• Mulai
  • Sebelumnya
  • 23 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Pengunjung: 2736 / Download: 1213
Ukuran Ukuran Ukuran
Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah (4)

Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah (4)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

sejarah islam

Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah

by: O. Hashem

Jakarta

2004

BISMILLAHIRRAHMAN NIRAHIM

“Wahai orang­orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar­benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Al­Qur’an

Surah An­Nisa’: 135

Prakata Penulis

Buku‘Saqifah’ cetakan keempat oleh Yapi ini bertambah tebal hampir dua kali lipat dibandingkan cetakan sebelumnya. Kritik­kritik tertulis dalam bentuk buku dan artikel di beberapa majalah maupun kritik lisan dalam diskusi­diskusi khusus untuk membicarakan buku ini, memaksa penulis melengkapinya.

Pembaca dapat langsung mengikuti peristiwa Saqifah dengan meloncat ke bab 2; ‘Sumber’.

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada penulis ahli sejarah Islam Al Allamah, Habib Zainal 'Abidin bin Husain Al Muhdhar atas kebaikannya meminjamkan buku­buku yang sukar didapat.

Demikian juga kepada Ustadz Ahmad bin Abdurrahman Al Aydrus, seorang ahli sastra yang juga memberikan buku­buku yang penulis butuhkan. Juga kepada kawan yang penulis cintai Wancik Cherid yang selalu mendorong penulis untuk menyelesaikan buku ini. Penulis juga berhutang budi kepada banyak teman­teman yagg tidak mungkin penulis sebut satu demi satu.

Akhirnya kepada isteri penulis Hadijah yang dengan sabar membaca dan memberi catatan­catatan pada naskah buku ini.

Tanpa semua ini buku ini tidak mungkin ada.

Wabillahi Taufiq wal Hidayah.

Penerbit

Allah SWT Turun ke Langit Dunia (?)

Abu Hurairah: Rasul Allah saw bersabda: ‘Allah ta’ala tiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga akhir malam dan berseru: ‘Barangsiapa yang berdoa kepada­Ku niscaya akan Ku­ kabulkan, dan barangsiapa yang meminta akan Kuberikan, dan barangsiapa yang memohon pengampunan akan Ku­ampuni.” (Bukhari dan Muslim). Karena tiap detik dimuka bumi ini separuh bola bumi melewati malam hari, maka Tuhan selalu berada, di ‘langit dunia’ (as­Sama’ ad­dunya) dan selalu berfirman seperti dikatakan oleh Abu Hurairah.

Sungai Nil Dan Efrat Adalah Sungai Dari Surga

Diriwayatkan oleh Muslim dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasul Allah saw bersabda: ‘Sungai Nil dan Sihan dan Jihan dan Furat adalah sungai­sungai di Surga’ dan riwayat ini disampaikan juga oleh Ka’b al­Ahbar yang berbunyi: ‘Ada empat sungai di Surga yang diletakkan di dunia oleh Allah yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi, yaitu Nil; Sungai Madu di Surga, dan Furat; Sungai Minuman Keras, dan Sihan; Sungai Air, serta Jihan; Sungai Susu di dunia![1]

Hadis ‘Tiada Penyakit Menular’ dari Abu Hurairah

Abu Hurairah berkata: Rasul Allah saw bersabda: ‘Tidak ada tular menular, tidak ada shafar (penyakit kuning) dan tidak juga ada hama. Maka bertanyalah seorang Arab: ‘Ya Rasul Allah, mengapa untaku yang berada di lapangan (yang sehat dan gesit) seperti kijang, tiba­tiba menderita penyakit, setelah unta yang berpenyakit masuk di tengah unta­untaku?’. Nabi saw bertanya: ‘Lalu siapakah yang menulari unta yang pertama (tadi)?’ (Bukhari dan Muslim).

Sedang di pihak lain para ulama mengenal hadis termasyhur dari Usamah bin Zaid, bahwa Rasul Allah telah bersabda: ‘Bila kamu mendengar adanya wabah penyakit pes (tha’un) di suatu daerah, maka jangan masuki daerah itu; dan bila telah terjadi (wabah) dan kamu berada di dalamnya maka janganlah kamu keluar (dari daerah tersebut)!’ Hadis di atas telah disampaikan juga oleh Abdurrahman bin ‘Auf. Dan karena kedua hadis tersebut, Umar bin Khaththab, tatkala suatu ketika pergi ke Syam dan mengetahui bahwa negeri tersebut terserang wabah, ia segera kembali bersama rombongannya.

Hadis Abu Hurairah Tentang Lalat, Perang Lalat

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: ‘Bila lalat jatuh ke dalam bejana maka benamkanlah seluruhnya karena sayapnya yang sebuah mengandung penyakit (da’) dan yang satu lagi mengandung obat (syifa’)’. Di tempat lain: ‘yang sebelah mengandung racun (samm) dan yang satu lagi obat (syifa), dan ia mendahulukan (sayap yang mengandung) racun dan mengakhirkan (sayap yang mengandung) obat’. Dan di bagian lain ‘di bawah sayap kanan lalat terdapat obat dan di bawah sayap kiri terdapat racun, dan bila jatuh ke dalam bejana (ina’) atau ke dalam minuman (syarab) atau ke dalam kuah (maraq) maka benamkanlah karena dengan demikian ia akan mengangkat sayap yang di bawahnya mengandung obat dan melindungi sayap yang di bawahnya mengandung racun’.

Hadis ini telah menyusahkan para da’i yang membaca hadis Bukhari, karena tidak ada orang yang mengerti ilmu kesehatan yang akan menerima hadis ini tanpa menimbulkan pertentangan dalam dirinya.

Penolakan terhadap hadis ini telah menimbulkan perdebatan sengit dalam majalah ‘Liwa’ al­Islam’ di Mesir pada masa lalu. Perdebatan tentang ‘Hadis Lalat’ ini terkenal dengan nama ‘Perang Lalat’ (Ma’rikah az­Dzubab). Yang membela hadis ini memperkuat dalilnya dengan mengatakan bahwa hadis ini shahih karena dimuat dalam Bukhari, dan yang lain beralasan bahwa hadis mengenai ‘kerakusan’ seperti itu yang bertentangan dengan ilmu dan karena lalat yang menjadi sumber penularan banyak penyakit.

Hadis Pundi­pundi Abu Hurairah

Abu Hurairah berkata: ‘Aku tertimpa tiga musibah dalam Islam. Tiada peristiwa yang menimpaku seperti itu. Wafatnya Rasul Allah dan aku adalah sahabatnya, dibunuhnya Utsman dan al­ mizwad’. Orang­orang bertanya: ‘Dan apa itu ‘al­mizwad’ ya Abu Hurairah?’ Abu Hurairah menjawab: ‘Kami bersama Rasul Allah dalam perjalanan dan Rasul Allah bersabda: ‘Ya Abu Hurairah! Adakah sesuatu padamu?’. Aku berkata: ‘Ada kurma dalam pundi­pundi (mizwad)!’. ‘Bawa kemari!’ sabda Rasul Allah. Dan tatkala aku mengeluarkan kurma dari dalam pundi­pundi, ia mengusap dan berdoa ke dalamnya kemudian bersabda: ‘Panggilkan sepuluh orang!’ Dan orang­orang makan sampai kenyang dan demikianlah seterusnya sehingga seluruh pasukan (kenyang dengan kurma). Dan masih ada kurmaku dalam pundi­pundi. Dan Rasul Allah bersabda: ‘Bila engkau ingin mengambil sesuatu dari dalamnya, masukkanlah tanganmu dan jangan engkau membocorkannya’. Abu Hurairah berkata: ‘Dan aku makan dari pundi­pundi tersebut selama Rasul Allah hidup dan aku makan dari dalamnya selama seluruh hidup Abu Bakar dan aku makan dari isinya selama seluruh hidup Umar, dan aku makan dari dalamnya selama seluruh hidup Utsman dan tatkala Utsman dibunuh hilanglah milikku dan hilanglah juga pundit­pundi itu’. Tahukah kamu berapa banyak aku makan dari dalamnya? Aku telah makan dari dalamnya berlipat ganda dari enam puluh gantang’.

Dalam hadis ini Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasul Allah makan dari pundi­pundinya setelah mengusapnya dan memberi makan seluruh anggota pasukannya. Dalam riwayatnya yang lain yang dimuat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal yang dimiliki Abu Hurairah bukanlah pundi­ pundi atau kantong makanan (mizwad), tetapi miktal (keranjang). ‘Rasul Allah memberikan sedikit kurma kepadaku dan aku memasukkannya ke dalam keranjang dan kami menggantungnya di loteng rumah dan kami terus makan dari dalamnya sampai berakhir tatkala keranjang itu dibinasakan oleh penduduk Syam yang menyerbu Madinah, yaitu pasukan Busr bin Arthat yang dikirim Mu’awiyah menakut­nakuti penduduk Madinah dan Makkah dan selama pasukan Mu’awiyah menyerang pundit­pundi ini Mu’awiyah harus menggantinya dan telah terlaksana. Dan Mu’awiyah mengganti dengan sesuatu yang banyak’.

Bila dalam riwayat Ahmad bin Hanbal Abu Hurairah menceritakan tentang pundi­pundi atau keranjang yang digantung di loteng rumah, maka riwayat Abu Hurairah yang dicatat oleh Dzahabi dalam Sair al­A’lam pundi­pundi itu tergantung di pinggangnya: ‘Abu Hurairah berkata: Aku mendatangi Rasul Allah dengan membawa beberapa butir kurma dan aku berkata: ‘Berkatilah kurma ini, ya Rasul Allah!’. Maka dia bersabda: ‘Ambillah kurma­kurma itu dan masukkanlah ke dalam pundi­pundi, dan andaikata engkau ingin mengambilnya masukkanlah tanganmu ke dalamnya dan jangan sekali­kali membuatnya berserakan!. Abu Hurairah berkata: ‘Dan aku mengambil dari kurma tersebut sejumlah wasaq (wasaq = yang mampu diangkut seekor unta = enam puluh gantang) untuk keperluan agama (fi sabilillah). Dan dari situlah kami makan dan menikmatinya dan pundi­pundi itu tergantung di pinggangku dan tidak terpisah dari pinggangku sampai Utsman terbunuh’.

Lalu tatkala Abu Hurairah kelaparan di Shuffah sebagaimana diceritakannya sendiri dan diceritakan ummu’l­muminin Aisyah tatkala ia mendatangi para sahabat dari rumah ke rumah untuk minta makan, di manakah pundi­pundi Abu Hurairah itu?

Hadis Membentangkan Baju

Abu Hurairah mengeluarkan. hadis ini untuk membela diri tatkala orang mempertanyakan banyaknya. hadis yang disampaikannya. Bukhari dan lain­lain meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Kamu menyatakan bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis Rasul Allah. Dan mereka berkata: ‘Kaum Muhajirin dan ‘Anshar tidak menyampaikan hadis sebanyak yang disampaikan Abu Hurairah. Sebenarnya ikhwanku kaum Muhajirin sibuk jual beli di pasar. Dan aku menetap dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku maka aku hadir tatkala mereka tidak hadir dan aku menghapal tatkala mereka lupa. Dan ikhwanku kaum ‘Anshar mengurus hartanya, dan aku seorang miskin dari orang­orang miskin yang tinggal di Shuffah. Aku menghapal tatkala mereka tidur. Dan Rasul Allah saw (sekali) telah bersabda: ‘Siapa yang mengbentangkan bajunya setelah aku selesai bicara, kemudian melipatnya maka ia tidak akan lupa apa yang aku katakan, maka aku bentangkan serban yang aku pakai dan aku lipat ke dadaku, maka aku tidak lupa sedikit pun apa yang disabdakan Rasul Allah saw.’[2] Abu Hurairah di bagian lain dilaporkan mengatakan bahwa bukan ia yang menghamparkan serbannya. Dzahabi melaporkan bahwa Rasul Allah sendiri yang melepaskan serbannya dari punggung Abu Hurairah dan membentangkannya antara Nabi dan Abu Hurairah.

Dari hadis Sa’d bin Abi Hindun dari Abu Hurairah bahwa Rasul Allah saw bersabda: ‘Bukankah engkau meminta bagian dari rampasan perang yang diminta (juga) oleh sahabat­sahabatmu? Aku berkata: ‘Aku mohon Anda mengajarkan aku ilmu yang diajarkan Allah kepadamu. Dan ia menanggalkan serban yang berada di punggungku dan ia membentangkannya antara diriku dan dirinya sehingga seakan­akan aku melihat kutu merayap di atas serban dan ia menyampaikan dan menerangkan hadisnya kepadaku. Dia berkata: ‘Lipatlah!’ dan sejak itu aku tidak melupakan satu kata pun dari apa yang beliau sabdakan’.[3]

Dan dari al­Maqribi dari Abu Hurairah yang berkata: ‘Aku berkata kepada Rasul Allah: ‘Aku mendengar hadis banyak darimu dan aku lupa (akan hadis­hadis itu)’. Dan Rasul Allah bersabda: ‘Bentangkanlah serbanmu dan aku membentangkannya, dan beliau menciduk ke dalamnya dengan kedua belah tangannya, kemudian bersabda: ‘Lipatlah!’ dan aku melipatnya dan sejak itu aku tidak melupakan sebuah hadis pun”.[4]

Abu Hurairah mengatakan bahwa kaum Muhajirin jauh dari Rasul Allah karena sibuk dengan berdagang di pasar dan kaum Anshar sibuk dengan urusan mereka. Dengan kata lain setiap orang dari kaum Muhajirin yang awal dan terdahulu serta setiap orang dari kaum Anshar sedang sibuk berdagang atau mengurus harta mereka. Lalu bagaimana dengan peringatan Allah kepada manusia dengan firmanNya yang berbunyi:

‘Orang­orang laki­laki yang tiada menjadi lalai mengingat Allah oleh perniagaan atau bertukar barang dagangan’.[5]

Tuduhan Para Shahabat

Ibnu Qutaibah berkata dalam Ta’wil Mukhtalaf al­Hadits:

‘Tatkala Abu Hurairah meriwayatkan hadis Rasul Allah, tidak ada shahabat besar yang terdahulu (sabiqun) ataupun yang awal (awwalun) yang menyampaikan riwayat seperti dia. Mereka menyampaikan, dakwaan dan mengingkarinya serta bertanya: ‘Bagaimana (mungkin) engkau mendengar hadis itu sendirian? Siapa yang mendengar bersamamu?’ Aisyah ra paling getol di antara mereka yang mengingkarinya, karena Aisyah paling lama hidup di zaman Abu Hurairah mengeluarkan hadis­hadisnya”.[6]

Selanjutnya Ibnu Qutaibah menulis: ‘Dan mengherankan sikap mereka (para ahli hadis); mereka menyebut Abu Hurairah sebagai pembohong tetapi mereka tidak menulis mengenai Abu Hurairah sesuai dengan kesepakatan para ahli hadis. Yahya bin Mu’in dan Ali Ibnu al­Madini dan orang­ orang seperti mereka menolak Hadis Abu Hurairah, tapi anehnya orang tetap saja berhujah dengan hadis Abu Hurairah yang tidak akur dan serasi dengan seorang pun dari para shahabat dan telah dianggap sebagai pembohong oleh Umar, Utsman dan Aisyah’.[7]

Ibnu Qutaibah menyebut Abu Hurairah sebagai ‘Perawi pertama dalam Islam yang harus dituduh’.

Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah

Tatkala Ali bin Abi Thalib mendengar Abu Hurairah berkata tentang Rasul Allah: ‘Telah bersabda sahabatku’, ‘Telah menyampaikan kepadaku sahabatku’, ‘Aku melihat sahabatku’, Ali berkata: ‘Sejak kapan (Rasul Allah saw menjadi sahabatmu) ya Abu Hurairah?[8]

Ali bin Abi Thalib menyebut Abu Hurairah ad­Dausi ini sebagai pembohong yang paling berat dari umat ini (akdzabu an­nas). Pada kesempatan lain Ali berkata: ‘Di antara orang hidup yang paling membohongi Rasul Allah adalah Abu Hurairah ad­Dausi. Ali juga menamakan Ka’b al­Ahbar sebagai pembohong.[9]

Aisyah dan Abu Hurairah

Ibnu Qutaibah melukiskan hubungan Aisyah dengan Abu Hurairah: ‘Engkau menyampaikan hadis yang tidak kudengar dari Nabi saw’. Demikianlah kata­kata Aisyah yang ditujukan kepada Abu Hurairah. Abu Hurairah menjawab dengan jawaban yang tidak beradab dan tanpa hormat, seperti diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Sa’d, Ibnu Katsir dan lain­lain: ‘Engkau (terlalu) sibuk dengan cermin dan tempat celak!’. Dan di bagian lain ia berkata kepada Aisyah: ‘Aku tidak disibukkan oleh cermin dan tempat celak serta pewarna, tetapi aku melihat Anda demikian’. Dan diriwayatkan oleh Dzahabi bahwa Aisyah berkata kepada Abu Hurairah: ‘Keterlaluan Abu Hurairah, berlebihan yang engkau sampaikan tentang Rasul Allah!’. Dan Abu Hurairah menjawab: ‘Aku tidak disibukkan oleh cermin dan tidak oleh tempat celak dan tidak juga dengan alat pemoles (yang menjauhkan aku dari Rasul Allah)!’

Dan Aisyah menjawab: ‘Engkaulah yang sibuk mengurus perutmu, dan kerakusanmu membuat engkau terbirit­birit pergi dari Rasul Allah dan bergegas (bersembunyi) di belakang orang­orang, mengetuk rumah meminta­minta makanan untuk memenuhi perutmu yang lapar sehingga mereka lari dan menjauhimu. Kemudian engkau jatuh pingsan di depan kamarku dan orang mengira engkau gila dan mereka menginjak­injak lehermu.[10]

Ummu­l­mu’minin Aisyah sering bertengkar dengan Abu Hurairah bila yang terakhir ini menyampaikan hadis. Sekali ia menyampaikan hadis yang berbunyi: ‘Barangsiapa bangun pagi dalam keadaan junub, maka tidak ada puasa baginya’. Aisyah mengingkari hadis ini dan mengatakan bahwa Rasul Allah suatu ketika sampai fajar berada dalam keadaan junub yang bukan disebabkan mimpi dan beliau mandi dan berpuasa dan Aisyah menyampaikan pesan kepada Abu Hurairah untuk tidak menyampaikan hadis tersebut. Kemudian Abu Hurairah mengakui bahwa dia tidak mendengar dari Rasul Allah saw tetapi dari Fadhl bin Abbas yang telah meninggal. Dan Ibnu Qutaibah berkata tentang masalab ini: ‘Ia menjadikan mayat sebagai saksi dan mengelabui orang bahwa ia mendengar dari Rasul Allah sedang dia tidak mendengar dari Rasul![11]

Aisyah juga menuduhnya sebagai pembohong tatkala Abu Hurairah menyampaikan hadis dari Rasul Allah bahwa, pada perempuan, rumah dan binatang melata terdapat pertanda sial (thirah, evil omen).[12]

Dan tatkala Aisyah mendengar hadis Abu Hurairah: ‘Tidak akan masuk surga anak haram’, Aisyah menjawab: ‘Dia tidak memikul dosa ayahnya’ lalu Aisyah menyampaikan ayat al­Qur’an:

“Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, Padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan­Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan” .[13]

Ibnu Umar dan Abu Hurairah

Abdullah bin Umar bin Khaththab menuduh Abu Hurairah sebagai pembohong. Misalnya, tatkala Abu Hurairah menyampaikan hadis tentang shalat witir.[14]

Atau tatkala Abu Hurairah menyampaikan hadis tentang anjing. Ibnu Umar menuduhnya membuat hadis untuk kepentingan Abu Hurairah sendiri dan dikatakannya didengarnya dari Rasul Allah.[15]

Zubair bin ‘Awwam dan Abu Hurairah ­ Tatkala mendengar hadis Abu Hurairah, Zubair berkata ‘Bohong’.[16] , Umar bin Khaththab dan Abu Hurairah

Umar adalah orang pertama yang melihat bahaya hadis­hadis Abu Hurairah yang dikatakan didengarnya dari Rasul Allah. Umar menghalangi Abu Hurairah menyampaikan hadis tatkala ia pulang dari Bahrain. Umar mengancam akan mencambuknya andaikata ia menyampaikan hadisnya sebelum ‘penyakit menyebar dan kuman menjadi kebal’. Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Sa’ib binYazid yang mendengar Umar berkata kepada Abu Hurairah: ‘Engkau harus berhenti menyampaikan hadis Rasul Allah atau engkau akan aku asingkan ke daerah Daus’.[17]

Dan kepada Ka’b al­Ahbar Umar berkata: ‘Engkau harus meninggalkan penyampaian hadis atau engkau akan diasingkan ke daerah al­Qurdah’. Di bagian lain, Umar berkata kepada Abu Hurairah: ‘Terlalu banyak ya Abu Hurairah dan aku akan memukulmu bila engkau berbicara bohong tentang Rasul Allah’.[18]

Meskipun Utsman tidak sekeras Umar tetapi kemarahan serupa telah disampaikan juga oleh Utsman kepada Abu Hurairah dan Ka’b al­Ahbar’.[19]

Di samping itu Umar memecatnya dari kedudukannya sebagai gubernur Bahrain karena menuduhnya sebagai pencuri. Ibnu ‘Abd Rabbih menulis pada bagian awal jilid pertama bukunya ‘Iqd al­Farid. “Umar kemudian memanggil Abu Hurairah dan berkata kepadanya: ‘Aku tahu tatkala aku mengangkatmu jadi gubernur di Bahrain, sandal pun engkau tidak punya. Kemudian sampai berita kepadaku bahwa engkau membeli kuda­kuda seharga seribu enam ratus dinar’. Abu Hurairah: ‘Kami memiliki kuda kemudian beranak pinak dan aku mendapat hadiah beruntun’. Umar: ‘Aku telah perhitungkan penghasilanmu dan rizkimu dan kelebihan ini harus kau kembalikan!’. Abu Hurairah: ‘Kamu tidak berhak untuk mengambilnya!’. Umar: ‘Ya, demi Allah aku harus ambil! Dan aku akan pukul punggungmu!’ Kemudian ia mengambil pecut dan memukulnya sampai berdarah! “Kemudian Umar berkata: ‘Bawa kemari uang itu!’ Abu Hurairah: ‘Aku menganggap harta yang engkau ambil itu dijalan Allah!” Umar: ‘Ya, kalau engkau mengambil itu dari yang halal dan engkau laksanakan dijalan yang benar! Apakah engkau datang dari Bahrain mengambil pajak untuk dirimu dan bukan karena Allah dan bukan untuk kaum Muslimin? Kau tidak punya keahlian apa­apa kecuali mengangon unta!’ Di bagian lain Abu Hurairah meriwayatkan dalam buku yang sama: ‘Abu Hurairah menerangkan: ‘Ketika aku diberhentikan oleh Umar dari Bahrain, Umar berkata kepadaku: ‘Ya musuh Allah dan musuh Kitab­Nya, engkau mencuri harta Allah? Aku menjawab: ‘Aku bukan musuh Allah dan musuh KitabNya! Tapi aku adalah musuh yang memusuhimu! Dan aku tidak mencuri harta Allah!’’ Umar: ‘Dari mana engkau kumpulkan uang yang sepuluh ribu?’ Abu Hurairah: ‘Kuda beranak pinak dan aku telah mendapat hadiah beruntun dan keuntungan susul menyusul, Umar menyitanya dariku! Dan setelah shalat subuh aku mintakan pengampunan untuk Amiru’l­muminin!’.

Tabi’in Menolak Hadis Abu Hurairah, Ibrahim Nakha’i dan Kawan­kawan

Sebagai contoh dapat dikemukakan disini Ibrahim Nakha’i. Ia lahir tahun 50 H/ 670 M dan pernah melihat ummu’l­muminin Aisyah. Aisyah meninggal satu tahun sebelum Abu Hurairah meninggal, maka dia mungkin juga pernah melihat Abu Hurairah. Sahabat­sahabatnya meriwayatkan dari Mughirah yang didengarnya dari Ibrahim: ‘Sahabat­sahabat kami menolak hadis Abu Hurairah’. Juga diriwayatkan oleh A’masy dari Ibrahim: ‘Mereka tidak mengambil semua hadis Abu Hurairah’. Dan diriwayatkan oleh ats­Tsauri dari Manshur dari Ibrahim: ‘Mereka melihat ‘sesuatu’ pada hadis Abu Hurairah, dan mereka tidak mengambil seluruh hadis Abu Hurairah kecuali mengenai sifat surga dan neraka, atau ajakan kepada amal salih atau menolak kemungkaran seperti tersebut dalam al­Qur’an’. Atau diriwayatkan oleh Abu Usamah yang didengarnya dari A’masy: ‘Ibrahim, adalah seorang ahli hadis. Dan aku sendiri bila aku mendengar sebuah hadis aku segera mendatanginya dan menyampaikan hadis tersebut. Maka pada suatu hari aku menyampaikan, hadis­hadis Abi Shalih yang berasal dari Abu Hurairah dan dia berkata: ‘Jauhkan aku dari Abu Hurairah! Sungguh mereka meninggalkan banyak sekali hadis­hadisnya’.[20]

Sikap Imam Abu Hanifah dan Kawan­kawan

Sikap Imam Abu Hanifah dan sahabat­sahabatnya para ahli fiqih yang terkenal dalam dunia Islam adalah bahwa mereka dan para penganut madzhabnya tidak menghargakan hadis­hadis Abu Hurairah dan berbeda dengan Ibrahim Nakha’i dan sahabat­sahabatnya yang masih menerima hadis Abu Hurairah tentang surga dan neraka, mereka menolak semua hadis Abu Hurairah. Diriwayatkan oleh Muhammad bin al­Hasan, seorang sahabat Abu Hanifah yang mendengar Abu Hanifah berkata: ‘Aku mengikuti pendapat para Sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali serta ketiga Abdullah dan aku tidak melihat perbedaan di antara mereka. Kecuali tiga orang’. Dan dalam riwayat lain: ‘Aku mengikuti semua Sahabat dan aku tidak melihat perbedaan di antara mereka kecuali tiga orang (Anas bin Malik, Abu Hurairah dan Samurah). Tentang Anas, ia mulai pikun pada akhir umurnya dan ia mengeluarkan fatwa menurut akalnya dan aku tidak bertaklid pada akalnya. Dan tentang Abu Hurairah, ia telah meriwayatkan semua yang didengarnya tanpa memikirkan artinya dan tidak membedakan naskh dari mansukh”.[21]

Dan Abu Yusuf meriwayatkan: ‘Aku berkata kepada Abu Hanifah: ‘Apabila kabar yang sampai kepadaku dari Rasul Allah berbeda dengan pandangan kita, maka apa yang akan kita lakukan?’. Ia menjawab: ‘Bila datang berita yang meyakinkan maka tinggalkan pandanganku’. Dan aku berkata: ‘Apa pendapat Anda tentang riwayat yang disampaikan Abu Bakar dan Umar?’ Ia menjawab: ‘Aku menerima keduanya!’. Dan aku bertanya: ‘Dan Ali serta Utsman?’. Ia menjawab: ‘Demikian pula!’. Kemudian ia menyebut sejumlah Sahabat. Ia berkata: ‘Semua Sahabat dapat dipercaya, adil, kecuali dua orang. Yang seorang adalah Abu Hurairah dan orang meragukannya karena (hadisnya) yang banyak’.[22]

Dan dalam al­Ahkam al­Hamidi: ‘Para Sahabat mengingkari Abu Hurairah karena hadis yang diriwayatkan olehnya terlalu banyak, sehingga Aisyah ra berkata: ‘Mudah­mudahan Allah SWT mengasihi Abu Hurairah. Ia adalah seorang pengoceh[23] tentang hadis lesung’.

Pada suatu ketika dalam majelis Harun al­Rasyid orang­orang sedang berdebat dan nada suara mereka makin meninggi. Sebagian orang berargumentasi dengan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah dan yang lain menolak hadis tersebut dengan kata­kata: ‘Riwayat Aba Hurairah harus dicurigai (muttaham)![24]

Kaum Mu’tazilah dan Abu Hurairah

Kaum Mu’tazilah tidak memercayai hadis­hadis Abu Hurairah dan tidak berpegang pada hadis­ hadisnya. Abu Ja’far al­Iskafi berkata: ‘Dan Abu Hurairah dianggap cacat (madkhul) oleh tokoh kami (yakni tokoh­tokoh Mu’tazilah) dan riwayatnya tidak terpakai. Umar memukulnya dan berkata: ‘Engkau terlalu banyak membawa riwayat, dan aku akan memukulmu kalau engkau terus membohongi Rasul Allah’.[25]

Abu Hurairah ‘Pemerdaya’

Seseorang dikatakan telah memperdaya, bila ia bertemu dengan seseorang pada suatu kesempatan dan tidak mendengar perkataan orang tersebut tapi mengatakan bahwa ia telah mendengarnya. Atau menyampaikan berita tentang seseorang yang hidup sezaman dengannya, yang tidak ia temui, tetapi ia mengatakan telah mendengar pembicaraan orang tersebut.

Abu Hurairah meriwayatkan semua yang didengarnya sebagai sabda Rasul Allah, tidak peduli apakah ia mendengarnya langsung dari Rasul Allah atau dari para Sahabat atau dari generasi sesudah sahabat yaitu para tabi’in dan dia tidak mengatakan sumbernya dan memberi kesan kepada orang bahwa dia lansung mendengar dari Nabi. Di kalangan para ahli hadis digunakan istilah tadlis.

Ibnu Qutaibah menulis dalam Ta’wil Mukhtalaf al­Hadits: ‘Abu Hurairah berkata: ‘Rasul Allah bersabda demikian! padahal ia sebenarnya mendengar dari ‘orang yang dipercayainya’ dan kemudian meriwayatkannya.[26]

Ibnu Qutaibah sengaja menyebut bahwa Abu Hurairah menggunakan istilah ‘orang yang dipercayainya’ dan tidak orang yang dapat dipercaya, karena Abu Hurairah tidak menyebut nama orang yang meriwayatkan kepadanya.

Dzahabi meriwayatkan dalam ‘Sair al­A’lam an­Nubala’: ‘Telah berkata Yazid bin Ibrahim: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang’. Dan

Dzahabi menghubungkan berita ini dengan kata­katanya: ‘Ia memperdayakan tentang Sahabat dan tidak merasa aib’. Dan Yazid bin Harun berkata dalam ‘al­Bidayah wan­Nihayah’: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang, yakni ia meriwayatkan apa yang didengarnya dari Ka’b al­Ahbar dan tidak didengarnya dari Rasul Allah, dan dia tidak memisahkan yang satu dari yang lain! Ibnu ‘Asakir berkata: ‘Dan Syu’bah menghubungkan ini dengan hadis Abu Hurairah ‘Barang siapa bangun pagi dalam keadaan junub maka tidak ada puasa baginya’ dan tatkala didesak ia mengatakan ‘seorang telah menyampaikannya kepadaku dan aku tidak mendengar dari Rasul Allah’ ‘.(hadis yang dibantah oleh ummu’l­mu’minin Aisyah dan setelah didesak Abu Hurairah mengatakan ia mendengarnya dari Fadhl bin Abbas yang telah meninggal dan tidak dapat dijadikan mitra bicara, lihat di atas, pen.)

Al­Hakim[27] berkata: ‘hadis bagi kami terbagi dalam enam jenis’. Kemudian ia berbicara tentang jenis yang kedua: Adalah mereka yang mengeluarkan hadis dengan memperdayakan orang. Dan mereka berkata: ‘Si pulan berkata (kepadaku)!’ dan bila dibantah orang dan merasa terdesak serta gagal mempertahankan kesaksian pendengaran mereka, mereka lalu mengubah sumber mereka’. Mahmud Abu Rayyah memasukkan Abu Hurairah dalam kategori ini. Nawawi berkata dalam At­ Taqrib: ‘Dikatakan memperdayakan karena perawi meriwayatkan tentang orang sezamannya, tapi tidak mendengar lansung darinya. Ia berkata: ‘Si pulan berkata’ atau “Berasal si pulan”. Dan ini cocok sekali dengan Abu Hurairah, karena ia dalam kebanyakan hadisnya berkata: ‘Rasul Allah bersabda’ (qala Rasul Allah), atau ‘Dari Rasul Allah’ (‘an Rasul Allah) dan dia tidak mendengar dari Rasul Allah.

‘At­tadlis’ hukumnya adalah penolakan (madzmum) seluruhnya secara mutlak sebagaimana dikemukakan oleh Syu’bah bin al­Hajjaj, Imam ahli cacat atau tidaknya suatu hadis (Ahlu al­Jarh wa at­Ta’dil) dengan kata­katanya: ‘Berzina lebih aku sukai dari memperdayakan’ dan: ‘Memperdayakan orang adalah saudara dari bohong’.[28]

Abu Hurairah Berbeda Dengan Sahabat lain, Kedudukannya Khusus

Kedudukan Abu Hurairah adalah khusus karena dia dicerca dan dikritik oleh Para Sahabat Besar secara susul menyusul yang tidak pernah terjadi pada para Sahabat lain. Ia dituduh sebagai ‘pembohong’ dan ‘pengoceh’ oleh para Sahabat Besar. Dan anehnya orang suka kepada hadisnya tentang Tuhan yang turun ke ‘langit dunia’, Tuhan yang menciptakan Adam seperti wajah Tuhan dengan tinggi enam putuh hasta, Tuhan yang menaruh kaki di neraka, Nabi Musa yang mengejar batu dengan telanjang bulat, Nabi yang menghancurkan seluruh sarang semut karena digigit oleh seekor semut, sapi dan serigala yang berbicara bahasa Arab, pundi­pundi ajaib yang diikat di pinggangnya dan mengeluarkan kurma selama dua puluh tahun, hadis membenamkan lalat ke dalam minuman, hadis tidak ada penyakit menular dan ratusan hadis lain yang tidak mungkin dimasukkan ke dalam buku kecil ini.

Ahli sejarah tidak mudah menerima hadis Abu Hurairah. Mereka berkata: ‘Mudah orang berbohong tetapi sukar mempertahankan kebohongan sesudah dituturkan’. Abu Hurairah mestinya menceritakan kepada kita, di mana berada pundi­pundinya tatkala ia kelaparan di Shuffah. Dalam perang yang mana Rasul Allah menanyakan pundit­pundinya, mengusap dan memberi makan seluruh pasukan. Bagaimana rasa kurma mukjizat tersebut dan berapa banyak yang dimakan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Dan mengapa dari puluhan ribu Sahabat tidak ada satu pun menceritakan pundi­pundi Abu Hurairah yang merupakan suatu mukjizat besar.

Mengapa Ali mengatakannya sebagai anggota umat yang paling pembohong? Mengapa ummul­ muminin menamakan Abu Hurairah sebagai ‘pengoceh tidak karuan’. Mengapa ia mengatakan bahwa Ali dilaknat Allah dan para malaikat serta seluruh ummat manusia di Masjid Kufah?

Bid’ah apa yang dilakukan oleh Ali? Mengapa ia mengatakan bahwa Aisyah hanya sibuk dengan cermin dan tempat celak dan pemoles? Lalu mengapa orang membiarkan ‘Abu Hurairah’ memasuki rumah orang dan mengatakan bahwa seorang anggota keluarganya ‘mati dalam keadaan kafir’ sedang seluruh keluarganya tidak sedikit pun meragukan keislamannya, seperti kisah Abu Hurairah tentang Abu Thalib?

Tatkala ia dikritik karena membawa begitu banyak hadis, ia menceritakan bahwa Rasul Allah membentangkan bajunya dan Abu Hurairah tidak lupa akan hadis­hadis Rasul Allah. Kalau demikian ia mestinya menceritakan mengapa Rasul mengirimnya ke Bahrain dan tidak menahannya di Madinah untuk mendengarkan hadis­hadis Rasul Allah yang lain, karena sesudah itu Rasul Allah masih hidup selama dua tahun lagi? Dan mengapa Umar tidak mendudukkannya dalam majelisnya sebagai guru? Mengapa Umar mengatakan ‘Kalau tiada Ali, maka celakalah Umar? Dan bukan ‘Kalau tiada Abu Hurairah maka celakalah ummat Islam?’

Abu Hurairah mengatakan bahwa kaum Muhajirin jauh dari Rasul Allah karena sibuk dengan perdagangan mereka di pasar dan kaum Anshar sibuk dengan urusan mereka. Dengan kata lain setiap orang dari kaum Muhajirin yang awal dan terdahulu serta setiap orang dari kaum Anshar sedang sibuk berdagang atau mengurus harta mereka. Orang meragukan hadis Abu Hurairah ini karena Allah telah memberi peringatan kepada umat manusia dengan firman­Nya yang berbunyi: ‘Orang­orang laki­laki yang tiada menjadi lalai mengingat Allah oleh perniagaan atau bertukar barang dagangan’. Dan orang yakin bahwa para Sahabat tidak akan lalai terhadap firman Allah SWT tersebut. Abu Hurairah seharusnya menceritakan di mana Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Salman al­Farisi, ‘Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Dzarr dan lain­lain? Apakah mereka juga sedang sibuk berdagang? Bukankah hari pasar adalah hari Kamis dan hanya sedikit yang berdagang? Dan bukankah paling sedikit Abu Dzarr, Miqdad dan ‘Ammar bin Yasir hampir selalu berada di masjid? Dan bukankah Abu Hurairah sendiri mengatakan bahwa di Shuffah saja sudah berdiam tujuh puluh orang, lalu sedang di mana mereka itu? Dan seperti dikatakannya sendiri bahwa mereka, termasuk Abu Hurairah, ‘tidak ada yang mengenakan jubah (rida’, baju luar yang lepas), tapi hanya mengenakan izar (semacam selendang) atau kisa’ (baju) yang dilingkarkan ke leher mereka’, lalu mengapa yang lain­lain tidak membentangkan baju­baju mereka?

Dan catatan yang kuat menunjukkan bahwa tidak semua Sahabat sibuk dengan harta milik mereka. Misalnya Salman al­Farisi yang oleh Rasul Allah disebut sebagai anggota ahlu’l­bait (ia tinggal bersama keluarga Rasul dan masuk keluar rumah bebas seperti rumahnya sendiri, pen). Dan Rasul pernah berkata mengenai Salman: ‘Andaikata ad­din berada di bintang kejora (tsurayya) akan dapat dicapai oleh Salman dan kaumnya’. Dan Aisyah berkata tentang Salman: ‘Salman selalu duduk bersama Rasul Allah, sendirian ia menemani Rasul Allah sampai malam dan hampir saja ia mengalahkan kami’. Dan berkata Ali: ‘Sesungguhnya Salman al­Farisi seperti Luqman al­Hakim, ia mengetahui ilmu dari awal sampai akhir. Lautan ilmu yang tidak mengering’.

Bila ada perintah Rasul Allah agar jemaah membentangkan bajunya maka semua orang yang hadir di masjid, paling sedikit para penghuni Shuffah akan berebut membentangkan baju mereka untuk mendapatkan kemuliaan dari Rasul Allah saw. Ia mengatakan bahwa ia miskin dan hanya memiliki sepasang baju, tentu banyak orang lain yang mempunyai lebih banyak baju akan mendahuluinya.

Abu Hurairah seharusnya menceritakan kepada kita bagaimana dengan hadis Rasul Allah yang didengarnya sebelum peristiwa tersebut, yang menurut Abu Hurairah tidak dapat diingatnya karena dia pelupa. Lalu bagaimana ia mengetahui hadis dan peristiwa yang terjadi dari tahun 8 H/629 M sampai wafatnya Rasul Allah dan peristiwa yang terjadi selama dua puluh tahun sebelum ia bertemu dengan Rasul?

Abu Hurairah seharusnya menceritakan kepada kita mengapa Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali tidak mendudukkan Abu Hurairah di dalam majelis mereka sebagai tempat bertanya tentang hadis? Malah mencercanya dan Umar mengancam akan memukulnya bila ia meriwayatkan hadis?

Ia seharusnya menceritakan juga apakah ingatannya khusus diberikan Allah untuk mengingat hadis dan tidak untuk mengingat ayat Al­Qur’an. Kalau daya ingat bersifat umum, dan memang seharusnya demikian, mengapa Utsman tidak memasukkannya sebagai salah seorang penghimpun lembaran­lembaran catatan Al­Qur’an? Hal­hal seperti ini seharusnya diterangkan oleh Abu Hurairah.

Lalu mengapa orang mempertahankan hadis Abu Hurairah? Hal ini merupakan misteri dan terjadi juga pada agama lain. Sukar juga dipahami sebagaimana, manusia itu sendiri adalah makhluk yang sukar dipahami.

Abu Hurairah dan Ka’b al­Ahbar

Ibnu Katsir berkata dalam al­Bidayah wan­Nihayah: ‘Muslim bin al­Hajjaj mendengar dari Busr bin Sa’id yang berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan lindungi hadis Nabi, demi Allah kami telah melihat tatkala kami duduk bersama Abu Hurairah dan ia telah menyampaikan hadis tentang Rasul Allah sedangkan sebenarnya ia sedang menyampaikan riwayat yang berasal dari Ka’b al­ Ahbar, kemudian seorang di antara kami berdiri dan mengatakan bahwa apa yang didengar Abu Hurairah dari Ka’b al­Ahbar dijadikannya hadis Rasul Allah’. Dan dalam riwayat lain: ‘Ia menjadikan apa yang dikatakan Ka’b al­Ahbar sebagai hadis Rasul Allah dan apa yang dikatakan Rasul Allah dikatakan dari Ka’b. Maka bertakwalah kepada Allah dan peliharalah hadis­hadis’. Yazid bin Harun berkata: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang (yudallisu) yaitu dengan mengacaukan apa yang didengarnya dari Ka’b dengan apa yang didengarnya dari Rasul dan ia tidak memisahkan yang satu dengan yang lain’.[29]

Abu Hurairah segera pergi ke Madinah dari Bahrain setelah ia mendapat kabar tentang Ka’b al­ Ahbar sang Yahudi yang kemudian mengajari Abu Hurairah ajaran­ajaran Yahudi, isra’iliyat, dan ia memperdaya kaum Muslimin dengan khurafat­nya, dan kaum Muslimin yang tidak mengerti mengambil dari Abu Hurairah. Seperti yang dikatakannya kepada Qais bin Ibnu Kharsyah: ‘Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak tertulis dalam Taurat yang diturunkan kepada Musa’.

Ibnu Sa’d meriwayatkan dalam bukunya Ath­Thabaqat al­Kubra dari Abdullah bin Syaqiq bahwa Abu Hurairah. mencari dan mendatangi Ka’b al­Ahbar. Ka’b waktu itu berada di tengah sekelompok orang. Ka’b bertanya: ‘Apa yang kau kehendaki dari Ka’b?’ Abu Hurairah menjawab: ‘Aku sesungguhnya tidak mengetahui seorang pun dari Sahabat Rasul Allah yang lebih menghapal hadis Rasul Allah dari diriku! ‘Maka Ka’b menjawab: ‘Engkau sama sekali tidak hendak menjadi murid dengan hanya mengisi perutmu tiap hari dari Ka’b dan tidak belajar; dengan kata lain engkau tidak boleh hanya mengejar dunia’. Dan Abu Hurairah bertanya: ‘Engkaukah Ka’b?’. Ka’b menjawab ‘Ya’. Abu Hurairah berkata: ‘Untuk inilah aku datang kepadamu!’[30] Al­Hakim berkata bahwa riwayat ini shahih menurut syarat Bukhari­Muslim.[31]

Ahmad Amin dalam mengulas Thabaqat dari Ibnu Sa’d ini menceritakan dalam Fajar al­Islam bahwa Ka’b pada masa itu menyampaikan pelajarannya di dalam masjid. Tentang seorang laki­ laki tatkala memasuki masjid telah melihat Amir bin Abdullah bin ‘Abdul Qais sedang duduk di samping buku­buku dan di antaranya terdapat Kitab Taurat, dan Ka’b sedang membacanya.[32]

Para ahli hadis tahu bahwa Abu Hurairah mengambil pelajaran dari Ka’b al­Ahbar.[33]

Ahmad Syakir berkata: “Dan dari jenis ini terdapat riwayat para Sahabat yang mereka dengar dari para tabi’in seperti riwayat Abdullah bin Abbas, Abdullah­Abdullah yang lain, Abu Hurairah, Anas (bin Malik) dan lain­lainnya yang mendengar dari Ka’b al­Ahbar”.

Dan jelas Abu Hurairah merupakan Sahabat yang paling banyak tertipu oleh dan percaya kepada, serta membuat riwayat dari Ka’b dengan memperdaya orang. Abu Hurairah adalah yang terbanyak meriwayatkan hadis Rasul Allah, padahal riwayatnya terbukti berasal dari apa yang dibacakan kepadanya oleh Ka’b al­Ahbar.

Dzahabi berkata dalam Thabaqat al­Huffazh dan dalam Sair A’lam an­Nubala’ dalam membicarakan Abu Hurairah bahwa Ka’b al­Ahbar telah berkata: ‘Bukan main Abu Hurairah! Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isinya dari Abu Hurairah’.[34]

Dzahabi berkata di bagian lain: ‘Abu Hurairah mengambil dari Ka’b al­Ahbar’.[35]

Dan Baihaqi dalam al­Madkhal dari jalur Bakar bin Abdullah dari Abi Rafi’ dari Abu Hurairah yang berkata: ‘Bila Abu Hurairah bertemu dengan Ka’b maka ia akan meminta Ka’b menyampaikan riwayat. Dan Ka’b kemudian berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isi Taurat dari Abu Hurairah”.[36] Abu Hurairah adalah seorang buta huruf, bukan hanya tidak membaca bahasa Ibrani, malah ia tidak bisa mengeja huruf Arab. “Ia berkata: ‘Tidak ada seorang sahabat Nabi saw pun yang demikian banyak membawakan hadis Nabi kecuali Ibnu Umar. Hanya saja ia (bisa baca) tulis, sedang saya tidak”.[37] Dan pada masa itu tidak ada Muslim yang mengerti Taurat. Ka’b al­Ahbar adalah orang Yahudi dari Yaman yang baru masuk Islam di zaman para Sahabat dan belum pernah bertemu dengan Rasul Allah, oleh karena itu dia termasuk generasi tabi’in.

Thaha Husain berkata: ‘Ka’b al­Ahbar adalah seorang eksentrik (gharib al­athwar), mengetahui bagaimana menipu banyak orang Islam dan di antaranya Umar bin Khaththab, dialah Ka’b al­ Ahbar, seorang Yahudi dari Yaman. Ia menyatakan bahwa ia bertanya kepada Ali, mudah­ mudahan Allah memberi rahmat kepadanya, yaitu tatkala Ali diutus Rasul Allah ke Yaman dan tatkala Ali mengabarkan kepadanya sifat Nabi, ia mengatakan ia telah mengetahui sifat Nabi yang diceritakan Ali dari dalam Taurat. Dan ia tidak datang ke Madinah pada masa Nabi masih hidup. Dia tetap dalam agama Yahudinya di Yaman. Tapi ia mengatakan bahwa pada masa itu ia telah masuk Islam dan berdakwah di Yaman. Ia datang ke Madinah pada masa Umar menjadi khalifah.

Ia menjadi maula (di bawah perlindungan, pen.) Abbas bin ‘Abdul Muththalib, mudah­mudahan Allah memberi rahmat kepadanya, dan Ka’b dengan ahlinya membohongi kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa ia menemukan sifat­sifat mereka dalam Kitab Taurat. Dan kaum Muslimin mengagumi hal demikian itu dan dengan demikian mengagumi dirinya juga. Dan ia tidak segan­ segan membohongi Umar bin Khaththab sendiri dengan mengatakan bahwa ia mendapatkan sifat Umar dalam Taurat dan Umar terheran­heran. Umar bertanya: ‘Engkau menemukan namaku dalam Thurat?’. Ka’b menjawab: ‘Aku tidak mendapatkan namamu dalam Taurat, tetapi aku mendapatkan sifatmu!’.

Al­Ustadz Sa’id al­Afghani menulis dalam majalah Risalah al­Mishriyah: ‘Bahwa Wahb bin Munabbih adalah Zionis pertama telah saya koreksi dalam artikel yang dimuat dalam edisi nomor 656 majalah ini, dengan bukti yang kuat bahwa Ka’b al­Ahbar­lah sebenarnya Zionis yang pertama..’.

Para penulis Muslim di zaman dahulu telah melihat kelemahan­kelemahan hadis Abu Hurairah. Para peneliti sudah tahu pasti bahwa Abu Hurairah mendapatkan kisah­kisah Perjanjian Lama dari Ka’b al­Ahbar, sebelum ia menyampaikan hadis­hadisnya di zaman Mu’awiyah.

Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah, politikus yang ulung itu, telah memerintahkan untuk mengumpul ‘para Sahabat’, agar menyampaikan hadis­hadis yang mengutamakan para Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman untuk mengimbangi keutamaan Abu Turab (Ali bin Abi Thalib). Untuk itu, Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedudukan kepada mereka. Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif al­Mada’ini, dalam bukunya, al­Ahdats, mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kepada bawahannya: ‘Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orang­orang, agar menyediakan hadis­hadis tentang para Sahabat dan khalifah; perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamu pun harus menyediakan hadis yang sama tentang Sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya, dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan Syi’ah­nya’. Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar (fi kulli kuratin wa’ala kulli minbarin).

Keutamaan para Sahabat ini menjadi topik terpenting di kalangan para Sahabat, beberapa jam setelah Rasul wafat, sebelum lagi beliau dimakamkan. Keutamaan ini juga menjadi alat untuk menuntut kekuasaan dan setelah peristiwa Saqifah topik ini masih terus berkelanjutan. Para penguasa dan para pendukungnya membawa hadis­hadis tentang keutamaan penguasa untuk ‘membungkam’ kaum oposisi, dan demikian pula sebaliknya.

Dalam menulis buku sejarah, seperti tentang peristiwa Saqifah, yang hanya berlangsung beberapa jam setelah wafatnya Rasul Allah saw, harus pula diadakan penelitian terhadap para pelapor, prasangka­prasangkanya, keterlibatannya dalam kemelut politik, derajat intelektualitas, latar belakang kebudayaannya, sifat­sifat pribadinya, dengan melihat bahan­bahan sejarah tradisional yang telah dicatat para penulis Muslim sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi. Tulisan sejarah menjadi tidak bermutu apabila penulisnya terseret pada satu pihak, dan memilih laporan­laporan tertentu untuk membenarkan keyakinannya. Sebagai contoh, hadis­hadis dan laporan lainnya dari Abu Hurairah. Laporannya sangat berharga untuk memahami kemelut politik pada zaman itu, bagaimana sikap masa bodoh penguasa terhadap agama setelah Khulafa’ur­Rasyidin dan pengaruhnya terhadap perkembangan keagamaan. Tetapi mutu laporannya sendiri terhadap suatu peristiwa ‘politik’, haruslah diragukan.

Hadis­Hadis Ramalan Politik

Masalah lain yang harus dipertimbangkan dalam menulis peristiwa Saqifah, adalah riwayat atau hadis berupa nubuat susunan khalifah sesudah Rasul”. Riwayat dan hadis­hadis ini menceritakan “ramalan” dengan menyebut nama para Sababat yang menggantikan Rasul setelah wafatnya. Misalnya, sebuah riwayat Shahih Muslim yang berasal dari Ibnu Abi Mulaikah: “Orang bertanya kepada Aisyah: ‘Siapa yang akan ditunjuk Rasul Allah untuk menjadi khalifahnya andaikata Rasul Allah akan menunjuk penggantinya?’ Aisyah menjawab, ‘Abu Bakar’. Dan ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapa sesudah Abu Bakar?’ Aisyah menjawab, Umar’. Kemudian ditanyakan lagi, ‘Siapa sesudah Umar?’ Aisyah menjawab, ‘Abu ‘Ubaidah bin al­Jarrah,’ Ia tidak meneruskan”.[38]

Sebuah hadis diriwayatkan juga oleh Aisyah: ‘Rasul membawa batu pertama untuk membangun masjid, kemudian Abu Bakar, lalu Umar; Utsman membawa batu terakhir. Dan aku bertanya ‘Ya, Rasul Allah, apakah Anda melihat bagaimana mereka membantu?’ Dan Rasul berkata: ‘Wahai Aisyah, demikianlah (urutan) khalifah sesudahku”.[39]

Hadis dan riwayat seperti ini puluhan jumlahnya. Contoh di atas menunjukkan bahwa Rasul Allah mengucapkan kata­kata tersebut kepada Aisyah sendiri, dan tidak diumumkan kepada jemaah atau di depan para Sahabat.

Hadis yang pertama, dalam kenyataannya, tidak terjadi; Abu ‘Ubaidah tidak menjadi khalifah. Hadis yang kedua sangat meragukan, karena tatkala Masjid Madinah mulai dibangun, Rasul Allah belum kumpul dengan Aisyah yang waktu itu baru berusia delapan tahun. Tidak ada pula catatan bahwa Aisyah berada di sana tatkala Masjid Nabi dibangun. Lagi pula pada waktu itu Utsman yang hijrah ke Habasyah belum pulang ke Madinah. Dari segi sejarah, hanyalah dapat dikatakan bahwa hadis yang pertama diucapkan di zaman Umar, sedang hadis yang kedua diucapkan di zaman Utsman atau di zaman Ali.

Lagi pula, tidaklah adil membawa hadis­hadis Aisyah dalam hubungan dengan ‘kemelut politik’ setelah wafatnya Rasul, karena orang mengetahui ‘kebencian’ Aisyah kepada Ali.[40] Beberapa contoh, misalnya, terasa perlu dikemukakan di sini. Tatkala sakit Rasul Allah bertambah berat, beliau dibawa ke masjid, dipapah oleh dua orang, yaitu Fadhl bin Abbas bin ‘Abdul Muththalib, dan seorang lagi. Hadis ini diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah, dari Aisyah. Ubaidillah kemudian berkata: ‘Apa yang dikatakan oleh Aisyah kepadaku, kusampaikan kepada Abdullah bin Abbas, yang mengembalikan pertanyaan kepadaku: “Tahukah engkau siapa gerangan orang yang tidak disebutkan namanya oleh Aisyah?’ ‘Tidak’, jawabku. Dan kemudian menambahkan: ‘Sungguh, Aisyah tidak pernah merasa senang dengan segala berita baik mengenai Ali’.[41]

Imam Ahmad, dalam Musnad­nya, mengatakan bahwa tatkala orang datang kepada Aisyah dengan mencaci Ali bin Abi Thalib dan ‘Ammar bin Yasir, Aisyah berkata: ‘Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai Ali, sedang mengenai ‘Ammar aku telah mendengar Rasul Allah saw bersabda: ‘Ia tidak akan memilih akan dua urusan kecuali ia akan memilih yang lurus’

Aisyah mengatakan Rasul wafat sambil bersandar ke dada Aisyah, dan tidak menyampaikan wasiat apa­apa. Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Imam Ali bahwa tatkala Rasul wafat kepala beliau berada di pangkuan Ali:

Ali berkata: ‘Rasul Allah saw bersabda tatkala beliau sedang sakit: Panggilkan untukku saudaraku!’. Dan mereka memanggil Ali. Dan beliau bersabda: ‘Dekatlah kepadaku!’. Dan aku mendekatinya. Dan beliau terus bersandar dan berkata­kata kepadaku…sampai penyakitnya menjadi berat di pangkuanku!’

Abu Ghatfan berkata:

‘Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah engkau melihat bahwa Rasul Allah saw wafat dan kepalanya berada dipangkuan seseorang?’ Ibnu Abbas menjawab: ‘Rasul Allah wafat sambil bersandar pada Ali; dan aku bertanya: “Urwah menceritakan kepadaku yang didengarnya dari Aisyah yang berkata: ‘Rasul Allah saw wafat sedang kepalanya berada antara dada dan leherku (baina sahri wa nahri)! Ibnu Abbas menjawab: ‘Apakah engkau berakal? Demi Allah, sungguh Rasul Allah saw wafat sambil bersandar ke dada Ali dan Ali memandikan beliau..!’

Dan Jabir bin Abdullah al­Anshari berkata: ‘Di zaman Umar, suatu ketika Ka’b al­Ahbar berdiri dan kami sedang duduk. Ia bertanya kepada Umar, kata­kata apa yang disabdakan Rasul Allah saw pada akhir hidupnya?’ Umar menjawab: ‘Tanyakan kepada Ali!’ Ka’b: ‘Di mana dia?’ Umar: ‘Dia berada disini!’ Maka Ka’b bertanya kepadanya dan Ali menjawab: ‘Ia bersandar ke dadaku dan kepalanya berada di pundakku sambil berkata: ‘(Jangan tinggalkan) shalat, shalat!’ Kemudian Ka’b berkata: ‘Demikianlah akhir kehidupan para Nabi dan demikianlah mereka diperintahkan dan di utus!’ Dan ia melanjutkan: ‘Dan siapa yang memandikan wahai Amiru’l­mu’minin?’ Umar menjawab: ‘Tanyakan pada Ali!’ Dan Ka’b lalu bertanya kepada Ali. Ali menjawab: ‘Akulah yang memandikannya, dan Abbas pada waktu itu sedang duduk tatkala Usamah serta Syuqran bergantian menyiramkan air!’

Tatkala sedang berlangsung Perang Jamal, seorang prajurit terheran­heran melihat betapa para Sahabat yang pada waktu lalu telah berjuang tanpa pamrih untuk Islam, sekarang saling membunuh. Ia kemudian mendatangi Ali bin Abi Thalib lalu bertanya, Apakah mungkin Thalhah dan Zubair serta Aisyah berkumpul bersama­sama untuk memperjuangkan kepalsuan? Apakah hal itu mungkin terjadi? Ali menjawab: Anda tertipu. Kebenaran dan kepalsuan tidak akan diketahui dari ukuran kekuatan dari pribadi orang. Tidaklah benar bila Anda menetapkan kebenaran berdasarkan tindakan pribadi tersebut. Ini benar, karena sesuai dengan tindakannya, dan itu salah, karena tidak sesuai dengan tindakannya. Tidak, manusia tidak boleh menjadi ukuran kebenaran dan kepalsuan. Kebenaranlah yang harus menjadi tolok ukur bagi orang dan pribadi.” Dengan demikian, hadis­hadis politik seperti itu ditinjau dari berbagai segi, haruslah diragukan. Dan mengemukakan data sejarah tidaklah akan mengurangi penghormatan kita kepada ummu’l­mu’minin dan para Sahabat.

Buku ini ditulis setelah mempertimbangkan hal­hal di atas. Sumber­sumber utama buku ini, dimuat dalam satu bab tersendiri. Kecuali seorang dua, yang penulis sebutkan latar belakang mazhab yang dianutnya, semua sumber yang dipetik dalam buku ini adalah para sejarahwan Sunni.

Dalam buku ini juga penulis memuat peta wilayah kota Madinah dan denah Masjid Nabi. Denah Masjid Nabi ini penulis buat berdasarkan beberapa buku yang terpenting di antaranya ialah Fushul min Tarikh al­Madinah al­Munawwarah oleh Ali Hafizh, Madinah, Saudi Arabia. Keterangan peta dan denah itu, dalam hubungan dengan peristiwa Saqifah, penulis muat dalam bab ‘Madinah al­Munawwarah pada saat wafatnya Rasul’. Ukuran panjang untuk mengukur masjid dan kamar Rasul, penulis buat berdasarkan pengukuran dengan hasta oleh Sayyid Samhudi. Penulis mengubah dari hasta (dzira’) ke meter dengan mengalikan 0.45; sebagai contoh, 1 hasta tambah 1/3 hasta (kebiasaan orang dahulu mengukur jarak) adalah (1 + 1/3) x 0.45 = 0.825 meter, dibulatkan jadi 0,83 meter.

Daftar isi :

sejarah islam 1

Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah 1

by: O. Hashem 1

Jakarta 1

2004 1

BISMILLAHIRRAHMAN NIRAHIM 2

Prakata Penulis 3

Allah SWT Turun ke Langit Dunia (?) 6

Sungai Nil Dan Efrat Adalah Sungai Dari Surga 7

Hadis ‘Tiada Penyakit Menular’ dari Abu Hurairah 8

Hadis Abu Hurairah Tentang Lalat, Perang Lalat 9

Hadis Pundi­pundi Abu Hurairah 11

Hadis Membentangkan Baju 14

Tuduhan Para Shahabat 16

Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah 17

Aisyah dan Abu Hurairah 18

Ibnu Umar dan Abu Hurairah 20

Zubair bin ‘Awwam dan Abu Hurairah ­ Tatkala mendengar hadis Abu Hurairah, Zubair berkata ‘Bohong’. , Umar bin Khaththab dan Abu Hurairah 21

Tabi’in Menolak Hadis Abu Hurairah, Ibrahim Nakha’i dan Kawan­kawan 24

Sikap Imam Abu Hanifah dan Kawan­kawan 25

Kaum Mu’tazilah dan Abu Hurairah 27

Abu Hurairah ‘Pemerdaya’ 28

Abu Hurairah Berbeda Dengan Sahabat lain, Kedudukannya Khusus 31

Abu Hurairah dan Ka’b al­Ahbar 36

Hadis­Hadis Ramalan Politik 42


[1] Lihat “An­Nujum az­Zahirah, jilid 1, hlm. 34, Mahmud Abu Rayyah, Syaikh al­Mudhirah, Abu Hurairah, hlm. 94, lihat juga Perjanjian Lama, Kejadian (Genesis), ayat 10.

[2] Fat’ha1­Bari, jilid 4, hlm.231.

[3] Sair A’lam an­Nubala’, jilid 2, hlm.429.

[4] Ibnu Sa’d, Thabaqat, jilid 4, hlm. 56.

[5] Al­Qur’an, an­Nur (XXIV), 37.

[6] Ibnu Qutaibah, Ta’wil Mukhtalaf al­Hadits, hlm. 48.

[7] Ibnu Qutaibah, Tawil Mukhtalaf al­Hadits, hlm. 10, 11.

[8] Ibnu Qutaibah, Tawil Mukhtalaf al­Hadits, hlm. 51.

[9] Ibn Abil Hadid, Syarh Nahjul­Balaghah, jilid 4, hlm. 68.

[10] Dzahabi: Sair al­A’lam, jilid 2, hlm.435.

[11] Ibnu Qutaibah, Ta’wil Mukhtalaf al­Hadits, hlm. 28.

[12] Ibnu Qutaibah, al­Imamah was Siyasah, hlm. 126, 127.

[13] Al­Qur’an, al­An’am (VI): 164.

[14] Ibnu ‘Abdil Barr, Jami’ bayan al­ilm wa fadhluhu, jilid 2, hlm. 154,

[15] Lihat Mahmud Abu Rayyah, Syaikh al­Mudhirah Abu Hurairah, hlm. 142, 143.

[16] Ibnu Katsir, al­Bidayah wan­Nihayah, hlm. 109.

[17] Dzahabi: A’lam an­Nubala, jilid 2, hlm. 433; al­Bidayah wan­Nihayah, jilid 8, hlm. 106.

[18] Ibn Abil­Hadid, Syarh Nahjul­Balaghah, jilid 4, hlm. 67, 68.

[19] Mahmud Abu Rayyah, ibid, hlm. 104.

[20] Lihat Sair A’lam an­Nubala’, jilid 2, hlm. 348; al­Bidayah wa’n­Nihayah oleh Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 109 dll.

[21] Mahmud Abu Rayyah, Syaikh al­Mudhirah, Abu Hurairah, hlm. 146.

[22] Mahmud Abu Rayyah, Ibid, hlm. 147.

[23] mihdzar, berbicara tidak karuan.

[24] Mahmud Abu Rayyah, ibid, hlm. 147, 148.

[25] Ibn Abil­Hadid, Syarh Nahju’l­Balaghah, jilid 4, hlm. 68.

[26] Ibnu Qutaibah, Ibid, hlm. 50.

[27] Bab 6 bukunya Ma’rifah U’lum al­Hadits.

[28] Mahmud Abu Rayyah, ibid, hlm. 115.

[29] Ibnu Katsir: al­Bidayah wa’n­Nihayah, jilid 8, hlm. 109.

[30] Ibnu Sa’d, at­Thabaqat al­Kubra, jilid 4, hlm. 58.

[31] Al­Hakim, al­Mustadrak, jilid 1, hlm. 92.

[32] Lihat juga Thabaqat, jilid 7, hlm. 79.

[33] Suuythi, Alfiat, bab “Riwayat Orang­orang Besar dari Orang­orang Kecil, atau “Riwayat Sahabat yang berasal dari Tabi’in”, hlm. 237, 238.

[34] Sair A’lam an­Nubala’, jilid 2, hlm. 432.

[35] Dzahabi, ibid, jilid 2, hlm. 417.

[36] Al­Ishabah, jilid 5, hlm. 205.

[37] Shahih Bukhari, jilid 1, hlm. 23.

[38] Muslim dalam Shahih­nya, jilid 7, hlm. 110; Ibnu Sa’d dalam Thabaqat al­Kubra, jilid 2, bab 2, hlm. 128; Imam Ahmad bin Hanbal, dalam Musnad., Hakim dalam Mustadrak, jilid 3, hlm. 78; Muttaqi al­Hindi dalam Kanzu’l ‘Ummal, jilid 6, hlm. 428. Dalam Mustadrak tidak disebutkan nama Abu Ubaidah.

[39] Diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak, jilid 5, hlm. 97.

[40] Mengenai gambaran ‘Ali tentang kebencian ‘Aisyah kepadanya, lihat Khotbah 155 Nahjul Balaghah. Lihat juga catatan kaki sebelumnya.

[41] Imam Ahmad bin Hanbal, dalam Musnad­nya, jilid VI, hlm. 23 dan 238, Ibnu Sa’d dalam Thabaqat, jilid 2, bab 2, hlm. 29; Thabari, dalam Tarikh­nya, (edisi Leiden) jilid 2, hlm. 1800­1801; Baladzuri, Ansab al­Asyraf, jilid 1, hlm. 544­545; Baihaqi, Sunan, jilid 2. hlm. 396 dll.