• Mulai
  • Sebelumnya
  • 15 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 96 / Download: 45
Ukuran Ukuran Ukuran
Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah (6)

Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah (6)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

sejarah islam

Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah

by: O. Hashem

Jakarta

2004

BISMILLAHIRRAHMAN NIRAHIM

“Wahai orang­orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar­benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Al­Qur’an

Surah An­Nisa’: 135

Prakata Penulis

Buku‘Saqifah’ cetakan keempat oleh Yapi ini bertambah tebal hampir dua kali lipat dibandingkan cetakan sebelumnya. Kritik­kritik tertulis dalam bentuk buku dan artikel di beberapa majalah maupun kritik lisan dalam diskusi­diskusi khusus untuk membicarakan buku ini, memaksa penulis melengkapinya.

Pembaca dapat langsung mengikuti peristiwa Saqifah dengan meloncat ke bab 2; ‘Sumber’.

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada penulis ahli sejarah Islam Al Allamah, Habib Zainal 'Abidin bin Husain Al Muhdhar atas kebaikannya meminjamkan buku­buku yang sukar didapat.

Demikian juga kepada Ustadz Ahmad bin Abdurrahman Al Aydrus, seorang ahli sastra yang juga memberikan buku­buku yang penulis butuhkan. Juga kepada kawan yang penulis cintai Wancik Cherid yang selalu mendorong penulis untuk menyelesaikan buku ini. Penulis juga berhutang budi kepada banyak teman­teman yagg tidak mungkin penulis sebut satu demi satu.

Akhirnya kepada isteri penulis Hadijah yang dengan sabar membaca dan memberi catatan­catatan pada naskah buku ini.

Tanpa semua ini buku ini tidak mungkin ada.

Wabillahi Taufiq wal Hidayah.

Penerbit

Bab 4. Peristiwa Saqifah

Sirah Nabi karya Ibnu Ishaq yang asli tidak pernah ditemukan lagi. Yang sampai kepada kita adalah ulasan Ibnu Hisyam, seorang Sunni yang fanatik terhadap buku Ibnu Ishaq tersebut, dengan judul ‘Amr Saqifah Bani Sa’idah’ (Peristiwa Saqifah Bani Sa’idah), yang tercatat pada akhir bukunya.[1]

Ibnu Hisyam menulis:

Ibnu Ishaq berkata: ‘Tatkala Rasul Allah saw wafat, kaum Anshar berkumpul mengelilingi Sa’d bin ‘Ubadah di Saqifah Bani Sa’idah. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin ‘Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah memisahkan diri di rumah Fathimah. Kaum Muhajirin yang lain berkumpul di sekeliling Abu Bakar dan Umar bersama Usaid bin Hudhair dari Banu ‘Abdul Asyhal. Kemudian seseorang datang kepada Abu Bakar dan Umar, mengatakan bahwa kaum Anshar telah berkumpul di Saqifah Bani Saidah, mengelilingi Sa’d bin ‘Ubadah. ‘Dan bila kamu berkehendak memerintah manusia, maka rebutlah sebelum mereka bertindak lebih jauh’.

Dan Rasul Allah saw masih berada di rumahnya. Persiapan penguburan belum selesai, dan keluarga Rasul Allah saw telah mengunci rumahnya.

Sesudah pembukaan ini, Ibnu Hisyam mengutip tulisan Ibnu Ishaq tentang kesaksian Abdullah bin Abbas, dua belas tahun setelah peristiwa Saqifah. Abdullah bin Abbas mendengar langsung pidato Umar di Masjid Nabi di Madinah. Ibnu Hisyam melanjutkan:

Ibnu Ishaq menceritakan tentang peristiwa berkumpulnya kaum Anshar di Saqifah: Abdullah bin Abu Bakar menceritakan kepada saya (Ibnu Ishaq), yang didengarnya dari Ibnu Syihab az­Zuhri, dari Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud, dari Abdullah bin Abbas yang berkata:

‘Saya (Ibnu Abbas) mendapat kabar dari Abdurrahman bin ‘Auf. Waktu itu saya berada di tempat menginapnya di Mina. Abdurrahman bin ‘Auf menyertai Umar dalam perjalanaan haji Umar yang terakhir. Saya (biasa) mengajar mengaji kepadanya, dan sedang menunggunya. Tatkala Abdurrahman bin ‘Auf pulang, ia berkata kepada saya: ‘Saya ingin kiranya Anda melihat (ketika) seorang pria datang kepada Amiru’l­mu’minin dan berkata: ‘Wahai, Amiru’l mu’minin! Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang berkata: ‘Demi Allah, apabila Umar bin Khaththab meninggal, saya akan membaiat si Anu. Bukankah baiat yang diberikan kepada Abu Bakar adalah suatu kekeliruan karena tergesa­gesa, namun dianggap telah selesai?’

Di sini kita lihat bahwa ada orang yang hendak membaiat seseorang apabila Umar telah meninggal dunia. Laporan ini dicatat oleh hampir semua penulis, tanpa menyebut nama kedua orang itu, kecuali Baladzuri. Ia menyebut Zubair sebagai orang yang berbicara, sedang yang hendak dibaiat adalah Ali bin Abi Thalib[2] Catatan Baladzuri ini diperkuat Ibn Abil­Hadid.[3]

Ada pula yang menyebutkan ‘Ammar bin Yasir sebagai orang yang hendak membaiat, tetapi hanya Ali saja yang disebut sebagai orang yang hendak dibaiat. Masih mengikuti laporan Ibnu Abbas

Abdurrahman bin ‘Auf berkata selanjutnya: Umar lalu marah­marah seraya berkata: ‘Insya Allah, malam, ini saya akan berdiri di hadapan rakyat dan mengingatkan mereka akan orang­orang yang hendak merebut kekuasaan’. Abdurrahman melanjutkan: Saya berkata: ‘Wahai Amiru’l­mu’minin, jangan melakukan yang demikian itu. Ini musim haji dan di sini selalu ada rakyat jelata dan kaum jembel, yang merupakan mayoritas. Saya khawatir, apabila Anda berdiri dan berbicara kepada mereka, niscaya mereka akan mengulangi kata­kata Anda tanpa memahaminya, dan mereka tidak dapat menafsirkannya dengan tepat. Tunggulah sampai kita tiba di Madinah, karena kota itu adalah kota Sunnah, dan (di sana) Anda dapat berunding dengan para ahli dan pemuka­pemuka masyarakat. Maka katakanlah apa yang hendak Anda sampaikan. Para ahli itu akan paham dan akan menafsirkannya sesuai dengan apa yang akan Anda sampaikan’. Umar lalu menjawab: ‘Demi Allah, akan saya laksanakan segera setelah saya sampai di Madinah’.

Setelah menyampaikan apa yang didengarnya dari Abdurrahman bin ‘Auf di Makkah itu, Ibnu Abbas melanjutkan laporannya secara langsung sebagai saksi mata atas khotbah Umar di Madinah.

Ibnu Abbas menceritakan: ‘Kami tiba di Madinah pada Akhir bulan Zulhijah. Pada hari Jumat, tatkala matahari mulai condong, saya bergegas ke Masjid. Saya duduk dekat Sa’id bin Zaid bin Amr yang duduk di dekat mimbar, sehingga lututku bersentuhan dengan lututnya dan Umar belum juga kelihatan. Dan tatkala saya melihat Umar bin Khaththab datang, saya berkata pada Said bin Zaid: ‘Siang ini ia akan mengucapkan sesuatu di atas mimbar ini, suatu ucapan yang tidak pernah diucapkannya sejak ia menjadi khalifah’. Sa’id bin Zaid mengingkari apa yang saya katakan dan ia berkata: ‘Apa gerangan yang akan dikatakannya yang belum pernah diucapkannya?’

Setelah Umar duduk di atas mimbar, dan muazin sudah diam, Umar memuji Allah sebagaimana layaknya, lalu berkata: “Amma ba’du. Hari ini saya hendak mengatakan kepada Anda sekalian, sesuatu yang ditakdirkan Allah kepada saya untuk menyampaikannya. Dan saya tidak tahu apakah ini merupakan perkataan saya yang terakhir. Barangsiapa yang memahaminya dan memperhatikannya, dapatlah ia menyimpan dan membawanya ke mana ia pergi; dan barangsiapa yang merasa takut tidak dapat memahaminya, tidak dapat ia menyangkat bahwa saya telah mengucapkannya...

‘Saya mendengar bahwa seseorang (Zubair, menurut Baladzuri) telah berkata, ‘Bila Umar meninggal dunia, maka saya akan membaiat si Anu (Ali, menurut Baladzuri). Jangan kalian membiarkan seseorang menipu dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa pembaiatan kepada Abu Bakar adalah suatu kekeliruan karena dilakukan tergesa­gesa, (faltah), namun telah selesai. Sebenarnya memang demikian, tetapi Allah telah melindunginya dari malapetaka. Tiada seorang pun di antara kalian yang lebih dicintai rakyat daripada Abu Bakar. Dan barangsiapa membaiat seseorang tanpa bermusyawarah dengan kaum Muslimin, maka baiat itu tidak sah, dan keduanya harus dibunuh. Kalimat, “Jangan membiarkan seseorang menipu dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa pembaiatan terhadap Abu Bakar adalah faltah”, yang diucapkan Umar ini menunjukkan bahwa kata­kata tersebut pernah diucapkan sebelumnya. Memang, Umar sendiri ­ menurut Ibnu Abbas dan Abdurrahman bin ‘Auf sebelumnya pernah mengatakan: “Sesungguhnya pembaiatan terhadap Abu Bakar adalah faltah, tetapi Allah telah menghindarkan malapetaka daripadanya.

Dan barangsiapa melakukan hal yang serupa, maka bunuhlah dia”. Abu Bakar sendiri mengakui hal yang sama, dengan kata­kata, “Sesungguhnya baiat terhadapku adalah faltah, tetapi Allah telah menghindarkan malapetaka yang diakibatkannya”.

Tiga Kelompok

Dari peryataan Umar bin Khaththab ini jelas bahwa pencalonan Abu Bakar mendapat perlawanan hebat dari kaum Anshar maupun Ali bin Abi Thalib serta pengikutnya.

Sesuai dengan peryataan Umar itu, ada tiga kelompok yang muncul ke permukaan, tepat setelah wafatnya Rasul Allah saw:

1. Kelompok pertama terdiri dari Ali bin Abi Thalib[4] , keluarga Banu Hasyim dan kawan­ kawannya termasuk orang­orang yang sedang berkumpul di rumah Fathimah, yakni: Salman al­ Farisi, Abu Dzarr al­Ghifari, Miqdad bin Amr, ‘Ammar bin Yasir, Zubair bin Awwam, Khuzaimah bin Tsabit, ‘Ubay bin Ka’b, Farwah bin ‘Amr, Abu Ayyub al­Anshari, Utsman bin Hunaif, Sahl bin Hunaif, Khalid bin Said bin ‘Ash al­Amawi serta Abu Sufyan, pemimpin Banu ‘Umayyah. Meskipun Abu Sufyan tidak berada di Madinah tatkala Abu Bakar dibaiat di Saqifah, namun setelah tiba di Madinah beberapa hari kemudian, ia menyatakan dukungannya pada Ali. Calon dari kelompok ini ialah Ali bin Abi Thalib.

Kedudukan Ali di sisi Rasul Allah saw sangat khusus, berbeda dengan seluruh Sahabat yang lain. Pujian Rasul Allah saw terhadap Ali barangkali melebihi pujian terhadap seluruh Sahabat lainnya sekaligus. Sejak turunnya ayat Wa andzir asyirataka’l aqrabin[5] , Rasul Allah saw telah mengangkat Ali sebagai wazir beliau. Sejak masa kecilnya, Ali dibesarkan dalam asuhan dan pendidikan langsung dari Rasul Allah saw. Dalam bidang ilmu pengetahuan, Rasul Allah saw bersabda, ‘Saya gudang ilmu, dan Ali adalah pintunya’. Rasul Allah saw memandang Ali sebagai saudara penggantinya; kedudukan Ali di sisi Rasul Allah saw seperti kedudukan Haran di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi sesudah Muhammad saw. Dalam khotbah Rasul Allah saw di Ghadir Khum, Rasul Allah saw menyebut Ali sebagai Wali kaum mu’minin.[6]

Ali juga dikawinkan Rasul Allah saw dengan putri beliau, penghulu kaum wanita sedunia; sayyidatun­nisa’ al­alamin, Fathimah.

2. Kelompok kedua ialah kelompok kaum Anshar, yang melakukan pertemuan tersendiri di Saqifah. ‘Calon’ dari kelompok ini ialah Sa’d bin Ubadah[7] Kelompok ini menjadi lemah tatkala sedang berlangsung perdebatan di Saqifah, karena ‘pembangkangan’ Usaid bin Hudhair, ketua Banu Aws, suku yang menjadi musuh bebuyutan sukunya, suku Khazraj. Seorang ‘pembangkang’ lainnya lagi ialah Basyir bin Sa’d, saudara misan Sa’d bin ‘Ubadah sendiri. Kedua ‘pembangkang’ ini, akan kita lihat. nanti, memegang peranan terpenting dalam memenangkan Abu Bakar. Kedudukan Sa’d bin ‘Ubadah, calon dari kaum Anshar untuk jabatan khalifah itu, menonjol. Ia memegang peranan sebagai tokoh utama kaum Anshar dalam membantu Rasul Allah saw dan melindungi Rasul Allah saw dari musuh­musuh beliau kaum Quraisy jahiliah Makkah dan kaum munafik, selama sepuluh tahun. Ia turut dalam bai’atul Aqabah sebelum Rasul Allah saw hijrah ke Madinah. Dalam pembukaan Makkah, Sa’d diberi kehormatan oleh Rasul Allah saw sebagai salah satu dari empat orang pembawa panji. Karena sikapnya yang keras terhadap kaum jahiliah Quraisy, Rasul Allah saw memerintahkannya untuk menyerahkan panji itu kepada putranya, Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah. Kehormatan yang diberikan Rasul Allah saw kepada Sa’d bin ‘Ubadah ini cukup melukiskan betapa besar penghargaan Rasul Allah saw kepada tokoh kaum Anshar ini.

3. Kelompok ketiga ialah kelompok Umar bin Khaththab[8] , Abu Bakar[9] dan Abu ‘Ubaidah bin al­ Jarrah[10] Dapat dimasukkan pula ke dalam kelompok ini Mughirah bin Syu’bah[11] dan Abdurrahman bin ‘Auf[12] ‘Calon’ dari kelompok ini ialah Abu Bakar.

Kedudukan Abu Bakar dan Umar hampir tidak perlu disebut lagi. Abu Bakar termasuk di antara orang­orang yang awal menganut Islam. Bantuan Abu Bakar dan Umar kepada Rasul Allah saw dalam memperjuangkan Islam sangat besar. Rasul Allah saw kawin dengan Aisyah putri Abu Bakar, dan Hafshah putri Umar.

Sebenarnya masih ada kelompok lain, seperti kelompok Utsman bin ‘Affan beserta anggota­ anggota Banu ‘Umayyah, kelompok Banu Zuhrah dengan tokoh­tokohnya Sa’d bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin ‘Auf, namun kita batasi saja pembicaraan pada ketiga kelompok yang disebutkan Umar dalam khotbahnya yang telah dikutipkan di atas.

Untuk memahami pernyataan Umar bahwa ‘kaum Anshar menentang kami dan melakukan pertemuan dengan tokoh­tokohnya di Saqifah Bani Saidah, Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin ‘Awwam serta kawan­kawan mereka memisahkan diri dari kami, sedang kaum Muhajirin berkumpul pada Abu Bakar’, diperlukan lagi penjelasan dari sumber­sumber sejarah kita.

Bagaimana, misalnya, sampai kaum Anshar yang terbesar di wilayah Madinah yang seluas 128 kilometer persegi, dari Bukit Uhud yang sejauh delapan kilometer di sebelah Utara Saqifah, dari Bukit ‘Air yang berjarak delapan kilometer di sebelah Selatan, dari al­Harrah asy­Syarqiyyah di sebelah Timur, serta al­Harrah al­Gharbiyyah di sebelah Barat, yang masing­masingnya berjarak empat kilometer, dapat berkumpul di Saqifah tepat sesaat setelah wafatnya Rasul Allah saw? Bagaimana Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah mendapatkan berita tentang pertemuan kaum Anshar di Saqifah itu? Sedang berada di mana mereka pada waktu itu? Apa sebabnya ‘keluarga Rasul Allah saw mengunci rumahnya’ dan kawan­kawan Ali, seperti Zubair, berkumpul di rumah Ali? Mengapa maka Ali dan kawan­kawannya tidak ikut ke Saqifah bersama rombongan Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah?

Sebelum kita meneruskan pidato Umar, marilah kita ikuti peristiwa munculnya kelompok­ kelompok ini untuk merebut ‘kekuasaan’ yang lowong dengan wafatnya Rasul Allah saw.

Usaha Rasul Hadapi Ketiga Kelompok Ini

1. Rasul Allah saw Mengirim Sa’d bin Ubadah, Abu Bakar Serta Umar ke Mu’tah. Ali Dan Pengikutnya Dipertahankan di Madinah.

Sejak pulangnya dari Hajjatu’l Wada’, delapan puluh hari menjelang wafatnya, Rasul Allah saw telah bersiap­siap mengirim pasukan untuk memerangi kaum Romawi di Mu’tah di wilayah Suriah, di mana telah terbunuh sepupu Nabi Ja’far bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

Pada hari Senin, 4 hari sebelum bulan Safar berakhir pada tahun 11 Hijriah, Rasul Allah saw memerintahkan mempersiapkan pasukan untuk memerangi orang Romawi di Mu’tah. Keesokan harinya Rasul Allah memanggil Usamah bin Zaid bin Haritsah dan berkata: ‘Pergilah ke tempat terbunuhnya ayahmu dan perangilah mereka dan aku mengangkat engkau sebagai pemimpin pasukan..’. Dan pada hari Rabu Rasul Allah saw demam dan sakit kepala. Besok, pada pagi hari, Rasul Allah saw menyerahkan panji­panji kepada Usamah, dengan tangannya sendiri. Dengan membawa panji­panji, pasukan berangkat dan berkemah di Jurf. Dan tidak ada lagi kaum Muhajirin yang awal dan kaum Anshar di Madinah. Semua ikut dengan pasukan Usamah. Di dalamnya, terdapat Abu Bakar Ash­Shiddiq, Umar bin Khaththab, Abu ‘Ubaidah bin al­Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid dan lain­lain. Dan orang mulai berkata: ‘Beliau menjadikan orang muda ini sebagai pemimpin kaum Muhajirin yang awal!’ Dan Rasul Allah saw marah sekali dan beliau lalu keluar dengan melilitkan serban di kepalanya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Beliau naik ke atas mimbar dan bersabda: ‘Telah sampai berita kepadaku bahwa sebagian di antaramu telah mencela pengangkatan Usamah sebagai pemimpin (pasukan)! Kamu juga dahulu mencela tatkala aku mengangkat ayahnya menjadi pemimpin sebelum ini! Demi Allah, ia pantas memegang pimpinan sebagaimana ayahnya, yang juga pantas memegang pimpinan’. Kemudian beliau turun dari mimbar dan kaum Muslimin yang ikut dalam pasukan Usamah pergi, berlalu meninggalkan Madinah ke perkemahan pasukan di Jurf. Dan penyakit Rasul Allah saw makin memberat dan beliau bersabda: ‘Percepat pasukan Usamah!’ Dan pada hari minggu sakit Rasul Allah saw bertambah parah. Usamah kembali dari kemahnya dan menemui Nabi. Beliau pingsan. Usamah membungkuk dan menciumnya. Rasul Allah saw tidak berbicara. Usamah lalu kembali ke perkemahan pasukannya. Tatkala hari Senin tiba, Usamah telah berada di Madinah dan Rasul Allah saw telah sadar kembali. Beliau bersabda: ‘Pergilah dengan berkat Allah!’ Usamah lalu berangkat ke perkemahan, dan memerintahkan pasukannya untuk berangkat. Tatkala ia baru saja akan menunggangi kudanya, tibalah seorang utusan yang dikirim oleh ibunya yang bernama Ummu Aiman. Utusan itu berkata: ‘Rasul Allah sedang menghadapi ajalnya’. Dan Usamah kembali lagi ke Madinah bersama Umar bin Khaththab dan Abu ‘Ubaidah dan berhenti di depan rumah Rasul Allah. Rasul Allah telah wafat tatkala matahari mulai condong, yaitu pada hari Senin tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal.[13]

Rasul Allah saw berulang­ulang memerintahkan mereka untuk mempercepat keberangkatan pasukan itu, dan mengutuk mereka yang meninggalkan pasukan.[14]

Bahwa Abu Bakar termasuk dalam pasukan Usamah dicatat oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqat al­ Kubra, jilid 2, hlm. 41; Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Tahdzib asy­Syam, jilid 2, him. 391; Muttaqi al­ Hindi, Kanzu’l­Ummal, jilid 5, hlm. 312; Ibnu Atsir, Tarikh al­Kamil, jilid 2, hlm. 120. Semuanya menyatakan bahwa Abu Bakar dan Umar termasuk dalam pasukan Usamah. Karena Rasul Allah begitu marah karena memperlambat pasukan Usamah, dapatlah dipahami adanya usaha “mengeluarkan” Abu Bakar dari keikut sertaannnya dalam pasukan Usamah dengan riwayat bahwa Abu Bakar menjadi imam tatkala Rasul Allah sedang sakit yang akan dibicarakan di bagian lain buku ini.

Tetapi Usamah sedikitnya tiga kali kembali ke Madinah, karena tidak mendapatkan dukungan dari kaum Muhajirin. Umar bin Khaththab agaknya hampir tidak meniggalkan kota Madinah, terus mengikuti perkembangan Rasul Allah saw. Paling sedikit, pada hari Kamis tanggal 8 Rabiul Awwal dan hari wafatnya Rasul Allah saw (12 Rabiul Awwal), Umar berada di Masjid Nabi dan bertemu dengan Rasul Allah saw Abu Bakar, agaknya kembali dari Jurf dan menginap pada sebuah rumahnya yang terletak di Sunh, sekitar satu setengah kilometer ke arah Barat Masjid. Paling tidak, Abu Bakar berada di Sunh pada waktu wafatnya Rasul Allah saw.

Kaum Anshar, yang takut akan dominasi kaum Quraisy dari Makkah yang mereka perangi selama sepuluh tahun terakhir, setelah mengetahui bahwa Rasul Allah saw telah wafat, segera mengadakan pertemuan di Saqifah Bani Sa’idah, yang terletak lima ratus meter di sebelah Barat Masjid Madinah.

Ada hal­hal yang menarik dari tindakan Rasul Allah saw ini:

a. Ekspedisi yang dikirim Rasul Allah saw dipimpin oleh seorang remaja yang berusia tujuh belas tahun, dan ekspedisi itu akan memakan waktu lebih dari sebulan.

b. Dalam ekspedisi ini Rasul Allah saw mengirim tokoh­tokoh terkemuka dari kaum Anshar dan Muhajirin, termasuk ‘calon’ dari kaum Anshar, Sa’d bin ‘Ubadah, dan ‘calon’ lain, yaitu Abu Bakar.

c. Rasul Allah saw mempertahankan di Madinah Ali bin Abi Thalib, ‘calon’ yang termuda. Pada waktu itu Ali berusia tidak lebih dari 34 tahun.

Tatkala Rasul Allah saw mengirim pasukan ini, beliau berkhotbah:

‘Saudara­saudara, percepatlah keberangkatan pasukan Usamah ini. Demi hidupku, kalau kamu telah berbicara tentang kepemimpinannya, tentang kepemimpinan ayahnya dahulu pun kamu telah berbicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan’. Setelah berhenti sebentar, beliau melanjutkan: ‘Seorang hamba Allah telah disuruh­Nya memilih antara hidup di dunia ini atau di sisi­Nya, maka ia memilih kembali ke sisi­Nya’.

Pada waktu itu Abu Bakar menangis, karena ia mengetahui bahwa yang dimaksud Rasul Allah saw itu ialah diri beliau sendiri.

Banyak ulama berpendapat bahwa tindakan Rasul Allah saw mengirim pasukan ini ke Suriah ialah untuk memudahkan Rasul Allah saw mengangkat Ali bin Abi Thalib menjadi pengganti beliau.

2. Rasul Allah saw Hendak Membuat Surat Wasiat, Tetapi Dihalangi Umar Bin Khaththab. Hari Kamis Kelabu.

Demam Rasul Allah saw timbul secara berkala. Pada hari Kamis tanggal 8 Rabiul Awwal, Rasul Allah saw diserang demam. Beliau memerintahkan agar mengambil kertas dan tinta, untuk membuat surat wasiat, agar umat beliau tidak akan tersesat untuk selama­lamanya. Umar yang hadir pada waktu itu, menghalangi maksud beliau dan mengatakan bahwa Rasul Allah saw sedang mengigau. Terjadilah pertengkaran antara keluarga Rasul Allah saw yang berada di belakang tirai, yang menghendaki agar Umar memenuhi perintah Rasul Allah saw. Hadis Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas yang berkata “Hari Kamis aduh hari Kamis!” Kemudian air matanya mengalir di kedua pipinya seperti untaian mutiara. Ibnu Abbas melanjutkan: ‘Rasul Allah bersabda: ‘Bawakan kepadaku tulang belikat (katf, kiff, katif, waktu itu dipakai sebagai kertas) dan tinta, aku akan menuliskan bagimu surat agar kamu tidak akan pernah tersesat sesudahku untuk selama­lamanya!” Dan mereka menjawab: “Rasul Allah sedang mengigau!”[15]

Bukhari mencatat dalam Bab Jawa’iz al­Wafd dari Jubair dari Ibnu Abbas: ‘Hari Kamis, aduh hari Kamis!’ Kemudian ia menangis sehingga air matanya menetes ke kerikil. Ia lalu berkata: ‘Sakit Rasul Allah makin memberat pada hari Kamis, dan beliau berseru: ‘Ambilkan kertas akan kutulis bagi kamu surat, agar kamu tidak akan tersesat sesudahnya untuk selama­lamanya!’ Dan mereka bertengkar (tana­za’u) dan tidaklah pantas bertengkar di depan Nabi. Mereka berkata: ‘Rasul Allah sedang mengigau! (hajara, yahjuru).

Dan beliau mewasiatkan menjelang wafatnya: “Keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab dan beri hadiah kepada utusan sebagaimana aku lakukan!’. Dan aku lupa yang ketiga”.[16] Bukhari dan Muslim yang berasal dari Ibnu Abbas: “Menjelang wafatnya Nabi, di rumahnya berada beberapa orang di antaranya Umar bin Khaththab. Beliau bersabda: ‘Biarkan (halumma) kutuliskan untuk kamu surat, agar kamu tidak pernah akan tersesat sesudahnya!’ Umar menjawab: ‘Nabi telah dikuasai sakit dan ada padamu al­Qur’an maka cukuplah Kitab Allah!’. Dan keluarga Rasul berselisih pendapat (dengan Umar) dari mereka bertengkar. Dan di antaranya ada yang berkata: ‘Kamu bawakanlah! Biar beliau menuliskan untukmu surat yang tidak akan pernah membuat kamu tersesat sesudahnya!’ Dan di antara mereka ada yang berkata seperti dikatakan Umar. Dan tatkala ucapan­ucapan dan perselisihan makin menjadi­jadi, beliau bersabda: “Pergilah kamu dari sini!”[17] Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir: ‘Bahwa Nabi meminta lembaran (shahifah) menjelang ajalnya, agar beliau dapat menuliskan surat supaya orang­orang tidak pernah akan tersesat sesudahnya, dan Umar menentangnya, (khalafa), bahkan menolaknya’.[18]

Riwayat Ibn Abil­Hadid yang berasal dari Jauhari: “Dan tatkala pertentangan dan suara, makin bertambah tak menentu, Rasul Allah marah dan berseru: ‘Pergilah dari sini! Tidaklah pantas bertengkar demikian di depan Nabi! Maka keluarlah!”[19]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Tatkala menjelang ajalnya, Rasul Allah saw bersabda: ‘Ambilkan tulang belikat akan kutuliskan kepadamu tulisan sehingga tidak akan berselisih dua orang sesudahnya. Maka orang­orang mulai ribut. Dan seorang wanita berkata: ‘Celaka kamu!’[20]

Muttaqi al­Hindi berkata dalam Kanzu’l­Ummal dari Ibnu Sa’d dengan sanad yang berasal dari Umar yang berkata: “Kami berada dirumah Nabi dan di antara kami dan kaum wanita terdapat hijab: Maka Rasul Allah bersabda: ‘Basuhi diriku dengan tujuh kantong air (qirab, kantong yang terbuat dari kulit, pen.) dan ambilkan lembaran dan tinta agar aku menuliskan untuk kamu surat supaya kamu tidak akan pernah tersesat sesudahnya untuk selama­lamanya!’ Dan berkatalah kaum wanita: ‘Penuhi keinginan Rasul Allah!’ Dan aku berkata: ‘Diam kamu! Bila ia sakit kamu menangis! Tapi bila ia sehat kamu pegang tengkuknya! ‘Maka Rasul Allah saw bersabda: ‘Mereka lebih baik dari kamu!’[21]

Akhirnya permintaan Rasul Allah saw tidak terpenuhi. Umar kemudian mengakui bahwa Rasul Allah saw ingin membuat wasiat untuk Ali sebagai penggantinya, tetapi ia menghalanginya.

Bab 5. Pertemuan Kaum Anshar di Saqifah

Dalam khotbah Jum’at Umar bin Khaththab yang terkenal itu, Umar tidak menceritakan perdebatan yang terjadi di Saqifah sebelum kedatangannya bersama Abu Bakar. Agar lebih mudah memahami perdebatan yang terjadi kemudian, marilah kita ikuti peristiwa ini sebagimana dituturkan oleh al­Jauhari dalam bukunya Saqifah, dari isnad yang lengkap sampai kepada Sa’id bin Katsir bin ‘Afir al­Anshari, yang berkata [22] : Ketika Nabi saw wafat, berkumpullah kaum Anshar di Saqifah Bani Sa’idah. Dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya Rasul Allah saw telah wafat’. Berkatalah Sa’d bin ‘Ubadah kepada anaknya yang bernama Qais, atau kepada salah seorang anaknya: ‘Saya tidak sanggup memperdengarkan suara saya kepada semua orang, karena saya sedang sakit; tetapi engkau dapat mendengar suara saya; maka ulangilah suara saya agar mereka dapat mendengar’. Sa’d lalu berbicara, dan didengarkan oleh anaknya, yang mengulanginya. dengan suara yang keras. Sebagian dari pidatonya, sesudah mengucapkan puji­pujian kepada Allah SWT, ialah: ‘Sesungguhnya kamu adalah di antara orang­orang yang terdahulu dan mempunyai kemuliaan dalam Islam; tiada orang Arab yang lebih mulia dari kamu. Rasul Allah saw telah tinggal di tengah kaumnya (orang Quraisy) di Makkah lebih dari sepuluh tahun, mengajak mereka menyembah Allah Yang Maha Penyayang dan meninggalkan penyembahan berhala. Tetapi tiada yang mengakui beliau, kecuali beberapa orang. Demi Allah, mereka tidak bisa melindungi Rasul Allah dan tidak dapat memuliakan agamanya; mereka tidak dapat membela Rasul dari musuh beliau, sampai Allah menghendaki kalian mendapatkan kemuliaan yang sebaik­ baiknya, memberikan kehormatan kepada kalian dan mengkhususkan kalian dalam agamanya, dan kepada kalian diberikan keimanan dan Rasul­Nya, memperkuat agama beliau dan berjihad melawan musuh­musuh beliau. Kamulah orang yang paling keras melawan para penyeleweng agama, dan kamulah yang memuliakan Islam dalam melawan musuh­musuhnya dibandingkan dengan yang lain, sehingga mereka mengikuti perintah Allah, sebagian karena kepatuhan dan sebagian lagi karena terpaksa. Dan kepadamu diberikan­Nya kemampuan, sehingga orang­orang yang jauh tunduk kepada kepemimpinanmu, sampai Allah SWT memenuhi janji­Nya kepada Nabi­ Nya. Maka tunduklah seluruh bangsa Arab karena pedangmu. Dan Allah SWT mengambil Nabi­ Nya. Beliau rela dan puas akan kalian, lahir maupun batin. Maka genggamlah kuat­kuat kekuasaan ini’.

Maka menjawablah kaum Anshar bersama­sama: ‘Sungguh tepat pendapat Anda, dan sungguh benar perkataan Anda; kami tidak akan melanggar apa yang Anda perintahkan, akan kami angkat Anda sebagai pemimpin. Kami puas akan Anda. Dan kaum mu’minin yang saleh akan menyenangi.

Kemudian mereka saling bertukar kata. Dan sebagian di antara mereka berkata: ‘Bagaimana apabila kaum Muhajirin menolak dan berkata, ‘Kami adalah kaum Muhajirin dan Sahabat­ sahabat Rasul saw yang pertama, kami adalah keluarganya (asyiratuhu) dan wali­walinya (auliya’uhu), maka mengapa kamu hendak bertengkar dengan kami mengenai kepemimpinan sesudah Rasul?’ Maka sebagian di antara mereka berkata: ‘Kalau demikian, maka kita akan menjawab: ‘Seorang pemimpin dari kami, dan seorang pemimpin dari kamu,’ (minna Amir wa minkum Amir). Selain begini, kita sama sekali tidak akan rela. Kita adalah pemberi perumahan dan pelindung (iwa) dan penolong (nushrah), dan mereka melakukan hijrah. Kita berpegang kepada Al­ Qur’an sebagaimana mereka. Apa pun alasan yang mereka ajukan, kita akan mengajukan dalil yang sama. Kita tidak hendak memonopoli kekuasaan terhadap mereka, maka bagi kita harus ada seorang pemimpin dan bagi mereka seorang pemimpin’. Maka berkatalah Sa’d bin ‘Ubadah: ‘Inilah awal kelemahan!’ Demikianlah kesaksian Sa’id bin Katsir bin ‘Afir al­Anshari, yang dicatat oleh al­ Jauhari dalam bukunya Saqifah.

Al­Jauhari selanjutnya mengatakan: ‘Maka kabar ini sampai kepada Umar, yang kemudian pergi ke rumah Rasul Allah saw. Ia mendapatkan Abu Bakar di dalam rumah (Rasul), sementara Ali sedang mengurus jenazah Rasul Allah. Yang menyampaikan berita itu kepada Umar adalah Ma’n bin ‘Adi (seorang Anshar, pen) yang memegang tangan Umar lalu berkata: ‘Ayolah!’ (Qum! = Mari kita pergi!). Umar berkata, ‘Saya sedang sibuk’. Ma’n berkata lagi, ‘Tidak bisa tidak, Anda harus pergi bersama saya’. Maka Umar pun pergi bersama Ma’n, lalu Ma’n berkata: ‘Sesungguhnya kaum Anshar telah berkumpul di Saqifah Bani Saidah, bersama mereka terdapat Sa’d bin Ubadah; mereka mengelilinginya dan berkata: ‘Anda, hai Sa’d, Anda adalah harapan kami. Di antaranya terdapat para pemuka mereka, dan saya khawatir akan timbulnya fitnah. Lihatlah, wahai Umar, bagaimana pendapat Anda? Beritahukan kepada saudara­saudara Anda kaum Muhajirin, pilihlah seorang pemimpin di antara anda sekalian. Saya sendiri melihat pintu fitnah sudah terbuka pada saat ini, kecuali apabila Allah hendak menutupnya’. Maka Umar sangatlah terkejut mendengar hal ini, sehingga ia datang kepada Abu Bakar, dan berkata, ‘Marilah kita pergi!’ Abu Bakar menjawab, ‘Hendak ke mana? Tidak, saya tidak akan pergi sebelum menguburkan Rasul Allah. Saya sedang sibuk’. Umar lalu berkata lagi: ‘Tidak bisa tidak, Anda harus ikut saya. Nanti kita kembali, insya Allah’. Maka Abu Bakar pun pergi bersama Umar’.

Dari pertemuan kaum Anshar di Saqifah ini, terlihat dengan jelas bahwa kaum Anshar hendak membaiat Sa’d bin ‘Ubadah menjadi pemimpin kaum mu’minin; terlihat juga kekhawatiran mereka akan dominasi kaum Quraisy Makkah yang telah mereka perangi selama sepuluh tahun terakhir. Kedudukan mereka yang mayoritas, sebagai pelindung dan penolong Rasul dan kaum Muhajirin, prestasi mereka dalam mengembangkan Islam yang maju pesat di tangan mereka, dan kegagalan kaum Quraisy di Makkah, menjadi pendorong bagi mereka untuk melanjutkan peranan sebagai mesin untuk mengembangkan Islam.

Mengenai kepemimpinan umat, terdapat perbedaan pendapat. Sa’d bin ‘Ubadah berpendapat bahwa pemimpin haruslah dari kaum Anshar. Sebagian lagi berpendapat, andai kata kaum Quraisy menolak dengan alasan bahwa mereka adalah sahabat dan keluarga dekat Rasul, maka mereka akan membiarkan kaum Muhajirin mengangkat seorang pemimpin mereka sendiri. Sa’d tidak setuju dengan pendapat ini, dan menganggapnya sebagai awal kelemahan. Meskipun Sa’d bin ‘Ubadah, sebagai seorang pemimpin Anshar menyadari bahwa membiarkan kaum Muhajirin mengangkat seorang pemimpin di antara mereka sendiri tidak rasional, merupakan kemunduran dan awal kelemahan, namun selanjutnya ia tidak bersikeras dengan pendapatnya. Sikap ini menunjukkan kesediaan hadirin bermujadalah dengan kaum Muhajirin dan membuka kemungkinan pembentukan pemerintahan koalisi.

Bab 6. Pertemuan Kelompok Umar

Semua penulis sependapat bahwa Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah ditunjuk Rasul sebagai prajurit dalam pasukan Usamah, dua minggu sebelum wafatnya Rasul, dan mereka memperlambat keberangkatan pasukan, meskipun Rasul dengan keras memerintahkan agar pasukan segera berangkat, dan melaknat mereka yang meninggalkan pasukan. Pada hari Kamis tanggal 8 Rabi’ul Awwal, Umar juga telah menghalangi Rasul membuat wasiat, sehingga Rasul mengusirnya dari kamar, dengan kata­kata: ‘Keluar, tisak boleh rebut­ribut di hadapanku!’[23]

Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah telah menjalin persahabatan yang kukuh, sejak mula pertama memeluk Islam dalam menghadapi kaum aristokrat jahiliah. Persahabatan ini makin erat bersamaan dengan makin kuatnya kebangkitan Islam. Tatkala Rasul wafat, ketiga tokoh ini, tanpa memberitahu kelompok Ali, pergi ke Saqifah Bani Saidah. Bersama mereka ikut Mughirah bin Syu’bah, Abdurrahman bin ‘Auf dan Salim maula Abu Hudzaifah. Mereka juga berhasil menarik tokoh yang membawahi kaum Aus, Usaid bin Hudhair, Basyir bin Sa’d, ‘Uwaim bin Sa’idah[24] dan Ma’n bin ‘Adi.[25] Sebuah makalah telah ditulis oleh Henri Lammens, yang berjudul ‘Kelompok Politik tiga orang (triumvirat) Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah’, yang menceritakan keakraban ketiga tokoh ini sejak zaman Rasul, kerja sama mereka sebelum pergi ke Saqifah, dan perdebatan mereka dengan kaum Anshar di sana. Demikian pula setelah Abu Bakar dan Umar memegang tampuk pemerintahan.[26]

Abu Bakar menghibahkan jabatan khalifah kepada Umar bin Khaththab. Tatkala Umar akan menghadapi ajalnya, ia mengatakan hendak menghibahkan kekhalifahan kepada Abu ‘Ubaidah bin al­Jarrah atau Salim maula Abu Hudzaifah. Sayang keduanya telah meninggal.

Para ahli sering merasa ‘bingung’, karena Salim adalah bekas budak, dan bukan orang Quraisy, dan ini bertentangan dengan hadis Nabi yang dipakai oleh Abu Bakar dalam perdebatan di Saqifah, bahwa pemimpin haruslah orang Quraisy, al­a ‘immah min Quraisy.[27]

Umar lalu menyebut Usaid bin Hudbair sebagai saudaranya. Tatkala ‘Uwaim bin Sa’idah meninggal dunia, Umar duduk di pinggir kuburannya seraya berkata: ‘Tiada seorang pun di dunia ini yang lebib baik dari lelaki yang berada di dalam kubur ini’. Abu ‘Ubaidah ditunjuk Umar sebagai panglima pasukan untuk berperang dengan orang Romawi. Abdurrahman bin ‘Auf ditunjuk sebagai anggota Syura untuk memilih khalifah.

Bagaimana sikap dan tindakan Umar tatkala ia mengetahui adanya pertemuan di Saqifah? Setelah mengikuti catatan yang dibuat oleh Jauhad di atas, marilah kita lanjutkan pidato Umar:

Maka saya (Umar) berkata kepada Abu Bakar, bahwa kami harus pergi kepada saudara­saudara kita kaum Anshar. Kami lalu pergi menemui mereka, dan kami bertemu dengan dua orang yang saleh (‘Uwaim bin Sa’idah dan Ma’n bin ‘Adi; dua orang Anshar)[28] yang menceritakan kepada kami tentang kesimpulan yang diambil kaum Anshar. Mereka bertanya: ‘Hendak ke mana kamu, kaum Muhajirin?’ Kami menjawab, ‘Kami sedang menuju kepada saudara­saudara kami kaum Anshar’. Mereka berkata: ‘Tidak ada gunanya kalian mendatangi mereka, wahai kaum Muhajirin; ambillah keputusan tentang urusan kamu sendiri’. Kami pun pergi dan mendapatkan mereka di Saqifah Bani Saidah. Di tengah mereka terdapat seorang yang berselimut, lalu saya bertanya: ‘Mengapa dia?’ Mereka menjawab, ‘Ia sakit’. Dan setelah kami duduk, seorang pembicara mengucapkan syahadat dan memuji Allah sebagaimana layaknya, kemudian melanjutkan.. Dalam pidato Umar yang diucapkan dua belas tahun kemudian itu, sesudah mengatakan bahwa ‘Kaum Muhajirin berkumpul pada Abu Bakar’, ia mengatakan: ‘Maka saya berkata kepada Abu Bakar bahwa kami harus pergi kepada saudara­saudara kita kaum Anshar’. Di tengah jalan mereka bertemu dengan dua orang Anshar, ‘Uwaim bin Sa’idah dan Ma’n bin ‘Adi, yang menyampaikan laporan. Versi ini tidak seluruhnya benar, karena bertentangan dengan kenyataan yang disepakati semua penulis, bahwa Abu ‘Ubaidah bin al­Jarrah ikut pergi bersama rombongan ini. Umar juga tidak menceritakan bagaimana ia dan Abu Bakar yang berada di Masjid Madinah dan dalam rumah Rasul, mendapat kabar tentang pertemuan di Saqifah.

Siapa Ma’n bin ‘Adi dan ‘Uwaim bin Sa’idah? Zubair bin Bakkar dalam bukunya Muwaffaqiat menceriterakan:

“Abu Bakar dan Umar mendapat dukungan dua orang Anshar pengikut perang Badr, untuk menjatuhkan Sa’d, yaitu ‘Uwaim bin Sa’idah dan Ma’n bin ‘Adi. Ibn Abil­Hadid melengkapinya. “Keduanya sangat menyintai Abu Bakar semasa Rasul masih hidup dan pada saat yang sama keduanya sangat membenci (bughdh wa syahna’) Sa’d bin ‘Ubadah. Ibn Abil­Hadid mengutip dari buku Al­Qaba’il tulisan Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin al­Mutsanna.

Madd’ini dan Waqidi menceriterakan bahwa Ma’n bin ‘Adi dan ‘Uwaim bin Sa’idah sepakat mendorong Abu Bakar dan Umar untuk mengambil kekuasaan dengan meninggalkan pertemuan kaum Anshar. Kedua penulis ini mengatakan bahwa Ma’n bin ‘Adi ‘menyusup’ ke Saqifah, mengikuti pembicaraan dan segera meninggalkan pertemuan sebelum kaum Anshar mengambil keputusan.[29]

Zubair bin Bakkar, Mada’ini dan Waqidi menerangkan kepada kita logika peristiwa Ma’n dan ‘Uwaim, dua orang Anshar, yang mendatangi Umar dengan berita jalannya pertemuan kaum Anshar di Saqifah.

Jauhari, dalam bukunya Saqifah, menceritakan bahwa Ma’n bin ‘Adi yang memberi kabar kepada Umar yang berada di rumah Rasul. Lalu bersama­sama mereka ke Saqifah.

Tetapi di mana mereka bertemu dengan Abu ‘Ubaidah yang datang ke sana, lalu duduk berdekatan dengan Abu Bakar dan Umar di Saqifah? Karena Jauhari tidak menyebut­nyebut Abu Ubaidah bin al­Jarrah, yang jelas datang bersama Umar dan Abu Bakar, maka versi ini pun belum dapat dianggap tepat.

Untuk memahami situasi pada masa itu, marilah kita ikuti suasana di rumah Rasul tatkala Rasul wafat, serta datangnya Umar dan Abu Bakar ke rumah Nabi.

Dengan demikian kita juga dapat mengetahui mengapa Ali tidak ikut ke Saqifah, dan mengapa ‘keluarga Rasul mengunci pintu rumahnya’, seperti dilaporkan oleh Ibnu Ishaq.

Wafatnya Rasul Dan Amukan Umar

Rasul wafat pada lepas dzuhur hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Umar bin Khaththab dan Mughirah bin Syu’bah diperkenankan masuk ke kamar untuk melihat jenazah Nabi. Kedua orang ini termasuk prajurit dalam pasukan Usamah, yang baru tiba dari Jurf bersama Usamah. Umar membuka tutup wajah Rasul dan mengatakan, ‘Rasul hanya pingsan’.

Tatkala meninggalkan kamar itu, Mughirah berkata kepada Umar: “Tetapi Anda mengetahui bahwa Rasul Allah telah wafat”.

Umar menjawab: “Anda bohong, Nabi tidak akan wafat sebelum beliau memusnahkan semua orang munafik”

Umar lalu mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan bahwa Rasul telah wafat. Ia berkata lagi: “Beberapa orang munafik mengatakan bahwa Rasul telah wafat, sedangkan Rasul tidak wafat. Rasul hanya kembali kepada Allah, seperti Nabi Musa menghadap Allah selama empat puluh hari. Orang mengira Musa telah wafat, tetapi ia kembali lagi; demikian pula, Rasul akan kembali.

“Nabi akan memotong tangan dan kaki siapa saja yang mengatakan bahwa beliau sudah wafat’. Umar berkata pula: ‘Saya akan memenggal kepala siapa saja yang mengatakan bahwa Rasul Allah sudah wafat. Rasul Allah hanya naik ke langit”.[30] Melihat keadaan Umar, Ibnu Umm Maktum lalu membaca ayat Al­Qur’an:

“Muhammad hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya telah berlalu Rasul­Rasul. Apabila ia wafat atau terbunuh, apakah kamu berbalik menjadi murtad? Tetapi barangsiapa berbalik murtad, sedikit pun tiada ia merugikan Allah: Allah memberi pahala kepada orang­orang yang bersyukur”.[31]

Abbas, paman Rasul, berkata kepada Umar: ‘Rasul jelas telah wafat. Saya telah melihat wajah beliau, seperti wajah jenazah anak­anak ‘Abdul Muththalib’. Abbas lalu bertanya kepada hadirin: ‘Apakah Rasul Allah ada mengatakan sesuatu mengenai wafat beliau? Bila ada, beritahukan kepada kami!’ Hadirin menjawab, ‘Tidak’. (maksudnya, Nabi tidak berpesan bahwa beliau ‘hanya menghadap Allah sementara saja’ ,pen.). Kemudian Abbas bertanya kepada Umar: ‘Apakah Anda mengetahui sesuatu? “Umar menjawab, ‘Tidak’. Abbas kemudian berpidato kepada hadirin: ‘Saksikanlah, tiada seorang pun mengetahui bahwa Rasul Allah mengatakan sesuatu tentang wafat beliau. Saya bersumpah dengan nama Allah Yang Maha Esa dan tiada lain selain Dia, bahwa Rasul Allah telah wafat’.

Umar masih juga marah­marah sambil mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Rasul telah wafat. Tetapi Abbas terus berbicara: ‘Rasul Allah, sebagaimana manusia lainnya, dapat meninggal dan menderita sakit, dan beliau telah wafat. Kuburkanlah beliau tanpa menunggu­nunggu. Apakah Allah SWT mematikan kita satu kali dan mematikan Rasul dua kali? Bila apa yang Anda kata­kan benar, Allah dapat membangunkan beliau dari kubur. Rasul Allah telah menunjukkan kepada manusia jalan yang benar menuju kebahagiaan dan keselamatan selama hidup beliau’.

Umar tetap saja mengamuk. Salim bin ‘Ubaid lalu pergi kepada Abu Bakar yang tinggal di Sunh, sekitar satu kilometer ke arah barat Masjid Nabi. Ia menceritakan apa yang terjadi.

Tatkala Abu Bakar tiba, Umar masih juga kelihatan mengancam orang­orang dengan mengatakan: ‘Rasul Allah masih hidup, beliau tidak wafat. Beliau akan keluar dari kamar dan memotong tangan mereka yang menyebarkan kebohongan tentang beliau; beliau akan memenggal kepala mereka. Beliau akan menggantung mereka’. Setelah itu, Umar diam dan menunggu Abu Bakar keluar dari kamar Rasul. Abu Bakar lalu berkata: ‘Barangsiapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup; tetapi barangsiapa menyembah Muhammad, Muhammad telah wafat’. Kemudian Abu Bakar membaca ayat al­Qur’an yang tadi telah dibacakan Ibnu Ummu Maktum kepada Umar:

‘Muhammad hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya telah berlalu Rasul­Rasul. Apabila ia wafat atau terbunuh, apakah kamu berbalik menjadi murtad? Tetapi barangsiapa berbalik murtad, sedikit pun ia tidak merugikan Allah. Allah memberi pahala kepada orang­orang yang bersyukur’.[32]

Umar lalu bertanya, ‘Apakah itu ayat Al­Qur’an?’ Abu Bakar menjawab, ‘Ya’.

Kemudian, Abu Bakar telah berada di kamar Rasul, bersama beberapa anggota keluarga Banu Hasyim, termasuk Ali,’ Abbas dan putranya, Qutham dan Fadhl. Umar sedang di Masjid, atau di halaman Masjid. Pada saat itu, menurut Jauhari, datanglah dua orang pembawa informasi, Uwaim bin Sa’idah dan Ma’n bin ‘Adi. Ma’n menyampaikan berita kepada Umar tentang adanya pertemuan kaum Anshar di Saqifah, lalu Umar masuk ke kamar Nabi. Karena kamar itu sempit (4,68 meter x 3,44 meter), bagaimana mungkin Ali dan orang­orang lain yang berada di kamar itu tidak mendengar kata­kata Umar memanggil Abu Bakar sehingga Ali dan kawan­kawannya tidak mengetahui adanya pertemuan di Saqifah itu? Hal ini disebabkan karena Umar memanggil Abu Bakar di dalam kamar Rasul itu tanpa menyebut­nyebut adanya pertemuan kaum Anshar di Saqifah, sebagaimana diceritakan oleh Jauhari.

Yang menjadi teka­teki: bagaimana maka Abu ‘Ubaidah dapat bersama­sama Umar dan Abu Bakar? Bagaimana pula dengan Mughirah bin Syu’bah, Abdurrahman bin ‘Auf dan Salim maula Abu Hudzaifah? Agaknya, Umar dan Abu Bakar kemudian mampir ke rumah Abu ‘Ubaidah dan merundingkan cara untuk menghadapi kaum Anshar. Versi ini yang paling masuk akal, karena, sebagaimana akan kita ikuti, dalam perdebatan di Saqifah, kesamaan ‘jalan pikiran’ mereka nampak jelas.

Kembali kepada perangai Umar yang ganjil, yang memperagakan keraguannya tentang wafatnya Rasul. Ada dua penafsiran tentang tingkah laku Umar itu. Penafsiran yang pertama didasarkan kepada anggapan tentang kecintaan Umar yang besar kepada Rasul. Kecintaannya yang besar yang membuat ia tidak dapat menerima kenyataan itu. Tetapi, kebanyakan ulama meragukan keanehan Umar yang berlangsung demikian lama, dan baru menjadi tenang dengan datangnya Abu Bakar. Umar adalah seorang Mu’min yang membaca Al­Qur’an, dan telah dua puluh tahun hidup bersama Rasul, sedang susunan bahasa ayat Al­Qur’an adalah khas dan mudah dikenal. Aneh pula bahwa keterangan Mughirah, pembacaan ayat Qur’an oleh Ibnu Umm Maktum serta penjelasan Abbas, tidak dapat menyadarkan Umar. Di dalam al­Qur’an terdapat pula ayat:

‘Sesungguhnya engkau akan mati. Dan sungguh, mereka pun akan mati’ ,[33] yang tentu diketahui Umar.

Penafsiran yang kedua ­meminjam kata­kata Ibn Abil­Hadid ­­­ : ‘Tatkala Umar mendengar wafatnya Rasul, ia menjadi cemas tentang masalah yang menyangkut pengganti Rasul. Ia takut dan cemas apabila orang Anshar dan yang lain mengambil kekuasaan; maka ia menciptakan keraguan dan memperagakan sikap enggan menerima kenyataan bahwa Rasul telah wafat, untuk melindungi agama, sambil menunggu kedatangan Abu Bakar’’.[34]

Yang di maksud oleh Ibn Abil­Hadid dengan ‘yang lain’, ialah kelompok yang berada di rumah Nabi sendiri, yang terletak di sisi timur Masjid Nabi, di mana Umar pada waktu itu berada, yaitu Ali bin Abi Thalib. Ibn Abil­Hadid mengemukakan juga pendapat beberapa ulama yang mengatakan bahwa Umar berbohong untuk kepentingan umat, menghindari ‘anarki’, dan oleh karena itu maka ia tidak berdosa.