurnaan wujud dan sifat tsubutiyah.

Sebagian Sifat Tsubutiyah

1. Qudrah (kekuatan). Allah Swt adalah berkuasa dan mahakuat. Artinya, segala perbuatan yang memungkinkan, yang Dia kehendaki, Dia dapat melakukannya. Ia tiada pernah lemah untuk melakukan segala perbuatan, dan tiada pernah terpaksa untuk melakukannya dan kemampuan dan kekuasaan-Nya tiada terbatas.

2. Ilmu. Allah Swt adalah Maha Berilmu dan Bijaksana. Artinya, ia mengetahui segala sesuatu dan menguasai segala maujud dan fenomena dunia keilmuan. Tiada sesuatu apapun yang tersembunyi pada pandangan-Nya. Bahkan dia mengetahui pikiran dan niatan para hamba-Nya. Dalam semua keadaan, Dia mengetahui segala sesuatu.

3. Hidup atau hayat. Ia hidup artinya maujud yang melaksanakan perbuatannya atas dasar ilmu dan kekuatan serta kehendak. Allah Swt tidak seperti maujud-maujud hidup lainnya yang kehidupannya melalui bernapas atau gerak dan makan. Namun, lantaran perbuatan-perbuatan-Nya dilakukannya atas dasar ilmu dan kekuasaaan, maka kehidupannya stabil untuk-Nya.

4. Berkehendak (iradah). Allah Swt berkehendak, yakni perbuatan-perbuatan-Nya dilaksanakan atas dasar kehendak dan niat, dan tidaklah seperti api yang dalam membakar, tidak ada kehendaknya. Wujud Allah Swt adalah wujud yang sempurna, yang bekerja dengan kehendak dan tidaklah cacat pelaku yang tidak memiliki kehendak.

5. Melihat. Allah Swt Maha Melihat, yakni Dia melihat segala peristiwa dan fenomena yang dapat dilihat dan tiada satu pun fenomena yang gaib di hadapan-Nya.

6. Mendengar. Allah Swt mendengar, artinya Dia mendengar segala sesuatu yang didengar, dan tiada lalai dari suara apapun.

7. Qadim dan abadi. Allah Swt bersifat qadim, yakni selalu ada dan tiada didahului dengan ketiadaan. Ia abadi maksudnya akan selalu ada dan tiada memungkinkan ketiadaan dan kebinasaan bagi-Nya.

8. Allah Swt adalah eksistensi mutlak. Wujud-Nya adalah Zat-Nya itu sendiri. Dari itulah, dalam wujud, Dia tidak memerlukan selain-Nya dan selalu ada dan akan selalu ada. Tiada orang yang memberinya wujud sehingga Dia harus memuji lainnya. Allah lebih mulia dari waktu dan maujud-maujud zaman dan tiada berlaku kepadanya masa lalu dan akan datang.

9. Takallum (berbicara), yakni Ia dapat mengungkap hakikat untuk orang lain dan memahamkan maksudnya kepada mereka.

Sifat-sifat seperti ini dinamakan sifat tsubutiyah dan telah ditetapkan untuk Zat Allah.

Catatan yang Diperlukan

Lantaran kita manusia tidak sempurna dalam zat dan sifat kita, maka kita tidak dapat melakukan suatu pekerjaan tanpa indra dan sarana jasmaniah. Kita memiliki kekuatan, namun tanpa campur tangan anggota badan, maka kita tidak akan dapat melakukan suatu pekerjaan. Kita memiliki daya dengar, namun tanpa telinga dan urat syaraf, kita tidak akan mampu mendengar.

Kita memiliki kekuatan atau daya melihat, namun tanpa bantuan mata dan urat syaraf, kita tidak akan dapat melihat. Akan tetapi, Zat Allah, karena berada pada puncak kesempurnaan, dan sifat-Nya berada dalam batas tinggi kesempurnaaan, maka Ia melihat tanpa mata, mendengar tanpa telinga, dan bekerja tanpa anggota tubuh dan memahami tanpa urat syaraf dan otak.

Jalan untuk melihat dan mendengar bukanlah hanya terlaksana dengan mata dan telinga. Sehingga sekiranya, melihat dan mendengar berlaku tanpa indra, maka kita akan mengatakan bahwa itu bukan melihat dan mendengar. Padahal, hakikat melihat dan mendengar tiada lain adalah hal-hal yang dilihat dan didengar yang tidak tersembunyi atau tertutup bagi seseorang meskipun tanpa keterlibatan indra.

Sekiranya kita dapat melihat tanpa keterlibatan mata dan mendengar tanpa keterlibatan telinga, maka sudah pasti itu dapat dikategorikan sebagai melihat dan mendengar. Sebagaimana halnya, di alam mimpi, kita melihat dan mendengar tanpa mata dan telinga biasa.

Akan tetapi Tuhan semesta alam, lantaran Dia berada di puncak kesempurnaaan wujud dari sisi Zat dan Sifat, perbuatan-Nya berbeda dengan perbuatan-perbuatan manusia dan tiada istilah keperluan dan kekurangan di dalam pekerjaan-Nya.

Sifat Zat dan Sifat Perbuatan

Sifat tsubutiyah Allah secara garis besar terbagi menjadi dua bagian, sifat zat dan sifat perbuatan. Sifat zat adalah sifat-sifat yang senantiasa tetap untuk Zat Allah dan ketetapannya tidak bergantung terhadap sesuatu yang lain seperti ilmu, kuasa, dan hidup. Sifat-sifat ini senantiasa tetap pada zat Allah dan ketetapannya tidaklah bergantung atau bersandar terhadap wujud lainnya, melainkan 'ain ad-dzat itu sendiri. Allah Swt alim dari dahulu dan sampai kini dan seterusnya, bahkan sebelum ia menciptakan maujud. Dia berkuasa sebelum menciptakan sesuatu maqdur (yang ditetapkan). Dia selalu hidup. Allah Swt adalah ilmu itu sendiri, kekuatan, dan kehidupan itu sendiri. Kedudukan zat Allah Swt tidaklah kosong dari ilmu dan qudrah, sebab kalau tidak demikian, maka ia terbatas dan tidak sempurna dan memerlukan sesuatu, dan sesuatu zat yang terbatas dan naqish (tidak sempurna), ia tidak akan dapat menjadi wajib al-wujud.

Sifat Fi'il (perbuatan): sifat-sifat yang diambil dari sebagian kerja-kerja Allah, dinamakan sifat fi'il, seperti al-khaliq, ar-raziq, jawad, dan ghafur. Disebabkan Allah menciptakan maujud-maujud, maka dinamakan al-khaliq (pencipta), dan karena dia memberi rezeki, maka dinamakan ar-raziq. Dan karena dia memberi, maka dinamakan dengan al-jawad (yang dermawan). Dan karena, ia menutup aib-aib dan dosa-dosa hamba-Nya, maka ia dinamakan dengan al-ghafur. Sifat-sifat yang seperti ini, pada dasarnya menunjukkan sejenis hubungan khusus yang berlangsung antara Allah dan makhluk-makhluk-Nya.

Sebuah Hadis

Husein ibn Khalid mengatakan, aku mendengar dari Imam Ridho as yang berkata: " Allah swt senantiasa alim dan qadir dan hayyu (hidup) dan qadim serta maha mendengar dan melihat. Lantas aku bertanya kepada beliau: "Yabna Rasul, ada sekelompok orang yang mengatakan, Allah SWT senantiasa alim, tetapi ilmunya adalah lain atau terpisah dari dzatnya, dia qadim, tetapi keqadimannya itu merupakan tambahan dari dzatnya. dia maha mendengar, tetapi mendengarnya itu di luar dzatnya, ia bashir (maha melihat), tetapi penglihatannya terlepas dari dzat-Nya; Imam Ridho as mengatakan: "Barang siapa yang meyakini bahwa sifat-sifat Allah adalah terpisah dari dzatnya dan dianggapnya qadim, maka ia tergolong musyrik dan bukanlah pengikut kami. Allah SWT senantaiasa alim, qadir, dan hayyu serta qadim, bashir dan sami'. Akan tetapi, sifats-fat inin merupakan Zat-Nya itu sendiri.'"

5 SEMUA PERLU TAHU

B. Sifat-sifat Salbiyah

Setiap sifat yang menunjukkan bahwa Allah tidak memiliki kekurangan dan aib (cela), maka itu dinamakan dengan sifat-sifat salbiyah dan sifat jalal. Dzat Allah adalah sempurna, dan sama sekali tidak memiliki kekurangan dan cacat. Setiap sifat yang merupakan kekurangan untuk Allah--haruslah dinafikan dari Allah.

Sebagian sifat salbiyah

1. Allah swt tidak terdiri dari beberapa bagian atau susunan, setiap maujud yang terbuat dari dua bagian atau lebih, maka ia dinamakan murakkab. berbeda dengan Allah swt , dia bukan murakkab dan tidak memiliki bagian, karena setiap yang murakkab rangkapan, ia memerlukan bagiannya.

Allah adalah satu dan tidak memiliki

sekutu dalam penciptaam dunia. Allah

adalah pelaksana semua urusun dunia

ini dan selain-Nya tiada pencipta dan

pemberi. Semua maujud dari yang

besar hingga yang kecil, adalah

ciptaan Allah. Dalam

menciptakannya, Dia tidak

memerlukan bantuan

Tanpa keberadaan bagian-bagiannya itu, ia mustahil menemukan wujudnya. Sekiranya Allah adalah murakkab, maka mau tidak mau dia memerlukan bagian-bagiannya. Dan dzat yang memerlukan dan memiliki kekurangan, ia tidak dapat dinamakan wajib al wujud. Selain dari itu, setiap yang murakkab memerlukan penyebab agar membentuk atau menyusun bagian-bagiannya dan mewujudkan sebuah murakkab dari penyatuannya.

Sekiranya Allah itu murakkab, maka ia memerlukan illah (penyebab). Sedangkan dzat yang tidak sempurna dan memerlukan penyebab, maka ia tidak bisa dinamakan dengan wajib al wujud.

2. Allah swt bukanlah jisim (materi), karena jism adalah murakkab, dan sebelumnya telah dibuktikan bahwa Allah bukan murakkab, maka ia juga otomatis bukan materi. Disamping itu, setiap jism memerlukan tempat dan untuk berada di tempat itu, dan ia tidak akan menemukan wujud tanpa tempat, sedangkan Allah yang menciptakan tempat itu sendiri, ia tidak memerlukan semua itu. Maujud yang berupa fisik atau jism, dan memerlukan tempat, ia bukanlah wajib al-wujud.

3. Allah SWT tidak bisa dilihat, yakni, ia tidak dapat dilihat oleh mata. Karena, hanyalah jism (benda) dan kekhususan jisim yang dapat dilihat dengan mata, sedangkan sebelum ini telah dibawakan dalilnya bahwa Allah bukanlah jism, dari itulah, Allah tidak akan dapat dilihat dengan mata.

4. Allah tidak jahil dan dungu, karena sebelum ini--di dalam pembahasan sifat stubutiyah telah terbuktikan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, dan ilmunya tiada terbatas, kejahilan dan kedunguan merupakan suatu kekurangan dan cela yang tidak memiliki celah untuk memasuki wujud Allah yang sempurna.

5. Allah swt tidak lemah, karena sebelumnya--dalam pembahasan qudrah telah terbuktikan bahwa Allah SWT memiliki kemampuan untuk melakukan apa saja dan ia tidak lemah untuk melakukan apa saja yang bersifat mungkin, dan bagi kekuasaannya tidak dapat digambarkan adanya batas. Kelemahan dan ketidakmampuan merupakan suatu aib dan kekurangan yang besar yang tidak berlaku untuk dzat Allah yang sempurna.

6. Tidak berlaku perbuhan dan peristiwa di dalam dzat Allah. Perubahan dan yang menyerupainya tidak terjadi di dalam wujud-Nya, dia tidak menjadi tua, tidak sakit, tidak lupa , tidak penat dan tidur, dan tidak pernah menyesal karena melakukan sesuatu perbuatan, karena sifat -sifat sejenis ini merupakan pengaruh dari jasmani dan metarial, dan karena--sebelumnya telah terbuktikan bahwa Allah bukan jism dan meteri, maka di dalam wujud Allah tidak terjadi peristiwa atau kejadian yang seperti ini.

7. Allah SWT tidak memiliki sekutu, dan anda akan membaca dalil persoalan ini di dalam pembahasan tauhid.

8. Allah tidak memiliki tempat, dan tidak berada di tempat, bukan di langit, bukan di bumi, karena ia bukan jisim, sehingga menempati satu tempat.

Allah yang menciptakan tempat, maka ia lebih mulia dan lebih tinggi dari tempat, dan tidak memerlukannya. karena ia menguasai semua maujud. Tiada satupun wadah yang dapat cukup menjadi wadah atau tempat bagi wujud-Nya, dia ada di mana-mana dan berkuasa dan muhith terhadap segala sesuatu, tetapi bukannya dengan arti, dia seperti benda yang besar yang menempati dan mengisi seluruh penjuru bagian dunia ini , melainkan karena dia adalah wujud yang mutlak, dan tiada terbatas dengan batasan apapun, dan tidaklah bergantung kepada tempat, maka ia berkuasa ( muhith) terhadap segala sesuatu dan tiada terpisah dari-Nya. Untuk Allah, tidak dapat dikatakan, di sini dan di sana.

Adapun, mengapa kita menengadahkan tangan kita ke langit sewaktu berdoa, hal itu bukannya , kita meyakini Allah berada di langit, melainkan, kita ingin dengan cara ini, menunjukkkan kehinaan dan ketidakmampuan kita dan menggambarkan seorang peminta yang gelisah dan benar-benar memerlukan.

Jika kita menamakan masjid dan Ka'bah sebagai rumah Allah, hal itu lantaran, Allah disembah di sana, dan dia sendiri yang memberikan kemuliaan kepada rumah itu dan menyebutnya sebagai rumah-Nya.

9. Allah SWT tidak memerlukan, dan ia tiada memerlukan terhadap apapun jua dan siapapun juga, karena dzat Allah adalah sempurna dari segala sisi, dan tidak memiliki kekurangan sehinggga memerlukan yang lainnnya, jika ia memerlukan sesuatu, maka ia kurang dan terbatas, dan bukan wajib al wujud.

Dan bila Allah menentukan kewajiban-kewajiban serta tugas, hal itu bukan lantaran , dia memerlukan shalat dan puasa serta ibadah kita, melainka dia ingin mensucikan dan menerangi ruh dan jiwa kita melalui ibadah serta perbuatan perbuatan yang baik, sehingga kita menemukan kelayakan untuk kehidupan akhirat yang baik dan menggunakan nikmat-nikmatnya yang abadi.

Dan apabila dia menghendaki agar kita mengeluarkan zakat dan khumus atau shodaqoh, serta berbuat baik kepada manusia-manusia sejenis kita, serta berada di barisan tedepan dalam kebajikan kebajikan sosial, bukan karena dia memerlukan bantuan materi kita, melainkan, semua perintah tadi ( khumus, zakat dan shodaqah mustahab ) merupakan sebuah keharusan dan kepereluan bagi pengelolaan urusan sosial kita dan menguntungkan bagi bangsa secara umum.

Dan Allah mewajibkan penunaian sebagian dari perintah itu dan ada juga yang tidak sampai diwajibkan melainkan sangat ditekankan seperti memberi sedekah, dan membangun hal hal yang manfaatnya kembali kepada publik.

Disamping itu, membelanjakan harta di jalan Allah dan membantu serta berbuat ihsan kepada orang-orang yang memerlukan serta membangun hal hal yang baik, ia sendiri merupakan sejenis ibadah besar yang menyebabkan kesempurnaan jiwa dan meraih pahala pahala akhirat.

10. Allah SWT tidak dzalim , anda akan membaca dalil dari persoalan ini di dalam pembahasan keadilan.