Abu Hurairah dan Ka’b alAhbar
Ibnu Katsir berkata dalam alBidayah wanNihayah: ‘Muslim bin alHajjaj mendengar dari Busr bin Sa’id yang berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan lindungi hadis Nabi, demi Allah kami telah melihat tatkala kami duduk bersama Abu Hurairah dan ia telah menyampaikan hadis tentang Rasul Allah sedangkan sebenarnya ia sedang menyampaikan riwayat yang berasal dari Ka’b al Ahbar, kemudian seorang di antara kami berdiri dan mengatakan bahwa apa yang didengar Abu Hurairah dari Ka’b alAhbar dijadikannya hadis Rasul Allah’. Dan dalam riwayat lain: ‘Ia menjadikan apa yang dikatakan Ka’b alAhbar sebagai hadis Rasul Allah dan apa yang dikatakan Rasul Allah dikatakan dari Ka’b. Maka bertakwalah kepada Allah dan peliharalah hadishadis’. Yazid bin Harun berkata: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang (yudallisu) yaitu dengan mengacaukan apa yang didengarnya dari Ka’b dengan apa yang didengarnya dari Rasul dan ia tidak memisahkan yang satu dengan yang lain’.
Abu Hurairah segera pergi ke Madinah dari Bahrain setelah ia mendapat kabar tentang Ka’b al Ahbar sang Yahudi yang kemudian mengajari Abu Hurairah ajaranajaran Yahudi, isra’iliyat, dan ia memperdaya kaum Muslimin dengan khurafatnya, dan kaum Muslimin yang tidak mengerti mengambil dari Abu Hurairah. Seperti yang dikatakannya kepada Qais bin Ibnu Kharsyah: ‘Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak tertulis dalam Taurat yang diturunkan kepada Musa’.
Ibnu Sa’d meriwayatkan dalam bukunya AthThabaqat alKubra dari Abdullah bin Syaqiq bahwa Abu Hurairah. mencari dan mendatangi Ka’b alAhbar. Ka’b waktu itu berada di tengah sekelompok orang. Ka’b bertanya: ‘Apa yang kau kehendaki dari Ka’b?’ Abu Hurairah menjawab: ‘Aku sesungguhnya tidak mengetahui seorang pun dari Sahabat Rasul Allah yang lebih menghapal hadis Rasul Allah dari diriku! ‘Maka Ka’b menjawab: ‘Engkau sama sekali tidak hendak menjadi murid dengan hanya mengisi perutmu tiap hari dari Ka’b dan tidak belajar; dengan kata lain engkau tidak boleh hanya mengejar dunia’. Dan Abu Hurairah bertanya: ‘Engkaukah Ka’b?’. Ka’b menjawab ‘Ya’. Abu Hurairah berkata: ‘Untuk inilah aku datang kepadamu!’
AlHakim berkata bahwa riwayat ini shahih menurut syarat BukhariMuslim.
Ahmad Amin dalam mengulas Thabaqat dari Ibnu Sa’d ini menceritakan dalam Fajar alIslam bahwa Ka’b pada masa itu menyampaikan pelajarannya di dalam masjid. Tentang seorang laki laki tatkala memasuki masjid telah melihat Amir bin Abdullah bin ‘Abdul Qais sedang duduk di samping bukubuku dan di antaranya terdapat Kitab Taurat, dan Ka’b sedang membacanya.
Para ahli hadis tahu bahwa Abu Hurairah mengambil pelajaran dari Ka’b alAhbar.
Ahmad Syakir berkata: “Dan dari jenis ini terdapat riwayat para Sahabat yang mereka dengar dari para tabi’in seperti riwayat Abdullah bin Abbas, AbdullahAbdullah yang lain, Abu Hurairah, Anas (bin Malik) dan lainlainnya yang mendengar dari Ka’b alAhbar”.
Dan jelas Abu Hurairah merupakan Sahabat yang paling banyak tertipu oleh dan percaya kepada, serta membuat riwayat dari Ka’b dengan memperdaya orang. Abu Hurairah adalah yang terbanyak meriwayatkan hadis Rasul Allah, padahal riwayatnya terbukti berasal dari apa yang dibacakan kepadanya oleh Ka’b alAhbar.
Dzahabi berkata dalam Thabaqat alHuffazh dan dalam Sair A’lam anNubala’ dalam membicarakan Abu Hurairah bahwa Ka’b alAhbar telah berkata: ‘Bukan main Abu Hurairah! Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isinya dari Abu Hurairah’.
Dzahabi berkata di bagian lain: ‘Abu Hurairah mengambil dari Ka’b alAhbar’.
Dan Baihaqi dalam alMadkhal dari jalur Bakar bin Abdullah dari Abi Rafi’ dari Abu Hurairah yang berkata: ‘Bila Abu Hurairah bertemu dengan Ka’b maka ia akan meminta Ka’b menyampaikan riwayat. Dan Ka’b kemudian berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isi Taurat dari Abu Hurairah”.
Abu Hurairah adalah seorang buta huruf, bukan hanya tidak membaca bahasa Ibrani, malah ia tidak bisa mengeja huruf Arab. “Ia berkata: ‘Tidak ada seorang sahabat Nabi saw pun yang demikian banyak membawakan hadis Nabi kecuali Ibnu Umar. Hanya saja ia (bisa baca) tulis, sedang saya tidak”.
Dan pada masa itu tidak ada Muslim yang mengerti Taurat. Ka’b alAhbar adalah orang Yahudi dari Yaman yang baru masuk Islam di zaman para Sahabat dan belum pernah bertemu dengan Rasul Allah, oleh karena itu dia termasuk generasi tabi’in.
Thaha Husain berkata: ‘Ka’b alAhbar adalah seorang eksentrik (gharib alathwar), mengetahui bagaimana menipu banyak orang Islam dan di antaranya Umar bin Khaththab, dialah Ka’b al Ahbar, seorang Yahudi dari Yaman. Ia menyatakan bahwa ia bertanya kepada Ali, mudah mudahan Allah memberi rahmat kepadanya, yaitu tatkala Ali diutus Rasul Allah ke Yaman dan tatkala Ali mengabarkan kepadanya sifat Nabi, ia mengatakan ia telah mengetahui sifat Nabi yang diceritakan Ali dari dalam Taurat. Dan ia tidak datang ke Madinah pada masa Nabi masih hidup. Dia tetap dalam agama Yahudinya di Yaman. Tapi ia mengatakan bahwa pada masa itu ia telah masuk Islam dan berdakwah di Yaman. Ia datang ke Madinah pada masa Umar menjadi khalifah.
Ia menjadi maula (di bawah perlindungan, pen.) Abbas bin ‘Abdul Muththalib, mudahmudahan Allah memberi rahmat kepadanya, dan Ka’b dengan ahlinya membohongi kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa ia menemukan sifatsifat mereka dalam Kitab Taurat. Dan kaum Muslimin mengagumi hal demikian itu dan dengan demikian mengagumi dirinya juga. Dan ia tidak segan segan membohongi Umar bin Khaththab sendiri dengan mengatakan bahwa ia mendapatkan sifat Umar dalam Taurat dan Umar terheranheran. Umar bertanya: ‘Engkau menemukan namaku dalam Thurat?’. Ka’b menjawab: ‘Aku tidak mendapatkan namamu dalam Taurat, tetapi aku mendapatkan sifatmu!’.
AlUstadz Sa’id alAfghani menulis dalam majalah Risalah alMishriyah: ‘Bahwa Wahb bin Munabbih adalah Zionis pertama telah saya koreksi dalam artikel yang dimuat dalam edisi nomor 656 majalah ini, dengan bukti yang kuat bahwa Ka’b alAhbarlah sebenarnya Zionis yang pertama..’.
Para penulis Muslim di zaman dahulu telah melihat kelemahankelemahan hadis Abu Hurairah. Para peneliti sudah tahu pasti bahwa Abu Hurairah mendapatkan kisahkisah Perjanjian Lama dari Ka’b alAhbar, sebelum ia menyampaikan hadishadisnya di zaman Mu’awiyah.
Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah, politikus yang ulung itu, telah memerintahkan untuk mengumpul ‘para Sahabat’, agar menyampaikan hadishadis yang mengutamakan para Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman untuk mengimbangi keutamaan Abu Turab (Ali bin Abi Thalib). Untuk itu, Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedudukan kepada mereka. Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif alMada’ini, dalam bukunya, alAhdats, mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kepada bawahannya: ‘Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orangorang, agar menyediakan hadishadis tentang para Sahabat dan khalifah; perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamu pun harus menyediakan hadis yang sama tentang Sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya, dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan Syi’ahnya’. Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar (fi kulli kuratin wa’ala kulli minbarin).
Keutamaan para Sahabat ini menjadi topik terpenting di kalangan para Sahabat, beberapa jam setelah Rasul wafat, sebelum lagi beliau dimakamkan. Keutamaan ini juga menjadi alat untuk menuntut kekuasaan dan setelah peristiwa Saqifah topik ini masih terus berkelanjutan. Para penguasa dan para pendukungnya membawa hadishadis tentang keutamaan penguasa untuk ‘membungkam’ kaum oposisi, dan demikian pula sebaliknya.
Dalam menulis buku sejarah, seperti tentang peristiwa Saqifah, yang hanya berlangsung beberapa jam setelah wafatnya Rasul Allah saw, harus pula diadakan penelitian terhadap para pelapor, prasangkaprasangkanya, keterlibatannya dalam kemelut politik, derajat intelektualitas, latar belakang kebudayaannya, sifatsifat pribadinya, dengan melihat bahanbahan sejarah tradisional yang telah dicatat para penulis Muslim sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi. Tulisan sejarah menjadi tidak bermutu apabila penulisnya terseret pada satu pihak, dan memilih laporanlaporan tertentu untuk membenarkan keyakinannya. Sebagai contoh, hadishadis dan laporan lainnya dari Abu Hurairah. Laporannya sangat berharga untuk memahami kemelut politik pada zaman itu, bagaimana sikap masa bodoh penguasa terhadap agama setelah Khulafa’urRasyidin dan pengaruhnya terhadap perkembangan keagamaan. Tetapi mutu laporannya sendiri terhadap suatu peristiwa ‘politik’, haruslah diragukan.
HadisHadis Ramalan Politik
Masalah lain yang harus dipertimbangkan dalam menulis peristiwa Saqifah, adalah riwayat atau hadis berupa nubuat susunan khalifah sesudah Rasul”. Riwayat dan hadishadis ini menceritakan “ramalan” dengan menyebut nama para Sababat yang menggantikan Rasul setelah wafatnya. Misalnya, sebuah riwayat Shahih Muslim yang berasal dari Ibnu Abi Mulaikah: “Orang bertanya kepada Aisyah: ‘Siapa yang akan ditunjuk Rasul Allah untuk menjadi khalifahnya andaikata Rasul Allah akan menunjuk penggantinya?’ Aisyah menjawab, ‘Abu Bakar’. Dan ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapa sesudah Abu Bakar?’ Aisyah menjawab, Umar’. Kemudian ditanyakan lagi, ‘Siapa sesudah Umar?’ Aisyah menjawab, ‘Abu ‘Ubaidah bin alJarrah,’ Ia tidak meneruskan”.
Sebuah hadis diriwayatkan juga oleh Aisyah: ‘Rasul membawa batu pertama untuk membangun masjid, kemudian Abu Bakar, lalu Umar; Utsman membawa batu terakhir. Dan aku bertanya ‘Ya, Rasul Allah, apakah Anda melihat bagaimana mereka membantu?’ Dan Rasul berkata: ‘Wahai Aisyah, demikianlah (urutan) khalifah sesudahku”.
Hadis dan riwayat seperti ini puluhan jumlahnya. Contoh di atas menunjukkan bahwa Rasul Allah mengucapkan katakata tersebut kepada Aisyah sendiri, dan tidak diumumkan kepada jemaah atau di depan para Sahabat.
Hadis yang pertama, dalam kenyataannya, tidak terjadi; Abu ‘Ubaidah tidak menjadi khalifah. Hadis yang kedua sangat meragukan, karena tatkala Masjid Madinah mulai dibangun, Rasul Allah belum kumpul dengan Aisyah yang waktu itu baru berusia delapan tahun. Tidak ada pula catatan bahwa Aisyah berada di sana tatkala Masjid Nabi dibangun. Lagi pula pada waktu itu Utsman yang hijrah ke Habasyah belum pulang ke Madinah. Dari segi sejarah, hanyalah dapat dikatakan bahwa hadis yang pertama diucapkan di zaman Umar, sedang hadis yang kedua diucapkan di zaman Utsman atau di zaman Ali.
Lagi pula, tidaklah adil membawa hadishadis Aisyah dalam hubungan dengan ‘kemelut politik’ setelah wafatnya Rasul, karena orang mengetahui ‘kebencian’ Aisyah kepada Ali.
Beberapa contoh, misalnya, terasa perlu dikemukakan di sini. Tatkala sakit Rasul Allah bertambah berat, beliau dibawa ke masjid, dipapah oleh dua orang, yaitu Fadhl bin Abbas bin ‘Abdul Muththalib, dan seorang lagi. Hadis ini diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah, dari Aisyah. Ubaidillah kemudian berkata: ‘Apa yang dikatakan oleh Aisyah kepadaku, kusampaikan kepada Abdullah bin Abbas, yang mengembalikan pertanyaan kepadaku: “Tahukah engkau siapa gerangan orang yang tidak disebutkan namanya oleh Aisyah?’ ‘Tidak’, jawabku. Dan kemudian menambahkan: ‘Sungguh, Aisyah tidak pernah merasa senang dengan segala berita baik mengenai Ali’.
Imam Ahmad, dalam Musnadnya, mengatakan bahwa tatkala orang datang kepada Aisyah dengan mencaci Ali bin Abi Thalib dan ‘Ammar bin Yasir, Aisyah berkata: ‘Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai Ali, sedang mengenai ‘Ammar aku telah mendengar Rasul Allah saw bersabda: ‘Ia tidak akan memilih akan dua urusan kecuali ia akan memilih yang lurus’
Aisyah mengatakan Rasul wafat sambil bersandar ke dada Aisyah, dan tidak menyampaikan wasiat apaapa. Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Imam Ali bahwa tatkala Rasul wafat kepala beliau berada di pangkuan Ali:
Ali berkata: ‘Rasul Allah saw bersabda tatkala beliau sedang sakit: Panggilkan untukku saudaraku!’. Dan mereka memanggil Ali. Dan beliau bersabda: ‘Dekatlah kepadaku!’. Dan aku mendekatinya. Dan beliau terus bersandar dan berkatakata kepadaku…sampai penyakitnya menjadi berat di pangkuanku!’
Abu Ghatfan berkata:
‘Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah engkau melihat bahwa Rasul Allah saw wafat dan kepalanya berada dipangkuan seseorang?’ Ibnu Abbas menjawab: ‘Rasul Allah wafat sambil bersandar pada Ali; dan aku bertanya: “Urwah menceritakan kepadaku yang didengarnya dari Aisyah yang berkata: ‘Rasul Allah saw wafat sedang kepalanya berada antara dada dan leherku (baina sahri wa nahri)! Ibnu Abbas menjawab: ‘Apakah engkau berakal? Demi Allah, sungguh Rasul Allah saw wafat sambil bersandar ke dada Ali dan Ali memandikan beliau..!’
Dan Jabir bin Abdullah alAnshari berkata: ‘Di zaman Umar, suatu ketika Ka’b alAhbar berdiri dan kami sedang duduk. Ia bertanya kepada Umar, katakata apa yang disabdakan Rasul Allah saw pada akhir hidupnya?’ Umar menjawab: ‘Tanyakan kepada Ali!’ Ka’b: ‘Di mana dia?’ Umar: ‘Dia berada disini!’ Maka Ka’b bertanya kepadanya dan Ali menjawab: ‘Ia bersandar ke dadaku dan kepalanya berada di pundakku sambil berkata: ‘(Jangan tinggalkan) shalat, shalat!’ Kemudian Ka’b berkata: ‘Demikianlah akhir kehidupan para Nabi dan demikianlah mereka diperintahkan dan di utus!’ Dan ia melanjutkan: ‘Dan siapa yang memandikan wahai Amiru’lmu’minin?’ Umar menjawab: ‘Tanyakan pada Ali!’ Dan Ka’b lalu bertanya kepada Ali. Ali menjawab: ‘Akulah yang memandikannya, dan Abbas pada waktu itu sedang duduk tatkala Usamah serta Syuqran bergantian menyiramkan air!’
Tatkala sedang berlangsung Perang Jamal, seorang prajurit terheranheran melihat betapa para Sahabat yang pada waktu lalu telah berjuang tanpa pamrih untuk Islam, sekarang saling membunuh. Ia kemudian mendatangi Ali bin Abi Thalib lalu bertanya, Apakah mungkin Thalhah dan Zubair serta Aisyah berkumpul bersamasama untuk memperjuangkan kepalsuan? Apakah hal itu mungkin terjadi? Ali menjawab: Anda tertipu. Kebenaran dan kepalsuan tidak akan diketahui dari ukuran kekuatan dari pribadi orang. Tidaklah benar bila Anda menetapkan kebenaran berdasarkan tindakan pribadi tersebut. Ini benar, karena sesuai dengan tindakannya, dan itu salah, karena tidak sesuai dengan tindakannya. Tidak, manusia tidak boleh menjadi ukuran kebenaran dan kepalsuan. Kebenaranlah yang harus menjadi tolok ukur bagi orang dan pribadi.” Dengan demikian, hadishadis politik seperti itu ditinjau dari berbagai segi, haruslah diragukan. Dan mengemukakan data sejarah tidaklah akan mengurangi penghormatan kita kepada ummu’lmu’minin dan para Sahabat.
Buku ini ditulis setelah mempertimbangkan halhal di atas. Sumbersumber utama buku ini, dimuat dalam satu bab tersendiri. Kecuali seorang dua, yang penulis sebutkan latar belakang mazhab yang dianutnya, semua sumber yang dipetik dalam buku ini adalah para sejarahwan Sunni.
Dalam buku ini juga penulis memuat peta wilayah kota Madinah dan denah Masjid Nabi. Denah Masjid Nabi ini penulis buat berdasarkan beberapa buku yang terpenting di antaranya ialah Fushul min Tarikh alMadinah alMunawwarah oleh Ali Hafizh, Madinah, Saudi Arabia. Keterangan peta dan denah itu, dalam hubungan dengan peristiwa Saqifah, penulis muat dalam bab ‘Madinah alMunawwarah pada saat wafatnya Rasul’. Ukuran panjang untuk mengukur masjid dan kamar Rasul, penulis buat berdasarkan pengukuran dengan hasta oleh Sayyid Samhudi. Penulis mengubah dari hasta (dzira’) ke meter dengan mengalikan 0.45; sebagai contoh, 1 hasta tambah 1/3 hasta (kebiasaan orang dahulu mengukur jarak) adalah (1 + 1/3) x 0.45 = 0.825 meter, dibulatkan jadi 0,83 meter.