• Mulai
  • Sebelumnya
  • 20 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 416 / Download: 105
Ukuran Ukuran Ukuran
Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah (1)

Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah (1)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

sejarah islam

Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah

by: O. Hashem

Jakarta

2004

BISMILLAHIRRAHMAN NIRAHIM

“Wahai orang­orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar­benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Al­Qur’an

Surah An­Nisa’: 135

Prakata Penulis

Buku‘Saqifah’ cetakan keempat oleh Yapi ini bertambah tebal hampir dua kali lipat dibandingkan cetakan sebelumnya. Kritik­kritik tertulis dalam bentuk buku dan artikel di beberapa majalah maupun kritik lisan dalam diskusi­diskusi khusus untuk membicarakan buku ini, memaksa penulis melengkapinya.

Pembaca dapat langsung mengikuti peristiwa Saqifah dengan meloncat ke bab 2; ‘Sumber’.

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada penulis ahli sejarah Islam Al Allamah, Habib Zainal 'Abidin bin Husain Al Muhdhar atas kebaikannya meminjamkan buku­buku yang sukar didapat.

Demikian juga kepada Ustadz Ahmad bin Abdurrahman Al Aydrus, seorang ahli sastra yang juga memberikan buku­buku yang penulis butuhkan. Juga kepada kawan yang penulis cintai Wancik Cherid yang selalu mendorong penulis untuk menyelesaikan buku ini. Penulis juga berhutang budi kepada banyak teman­teman yagg tidak mungkin penulis sebut satu demi satu.

Akhirnya kepada isteri penulis Hadijah yang dengan sabar membaca dan memberi catatan­catatan pada naskah buku ini.

Tanpa semua ini buku ini tidak mungkin ada.

Wabillahi Taufiq wal Hidayah.

Penerbit

Bab 1. Pengantar

Para sejarahwan, penafsir Al­Qur’an dan perawi terkenal sering membuat kesalahan dalam melaporkan suatu peristiwa. Mereka menerima berita­berita sebagaimana disampaikan kepada mereka tanpa menilai mutunya. Mereka tidak membandingkannya dengan laporan­laporan lain yang serupa. Mereka tidak mengukur laporan­laporan tersebut dengan ukuran­ukuran filsafat, dengan bantuan pengetahuan hukum alam, tidak juga dengan bantuan renungan dan wawasan sejarah. Mereka lalu tersesat dari kebenaran dan hilang dalam padang pasir perkiraan dan kesalahan­kesalahan yang tak dapat dipertahankan.

Ibnu Khaldun

Sekitar dzuhur, hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 H bertepatan dengan 8 Juni 632 M, Muhammad saw, acuan umat Islam, pelakon drama kemanusiaan yang terbesar dalam sejarah, wafat. Dan pada petang hari itu juga seorang sahabat nabi, Abu Bakar diangkat menjadi khalifah di Saqifah Bani Saidah, sebuah Balairung milik klan Saidah yang terletak sekitar 500 meter sebelah Barat masjid Nabi.

Pembaiatan[1] Abu Bakar sebagai khalifah pertama di Saqifah Bani Sa’idah, adalah peristiwa yang berekor panjang. Abu Bakar dan Umar sendiri kemudian mengakuinya sebagai tindakan keliru yang dilakukan secara tergesa­gesa, faltah[2] Peristiwa ini telah menimbulkan perpecahan pertama dan terbesar yang kelanjutannya terasa sampai di zaman ini.

Naskah­naskah sejarah tradisional, tarikh an­naqli, yang tertera dalam buku­buku sejarah lama, yang beredar dan tersebar luas, telah memungkinkan para ahli membuat rekonstruksi peristiwa besar itu.

Pepulis membuat rekonstruksi peristiwa Saqifah berdasarkan pidato Umar bin Khaththab dalam khotbah Jum’at­nya yang terakhir. Khotbah ini didengar banyak orang dan dicatat oleh hampir seluruh penulis sejarah lama dengan isnad yang lengkap dan melalui banyak jalur, sehingga pidato Umar ini diterima oleh semua ahli sebagai sumber yang patut dipercaya.

Naskah tertua yang mencatat pidato Umar ini ialah as­Sirah an Nabawiyah, yakni riwayat hidup Nabi Muhammad saw karya Ibnu Ishaq, yang sampai kepada kita melalui “revisi” Ibnu Hisyam. “Celah­celah” pidato Umar ini kemudian diisi dengan sumber lama lainnya, sehingga pembaca dapat mengikuti peristiwa itu dalam satu rangkaian yang terpadu.

Bagi yang dapat membaca dalam bahasa Arab, tersedia banyak buku mengenai peristiwa itu, baik yang ditulis secara khusus, maupun yang terselip dalam rangkaian tulisan lain. Dua buku semacam itu adalah as­Saqifah oleh Syaikh Muhammad Ridha al­Muzhaffar dan As­Saqifah wa’l­ Khilafah oleh ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud.[3]

Bagi pembaca awam perlu diingatkan, bahwa menulis sejarah tidak sama dengan menulis buku dakwah untuk memperkuat keyakinan yang telah lama dianut.

Penulis sejarah menulis apa adanya; tulisannya dapat berbeda dengan hipotesa atau keyakinannya semula. Dalam menulis suatu peristiwa sejarah ia harus mengumpulkan. semua laporan tentang peristiwa tersebut dan harus bertindak sebagai hakim di pengadilan yang mengambil keputusan dari keterangan­keterangan para saksi. Hal ini disebabkan kerana para penulis sejarah zaman dahulu, terutama pada zaman para sahabat dan tabi’in[4] sering menyampaikan laporan­laporan yang banyak tentang suatu peristiwa.

Laporan­laporan ini demikian rumit dan kadang­kadang saling bertentangan. Oleh kerana itu di beberapa bagian penulis terpaksa memuat laporan itu selengkap­lengkapnya. Sebagai contoh pembaca dapat melihat catatan pada bab ‘Pengepungan Rumah Fathimah’.

Penulis sejarah menyadari adanya prasangka dari saksi pelapor suatu peristiwa dan para penyalur yang membentuk rangkaian isnad. Ia juga harus menyadari kemungkinan adanya kesalahan dan kekeliruan mereka kerana kelemahan­kelemahan manusiawi seperti lupa, salah tanggap, salah tafsir, pengaruh penguasa terhadap dirinya, serta latar belakang keyakinan pribadinya.

Sejak permulaan abad ke­20 ini, telah muncul para peneliti dan penulis yang sangat tekun, antara lain yang namanya disebut di atas; namun tulisan­tulisan mereka, dalam bahasa Arab, tidak berkembang dengan baik. Hal ini disebabkan kerana buku­buku sejarah lama telah terlanjur tersebar luas dan melembaga dalam rumusan akidah. Sebuah laporan yang diriwayatkan dalam buku sejarah dikutip ke dalam buku­buku dakwah, seperti mengutip Hadis, kemudian dikhotbahkan di masjid­masjid tanpa membandingkannya dengan laporan­laporan serupa yang lain, dan tidak juga diteliti dengan dasar­dasar metode sejarah.

Pada zaman dulu, ulama adalah manusia dua dimensi. Ia adalah ilmuwan dan sekaligus juga juru dakwah yang mengajak kaum awam mendekati agama; ia meneliti dan mengajar. Lama kelamaan, kedudukan seorang ulama makin beralih ke tugas dakwah, dan mengabaikan segi penelitian. Penelitian sejarah di zaman sahabat pun dilupakan. Maka timbullah semboyan yang terkenal: ‘Kita harus membisu terhadap segala yang terjadi di antara sahabat’[5] Para ulama telah menjadi juru dakwah semata­mata, yang pekerjaannya ialah berdakwah dan mengajarkan agama.

Ditutupnya pintu ijtihad, telah menambah parahnya perkembangan penelitian sejarah zaman para sahabat serta tabi’in generasi pertama dan kedua. Dan para ulama terus bertaklid pada ijtihad para imam yang hidup seribu tahun lalu.

Para pembaharu cenderung membangun pikirannya di atas permukaan, dan tidak menelusuri khazanah kebudayaan Islam yang kaya, yang merentang dalam kurun waktu yang panjang. Dimensi­dimensi luas yang terkandung dalam Al­Qur’an, telah dibiarkan membeku dan tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Itulah sebabnya, buku­buku yang mengandung hasil studi yang kritis, tidak lagi mendapatkan pasaran. Membaca buku­buku ini dianggap tidak memberi manfaat, kerana pikiran­pikiran baru ini akan membuat dirinya terasing dalam kalangannya sendiri dan dari masyarakat yang telah ‘mantap’ dalam keyakinan.

Pada sisi lain, kelemahan dalam segi kepemimpinan membuat para ulama sukar memasarkan ‘pikiran­pikiran barunya’. Hal ini disebabkan tidak adanya lagi kewajiban untuk menaati para ulama mujtahid yang kompeten, yang masih hidup, sebagai Imam.

Buku kecil ini sebenarnya hanyalah kumpulan kutipan dari para sejarahwan awal dan bukanlah ‘barang baru’, kecuali bagi yang tidak membaca buku buku sejenis dalam bahasa Arab. Bagi mereka, membaca buku ini akan menimbulkan unek­unek, kerana mungkin melihat adanya sumber lain yang tidak dikutip penulis.

Misalnya, penulis sangat kritis terhadap hadis ramalan politik, hadis dan riwayat dari Saif bin Umar Tamimi dengan cerita Abdullah bin Saba’­nya, hadis dari Abu Hurairah serta hadis keutamaan, fadha’il, yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan peristiwa Saqifah. Kerana itu penulis perlu membicarakan ­walaupun sepintas lalu­ dalam pengantar ini, satu demi satu bahawa Rasul Allah wafat sambil bersandar di dada Aisyah dan hadis Ummu Salamah

Hadis Sebagai Sumber Sejarah, hadis Shahih Belum Tentu Shahih

Sumber sejarah kita adalah Al­Qur’an, hadis dan naskah sejarah lainnya. Mengenai Al­Qur’an, tidak ada beda pendapat. Al­Qur’an hanya satu. Tetapi mengenai hadis kita harus memilih hadis shahih. Namun haruslah diingat bahwa Hadis yang ‘shahih’ belum tentu shahih bila dihubungkan dengan sejarah atau ayat Al­Qur’an. Misalnya hadis Abu Hurairah mengenai mizwad, kantong mukjizat yang diikatkan di pinggangnya dan memberi makan pasukan­pasukan dan dirinya sendiri selama dua puluh tahun. Atau hadis Abu Hurairah tentang Adam yang diciptakan seperti bentuk Allah SWT dengan panjang enam puluh hasta, yang akan dibicarakan di bagian lain pengantar ini. Atau hadis yang bertentangan satu dengan yang lain, seperti, riwayat Aisyah bahwa Rasul meninggal tatkala sedang bersandar di dada Ali bin Abi Thalib.

Di kemudian hari muncul hadis­hadis palsu yang jumlahnya sangat mencengangkan seperti ‘sinyalemen’ Rasul Allah saw: ‘Sejumlah besar hadis palsu akan diceritakan atas namaku sesudah aku wafat, dan barangsiapa berbicara bohong terhadapku, ia akan dimasukkan ke dalam neraka’.[6]

H. Fuad Hashem[7] memberi gambaran menarik “..Khalifah Abu Bakar, menurut sejarawan al­ Dzahabi, dilaporkan membakar kumpulan lima ratus hadis, hanya sehari setelah ia menyerahkannya kepada putrinya Aisyah. ‘Saya menulis menurut tanggapan saya,’ kata Abu Bakar, namun bisa jadi ada hal yang tidak persis dengan yang diutamakan Nabi. Kalau saja Abu Bakar hidup sampai dua ratus tahun kemudian dan menyaksikan betapa beraninya orang mengadakan jutaan hadis yang kiranya jauh dari ‘persis’, mungkin sekali ia menangis, seperti yang dilakukannya banyak kali.

Penggantinya khalifah Umar, juga menolak menulis serupa kerana ini tidak ada presedennya. Di depan jemaah Muslim, ia berkata, ‘Saya sedang menimbang menuliskan hadis Nabi,’ katanya. ‘Tetapi saya ragu kerana teringat kaum Ahlu’l Kitab yang mendului kaum Muslim. Mereka menuliskan kitab selain wahyu; akibatnya, mereka akhirnya malahan meninggalkan kitab sucinya dan berpegang pada kumpulan hadis itu saja’. Semua ini menunda pencatatan keterangan mengenai kehidupan awal Islam.

“Tidak kita temui ulama memberi lebih banyak kepalsuan dari yang mereka lakukan atas hadis,” kata Muslim, pengumpul hadis tersohor. Banyak duri khurafat yang kalau dicabut, akan mengeluarkan banyak darah dan membikin sekujur tubuh merasa demam; sudah terlalu dalam, terlalu lama tertanam. Di zaman Dinasti Abbasiyah, semua keutamaan ‘Umayyah dibilas... Peranan Abbas, paman Rasul, dibenahi; ia, selagi kafir, dijadikan “pahlawan” dengan mengawal Muhammad dalam bai’at Aqabah, atau ia sebenarnya telah lama masuk Islam dan dipaksa oleh kaum Quraisy untuk ikut berperang melawan Islam dalam Perang Badr. Semua untuk memberikan legitimasi atas tahta.

Tetapi kedua dinasti bermusuhan itu sepakat mengenai satu hal: mendiskreditkan para pengikut Ali dan berkepentingan agar Abu Thalib mati kafir. Ia ayah Ali dan dengan begitu barangkali anak cucunya kurang berhak atas jabatan pimpinan umat Islam yang diperebutkan. Penulis zaman itu pun sedikit banyak harus memperhatikan pesanan dari istana, kalau masih mau menulis lagi. Dan mereka terpaksa menulis apa yang mereka tulis.

Dua ratus tahun sepeninggal Rasul, jumlah hadis telah mencapai jutaan dan para ulama yang memburu dengan kuda dari Spanyol sampai India mulai heran kerana persediaan hadis sudah jauh melampaui permintaan. Di situ sudah ditampung sabda Yesus, ungkapan Yunani, pepatah Persia dan aneka sisipan dan buatan yang sukar ditelusuri asal­muasainya. Barulah ulama memikirkan cara mengontrol: memeriksa rangkaian penutur hadis ini (isnad) dengan berbagai metode untuk menguji kebenarannya. Bukhari dan Muslim serta beberapa lainnya menyortir secara ketat semua itu, lalu menggolongkannya menurut tingkat dan mutu kebenarannya; tugas yang hampir mustahil dilakukan manusia. Bagaimanapun, kerusakan telah terjadi. Sepanjang menyangkut catatan mengenai biografi Muhammad, mungkin sedikit saja motif jahat untuk mengotori sisa hidup dan perjuangannya. Juga kita dapat mencek dan menimbang lalu menyimpulkan ‘motif’ kepentingan politik dari hadis mengena selangkah atau sepatah kata Nabi, walaupun ini bukan mudah; sebab orang dulu pun pandai seperti kita untuk membuat motif itu mulus, Juput dari utikan dan dengan mudahnya menjerat kita.

Motif itu hampir tak terbilang jumlahnya; ekonomi, kehormatan, politik atau sekadar kesadaran bahwa nama mereka masih akan dicatat dan disebut sampai detik­detik menjelang kiamatnya alam jagad ini, sebab Islam agama universal. Maka siapa pengikut pertama, siapa yang menjabat tangan Muhammad lebih dulu dalam ikrar Aqabah, siapa yang tidak hijrah, semua diperebutkan oleh anak keturunan, murid atau malahan tetangga mereka. Ahmad Amin mengutip Ibnu Urafah, mengatakan bahwa ‘kebanyakan hadis yang mengutamakan para sahabat dan mutu sahabat Rasul, dipalsukan selama periode Dinasti ‘Umayyah.’ Demikian H. Fuad Hashem.

Hati­hati Terhadap 700 Pembuat Hadis Aspal

Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan al­Bukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis.[8] Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu).[9] Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis.[10] Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis.[11]

Bukhari (194­255 H/810­869 M), Muslim (204­261 H/819­875 M), Tirmidzi (209­279 H/824­892 M), Nasa’i (214­303 H/829­915 M), Abu Dawud (203­275 H/818­888 M) dan Ibnu Majah (209­295 H/824­908 M) misalnya telah menyeleksi untuk kita hadis­hadis yang menurut mereka adalah benar, shahih. Hadis­hadis ini telah terhimpun dalam enam buku shahih, ash­shihah as­sittah, dengan judul kitab masing­masing menurut nama mereka; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih (Sunan) Ibnu Majah, Shahih (Sunan) Abu Dawud, Shahih (Jami’) Tirmidzi dan Shahih (Sunan) Nasa’i.[12]

Tetapi, bila kita baca penelitian para ahli yang terkenal dengan nama Ahlul Jarh wa’ Ta’dil, maka masih banyak hadis shahih ini akan gugur, kerana ternyata banyak di antara pelapor hadis, setelah diteliti lebih dalam adalah pembuat hadis palsu.

Al­Amini, misalnya, telah mengumpulkan tujuh ratus nama pembohong ­yang diseleksi oleh Ahlu’l Jarh wa Ta’dil Sunni­ yang selama ini dianggap adil atau jujur, dan hadis yang mereka sampaikan selama ini dianggap shahih dan tertera dalam buku shahih enam. Ada di antara mereka yang menyampaikan, seorang diri, beribu­ribu hadis palsu.

Dan terdapat pula para “pembohong zuhud”[13] , yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman dan mulai pagi hari mengajar dan berbohong seharian. Para pembohong zuhud ini, bila ditanyakan kepada mereka, mengapa mereka membuat hadis palsu terhadap Rasul Allah saw yang diancam api neraka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak membuat hadis terhadap (‘ala) Rasul Allah saw tetapi untuk (li) Rasul Allah saw. Maksudnya, mereka ingin membuat agama Islam lebih bagus.[14]

Tidak mungkin mengutip semua. Sebagai contoh, kita ambil seorang perawi secara acak dari 700 orang perawi yang ditulis Amini.[15]

“Muqatil bin Sulaiman al­Bakhi, meninggal tahun 150 H/767 M. Ia adalah pembohong, dajjal dan pemalsu hadis. Nasa’i memasukkannya sebagai seorang pembohong; terkenal sebagai pemalsu hadis terhadap Rasul Allah sa Ia berkata terang­terangan kepada khalifah Abu Ja’far al­Manshur: “Bila Anda suka akan saya buat hadis dari Rasul untuk­mu”. Ia lalu melakukannya. Dan ia berkata kepada khalifah al­Mahdi dari Banu Abbas: “Bila Anda suka akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas’. Al­Mahdi menjawab: “Aku tidak menghendakinya!”. Abu Bakar al­ Khatib, Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 168; ‘Ala’udin Muttaqi al­Hindi, Kanzu’l­’Ummal, jilid 5, hlm. 16 Syamsuddin adz­Dzahabi, Mizan al­I’tidal, jilid 3, hlm. 196; al­Hafizh lbnu Hajar al­’Asqalani, Tahdzib at­Tahdzib, jilid 10, hlm. 284; Jalaluddin as­Suyuthi, al­LaAli ul Mashmu’ah, jilid 1, hlm. 168 jilid 2, hlm. 60, 122.”

Para pembohong ini bukanlah orang bodoh. Mereka mengetahui sifat­sifat dan cara berbicara para sahabat seperti Umar, Abu Bakar, Aisyah dan lain­lain. Mereka juga memakai nama para tabi’in seperti Ibnu Umar, ‘Urwah bin Zuba sebagai pelapor pertama, dan rantai sanad dipilih dari orang­ orang yang dianggap dapat dipercaya. Hadis­hadis ini disusun dengan rapih, kadang­kadang dengan rincian yang sangat menjebak. Tetapi kesalahan terjadi tentu saja kerana namanya tercantum di dalam rangkaian perawi. Dengan demikian para ahli tentang cacat tidaknya suatu hadis yang dapat menyusuri riwayat pribadi yang buruk itu, menolak Hadis­hadis tersebut.[16]

Demikian pula, misalnya hadis­hadis yang menggunakan kata­kata ‘mencerca sahabat’ tidak mungkin diucapkan Rasul, kerana kata­kata tersebut mulai diucapkan di zaman Mu’awiyah, lama sesudah Rasul wafat. Seperti kata­kata Rasul “Barang siapa mencerca sahabat­sahabatku maka ia telah mencercaku dan barang siapa mencercaku maka ia telah mencerca Allah dan mereka akan dilemparkan ke api neraka” yang banyak jumlahnya.[17]

Juga, hadis­hadis berupa perintah Rasul agar secara langsung atau tidak langsung meneladani atau mengikuti seluruh sahabat, seperti ‘Para sahabatku laksana bintang­bintang, siapa saja yang kamu ikuti, pasti akan mendopat petunjuk’ atau ‘Para sahabatku adalah penyelamat umatku’ tidaklah historis sifatnya.

Disamping perintah ini menjadi janggal, kerana pendengarnya sendiri adalah sahabat, sehingga menggambarkan perintah agar para sahabat meneladani diri mereka sendiri, sejarah menunjukkan bahwa selama pemerintahan Banu Umayyah, cerca dan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib serta keluarga dan pengikutnya, selama itu, tidak ada sahabat atau tabi’in yang menyampaikan hadis ini untuk menghentikan perbuatan tercela yang dilakukan di atas mimbar masjid di seluruh negeri tersebut. Lagi pula di samping fakta sejarah, al­Qur’an dan hadis telah menolak keadilan seluruh sahabat.[18]

Atau hadis­hadis bahwa para khalifah diciptakan atau berasal dan nur (sinar) yang banyak jumlahnya, sebab menurut Al­Qur’an manusia berasal dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah dan tidak mungkin orang yang tidak menduduki jabatan dibuat dari tanah sedang yang ‘berhasil’ menjadi khalifah dibikin dari nur.

Para ahli telah mengumpul para pembohong dan pemalsu dan jumlah hadis yang disampaikan.

Abu Sa’id Aban bin Ja’far, misalnya, membuat hadis palsu sebanyak 300.

Abu Ali Ahmad al­Jubari 10.000

Ahmad bin Muhammad al­Qays 3.000

Ahmad bin Muhammad Maruzi 10.000

Shalih bin Muhammad al­Qairathi 10.000

dan banyak sekali yang lain. Jadi, bila Anda membaca sejarah, dan nama pembohong yang telah ditemukan para ahli hadis tercantum di dalam rangkaian isnad, Anda harus hati­hati.

Ada pula pembohong yang menulis sejarah dan tulisannya dikutip oleh para penulis lain. Sebagai contoh Saif bin Umar yang akan dibicarakan di bagian lain secara sepintas lalu. Para ahli telah menganggapnya sebagai pembohong. Dia menulis tentang seorang tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ yang fiktif sebagai pencipta ajaran Syi’ah. Dan ia juga memasukkan 150[19] sahabat yang tidak pernah ada yang semuanya memakai nama keluarganya. Dia menulis di zaman khalifah Harun al­Rasyid. Bukunya telah menimbulkan demikian banyak bencana yang menimpa kaum Syi’ah.

Bila membaca, misalnya, kitab sejarah Thabari dan nama Saif bin Umar berada dalam rangkaian isnad, maka berita tersebut harus diperiksa dengan teliti.

Hati­hati Terhadap 150 Sahabat Fiktif

Suatu rangkaian isnad yang lengkap, dengan penyalur­penyalur yang indentitas orangnya tidak dapat dibuktikan sebagai cacat, belum lagi menjamin kebenaran suatu berita. Hal ini disebabkan adanya sahabat­sahabat fiktif sehingga memerlukan penelitian yang lebih cermat terhadap para sahabat.

Murtadha al­’Askari, misalnya, telah berhasil menemukan 150 nama sahabat Nabi yang fiktif, yang tidak pernah ada dalam kehidupan nyata, yang telah dimasukkan oleh penulis sejarah yang bernama Saif bin Umar, pencipta pelakon fiktif Abdullah bin Saba’, sebagai saksi­saksi pelapor. Penulis sejarah ini telah memasukkan berbagai kota dan sungai yang kenyataannya tidak pernah ada.[20]

Di bagian lain banyak ulama berpendapat bahwa hadis yang disampaikan seorang pembohong harus ditolak tetapi laporan sejarah yang ditulisnya harus diterima. Hal ini, misalnya terjadi pada hadis dari Saif bin Umar yang menulis buku ar­Ridda dan al­Futuh yang telah ditolak oleh banyak ulama kerana dianggap pembohong tetapi ceritanya sendiri tentang tokoh fiktif Abdullah bin Saba’ ­suatu pribadi yang tidak dikenal oleh semua penulis lain­ selama ini diterima sebagai fakta sejarah. Tetapi menurut hemat saya, kedua laporannya, hadis maupun bukan hadis harus dipandang dengan kritis. Kalau tentang Rasul Allah saw saja ia mau berbohong apa lagi tentang orang lain.

Bukhari Tidak Suka Imam Az­Zaki Al­Askari?

Kesulitan lain adalah kita kekurangan berita langsung dari sumber Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya bila berhadapan dengan peristiwa di mana mereka juga terlibat, seperti bagaimana suasana dan perasaan anak­anak Fathimah tatkala rumah Fathimah diserbu oleh pasukan Abu Bakar,[21] atau apa kegiatan Ali selama hampir 25 tahun[22] kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Bagaimana hukum fiqih berkembang dalam keluarga mereka? Bukankah Ali adalah pintu ilmu menurut hadis Rasul? Sebabnya adalah kurangnya perhatian sejarahwan Sunni terhadap sumber riwayat dari Ali, Fathimah, Hasan, Husain dan anak cucunya. Bukhari misalnya tidak mau mewawancarai Imam az­Zaki al­’Askari (yang sezaman dengannya, 232­260 H/840­870 M), cucu Rasul Allah saw dan sedikit pun juga tidak berhujah dengan Imam Ja’far Shidiq, Imam al­Kazhim, Imam ar­Ridha, Imam al­Jawad dan tidak dari al­Hasan bin al­ Hasan, Zaid bin Ali bin al­Husain, Yahya bin Zaid, an­Nafsu az­Zakiyah, ‘Ibrahim bin Abdullah, Muhammad bin Qasim bin Ali (sezaman dengan Bukhari) dan tidak dari keturunan ahlu’l­bait mana pun. Tetapi Bukhari misalnya meriwayatkan dari seribu dua ratus kaum Khawarij yang memusuhi ahlu’l­bait, dan tokoh­tokoh yang terkenal jahil terhadap keluarga Rasul Allah saw.[23]

Hati­hati Terhadap Sejarah yang Telah Baku,Ali dan Zubair Menyembelih Ratusan Orang Tak Berdaya? Rasul Menggali Kubur Mereka di Madinah?

Dalam hampir semua buku sejarah Rasul, diceritakan tentang pembunuhan Bani Quraizhah oleh kaum muslimin secara berdarah dingin. Cerita yang sudah dianggap baku dan memalukan ini, bila dihadapkan dengan konteks sejarah sangat diragukan.

Menurut Ibnu Ishaq, setelah dikepung selama 25 hari (menurut Ibnu Sa’d 15hari) oleh pasukan kaum Muslimin yang berjumlah 3.000, mereka menyerah dan meminta sebagai pemimpin sekutu mereka dari Banu Aws menjadi hakam untuk menentukan hukuman mereka. Dan Sa’d menetapkan hukuman mati terhadap semua prajurit yang berjumlah antara 600 sampai 900 (Ibnu Ishaq), harta dirampas dan keluarga mereka ditawan. Menurut Ibnu Sa’d dan Waqidi, Bani Quraizhah menyerahkan keputusan kepada Rasul dan Rasul menunjuk Sa’d bin Mu’adz sebagai hakam. Tapi menurut Ibnu Sa’d, Banu Quraizhah lansung menyerahkan keputusan pada Sa’d. Bukhari menyatakan bahwa keputusan diserahkan kepada Sa’d, dan Muslim menyatakan keputusan diserahkan kepada Rasul dan Rasul menyerahkan pada Sa’d.

Kemudian Rasul menggali liang­liang kubur di tengah pasar kota Madinah dan Ali serta Zubair memenggal kepala mereka. Bila untuk tiap prajurit terdapat enam anggota keluarga lain, maka jumlah mereka adalah antara 3.600 sampai 5.400 orang. Mereka dikumpul di rumah Bint Harits dari Banu Najjar dan diikat dengan tali. Sekarang timbul pertanyaan.

Di mana mereka mendapatkan tali untuk mengikat orang sebanyak itu dan berapa besar rumah Bint Harits? Bagaimana mereka makan dan bagaimana sanitasi mereka? Sebab pada masa itu, menurut Aisyah, tidak ada kakus dan mereka harus ke luar malam hari untuk itu. Apakah mungkin mereka tidak berusaha melarikan diri dan kelihatan pasrah saja? Bagaimana Rasul menggali kuburan untuk 600 atau 900 mayat di batu lahar yang demikian keras seperti di Madinah. Bagaimana perasaan Ali dan Zubair yang membunuh masing­masing antara 300 sampai 450 orang? Berapa banyak orang yang menyaksikan? Ali dan Zubair terkenal sebagai pemberani, tetapi membunuh sekian banyak orang ‘berdarah dingin’, shabran, pasti akan membekas pada jiwa mereka. Dan Ali serta Zubair maupun banyak sahabat yang pasti turut melihat peristiwa luar biasa ini, suatu ketika, akan menyebutnya. Namun dalam Nahju’l­Balaghah atau tulisan lain, tidak kita temukan Ali menyinggung peristiwa tersebut. Cerita itu seperti hilang begitu saja di pasar Madinah.[24]

Hampir tidak mungkin menulis satu periode sejarah tanpa memahami seluruh sejarah Islam. Misalnya, tatkala membaca suatu peristiwa, opini seseorang sering terpengaruh oleh komentar penulis peristiwa tersebut, boleh jadi ia juga terpengaruh oleh mazhab yang dianutnya, misalnya oleh keutamaan seseorang sahabat yang terlibat dalam peristiwa tersebut, sehingga kita cenderung untuk ‘berpihak’ kepadanya. Tidak kecuali peristiwa Saqifah.

Menjatuhkan Khalifah Utsman, Sifat Jahiliyah di Kalangan Para Sahabat

H. Fuad Hashem dalam bukunya Sirah Muhammad Rasulullah[25] melukiskan sifat jahiliah itu dengan jelas. Ia mengatakan:

Arti kata jahiliyah’ yang dimaksud Rasul tidak ada sangkut pautnya denga kata ‘zaman’ atau ‘periode’. Kalau kedatangan Islam itu memberantas kebiasaan jahiliah, itu tidak lantas berarti bahwa babakan sejarah menjadi ‘Zaman Jahiliah’ dan ‘Zaman Islam’, sehingga implikasinya adalah bahwa jahiliyah adalah periode yang telah lewat, sudah kadaluwarsa, sudah mati dikubur ajaran Islam. Pengertian yang menyamakan zaman jahiliah sebagai ‘Zaman Kebodohan’ (Ignorance) mungkin suatu usaha untuk ikut memboncen pengertian agama Kristen bahwa jahiliah itu adalah ‘zaman sebelum datangnya Nabi’, seperti tercantum dalam Kitib Injil (Kisah Rasul­Rasul 17:30), korban pengaruh Kristen seperti kata teolog Mikaelis. Memang banyak pengaruh itu yang disadari, misalnya dibuangnya bagian awal dari Sirah Ibnu Ishaq. Tetap ini hanya satu dari sekian aspirasi Kristen yang telah merasuk ke dalam karya literer Islam dan kalau tidak dicabut, duri ini akan tetap menyakiti daging.

Jahiliah itu benar­benar lepas dari pengertian zaman atau periode. Ini jela terlihat dari kutipan ayat Al­Qur’an:[26]

“Ketika orang kafir membangkitkan dalam dirinya kesombongan­kesombongan jahiliah, maka Allah menurunkan ketenangan atas Rasul dan mereka yang beriman, dan mewajibkan mereka menahan diri. Dan mereka memang berhak dan patut memilikinya. Dan Allah sadar akan segalanya”. (Al­ Fath: 26)

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. dan Allah menyukai orang­orang yang berbuat kebaikan”. (Ali­Imran: 148)

“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. mereka Menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang­orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar ke tempat mereka terbunuh”. dan Allah untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati”. (Ali­Imran: 154)

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul­Nya, dan orang­orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka rukuk”. (Al­Ma’idah: 55)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang­orang yang yakin?” (Al­Ma’idah: 50)

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih­bersihnya”. (Al­Ahzab: 33)

Ayat­ayat ini jelas mempertentangkan jahiliah dengan ketenangan (sakinah), sifat menahan diri dan takwa…arti kata pokok jahil (jhl) bukanlah lawan dari ‘ilm (kepintaran) melainkan hilm yang artinya sifat menahan diri sebagaimana yang termaktub di dalam Al­Qur’an.

Maka perwujudan sifat jahiliah itu adalah antara lain rasa kecongkakan suku semangat balas dendam yang tak berkesudahan, semangat kasar dan kejam yang keluar dari sikap nafsu tak terkendali dan perbuatan yang bertentangan dengan takwa. Ini bisa saja terjadi dalam zaman setelah kedatangan Islam dan keluar dari pribadi seorang Muslim.

Sebagai ilustrasi kita teliti tanggapan Rasul dalam peristiwa Khalid bin Walid, yang terjadi sekitar pertengahan Januari 630, dalam penaklukan kota Makkah. Ibnu Ishaq bercerita:[27] ‘Rasul mengirim pasukan ke daerah sekitar Makkah untuk mengajak mereka ke dalam Islam: beliau tidak memerintahkan mereka. untuk bertempur. Di antara yang dikirim adalah Khalid bin Walid yang diperintahkannya ke kawasan datar sekitar perbukitan Makkah sebagai misionaris; ia tidak memerintahkan mereka bertempur’.

Mulanya klan Jadzimah, penghuni wilayah itu ragu, tetapi Khalid mengatakan: ‘Letakkan senjata kerana setiap orang telah menerima Islam’. Ada pertukaran kata kerana curiga akan Khalid, tetapi seorang anggota suku itu berkata: ‘Apakah Anda akan menumpahkan darah kami? Semua telah memeluk Islam dan meletakkan senjata. Perang telah usai dan semua orang aman’. Begitu mereka meletakkan senjata, Khalid memerintahkan tangan mereka diikat ke belakang dan memancung leher mereka dengan pedangnya sampai sejumlah orang mati. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, ia menyuruh Ali ke sana dan menyelidiki hal itu dan ‘memerintahkan agar menghapus semua praktek jahiliah’. Ali berangkat membawa wang, yang dipinjam Rasul dari beberapa saudagar Makkah untuk membayar tebusan darah dan kerugian lain, termasuk sebuah wadah makan anjing yang rusak. Ketika semua lunas dan masih ada wang sisa, Ali menanyakan apakah masih ada yang belum dihitung; mereka menjawab tidak. Ali memberikan semua sisa wang sebagai hadiah, atas nama Rasul. Ketika Ali kembali melapor, Rasul yang sedang berada di Ka’bah, menghadap Kiblat dan menengadahkan tangannya tinggi ke atas sampai ketiaknya tampak, seraya berseru: ‘Ya Allah! Saya tak bersalah atas apa yang dilakukan Khalid’, sampai tiga kali. Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan kepada Khalid: ‘Anda telah melakukan perbuatan jahiliah di dalam Islam’. Demikian F. Hashem.[28]

Khalid bin Walid adalah panglima perang yang terpuji, tetapi sikap jahiliah yang merasuk ke dalam jiwanya tidak bisa segera hilang.

Ia dan asistennya Dhirar bin Azwar setelah jadi Muslim tetap minum minuman keras, syarib al­ khumur, berzina dan membuat maksiat, shahib al­fujur.[29]

Orang mengetahui dendam Khalid pada keluarga Banu Jadzimah sebelum Islam. Terlihat jelas bahwa dendam pribadi di kalangan kaum Quraisy sangat kuat dan berlangsung lama seperti sering dikatakan Umar bin Khaththab. Perintah Rasul Allah kepada Ali untuk menyelesaikan masalah Banu Jadzimah agaknya membekas pada Khalid bin Walid.

Tatkala ia berada di bawah komando Ali berperang melawan Bani Zubaidah di Yaman, ia mengirim surat kepada Rasul Allah melalui Buraidah, yang mengadukan tindakan Ali mengambil seorang tawanan untuk dirinya sendiri. Wajah Rasul berubah kerana marah dan Buraidah memohon maaf kepad Rasul dan menyatakan bahwa ia hanya menjalankan tugas. Rasul Allah lalu bersabda: “Janganlah kamu mencela Ali, sebab dia adalah bagian dari diriku dan aku pun adalah bagian dari dirinya. Dan dia adalah wali, pemimpin, setelah aku”. Lalu beliau mengulangi lagi: “Dia adalah hagian dari diriku dan aku pun adalah bagian dari dirinya. Dan dia adalah wali, pemimpin, setelah aku”.[30] Dalam versi yang sedikit berbeda Nasa’i meriwayatkan bahwa Rasul Allah bersabda: “Hai Buraidah, jangan kamu coba mempengaruhiku membenci Ali, kerana Ali adalah sama denganku dan aku sama dengan Ali. Dan dia adalah walimu sesudahku”.[31] Ia adalah orang pertama sesudah Umar yang dicari Abu Bakar untuk penyerbuan ke rumah Ali dan Fathimah, setelah Rasul wafat.

Dia ditunjuk sebagai pemimpin pasukan memerangi ‘kaum pembangkang’ yang tidak mengirim zakat ke pusat pemerintahan pada zaman khalifah Abu Bakar. Di antara ulahnya adalah membunuh seorang sahabat pengumpul zakat yang diangkat Rasul, secara berdarah dingin, shabran, yang bernama Malik bin Nuwairah dan sekaligus meniduri istri Malik yang terkenal cantik, pada malam itu juga. Cerita ini sangat terkenal dalam sejarah dan jadi topik perdebatan hukum fiqih.[32]

Tatkala Abu Bakar mengingatkan akan kebiasaannya, ‘main perempuan’ dan dosanya membunuh 1100 (seribu seratus) kaum Muslimin secara berdarah dingin, ia hanya bersungut dan mengatakan bahwa Umarlah yang menulis surat itu’.[33]

Umar Buka Jalan Bagi Banu ‘Umayyah

Sepeninggal Rasul, dari empat khalifah yang lurus tiga di antaranya dibunuh tatkala sedang dalam tugas, yaitu Umar, Utsman dan Ali. Yang menarik adalah ramalan Umar bin Khaththab bahwa Utsman akan dibunuh kerana membuat pemerintahan yang nepotis seperti yang dikatakannya.

Umar seperti melibat bahaya munculnya sifat­sifat jahiliah ini sehingga tatkala ia baru ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah dan mengetahui bahwa ia akan meninggal pada tahun 24 H­645 M, ia memanggil keenam anggota Syura yang ia pilih sendiri.

Umar berkata: “Sesungguhnya Rasul Allah telah wafat dan ia rida akan enam tokoh Quraisy: Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahman bin ‘Auj.”

Kepada Thalhah bin Ubaidillah ia berkata: “Boleh saya bicara atau tidak!”

Thalhah: ‘Bicaralah!’.

Umar: “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum Rasul Allah wafat, ia marah kepadamu[34] kerana kata­kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saw wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda­jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”.[35]

Di bagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”. Demikian kata­kata Umar terhadap Thalhah.

Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan: “Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri­putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya” Dan di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’.[36]

Kemudian kepada Zubair, Umar berkata:

“Dan engkau, ya Zubair, engkau selalu gelisah dan resah, bila engkau senang engkau Mu’min, bila marah, engkau jadi kafir, satu hari engkau seperti manusia dan pada hari lain seperti setan. Dan andaikata engkau jadi khalifah, engkau akan tersesat dalam peperangan. Bisakah engkau bayangkan, bila engkau jadi khalifah? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada umat pada hari engkau jadi manusia dan apa yang akan terjadi pada mereka tatkala engkau jadi setan, yaitu tatkala engkau marah. Dan Allah tidak akan menyerahkan kepadamu urusan umat ini selama engkau punya sifat ini”[37] Di bagian lain: “Dan engkau ya Zubir, demi Allah, hatimu tidak pernah tenang siang maupun malam, dan selalu berwatak kasar sekasar­kasarnya; jilfan jafian”.[38]

Bersama Aisyah, Thalhah dan Zubair setelah membunuh Utsman memerangi Ali dan menyebabkan paling sedikit 20.000 orang meninggal dalam Perang Jamal. Dan selama puluhan tahun menyusul, beribu­ribu kepala yang dipancung banyak tangan dan kaki yang dipotong, mata yang dicungkil dengan mengatas namakan menuntut darah Utsman sebagaimana akan kita lihat menyusul ini.

Kepada Utsman, Umar berkata: “Aku kira kaum Quraisy akan menunjukmu untuk jabatan ini kerana begitu besar cinta mereka kepadamu dan engkau akan mengambil Bani ‘Umayyah dan Bani Mu’aith untuk memerintah umat. Engkau akan melindungi mereka dan membagi­bagikan wang baitul mal kepada mereka dan orang­orang akan membunuhmu, menyembelihmu di tempat tidur”.[39]

Atau menurut riwayat dari Ibnu Abbas yang didengarnya sendiri dari Umar “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsman ia akan mengambil Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat. Bila melakukannya mereka akan membunuhnya”.[40]

Di bagian lain, dalam lafal Imam Abu Hanifah: “Andaikata aku menyerah kekhalifahan kepada Utsman, ia akan mengambil keluarga Abi Mu’aith untuk memerintah umat, demi Allah andaikata aku melakukannya, ia akan melakukannya, dan mereka akhirnya akan memotong kepalanya”.[41] Atau di bagian lain: Umar berwasiat kepada Utsman dengan kata­kata: “Bila aku menyerahkan urusan ini kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengambil keluarga Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat’.[42]