• Mulai
  • Sebelumnya
  • 20 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Pengunjung: 142 / Download: 41
Ukuran Ukuran Ukuran
Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah (2)

Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah (2)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

sejarah islam

Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah

by: O. Hashem

Jakarta

2004

BISMILLAHIRRAHMAN NIRAHIM

“Wahai orang­orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar­benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Al­Qur’an

Surah An­Nisa’: 135

Prakata Penulis

Buku‘Saqifah’ cetakan keempat oleh Yapi ini bertambah tebal hampir dua kali lipat dibandingkan cetakan sebelumnya. Kritik­kritik tertulis dalam bentuk buku dan artikel di beberapa majalah maupun kritik lisan dalam diskusi­diskusi khusus untuk membicarakan buku ini, memaksa penulis melengkapinya.

Pembaca dapat langsung mengikuti peristiwa Saqifah dengan meloncat ke bab 2; ‘Sumber’.

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada penulis ahli sejarah Islam Al Allamah, Habib Zainal 'Abidin bin Husain Al Muhdhar atas kebaikannya meminjamkan buku­buku yang sukar didapat.

Demikian juga kepada Ustadz Ahmad bin Abdurrahman Al Aydrus, seorang ahli sastra yang juga memberikan buku­buku yang penulis butuhkan. Juga kepada kawan yang penulis cintai Wancik Cherid yang selalu mendorong penulis untuk menyelesaikan buku ini. Penulis juga berhutang budi kepada banyak teman­teman yagg tidak mungkin penulis sebut satu demi satu.

Akhirnya kepada isteri penulis Hadijah yang dengan sabar membaca dan memberi catatan­catatan pada naskah buku ini.

Tanpa semua ini buku ini tidak mungkin ada.

Wabillahi Taufiq wal Hidayah.

Penerbit

Mengapa Aisyah Benci Fathimah dan Ali?

Kebencian Aisyah kepada anak tirinya Fathimah dan suami Fathimah, Ali, sangat bertalian dengan kecemburuannya kepada Khadijah yang telah lama meninggal. Cemburu

Aisyah terhadap Khadijah dapat dipahami dari kata­katanya sendiri.

Aisyah berkata[1] : “Cemburuku terhadap istri­istri Rasul tidak seperti cemburuku kepada Khadijah karena Rasul sering menyebut dan memujinya, dan Allah SWT telah mewahyukan kepada Rasul saw agar menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah bahwa Allah SWT akan memberinya rumah dari Permata di surga”.

Dan di bagian lain[2] : “Aku tidak cemburu terhadap seorang dari istri­istrinya seperti aku cemburu kepada Khadijah, meski aku tidak mengenalnya. Tetapi Nabi sering mengingatnya dan kadang­ kadang ia menyembelih kambing, memotong­motongnya dan membagi­bagikannya kepada teman­ teman Khadijah”.

Di bagian lain: “Suatu ketika Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, minta izin menemui Rasul dan Rasul mendengar suaranya seperti suara Khadijah”. Rasul terkejut dan berkata: ‘Allahumma Halah!’. Dan aku cemburu. Aku berkata: ‘Apa yang kau ingat dari perempuan tua di antara perempuan­perempuan tua Quraisy…dan Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik’.

Di bagian lain lagi[3] : ‘Dan wajah Rasul Allah saw berubah, belum pernah aku melihat ia demikian, kecuali pada saat turun wahyu’.

Dan dalam riwayat lain[4] : ‘Allah tidak mengganti seorang pun yang lebih baik dari dia. Ia beriman kepada saya tatkala orang lain mengingkari saya. Ia membenarkan saya ketika orang lain mendustakan saya. Dan ia membantu saya dengan hartanya tatkala orang lain enggan membantu saya. Allah SWT memberi anak­anak kepada saya melaluinya dan tidak melalui yang lain’.

Kebenciannya terhadap Ali juga disebabkan sikap Rasul saw yang mendahulukan Ali dari ayahnya, Abu Bakar, sebagaimana pengakuannya sendiri. Imam Ahmad menceritakan[5] , yang berasal dari Nu’man bin Basyir: ‘Abu Bakar memohon izin menemui Rasul Allah saw dan ia mendengar suara keras Aisyah yang berkata: ‘Demi Allah, aku telah tahu bahwa engkau lebih mencintai Ali dari ayahku dan diriku!’, dan ia mengulanginya dua atau tiga kali’. Aisyah seperti lupa firman Allah:

‘Dan ia tiada berkata menurut keinginannya sendiri. Perkataannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya’.[6]

Ibn Abil­Hadid menceritakan: ‘Aku membacakan pidato Ali mengenai Aisyah dari Nahju’l­ Balighah[7] , kepada Syaikh Abu’ Ayyub Yusuf bin Isma’il tatkala aku berguru ilmu kalam kepadanya. Aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang pidato Ali tersebut. Ia memberi jawaban yang panjang. Aku akan menyampaikannya secara singkat, sebagian dengan lafalnya sebagian lagi dengan lafalku sendiri.(Abu ‘Ayyub melihat dari kacamata yang umum terjadi. Penulis menerjemahkannya agak bebas).

Abu ‘Ayyub berkata: ‘Kebencian Aisyah kepada Fathimah timbul karena Rasul Allah saw mengawini Aisyah setelah meninggalnya Khadijah. Sedang Fathimah adalah putri Khadijah. Secara umum antara anak dan ibu tiri akal timbul ketegangan dan kebencian. Istri akan mendekati ayahnya dan bukan suaminya, dan anak perempuan tidak akan senang melihat ayahnya akrab dengai ibu tirinya. Ia menganggap ibu tirinya merebut tempat ibunya. Sebaliknya anak perempuan benar­benar jadi tumpuan kecemburuan ibu tiri. Beban cemburu Aisyah kepada almarhumah Khadijah, berpindah kepada Fathimah. Besarnya kebencian pada anak tirinya sebanding dengan bencinya kepada madunya yang telah meninggal. Apalagi bila suaminya sering mengingat istrinya yang telah meninggal itu.

Kemudian semua sepakat bahwa Fathimah mendapat kedudukan mulia di sisi Allah SWT melalui hadis Rasul, yang juga ayahnya, sebagai Penghulu Wanita Kaum Mu’minin yang kedudukannya sejajar dengan Aisyah, Mariam binti ‘Imran dan Khadijah al­Kubra seperti yang tertera dalam hadis shahih Bukhari dan Muslim. Dan Rasul saw, memuliakan Fathimah dengan kemuliaan yang besar lebih besar dari yang disangka orang dan lebih besar dari pemuliaan yang lazim diberikan seorang ayah manapun kepada anaknya. Sampai melewati batas cinta ayah kepada anak. Dan Rasul Allah saw menyampaikannya terang­terangan di kalangan khusus maupun umum, berulang­ulang, bukan hanya sekali, dan di kalangan yang berbeda­beda, bukan di satu kalangan saja bahwa Fathimah adalah penghulu kaum wanita sedunia’. Melalui hadis yang berasal dari Ali, Umar bin Khaththab, Hudzaifah Ibnu Yaman, Abu Said al­Khudri, Abu Hurairah dan lain­lain Rasul bersabda: ‘Sesungguhnya, Fathimah adalah penghulu para wanita di surga, dan Hasan serta Husain adalah penghulu para remaja di surga. Namun ayah mereka berdua (Ali) lebih mulia dari mereka berdua’[8] Atau hadis yang diriwayatkan Aisyah sendiri bahwa Rasul telah bersabda: ‘Wahai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi penghulu para wanita sejagat atau penghulu wanita umat ini atau penghulu kaum mu’minat?’.[9]

Rasul bersabda bahwa kedudukan Fathimah sama dengan kedudukan Mariam binti ‘Imran[10] , dan bila Fathimah lewat di tempat wuquf, para penyeru berteriak dari arah ‘arsy, ‘Hai penghuni tempat wuquf, turunkan pandanganmu karena Fathimah binti Muhammad akan lewat[11] Hadis ini merupakan hadis shahih dan bukan hadis lemah.

Ali menikahi Fatimah setelah dinikahkan Allah SWT di langit dan disaksikan para malaikat.[12]

Betapa sering Rasul Allah saw bersabda: ‘Barangsiapa menyakiti Fathimah, maka ia telah menyakitiku’, ‘Membencinya berarti membenciku’[13] , ‘Ia bagian dari diriku’, Meraguinya berarti meraguiku’[14] Dan semua pemuliaan dan penghormatan ini tentu menambah kebencian Aisyah yang tidak berusaha sungguh­sungguh untuk melihat konteks ini dengan kenabian Rasul saw.

Berbeda misalnya dengan Ummu Salamah, juga istri Rasul, ummu’l­muminin, yang mencintai Fathimah, Ali, Hasan dan Husain bukan hanya sebagai anggota keluarga tetapi juga sebagai yang dimuliakan Allah dengan ayat thathhir.[15]

Biasanya bila seorang istri merasa diperlakukan kurang baik oleh sesama wanita maka berita ini akan sampai kepada suami. Dan lumrah bila istri menceritakan ini pada suaminya di malam hari. Tetapi Aisyah tidak dapat melakukan ini, karena Fathimah adalah anak suaminya. Ia hanya bisa mengadu pada wanita­wanita Madinah dan tetangga yang bertamu ke rumahnya. Kemudian wanita­wanita ini akan menyampaikan berita kepada Fathimah, barangkali begitu pula sebaliknya. Dan yang jelas ia akan menyampaikannya kepada ayahnya, Abu Bakar. Dan sampailah kepada Abu Bakar semua yang terjadi. Kemampuan Aisyah untuk mempengaruhi orang sangatlah terkenal dan hal ini akan membekas pada diri Abu Bakar. Kemudian Rasul Allah saw melalui hadis yang demikian banyak, telah memuliakan dan mengkhususkan Ali dari sahabat­sahabat lain. Berita ini tentu menambah kepedihan Abu Bakar, karena Abu Bakar adalah ayah Aisyah. Pada kesempatan lain sering terlihat Aisyah duduk bersama Abu Bakar dan Thalhah sepupunya dan mendengar kata­kata mereka berdua. Yang jelas pembicaraan mereka mempengaruhinya sebagaimana mereka terpengaruh oleh Aisyah’.

Kemudian ia melanjutkan: ‘Saya tidak mengatakan bahwa Ali bebas dari ulah Aisyah. Telah sering timbul ketegangan antara Aisyah dan Ali di zaman Rasul Allah saw’. Misalnya telah diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasul dan Ali sedang berbicara. Aisyah datang menyela antara keduanya dan berkata: ‘Kamu berdua berbicara terlalu lama!’. Rasul marah sekali. Dan tatkala terjadi peristiwa Ifk, menurut Aisyah, Ali mengusulkan Rasul Allah saw agar menceraikan Aisyah dan mengatakan bahwa Aisyah tidak lebih dari tali sebuah sandal. (Tapi banyak orang meragukan peristiwa Ifk yang diriwayatkan Aisyah ini. Dari mana misalnya orang mengetahui usul Ali kepada Rasul? Siapa yang membocorkannya?, pen.)

Di pihak lain Fathimah melahirkan banyak anak lelaki dan perempuan, sedang Aisyah tidak melahirkan seorang anak pun. Sedangkan Rasul Allah saw menyebut kedua anak lelaki Fathimah, Hasan dan Husain sebagai anak­anaknya sendiri. Hal ini terbukti tatkala turun ayat mubahalah[16]

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak­anak Kami dan anak­anak kamu, isteri­ isteri Kami dan isteri­isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang­orang yang dusta”.

Bagaimana perasaan seorang istri, yang tidak dapat melihat bahwa suaminya adalah seorang Rasul Allah, bila suaminya memperlakukan cucu tirinya sebagai anaknya sedangkan ia sendiri tidak punya anak?.

Kemudian Rasul menutup pintu yang biasa digunakan ayahnya ke masjid dan membuka pintu untuk Ali. Begitu pula tatkala Surat Bara’ah turun, Rasul Allah saw menyuruh Ali, yang disebutnya sebagai dari dirinya sendiri, untuk menyusul Abu Bakar dalam perjalanan haji pertama. Dan agar Ali sendiri membacakan surat Bara’ah atau Surat Taubah kepada jemaah dan kaum musyrikin di Mina.

Kemudian Mariah, istri Rasul, melahirkan Ibrahim dan Ali menunjukkan kegembiraannya, hal ini tentu menyakitkan hati Aisyah.

Yang jelas Ali sama sekali tidak ragu lagi, sebagaimana kebanyakan kaum Muhajirin dan Anshar, bahwa Ali akan jadi khalifah sesudah Rasul meninggal dan yakin tidak akan ada orang yang menentangnya. Tatkala pamannya Abbas berkata, kepadanya: “Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu dan orang akan berkata Paman Rasul membaiat sepupu Rasul, dan tidak akan ada yang berselisih denganmu!”, Ali menjawab: ‘Wahai paman, apakah ada orang lain yang menginginkannya?’. Abbas menjawab: ‘Kau akan tahu nanti!’, Ali menjawab: ‘Sedang saya tidak menginginkan jabatan ini melalui pintu belakang. Saya ingin semua dilakukan secara terbuka’. Abbas lalu diam.

Tatkala penyakit Rasul Allah saw semakin berat Rasul berseru agar mempercepat pasukan Usamah. Abu Bakar beserta tokoh­tokoh Muhajirin dan Anshar lainnya diikutkan Rasul dalam pasukan itu. Maka Ali ­yang tidak diikutkan Rasul dalam pasukan Usamah­ dengan sendirinya akan menduduki jabatan khalifah itu ­bila saat Rasul Allah saw tiba, ­ karena Madinah akan bebas dari orang­orang yang akan menentang Ali. Dan ia akan menerima jabatan itu secara mulus dan bersih. Maka akan lengkaplah pembaiatan, dan tidak akan ada lawan yang menentangnya.

Itulah sebabnya Aisyah memanggil Abu Bakar dari pasukan Usamah yang sedang berkemah di Jurf ­pada pagi hari Senin, hari wafatnya Rasul dan bukan pada siang hari­ dan memberitahukannya bahwa Rasul Allah saw sedang sekarat; yamutu.

Dan tentang mengimami shalat, Ali menyampaikan bahwa Aisyahlah yang memerintahkan Bilal, maula ayahnya, untuk memanggil ayahnya mengimami shalat, karena Rasul saw sebagaimana diriwayatkan telah bersabda: ‘Agar orang­orang shalat sendiri­sendiri’, dan Rasul tidak menunjuk seseorang untuk mengimami shalat. Shalat itu adalah shalat subuh. Karena ulah Aisyah itu maka Rasul memerlukan keluar, pada akhir hayatnya, dituntun oleh Ali dan Fadhl bin Abbas sampai ia berdiri di mihrab seperti diriwayatkan...’.

Setelah Abu Bakar dibaiat, Fathimah datang menuntut Fadak milik pribadi ayahnya tetapi Abu Bakar menolaknya dan mengatakan bahwa Nabi tidak mewariskan. Aisyah membantu ayahnya dengan membenarkan hadis tunggal yang disampaikan ayahnya bahwa ‘Nabi tidak mewariskan dan apa yang ia tinggalkan adalah sedekah’.

Kemudian Fathimah meninggal dunia dan semua wanita melayat ke rumah Banu Hasyim kecuali Aisyah. Ia tidak datang dan menyatakan bahwa ia sakit. Dan sampai berita kepada Ali bahwa Aisyah menunjukkan kegembiraan. Kemudian Ali membaiat Abu Bakar dan Aisyah gembira. Sampai tiba berita Utsman dibunuh dan Aisyah orang yang paling getol menyuruh bunuh Utsman dengan mengatakan Utsman telah kafir. Mendengar demikian ia berseru: ‘Mampuslah ia!’ Dan ia mengharap Thalhah akan jadi khalifah. Setelah mengetahui Ali telah dibaiat dan bukan Thalhah, ia berteriak: Utsman telah dibunuh secara kejam dan menuduh Ali sebagai pembunuh dan meletuslah perang Jamal’.[17]

Demikian penjelasan Ibn Abil­Hadid.

Terror Terhadap Kaum Syi’i

Mu’awiyah, yang juga seorang sahabat dan ipar Rasul Allah saw, disebut sebagai fi’ah al­baghiah atau kelompok pemberontak oleh Sunni maupun Syi’i, karena ia memerangi Imam Ali yang telah dibaiat secara syah oleh kaum Anshar dan Muhajirin. Hanya sekitar enam orang yang tidak membaiat Ali tetapi Ali membiarkan mereka. Di antara yang tidak membaiat Ali bin Abi Thalib adalah Abdullah bin Umar dan Sad bin Abi Waqqash.

Mu’awiyah memberontak terhadap Ali. Sejak Utsman meninggal tahun 35H/656 M. Mu’awiyah melakukan tiga cara untuk melawan Ali bin Abi Thalib:

1. Melakukan pembersihan etnik terhadap Syi’ah Ali dengan melakukan jenayah ke wilayah Ali. Pembunuhan terhadap Syi’ah Ali dilakukan terhadap lelaki maupun anak­anak. Perempuan dijadikan budak. Menyuruh seseorang melaknat Ali, dan bila ia menolak langsung dibunuh.

2. Melaknat Ali dalam khotbah­khotbah Jum’at, Idul­Fithri dan Idul­Adha diseluruh negara. Juga pada musim haji di Makkah.

3. Membuat hadis­hadis palsu untuk menurunkan martabat Ali serendah­rendahnya dan membesarkan dirinya serta ketiga khalifah awal.

Membunuh, Sembelih Bayi, Perbudak Muslimah

Tatkala khalifah Ali masih hidup, Mu’awiyah mengirim ‘malikil maut’ yang bernama Busr bin Arthat dengan 4.000 anggota pasukan berkeliling ke seluruh negeri untuk membunuh siapa saja pengikut dan sahabat Ali yang ia temui termasuk perempuan dan anak­anak kemudian merampas harta bendanya. Perempuan Muslimah ditawan dan dijadikan budak untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam. Busr melakukannya dengan baik sepanjang perjalannnya sampai ia tiba di Madinah dan ia telah membunuh ribuan Syi’ah Ali yang tidak bersalah. Abu Ayyub al­Anshari ­ rumahnya ditempati Rasul Allah saw tatkala baru sampai di Madinah ketika hijrah­ pejabat gubernur Ali di Madinah, melarikan diri ke tempat Ali di Kufah. Kemudian Busr ke Makkah dan membunuh sejumlah keluarga Abi Lahab. Abu Musa, gubernur Ali juga melarikan diri. Ia lalu ke Sarat dan membunuh semua yang turut Ali di perang Shiffin, sampai di Najran ia membunuh Abdullah bin ‘Abdul Madan al­Harai dan anaknya, ipar keluarga Banu Abbas yang ditunjuk Ali sebagai gubernur. Kemudian ia sampai di Yaman. Pejabat di sana adalah Ubaidillah bin Abbas. Ubaidillah melarikan diri tatkala mengetahui kedatangan Busr. Busr menemukan kedua anaknya yang masih balita. Ia lalu menyembelih dengan tangannya sendiri kedua anak itu di hadapan ibunya. Kekejamannya sukar dilukiskan dengan kata­kata dan memerlukan buku tersendiri. Seorang dari Banu Kinanah berteriak tatkala Busr hendak membunuh kedua anak tersebut:

‘Jangan bunuh mereka! Keduanya adalah anak­anak yang tidak herdosa dan bila Anda hendak membunuhnya, bunuhlah saya bersama mereka’. Maka Busr bin Arthat membunuhnya kemudian menyembelih kedua anak yang berada di tangan ibunya, yaitu Qatsm dan Abdurrahman. Sang ibu, Juwairiah binti Khalid bin Qarizh al­Kinaniah, istri Ubaidillah bin Abbas jadi linglung dan gila. Di musim haji ia berkeliling mencari kedua anaknya dan dengan menyayat hati ia bertanya tentang anaknya yang kemudian ditulis oleh penulis­penulis sejarah seperti yang tertulis dalam al­Kamil berikut.

Siapa yang tahu di mana kedua anakku,

Dua mutiara, baru lepas dari kerang,

Sapa yang tahu di mana kedua bocahku,

Kuping dan jantung­hatiku telah diculik orang,

Siapa yang tahu di mana kedua puteraku,

Sumsum tulang dan otakku disedot orang,

Kudengar Busr, aku tidak percaya apa orang bilang,

Berita itu bohong, mana mungkin ia lakukan,

Menyembelih dua bocah, leher kecil ia potong?

Aku bingung, tunjukkan kepadaku, sayang,

Mana bayiku, tersesat setelah salaf hilang,

Ia juga mengirim Sufyan bin ‘Auf al­Ghamidi dengan 6.000 prajurit menyerbu Hit[18] , al­Anbar dan al­Mada’in. Disini mereka membunuh pejabat Ali Hassan bin Hassan al­Bakri dan orang­ orangnya. Kemudian di Anbar mereka membunuh 30 dari seratus orang yang mempertahankan kota ini, mengambil semua barang yang ada, membumi­hanguskan kota al­Anbar sehingga kota itu hampir lenyap. Orang mengatakan bahwa pembumi hangusan ini sama dengan pembunuhan, karena, hati korban sangat pedih sekali. Kepedihan Ali tidak terlukiskan sehingga ia tidak dapat membaca khotbahnya dan menyuruh maulanya yang bernama Sa’d untuk membacakannya. Al­ Aghani melukiskan bahwa setelah Ghamidi sampai di kota Anbar ia membunuh pejabat Ali dan juga membunuhi kaum lelaki maupun perempuan.

Mu’awiyah juga mengirim Dhuhhak bin Qays al­Fihfi dengan pasukan yang terdiri dari 4.000 orang ke kota Kufah untuk membuat kekacauan dengan membunuh siapa saja yang ditemui sampai ke Tsa’labiah dan menyerang kafilah haji yang akan menunaikan haji ke Makkah serta merampok semua bawaan mereka. Kemudian ia menyerang al­Qutqutanah dan turut dibunuh kemanakan Ibnu Mas’ud, sahabat Rasul, ‘Amr bin ‘Uwais bin Mas’ud bersama pengikutnya. Fitnah di mana­mana. Di mana­mana bumi disiram dengan darah orang yang tidak berdosa. Pembersihan etnik terhadap Syi’ah Ali berjalan dengan terencana dan mengenaskan.

Kemudian Mu’awiyah mengirim Nu’man bin Basyir[19] pada tahun 39 H/659 M. menyerang ‘Ain at­ Tarm[20] dengan 1.000 prajurit dan menimbulkan bencana. Di sana hanya ada seratus prajurit Ali. Perkelahian dahsyat terjadi. Untung, kebetulan ada sekitar 50 orang dari desa tetangga lewat. Pasukan Nu’man mengira bantuan datang untuk menyerang dan mereka pergi.

Meracuni Hasan, Cucu Nabi Berkali­kali

Setelah Ali bin Abi Thalib meninggal dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam dengan pedang pada waktu subuh tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H/24 Januari 661 M, Hasan bin Ali dibaiat dan pertempuran­pertempuran dengan Mu’awiyah berlanjut. Pada pertengahan Jumadil Awal tahun 41 H/I 6 September 661 M. tercapai persetujuan damai antara Hasan bin Ali dan Mu’awiyah. Surat perdamaian berbunyi sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim.

Ini adalah pernyataan damai dari Hasan bin Ali kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwa Hasan menyerahkan kepada Mu’awiyah wilayah Muslimin, dan Mu’awiyah akan menjalankan Kitab Allah SWT dan Sunnah Rasul Allah saw dan tatacara Khulafa ur­ Rasyidin yang tertuntun, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan tidak boleh mengangkat seseorang jadi khalifah sesudahnya, tetapi akan diadakan lembaga syura di antara kaum Muslimin dan bahwa masyarakat akan berada dalam keadaan aman di daerah Allah SWT di Syam, Iraq, Hijaz dan Yaman, dan bahwa sahabat­sahabat Ali dan Syi’ah­nya terpelihara dalam keadaan aman, bagi diri, harta, para wanita dan anak­anak mereka, dan bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan setuju dan berjanji dengan nama Allah bahwa Mu’awiyah tidak akan mengganggu atau menganiaya secara tersembunyi atau terbuka terhadap Hasan bin Ali atau saudaranya Husain bin Ali atau salah seorang ahlu’l­bait Rasul Allah saw dan tidak akan mengganggu mereka yang berada di seluruh penjuru dan bahwa Mu’awiyah akan menghentikan pelaknatan terhadap Ali… [21]

Dan sebagaimana biasa Mu’awiyah melanggar janji. Ia meracuni Hasan bin Ali bin Abi Thalib, dan setelah Hasan meninggal ia bersujud yang diikuti semua yang hadir seperti dilakukannya tatkala imam Ali meninggal dunia.

Ibnu Sa’d menceritakan: Mu’awiyah meracuni Hasan berulang­ulang’. Waqidi berkata: Mu’awiyah meminumkan racun kepada Hasan, kemudian ia selamat, kemudian diminumkan racun lagi dan selamat, kemudian yang terakhir Hasan meninggal. Tatkala maut mendekat, dokter (thabib) yang menjenguknya berulang­ulang mengatakan bahwa Hasan diracun orang.’ Adiknya Husain berkata: ‘Ya ayah Muhammad, beritahukan saya, siapa yang meminumkan racun kepadamu?’. Hasan menjawab: ‘Mengapa, wahai saudaraku?’. Husain: ‘Demi Allah, aku akan membunuhnya sebelum engkau dimakamkan. Dan bila aku tidak berhasil, akan aku meminta orang mencarinya’. Hasan berkata: ‘Wahai saudaraku, sesungguhnya dunia ini adalah malam­malam yang fana. Doakan dia, agar dia dan aku bertemu di sisi Allah, dan aku melarang meracuninya’.[22]

Mas’udi mengatakan: ‘Tatkala ia diberi minum racun, ia bangun menjenguk beberapa orang kemudian, setelah sampai di rumah, ia berkata: ‘Aku telah diracuni, berkali­kali tetapi belum pernah aku diberi minum seperti ini, aku sudah keluarkan racun itu sebagian, tetapi kemudian kembali biasa lagi’. Husain berkata: ‘Wahai saudaraku, siapa yang meracunimu?’. Hasan menjawab: ‘Dan apa yang hendak kau lakukan dengannya? Bila yang kuduga benar, maka Allahlah yang melakukan hisab terhadapnya. Bila bukan dia, aku tidak menghendaki orang membebaskan diriku.’ Dan dia berada dalam keadaan demikian sampai 3 hari sebelum ia ra akhirnya meninggal. Dan yang meminumkan racun kepadanya adalah Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al­Kindi, dan Mu’awiyah yang memerintahkan kepadanya, dan bila ia berhasil membunuh Hasan ia akan dapat 100.000 dirham dan ‘aku akan mengawinkan kau dengan Yazid’. Dialah yang mengirim racun kepada Ja’dah, istri Hasan. Dan tatkala Hasan meninggal, ia mengirim uang tersebut dengan surat: ‘Sesungguhnya kami mencintai nyawa Yazid, kalau tidak maka tentu akan kami penuhi janji dan mengawinkan engkau dengannya’.[23]

Abu’l­Faraj al­Ishfahani menulis: ‘Hasan telah mengajukan syarat perdamaian kepada Mu’awiyah: Mu’awiyah bin Abi Sufyan tidak boleh mengangkat seseorang jadi khalifah sesudahnya. Dan bila Mu’awiyah akan mengangkat Yazid, anaknya, jadi khalifah, maka yang memberatkannya adalah Hasan bin Ali dan Sa’d bin Abi Waqqash[24] , maka Mu’awiyah meracuni mereka berdua dan mereka meninggal. Ia mengirim racun kepada putri Asy’ats bin Qais: ‘Aku akan kawinkan kau dengan anakku Yazid, bila kau racuni Hasan’, dan ia mengirim 100.000 dirham dan ia tidak mengawinkannya dengan Yazid.[25]

Abul Hasan at­Mada’ini berkata: ‘Hasan meninggal tahun 49 H/669 M setelah sakit selama 40 hari pada umur 47 tahun. Ia diracuni Mu’awiyah melalui tangan Ja’dah binti Asy’ats, istri Hasan dengan kata­kata: ‘Bila engkau membunuhnya dengan racun, maka engkau dapat 100.000 dan akan aku kawinkan kau dengan Yazid, anakku’. Dan tatkala Hasan meninggal, maka ia memberikan uang tersebut dan tidak mengawinkannya dengan Yazid. Ia berkata: ‘Aku takut kau akan lakukan terhadap anakku seperti yang engkau lakukan terhadap anak Rasul Allah saw’.[26] Hushain bin Mundzir ar­Raqasyi berkata: ‘Demi Allah Mu’awiyah tidak memenuhi sama sekali janjinya, ia membunuh Hujur dan teman­temannya, membaiat anaknya Yazid dan meracuni Hasan.’[27]

Abu Umar berkata dalam al­Isti’ab: ‘Qatadah dan Anu Bakar bin Hafshah berkata: Mu’awiyah meracuni Hasan bin Ali, melalui istri Hasan, yaitu putri Asy’ats bin Qais al­Kindi’. Sebagian orang berkata: Mu’awiyah memaksanya, dan tidak memberinya apa­apa, hanya Allah yang tahu!’. Kemudian ia menyebut sumbernya, yaitu Mas’udi.’[28]

Ibnu al­Jauzi mengatakan dalam ‘at­Tadzkirah Khawashsh’l­Ummah’: ‘Para ahli sejarah di antaranya ‘Abdul Barr meriwayatkan bahwa ia diracuni istrinya Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al­ Kindi.

As­Sudi berkata: Yang memerintahkannya adalah Yazid bin Mu’awiyah agar meracuni Hasan dan bahwa ia berjanji akan mengawininya. Dan tatkala Hasan meninggal, Ja’dah mengirim surat kepada Yazid menagih janjinya. Dan Yazid berkata: ‘Hasan saja kamu bunuh, apalagi aku, demi Allah, aku tidak rela’. Asy­Sya’bi mengatakan: ‘Sesungguhnya yang melakukan tipu muslihat adalah Mu’awiyah. Ia berkata kepada istri Hasan: ‘Racunilah Hasan, maka akan aku kawinkan engkau dengan Yazid dan memberimu 100.000 dirham. Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah menuntut janjinya. Mu’awiyah lalu mengiriminya uang tersebut dan menambahkan: ‘Sesungguhnya aku mencintai Yazid, dan mengharapkan agar ia tetap hidup, kalau tidak demikian tentu aku akan kawinkan engkau dengannya’.

Sya’bi berkata lagi: ‘Dan ini benar dengan berdasarkan saksi yang dapat dipercaya: ‘Sesungguhnya Hasan berkata tatkala akan mati dan telah sampai kepadanya apa yang dilakukan Mu’awiyah: ‘Aku telah tahu minumannya dan kebohongannya, demi Allah ia tidak memenuhi janjinya, dia tidak jujur dalam perkataannya’. Kemudian Sya’bi mengutip ath­Thabaqat dari Ibnu Sa’d: “Mu’awiyah meracuninya berulang ulang”.[29]

Ibnu’Asakir berkata: ‘Ia diberi minum racun, berulang­ulang, banyak, mula­mula ia bisa pulih, lalu diberi minum lagi dan ia tidak bisa pulih dan dikatakan: Sesungguhnya Mu’awiyah telah memperlakukan dengan ramah seorang pembantunya agar meracuninya dan ia lalu melakukannya dan berpengaruh sedikit demi sedikit, sampai ia memakai alat untuk bisa duduk dan ia bertahan sampai 40 kali. Muhammad bin at­Mirzuban meriwayatkan: ‘Ja’dah binti Asy’ats bin Qais adalah istri Hasan dan Yazid melakukan tipu muslihat agar ia mau meracuni Hasan. ‘Dan saya akan mengawininya, dan Ja’dah melakukannya. Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah menanyakan janji Yazid dan Yazid berkata: ‘Sesungguhnya, demi Allah, kalau Hasan saja kamu bunuh, apalagi kami’.[30]

Hasan bin Ali sakit yang berakhir dengan kematiannya. Ia diracun istrinya, atas suruhan Mu’awiyah dengan bayaran 100.000 dinar. Ia lalu memerintahkan Marwan bin Hakam yang diangkatnya jadi gubernur Madinah untuk terus mengamati Hasan dan menyuratinya. Tatkala datang berita bahwa Hasan telah meninggal seluruh penduduk Syam bertakbir. Seorang wanita, Fakhitab binti Quraidhah bertanya kepada Mu’awiyah: ‘Apakah kamu bertakbir bagi matinya putri Fathimah?. ‘Ya aku bertakbir karena hatiku gembira’[31] Ia sangat gembira dan bahagia dan bersujud, dan semua yang hadir ikut bersujud.[32]

Ia juga terkenal karena membunuh sahabat Rasul Allah saw Hujur bin ‘Adi dan kawan­kawannya pada tahun 51 H/671 M karena tidak mau melaknat Ali.

Membunuh Muhammad bin Abu Bakar, Mempermainkan Jenazah

Mu’awiyah membunuh Muhammad bin Abu Bakar, anak khalifah Abu Bakar. Mula­mula ia disiksa, tidak diberi minum, kemudian dimasukkan ke dalam perut keledai dan dibakar.

Untuk pertama kali dalam sejarah Islam, penguasa mempermainkan jenazah yang mereka bunuh. Dan jenazah ini adalah jenazah kaum Muslimin.

Penguasa memenggal kepala mereka setelah diikat kedua tangan ke belakang, menyayat­nyayat mayat, mengarak kepala­kepala mereka berkeliling kota, membawanya dari kota ke kota dan akhirnya dikirim ke ‘khalifah’ di Damaskus dengan menempuh jarak beratus­ratus kilometer.

Cukup dengan sedikit curiga bahwa seorang itu Syi’ah, maka mereka akan memotong tangan, kaki atau lidah mereka. Bila ada yang menyebut mencintai anak cucu Rasul saja maka ia akan dipenjarakan atau hartanya dirampas, rumah dimusnahkan. Bencana makin bertambah dan makin menyayat hati. Sampai gubernur Ubaidillah bin Ziyad membunuh Husain kemudian gubernur Hajjaj bin Yusuf yang membunuh mereka seperti membunuh semut. Ia lebih senang mendengar seorang mengaku dirinya zindiq atau kafir dari mendengar orang mengaku dirinya Syi’ah Ali.

Abu al­Husain Ali bin Muhammad bin Abi Saif al­Madani dalam kitabnya al­Ahdats, berkata: Mu’awiyah menulis sebuah surat kepada semua gubernurnya setelah tahun perjanjian dengan Hasan agar mereka mengucilkan orang yang memuliakan Ali dan keluarganya. Pidatokan dan khotbahkan di tiap desa dan di tiap mimbar pelaknatan Ali dan kucilkan dia dan keluarganya. Dan alangkah besar bencana yang menimpa Syi’ah Ali di Kufah. Diangkatlah Ziyad bin Sumayyah menjadi gubernur Kufah. Ia lalu memburu kaum Syi’ah. Ia sangat mengenal kaum Syi’ah karena ia pernah jadi pengikut Ali. Dan ia lalu memburu dan membunuh mereka di mana pun mereka berada, tahta kulli hajar wa madar membuat mereka ketakutan, memotong tangan dan kaki mereka, menyungkil bola mata mereka; samala al ‘uyun, dan menyalib mereka di batang­batang pohon korma. Ia memburu dan mengusir mereka ke luar dari ‘Irak dan tiada seorang pun yang mereka kenal, luput dari perburuan ini.[33]

Di samping itu istri dan putri­putri Syi’ah dijadikan budak dan untuk pertama kali dilakukan Mu’awiyah dengan Busr bin Arthat pada akhir tahun 39 H/660 M. Mereka memaksa kaum Syi’ah membaiat khalifah yang sebenarnya adalah raja yang lalim. Setelah membaiat, biasanya mereka belum merasa puas, sehingga mereka merasa perlu membumi hanguskan desa mereka seperti diriwayatkan Bukhari dalam tarikhnya.

Mu’awiyah melalui jenderalnya Busr bin Arthat tersebut membakar rumah­rumah Zararah bin Khairun, Rifaqah bin Rafi, Abdullah bin Sa’d dari Banu ‘Abdul Asyhal, semua adalah para sahabat kaum Anshar. Celakanya Ziyad bin Abih, yang mula­mula berpihak kepada Ali bin Abi Thalib, menyeberang ke Mu’awiyah, karena pengakuan Abu Sufyan bahwa Ziyad yang lahir dari seorang budak perempuan asal Iran adalah anaknya. Mu’awiyah yang melihat Ziyad sebagai seorang yang berbakat, mengakuinya sebagai saudaranya. Ummu Habibah, istri Rasul Allah, saudara Mu’awiyah tidak pernah mau mengakui Ziyad sebagai saudaranya.

Karena pernah bersama Ali maka Ziyad mengenal semua pengikut Ali dalam Perang Shiffin dan dengan mudah memburu dan membunuhi mereka.

Orang pertama yang dipenggal kepalanya oleh Mu’awiyah adalah Amr bin Hamaq sebagai Syi’ah Ali yang turut mengepung rumah Utsman dan dituduh membunuh Utsman dengan 9 tusukan. Ia melarikan diri ke Mada’in bersama Rifa’ah bin Syaddad dan terus ke Mosul. Ia ditangkap dan gubernur Mosul Abdurrahman bin Abdullah bin Utsman mengenalnya. Ia mengirim surat ke Mu’awiyah. Mu’awiyah menjawab seenaknya: “Ia membunuh Utsman dengan tusukan dengan goloknya (masyaqish) dan kita tidak akan bertindak lebih, tusuklah dia dengan sembilan tusukan”. Setelah ditusuk ­baru tusukan pertama atau kedua, kelihatannya ia sudah mati­ kepalanya dipenggal dan dikirim ke Syam, diarak kemudian diserahkan kepada Mu’awiyah dan Mu’awiyah mengirim kepala ini kepada istrinya Aminah binti al­Syarid yang sedang berada di penjara Mu’awiyah. Kepala itu dilemparkan ke pangkuan istrinya. Istrinya meletakkan tangannya di dahi kepala suaminya kemudian mencium bibirnya berkata:

Mereka hilangkan dia dariku amat lama,

Mereka bunuh dan sisakan untukku kepalanya,

Selamat datang, wahai hadiah,

Selamat datang, wahai wajah tanpa roma.[34]

Siapa yang Menikam Utsman?

Muawiyah mengatakan bahwa ‘Amr bin Hamaq membunuh Utsman? Tetapi penulis sejarah mengatakan bahwa orang yang membunuh Utsman tidaklah jelas. Walid bin ‘Uqbah, keluarga dan pejabat Utsman misalnya mengatakan bahwa yang menikam Utsman adalah Kinanah bin Basyir al­Tajibi:

Bukankah orang terbaik setelah tiga,

Dibunuh al­Tajibi yang datang dari Mesir?

Al­Hakim mengatakan[35] yang berasal dari Kinanah al­’Adwi yang berkata: ‘Saya adalah salah seorang yang mengepung rumah Utsman. Aku bertanya: ‘Apakah Muhammad bin Abu Bakar yang membunuh Utsman?’. Ia menjawab: ‘Tidak, yang membunuhnya adalah Jabalah bin al­Aiham seorang lelaki Mesir’. Dan ada juga yang bilang pembunuhnya adalah Kabirah al­Sukuni. Ada juga yang mengatakan pembunuhnya adalah Kinanah bin Basyir al­Tajibi, atau mereka berserikat membunuhnya. Mudah­mudahan Allah melaknat mereka. Walid bin ‘Uqbah berkata:

Wahai, manusia terbaik sesudah Nabi,

Dibunuh al­Tajibi yang datang dari Mesir.

Dalam Isti’ab[36] : ‘Orang pertama yang masuk ke rumah Utsman adalah Muhammad bin Abu Bakar dan ia memegang jenggot Utsman dan Utsman berkata: ‘Lepaslah wahai anak saudaraku, demi Allah ayahmu menghormatinya, Muhammad lalu pergi, kemudian masuk Ruman bin Sarhan yang membawa pisau yang mendatanginya dan berkata: ‘Agama apa yang Anda anuti wahai Natsal? Utsman menjawab: ‘Aku bukan Nat’sal telapi Utsman bin ‘Affan, dan aku menganut agama Ibrahim, hafif, Muslim dan bukan musyrik’, Ruman: ‘Bohong!’. Dan ia tikam ke pelipis kirinya, dan meninggallah Utsman.

‘Dan diceritakan orang berselisih pendapat. Ada yang mengatakan Basyir yang membunuhnya seorang diri. Ada yang mengatakan Muhammad bin Abu Bakar membunuhnya dengan golok[37] , dan ada yang mengatakan Muhammad bin Abu Bakar membuka jalan dan orang lain yang membantunya. Ada yang mengatakan Sudan bin Hamran. Ada yang mengatakan Ruman al­ Yamami. Ada yang mengatakan Ruman dari Banu Asad bin Khuzaimah. Ada lagi yang bilang Muhammad bin Abu Bakar memegang jenggotnya sambil menggoyang­goyangkannya dan berkata: Mu’awiyah tidak akan menolong engkau, tidak Abi Sarh dan tidak juga Amr’. Utsman berkata: ‘Ya, anak saudaraku. Tolong lepas, Anda memegang janggutku yang dihormati ayahmu, dan ayahmu tidak akan suka sikapmu padaku sekarang ini’. Dikatakan pada waktu itu Muhammad bin Abu Bakar meninggalkannya dan pergi. Dan ada yang mengatakan ia memberi isyarat kepada teman yang ada bersamanya dan seorang di antaranya membacoknya dan Utsman meninggal. Hanya. Allah yang Mahatahu.

Dan dalam Mustadrak yang diceritakan oleh Muhammad bin Thalhah: ‘Aku bertanya kepada seorang dari Banu Kinanah: ‘Apakah Muhammad bin Abu Bakar bertanggungjawab terhadap darah Utsman?’. Ia menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah. Ia masuk dan Utsman berkata: ‘Ya anak saudaraku, engkau bukan temanku’. Dan ia bicara dengan lemah lembut. Dan Muhammad bin Abu Bakar keluar dan ia tidak bertanggungjawab akan darah Utsman!’. Kemudian Muhammad bin Thalhah melanjutkan: ‘Aku bertanya. kepada orang dari Banu Kinanah itu: ‘Siapa yang membunuhnya?’ Ia menjawab: ‘Yang membunuhnya adalah orang Mesir yang dipanggil dengan nama Jablah bin al­Aiham. Kemudian ia berkeliling Madinah selama tiga hari dan berkata: ‘Akulah yang membunuh Na’tsal’.

Muhibbudin Thabari melaporkan[38] dengan mengutip al­Istiab. Muhammad bin Abu Bakar keluar dari rumah dan masuk Ruman bin Sarhan yang lalu membunuh Utsman. Dikatakan bahwa pembunuhnya adalah Jablah bin al­Aiham. Ada yang mengatakan al­Aswad at­Tajibi. Ada lagi yang mengatakan: Yasar bin Ghalyadh’.

Ibnu ‘Asakir menyebut peritiwa yang diceritakan Ibnu Katsir’[39] Seorang Kindah datang dari Mesir yang dipanggil Hamar, dengan kunyah[40] Abu Ruman. Qatadah menyebut namanya Ruman. Yang lain Azraq Asyqar. Yang lain menyebutnya Sudan bin Ruman al­Muradi. Ibnu Umar mengatakan nama pembunuh Utsman Aswad bin Hamran. Ia menikamnya dengan anak panah dan ia juga memegang pisau.

Ibnu Katsir menceritakan[41] : ‘Apa yang disebut sebagian orang bahwa sebagian sahabat dapat menerima dan senang dengan terbunuhnya Utsman adalah tidak benar. Tiada seorang sahabat pun yang suka terbunuhnya Utsman ra, meskipun semuanya juga membenci sebab­sebab terjadinya pembunuhan, termasuk ‘Ammar bin Yasir, Muhammad bin Abu Bakar dan ‘Amr bin Hamaq dan lain­lain.