PSIKOLOGI_ISLAM5

PSIKOLOGI_ISLAM50%

PSIKOLOGI_ISLAM5 pengarang:
: Muhamad Taufik Ali Yahya
: Muhamad Taufik Ali Yahya
Kategori: Akhlak

PSIKOLOGI_ISLAM5

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

pengarang: Sayyid Mujtaba Musavi Lari
: Muhamad Taufik Ali Yahya
: Muhamad Taufik Ali Yahya
Kategori: Pengunjung: 106
Download: 40

Komentar:

Pencarian dalam buku
  • Mulai
  • Sebelumnya
  • 16 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 106 / Download: 40
Ukuran Ukuran Ukuran
PSIKOLOGI_ISLAM5

PSIKOLOGI_ISLAM5

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

PSIKOLOGI ISLAM

Membangun Kembali Moral Generasi Muda

Sayyid Mujtaba Musavi Lari

Tentang Penulis

Sayyid Mujtaba Musawi Lari lahir pada tahun 1935 di Lar, ibu kota Iran utara propinsi Laristan. Ayah nya Sayyid Ali Asghar Musawi dan kakek nya Sayyid Abdul Husein Musawi, termasuk di antara ulama terkemuka dalam teologi lslam. Sayyid Abdul Husein adalah juga salah seorang revolusioner besar awal perjuangan Iran untuk menggulingkan tirani Qajar dan memulai langkah nya demi kebebasan dan kemakmuran rakyat Iran.

Penulis kita ini belajar di sekolah-sekolah di Lar dengan mengikuti program pendidikan klasik dan juga menguasai spesialisasi studi-studi Islam. Dalam usia delapan belas tahun beliau pindah ke kota suci Qum untuk melanjutkan studistudi nya di bawah bimbingan para profesor maupun guru, termasuk para marja’ (maraji'). Kota Qum terkenal dengan kubah emas, makam suci puteri dari Imam Musa Al-Kadzim, Fatimah Al-Ma'sumah, yang wafat pada tahun 816 sewaktu berada dalam perjalanan untuk mengunjungi saudara nya, Imam Ali Ar-Ridha di Tus. Di kota ini Mujtaba Musawi Lari mengikuti studi-studi teologi lslam selama sepuluh tahun di mana saat itu beliau telah mencapai kelas tertinggi.

Sayang sekali air di daerah Lar pada waktu itu tidak disuling dan memiliki tingkat polusi yang tinggi. sehingga beliau terjangkit gangguan pencernaan yang serius dan segala usaha pun dikerahkan untuk mengobati beliau. Pada usia dua puluh sembilan tahun, atas anjuran para dokter beliau masuk rumah sakit di Jerman. Beliau menetap lama di negeri itu dibawah perawatan medis untuk menghilangkan penyakit beliau. Tetapi dengan keteguhan hati beliau bangkit mengatasi kelemahan dan mengabdikan bakat besar beliau dalam intelektualisme, patriotisme dan dedikasi. Setelah kembali ke Iran beliau menulis sebuah buku yang berjudul The Face of Western Civilization. Buku ini memuat pembahasan komparatif tentang peradaban Barat dan lslam, dan di dalamnya beliau dengan cara komparatif, dalil dan perbandingan yang tepat, membuktikan keunggulan peradaban lslam yang luas dan multi dimensional dibandingkan dengan peradaban Barat. Buku ini telah dicetak sebanyak tujuh kali. Dalam tahun 1970 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang Orientalis Inggris, F.G. Goulding dan menarik perhatian di Eropa. Artikel-artikel mengenai buku ini muncul secara berkala di Barat, dan BBC pun mengadakan wawancara dengan penerjemah mengenai alasan nya menerjemahkan buku tersebut. Edisi Inggris nya hingga kini telah dicetak tiga kali di Inggris, lima kali di Iran dan dua kali di Amerika.

Sekitar tiga tahun setelah publikasi penerjemahan dalam bahasa Inggris, Rudolf Singler, seorang profesor universitas di Jerman, menterjemahkan nya ke dalam bahasa Jerman. Salah seorang pemimpin Partai Sosial Demokratik memberitahu penerjemah dalam surat nya bahwa buku tersebut telah memberi pengaruh yang mendalam p-ada dirinya sehingga menyebabkan nya merubah berbagai pandangan nya tentang lslam dan ia pun menganjurkan kepada teman-teman nya untuk membaca buku ini. Terjemahan dalam bahasa Jerman hingga kini telah dicetak sebanyak tiga kali.

Edisi Inggris dan Jerman dicetak ulang oleh Departemen Pembinaan lslam untuk disebarluaskan ke luar negeri melalui Departemen Urusan Luar Negeri dan Asosiasi-asosiasi pelajar lslam di luar negeri.

Pada saat cetakan pertama berbahasa Jerman diterbitkan, seorang Ulama Muslim India yang bernama Maulana Raushan Aji menterjemahkan nya ke dalam bahasa Urdu untuk dibagi-bagikan di India dan Pakistan. Terjemahan Urdu ini kini telah dicetak sebanyak lima kali.

Sayyid Mujtaba Musawi Lari juga telah menulis artikel untuk sebuah brosur tentang Tauhid, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan beberapa kali di Amerika.

Beliau adalah juga penyumbang tetap untuk majalah bulanan yang diterbitkan oleh para pemuka Islam di Qum, "Maktab-iIslam", dan juga untuk terbitan-terbitan berkala lainnya yang berkaitan dengan ajaran-ajaran .Islam. Beliau telah memprakarsai sejumlah yayasan lembaga umum dan memperoleh kepercayaan yang sangat besar dari masyarakat sehingga sejumlah besar dana mengalir kepada beliau untuk mendirikan yayasan-yayasan ini. Itu semua meliputi sekolahsekolah, klinik-klinik kesehatan, pusat-pusat pendidikan agama, dan masjid masjid; kebanyakan dana tersebut berasal dari penduduk asli Lar. Beliau juga mengorganisir suatu amanah yang bersifat amal bakti untuk membantu orang orang kekurangan, sakit, janda dan pelajar-pelajar miskin. Banyak yang telah terselamatkan melalui usaha-usaha beliau dan banyak orang yang telah ditolong untuk memajukan kehidupan mereka, dan melalui orang-orang yang bertanggung jawab dengan bantuan yang diberikan mereka melalui kepercayaan ini.

Beliau melanjutkan pembahasan nya tentang etika lslam dengan menulis artikel-artikel baru. Dalam tahun 1974 kumpulan artikel ini menjadi sebuah buku yang berjudul The Function of Ethics in Human Development. Buku ini telah dicetak ulang sebanyak enam kali.

Tahun 1978 beliau berkunjung ke Amerika atas undangan sebuah organisasi lslam di negeri itu. Kemudian beliau ke Inggris dan Perancis dan setelah itu kembali ke Iran dengan mulai menulis serangkaian artikel tentang Ideologi lslam untuk majalah Soroush. Artikel-artikel ini terkumpul dalam empat jilid berisi akidah lslam (tauhid, keadilan Ilahi, nubuwah, imamah, dan kebangkitan) dengan judul The Foundation of Islamic Doctrine.

Keempat jilid buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Arab, beberapa bagian telah dicetak ulang beberapa kali. Terjemahan bahasa Inggris dalam jilid pertama nya telah diterjemahkan dan dipublikasikan. Terjemahan dalam bahasa Urdu, India dan Perancis telah dikerjakan; dua jilid berbahasa Perancis pun telah terbit.

Dalam tahun 1980 Sayyid Mujtaba Musawi Lari mendirikan sebuah organisasi di kota suci Qum yang disebut Lembaga untuk Penyebaran Budaya lslam ke Luar Negeri. Lembaga ini membagi-bagikan terjemahan karya-karya beliau kepada orang-orang yang berminat di seluruh dunia. Lembaga ini juga membagi-bagikan AI-Quran kepada kaum Muslimin, lembaga-lembaga dan sekolah-sekolah keagamaan di Afrika.

Pendahuluan

Setiap orang di dunia ini berusaha untuk mencapai 'kebahagiaan' dan 'ketenangan'; siang malam mereka berjuang untuk meraih cita-cita ini di berbagai sudut kehidupan yang tampak seperti medan perang. Dalam banyak hal, ia rela bertarung dalam arena ini dengan mengorbankan segalanya, demi menyaksikan merpati kebahagiaan terbang di atas kepala nya, sehingga ia dapat hidup di bawah bayang-bayang kehidupan nya.

Adalah menyedihkan melihat banyak individu yang memiliki berbagai bakat yang dengan hal itu dapat merubah diri mereka kepada suatu kehidupan bahagia dan memuaskan, harus hidup menderita; jiwa mereka menjadi permainan rasa gelisah dan khawatir yang disebabkan oleh berbagai faktor yang berbeda. Akibatnya, individu-individu ini menjadi korban dari mimpi palsu, bahwa hidup bahagia itu tidak lain kecuali khayalan semata, dan akhir yang tak terelakkan pun terjadi bagai jerami yang terhempas oleh gelombanggelombang penderitaan dan kandas di dasar kubur kekecewaan dan kesengsaraan.

Rasa sakit dan penderitaan ini tidak lain merupakan akibat dari memilih bayang-bayang palsu di balik fakta dan kenyataan. Mereka tidak mengikuti sinar kebenaran, dan tidak mengambil bagian yang dapat dipercaya dari jalan kehidupan. Sesungguhnya pantulan baying-bayang yang diserap pikiran manusia ini berada dalam gelombang kegelisahan, dan cita-cita mereka yang kosong serta harapan mereka yang tidak realistis, merupakan faktor-faktor yang mengeluarkan manusia dari cahaya kepada kegelapan dan membuat mereka mengalami penderitaan yang membingungkan.

Manusia yang adalah makhluk tertinggi, diciptakan dari dua kekuatan yang berbeda, kekuatan rohani dan kekuatan mekanis. Selain karakteristik-karakteristik fisik yang terdapat pada hewan ini, manusia banyak memiliki kebutuhan rohani yang jika dipenuhi, akan memberi nya suatu kesempatan yang sangat besar dalam pencapaian kesempurnaan. Setiap salah satu dari dua sisi manusia menjadi lebih kuat dari yang lain, maka sisi yang satu nya akan melemah, dan karenanya terkalahkan.

Melihat kenyataan yang ada, adalah penting untuk dicatat bahwa industri benar-benar telah mengubah ciri-ciri kehidupan. Kemajuan industri, bersamaan dengan berbagai perubahan yang ditimbulkan nya dalam segala aspek kehidupan, telah memberi kejelasan atas berbagai ketidakpastian yang membingungkan, serta telah memecahkan persoalan-persoalan sulit yang tak terhitung jumlahnya. Kini, banyak bagian dari alam semesta, dari kedalaman laut sampai kepada kegelapan angkasa, telah menjadi wilayah-wilayah perjalanan dan petualangan manusia. Di lain pihak, berbagai kebutuhan rohani manusia menjadi lemah; di darat dan di laut pun timbul kerusakan akibat berbagai kejahatan yang dilakukan manusia di segala sudut kehidupan. Jumlah malapetaka dan kejahatan yang tidak manusiawi telah mencapai tingkat yang tidak dapat dipercaya. Faktor-faktor keselamatan telah menjadi lemah di hadapan gejala kerusakan dan kehancuran sosial, dan sisasisa kehidupan spiritual sedang terbakar di tengah-tengah api nafsu, kejalangan, dan kekotoran.

Hari ini secara jelas kita lihat, bahwa berbagai keuntungan materi merupakan prioritas utama di atas kebajikan. Manusia telah melengkapi dirinya dengan alat-alat industri dan ilmu pengetahuan eksperimental, dan telah menolak manfaatmanfaat baik yang diharapkan dan dibutuhkan untuk melindungi jiwa manusia dari kehancuran di bawah kaki kejahatan nafsu dan berbagai keinginan yang tidak terkendali. Bahkan emosi-emosi manusia sedang berjuang antara hidup dan mati.

Dusta, kikir, kemunafikan, penindasan, individualitas dan berbagai sifat rendah lainnya, menyerupai sebuah bendungan raksasa yang menghadang sungai kecil kebahagiaan dan kesempurnaan manusia; mereka telah merantai tangan-tangan manusia dan menjatuhkan nya ke dalam gelombang samudera kekotoran yang keras. Kemenangan para ksatria, kesepian, penderitaan pribadi, malapetaka sosial dan berbagai macam kesengsaraan pada umumnya, merupakan akibat dari jatuhnya nilai-nilai kebajikan manusia. Baik sosiolog maupun psikolog membuktikan suatu fakta, bahwa tanpa budi luhur dan bimbingan rohani, manusia akan menyimpang dari jalan keadilan yang menuntun nya ke puncak kebesaran dan kesempurnaan.

Individu-individu yang unggul di tengah masyarakat, dan yang namanya direkam dalam lembaran-lembaran tebal sejarah, semuanya memiliki berbagai kebajikan yang murni dan dihargai. Masyarakat yang tidak dilengkapi dengan senjata tatakrama yang baik, tidak dikendalikan oleh kaidahkaidah yang bermanfaat, sebenarnya tidak berhak menerima hidup sebagaimana mestinya seorang manusia. Karena alasan inilah, kehancuran peradaban-peradaban besar dahulu kala tidak terjadi atas dasar krisis politik atau ekonomi, tetapi disebabkan oleh kemerosotan tingkah laku yang baik.

Hukum dan sistem buatan manusia tidak mampu menembus jiwa manusia, dan tidak dapat menjamin hubungan yang konstruktif antara masyarakat dan bangsa yang berbedabeda, sebaik seperti yang dilakukan oleh cara-cara kerohanian. Hukum-hukum buatan manusia, yang merupakan perwujudan dari gagasan-gagasan manusia, tidak memenuhi syarat untuk menciptakan kebahagiaan yang sesungguhnya kepada umat manusia; hal ini karena manusia mempunyai kemampuan berpikir yang terbatas.

Jadi mereka tidak dapat memahami segala fenomena yang mengelilingi hidup mereka. Tambahan pula, bahkan jika manusia mengetahui kedalaman fenomena yang mengelilingi nya, ia selalu berada di luar pengaruh yang kemudian menjauhkan nya dari menerima kebenaran. Atas dasar ini kita amati bahwa hukum-hukum buatan manusia, selalu berubah bersama waktu dan kondisi-kondisi yang mengelilingi nya. Sebenarnya, timbul nya kerusakan dan

kesengsaraan tidak lain merupakan akibat dari lemah nya hukum-hukum semacam ini.

Di lain pihak, kita memiliki ajaran suci dari para Nabi yang diilhami dengan mata air indah dari sinar wahyu, yang bergantung kepada Ilmu Ilahi yang tidak terbatas. Karenanya, hukum ini tidak mudah diterpa oleh pasang surut nya waktu, perubahan atau transformasi. Karena keluasan realitas kehidupan dan keberadaan nya, ajaran kenabian menawarkan kepada manusia suatu sistem yang paling akurat untuk mencapai kesempurnaan dan keunggulan akhlak serta moral, dan menyeru umat manusia agar mengarahkan jiwa kepada kebesaran. Dampak-dampak keyakinan yang positif dan bernilai atas manusia tidak dapat dipungkiri lagi, karena jelas, bahwa jika manusia tidak memiliki motif yang kuat dalam diri mereka yang sanggup mencegah mereka untuk tidak menjadi korban nafsu dan berbagai keinginan yang tidak ada atasnya, maka setiap langkah yang ia ambil pun akan menuju kepada kerusakan. Dengan alasan itu, tidaklah mungkin membangun suatu masyarakat yang tenteram dan sempurna tanpa melengkapi para anggota nya dengan akhlak dan kerohanian.

Atas dasar apakah akidah lslam yang kekal itu dibangun? Pada pribadi besar di segala zaman, Nabi Besar Muhammad Saw., yang sejak hari pertama nya mengandalkan ketakwaan, terdapat kebahagiaan yang mampu membawa kepada ketenangan di dunia ini dan di akhirat kelak.

Sesungguhnya seruan lslam dibangun di atas dasar-dasar yang dibutuhkan manusia untuk mengangkat nilai rohani nya hingga titik tertinggi; menaikkan tingkat kepercayaan nya kepada suatu rantai kemurnian dan nilai-nilai yang patut dipuji. Secara keras lslam melarang manusia mengorbankan akhlak nya yang mulia demi nafsu dan keinginan nya. lslam berdiri tegak menentang orang-orang yang berakhlak rendah. dan memerangi mereka secara keras. Oleh karena itu suatu masyarakat yang berada dalam ikatan individu dan sosial yang dibangun atas dasar nilai-nilai lslam dapat merasakan ketenteraman. ketenangan dan kepercayaan dalam segala aspek kehidupan. Semua anggota nya menikmati hak-hak yang sama. dan menjalankan hubungan antar pribadi yang didasarkan pada iman. Maka berikan lah kepada masyarakat suatu kesempatan untuk mencapai hal yang sama, yang merupakan suatu langkah sempurna menuju revolusi rakyat oleh umat manusia.

Dalam buku ini kami menyajikan beberapa persoalan penting yang mempengaruhi kehidupan sosial manusia serta bagaimana lslam berurusan dengan mereka.

Adalah wajib bagi saya untuk menyebutkan, bahwa bagian dari isi buku ini sebelumnya telah diterbitkan dalam majalah The Islamic Ideology yang terbit dalam bahasa Persia di kota suci Qum. Saya serahkan kepada para pembaca yang budiman untuk menilai buku ini yang telah dipuji oleh banyak ulama. Saya berharap kita semua maju dalam mengembangkan diri kita di atas jalan para ulama lslam dan menyelamatkan jiwa kita agar tidak tenggelam ke dalam noda-noda nafsu yang menyesatkan.

Sayyid Mujtaba Musawi Lari

14. Khianat

• Saling Percaya dan Penunaian Tugas

• Khianat dan Keburukannya

• Agama Mengutuk Pengkhianatan

Saling Percaya dan Penunaian Tugas

Sifat saling percaya merupakan unsur terpenting bagi perjuangan hidup suatu masyarakat yang sehat dan bersatu. Suatu masyarakat dianggap bahagia dan sentosa apabila hubungan di antara para anggotanya didasarkan pada sifat percaya (amanah). Jadi, jika manusia melanggar batas kewajiban-kewajiban mereka dan tidak peduli terhadap hakhak orang lain, mereka kelak akan turun ke lembah kerusakan sosial.

Ada beberapa macam hukum yang mengatur berbagai urusan manusia. Setiap manusia memiliki andil atas hukumhukum yang ditetapkan kepadanya oleh akal, fitrah dan agama untuk diikuti. Tujuan hukum-hukum ini adalah untuk mewujudkan sinar kepercayaan dan keharmonisan dalam kehidupan manusia. Tanpa hukum ini manusia tidak akan mengetahui atau lalai akan dosa-dosanya kepada Allah dan masyarakatnya. Manusia, sebagai makhluk sosial, tidak mempunyai pilihan lain kecuali berinteraksi dengan lingkungannya, yang oleh karenanya terciptalah berbagai hubungan sosial yang terhitung jumlahnya. Sebagai akibat dati hubungan-hubungan ini lahirlah serangkaian hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini melindungi masyarakat dari perselisihan, dan meratakan jalan bagi pemecahan segala problema yang umumnya terjadi dalam suatu hubungan.

Tanpa menghiraukan kesulitan dan pengorbanan yang muncul bersama kewajiban-kewajiban sosial, bagaimanapun harus dipenuhi guna memberi manusia kesenangan dan kebahagiaan. Memang sudah fitrah manusia mencari kebahagiaan dan berharap dapat meraihnya tanpa menanggung beban penderitaan, tetapi ia harus menyadari bahwa kebahagiaan tidak dapur diperoleh secara mudah dengan hanya melaksanakan berbagai kewajiban. Pernah dikatakan bahwa: "Kebahagiaan adalah imbalan bagi terlaksananya kewajiban."

Tidak saja kebahagiaan masyarakat lebih penting daripada kebahagiaan individu, tetapi juga kebahagiaan individu sepenuhnya bersandar pada kesejahteraan sosial. juga sudah jelas bahwa pengkhianatan atas hak-hak sosial adalah melanggar ruh keadilan sosial dan menciptakan kekacauan dalam sistem sosial. Setiap manusia bertanggung jawab dalam menghargai kehidupan dan kebebasan orang lain.

Orang-orang yang membiasakan diri taat dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan mengambil tanggung jawab mereka kepada Allah dan masyarakat secara serius, akan menambah kebahagiaan orang lain dan membantu mereka untuk berhasil dalam berbagai urusannya Mereka juga memperoleh kepercayaan dari orang lain dan berhasil dalam kehidupan.

Dr. S. Smiles berkata:

Kewajiban-kewajiban (tugas) adalah hutang manusia. Orang yang cenderung untuk menjaga dirinya dari kecemaran dan nilai-nilai amoral di mata orang lain harus membayar hutangnya, Namun, tindakantindakan seperti ini hanya dapat dilaksanakan dengan perjuangan yang terus menerus dan serius. Pelaksanaan kewajiban merupakan masalah pokok yang membebani manusia sejak pertama ia memasuki dunia ini hingga berpisah darinya. Oleh karenanya, semakin seseorang berkuasa dan mampu, ia lebih dibutuhkan untuk melaksanakan kewajibankewajibannya; karena manusia itu laksana pramuniaga yang tugasnya melayani. Tugas ini didasarkan pada cinta keadilan, dan itu tidak hanya merupakan kewajiban ideologis tetapi juga suatu kebutuhan mendasar kehidupan manusia. Sekalipun begitu, sifat-sifat tersebut menunjukkan pengaruhnya dalam kata-kata dan amal perbuatannya. Rasa tanggung jawab merupakan suatu pembawaan besar bangsa-bangsa; dan suatu bangsa memiliki harapan akan keberhasilan jika para anggotanya memiliki rasa tanggung jawab yang mulia dengan kesombongan, keangkuhan dan keegoisan. Jenis tindakan ini pantas menerima belasungkawa, karena cepat atau lambat fitrah akan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pantas untuk terus hidup.

Khianat dan Keburukannya

Tidak seorang pun ragu bahwa banyak faktor yang sangar mempengaruhi berkembangnya kerusakan, Ketika diadakan suatu penelitian mengenai faktor-faktor yang menyebabkan ketiadaan moral dan kemerosotan sosial, menjadi jelas bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah merasuknya pengkhianatan ke dalam hati dan pemikiran manusia. Kita juga menemukan bahwa bahaya yang menimpa masyarakat yang ditimbulkan oleh pengkhianatan dan akibat-akibatnya yang menghancurkan ruh sosial, melebihi segala faktor lainnya.

Khianat menjadikan ruh manusia suram dan mengarah kan pemikiran dan rasa kasih sayangnya kepada kesesatan dan kerugian total. Ancaman ini muncul karena merasuknya nafsu-nafsu; ketika pemikiran-pemikiran jahat mendorong untuk menerima kerendahan dan kehinaan sebagai ganti dari menerima berbagai inspirasi akal dan iman.

Setiap orang membutuhkan orang lain untuk mempercayainya. Seorang buruh atau pedagang dapat memperoleh pendapatan materi melalui berbagai macam pengkhianatan; dan mungkin ia mampu untuk menyembunyikan komplotan dan pemalsuannya untuk sementara waktu, tetapi suatu hari kelak masalahnya akan terungkap yang menyebabkan ia kehilangan kepercayaan yang merupakan modal utamanya. Dengan tindakan semacam ini juga ia akan menodai martabat dari kelas sosialnya.

Para pengkhianat terus-menerus hidup dalam ketakutan. Mereka merasa gelisah dan goncang serta kebanyakan dari mereka merasa pesimis.

Kenyataannya bahwa ketenteraman dan tatanan umum bergantung kepada keamanan umum. Keresahan dan kegelisahan yang mematikan -akibat pengkhianatan- akan memukul lingkungan sosial, juga mengancam hakikat kehidupan sosial. Sebenarnya, setiap tidak ada keamanan akibat pengkhianatan, tidak akan ada kebebasan, persaudaraan, atau kemanusiaan.

Khianat tidak terbatas kepada urusan-urusan tertentu saja, juga meliputi segala tindakan manusia. Bila kita mengucapkan kata-kata dan atau perbuatan, kita menemukan batas-batas yang jelas dan gamblang; dan jika seseorang sedikit saja menyimpang dari perbatasan ini, berarti ia menolak keberadaan sifat amanah, dan ia pun masuk ke daerah pengkhianatan dan kebatilan.

Diceritakan bahwa seorang berjiwa besar memberikan nasihat berikut ini kepada putranya:

Anakku, jadilah orang miskin dan terampas sementara orang-orang menjadi kaya dan berharta lewat pengkhianatan. Hiduplah tanpa ketenaran dan kedudukan dan biarkanlah orang lain mencapai kedudukan yang tinggi dengan desakan dan perjuangan. Pikullah penderitaan, keletihan dan kerugian; biarlah orang-orang meraih cita-cita dan harapan mereka dengan penyombongan diri dan permohonan. Jauhilah persahabatan dengan orang terkemuka yang semua orang berlomba-lomba untuk dekat kepadanya. Kenakanlah pakaian takwa dan moral hingga rambutmu memutih, tetapi jangan biarkan rasa malu yang menyuramkan menodaimu, Maka bersyukurlah kepada Tuhanmu dan tunduklah kepada-Nya dengan hati yang suci dan kesadaran yang baik.

Kejujuran adalah modal manusia dalam kehidupan. Manusia memberi kepercayaan dan menyandarkan diri mereka kepada orang yang jujur, mereka mengizinkan orang yang jujur untuk membina suatu kehidupan yang bersih dan mulia. Ketika kita menyandarkan diri kita kepada orang jujur, kita akan melihat kejujuran dalam setiap sektor kehidupan dan dapat meraih berbagai hikmah serta mempelajari berbagai pengalaman; dengan demikian kita dapat meningkatkan kehidupan dengan perasaan aman dan bahagia.

Agama Mengutuk Pengkhianatan

Allah Yang Mahakuasa -merujuk hukum-hukum yang Dia syariatkan bagi makhluk-makhluk-Nya sebagai "Amanah"- memberi banyak perumpamaan di dalam AI-Quran untuk memperingatkan manusia terhadap khianat:

"Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."

(QS.8:27)

"Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyerahkan amanat (kepercayaan) kepada yang berhak menerimanya."

(QS.4:58)

Amirul Mukminin, Imam Ali a.s. berkata:

Yang terburuk di antara pengkhianatan adalah mengkhianati teman karib dan kepercayaan serta melanggar janji.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 501)

Beliau juga, sebagaimana dikutip, mengatakan:

Yang terburuk di antara manusia adalah orang-orang yang tidak percaya kepada amanah dan tidak menjauh dari pengkhianatan.

(Ghurar Al-Hikam, hal. 446)

Dan:

Hindarilah khianat karena ia adalah yang terburuk di antara dosa-dosa; sesungguhnya para pengkhianat akan disiksa di dalam api khianat mereka.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 150)

Imam Ash-Shadiq a.s. menasihati salah seorang sahabatnya:

Jangan pernah mengatakan selamat jalan kepada kami tanpa menasihati kami tentang dua sifat: Taat menyampaikan kebenaran, dan menyampaikan amanat-amanat kepada orang yang benar dan berdosa karena mereka (dua sifat ini) adalah kunci kepada makanan.

(Safinah Al-Bihar. jilid I, hal. 41)

Islam menyeru semua manusia untuk hidup stabil dan bahagia di bawah peraturan tentang pelaksanaan kewajiban yang ditetapkan sesuai dengan perintah-perintahnya yang mulia. Islam juga menekankan pentingnya menyampaikan amanah.

Imam Ash-Shadiq a.s. berkata:

Taatilah penyampaian amanah. Karena dengan amanah Dia mengurus Muhammad Saw. sebagai seorang Nabi yang benar, bahkan jika seorang yang membunuh ayahku menitipkan kepadaku pedang yang digunakannya untuk membunuhnya, aku akan mengembaIikan kepadanya.

(Amali Ash-Shadiq, hal. 149)

Tidak ada tenggang rasa dalam lslam terhadap para pengkhianat. Di bawah keadaan tertentu Islam bahkan mensyariatkan untuk memotong tangan orang yang mencuri harta kaum Muslimin. Secara keras lslam melaksanakan hukuman terhadap para pengkhianat guna melindungi hak hak sosial dan memelihara keamanan umum. Prosedur ini menempatkan rasa tanggung jawab dalam masyarakat dan membantu menciptakan suatu masyarakat yang baik.

Setiap kesalahan yang dilakukan mempunyai dampakdampak yang buruk di dunia ini dan di akhirat, di samping itu ia juga menjadi faktor yang meruntuhkan kemanusiaan.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa yang berbuat jahat akan dihukum karenanya di dunia ini.”

(Nahj Al-Fasahah)

Menurut Dr. Rose Keen:

Setiap kesalahan yang saya lakukan dalam hidup saya akan menghadang jalan saya dan menjauhkan saya dari kebahagiaan; ia akan mengganggu pemahaman dan realisasi saya. Sebaliknya juga benar; setiap mencoba kebenaran atau tindakan yang benar menyertai dan mendorong saya untuk mencapai segala cita-cita dan harapan saya.

Teori Mesin mengatakan:

"Aksi dan reaksi adalah sama" bila digunakan kepada psikologi tingkah laku. Tindakan baik dan buruk memiliki pengaruh berlawan yang sama atas individu-individu dan orang-orang sekitarnya atau yang menirunya.

Imam Ali a.s. berkata:

Penyampaian amanat merupakan ciri orang-orang yang benar-benar beriman.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 453)

Iman adalah senjata defensif rohani. Ia merupakan salah satu dari faktor-faktor penting yang dapat mencapai kedalaman jiwa, ia mengatur amal perbuatan dan perilaku manusia dengan tatanan yang tepat. Iman juga membangun kembali rasa tanggung jawab individu dan sosial, memperingatkan manusia terhadap pengaruh kerusakan sosial, dan membimbing masyarakat kepada keadilan dan kebenaran.

Iman mencegah kerusakan dan pengkhianatan. Ia menjadi tanggung jawab orangtua untuk meratakan jalan bagi anakanak mereka agar hidup bahagia dengan memelihara kebiasaan anak-anak mereka secara hati-hati sejak awal; menanamkan iman ke dalam hati mereka dan mendukung sifat-sifat mereka yang patut dipuji.

Imam Zainal Abidin a.s. berkata:

Kamu bertanggung jawab atas orang yang kamu jaga; akhlaknya, petunjuknya kepada Tuhannya SWT, dan membantu untuk menaati (Tuhannya).

Dr. Raymund Peach berkata:

Tidaklah cukup (bila) secara umum mematuhi aturanaturan agama. Karena perhatian yang terus menerus dan tepat kepada setiap rinci mengenai tingkah laku dan emosi anak berkenaan dengan agama, penting untuk menanamkan iman di dalam hati mereka. Penanaman asas-asas agama dan genggamannya yang kuat di dalam kemurnian dan kebaikan hatinya menciptakan kesiapan untuk menerima nasehat dan teguran anda. Lakukanlah hal itu tanpa batas. Hal ini akan melindungi iman dan keyakinan mereka, serta menjaganya dari kesesatan dan kerusakan.

(Ma Wa Farzandane Ma)

Imam Ali a.s. berkata:

Sesungguhnya di dalam akal manusia ada suatu kebutuhan akan moral sebagaimana panen memburuh kan hujan.

(Ghurar Al-Hikam, hal. 224)

Dr. C. Robin berkata:

Beberapa orang yang mungkin membantah fakta bahwa akhlak itu seperti berjalan dan berbicara, adalah tindakan-tindakan alamiah. Dengan kata lain, ia berada di antara masalah-masalah awal yang kita pelajari dalam kehidupan. Harus pula diketahui bahwa akal tidak membantu manusia mempelajari akhlak yang baik; namun, akhlak mengatur manusia sebelum ia menyadari kepentingannya, lebih daripada tanda-tanda kedewasaan mental. Dengan kata lain, akhlak tidak bergantung kepada akal tetapi merupakan kegunaan baginya. Oleh karena itu, saya merasa tidak enak ketika mendengar seorang ibu berkata tentang perilaku putranya: 'Dia akan bangkit sendiri mempelajari hal yang benar.' Jika anak-anak tidak dibawa kepada akhlak yang baik dari usia muda, mereka tidak akan mampu mendapatkannya melalui akal dan pemahaman. Memang, kita dapat mengatakan bahwa akhlak adalah alat yang membimbing kita dan membuka gerbang-gerbang jalan terdekat menuju keadilan. Alat ini melindungi kita dari kemalasan, walau demikian ia juga memiliki nafsu dan keinginan yang berlimpah ruah; akal menjaga kita dari permusuhan, kebencian dan dendam. Dengan kata lain, ia menjadikan kita dapat hidup bermasyarakat dan memperingatkan kita akan kelalaian terhadap orang lain dan terhadap egoisme. Individu-individu berakhlak baik tidak pernah menyendiri; mereka dapat mewakili masyarakat dan membantu menyadarkan manusia kepada kebenaran.

(Chi Madanam)

Kendati segala upaya tengah dibuat untuk mensyariatkan hukum-hukum yang keras guna mengurangi kejahatan pengkhianatan, dan juga dibuat program-program pendidikan guna menyadarkan manusia akan berbagai akibatnya, dan meskipun dibuat berbagai hukum dan cara penerapannya untuk memerangi pengkhianatan, tindakan khianat terus menerus meningkat jumlahnya dan cenderung menjadi sesuatu yang mengerikan.

15. Sifat Kikir

• Kerja Sama dan Bantuan

• Bakhil Meniadakan Kasih Sayang

• Sekilas Pandang atas Berbagai Pandangan Para Pemimpin tentang Sifat Bakhil

Kerja Sama dan Bantuan

Secara alamiah setiap manusia memiliki bakat-bakat khusus dan kita membutuhkan kerja sama dengan orang lain untuk menyempurnakan dan agar bakat-bakat kita menjadi produktif. Kerja sama merupakan suatu unsur yang efektif dalam proses peningkatan dan keberhasilan individu dan masyarakat.

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, oleh karena itu sudah menjadi watak manusia untuk turut serta dalam tugas memecahkan berbagai problema kehidupan.

Peristiwa-peristiwa alam dan keinginan menciptakan sejumlah problema bagi manusia. karenanya membuat mereka menghadapi berbagai kesulitan, karena faktor inilah manusia terus menerus membutuhkan pertolongan orang lain. Ditinjau dari segi hukum alam (sunnatullah), kewajiban tidak terbatas kepada satu individu saja tetapi untuk semua tingkatan dalam masyarakat. Membantu seseorang, tidak pandang seberapa kecil dan besarnya kewajiban itu, sangatlah bermanfaat bagi perkembangan masyarakat dan akan mencakupi satu di antara berbagai kebutuhannya.

Karena keadaan-keadaan sosial terwujud melalui para anggota masyarakat -dari banyak sisi - kita dapat mengumpamakan struktur sosial dengan tubuh manusia. Sebagaimana tubuh manusia terdiri dari anggota-anggota yang secara alamiah saling berhubungan satu sama lain dan di atasnya pula perjuangan hidup (survival) manusia bersandar, masyarakat juga terdiri dari bagian-bagian yang berbeda-beda, yang menjadikannya utuh. Jadi, tiap-tiap anggota masyarakat harus mengetahui kewajibankewajibannya yang vital dan melaksanakan sesuai kemampuannya sehingga masyarakat dapat tumbuh dengan subur. Para anggota harus menyelami segala kemampuan materi dan rohani mereka, dan mengerahkan demi kepentingan masyarakatnya dengan terus menerus memperhatikan untuk selalu berada dalam lingkup kemampuan dan peraturan sosial.

Bagaimanapun juga ketenteraman dan keamanan menyeluruh bagi masyarakat, dan penanggulangan berbagai kesulitan hanya dapat dicapai jika ada rasa kerja sama dalam perhubungan (relationship) manusia satu sama lain. Hanya dengan kerja sama, kehidupan menjadi lebih manis, tindakan menjadi lebih berfaedah, dan kereta masyarakat bergerak maju di jalan kemuliaan.

Kikir Meniadakan Kasih Sayang

Ada perasaan-perasaan tertentu yang berasal dari dalam hati manusia, buah-buah dari perasaan ini tidak terhingga nilainya; inilah akar-akar dari kerja sama manusia. Perasaan ini, yang terwujud dalam menolong orang-orang miskin, termasuk sifat rohaniah khusus dan sifat-sifat mulia manusia. Inilah perasaan yang membuat manusia bereaksi ketika melihat kesengsaraan atau penderitaan yang dialami orang lain; ia mengilhami manusia untuk mau berkorban dan melupakan berbagai keinginan pribadi guna mengurangi penderitaan orang lain. Manusia tersebut babu at demikian tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Dr. Carl mengatakan:

Peningkatan di segala bidang membutuhkan tingkat pengorbanan tertentu, kebesaran, dan ketulusan; kemurnian jiwa hanya dapat dicapai dengan mengorbankan materi dan popularitas demi kepentingan negara atau tujuan yang lebih besar. Pengorbanan diri adaIah kebiasaan orang-orang yang memahami keindahan keadilan dan kebenaran iman kepada Allah. Inilah orang-orang yang mengorbankan jiwa mereka untuk melaksanakan keadilan, cinta dan keharmonisan di seluruh dunia. Akal saja tidak dapat membimbing manusia menuju kesempurnaan. Cinta dan kasih sayang juga merupakan faktor yang penting dalam urusan ini. Hal ini benar, karena jiwa mengatasi perasaan daripada akal dan renungan. Setiap orang dapat maju pada jalan ini melewati mega ke puncak cahaya dan mencapai kebenaran.

Ada suatu sifat yang dapat menghancurkan akar-akar kasih sayang, yang dapat bersembunyi di bawah sadar manusia.

Sifat ini dikenal sebagai kikir. Kikir meratakan jalan bagi fitrah manusia untuk menyingkirkan moral-moral baiknya.

Kikir adalah sifat jahat yang selalu menyusup ke dalam akhlak dan rohani. Di samping kikir dapat mengarahkan orang menjadi berpikiran sempit, ia juga menjerumuskan manusia kepada kehinaan dan kebencian masyarakat. Sebagai akibat dari sifat kikir dan egois. pikiran si kikir terpusat di sekitar materialisme dan kekayaan. Oleh karena itu, mereka terasing dari kebebasan berpikir dan sesudah itu terasing dari faktafakta kehidupan dan nilai-nilai akhlak dan rohani. Orang kikir tidak menganggap kekayaan merupakan suatu cara mengamankan kebutuhan materi dalam kehidupan. Sesudah mengamankan kebutuhan mendasar kehidupan dalam kesenangan, keharmonisan atau dalam menanggulangi kegelisahan dan penderitaan-penderitaan psikologis, maka tidak ada suatu peran pun bagi kekayaan.

Rasa takut miskin yang terbayang-bayang merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi pikiran orang kikir. Karena alasan inilah si kikir tidak pernah dapat menjauhkan dirinya dari kekhawatiran dan depresi. Kendati orang kikir itu memiliki harta kekayaan. ia terasing dari kesenangan dan ketenteraman.

Menurut seorang sarjana Inggris:

Ada beberapa orang mengharapkan kekayaan seolah-olah tidak ada lagi selainnya yang berharga. Bahkan ada yang menjauhkan diri mereka dari pengetahuan dan tidur karena tujuan utama mereka adalah memperoleh kekayaan. Orang-orang seperti ini menjauhkan diri mereka dari kebenaran karena membayangkan harta sebagai tujuan dan bukan sebagai alat. Harta adalah laksana jembatan yang membantu kita dari kerusakan. Betapa kelirunya orang-orang yang menghabiskan hidup mereka dalam memperkuat jembatan itu sementara tidak mengetahui tujuannya. Jangan sampai kita menyerahkan diri kita demi uang, sebaliknya kita harus menyerahkan uang demi kita Banyak orang yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari uang dan saat mereka mendapatkannya, mereka membutuhkan kehidupan yang lain untuk menghabiskannya tetapi saat-saat yang sangat mereka inginkan tidak pernah datang.

Tampaknya ada hubungan langsung antara kekayaan dan sifat kikir. Kebanyakan orang-orang kaya adalah orang-orang yang kikir. Suatu penelitian mengungkapkan bahwa bantuan kepada orang-orang miskin pada umumnya dilakukan oleh kelas menengah dan tidak kaya.

Orang kaya yang kikir. yang menjadi korban rasa frustrasi dan amarah orang miskin, adalah pokok dari beberapa kerusakan sosial. Tekanan yang berada di atas orang miskin, dan akibat komplikasi psikologis yang menimpa mereka. merupakan faktor-faktor yang menyuburkan kerusakan dan kekacauan. Tiada seorang pun mengingkari peranan yang sangat merusak ini, dan problema ini telah menyebabkan kejahatan dan permusuhan.

Banyak orang kaya yang melewati batas kemanusiaan sebagai akibat kecenderungan mereka yang kuat untuk memperoleh kekayaan. sehingga menambah penindasan mereka dengan merampas hak-hak orang-orang miskin. Para penindas seperti ini sudah pasti kehilangan sinar kemanusiaannya dari diri mereka.

Di lain pihak kita memiliki sifat murah hati, faktor ketulusan manusia. Ia merupakan perwujudan dari kemurnian perasaan manusia dan sebagai tanda dari pemikiran yang mapan. Kemurahan hati juga merupakan sifat yang paling baik di antara segala sifat murni lainnya.

Kemurahan hati menduduki suatu tingkatan yang sangat tinggi di antara sifat-sifat lainnya. Nama Hatim Ta'i masih tetap bersinar di seluruh negeri karena kemurahan hatinya yang termasyhur.

Sudah jelas bahwa sifat murah hati hanya dapat dipuji jika kedekatan kepada Allah dicari dengan mengurangi penderitaan orang-orang miskin sebagai tujuannya. Menyombongkan diri dan ingin terkenal jangan sampai menyusup ke dalam kemurahan hati.

Sekilas Pandang atas Berbagai Pandangan Para Pemimpin tentang Sifat Kikir

Islam menekankan semua aspek masyarakat manusia. la menganjurkan pengorbanan dan kemurahan dalam memberi untuk memperkuat ikatan cinta dan kasih sayang antara si kaya dan si miskin. lslam juga sangat membenci kekikiran dan ketiadaan moral.

Islam menanamkan akar-akar cinta dalam masyarakat Islami dengan mengatur perasaan-perasaan manusia dan rasa kerja sama di antara sesama Muslim. Islam melarang Muslim yang kaya bersikap acuh tak acuh terhadap yang miskin; ia juga melarang sifat kikir yang menghalangi kaum Muslimin dari membayar zakat yang diwajibkan bagi mereka untuk kaum Muslimin yang miskin.

Rasulullah Saw. bersabda:

"lslam tidak membenci sesuatu lebih daripada kekikiran. "

(Nahj Al-Fasahah, hal. 549)

Kikir adalah sifat jahat yang menjauhkan seseorang dari kebahagiaan dan ketenteraman dan meninggalkannya dalam penderitaan.

Rasulullah Saw. juga bersabda:

"Sedikit-dikitnya keharmonisan (kerukunan) di antara manusia adalah orang-orang yang kikir. "

(Nahj Al-Fasahah, hal. 21)

Seorang sarjana Barat berkata:

Orang yang kekurangan cinta dan mencarinya (bahkan di bawah sadarnya) selalu mengutuk dirinya dan tidak pernah puas dengannya; karena alasan ini banyak di antara kita bernafsu terhadap kehidupan orang lain dan sangat iri terhadap mereka. Perasaan ini tidak terbatas kepada orang-orang miskin terhadap orang-orang kaya: dengki mempengaruhi kita semua karena adanya suatu unsur dalam kehidupan setiap orang di mana mereka merasa lemah. Misalnya, seseorang yang mempunyai isteri, anak dan kedudukan yang baik, merasa tamak melebihi orang-orang yang jauh dari keadaannya yang seperti ini. Orang-orang seperti itu memandang pakaian, misalnya, sebagai bukti dari kelebihunggulan mereka; atau seseorang mungkin melihat orang lain yang pakaiannya lebih bagus dan berpikir bahwa orang yang berpakaian lebih bagus itu lebih bahagia daripadanya, karena jika ia tidak lebih bahagia ia tidak akan memiliki pakaian-pakaian yang lebih bagus

(Ravankavi)

Rasulullah Saw. diperintahkan oleh Allah SWT agar mengasihi orang-orang yang tidak mencintai harta untuk dirinya sendiri tetapi mengeluarkan kelebihan (harta) itu kepada orangorang yang kekurangan. Beliau bersabda:

"Semoga Allah memberi rahmat atas orang-orang yang menahan diri dari kata-kata yang tidak perlu dan yang mengeluarkan kelebihan dari apa yang dimilikinya."

(Nahj Al-Fasahah, hal. 81)

Nabi Saw. juga bersabda:

"Hindarilah kekikiran karena akan menyebabkan kamu binasa dan mengarahkan meraka kepada pertumpahan darah serta menodai kesucian mereka."

(Nahj Al-Fasahah, hal. 8)

Imam Ali a.s. berkata:

Aku heran kepada orang-orang kikir yang sengsara, karena mereka merasa miskin padahal daripadanya mereka lari lebih cepat. dan merasa kehilangan harta yang mereka cari. Dalam kehidupan ini mereka hidup dari kehidupan orang-orang miskin dan akan dihukum di akhirat dengan hukuman orang-orang kaya.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 497)

Seorang sarjana Inggris menyatakan:

Beberapa orang tampak kaya tetapi sebenarnya miskin. Mereka memiliki uang tetapi tidak dapat

mengeluarkannya untuk dirinya sendiri. Kekayaan mereka menjadi seperti rantai emas yang mencekik leher mereka sehingga daripadanya mereka tidak memperoleh apa-apa kecuali penderitaan dan siksaan. Di sini uang menjadi kemalangan dan kekayaan menjadi bencana.

(Dar Aghushe Khush Bakhti)

Bahkan anak dari orang-orang kikir mengeluh tentang ayah mereka. Kenyataan ini dijelaskan oleh Imam Ali a.s. yang mengatakan:

Kemurahan hati seseorang membuat musuhnya mencintainya, dan kekikiran membuat anak-anaknya membenci nya.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 368)

Beliau juga berkata:

Tamak dan kikir dibangun atas keraguan dan kurangnya keyakinan.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 488)

Dr. Farmer telah berkata:

Sifat murah hati dan percaya diri lahir dari keharmonisan dan mempercayai diri dan orang lain, ketika anda menemukannya sekaligus di dalam diri seseorang, ia akan menyempurnakan akhlak masyarakat dan memberi peluang kepada kesempurnaan untuk menempati kehidupan sosial. Yang berlawanan dengan itu yakni ketika sifat ini sedang kekurangan, keutuhan akhlak masyarakat tidaklah mungkin sehingga seseorang tidak mampu menikmati kehidupan sosial.

(Raz Khusbhakhti)

Imam Musa Al-Kazim a.s. menjelaskan nilai sifat murah hati dengan mengatakan:

Orang yang murah hati dan berakhlak baik selalu berada di bawah lindungan Allah. Allah tidak menjauhi mereka tetapi membimbing mereka ke sorga. Allah SWT tidak mengutus seorang nabi atau penggantinya kecuali seorang yang murah hati; tidak ada orang adil (benar) yang tidak murah hati. Hingga saat-saat kematiannya, ayahku memerintahkanku agar menjadi orang yang murah hati.

(Furu’ Al-Kafi, jilid IV, hal. 38)

Suatu kali ketika Imam Ali a.s. sedang bertempur di medan laga, seseorang yang sedang beliau serang meminta pedang beliau. Imam Ali a.s. memberikan kepadanya sehingga membuatnya terheran-heran. Kemudian Imam Ali a.s. mengatakan bahwa orang-orang kikir sangat membutuhkan bimbingan agama, dan jika mereka jauh dari bimbingan itu, mereka akan terap berada dalam perangkap materialisme, kerugian dan kesengsaraan.

16. Sifat Tamak

• Berbagai Kebutuhan Hidup

• Orang Tamak Tidak Pernah Puas

•Pembagian yang Adil dalam lslam

Berbagai Kebutuhan Hidup

Dalam kehidupan ini keberadaan kita dikelilingi oleh berbagai kebutuhan tertentu yang melekat sejak kita dilahirkan. Beberapa kebutuhan ini seperti makanan, pakaian, dan rumah merupakan kebutuhan dasar, dan kelangsungan sistem kehidupan pun bergantung kepadanya. Kebutuhankebutuhan semacam ini bersifat alami dan tidak berubah. Jenis kebutuhan lainnya tidak penting sekali dan terus menerus berubah serta tidak pernah dapat diraih sepenuhnya.

Sesuai dengan kecenderungan alami dan rasa saling membutuhkan, manusia mencari uang dan berjuang dengan segala cara melawan berbagai problema dan kesulitan yang mungkin menghadang jalannya untuk mencari uang lebih banyak lagi; karena bagi kebanyakan manusia kekayaan adalah keindahan hidup.

Perubahan-perubahan keadaan manusia dalam hidup adalah sesuatu yang alami. Umpamanya, jika seseorang dikelilingi oleh kemiskinan dan kelemahan, ia mencari makan dengan segala cara untuk mencoba menghapus kemiskinan yang mengelilinginya. Jika seseorang memperoleh kekayaan, ia pun dijangkiti kesombongan dan keangkuhan, seolah-olah ada suatu hubungan langsung antara kekayaan dan sifatsifat ini. Terakhir, jika seseorang memperoleh kekayaan dan keamanan bagi dirinya, ia mabuk dengan kesombongan dan keangkuhan, dan ide-ide jahat pun tak henti-hentinya mengepung pikirannya.

Kehidupan mengambil berbagai bentuk bergantung kepada bagaimana seseorang memandangnya dan kemampuan akal yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, banyak orang yang tidak menyadari kebenaran atau mencapai tingkat yang dengannya mereka dapat membedakan nntarn yang aman dan yang berbahaya. Perwujudan kebenaran-kebenaran kehidupan dan pencapaian keadaan bahagia memerlukan perenungan terhadap berbagai rahasia eksistensi, terutama rahasia "mengenal diri" yang hanya dapat dilakukan dalam wewenang akal dan logika.

Manusia harus memahami mengapa ia berada di dunia ini untuk memulai mencari kebahagiaan. Ia harus memilih cara, yang dengan ini ia dapat maju sesuai dengan kebutuhankebutuhan alami dan rohaninya seraya menjauhkan diri dari berbagai keburukan yang memisahkan jiwa dari pertumbuhan pribadi yang sesungguhnya.

Memang, keberhasilan dan kebahagiaan tidak berarti manusia harus selalu mengungguli yang lainnya dengan memanfaatkan sumbersumber materi, karena masalahmasalah materi bukanlah tujuan utama dalam hidup dan manusia tidak semestinya melanggar batas-batas moralitas dan keluhuran untuk memperoleh materi.

Menurut Dr. Carl:

Materialisme liberal ditemukan dalam atmosfir ideologis yang berisi berbagai kepentingan pribadi yang menguasai pikiran kita. Kekayaan telah datang sebagai tujuan utama di mata kita, dan keberhasilan kini diukur dengan peredaran rekening. Suatu masyarakat yang memberikan prioritas kepada urusan-urusan ekonomi tidak pernah dapat dibimbing ke arah moralitas yang memerlukan ketaatan sepenuhnya kepada hukum-hukum kehidupan. Tidak pelak lagi, moralitas membimbing kira kepada kebenaran dan mengatur semua aktivitas jiwa dan raga kita sesuai dengan harkat kemanusiaan. Kemuliaan moral dapat diibaratkan dengan mesin yang kuat yang berfungsi secara tepat. Perselisihan dalam suatu masyarakat tidak lain merupakan akibat dari ketiadaan moral.

Tujuan hidup yang sesungguhnya adalah untuk mencapai tingkatan rohaniah. Rohaniah merupakan masalah paling penting dan bernilai yang dapat diraih manusia. Orang yang memelihara jiwanya senantiasa terikat dengan mutiaramutiara rohani dan jarang memburuh kan dunia ini, karena ia memperoleh kepuasan rohani dalam bayang-bayang rohaniah yang menyertainya selama hidupnya. Orang seperti ini dalam keadaan bagaimanapun tidak akan mau menukar kekayaan rohaninya demi materi.