Tuhan Menurut Al-Quran (bagian pertama)

Tuhan Menurut Al-Quran (bagian pertama)0%

Tuhan Menurut Al-Quran (bagian pertama) pengarang:
Kategori: Ushuludin

Tuhan Menurut Al-Quran (bagian pertama)

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

pengarang: AS-SHAHID SAYYID MUHAMMAD HUSAYNI BEHESTI
Kategori: Pengunjung: 906
Download: 300

Komentar:

Tuhan Menurut Al-Quran (bagian pertama)
Pencarian dalam buku
  • Mulai
  • Sebelumnya
  • 13 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 906 / Download: 300
Ukuran Ukuran Ukuran
Tuhan Menurut Al-Quran (bagian pertama)

Tuhan Menurut Al-Quran (bagian pertama)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

TUHAN MENURUT AL-QURAN

Behesthi, Sayyid Muhammad Husayni

Penerjemah : Arif Mulyadi

Penerbit : Al- Huda

PRAWACANA

TEMA metafisika merupakan bagian pengetahuan yang paling penting dalam al-Quran. Kekayaan wahyu ilahi ini bisa diakses oleh para pencari kebenaran.

Sejatinya, ajaran metafisika al-Quran merupakan dasar untuk memahami Islam. Dengan demikian, mengkaji tema-tema tersebut merupakan hal penting guna pemahaman Islam yang benar. Karena alasan inilah, selama empat belas abad silam sejarah Islam, sebagian dari sarjana Muslim yang paling masyhur telah mencurahkan diri mereka untuk penelitian lema itu dan mengkaji ajaran-ajaran tersebut. Berkat usaha mereka, telah banyak buku berharga yang diwariskan kepada generasi penerus yang membahas tema-tema metafisika.

Sayangnya, tidak semua kajian tersebut yang telah dibuat dan buku-buku yang telah ditulis sepenuhnya bebas dari prasangka dan prakonsepsi pribadi dalam satu atau lain cara. Kadang, kita menemukan karya-karya dari sejumlah ulama terhormat dan besar yang telah berkarya di bidang ini terpengaruh oleh prasangka dan kepicikan pikiran mereka. Tentu saja, ini mengurangi keabsahan karya-karya mereka dan melemahkan watak “suci dan

pencarian kebenaran” yang seharusnya menjadi jaminan dari semua upaya ilmiah yang sesungguhnya.

Sebuah Pendekatan Baru yang Objektif

Mereka semua yang menginsyafi kekurangan-kekurangan itu dalam karya-karya tertulis, yang sampai sekarang memperhatikan ajaran-ajaran al-Quran, merasakan kebutuhan untuk memahami ajaran-ajaran Islam, sebagaimana yang dilukiskan oleh al-Quran dan sunnah dalam sebuah metode baru sepenuhnya, yakni: ilmiah, objektif seutuhnya, juga bebas dari prasangka.

Sesungguhnya untuk melakukan kajian ilmiah, objektif, dan bebas prasangka di bidang sains-sains ilmiah secara relatif merupakan tugas ringan. Di masa lalu, penelitian bebas di bidang-bidang ini mengalami kemunduran penting, tapi kini menikmati atmosfer yang menggembirakan dan telah melewati masa krisis. Sekarang, faktanya adalah bahwa seorang peneliti yang berusaha melakukan sebuah kajian objektif dan investigatif atas masalah-masalah tersebut mungkin menghadapi pertanyaan berikut: Mungkinkah, dalam kajian-kajian keagamaan, menggunakan penelitian seutuhnya, dan metode objektif sepenuhnya bebas dari pendapat subjektif dan prasangka pribadi? Prasyarat utama dari sebuah penelitian objektif adalah bahwa seorang peneliti mesti bebas dari segala jenis prasangka entah tuntutan pribadi, sosial, ataupun politis, atau tuntutan jenis lainnya yang bisa mempengaruhi pemahamannya atas masalah ini. Persoalannya adalah: apakah kebebasan semacam itu secara praktis dimungkinkan dalam bidang agama? Jika seorang peneliti menganut agama tertentu, tidakkah ia secara tak terelakkan menunjukkan keabsahan bahwa agama akan menyerangnya secara lebih kuat ketimbang bukti yang menentangnya? Apa solusi untuk masalah ini? Haruskah kita mempercayakan tugas penyelidikan dari aktivitas semacam ini kepada mereka yang tidak percaya terhadap agama manapun?

Pendekatan semacam itu bisa membuahkan hasil yang berlimpah menyangkut isu-isu minor tertentu, namun ia tidak berhasil menyangkut isu-isu utama agama khususnya, pertanyaan inti dari sebuah agama.

Tidak loyal kepada dua sisi bisa menyebabkan kecenderungan otomatis terhadap posisi lain. Seseorang akan cenderung terhadap sebuah posisi jika tidak percaya akan eksistensi Tuhan, kebenaran wahyu, dan misi para nabi, khususnya misi Nabi Muhammad saw.

Menurut kami, dalam masalah kajian keagamaan, jika ada harapan, itu pasti ada pada orang-orang tersebut yang tidak dipengaruhi oleh kecenderungan. Hanya jenis orang-orang ini yang condong untuk belajar dan siap untuk mengubah pandangan-pandangan mereka, sekiranya mereka dihadapkan pada keterangan yang membuktikan bahwa kebenaran merupakan sesuatu selain dari apa yang mereka percayai sampai sekarang. Orang-orang semacam itu percaya bahwa keyakinan menjeluk cdan tak tergoyahkan merupakan sesuatu yang satu-satunya keyakinan yang didasarkan pada keterangan yang jelas dan tak bisa ditolak. Orang-orang semacam itu selalu bersandar pada penalaran, dan siap untuk melayani perubahan apapun, selama mereka memegang secara kuat pandangan-pandangan yang ditunjang oleh bukti dan akal.

Sebuah Langkah dalam Arahan Ini

Buku ini, yang disajikan kepada para pencari kebenaran, ditujukan sebagai suatu langkah menuju pencarian objektif terhadap isu-isu metafisika dalam al-Quran. Penulis tidak mengklaim bahwa langkah ini merupakan langkah yang sempura, bebas dari kekurangan atau kelemahan. Ia percaya bahwa suatu penyelidikan atas topik ini mesti ditunaikan di lingkungan Islam. Sesungguhnya, penulis bersyukur kepada Allah Swt dan menganggapnya sebuah sukses besar jika ikhtiarnya terbukti menjadi langkah baru terhadap sebuah pemahaman atas ajaran hakiki al-Quran dan membuka sebuah temuan baru kepada realisasi ideal ini.

Saya harap bahwa ketika melangkah di atas jalan kajian metafisis, sebuah jalan yang bergelombang kita semua akan dirahmati dengan petunjuk Allah dan dilindungi dari setiap penyimpangan.

Sayyid Muhammad Husaini Behesyti

Teheran

27 Syahriwar 1352

20 Sya'ban 1393

Catatan Penerjemah Bahasa Persia

BUKU ini merupakan sebuah kajian metafisika, yang membahas pelbagai argumen filosofis ihwal keberadaan Tuhan dengan rujukan khusus kepada konsep Tuhan dalam al-Quran. Pengarang percaya bahwa ajaran metafisika al-Quran merupakan bagian pengetahuan yang terpenting.

Studi ini didasarkan pada sumber-sumber orisinal. Penulis mengutip pelbagai teks untuk mempermudah pembaca membandingkan pandangan-pandangan yang berbeda. Buku ini dibagi dalam lima bab di luar kata pengantar. Setelah menjelaskan tujuan utama risalahnya, Ayatullah Behesyti memulai diskusi mengenai istilah-istilah dan isu-isu metafisika dengan rujukan kepada berbagai argumen filosofis tentang eksistensi Tuhan. Selanjutnya ia menguraikan doktrin monoteisme (tauhid) dalam al-Quran. Ia membahas isu nama dan sifat Tuhan dalam al-Quran dan kitab-kitab suci lainnya.

Dalam menerjemahkan buku ini, saya amat berutang budi kepada Prof. Wahid Akhtar; Ketua Jurusan Filsafat Universitas Muslim Aligarh yang mendorong saya untuk melakukan proyek terjemahan ini. Terima kasih juga kepada Tn. Syahyar Sadat yang menerjemahkan satu bab dan buku ini; kepada Dr. ‘Ali Atsar atas saran-sarannya yang berharga untuk terjemahan buku ini yang lebih baik. Saya pun berutang budi kepada Penerbit IPO (International Publishing Co.), yang menerbitkan buku otoritatif ini yang mengandung pemikiran-pemikiran yang menggairahkan.

‘Ali Naqi Baqirsyahi

BAB I: Dari Sains Alam ke Metafisika

Langkah Pertama pada Jalan Pengetahuan

ADA sejumlah sarjana yang berpandangan bahwa ikhtiar manusia untuk mencari pengetahuan dimulai dengan upaya memahami alam. Tentu saja, upaya ini, pada mulanya, sangat terbatas dan dangkal. Upaya itu terdiri atas pengidentifikasian kualitas-kualitas seperti warna, bentuk, aroma, cita rasa, suhu, dan ketajaman dalam objek-objek serta makhluk-makhluk di mana manusia berhubungan. Bentuk primordial dari pengetahuan ini tidak banyak berbeda dari bentuk pengetahuan yang dicapai oleh banyak binatang lain mengenai lingkungan hidup mereka.

Kelebihan manusia atas hewan lainnya terletak pada pencarian pengetahuannya yang tidak pernah berhenti pada tataran umum. Manusia telah mencoba secara konstan untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuannya. Pengalaman historis ekstensif menunjukkan bahwa manusia antusias dalam mengejar pengetahuan yang lebih tinggi dan menolak untuk membatasi upaya-upayanya dalam hal ini.

Salah satu pertanyaan yang paling memicu perdebatan tentang eksistensi manusia adalah: apakah motif di balik nilai pengetahuan tak terbatas dari manusia? Apakah nilai semacam itu merupakan salah satu dari dorongan bawaan manusia, suatu rasa dahaga yang sebelumnya terpenuhi dan barangkali tidak akan pernah terpuaskan sepenuhnya? Atau, apakah nilai pengetahuan dan pemahaman tersebut bukan suatu dorongan inheren pada manusia melainkan sebuah alat yang dengannya ia berharap memuaskan naluri dan kebutuhan serta hasrat mendasarnya?

Tidaklah gampang memberi jawaban jelas dan definitif atas pertanyaan semacam itu, dan kita tidak akan segera menyentuh mereka dalam diskusi kita sekarang ini. Apapun motivasinya untuk mencari pengetahuan dan kearifan, satu hal yang sangat jelas adalah, setelah melewati setiap langkah, manusia telah menyiapkan langkah berikutnya dijalan pembelajaran dan ia tidak pernah menghentikan perjuangan dan upayanya dalam pencariannya guna mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih dalam.[1]

Pengetahuan Ilmiah tentang Alam

Setelah mendapatkan pengetahuan dangkal dan sederhana, manusia ingin mendapatkan wawasan yang lebih jeluk terhadap alam semesta. Ia berusaha meraih pengetahuan ihwal struktur dalam dari objek-objek alamiah, hubungan mereka satu sama lain, dan sebab-sebab kemunculan dan keruntuhannya.

Informasi raihan manusia yang awalnya “tidak berharga” ini pada kelanjutannya terbukti banyak bermanfaat bagi dirinya, karena memudahkannya untuk meningkatkan standar kehidupannya. Setelah meraih hasil-hasil yang nyata, manusia dimotivasi untuk memperluas dan mengintensifkan pemahamannya akan alam. Pemahaman ini menjadi lebih jeluk, berbuah, dan luas, yang melahirkan pelbagai cabang sains-sains alam.

Pengetahuan “Bentuk dan Angka”

Marilah kita asumsikan bahwa manusia telah menjadi akrab dengan bentuk dan angka dalam tahap-tahap awal dari kajiannya tentang alam. Sudah tentu, pemahamannya akan bentuk dan angka berakar pada alam. Dengan kata lain, ia akrab dengan “bentuk konkret” dan “angka konkret”, bukan dengan “bentuk abstrak” dan “angka abstrak”.

Kedekatan dengan “bentuk dan angka konkret” semacam ini sangat produktif kepada manusia, sampai ke tingkat bahwa ia mencapai tahap perkembangan intelektual di mana ia mampu menyusun keputusan universal tunggal dari banyak konsep pengalaman menyangkut objek-objek semacam itu, yang memisahkan pelbagai kualitas dan karakteristik setiap objek dan menyusun konsep yang terpisah dan mandiri untuk masing-masing objek. Ia juga menata konsep khusus untuk bentuk dan angka. Konsep-konsep ini terlepas dari semua objek. Dengan kata lain, mereka sepenuhnya abstrak. Berkat upaya mental dan kreativitas intelektualnya, manusia mencipta “angka-angka matematis” dan “bentuk geometris” dalam pikirannya sendiri, yang membuka penemuan baru terhadap eksplorasi intelektual atas alam. Akibatnya, sejumlah peneliti tertarik pada temuan-temuan tersebut dan mulai mempelajari mereka.

Para peneliti ini melakukan kalkulasi yang sama sebagaimana yang digunakan oleh orang-orang dalam urusan mereka sehari-hari tentang “bentuk dan angka matematis”. Secara bertahap, mereka menemukan mata rantai antara angka-angka dan bentuk-bentuk yang tidak diketahui oleh mereka hingga masa itu.

Penemuan hubungan ini juga mengarahkan manusia terhadap pencarian pemahaman akan alam yang lebih baik, dan mengembangkan minat dalam penelitian ekstensif terhadap hakikat hubungan ini. Pada gilirannya, sebuah bidang kajian baru dihasilkan yang belakangan disebut “matematika”.

Pengetahuan Prinsip-prinsip Alam

lnvestigasi ilmiah terhadap fenomena alamiah dan sebab-sebab wujud mereka, secara perlahan, menarik perhatian sebagian peneliti kepada masalah baru. Dalam penelitian rnereka, rnereka telah rnenernukan bahwa setiap fenornena alamiah terwujud karena sejumlah sebab. Pada saat yang sarna, setiap sebab itu sendiri merupakan fenomena alamiah, sebab-sebab kemunculan mereka juga diketahui. Sekiranya sebab-sebab kernunculan dari fenornena ini tiada lain merupakan serangkaian fenornena alamiah, maka kita harus mencari sebab-sebab kemunculan mereka juga.

Dengan demikian, para pemikir ini mengajukan pertanyaan kepada diri mereka sendiri: apakah rantai sebab dan akibat alamiah ini berlanjut secara tak terbatas, atau apakah ia berakhir pada satu titik yang merupakan surnber dan asas semua wujud? Dan pabila rantai sebab-akibat ini berujung pada titik tertentu, apakah prinsip itu dan di manakah adanya?

Penempatan pertanyaan-pertanyaan semacam itu mengarah kepada penciptaan cabang-cabang pengetahuan baru.Tujuannya adalah untuk memahami prinsip-prinsip alam.

Metafisika

Aristoteles (384-322 SM), filosof besar Yunani, menulis risalah ekstensif tentang pemahaman prinsip-prinsip alam. Karya-karya ini merupakan bagian substansial dari semua karya ilmiah dan filosofisnya. Dalam koleksi terpilih ini, bagian tersebut segera disusul bagian mengenai sains-sains alam. Dalam bukunya al-Fihrist, Ibn Nadim (438 H) menulis bahwa penataan buku-buku tersebut adalah sebagai berikut: logika, fisika, teologi,[2] dan etika.[3]

Apakah penggolongan ini dibuat oleh Aristoteles sendiri atau oleh mereka yang menerbitkan buku-bukunya setelah kematiannya? Kamus Persia Moein (Moein Persian Dictionnary) mengatakan tentang masalah ini:

Aristoteles menempatkan seksi pembelajaran setelah sains-sains alam (fisika) dan menyebutnya metafisika.[4]

Tapi dalam Kamus Jerman, Brockhaus, dikatakan bahwa penggolongan yang sedang dibicarakan itu merupakan karya penerbit Aristoteles ketika ia berkata: “metafisika mencakup sebab-sebab ultimat dari objek yang berada di balik observasi dan pengalaman.” Secara etimologis, metafisika berarti “setelah fisika”. Sehingga, penerbit buku-buku Aristoteles menempatkan bagian ini dari sejumlah tulisannya setelah karya-karya fisika (sains-sains alamiah).[5]

Bagaimanapun, dalam koleksi karya-karya filsafatnya yang telah diwariskan kepada kaum peripatetik, yakni pendukung pemikiran Aristoteles (Aristotelian), bagian yang berkaitan dengan “pengetahuan prinsip-prinsip alam” menyusul bagian yang berkenaan dengan “pemahaman akan alam”, yakni sains-sains alamiah.

Dalam bukunya, al-Syîfâ, Ibn Sina (980-1036 M) mengatakan:

Ini merupakan keahlian keenam. Pada keahlian ketujuh, kami akan mengevaluasi kehidupan nabati, dan pada keahlian kedelapan, kami akan membahas kondisi binatang-binatang. Pada titik itu, kami akan menyelesaikan kajian perihal sains-sains alam. Selanjutnya kami akan membahas sains matematika dalam keahlian keempat. Semua ini akan disusul oleh teologi. Kami menutup buku ini dengan diskusi singkat tentang etika.[6]

Ibn Sina mulai membahas “matematika” setelah sains-sains alam. Hal ini diikuti oleh “teologi”, yakni “pengetahuan prinsip-prinsip alam”. Namun dalam naskah al-Syîfâ yang diterbitkan, penggolongan Aristotelian telah diikuti. Bagian yang membahas “teologi” segera menyusul bagian “sains-sains alam”. Bagian matematika tidak dimasukkan dalam naskah ini sama sekali.

Untuk keterangan lebih lanjut tentang masalah ini, lihat catatan nomor 1 pada lampiran di halaman akhir buku ini.

BAB II: Isu-isu Metafisika

Metafisika Aristoteles

ARISTOTELES mengawali bab metafisikanya dengan melakukan pengujian atas pandangan-pandangan para pendahulunya menyangkut prinsip-prinsip fenomena alamiah dan sebab-sebab pertama mereka. Dalam bukunya Alpha Minor, Aristoteles menunjukkan bahwa pencapaian pengetahuan akan realitas bukanlah tugas yang mudah.

Untuk menguji realitas merupakan sesuatu yang di satu sisi mudah dan di sisi lain sulit. Bukti atas pernyataan ini merupakan fakta bahwa tak seorang pun berhasil sepenuhnya memahami realitas atau realitas sepenuhnya tersembunyi dari siapapun. Ketika kita menilai setiap orang yang telah membincangkan alam, kita menyaksikan bahwa sebagian dari mereka gagal total meraih pengetahuan akan kebenaran sementara yang lainnya telah berhasil dalam mengetahui sebagian kecil darinya. Namun demikian, jika kita benar-benar menggabungkan semua bit dan kepingan pemahaman ini, hal itu terhitung sebagai kumpulan yang renting. Dengan demikian, meraih pengetahuan akan kebenaran dalam arti ini adalah mudah (dan mudah diakses oleh semuanya). Dengan referensi kepada fakta ini, kita lazimnya mengatakan: “Setiap orang mengetahui pintu rumah ini”.

Bagaimanapun, sebab-sebab kesulitannya adalah mustahil kiranya dapat mengetahui seluruh kebenaran atau memahami sebagian besar darinya. Hal ini mungkin ada dua sebab.[7] Pertama, kesulitan itu bersumber dari dalam diri kita sendiri.[8] Ia tidak terkait dengan realitas-realitas dunia eksternal yang menyangkut segmen alam yang betul-betul jelas dan tidak tertutupi. Akal kita laksana mata kelelawar di depan matahari.[9]

Selanjutnya, Aristoteles mengatakan bahwa bagaimanapun juga kita berutang kepada para pendahulu kita karena perkembangan intelektual kita. Ini disebabkan merekalah para perintis sains; atau mereka berbuat untuk menjaga buah penelitian dan upaya ilmiah mereka sendiri dan yang lainnya menyampaikannya kepada kita. Sebab itu, kita harns berterima kasih kepada dan menghargai mereka serta karya-karya mereka. Dalam bukunya Alpha Minor, Aristoteles mengatakan:

Rantai sebab-akibat pastinya memiliki titik awal. Pada titik ini, kita mesti memiliki sesuatu yang merupakan sebab tanpa merupakan akibat dari sebab lain.

Dalam buku ketiganya, Beta, Aristoteles membahas pandangan-pandangan yang berlawanan dengan idenya sendiri.

Dalam buku keempatnya, Gamma, ia memberi kita argumen-argumen logis yang dibutuhkan untuk diskusi ini. Khususnya mendiskusikan pertentangan tersebut secara terperinci.

Dalam buku kelimanya, Delta, ia menguraikan makna istilah yang digunakan dalam diskusi yang mengikutinya sehingga tiada lagi kesalahpahaman menyangkut makna setiap istilah khusus, dan tiada lain apa yang dimaksudnya harus dipahami oleh mereka.

Dalam buku keenam metafisikanya, Epsilon, Aristoteles mendiskusikan wujud aktual, wujud mental, dan wujud aksidental. Sementara dalam buku ketujuh dan kedelapan, ia membahas masalah-masalah seperti substansi, aksiden, prinsip-prinsip, dan makna data-data substansi.

Dalam buku kesembilannya, Theta, ia membahas masalah-masalah seperti unitas dan multiplisitas serta problem-problem yang terkait dengan itu semua.

Dalam buku kesepuluh, ia menjawab persoalan tentang gerakan dan mendiskusikan konsep-konsep terbatas dan mutlak.

Dalam buku kesebelas, Kappa, ia menyatakan kembali beberapa bagian tertentu dari buku ketiga, keempat, dan keenam berkenaan dengan topik-topik tertentu di bidang sains-sains alami untuk menyiapkan pikiran pembaca pada diskusi utama yang disusul wacana selanjutnya, yakni, buku keduabelas.

Selanjutnya, dalam buku keduabelas, subjek kajiannya adalah prinsip pertama atau sebab dari semua sebab. Dalam buku ketigabelas dan keempatbelas, secara kritis ia menguji pandangan-pandangan para pendahulunya menyangkut prinsip-prinsip alam.

Melalui rujukan ringkas ini kepada kandungan buku keempatbelas, ini berarti bahwa di antara semua subjek yang diperhatikan oleh Aristoteles dalam buku-bukunya, satu yang paling fundamental adalah pertanyaan tentang sebab pertama semua wujud yakni Tuhan. Tuhan merupakan sumber tunggal di mana rantai panjang sebab-akibat berasal dan berawal.[10]

Sebab pertama ini adalah substansi yang tidak bisa dilihat dan sumber keberadaan dari semua substansi lain baik yang bisa dilihat maupun yang tidak. Secara berulang-ulang, Aristoteles membahas nilai dan kedudukan tinggi dari bagian filsafat yang tujuannya membahas prinsip pertama dan sebab pertama. Di satu tempat, ia menyebutnya “yang paling suci”[11] dan “semulia-mulianya ilmu.”[12]

Originologi (Penyelidikan atas Sumber Ultimat Segala Sesuatu) Problem Pokok Metafisika

Menyusul diskusi sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa problem pokok dari metafisika menurut Aristoteles dan Ibn Sina adalah menemukan asal-usul dunia. Sementara masalah lainnya bersifat tambahan (subsidiary).

Apakah Eskatologi Merupakan Iso Metafisika?

Tiada satu diskusi pun tentang eskatologi dijumpai dalam metafisika Aristoteles. Lebih jauh, dalam naskah filsafat lainnya yang diinspirasi atau didasarkan pada filsafat Aristoteles, masalah-masalah pokok menyangkut hari akhir diperlakukan dalam ranah psikologi yang bagian dari sains alam. Isu pokok ini mencakup masalah. kenonmaterian (immaterialness) dan keabadian jiwa. Masalah-masalah itu tidak disinggung dalam pasal-pasal yang membahas metafisika. Misalnya, dalam bukunya al-Syîfâ, Ibn Sina telah mendiskusikan masalah-masalah ini dalam keahlian keenam dan mengaitkannya dengan sains alam. Shadr al-Muta’allihin (Mulla Shadra, w.1360 M) dalam kata pengantarnya untuk bukunya al-Mabda’ wa al-Ma’ad (Awal dan Akhir) secara jelas menyatakan bahwa eskatologi berkaitan erat dengan “fisika” (yakni sains alam):

Aku menganggap lebih baik bahwa buku ini harus meliputi dua keahlian yang berharga yang amat mendasar, dan hasilnya adalah dua ilmu besar: pertama, teologi (Rubbubiyyat) dan substansi-substansi terpisah (mufaraqat) yang diafiliasikan kepada ontologi dan filsafat umum, yang keduanya disebut etologi.[13] Kedua, psikologi yang terkait dengan fisika (sains alam). Kedua ilmu ini merupakan landasan pengetahuan dan kearifan, dan memasabodohkan keduanya berpengaruh kepada manusia di Hari Kebangkitan.[14]

Dengan demikian, dalam pandangan Mulla Shadra juga, eskatologi tidak digolongkan kepada metafisika. Kita akan melanjutkan persoalan bagaimana pandangan ini bisa diterima. Kita akan mencurahkan bagian terpisah untuk isu ini. Kini, mari kita lanjutkan diskusi kita tentang, dan penyelidikan atas, persoalan sumber ultimat dan sebab wujud.