• Mulai
  • Sebelumnya
  • 23 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 555 / Download: 164
Ukuran Ukuran Ukuran
PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN (1)

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN (1)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN

Najmuddin Thabasi

Penerjemah: Muhammad Habibi

PRAKATA PENERBIT

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Pusaka dan peninggalan berharga Ahlul Bait as. yang sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam khazanah mereka merupakan universitas lengkap yang mengajarkan berbagai ilmu Islam. Universitas ini telah mampu membina jiwa-jiwa yang berpotensi untuk menguasai pengetahuan dari sumber tersebut. Mereka mempersembahkan kepada umat Islam ulama-ulama besar yang membawa risalah Ahlul Bait as., ulama-ulama yang mampu menjawab secara ilmiah segala kritik, keraguan dan persoalan yang dikemukakan oleh berbagai mazhab dan aliran pemikiran, baik dari dalam maupun luar Islam.

Berangkat dari misi dan tugas yang diemban, Lembaga Internasional Ahlul Bait (Majma‘ Jahani Ahlul Bait) berusaha mempertahankan kemu-liaan risalah dan hakikatnya dari serangan tokoh-tokoh firqah (kelompok), mazhab, dan berbagai aliran yang memusuhi Islam. Dalam hal ini, kami berusaha mengikuti jejak Ahlul Bait as. dan penerus mereka yang sepanjang masa senantiasa tegar dalam menghadapi tantangan dan tetap kokoh di garis depan perlawanan.

Khazanah intelektual yang terdapat dalam karya-karya ulama Ahlul Bait as. tidak ada bandingannya, karena buku-buku tersebut berpijak pada landasan ilmiah dan didukung oleh logika dan argumentasi yang kokoh, serta jauh dari pengaruh hawa nafsu dan fanatik buta. Karya-karya ilmiah yang dapat diterima oleh akal dan fitrah yang sehat tersebut juga mereka peruntukkan kepada para ulama dan pemikir.

Dengan berbekal sekian pengalaman yang melimpah, Lembaga Internasional Ahlul Bait berupaya mengetengahkan metode baru kepada para pencari kebenaran melalui berbagai tulisan dan karya ilmiah yang disusun oleh para penulis kontemporer yang mengikuti dan mengamalkan ajaran mulia Ahlul Bait as. Di samping itu, lembaga ini berupaya meneliti dan menyebarkan berbagai tulisan bermanfaat dari hasil karya ulama Syi‘ah terdahulu. Tujuannya adalah agar kekayaan ilmiah ini menjadi sumber mata air bagi setiap pencari kebenaran di seluruh penjuru dunia. Perlu dicatat bahwa era kemajuan intelektual telah mencapai kematangannya dan relasi antarindividu semakin ter-jalin demikian cepatnya. Sehingga pintu hati terbuka untuk menerima kebenaran ajaran Ahlul Bait as.

Kami mengharap kepada para pembaca yang mulia kiranya sudi menyampaikan berbagai pandangan berharga dan kritik konstruktifnya demi kemajuan Lembaga ini di masa mendatang. Kami juga mengajak kepada berbagai lembaga ilmiah, ulama, penulis, dan penerjemah untuk bekerja sama dengan kami dalam upaya menyebarluaskan ajaran dan budaya Islam yang murni. Semoga Allah swt. berkenan menerima usaha sederhana ini dan melimpahkan taufik-Nya serta senantiasa menjaga Khalifah-Nya (Imam Al-Mahdi as.) di muka bumi ini.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. Najmuddin Thabasi yang telah berupaya menulis buku ini. Demikian juga kami sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Sdr. Muhammad Habibi yang telah bekerja keras menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia, juga kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan buku ini.

Divisi Kebudayaan Lembaga Internasional Ahlul Bait

PENDAHULUAN

Segera setelah negeri Shush—tempat Nabi Daniel as. dimakamkan—lepas dari kekuasaan orang-orang partai Baath, penduduk di sana secara bertahap kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Dan ketika itulah saya mendapat kehormatan untuk hadir bersama para pejuang. Di masjid jami kota bersejarah itu, saya menyampaikan rangkaian kuliah seputar Imam Zaman af. dengan mengacu kepada kitab Bihar al-Anwar karya ‘Allamah Majlisi ra.

Pada waktu itu, saya menyadari bahwa meskipun banyak sekali permasalahan telah dibahas seputar Imam Mahdi af. seperti: panjangnya usia beliau, falsafah keghaibannya, berbagai faktor penyebab kemunculannya, dan lain sebagainya, namun pembahasan tentang bagaimana imam Mahdi af. bangkit; bagaimana pemerintahannya dan seperti apa ia memimpin, belum menjadi obyek kajian yang memadai. Atas dasar itu, saya bermaksud untuk membahas masalah ini, sehingga barangkali saya dapat menemukan berbagai jawaban untuk beragam pertanyaan yang seringkali mengemuka dan menjadi bahan pikiran khalayak.

Di antara pertanyaan-pertanyaan itu ialah bagaimana Imam Mahdi af. kelak akan menggugurkan berbagai sistem sosial yang memiliki kemampunan dan kekuatan beragam di muka bumi, lalu menggantikannya dengan sebuah sistem pemerintahan global dan mendunia? Bagaimana sistem dan agenda pemerintahan imam Mahdi af., sehingga ketika ia memerintah, tak lagi tersisa kezaliman dan kerusakan sedikit pun di dunia, tak akan pula ditemukan seorang pun yang hidup kelaparan?

Berangkat dari berbagai pertanyaan semacam inilah saya terdorong selama empat tahun untuk melakukan penelitian. Dan tampaknya mulai menemukan hasil; yaitu berupa buku yang ada di hadapan para pembaca yang budiman ini.

Bagian pertama buku membahas kondisi dunia sebelum kemunculan Imam Mahdi af.; kondisi yang berkecamuk dengan peperangan, pembunuhan, kekeringan, kehancuran, kematian, tersebarnya wabah penyakit, kezaliman, ketakutan, dan kekacauan. Kelak kita akan menyimak bahwa pada masamasa itu, umat manusia akan merasa putus asa dan kecewa terhadap keberadaan berbagai sistem pemikiran dan pemerintahan yang semuanya mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia dan menjanjikan kebahagiaan serta keselamatan. Mereka merasa putus asa akan pulihnya situasi dan membaiknya kondisi dunia. Semua pihak ketika itu menanti kedatangan seorang juru penyelamat yang akan membimbing mereka menuju keselamatan.

Bagian kedua, mengupas seputar bagaimana kebangkitan dan revolusi global Imam Mahdi af. Inilah gerakan yang akan dimulai dari dekat Ka’bah dengan diumumkannya kemunculan beliau. Ketika itu, para pengikut sejati beliau dari segala penjuru dunia bergabung dengannya. Pasukan yang luar biasa terbentuk dengan teratur, para pemimpin ditentukan, dan dimulailah berbagai aksi global dalam tingkatan yang semakin meluas.

Imam Mahdi af. akan datang dan melenyapkan kezaliman dan orang-orangnya dari tengah-tengah umat manusia sampai ke akar-akarnya. Umat manusia yang dimaksud di sini tidak hanya terbatas pada mereka yang hidup di kawasan Hijaz, Timur Tengah, dan Asia saja, bahkan meliputi seluruh dunia.

Memperbaiki masyarakat yang dipenuhi berbagai kezaliman dan kerusakan seperti ini adalah pekerjaan yang sangat sulit. Setiap orang yang mengaku akan melakukannya, berarti ia juga mengaku telah memiliki mukjizat yang sangat besar. Sesungguhnya mukjizat seperti ini memang ada dan akan terwujud di tangan Imam Mahdi af.

Adapun bagian ketiga buku ini membahas pemerintahan Imam terakhir kita itu. Untuk menata dunia yang telah dipenuhi kezaliman dan kerusakan, juga mewujudkan legitimasi Islam, pemerintahan yang kuat dan kompeten, Imam Mahdi af. akan membentuk sebuah pemerintahan yang adil yang dibantu para sahabat terbaik di zamannya. Selain itu, ia pun dibantu para pembesar kekasih Allah seperti Nabi Isa as., Salman Al-Farisi, Malik al-Asytar, dan orang-orang baik lainnya yang merupakan al-salaf al-shaleh. Meskipun peran mereka dalam menggulingkan pemerintahan zalim tidak bisa diabaikan, amun peran sejati mereka adalah membangun dan membenahi dunia pada masa pemerintahan Imam Mahdi af.

Apa yang telah dijelaskan secara sederhana dalam pendahuluan ini merupakan pembahasan yang telah memanfaatkan berbagai literatur dari puluhan kitab terkemuka baik dari kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, dengan mengkaji ratusan riwayat dan disajikan secara sistematis dalam format buku yang kami anggap dapat dipertanggungjawabkan argumentasinya.

Walaupun tidak secara sempurna, semoga buku ini dapat melukiskan kondisi umat Islam setelah munculnya sang ratu adil. Mudah-mudahan buku ini dapat diterima oleh Imam Mahdi af. dan bermanfaat bagi seluruh lapisan kaum Muslimin dan orang-orang yang teguh menanti kemunculannya. Dan semoga saja buku ini dapat menambah kesiapan mereka untuk menyambut kedatangan sang Imam.

Kami memohon kepada Allah; Tuhan semesta alam, untuk membangkitkan Imam Khumaini—orang yang telah menampilkan sebuah contoh pemerintahan Imam Mahdi af di negeri Persia—bersama para Nabi dan manuisa-manuisa maksum. Semoga Allah mengaruniai keberhasilan bagi para pecinta Islam yang berkhidmat kepada Ahlul Bait as. dan tanah airnya, dan semoga Allah mengokohkan diri mereka dalam menjaga tanah air ibu kota Islam ini.

Di sini, rasanya penting sekali bagi saya untuk memberikan beberapa penjelasan sebelum Anda membaca buku ini:

 Kami tidak mengklaim telah membawakan pembahasan baru dalam buku ini, karena rangkaian riwayat yang dikemukakan merupakan riwayat yang telah dikumpulkan oleh ulama Islam terdahulu, dan dalam beberapa bagian mereka pun telah menyampaikan kesimpulannya. Tampaknya, kekhususan buku ini tidak terjebak pada berbagai istilah teknis yang sulit. Dengan metode baru, pembahasan disampaikan secara mudah dan gamblang, sehingga dapat dipahami oleh banyak orang.

 Berbagai kesimpulan yang ditarik dari riwayat tertentu yang tidak disebutkan sumber rujukannya adalah pendapat pribadi penulis. Oleh karena itu, mungkin saja dengan penelitian yang lebih mendalam atas berbagai riwayat tersebut akan ditemukan kesimpulan lain.

 Kami juga tidak mengklaim bahwa semua riwayat yang disajikan dalam buku ini adalah riwayat sahih yang tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, sebagaimana permasalahan ini telah dibahas secara terperinci dalam jurnal Entezar. Walaupun demikian, kami berusaha menukilkan apa-apa yang disampaikan oleh ulama hadis dan para penulis ternama dalam berbagai karya mereka. Selain itu, hanya dalam beberapa tempat saja kami membahas kebenaran sanad suatu riwayat; karena kami tidak bermaksud melakukannya dalam buku ini. Lagi pula, kebanyakan riwayat-riwayat yang kami gunakan pada umumnya dapat dipercaya, khususnya riwayat-riwayat dari jalur Ahlul Bait as.

 Riwayat-riwayat dalam buku ini telah dikumpulkan sebelum diterbitkannya kitab Mu’jam Ahadits Al-Imam Al-Mahdi.[1] Oleh karenanya, dalam sebagian tempat, kami mempersilahkan para pembaca untuk merujuk kepada kitab tersebut—yang terlebih dahulu disusun sebelum buku ini—untuk melihat hasil penelitian yang lebih terperinci.

 Dalam beberapa riwayat, kata al-sa’ah (waktu) dan alqiyamah (kiamat) telah ditafsirkan sebagai kemunculan Imam Mahdi af. Oleh karenanya, riwayat-riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda-petanda dekatnya kejadian as-sa’ah dan al-qiyamah kami bawakan sebagai riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda kemunculan Imam Mahdi af.

 Sebagian materi pembahasan dalam buku ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, meskipun telah ada usaha sebelumnya untuk meneliti berbagai permasalahan tersebut. Semoga Allah mengizinkan kami untuk memberikan catatan tambahan hasil penelitian yang lebih baik dalam buku ini pada cetakan berikutnya.

Sebelum mengakhiri kata pengantar ini, sebagaimana riwayat yang menyebutkan, “Barang siapa tidak berterima kasih kepada sesama makhluk, maka ia tidak berterima kasih kepada Sang Khaliq”, sepatutnya saya sampaikan banyak terima kasih kepada saudara-saudara dan teman-teman, khususnya dua saudara besar saya, yaitu Hujjatul Isam Muhammad Jawad dan Muhammad Ja’far Thabasi atas saransaran mereka, demikian juga kepada Hujjatul Islam Ali Rafi’i dan Sayid Muhammad Husaini Shahrudi atas bantuannya dalam menyusun buku ini.

Najmuddin Thabasi Qom, 1378 HS.

Bagian Pertama

DUNIA SEBELUM KEMUNCULAN IMAM MAHDI AF.

Ketika berada dalam ruangan yang terang benderang, kita seringkali lalai akan nilai sinar dan cahayanya. Namun, ketika berada dalam kegelapan, pada waktu itu juga kita menyadari betapa bernilainya cahaya itu. Ketika matahari berada di atas kepala kita, jarang kita menyadari keberadaannya. Akan tetapi, di saat matahari itu tersembunyi di balik awan tebal dan tak lagi memberikan kehangatannya, maka pada saat itulah kita baru menyadari nilai kehangatan benda itu.

Demikianlah, kita pun baru menyadari pentingnya kemunculan mentari wilayah; yaitu ketika kita berada dalam kegelapan dan kehancuran hidup di masa-masa sebelum kehadirannya, sebagaimana beberapa riwayat melukiskan gambaran keadaan tersebut berukit ini:

Sebelum kemunculan Imam Zaman af., berbagai cobaan, gangguan, keributan, kehancuran, kekacauan, kelaliman, pembunuhan, kekejian, dan segala apa saja yang buruk menyelimuti semua tempat dan dunia dipenuhi dengan kezaliman dan ketidakadilan. Peperangan dahsyat dan pertumpahan darah terjadi antarbangsa dan menimpa berbagai bangsa. Bumi disesaki dengan mayat yang berserakan. Pembunuhan terjadi di mana-mana sehingga tak satu keluarga pun yang tidak kehilangan salah satu anggotanya. Para lelaki, terutama pemuda banyak yang mati akibat peperangan; bahkan dalam setiap tiga orang, dua orang yang menjemput ajalnya.

Harta benda dan nyawa semua orang terancam. Jalanan dipenuhi orang-orang jahat. Rasa takut yang ada di manamana mencekik umat manusia. Banyak terjadi kematian secara tiba-tiba. Anak-anak kecil yang tak berdosa dianiaya oleh tangan-tangan penguasa keji. Tak jarang wanita-wanita mengandung disiksa di jalanan. Tersebar berbagai penyakit menular dan mematikan yang mungkin diakibatkan oleh bakteri yang timbul dari mayat-mayat yang berserakan atau mungkin juga akibat penggunaan senjata-senjata kimia berbahaya. Bahan pangan sangat langka dan kelaparan melumpuhkan kehidupan umat manusia. Bumi tak lagi rela menumbuhkan tumbuhan-tumbuhannya. Hujan tidak lagi turun. Kalaupun turun, banyak bahaya yang ditimbulkan olehnya. Kekeringan melanda semua daerah, sehingga banyak orang yang hanya untuk mendapatkan makanan, rela menyerahkan para wanita dan putri-putrinya.

Dalam situasi serba sulit seperti itu, rasa putus asa merasuki semua orang. Maka, kematian menjadi hadiah berharga dari Allah bagi umat manusia. Satu-satunya harapan semua orang adalah berakhirnya kehidupan. Bahkan, ketika ada seseorang yang lewat di sela-sela tumpukan mayat, ia berkata dalam hati, “Andai aku seperti mereka dan tidak merasakan hinanya kehidupan!”

Saat itu, tak ada satu pun kekuatan dan lembaga yang mampu merubah keadaan dan membenahi segalanya serta mengadili para penguasa zalim atas berbagai perilaku kejinya. Tak terdengar sedikit pun lengkingan yang meneriakkan kebebasan manusia. Semua yang mengklaim dirinya sebagai penyelamat umat manusia, tersingkap kedok busuknya. Umat manusia hanya tinggal menanti turunnya keajaiban dari Allah, dengan datangnya seorang juru selamat nan adil.

Ketika rasa putus asa telah menyelimuti semua orang, dengan segala rahmat dan kasih sayang Allah, akhirnya setelah bertahun-tahun ghaib dalam penantian, munculah Al-Mahdi yang dijanjikan untuk menyelamatkan umat manusia. Terdengar suara di segala penjuru dunia, “Wahai penghuni alam! Usai masa pemerintahan orang-orang yang zalim dan tibalah saatnya pemerintahan Ilahi nan adil berdiri dengan datangnya Al-Mahdi.” Teriakan yang terdengar dari langit ini meniupkan ruh harapan di jasad-jasad umat manusia dan memberitakan kebebasan bagi orang-orang yang dizalimi dan ditindas.

Ya, dengan memahami kondisi di hari itu, kita dapat merasakan betapa pentingnya kehadiran sang juru selamat Al-Mahdi af. dan pemerintahannya yang adil.

Di sini kita akan menerangkan situasi dan kondisi dunia sebelum kedatangan Al-Mahdi af. dalam lima pasal yang bersumber dari berbagai riwayat.

Bab I

PEMERINTAHAN

Berbagai ketentuan agama dan beragam aliran pemikiran yang ada dapat direalisasikan oleh suatu masyarakat manakala pemerintahan memberikan dukungan dan perlindungan kepadanya. Maka, setiap kelompok yang berusaha meraih kepemimpinan bertujuan untuk mewujudkan harapan tersebut. Demikian pula Islam, sebagai ajaran langit yang terbaik, memiliki tujuan untuk mewujudkan pemerintahan islami. Dalam pandangannya, mendirikan pemerintahan yang adil dan menjaga keutuhannya adalah kewajiban yang sangat besar.

Nabi Muhammad Saw. telah mengerahkan segala upayanya untuk menciptakan pemerintahan islami dan ia telah meletakkan pondasinya di Madinah. Sepeninggal Rasulullah Saw.—meskipun para Imam maksum as. mendambakan terbentuknya pemerintahan islami, mayoritas pemerintahan yang berkuasa pada waktu itu bukanlah pemerintahan Ilahi yang sejati. Sebelum Imam Mahdi af. muncul, kebanyakan pemerintah yang berdiri di muka bumi ini adalah pemerintahan yang tidak dilandasi kebenaran.

Dalam berbagai hadis dari Rasulullah Saw. dan para Imam yang sampai ke tangan kita, digambarkan secara global kondisi pemerintahan yang berdiri di muka bumi sebelum kemunculan Imam Mahdi af. sebagai berikut.

A. Pemerintahan Zalim

Salah satu masalah yang dihadapi umat manusia sebelum datangnya sang Imam adalah kezaliman yang dilakukan oleh pemerintahan yang berkuasa terhadap masyarakat. Mengenai permasalahan ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Dunia akan dipenuhi dengan kezaliman, sampai-sampai rasa takut dan pertumpahan darah memasuki setiap rumah.”[2]

Imam Ali as. juga pernah berkata, “Dunia akan dipenuhi dengan kezaliman dan kebatilan sehingga rasa takut dan kesedihan masuk ke dalam setiap rumah.”[3]

Imam Muhammad Al-Baqir as. juga berkata, “Imam Mahdi af. tidak akan bangkit sebelum dunia dipenuhi dengan rasa takut dan cemas.”[4]

Rasa takut dan cemas itu lebih merupakan akibat dari ulah penguasa zalim dunia. Karena, sebelum Imam Mahdi af. muncul, orang-orang zalimlah yang akan memerintah. Tentang hal ini, Imam Muhammad Al-Baqir as. menjelaskan, “Al-Mahdi af. akan bangkit di saat orang-orang yang zalim menguasai dunia.”[5]

Ibnu Umar berkata, “Orang-orang berkedudukan yang memiliki banyak harta dan anak di akhir zaman mengharapkan kematian, akibat dari dasyatnya kezaliman para penguasa yang mereka rasakan.”[6]

Yang perlu digarisbawahi di sini ialah bahwa umat Rasulullah Saw. tidak hanya menderita karena serangan dari kekuatan lain, namun mereka justru tersiksa oleh kezaliman pemerintahan di dalam negeri mereka sendiri. Bumi yang terhampar luas terasa sangat sempit bagi mereka. Alih-alih memperoleh kebebasan, justru mereka merasakan seakan tengah berada di dalam penjara raksasa.

Kondisi ini, dijelaskan dalam beberapa riwayat di bawah ini:

Rasulullah Saw bersabda, “Di akhir zaman, umatku akan ditimpa bencana yang belum pernah terdengar sebelumnya. Inilah nestapa akibat ulah para penguasa muslim yang zalim, sehingga bagi mereka, bumi yang luas terasa begitu sempit. Bumi pun sudah tidak kuasa menyaksikan berbagai kezaliman terjadi. Pada saat itu, tiada tempat berlindung bagi seorang mukmin agar lepas dari cengkeraman kezaliman.”[7]

Dalam berbagai riwayat dijelaskan turunnya bala dan bencana yang ditimbulkan oleh para pemimpin zalim tersebut. Dijelaskan pula bahwa setelah mereka berkuasa, akan datang berita gembira mengenai datangnya seorang pemimpin adil yang akan membenahi dunia. Dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa sepeninggal Rasulullah Saw, akan ada tiga macam pemerintahan yang akan berdiri di tengah-tengah umat manusia: kekhalifahan, pemerintahan para amir dan raja, lalu pemerintahan orang-orang yang zalim.

Rasulullah Saw. bersabda, “Setelahku akan ada beberapa khalifah yang akan memimpin umat. Setelah mereka, para amir memimpin, kemudian para raja. Dan setelah mereka, akan datang para penguasa yang zalim. Setelah itu, datanglah Al-Mahdi af.”[8]

B. Aparat Pemerintahan yang Bejat

Masyarakat akan hidup dengan tenang dan tentram ketika segenap aparat pemerintahan adalah orang-orang yang baik dan cakap dalam bekerja. Namun, ketika orang-orang yang tidak memiliki kelayakan memimpin, maka tak diragukan lagi masyarakat akan menemui kesulitan dan petaka. Inilah Kondisi yang dialami oleh orang-orang yang hidup sebelum kemunculan Al-Mahdi af. Pada masa itu, para penghianat, fasik dan zalimlah yang akan menjadi aparat pemerintahan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Akan datang suatu hari dimana para pemimpinnya adalah penindas, para komandannya adalah pengkhianat, para hakimnya adalah orang-orang fasik, dan para menterinya orang-orang yang zalim.”[9]

C. Campur Tangan Perempuan dalam Pemerintahan

Salah satu peristiwa yang menimpa dunia akhir zaman adalah kekuasaan perempuan, yang berlaku dengan memimpin dan menguasai masyarakat secara langsung, maupun dengan menaklukkan para pejabat negara. Inilah kejadian yang akan menuai malapetaka bagi umat manusia. Tentang hal tersebut, Imam Ali as. menjelaskan, “Akan datang suatu masa dimana orang-orang bejat dan pezina akan meraih segala kenikmatan, orang-orang yang rendah dan hina menempati tahta kekuasaan, dan orang-orang yang baik menjadi lemah.” Kemudian ia ditanya, “Kapankan zaman yang seperti ini akan tiba?” Ia menjawab, “Ketika para wanita dan budak-budak perempuan menguasai perkara umat manusia dan anak-anak di bawah umur memerintah.”[10]

Tentu saja, yang dimaksud dalam riwayat di atas bukan pelarangan bagi kaum wanita untuk berperan aktif dalam berbagai aktivitas sosial. Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai riwayat bahwa sebagian dari aparat pemerintahan Imam Mahdi af. adalah para wanita dan mereka juga menjalankan tugas-tugas penting. Akan tetapi, maksudnya adalah para wanita yang berniat buruk dalam setiap gerakgerik mereka, entah berangkat dari kebencian terhadap kemanusiaan maupun terhadap kaum Muslimin. Jika orangorang seperti mereka telah mencampuri berbagai urusan pemerintahan, maka hasilnya adalah kekacauan umat dan runtuhnya pemerintahan itu sendiri sebagaimana yang kini dapat kita saksikan.

D. Pemerintahan Anak Kecil

Para pejabat dan aparat seharusnya adalah orang-orang yang layak dan berpengalaman sehingga masyarakat hidup tentram. Jika bukan orang-orang seperti mereka yang berkuasa, maka anak-anak kecil atau orang-orang yang berpikiran dangkallah yang akan menduduki tahta pemerintahan. Tentu saja, kita berlindung kepada Allah dari bahaya fitnah ini.

Mengenai hal ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Sejak permulaan tahun tujuh puluh dan pemerintahan anak-anak kecil, berlindunglah kepada Allah.”[11] Sa’id bin Musayib berkata, “Akan muncul fitnah yang awal mulanya adalah permainan anak-anak kecil.”[12]

E. Pemerintahan yang Goyah

Pemerintahan yang mampu memberikan berbagai layanan terbaiknya kepada masyarakat, haruslah memiliki kestabilan politik. Karena, jika pemerintahan goyah, maka tidak akan mampu melakukan tugas-tugas besar dalam negaranya.

Pemerintahan-pemerintahan di dunia di akhir zaman adalah pemerintahan yang goyah dan lemah. Adakalanya pemerintahan yang berdiri di pagi hari mengalami keruntuhan di sore harinya. Imam Shadiq as. mengatakan, “Seperti apakah kalian kelak; ketika hidup tanpa seorang imam yang memberi petunjuk dan kalian hidup tanpa ilmu? Bagaimana nasib kalian nanti; ketika satu sama lain saling bermusuhan? Inilah suatu zaman di mana kalian diuji di sana. Orang-orang yang baik di antara kalian, akan terpisah dengan orang-orang yang bejat. Ketika itu, peperangan terjadi di mana-mana dan pemerintahan di zaman itu akan berdiri di permulaan hari kemudian terguling dengan pertumpahan darah.”[13]

F. Penyelenggaraan yang Lemah

Pada akhir zaman, pemerintahan-pemerintahan zalim lambat laun akan melemah, lalu pemerintahan Imam Mahdi af. berdiri. Dalam al-Quran telah dijelaskan:

“Apabila mereka melihat janji yang telah disampaikan kepadanya, maka mereka akan mengetahui siapakah yang memiliki penolong yang lebih lemah dan lebih sedikit bilangannya.”[14]

Mengenai ayat di atas ini, Imam Ali Zainal Abidin as. menerangkan, “Maksud dari janji dalam ayat itu berkaitan dengan kemunculan Imam Mahdi af. bersama para penolongnya untuk menumpas musuh-musuhnya. Ketika Imam Mahdi af bangkit, musuh-musuh beliau adalah selemah-lemahnya musuh dengan bilangan yang sangat sedikit dan perlengkapan yang terbatas.”[15] []

Bab 2

CORAK AGAMA DAN MASYARAKAT

Pada bagian ini, kita akan mengupas kondisi keberagamaan umat manusia sebelum kemunculan Imam Mahdi af. Dari berbagai riwayat, kita memahami bahwa pada zaman itu, Islam dan Al-Qur’an tinggal labelnya saja. Kaum muslimin pun, hanya tinggal nama saja. Masjid-masjid tidak lagi menjadi tempat menasehati dan membimbing umat. Para ulama di zaman itu adalah seburuk-buruknya ulama di dunia. Mereka menukar agama dengan sesuatu yang murah dan rendah nilainya.

A. Islam dan Kaum Muslimin

Islam berarti pasrah dan berserah diri di hadapan ajaranajaran Ilahi. Islam adalah sebaik-baiknya agama yang menjamin kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Di sini, yang paling bernilai adalah mengamalkan ajaran-ajaran Islam dan Al-Qur’an. Namun, pada akhir zaman nanti, segalanya akan menjadi sebaliknya; Islam hanya tinggal namanya saja! Dan meskipun Al-Qur’an masih berada di tengah-tengah umat, tapi hanya berupa tulisan yang tertera di atas kertas saja. Sementara kaum Muslimin tak ubahnya orang-orang yang nama agama mereka tertulis Islam di KTP saja, tanpa mencerminkan sedikit pun kepribadian seorang Muslim. Rasulullah Saw. bersabda, “Akan datang suatu zaman bagi umatku, dimana di zaman itu Islam hanya tinggal namanya saja. Ketika itu, tidak ada bekas yang ditinggalkan Al-Qur’an kecuali garisgaris dan susunan huruf yang tertulis di atas kertas. Kaum muslimin dikenal dengan sebutan Muslim dan sebatas nama, namun mereka adalah orang-orang yang paling asing dari agamanya.”[16]

Imam Shadiq as. juga mengatakan, “Akan datang suatu hari dimana umat manusia tidak lagi mengenal Allah dan tidak memahami makna tauhid hingga muncullah Dajal[17] .”[18]

B. Masjid

Masjid adalah tempat menyembah Allah; tempat mengajarkan agama dan membimbing masyarakat. Bahkan pada permulaan tersebarnya ajaran Islam, masjid pun menjadi pusat pelaksanaan tugas-tugas penting pemerintahan Islam. Dunia dikendalikan dari masjid-masjid, dan dari masjid pula umat manusia ber-mi’raj. Tetapi di akhir zaman, masjid tidak lagi seperti itu. Masjid yang seharusnya digunakan untuk mengajarkan agama dan memberikan bimbingan berubah menjadi sekedar dibangun dan diperhias ornamennya saja. Ketika itu masjid-masjid kosong dari orang-orang mukmin. Rasulullah Saw. bersabda, “Masjid-masjid di zaman itu sangatlah megah dan indah, tetapi sepi dari bimbingan dan nasehat.”[19]

C. Para Ulama

Para ulama adalah orang-orang yang menjaga agama Allah di muka bumi, membimbing dan membina masyarakat dengan baik. Dengan susah payah, mereka menyelesaikan berbagai permasalahan agama dengan menggali dan mengeluarkannya dari sumber-sumber ajaran agama, lalu mempersembahkannya untuk kepentingan umat manusia. Tetapi di akhir zaman, tidak ada ulama seperti ini. Ulama di zaman itu adalah seburuk-buruknya ulama di muka bumi. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Para faqih di zaman itu adalah seburuk-buruknya faqih yang hidup di kolong langit ini. Fitnah dan keburukan bermula dari mereka dan kepada merekalah kembalinya.”[20]

Para ulama yang dimaksud adalah ulama istana yang bergantung kepada penguasa zalim. Mereka membenarkan berbagai kezaliman yang dilakukan para penguasa dan memberi stempel islami pada beragam keputusan penguasa tersebut. Mereka adalah ulama yang bersedia duduk di samping orangorang bejat. Sebagaimana para ulama yang menjadi penasehat para raja, yang bergantung kepada Wahabiyah, dengan menganggap memerangi Amerika dan Israil sebagai perbuatan yang tercela. Mereka adalah ulama yang membenarkan berbagai kejahatan Israil dan kejahatan orang-orang Wahabi yang mengganggu para peziarah. Terkadang, tindakan ini diiringi ayat dan riwayat untuk membela para pengganggu itu. Ya, nampaknya kita bisa menyebut mereka sebagai seburukburuknya ulama yang menjadi sumber petaka dan keburukan, yang akhirnya akan kembali ke diri mereka sendiri.

D. Kemurtadan

Satu lagi petanda besar yang ada di akhir zaman adalah keluarnya umat manusia dari agamanya masing-masing. Suatu hari, Imam Husain as. mendatangi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Ketika itu sekelompok orang tengah mengerumuninya. Beliau berkata kepada mereka, “Husain adalah pemimpin kalian. Rasulullah Saw menyebutnya sebagai sang pemimpin dan tuan. Akan datang seseorang dari keturunannya yang akhlak dan perilakunya sama sepertiku. Ia akan memenuhi dunia dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan kekejian.” Beliau ditanya, “Kapan hal ini terjadi?” Beliau menjawab, “Sayang sekali! Ini akan terjadi ketika kalian keluar dari agama kalian, seperti wanita menanggalkan pakaian untuk suaminya.”[21]

E. Jual Beli Agama

Ketika nyawa seseorang tengah berada dalam bahaya, maka ia berkewajiban untuk meninggalkan harta benda demi keselamatan jiwanya. Ketika agama seseorang berada dalam bahaya, maka ia berkewajiban untuk mengorbankan nyawa demi keutuhan agamanya. Namun di akhir zaman kelak agama diperjual belikan dengan harga yang sangat murah dan orangorang yang pagi harinya beriman, sore harinya menjadi kafir.

Rasulullah Saw. menerangkan, “Celakalah orang-orang Arab yang ditimpa mara bahaya. Berbagai musibah tersebar luas, bagai malam yang gelap gulita. Pada pagi hari orang-orang beriman dan di sore harinya menjadi kafir. Sekelompok orang menjual agamanya dengan imbalan yang sangat sedikit dan hina. Orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya eraterat di zaman itu, bagaikan orang yang menggenggam bara api memerah ataupun ranting berduri di tangannya.”[22] []

Bab 3

MORALITAS AKHIR ZAMAN

Melemahnya ikatan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, dan dinginnya perasaan umat manusia serta tiadanya rasa kasih sayang merupakan beberapa ciri-ciri yang jelas pada akhir zaman.

A. Dinginnya Perasaan Manusia

Ketika menggambarkan kondisi perasaan manusia di akhir zaman, Rasulullah Saw. bersabda, “Pada zaman itu, orangorang yang besar tidak mengasihi orang-orang yang kecil dan orang-orang yang kuat tidak menyayangi orang-orang yang lemah. Di saat itulah Allah Swt. mengizinkan Al-Mahdi af. untuk bangkit.”[23]

Beliau juga bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sebelum datangnya suatu masa; ketika seorang lelaki yang sangat fakir mendatangi sanak keluarganya untuk meminta bantuan. Bahkan, ia bersumpah atas nama kekeluargaan, tetapi tetap tidak mendapatkan bantuan sama sekali. Seorang tetangga meminta bantuan dari tetangganya dan bersumpah atas nama kekerabatan, tetapi tetangganya tidak memberikan bantuan.”[24]

Beliau juga bersabda, “Salah satu pertanda dekatnya kiamat adalah buruknya perilaku tetangga terhadap sesamanya dan kendurnya ikatan kekeluargaan.”[25]

Dalam beberapa riwayat, yang dimaksud dengan as-sa’ah (Kiamat) ditakwilkan sebagai kemunculan Imam Mahdi af[26] . Maka, kita menafsirkan berbagai riwayat yang menerangkan tanda-tanda dekatnya Kiamat sebagai riwayat yang menerangkan pertanda dekatnya kemunculan Imam Mahdi af.

B. Dekadensi Moral

Berbagai macam penyimpangan dan kebobrokam yang bermunculan di tengah masyarakat bagi beberapa orang mungkin saja dengan kesabaran dapat ditanggung. Namun kalau kebobrokan tersebut adalah buruknya norma-norma susila, maka tak satu pun orang yang benar-benar beriman mampu menanggungnya, dan justru baginya itu merupakan keburukan yang sangat parah. Salah satu penyimpangan yang sangat buruk dan berbahaya yang akan menimpa masyarakat di akhir zaman ialah ketidakamanan bagi keluarga; terutama para wanita.

Di zaman itu, kebejatan moral tersebar luas. Buruknya perilaku hewani yang dilakukan oleh orang-orang bertubuh manusia dan berwatak hewan tak lagi dapat disadari karena dilakukan secara berulang-ulang. Akhirnya, keburukan menjadi hal yang biasa di tengah umat manusia. Keburukan telah melanda siapa saja dan di mana saja, sehingga sedikit sekali orang yang sanggup menghalanginya, bahkan sangat jarang yang bersedia mencegahnya.

Pesta memperingati 250 tahun dinasti Pahlevi yang berlangsung tahun 1350 HS (penanggalan resmi di Iran) pada masa kekuasaan Muhammad Reza Pahlevi, mempertontonkan berbagai adegan mengumbar hasrat binatang yang sangat buruk. Hal ini telah membangkitkan kemarahan rakyat Iran. Namun di akhir zaman kelak, kita tidak bisa lagi mendengar protes dan kemarahan seperti ini. Paling kerasnya protes dan kemarahan yang akan yang diteriakkan dari mulut seseorang ialah perkataan semisal, “Kenapa di tengah persimpangan jalan, mereka melakukan perbuatan buruk seperti itu?” Inilah sebentuk ekspresi paling tinggi dari amar makruf dan nahi munkar yang ada di zaman itu, dan pelakunya adalah orang yang paling beriman.

Marilah, kita menyimak beberapa riwayat di bawah ini sehingga kita dapat menyelami lebih dalam betapa bencana kepunahan nilai-nilai Islam dan tersebarnya kerusakan di akhir zaman. Rasulullah Saw bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai datangnya suatu zaman yang mana tidak aneh lagi jika ada seorang wanita di siang hari secara terangterangan di hadapan banyak orang dirampas dari lelakinya lalu diperlakukan seenaknya di tengah jalanan. Tapi, tak satu orang pun orang mencela perbuatan tersebut dan tidak mau mencegahnya. Sebaik-baiknya orang di masa itu hanya bisa berkata, ‘Andai kamu sedikit ke pinggir dan tidak melakukannya di tengah jalan!’”[27]

Beliau juga bersabda, “Demi Dzat yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya! Umat ini tidak akan punah sebelum lelaki berdiri menghadang para wanita. Ia bagaikan singa yang menerkam mereka. Sebaik-baiknya orang di antara mereka adalah orang yang hanya berkata, ‘Andai saja kamu menyembunyikannya di balik dinding ini dan tidak melakukannya di depan umum.’”[28]

Pada kesempatan lain, Nabi Saw. bersabda, “Mereka adalah para lelaki bagai hewan liar yang saling memerangi satu sama lain di tengah jalanan. Salah satu dari mereka, berbuat seenaknya terhadap para wanita di depan umum, kemudian menyerahkannya bergiliran kepada yang lain. Tak satu pun orang yang mencela perbuatan tersebut. Sebaik-baiknya orang yang ada di waktu itu adalah orang yang hanya berkata, ‘Ada baiknya jika kamu menjauhi jalanan dan tidak melakukanya di depan umum.’”[29]

C. Perbuatan Asusila Merebak

Muhammad bin Muslim berkata, “Aku bertanya kepada Imam Baqir as., ‘Wahai putra Rasulullah! Kapankah Imam Mahdi akan muncul?’ beliau menjawab: ‘Ia akan muncul ketika para lelaki menjadikan diri mereka seperti perempuan dan para wanita menjadikan diri mereka seperti lelaki. Ia akan muncul saat para lelaki merasa cukup dengan sejenisnya dan para wanita juga merasa cukup dengan sejenisnya (menyinggung permasalahan homoseks dan lesbian)’.”[30]

Riwayat lain dengan kandungan yang sama telah diriwayatkan dari Imam Shadiq as.[31] Abu Hurairah juga menukilkan dari Rasulullah Saw., “Kiamat tidak akan terjadi sebelum tibanya suatu zaman; ketika para lelaki saling mendahului selainnya dalam melakukan perbuatan tercela, sebagaimana yang mereka lakukan dengan para wanita.”[32]

Selain riwayat di atas, terdapat berbagai riwayat lainnya dengan kandungan seperti ini.[33]

D. Mendambakan Sedikit Anak

Rasulullah Saw. bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sebelum munculnya orang yang memiliki lima anak berangan-angan hanya memiliki empat anak saja. Orang yang memiliki empat anak mengatakan, ‘Andai aku hanya punya tiga anak saja.’ Orang yang memiliki tiga anak, juga berangan-angan, hanya memiliki dua anak saja. Orang yang memiliki dua anak, berangan-angan hanya memiliki satu anak saja. Sedangkan orang yang hanya memiliki satu anak mengharap, ‘Andai aku tak punya anak.’”[34]

Dalam riwayat yang lain, Nabi Saw. besabda, “Akan datang suatu hari dimana kalian akan merasa iri terhadap orang orang yang memiliki sedikit anak. Sebagaimana pada hari ini, kalian iri terhadap orang-orang yang memiliki banyak anak. Bahkan, salah seorang di antara kalian yang ketika melewati kuburan saudaranya, maka ia mengguling-gulingkan tubuhnya di tanah kuburan itu dan berkata, ‘Andai aku berada di tempatmu!’ Ucapan ini, tidak dia kemukakan atas dasar rindu kepada Allah atau karena amal perbuatan baiknya, tapi lantaran banyaknya bala dan kesusahan yang menimpa dirinya.”[35]

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi kecuali datang suatu saat dimana anak-anak sedikit sekali.”[36] Dalam riwayat ini terdapat kata walad ghaidh yang berarti pengguguran kandungan dan pencegahan kehamilan. Tetapi, kata ghaizh yang terdapat dalam berbagai riwayat yang lain memiliki arti duka lara dan rasa marah.

Di sini, maksud riwayat tersebut yaitu orang-orang di zaman itu enggan memperbanyak anak dengan cara menggugurkan kandungan dan mencegah kehamilan. Atau bisa juga dikatakan bahwa mereka merasa sedih sekaligus marah karena memiliki anak. Hal ini mungkin dikarenakan susahnya hidup di zaman itu akibat tekanan ekonomi, banyaknya wabah penyakit yang sering menjangkiti anak-anak kecil, kurangnya sarana kehidupan, berbagai propaganda yang mendorong mereka untuk mengontrol jumlah anak, dan faktor-faktor lainnya.

E. Keluarga tanpa Wali Meningkat

Rasulullah Saw. bersabda, “Salah satu petanda dekatnya Hari Kiamat ialah sedikitnya jumlah lelaki dan banyaknya jumlah wanita. Sehingga, sekitar setiap lima puluh orang perempuan, hanya memiliki satu lelaki yang mengayomi mereka.”[37] Tampaknya, kondisi ini adalah dampak dari banyaknya kaum lelaki yang tewas akibat peperangan yang terjadi terus-menerus dan berlangsung begitu panjang.

Nabi Saw. juga bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai datangnya suatu hari ketika sekitar tiga puluh wanita berjalan mengikuti seorang pria dan setiap orang dari mereka memohon untuk dinikahi.”[38]

Beliau dalam riwayat yang lain mengutarakan, “Allah akan memisahkan orang-orang yang Dia cintai dan Dia pilih dari selainnya, sehingga bumi bersih dari kaum munafik dan orang-orang sesat serta dari keturunan mereka. Akan datang suatu masa dimana lima puluh wanita berhadapan dengan seorang pria dan mereka berkata, ‘Wahai hamba Allah, belilah aku!’ Sedangkan yang lain mengatakan, ‘Uruslah aku dan jadilah pelindungku!’”[39]

Anas menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Hari kiamat tidak akan terjadi, kecuali tiba suatu masa (banyaknya nyawa para lelaki yang melayang) ketika seorang perempuan menemukan sebuah sepatu milik seorang lelaki di jalan, dengan sedih ia berkata: ‘Oh … ini adalah sepatu lelaki itu.’

Di masa itu, bagi setiap lima puluh wanita, hanya ada satu pria yang mengayomi mereka.”[40]

Anas berkata: “Apakah kalian tidak ingin mendengarkan sebuah hadis yang telah aku dengar dari Rasulullah Saw.? Beliau bersabda, ‘Para lelaki akan punah dan hanya para wanita yang tersisa’”[41]

Banyaknya para wanita yang tak memiliki penganyom hidup akibat banyaknya peperangan yang terjadi. Selain itu, hal tersebut juga disebabkan oleh susahnya kondisi hidup sehingga pernikahan menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan.[]

DAFTAR ISI:

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN 1

Najmuddin Thabasi 1

Penerjemah: Muhammad Habibi 1

PRAKATA PENERBIT 2

PENDAHULUAN 5

Bagian Pertama 11

DUNIA SEBELUM KEMUNCULAN IMAM MAHDI AF 11

Bab I 14

PEMERINTAHAN 14

A. Pemerintahan Zalim 15

B. Aparat Pemerintahan yang Bejat 18

C. Campur Tangan Perempuan dalam Pemerintahan 19

D. Pemerintahan Anak Kecil 20

E. Pemerintahan yang Goyah 21

F. Penyelenggaraan yang Lemah 22

Bab 2 23

CORAK AGAMA DAN MASYARAKAT 23

A. Islam dan Kaum Muslimin 24

B. Masjid 26

C. Para Ulama 27

D. Kemurtadan 28

E. Jual Beli Agama 29

Bab 3 30

MORALITAS AKHIR ZAMAN 30

A. Dinginnya Perasaan Manusia 30

B. Dekadensi Moral 32

C. Perbuatan Asusila Merebak 35

D. Mendambakan Sedikit Anak 36

E. Keluarga tanpa Wali Meningkat 38