• Mulai
  • Sebelumnya
  • 31 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 224 / Download: 90
Ukuran Ukuran Ukuran
PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN (2)

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN (2)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN

Najmuddin Thabasi

Penerjemah: Muhammad Habibi

PRAKATA PENERBIT

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Pusaka dan peninggalan berharga Ahlul Bait as. yang sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam khazanah mereka merupakan universitas lengkap yang mengajarkan berbagai ilmu Islam. Universitas ini telah mampu membina jiwa-jiwa yang berpotensi untuk menguasai pengetahuan dari sumber tersebut. Mereka mempersembahkan kepada umat Islam ulama-ulama besar yang membawa risalah Ahlul Bait as., ulama-ulama yang mampu menjawab secara ilmiah segala kritik, keraguan dan persoalan yang dikemukakan oleh berbagai mazhab dan aliran pemikiran, baik dari dalam maupun luar Islam.

Berangkat dari misi dan tugas yang diemban, Lembaga Internasional Ahlul Bait (Majma‘ Jahani Ahlul Bait) berusaha mempertahankan kemu-liaan risalah dan hakikatnya dari serangan tokoh-tokoh firqah (kelompok), mazhab, dan berbagai aliran yang memusuhi Islam. Dalam hal ini, kami berusaha mengikuti jejak Ahlul Bait as. dan penerus mereka yang sepanjang masa senantiasa tegar dalam menghadapi tantangan dan tetap kokoh di garis depan perlawanan.

Khazanah intelektual yang terdapat dalam karya-karya ulama Ahlul Bait as. tidak ada bandingannya, karena buku-buku tersebut berpijak pada landasan ilmiah dan didukung oleh logika dan argumentasi yang kokoh, serta jauh dari pengaruh hawa nafsu dan fanatik buta. Karya-karya ilmiah yang dapat diterima oleh akal dan fitrah yang sehat tersebut juga mereka peruntukkan kepada para ulama dan pemikir.

Dengan berbekal sekian pengalaman yang melimpah, Lembaga Internasional Ahlul Bait berupaya mengetengahkan metode baru kepada para pencari kebenaran melalui berbagai tulisan dan karya ilmiah yang disusun oleh para penulis kontemporer yang mengikuti dan mengamalkan ajaran mulia Ahlul Bait as. Di samping itu, lembaga ini berupaya meneliti dan menyebarkan berbagai tulisan bermanfaat dari hasil karya ulama Syi‘ah terdahulu. Tujuannya adalah agar kekayaan ilmiah ini menjadi sumber mata air bagi setiap pencari kebenaran di seluruh penjuru dunia. Perlu dicatat bahwa era kemajuan intelektual telah mencapai kematangannya dan relasi antarindividu semakin ter-jalin demikian cepatnya. Sehingga pintu hati terbuka untuk menerima kebenaran ajaran Ahlul Bait as.

Kami mengharap kepada para pembaca yang mulia kiranya sudi menyampaikan berbagai pandangan berharga dan kritik konstruktifnya demi kemajuan Lembaga ini di masa mendatang. Kami juga mengajak kepada berbagai lembaga ilmiah, ulama, penulis, dan penerjemah untuk bekerja sama dengan kami dalam upaya menyebarluaskan ajaran dan budaya Islam yang murni. Semoga Allah swt. berkenan menerima usaha sederhana ini dan melimpahkan taufik-Nya serta senantiasa menjaga Khalifah-Nya (Imam Al-Mahdi as.) di muka bumi ini.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. Najmuddin Thabasi yang telah berupaya menulis buku ini. Demikian juga kami sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Sdr. Muhammad Habibi yang telah bekerja keras menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia, juga kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan buku ini.

Divisi Kebudayaan Lembaga Internasional Ahlul Bait

PENDAHULUAN

Segera setelah negeri Shush—tempat Nabi Daniel as. dimakamkan—lepas dari kekuasaan orang-orang partai Baath, penduduk di sana secara bertahap kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Dan ketika itulah saya mendapat kehormatan untuk hadir bersama para pejuang. Di masjid jami kota bersejarah itu, saya menyampaikan rangkaian kuliah seputar Imam Zaman af. dengan mengacu kepada kitab Bihar al-Anwar karya ‘Allamah Majlisi ra.

Pada waktu itu, saya menyadari bahwa meskipun banyak sekali permasalahan telah dibahas seputar Imam Mahdi af. seperti: panjangnya usia beliau, falsafah keghaibannya, berbagai faktor penyebab kemunculannya, dan lain sebagainya, namun pembahasan tentang bagaimana imam Mahdi af. bangkit; bagaimana pemerintahannya dan seperti apa ia memimpin, belum menjadi obyek kajian yang memadai. Atas dasar itu, saya bermaksud untuk membahas masalah ini, sehingga barangkali saya dapat menemukan berbagai jawaban untuk beragam pertanyaan yang seringkali mengemuka dan menjadi bahan pikiran khalayak.

Di antara pertanyaan-pertanyaan itu ialah bagaimana Imam Mahdi af. kelak akan menggugurkan berbagai sistem sosial yang memiliki kemampunan dan kekuatan beragam di muka bumi, lalu menggantikannya dengan sebuah sistem pemerintahan global dan mendunia? Bagaimana sistem dan agenda pemerintahan imam Mahdi af., sehingga ketika ia memerintah, tak lagi tersisa kezaliman dan kerusakan sedikit pun di dunia, tak akan pula ditemukan seorang pun yang hidup kelaparan?

Berangkat dari berbagai pertanyaan semacam inilah saya terdorong selama empat tahun untuk melakukan penelitian. Dan tampaknya mulai menemukan hasil; yaitu berupa buku yang ada di hadapan para pembaca yang budiman ini.

Bagian pertama buku membahas kondisi dunia sebelum kemunculan Imam Mahdi af.; kondisi yang berkecamuk dengan peperangan, pembunuhan, kekeringan, kehancuran, kematian, tersebarnya wabah penyakit, kezaliman, ketakutan, dan kekacauan. Kelak kita akan menyimak bahwa pada masamasa itu, umat manusia akan merasa putus asa dan kecewa terhadap keberadaan berbagai sistem pemikiran dan pemerintahan yang semuanya mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia dan menjanjikan kebahagiaan serta keselamatan. Mereka merasa putus asa akan pulihnya situasi dan membaiknya kondisi dunia. Semua pihak ketika itu menanti kedatangan seorang juru penyelamat yang akan membimbing mereka menuju keselamatan.

Bagian kedua, mengupas seputar bagaimana kebangkitan dan revolusi global Imam Mahdi af. Inilah gerakan yang akan dimulai dari dekat Ka’bah dengan diumumkannya kemunculan beliau. Ketika itu, para pengikut sejati beliau dari segala penjuru dunia bergabung dengannya. Pasukan yang luar biasa terbentuk dengan teratur, para pemimpin ditentukan, dan dimulailah berbagai aksi global dalam tingkatan yang semakin meluas.

Imam Mahdi af. akan datang dan melenyapkan kezaliman dan orang-orangnya dari tengah-tengah umat manusia sampai ke akar-akarnya. Umat manusia yang dimaksud di sini tidak hanya terbatas pada mereka yang hidup di kawasan Hijaz, Timur Tengah, dan Asia saja, bahkan meliputi seluruh dunia.

Memperbaiki masyarakat yang dipenuhi berbagai kezaliman dan kerusakan seperti ini adalah pekerjaan yang sangat sulit. Setiap orang yang mengaku akan melakukannya, berarti ia juga mengaku telah memiliki mukjizat yang sangat besar. Sesungguhnya mukjizat seperti ini memang ada dan akan terwujud di tangan Imam Mahdi af.

Adapun bagian ketiga buku ini membahas pemerintahan Imam terakhir kita itu. Untuk menata dunia yang telah dipenuhi kezaliman dan kerusakan, juga mewujudkan legitimasi Islam, pemerintahan yang kuat dan kompeten, Imam Mahdi af. akan membentuk sebuah pemerintahan yang adil yang dibantu para sahabat terbaik di zamannya. Selain itu, ia pun dibantu para pembesar kekasih Allah seperti Nabi Isa as., Salman Al-Farisi, Malik al-Asytar, dan orang-orang baik lainnya yang merupakan al-salaf al-shaleh. Meskipun peran mereka dalam menggulingkan pemerintahan zalim tidak bisa diabaikan, amun peran sejati mereka adalah membangun dan membenahi dunia pada masa pemerintahan Imam Mahdi af.

Apa yang telah dijelaskan secara sederhana dalam pendahuluan ini merupakan pembahasan yang telah memanfaatkan berbagai literatur dari puluhan kitab terkemuka baik dari kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, dengan mengkaji ratusan riwayat dan disajikan secara sistematis dalam format buku yang kami anggap dapat dipertanggungjawabkan argumentasinya.

Walaupun tidak secara sempurna, semoga buku ini dapat melukiskan kondisi umat Islam setelah munculnya sang ratu adil. Mudah-mudahan buku ini dapat diterima oleh Imam Mahdi af. dan bermanfaat bagi seluruh lapisan kaum Muslimin dan orang-orang yang teguh menanti kemunculannya. Dan semoga saja buku ini dapat menambah kesiapan mereka untuk menyambut kedatangan sang Imam.

Kami memohon kepada Allah; Tuhan semesta alam, untuk membangkitkan Imam Khumaini—orang yang telah menampilkan sebuah contoh pemerintahan Imam Mahdi af di negeri Persia—bersama para Nabi dan manuisa-manuisa maksum. Semoga Allah mengaruniai keberhasilan bagi para pecinta Islam yang berkhidmat kepada Ahlul Bait as. dan tanah airnya, dan semoga Allah mengokohkan diri mereka dalam menjaga tanah air ibu kota Islam ini.

Di sini, rasanya penting sekali bagi saya untuk memberikan beberapa penjelasan sebelum Anda membaca buku ini:

 Kami tidak mengklaim telah membawakan pembahasan baru dalam buku ini, karena rangkaian riwayat yang dikemukakan merupakan riwayat yang telah dikumpulkan oleh ulama Islam terdahulu, dan dalam beberapa bagian mereka pun telah menyampaikan kesimpulannya. Tampaknya, kekhususan buku ini tidak terjebak pada berbagai istilah teknis yang sulit. Dengan metode baru, pembahasan disampaikan secara mudah dan gamblang, sehingga dapat dipahami oleh banyak orang.

 Berbagai kesimpulan yang ditarik dari riwayat tertentu yang tidak disebutkan sumber rujukannya adalah pendapat pribadi penulis. Oleh karena itu, mungkin saja dengan penelitian yang lebih mendalam atas berbagai riwayat tersebut akan ditemukan kesimpulan lain.

 Kami juga tidak mengklaim bahwa semua riwayat yang disajikan dalam buku ini adalah riwayat sahih yang tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, sebagaimana permasalahan ini telah dibahas secara terperinci dalam jurnal Entezar. Walaupun demikian, kami berusaha menukilkan apa-apa yang disampaikan oleh ulama hadis dan para penulis ternama dalam berbagai karya mereka. Selain itu, hanya dalam beberapa tempat saja kami membahas kebenaran sanad suatu riwayat; karena kami tidak bermaksud melakukannya dalam buku ini. Lagi pula, kebanyakan riwayat-riwayat yang kami gunakan pada umumnya dapat dipercaya, khususnya riwayat-riwayat dari jalur Ahlul Bait as.

 Riwayat-riwayat dalam buku ini telah dikumpulkan sebelum diterbitkannya kitab Mu’jam Ahadits Al-Imam Al-Mahdi.[1] Oleh karenanya, dalam sebagian tempat, kami mempersilahkan para pembaca untuk merujuk kepada kitab tersebut—yang terlebih dahulu disusun sebelum buku ini—untuk melihat hasil penelitian yang lebih terperinci.

 Dalam beberapa riwayat, kata al-sa’ah (waktu) dan alqiyamah (kiamat) telah ditafsirkan sebagai kemunculan Imam Mahdi af. Oleh karenanya, riwayat-riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda-petanda dekatnya kejadian as-sa’ah dan al-qiyamah kami bawakan sebagai riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda kemunculan Imam Mahdi af.

 Sebagian materi pembahasan dalam buku ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, meskipun telah ada usaha sebelumnya untuk meneliti berbagai permasalahan tersebut. Semoga Allah mengizinkan kami untuk memberikan catatan tambahan hasil penelitian yang lebih baik dalam buku ini pada cetakan berikutnya.

Sebelum mengakhiri kata pengantar ini, sebagaimana riwayat yang menyebutkan, “Barang siapa tidak berterima kasih kepada sesama makhluk, maka ia tidak berterima kasih kepada Sang Khaliq”, sepatutnya saya sampaikan banyak terima kasih kepada saudara-saudara dan teman-teman, khususnya dua saudara besar saya, yaitu Hujjatul Isam Muhammad Jawad dan Muhammad Ja’far Thabasi atas saransaran mereka, demikian juga kepada Hujjatul Islam Ali Rafi’i dan Sayid Muhammad Husaini Shahrudi atas bantuannya dalam menyusun buku ini.

Najmuddin Thabasi Qom, 1378 HS.

Bab 4

KEAMANAN DI AKHIR ZAMAN

A. Kerusuhan Merajalela

Kolonialisme yang dikibarkan negara adidaya merenggut keamanan negara kecil dan pemerintahan yang lemah. Di sini, kebebasan dan keamanan tidak pernah terwujud. Negara adikuasa pada zaman itu terus-menerus menekan dan menginjak-injak harkat dan martabat bangsa-bangsa lain, sehingga mereka tidak bisa menghirup udara segar sekalipun.

Rasulullah Saw. menggambarkan situasi di hari itu dalam sabdanya, “Tak lama lagi, kaum yang memusuhi kalian akan memerangi kalian, seperti orang-orang yang kelaparan menyerang makanan.” Salah seorang sahabat berkata, “Apakah karena jumlah kami sangat sedikit di waktu itu, sehingga kami akan diperangi sedemikian rupa?” Rasulullah Saw. menjawab, “Jumlah kalian di waktu itu banyak sekali. Tetapi, kalian bagaikan berangkal yang terbawa banjir. Allah melenyapkan wibawa dan keagungan kalian dari hati musuh-musuh kalian. Dalam hati kalian akan tertanam kelemahan.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan tertanamnya kelemahan ini?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”[2]

Kedua karakter buruk yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw. itu menyebabkan sebuah bangsa tidak bisa mencapai kebebasan dan kemandiriannya. Selain itu, hal itu juga mengakibatkan mereka tidak berdaya dalam membela hak-haknya. Mereka sudah terbiasa dengan hidup terhina dalam berbagai kondisi, sekalipun harus melepaskan agama dan ajaran-ajaran luhurnya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Al-Mahdi af. akan muncul pada saat dunia dipenuhi dengan kerusuhan; dimana suatu kelompok menyerang kelompok lainnya;[3] orang yang besar tidak mengasihi yang kecil; orang yang kuat juga tidak menyayangi orang-orang yang lemah. Dalam kondisi seperti inilah Allah Swt. memberikan izin kepadanya untuk bangkit.”[4]

B. Jalan yang Tak Aman

Situasi yang kacau dan tidak aman terjadi ke mana-mana, hingga merambah ke jalan-jalan. Secara kasatmata, kekerasan terlihat semakin menjalar ke segala penjuru. Pada zaman seperti inilah Allah Swt. akan menghadirkan Al-Mahdi. Di tangannya benteng kegelapan dihancurkan. Al-Mahdi af. tidak hanya mendobrak pintu-pintu gerbang kezaliman, bahkan juga ditugaskan untuk membuka pintu-pintu hati yang tertutup dari cahaya hakikat dan spiritualitas sehingga mereka dapat menerima kebenaran.

Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada putri tercintanya, “Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya! Sesungguhnya Al-Mahdi af. umat ini adalah orang yang berasal dari keturunan Hasanain as (Imam Hasan dan Imam Husein as).

Ia akan muncul ketika dunia telah dipenuhi dengan kerusuhan, kekacauan dan berbagai musibah yang terjadi secara beruntun dan kasatmata. Jalanan tak lagi aman. Sebagian orang tega menyerang sebagian yang lain. Yang lebih besar tidak lagi menyayangi yang kecil dan yang kecil tidak lagi menghormati yang besar. Dalam kondisi seperti ini, Allah akan menampakkan seseorang yang berasal dari keturunan Hasan dan Husein as. Ia akan menghancurkan pintu gerbang kesesatan.. Ia juga akan membuka hati-hati umat manusia yang selama itu tertutupi kebodohan, sehingga mereka dapat memahami kebenaran. Di akhir zaman, ia akan bangkit, sebagaimana aku bangkit di awal zaman, sehingga bumi penuh dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi telah dipenuhi dengan kezaliman.”[5]

C. Kejahatan Terkeji

Berbagai kejahatan para algojo yang haus darah sepanjang sejarah sangatlah mengerikan. Halaman sejarah kehidupan umat manusia dipenuhi beragam kejahatan yang dilakukan oleh para penguasa zalim terhadap bangsa yang tertindas. Di antara mereka tampak Jengis Khan dan Hitler. Namun, kejahatan yang akan terjadi di akhir zaman kelak adalah kejahatan yang kekejiannya belum pernah dibayangkan sebelumnya. Pada zaman itu, anak-anak kecil akan digantung di tiang-tiang gantungan yang terbuat dari kayu. Mereka akan dibakar dan dimasukkan ke dalam air mendidih. Orang-orang yang tak bersalah akan dipotong-potong dengan geraji atau benda tajam lainnya, kemudian dimasukkan ke dalam penggilingan. Berbagai kejadian tersebut adalah beberapa contoh peristiwa yang kelak akan menimpa umat manusia sebelum berdirinya pemerintahan Al-Mahdi af. Inilah kekerasan penguasa yang mengaku dirinya sebagai pembela hak-hak asasi manusia. Dengan memahami kondisi yang mengerikan seperti ini, kita menyadari betapa pentingnya pemerintahan Al-Mahdi af.; yang dalam riwayat disebut sebagai pelindung orang-orang lemah.

Imam Ali as. menggambarkan kondisi hari itu seperti ini, “Sesungguhnya orang Sufyani akan memerintahkan sekelompok orang untuk mengumpulkan anak-anak kecil di suatu tempat. Kemudian mereka sibuk memanaskan minyak yang akan digunakan untuk menggoreng mereka. Anak-anak kecil itu berkata, ‘Jika ayah-ayah kami menentang kalian, maka apa dosa kami sehingga kalian harus membunuh kami?’ Ia menyeret dua orang anak lelaki yang bernama Hasan dan Husain lalu menggantung mereka. Kemudian, ia pergi ke Kufah dan melakukan hal yang sama terhadap anak-anak kecil di sana. Ia menyeret dua anak yang bernama Hasan dan Husain lalu menggantung mereka di masjid Kufah. Saat ia keluar dari kota itu, ia tetap melakukan perbuatan keji tersebut berkali-kali. Suatu ketika, di tangannya terdapat tombak yang tajam. Ia menangkap seorang wanita yang sedang mengandung. Lalu, ia memerintahkan anak buahnya untuk berbuat semena-mena terhadap diri wanita tersebut. Setelah itu, ia merobek perutnya dan mengeluarkan bayi tak berdosa secara paksa. Ketika itu, tak seorang pun orang yang mampu merubah buruknya kondisi umat manusia.”[6]

Pada suatu kesempatan, Imam Shadiq as. berkata, “Allah menyempurnakan rahmat-Nya dengan perantara anak lelaki dari putri Rasulullah Saw. Ia memiliki kesempurnaan Musa as, kewibawaan Isa as, dan kesabaran serta kegigihan Ayyub as. Di akhir zaman sebelum kemunculannya, sahabatsahabatku akan dihinakan dan kepala mereka bak kepala para bajingan yang dipenggal lalu diarak dan dijadikan sebagai hadiah kerajaan. Mereka akan dibunuh dan dibakar dan hidup dengan dipenuhi rasa takut dan cemas. Bumi akan memerah dengan darah mereka dan lengkingan jerit tangis keluarga mereka menggema. Sungguh mereka adalah sahabat sejatiku. Bersama merekalah Al-Mahdi af. akan memadamkan api fitnah buta dan mengembalikan keamanan dunia lalu merekalah yang akan melepaskan tali kekang yang diikat di tangan dan kaki para tawanan. Salam Allah atas mereka! Sungguh mereka adalah orang-orang yang benar-benar mendapatkan hidayah.”[7]

Ibnu Abbas berkata: “Sufyani dan si Fulan akan keluar dan berperang bersama-sama. Sufyani merobek-robek perut wanita yang sedang mengandung dan merebus anak-anak kecil dalam tungku raksasa.”[8]

Urthat berkata: “Sufyani membunuh siapa saja yang menentangnya. Mereka membelah para penentangnya dengan gergaji. Lalu mereka dimasukkan kedalam tungku raksasa. Kekejian ini akan berlangsung selama enam bulan.”[9]

D. Mengharap Kematian Segera

Rasulullah Saw. bersabda, “Aku bersumpah demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya! Sesungguhnya usia dunia tidak akan berakhir kecuali dengan tibanya suatu masa dimana seorang lelaki melewati pemakaman lalu ia mengguling-gulingkan tubuhnya di atas makam itu seraya berkata, ‘Andai aku yang mati dan berada di tempatmu!’ Padahal masalah yang ia hadapi bukanlah hutang, akan tetapi kesusahan hidup dan tekanan-tekanan zaman yang disebabkan oleh kezaliman.”[10]

Dari pemakaian kata rajul (lelaki) dalam riwayat di atas, kita dapat menarik dua hal; pertama, kesulitan hidup di zaman itu menyebabkan banyak orang yang mengharap cepat mati. Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh beberapa orang atau kelompok tertentu saja, tetapi semua orang pun merasakannya. Kedua, penggunaan kata ‘lelaki’ dalam riwayatitu menunjukkan betapa beratnya problema kehidupan di zaman itu. Karena, pada umumnya para lelaki memiliki daya tahan yang lebih besar di hadapan kesulitan hidup daripada kaum perempuan. Maka, ketika para lelaki saja tidak mampu menahan berbagai kesulitan di zaman itu, kita dapat membayangkan betapa berat kehidupan zaman itu.

Abu Hamzah Tsumali menuturkan bahwa Imam Baqir as. berkata, ‘Wahai Abu Hamzah! Sesungguhnya Imam Mahdi af. tidak akan muncul sebelum rasa takut, kekhawatiran, musibah dan fitnah menyebar di tengah kehidupan umat manusia. Sesungguhnya ia tidak akan muncul sebelum bala bencana yang beraneka ragam menimpa umat manusia, penyakit menular menyebar ke mana-mana, peperangan antara kaum Arab terjadi, semua orang bersengketa, keterikatan umat terhadap agamanya mulai hilang, dan segalanya berubah. Bahkan setiap orang berangan-angan di siang dan malam hari untuk cepat mati, karena begitu banyak kezaliman, penyiksaan, dan pembunuhan yang telah ia saksikan.’”[11]

Hudzaifah sang sahabat menukil dari Rasulullah Saw., “Pasti akan datang suatu hari di mana manusia mengharapkan kematian; meskipun dirinya tidak fakir, tidak miskin, dan tidak mendapatkan tekanan apa pun.”[12]

Ibnu Umar berkata, “Sesungguhnya akan datang suatu hari akibat banyaknya cobaan dan bala yang menimpa umat manusia di muka bumi; seorang yang beriman mengharap untuk pergi bersama keluarganya ke tengah lautan dengan menaiki perahu, lalu hidup di sana.”[13]

E. Kaum Muslimin Banyak Ditawan

Hudzaifah bin Yaman menuturkan, “Ketika Rasulullah Saw. sedang menyebutkan satu per satu kesulitan yang akan menimpa kaum Muslimin, beliau bersabda, ‘Karena berbagai kesulitan hidup yang menimpa, mereka rela menjual orangorang yang sebenarnya bebas; para lelaki dan wanita akhirnya menjadi budak, orang-orang musyrik menjadikan orang-orang yang beriman sebagai budak dan pesuruhnya. Bahkan, mereka menjualnya ke kota-kota dan tak seorang pun yang merasa kasihan, baik orang-orang yang baik maupun orangorang yang buruk.

“Wahai Hudzaifah! Bencana yang menimpa orang-orang di zaman itu terus berlangsung, sehingga mereka putus asa dan menganggap buruk kelapangan hidup. Pada zaman seperti inilah Allah akan mengirim seorang lelaki dari keturunanku; orang yang adil, diberkahi, suci, dan tidak akan membiarkan adanya kebatilan sekecil apa pun. Allah akan memuliakan Islam dan al-Qur’an beserta orang-orang yang kelak membelanya. Begitu pula, Dia akan menghinakan kesyirikan sehinahinanya. Al-Mahdi af. selalu takut kepada Tuhannya dan tidak pernah merasa sombong hanya karena ia dari keturunanku. Ia tak akan melempar seorang pun dengan batu dan tidak akan menyabetnya dengan pecut melainkan atas dasar kebenaran dan demi menjalankan hukum Allah. Allah akan menghapus bid’ah-bid’ah dengan menghadirkannya. Ia juga akan melenyapkan fitnah-fitnah yang ada. Ia akan membuka pintu kebenaran dan menutup pintu kebatilan, lalu membebaskan kaum Muslimin yang berada di mana saja dan mengembalikan mereka ke tempat tinggalnya masingmasing.”[14]

F. Ditelan Bumi

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya umatku akan mengalami suatu zaman dimana mereka saling bertanya kepada sesamanya, baik siang maupun malam, tentang siapakah yang ditelan bumi hari itu dan siapakah yang masih hidup pada hari itu. Di antara mereka saling bertanya, ‘Apakah orang yang hari ini masih hidup?’”[15]

Tampaknya, ucapan beliau mengisyaratkan betapa sengitnya peperangan yang akan terjadi di akhir zaman. Dengan senjata pembunuh masal tercanggih, setiap harinya banyak nyawa melayang. Barangkali, karena dosa umat manusia di akhir zaman yang begitu besar, bumi menelan sebagian orang yang berjalan di atasnya.

G. Meningkatnya Kematian Mendadak

Rasulullah Saw. bersabda, “Salah satu petanda dekatnya Hari Kiamat adalah tersebarnya penyakit kelumpuhan dan kematian secara tiba-tiba.”[16] Beliau juga mengatakan, “Hari Kiamat tak akan tiba sampai datangnya kematian putih.” Orang-orang bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah kematian putih itu?” Beliau menjawab, “Kematian secara tiba-tiba.”[17]

Imam Ali as. berkata, “Sebelum Imam Mahdi muncul, sering terjadi kematian merah dan kematian putih … kematian putih adalah tha’un (sejenis wabah—pent.).”[18]

Imam Muhammad Baqir as. berkata, “Al-Qaim (Imam Mahdi af.) tidak akan muncul kecuali tibanya suatu zaman dimana rasa takut melanda setiap orang dan sebelumnya penyakit tha’un menyebar ke mana-mana.”[19]

H. Putus Asa akan Keselamatan

Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Ali! Al-Mahdi kelak akan muncul ketika kota-kota telah berubah, hamba-hamba Allah menjadi lemah dan putus asa akan kedatangannya. Pada kondisi seperti inilah Al-Mahdi dari keturunanku akan muncul.”[20]

Abu Hamzah Tsumali menuturkan bahwa Imam Muhammad Baqir as. berkata, “Al-Mahdi akan muncul ketika semua orang telah berputus asa dari pertolongan Allah dengan kedatangannya.”[21]

Mengenai hal ini, Imam Ali as. mengatakan, “Sesungguhnya akan datang seseorang dari Ahlul Baitku yang akan menempati kedudukanku. Periode kepemimpinannya akan berjalan setelah melewati masa-masa yang sangat sulit dan penuh musibah; yaitu masa ketika bala dan bencana mencapai puncaknya dan harapan telah hilang dari hati manusia.”[22]

I. Tiada Tempat Berlindung dan Penolong

Rasulullah Saw. bersabda, “Begitu dasyatnya bala dan bencana yang menimpa umat ini, sehingga mereka tidak menemukan tempat berlindung dan penolong yang dapat melindungi mereka dari kezaliman.”[23]

Beliau juga bersabda, “Kelak, akan datang bala dan bencana kepada umatku dari arah para penguasa mereka, sehingga seorang mukmin tidak menemukan tempat berlindung dan penolong baginya dari kezaliman mereka.”[24]

Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku sampaikan berita gembira kepada kalian, yaitu kedatangan Al-Mahdi putra Fathimah az-Zahra. Ia akan datang dari arah barat dan akan memenuhi dunia dengan keadilan.” Lalu, seseorang bertanya, “Ya Rasulullah! Kapankah ia akan datang?” Beliau menjawab, “Ketika para hakim menerima harta suap dan umat manusia menjadi pendosa.” Lalu, seseorang bertanya, “Seperti apakah Al-Mahdi?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ia terpisah dari keluarga dan kerabatnya, berikhtiar sendiri, jauh dari kampung halamannya, dan tinggal dalam keterasingan.”[25]

Imam Muhammad Baqir as. berkata, “Orang yang kalian nantikan tidak akan datang kecuali kalian telah menjadi domba-domba yang mati dalam cabikan cakar-cakar binatang buas, yang tidak membedakan siapakah yang mereka terkam. Pada saat itu, kalian tidak akan menemukan daerah yang jauh dari penyerangan yang dapat mengamankan diri di sana. Kalian pun tidak menemukan persembunyian yang aman sebagai tempat berlindung.”[26]

J. Perang, Pertumpahan Darah dan Petaka

Dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa sebelum kemunculan Imam Mahdi af, segala penjuru bumi dilanda peperangan dan pertumpahan darah. Sebagian riwayat mengungkapkan berbagai musibah. Dalam riwayat lainnya diceritakan terjadinya peperangan yang berturut-turut. Sebagian yang lain membicarakan kematian umat manusia yang disebabkan peperangan dan wabah penyakit seperti tha’un dan lain sebagainya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Setelahku, muncul empat musibah yang akan menimpa kalian. Pada musibah pertama, darah menjadi mubah dan pertumpahan darah terjadi di mana-mana. Pada fitnah kedua, darah dan harta menjadi halal, lalu pembunuhan dan perampokan terjadi di manamana. Pada musibah ketiga, darah, harta, dan wanita dianggap mubah. Ketika itu, selain pembunuhan dan perampokan yang terjadi di mana-mana, kehormatan manusia pun tidak lagi aman. Pada musibah keempat, sebagaimana musibah tuli dan buta, bagaikan perahu yang dihempas ombak di tengah lautan luas, semua orang tidak dapat berlindung darinya. Musibah itu terbang dari Syam, lalu menyebar di Irak dan menjejakkan kaki di Hijaz. Segala musibah dan bencana menyiksa umat manusia dan tak seorang pun yang mampu menghindarinya. Setiap kali seseorang menghindarinya, maka musibah itu datang dari arah yang lain.”[27]

Dalam hadis yang lain beliau bersabda, “Setelahku akan datang beberapa musibah, ketika itu tidak ada jalan keluar bagi umat manusia untuk menghindarinya. Pada waktu itu, peperangan dan kerusakan terlihat di mana-mana. Setelah itu datang musibah yang lebih berat dari pada yang terjadi sebelumnya. Belum usai musibah di suatu tempat, terjadi musibah lainnya. Sehingga, tak satu pun rumah-rumah bangsa Arab yang aman dari musibah tersebut. Tidak seorang muslim pun yang tidak terkena bencana ini. Maka, pada waktu itulah seorang lelaki dari keluargaku akan muncul.”[28]

Beliau juga bersabda, “Sungguh setelahku akan muncul berbagai musibah. Ketika suatu musibah mulai sirna, datang musibah dari arah yang lain, hingga terdengar teriakan dari langit, ‘Pemimpin kalian adalah Al-Mahdi!’”[29]

Berbagai riwayat di atas menjelaskan banyaknya musibah sebelum kemunculan Imam Mahdi af. Namun, dalam riwayat lainnya dengan jelas menerangkan terjadinya peperangan dasyat di akhir zaman.

Ammar Yasir berkata, “Pesan dan perintah Rasulullah Saw. dan Ahlul Bait as. untuk kalian di akhir zaman adalah menjauhi peperangan dan pertumpahan darah sampai pada saat para pemimpin Ahlul Bait kalian lihat; yang mana pada waktu itu orang-orang bangsa Turki dan Romawi saling bersengketa dan peperangan terjadi di mana-mana.”[30]

Beberapa riwayat menerangkan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di akhir zaman sebelum nampaknya Imam Mahdi af. Sebagian riwayat ini ada yang menjelaskan pembunuhan dan pertumpahan darah itu sendiri, dan sebagian yang lain menerangkan maraknya perbuatan itu dilakukan.

Imam Ridha as bersabda, “Sebelum munculnya Imam Mahdi af, akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah yang berkelanjutan tanpa henti.”[31]

Abu Hurairah berkata, “Di kota Madinah, akan terjadi pertumpahan darah. Ketika itu daerah Ahjaruz Zait[32] akan porak-poranda. Kejadian itu belum pernah terjadi sebelumnya dan kejadian Harrah[33] jika dibandingkan dengannya, tidak lebih dari sekedar sabetan cemeti biasa. Setelah kejadian itu, ketika mereka menjauh dari kota Madinah sejauh 10 Farsakh, Imam Mahdi af. mulai dibaiat.”[34]

Abu Qubail berkata, “Seseorang dari Bani Hasyim akan memegang tampuk pemerintahan. Ia hanya membunuh Bani Umayah secara besar-besaran dan tak ada yang selamat dari antara mereka kecuali beberapa orang saja. Setelah itu keluarlah seseorang lelaki dari Bani Umayah dan membunuh banyak orang, sehingga tak ada yang tersisa kecuali para wanita.”[35]

Rasulullah Saw. bersabda, “Aku bersumpah demi Allah yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya. Dunia tidak akan berakhir sebelum datangnya suatu hari, ketika pembunuh tidak mengetahui untuk apa dirinya membunuh dan orang yang mati terbunuh pun tidak mengetahui sebab kematiannya. Huru-hara terjadi di mana-mana. Pada zaman seperti itulah orang yang membunuh dan yang dibunuh memasuki neraka.”[36]

Imam Ali as. bersabda, “Sebelum Al-Mahdi muncul, dunia akan dilanda dua jenis kematian: kematian putih dan kematian merah. Kematian merah adalah kematian dengan pedang dan kematian putih adalah kematian dengan Tha’un.”[37]

Imam Baqir as. bersabda, “Terdapat dua keghaiban untuk AlQaim af., salah satunya lebih panjang dari yang lain. Pada zaman itu, umat manusia ditimpa dengan bencana kematian dan pertumpahan darah.”[38] Jabir berkata, “Aku bertanya kepada Imam, ‘Kapankah Al Mahdi akan muncul?’ Imam menjawab, ‘Wahai Jabir! Bagaimanakah ia akan muncul, sedangkan saat ini di antara Hirah[39] dan Kufah masih jarang mayat-mayat yang bergelimpangan?’”[40]

Imam Ja’far Shadiq as. bersabda, “Sebelum Al-Mahdi af. muncul, akan ada dua macam kematian, yaitu kematian merah dan kematian putih. Banyak orang yang mati karenanya, sehingga kira-kira di antara tujuh orang, ada lima orang yang mati.”[41]

Imam Ali as. bersabda, “Imam Mahdi tidak akan muncul, kecuali sepertiga umat manusia mati terbunuh, sepertiga yang lain meninggal biasa, dan sepertiga yang lainnya tersisa.”[42]

Seseorang bertanya kepada Imam Ali as, “Apakah ada tanda dan pertanda untuk kemunculan Al-Mahdi af.?” Beliau menjawab: “Na’am. Qatlun fadzi’, mautun sari’, wa tha’unun syani’.”[43]

Menurut penjelasan Irsyadul Qulub[44] , “qatlun dzari’” yakni pembunuhan yang cepat dan terjadi di mana-mana.

Dalam kitab Madinatul Ma’ajiz[45] , “qatlun radli’” berarti hina.

Menurut Hilyatul Abrar[46] , “qatlun fadli’” berarti pahit dan menyakitkan.

Makna riwayat di atas adalah, “Ya, kemunculan Al-Mahdi af. memiliki tanda dan pertanda antara lain: pembunuhan yang terjadi di mana-mana, menyakitkan, hina, cepat, terusmenerus dan menyebarnya penyakit Tha’un.”

Muhammad bin Muslim menuturkan bahwa Imam Shadiq as. bersabda, “Imam Zaman af. tidak akan muncul kecuali dua pertiga penduduk dunia telah binasa.” Kemudian beliau ditanya, ‘Jika dua pertiga penduduk dunia biasa, lalu berapa yang tersisa?’ Beliau menjawab, ‘Apakah engkau tidak suka jika engkau termasuk dari sepertiga penduduk dunia yang tersisa?’”[47]

Imam Shadiq as. bersabda, “Kemunculan Imam Mahdi af. tidak akan terwujud kecuali sembilan persepuluh penduduk dunia telah binasa.”[48]

Imam Ali as bersabda, “… Pada waktu itu, umat manusia yang tersisa hanya sepertiga jumlah yang sebenarnya.”[49]

Rasulullah Saw. bersabda, “Dari sepuluh ribu nyawa, sebanyak sembilan ribu sembilan ratus nyawa yang melayang. Sungguh hanya sedikit sekali yang selamat dan terus hidup.”[50]

Ibnu Sirin berkata, “Imam Mahdi af. tidak akan muncul kecuali dari sembilan orang manusia, tujuh orang dari mereka mati terbunuh.”[51]

Dari sekumpulan riwayat-riwayat di atas, kita dapat manarik kesimpulan di bawah ini:

o Sebelum Imam Mahdi af. muncul, akan terjadi banyak pertumpahan darah. Ketika itu, begitu banyak nyawa manusia yang melayang. Adapun, orang-orang yang tersisa dan selamat, lebih sedikit jumlahnya dari pada yang terbunuh.

o Sebagian orang yang terbunuh dalam peperangan. Sebagian lainnya mati akibat ganasnya wabah penyakit menular yang menyebar di zaman itu. Besar kemungkinan bahwa penyakit ini timbul dari mayat-mayat yang bergeletakan korban peperangan. Ada kemungkinan mereka meninggal dunia akibat senjata-senjata kimia yang menyebarkan bakteria penyebab munculnya berbagai penyakit.

o Di antara orang-orang yang tersisa dan selamat dari kematian, terdapat para pecinta Imam Mahdi af, karena merekalah yang akan membaiat beliau. Sebagaimana telah diungkapkan oleh Imam Shadiq As dalam sabda beliau: “Apakah engkau tidak suka, jika engkau termasuk dari sepertiga penduduk dunia yang tersisa?”[]

Bab 5 KESEJAHTERAAN DI AKHIR ZAMAN

Berdasarkan berbagai riwayat dalam pembahasan ini, akibat meluasnya berbagai kerusakan dan kebatilan yang merajalela, hilangnya rasa kasih sayang dan, terjadinya peperangan, perekonomian dunia berada pada kondisi yang terburuk. Selain langit yang tidak lagi mencurahkan rahmatnya, turunnya hujan yang sebenarnya rahmat Ilahi berubah menjadi azab dan bencana.

Ya, di akhir zaman, hujan sangat jarang turun. Jika turun pun, itu tidak pada musimnya, sehingga menyebabkan rusaknya berbagai lahan pertanian. Sungai-sungai dan danau menjadi kering dan para petani tak lagi dapat menuai hasil panennya. Begitu juga jual beli, tidak sesemarak dulu lagi. Kefakiran dan kelaparan melanda penduduk dunia, sehingga sebagian orang rela membawa anak-anak perempuan dan para wanita mereka ke pasar, lalu ditukar dengan beberapa suap makanan.

A. Hujan Langka dan Turun Tidak Pada Musimnya

Rasulullah Saw. bersabda, “Akan datang suatu zaman, ketika itu Allah mengharamkan hujan untuk turun pada musimnya dan hujan sama sekali tidak turun, lalu turun bukan pada musimnya.”[52]

Imam Ali as. bersabda, “… hujan akan turun di musim panas, pada cuaca yang panas.”[53]

Mengenai hal ini Imam Shadiq as. bersabda, “Sebelum Imam Mahdi af. muncul, akan datang suatu masa dimana hujan turun dengan sangat lebat sehingga buah-buahan menjadi rusak dan begitu juga kurma-kurma. Maka janganlah sampai kalian terjebak dengan keraguan dan syubhat di zaman itu!”[54]

Imam Ali as. bersabda, “… hujan menjadi sedikit, sehingga tanah tak lagi menumbuhkan tumbuhan dan langit menurunkan airnya. Di saat seperti inilah Mahdi akan muncul.”[55]

Atha’ bin Yasar berkata, “Salah satu pertanda Hari Kiamat adalah datangnya suatu masa ketika hujan tetap turun, namun ladang tidak dapat menumbuhkan tanaman.”[56]

Imam Shadiq as. bersabda, “… ketika Imam Mahdi af. dan pasukannya bangkit, air di bumi sangat langka. Orangorang yang beriman merintih memohon air dari Allah, lalu Allah pun menurunkan air dan mereka meminumnya.”[57]

B. Danau dan Sungai Kering

Rasulullah Saw. bersabda, “Kota-kota di Mesir akan hancur, karena keringnya sungai Nil.”[58]

Arthat menuturkan, “Ketika itu, Furat dan sungai-sungai serta dan mata air dilanda kekeringan.”[59]

Disebutkan pula, “Danau Tabristan mengering dan pohonpohon kurma tidak memberikan buahnya. Mata air Za’r yang berada di Syam, lenyap ditelan bumi.”[60]

Dijelaskan juga, “… sungai-sungai mengering, kekeringan yang biasa terjadi tiga tahunan menjadi panjang, dan barang-barang pun melonjak mahal.”[61]

C. Kelaparan, Kemiskinan dan Sepinya Perdagangan

Seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah! Kapankah Kiamat itu tiba?” Beliau menjawab, “Sungguh orang yang ditanya (beliau sendiri) tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya. Tetapi, Kiamat memiliki beberapa pertanda, seperti rusaknya pasar.” Orang itu bertanya lagi, “Apa maksud dari kerusakan pasar?” Rasulullah Saw. menjawab, “Pasar dan perdagangan tanpa laba, sebagaimana turunnya hujan yang tidak menyebabkan tumbuhtumbuhan berbuah.”[62]

Imam Ali as. bersabda kepada Ibnu Abbas, “Perdagangan dan jual beli meningkat, namun masyarakat hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Setelah itu, dilanda paceklik dan kekeringan.”[63]

Muhammad bin Muslim menuturkan bahwa ia mendengar Imam Shadiq as. bersabda, “Sebelum kemunculan Imam Mahdi af., terdapat beberapa pertanda dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.” Ia bertanya, ‘Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu. Apakah pertanda itu?’ Beliau menjawab, “Pertanda itu adalah firman Allah Swt. yang berbunyi, ‘Sungguh kami akan menguji kalian dengan sesuatu dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buahbuahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar .’”[64] Kemudian beliau bersabda, “Allah menguji hambahamba yang beriman di hari itu, mereka takut akan pemerintahan bani fulan di akhir masa kekuasaannya. Maksud dari kelaparan, adalah mahalnya harga. Sedangkan yang dimaksud dengan kekurangan harta, adalah rendahnya daya beli dan minimnya pendapatan. Adapun yang dimaksud dengan berkurangnya nyawa, adalah kematian yang cepat dan terusmenerus. Pengertian dari kurangnya buah-buahan, adalah sedikitnya hasil panen pertanian. Maka kabarkanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar, yakni berita mengenai kedatangan Al-Mahdi (af.) di masa itu.’”[65]

Berdasarkan keterangan dari kitab A’lamul Wara’, maksud dari rendahnya transaksi adalah perdagangan yang merugi dan jual beli yang tidak adil.[66]

Imam Shadiq as. bersabda, “… di waktu itu, ketika Sufyani muncul, bahan pangan menipis, musim paceklik datang, dan hujan jarang turun.”[67]

Ibnu Mas’ud berkata, “Ketika perdagangan telah hancur dan jalanan menjadi rusak, pada saat itu Imam Mahdi akan muncul.”[68]

Nampaknya, kondisi perdagangan yang buruk di zaman itu disebabkan oleh rusaknya berbagai pusat produksi di beragam sektor industri, minimnya sumber daya manusia, berkurangnya daya beli, kekeringan, tak amannya jalanan, dan berbagai kendala lainnya.

Dalam Musnad Ahmad disebutkan, “Sebelum kemunculan Imam Mahdi (af.), manusia akan dilanda kelaparan yang sangat berat selama tiga tahun.”[69]

Abu Hurairah berkata, “Betapa malang orang-orang Arab atas bahaya-bahaya yang mendekati mereka. Kelaparan yang sangat parah akan dirasakan banyak orang, ibu-ibu menangis akibat anak-anaknya yang kelaparan.”[70]

D. Para Wanita Ditukar Bahan Pangan

Kekeringan dan kelaparan di akhir zaman sangatlah sulit dihadapi, sehingga sebagian orang rela menjual anak-anak perempuannya demi mendapatkan sedikit makanan.

Abu Muhammad meriwayatkan dari seorang lelaki yang berasal dari Maghrib,[71] “Mahdi tidak akan muncul, sebelum datang suatu masa di mana seorang lelaki membawa anak perempuan dan budak perempuan cantiknya ke pasar seraya berkata, ‘Siapakah yang mau membeli anak ini, dengan imbalan memberikan beberapa makanan kepadaku?’ Dalam kondisi seperti inilah Imam Mahdi af. akan muncul.”[72] []

Bab 6 SECERCAH HARAPAN

Pada beberapa pembahasan yang lalu, kita telah menyimak berbagai riwayat yang menggambarkan kondisi dunia sebelum kemunculan Imam Mahdi af. Di satu sisi, berbagai riwayat itu melaporkan kehancuran dan malapetaka bagi umat manusia di akhir zaman, yang menuai rasa pesimis bagi umat manusia. Namun di sisi lain, terdapat beberapa riwayat yang menyulut obor penerang dan secercah harapan, bagi para pengikut kebenaran dan orang-orang yang beriman.

Sebagian dari riwayat ini bercerita tentang adanya orang-orang yang beriman. Dunia tak sekejap mata pun kosong dari mereka. Pada masa sebelum kemunculan Imam mahdi af., mereka tersebar di segala penjuru dunia dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Beberapa riwayat, menjelaskan peran para ulama Islam pada zaman keghaiban. Dalam riwayat-riwayat tersebut, mereka diperkenalkan sebagai para penjaga agama. Menurut sebagian riwayat dari para Maksum as., terdapat penjelasan tentang peranan kota Qom sebelum kemunculan Imam Mahdi af. Selain itu, terdapat beberapa riwayat yang menggambarkan peran aktif orang-orang Iran sebelum dan sesudah Imam Mahdi af. muncul.