Perempuan dalam Al-Quran Bagian Pertama
pengarang: irib indonesia
: Tanpa Nama
: Tanpa Nama
Kategori: Al Qur'an Al Karim
pengarang: irib indonesia
: Tanpa Nama
: Tanpa Nama
Kategori: Al Qur'an Al Karim
Perempuan
dalam Al-Quran
Ketika perempuan dianggap sebagai entitas hina dan manusia derajat kedua serta tidak memiliki ufuk kehidupan yang jelas dalam semua budaya suku dan bangsa-bangsa di dunia, mentari Islam terbit. Dalam agama suci ini, pahala perempuan dan laki-laki setara dan menyebutkan, "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab: 35)
Di antara ajaran-ajaran penting Islam, salah satu program paling tinggi yang telah menunjukkan agama memimpin semua agama adalah untuk menghilangkan ketidakadilan terhadap perempuan. Islam menghancurkan fondasi kelebihan berdasarkan etnis, ras, seksual dan keuangan dan menempatkan semua manusia baik laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, Arab dan Ajam, hitam dan putih, jelek dan cantik dalam satu barisan yang sama.
Agama Samawi ini hanya mengakui satu-satunya kriteria superioritas manusia adalah ketakwaan dan nilai-nilai spiritual dan keutamaan akhlak. Allah Swt dalam ayat 13 surah al-Hujurat berfirman, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu."
Klarifikasi lebih lanjut tentang status perempuan sebelum dan sesudah Islam membutuhkan pengakuan status perempuan dalam masyarakat pada masa itu, terutama masyarakat beradab. Masyarakat manusia, masing-masing berdasarkan pada manfaat peradaban, menampilkan berbagai jenis perilaku sosial. Di antara tindakan dan perilaku ini, interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam komunitas manusia telah lama menarik perhatian para peneliti sosial. Masyarakat awal memberinya status yang layak dalam hal fungsi khusus gender untuk pria dan perempuan. Ini berbeda di berbagai peradaban.
Informasi sejarah menunjukkan bahwa posisi perempuan, di antara banyak bangsa yang berbeda, belum mendapat tempat yang cocok untuk martabatnya. Di banyak masyarakat di masa lalu, pandangan yang memalukan diterapkan pada wanita dan ia dianggap entitas lemah dan tidak penting. Bukan saja mereka tidak menghormati perempuan, tetapi menganggap wanita hanya sebagai sarana untuk pria menikmatinya. Pria tidak memiliki batasan dalam memiliki istri dan setiap kali menginginkan, ia dapat menceraikan istrinya. Dan dalam beberapa kasus, perempuan yang diceraikan itu tidak memiliki hak untuk menikah lagi dan dilarang untuk bersosialisasi di luar rumah.
"Orang Yunani" yang dikenal beradab dan dianggap sebagai asal-usul peradaban modern Barat menganggap perempuan sebagai makhluk yang tak dapat disucikan dan dilahirkan oleh setan. Tugas terpenting perempuan adalah untuk melayani dan memuaskan naluri seksual pria.
Di sisi lain, meskipun bangsa Romawi telah maju dalam hukum dan hak, tetapi kepercayaan mereka pada perempuan adalah bahwa mereka tidak pantas untuk dibangkitkan di hari kiamat karena tiudak memiliki ruh manusia. Di mata orang-orang Romawi, perempuan adalah manifestasi iblis dan segala jenis hantu, jadi mereka dilarang untuk tertawa dan berbicara dan biasanya mulut perempuan ditutupl, kecuali untuk makan. Di Roma, perempuan selalu di bawah perwalian dan mereka perlu dijaga dan setelah kematian wali mereka, mereka diwarisi seperti benda.
Jika seorang anak perempuan dilahirkan di Cina, keluarga dekat dan kerabatnya menyampaikan puncak duka cita kepada ayah dan keluarganya. Mereka lalu membunuh anak-anak gadis itu hidup-hidup dan membuangnya ke padang pasir atau dijual sebagai budak. Orang Cina beranggapan Tuhan adalah pencipta anak laki-laki dan iblis adalah pencipta anak perempuan, jadi mereka melihat anak laki-laki diberkati dan anak perempuan dikutuk. Anak-anak gadis dikorbankan kepada para dewa di Cina sudah biasa.
Perempuan juga memiliki kondisi yang buruk di antara orang-orang Arab Jahiliah. Mereka hidup dalam situasi yang mengerikan dan dijual sebagai barang. Mereka tidak memiliki hak individu dan sosial, bahkan tidak berhak mewarisi. Mereka menempatkan perempuan sejajar dengan binatang dan menganggapnya sebagai bagian dari perabot rumah tangganya. Menguburkan anak-anak perempuan sudah menjadi hal yang biasa. Budaya Jahiliah Arab mengakui martabat dan kehormatan dengan memiliki anak laki-laki dan mengasuh anak-anak perempuan sebagai aib dan karenanya mereka harus dibunuh.
Al-Quran dalam ayat 58-59 surah al-Nahl berfirman, "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu."
Meskipun terkadang di beberapa tempat ditemukan perempuan kuat, tapi fenomena dominannya adalah inferioritas dan penindasan terhadap wanita. Kekejaman dan kezaliman terhadap perempuan dan terutama, kurangnya kesadaran perempuan di beberapa tempat hanyalah sudut kegelapan dan kehancuran masyarakat manusia yang merasa perlu penyelamat dan keselamatan ilahi untuk menyembuhkan luka-luka mereka dengan segala keberadaannya. Islam muncul pada masa krisis sedemikian rupa sehingga tidak hanya perempuan yang tidak dikasihani, tapi banyak juga laki-laki yang menderita dan harus melewati kegelapan ini.
Pada suatu waktu, ketika dalam semua budaya etnis dan bangsa di dunia, "perempuan" dianggap sebagai entitas rendah dan manusia derajat kedua dan kepahitan serta keterbatasan di seluruh sendi kehidupan dan tidak memiliki ufuk kehidupan yang jelas, mentari Islam terbit dan menyulut cakrawala hidupnya. Panggilan penuh kasih sayang Nabi Muhammad Saw yang penuh rahmat menghembuskan semangat dan harapan ke dalam tubuhnya dan membuka jalan kepadanya menuju kemajuan dan kesempurnaan.
Nabi Muhammad Saw menunjukkan posisi penting perempuan dalam komunitas manusia dan posisi serta kemampuan dan bakatnya yang tinggi yang diberikan oleh Sang Pencipta dan ayat-ayat al-Quran menjelaskan tentang pengenalan posisi perempuan dan nilai tertinggi-Nya kepada manusia. Sejatinya, Nabi Muhammad Saw memperkenalkan perempuan sebagai manusia sempurna dan layak untuk memiliki semua kesempurnaan dan martabat manusia dan menekankan bahwa laki-laki danperempuan layak menjadi khalifah ilahi.
Al-Quran sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw adalah kitab ilahi yang paling solid dan paling dapat diandalkan diturunkan oleh Sang Pencipta untuk membimbing dan kebahagiaan umat manusia. Ajaran dan fakta-fakta al-Quran terjaga dari segala penyimpangan, ada di setiap masa dan tetap segar bagi manusia dan berbicara kepada setiap laki-laki dan perempuan, karena mereka terhubung ke titik agung, hidup dan abadi. Namun terlepas dari diskusi umum, al-Quran telah mengangkat beberapa masalah yang lebih spesifik mengenai perempuan dalam lebih dari dua ratus ayat. Pandangan al-Quran terhadap perempuan adalah cara pandang yang sama terhadap manusia. Dengan kata lain, laki-laki dan perempuan dalam al-Quran adalah manusia yang satu dalam sisi identitas dan kepribadian dan satu-satunya parameter nilai dan keunggulan mereka dalam kitab ilahi ini adalah perolehan kebajikan, martabat, dan takwa ilahi.
Dari perspektif al-Quran, sarana pendidikan yang paling penting adalah mengolah dengan teladan atau contoh praktis. Oleh karena itu, dalam kitab ilahi ini, ada sejumlah teladan disajikan kepada orang-orang untuk menyadari dan dapat merealisasikannya dalam dirinya, sehingga seperti contoh aslinya. Setiap orang sesuai dengan kapasitas dan bakatnya akan merealisasikannya dalam dirinya dan sesuai kemampuannya ia berusaha untuk mencapai kesempurnaan dari puncak keilmuan dan kebaikan. Islam melihat peran teladan sebagai sarana pendidikan terbesar dan fondasi metode pendidikannya didasarkan pada fondasi ini lebih dari apa pun.
Karena contoh-contoh yang disebutkan dalam percakapan biasa serta dalam presentasi topik dan diskusi ilmiah, memainkan peran penting dalam memahami dan menguasaimateri. Al-Quran telah memberikan contoh dalam banyak kasus untuk memahami subjek atau peristiwa. Oleh karena itu, sebagai contoh orang-orang saleh, seperti para Nabi dan para wali Allah dan begitu juga telah menunjukkan contoh orang-orang yang membangkang dan lalai seperti Firaun, Qarun dan Samiri untuk mengetahui nasib pahit mereka. Contoh-contoh perempuan layak juga ditampilkan untuk menjadi teladan, begitu juga contoh perempuan yang bersalah dan tersesat untuk mengingatkan agar menghindari oleh cara mereka. Sebenarnya, al-Quran menyajikan pola perilaku dan teladan, selain yang ilmiah dan praktis, untuk promosi dan pertumbuhan manusia menuju kesempurnaan.
Perlu disebutkan bahwa Islam telah memperhatikan aspek manusia dalam pengenalan pola-pola dan telah menyoroti untuk menjelaskan kepada komunitas manusia bahwa ajaran-ajaran Islam dapat dicapai dan melakukannya menjadi mungkin. Dalam logika al-Quran, sebagaimana laki-laki dapat mencapi puncak keagungan di balik iman dan dengan mengikuti Islam, perempuan juga memiliki teladan kesempurnaan. Bahkan betapa banyak laki-laki harus menekuk lutut dan selama bertahun-tahun belajar kepada para perempuan dan mempelajari bagaimana mengenal Allah, beribadah dan mencapai akhlak yang mulia.
Al-Quran dan semua agama ilahi menyebut kehadiran manusia di muka bumi dalam bentuk perempuan dan laiki-laki. Artinya, kehidupan manusia di atas bumi dimulai dengan kehadiran perempuan dan laki-laki dengan nama Adam dan Hawa dan keduanya sepanjang hidupnya sangat akrab dan senantiasa bersama.
Hawa sebagai ibu dari manusia dan sebagai perempuan pertama yang diciptakan memiliki derajat yang tinggi, sehingga diajak bicara Allah sederajat dengan nabi di masanya dan memiliki hak ibu bagi semua manusia. Dengan alasan ini, beliau disebut Hawa yang berarti ibu manusia. Allah Swt menciptakanHawa sebagai perempuan pertama yang suci dan menjaga kesuciannya. Berbeda dengan perubahan yang dimuat oleh dua kitab samawi (Taurat dan Injil) yang memperkenalkan kisah bahwa Hawa dimasuki setan atau faktor yang menipu Nabi Adam as. Al-Quran meletakkan Hawa dalam posisi yang tinggi. Sebagaimana disebutkan dalam ayat 189 surat al-Araf Allah Swt berfirman, "Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya."
Menurut al-Quran, Hawa memiliki derajat yang tinggi, sehingga Allah berbicara kepadanya. Perlu diketahui bahwa al-Quran tidak pernah mengajak berbicara seorang nabi bersama istrinya, selalu yang diajak bicara adalah nabi dan kaumnya. Mungkin rahasia dari penyebutan khusus terkait Hawa adalah perhatian pada markas pasangan yang menyebabkan bertahannya kehidupan manusia. Harus diperhatikan bahwa Allah Swt memiliki perhatian khusus kepada Hawa. Karena begitu penciptaan Adam sempurna, Hawa diciptakan demi ketenangannya. Kisah penciptaan Adam dan Hawa dalam al-Quran sebagai ayah dan ibu kita manusia sangat menarik perhatian.
Ketika Allah Swt menciptakan Adam dan meniupkan ruh-Nya kepada dalam bentuk Adam, ada daya tarik ke sumber penciptaan dalam dirinya dan Allah mengajarkan seluruh ilmu. Allah meminta dari para malaikat untuk bersujud kepadanya. Semua melakukannya kecuali Iblis. Iblis tidak melakukannya karena melihat dirinya lebih baik dan tidak menerima perintah ilahi. Oleh karenanya Allah menghukumnya dan mencegahnya dari nikmat serta mengusirnya.
Setelah diciptakan, Adam dan Hawa memasuki surga dan Allah mewahyukan kepada Adam bahwa Aku akan memberikanmu nikmat dan harus mengingatnya. Karena Aku menciptakanmu dengan fitrah yang suci dan sesuai kehendak-Ku engkau Aku ciptakan sebagai makhluk terbaik dan layak. Aku meniupkan ruh-Ku kepadamu dan memerintahkan malaikat agar bersujud kepadamu serta memberikan ilmu kepadamu.
Wahai Adam, Aku mencegah Iblis dari rahmat-Ku karenamu dan Aku melaknatnya karena menolak perintah-Ku. Rumah abadi adalah surga dan Aku menjadikan rumah abadi ini sebagai tempatmu. "Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (QS. Thaha 20:118-119) Bila menaati perintah-Ku, engkau akan tinggal di surga ini selama-lamanya, tapi bila melanggar perintah-Ku, engkau akan dikeluarkan dari tempat ini dan mendapat azab. Ingatlah ini! Iblis adalah musuhmu dan istrimu. Waspadai tipu dayanya agar tidak dikeluarkan dari surga.
Allah yang Maha Esa mengizinkan Adam dan Hawa memanfaatkan segala nikmat-Nya dengan penuh ketenangan dan membebaskan mereka untuk memetik segala buah yang diinginkan. Satu-satunya permintaan kepada mereka dari segala nikmat yang ada adalah agar menjauhi satu buah dari sebuah pohon. Allah menyebut pohon terlarang dan menentukannya agar jangan sampai ada kerancuan dan dengan demikian, segala pertanyaan di benak Adam dan Hawa mengenai masalah ini sudah terjawab. Allah kembali memperingatkan mereka agar tidak mendekati pohon tersebut dan berfirman, "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim."
Adam dan Hawa memasuki sebuah kebun yang luas dan indah. Apa saja yang merekainginkan dapat memanfaatkannya. Mereka berputar-putar di kebun tersebut dan beristirahat di bawah pohon yang rindang. Mereka memakan buah-buahan yang ada di kebun dan minum dari air yang ada di sana. Karena air kebahagiaan mengalir di sana, mereka benar-benar merasa bahagia. Tapi setan sebagai musuh bebuyutan dan telah terusir dari surga mulai mendekati mereka dan mulai mempengaruhi Adam dan Hawa, sehingga mereka tergelincir yang berakibat mereka dikeluarkan dari kebun yang indah itu.
Allah Swt berkata kepada mereka, "... Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS. al-Araf 7: 22) Mendengar itu, Adam dan Hawa langsung memahami kesalahan mereka dan berusaha agar kesalahan mereka dapat dimaafkan dan berkata, "Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. al-Araf 7: 23) "Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha 20: 123)
Apa yang dijadikan pelajaran dari kehidupan Adam dan Hawa adalah kebersamaan keduanya baik dalam kegembiraan, kesulitan selau bersama. Semua peristiwa yang terjadi bagi keduanya. Ini contoh cara pandang yang adil dan benar terkait laki-laki dan perempuan dalam al-Quran. Al-Quran dalam pelbagai ayat menyebut perempuan dan laki-laki sama dalam meraih keutamaan dan bergerak menuju kesempurnaan. Di sebagian ayat disebutkan, "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya ..."
Laki-laki dan perempuan dalam pandangan al-Quran memiliki akal, perasaan dan pemahaman. Dengan beribadah mereka dapat mencapai kesempurnaan ilahi. Berbeda dengan kebanyakan aliran filsafat dan sebagian agama yang menyebut sifat perempuan berbeda dengan sifat pria, al-Quran menyebut substansi laki-laki dan pria adalah satu. Di ayat pertama surat al-Nisa, Allah berfirman, "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak ..."
Hawa adalah sumber ketenangan bagi Adam. Sesuai dengan sebagian riwayat, ketika Allah meletakkan Adam di surga, di sana Adam belum memiliki teman bicara, sehingga ia begitu sedih dan galau. Kemudian Allah menciptakan isteri untuknya agar bisa tenang di sisinya. Dalam buku Zan dar Ayene-ye Jalal va Jamal karya Ayatullah Javadi Amoli disebutkan:
"Imam Shadiq as berkata kepada Zurarah, 'Setelah Allah menciptakan Adam, Hawa kemudian juga ciciptakan... setelah mengetahui penciptaan Hawa, Adam bertanya kepada Allah, 'Siapa ini yang kedekatan dan melihatnya membuatku mereka akrab?' Allah berfirman, 'Ini Hawa. Apakah engkau ingin ia tetap bersamamu, menjadi sumber ketenangan, berbicara kepadamu dan mengikutimu?' Adam menjawab, "Iya! Ya Ilahi! Selama aku hidup aku wajib mensyukuri-Mu.' Allah Swt kemudian berfirman, 'Minta kepada-Ku agar ia menjadi isterimu karena ia layak menjadi isterimu demi menjamin kebutuhan biologismu.' Allah kemudian menganugerahkan keinginan biologis kepadanya... Setelah itu Adam berkata, 'Saya mengusulkan untuk bisa menikahinya. Bagaimana dengan keridaan-Mu?' Allah berfirman, "Keridaan-Ku ada pada engkau harus mengajarinya ajaran agama-Ku...' Sumber kecenderungan laki-laki kepada perempuan dan begitu juga sebaliknya serta keakraban keduanya adalah kasih sayang dan rahmat yang diberikan Allah kepada keduanya..."
Pada hakikatnya, poin penting yang patut direnungkan dari kisah penciptaan Adam dan Hasa adalah faktor pembentuk keluarga. Kedekatan dan pandangan Adam kepada Hawa sumber kedekatan dan keakrabannya dan Allah Swt menjadi prinsip ini sebagai landasan terciptanya hubungan di antara keduanya. Keakraban manusiawi ini telah ada sebelum munculnya keinginan biologis. Itulah mengapa pernikahan dan pembentukan "keluarga" memiliki kesucian dan pusat keakraban dan kedekatan.
Patut disayangkan bahwa substansi dan kepribadian perempuan yang ditampilkan Barat hanya dimensi lahiriah dan materinya yang diakui. Sementara Islam mengakui perempuan dengan semua identitas manusiawinya dan meletakkannya di tengah keluarga yang hangat dan penuh keceriaan. Itulah mengapa Islam melihat keluarga sebagai dasar kesadaran dan ketenangan laki-laki dan perempuan. Allah Swt dalam surat al-Rum ayat 21 berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
Dalam kebangkitan para nabi ilahi, perempuan hadir dengan aktif dan konstruktif. Fakta ini dapat disaksikan di masa para nabi seperti Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad Saw sebagai pamungkas para nabi ilahi.
Dalam sejarah panjang kenabian hingga nabi terakhir, kehadiran perempuan sangat aktif dan konstruktif. Mereka memainkan peran dan menentukan rute perkembangan sejarah manusia. Kehadiran perempuan mulia bernama Hajar yang mendampingi Nabi Ibrahim as atau bergabungnya Asiah, istri Firaun dengan agama yang dibawa oleh Nabi Musa as atau ketika Maryam bersama Nabi Isa as, termasuk catatan emas kehadiran perempuan dalam agama ilahi. Terutama ketika kehadiran ini tidak untuk menunjukkan diri, tapi wajah-wajah ini hadir secara luas dan aktif demi memajukan dan mensosialisasikan agama ilahi. Mencermati kehidupan mereka selain menjelaskan bahwa di bawah bayang agama ilahi, perempuan memiliki kepribadian transendental dan membuktikan posisi kehadiran mereka yang menentukan.
Nabi Ibrahim as, salah satu nabi Ulul Azmi. Nabi yang dikenal dan hadir di seluruh dunia serta penggagas agama monoteisme dan tauhid. Agama yang akan berlanjut hingga berakhirnya dunia dan banyak manusia pemeluknya yang akan selamat. Di sisi nabi ilahi ini ada dua wajah perempuan. Sarah sebagai contoh perempuan yang terhormat dan hati yang suci, dimana selalu bersama suaminya. Kedua, Hajar simbol keimanan, kesabaran dan tawakl kepada Allah.
Sarah merupakan seorang perempuan penuh kebajikan dan bila mengkaji sejarah para nabi, dapat diketahui betapa beliau memiliki peran dan posisi khusus dalam penyebaran tauhid. Selain berparas luar biasa cantik, Sarah tergolong perempuan paling kaya di masanya. Ia memiliki tanah persawahan yang luas dan hewan peliharaan yang banyak. Namun sekalipun memiliki semua ini, ternyata Sarah justru menginginkan seorang pemuda pemberani seperti Ibrahim as.
Ibrahim seorang anak yatim yang tidak memiliki harta dan kekayaan. Tapi kebajikan dan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam dirinya mampu menarik seorang Sarah. Sikap ksatria Ibrahim telah dikenal oleh semua orang. Itulah mengapa Sarah menyerahkan semua kekayaannya kepada suaminya Ibrahim as dan beliau yang mengurusinya semua kekayaan dan hewan peliharaan, sehingga kondisi kehidupannya tidak seperti dahulu lagi, bahkan di daerah tempat tinggalnya tidak ada yang memiliki kekayaan sebanyak itu.
Dalam riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan, "Sarah memiliki banyak kambing dan tanah yang luas serta kehidupan yang baik. Semua kekayaannya diserahkan kepada Ibrahim as. Kemudian Ibrahim mengelola harta itu, sehingga memiliki sangat banyak kambing dan tanah pertanian yang luas, sehingga di kawasan itu tidak ada seseorang yang lebih kaya darinya."
Sebelum menikah dengan Ibrahim as, Sarah adalah seorang yang berkecukupan, namun setelah berkeluarga, ia harus menanggung segala masalah dan bencana. Sekalipun demikian, Sarah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan kerelaan. Karena semua itu merupakaan ujian sulit Allah Swt demi memunculkan keikhlasan hamba-Nya yang terpilih.
Nabi Ibrahim as lahir di dalam goa dan di sana juga beliau diangkat sebagai utusan Allah. Beliau memiliki perbedaan dengan para nabi sebelum dan sesudahnya. Karena rencana Allah, beliau akan mencapai derajat tertinggi dari kenabian yaitu keimamahan. Demi mencapai posisi agung ini, Nabi Ibrahim as berhasil melewati segala ujian ilahi. Selama bertahun-tahun, Ibrahim tidak memiliki anak. Selama itu pula, beliau berdoa, bermunajat dan beribadah kepada Allah dan tidak pernah mengadukan keadaannya kepada Allah. Nabi Ibrahim as hanya berkata, "Ya Allah! Bila engkau melihat maslahat, maka anugerahkan anak kepadaku."
Bertahun-tahun lewat, Sarah memahami bahwa ia tidak akan dikaruniai anak. Oleh karenanya, ia mengusulkan Hajar, budaknya, seorang perempuan yang sangat layak dan bertakwa sebagai istri Ibrahim as, sehingga mungkin darinya Ibrahim as bisa mendapatkan anak dan dapat melanjutkan risalah ayahnya. Nabi Ibrahim as menerima usulan istrinya dan Hajar akhirnya menjadi istrinya. Sejak saat itu, ia bukan lagi seorang budak, tetapi mendapat kehormatan sebagai istri nabi dan membuat Ibrahim semakin tenang di usianya yang sudah tua.
Tidak berapa lagi setelah pernikahan itu, Hajar hamil dan bersamaan dengan periode kehidupan yang sulit, ia melahirkan anak Ibrahim yang diberi nama Ismail. Itulah bayi yang dahinya memancarkan cahaya terang kenabian. Kini Ibrahim begitu gembira telah melewati usia tanpa anak. Karena telah diwahyukan kepadanya bahwa akan lahir nabi dari keluarganya dari generasi Ismail. Pamungkas para nabi dan dua belas bintang bercahaya akan muncul dari bayi ini dan memenuhi dunia dengan cahaya dan kebahagiaan.
Bayi yang baru lahir ini tidak hanya seorang anak, tapi akhir dari usia penantian. Sebuah balasan dari satu abad menanggung kesulitan. Anak yang meniupkan kegembiraan setelah hilangnya pengharapan yang pahit. Tapi di bagian lain, Sarah semakin sedih karena tidak punya anak. Dalam kondisi yang demikian, ia tidak ingin muncul perilaku atau perbuatan dari dirinya yang tanpa disadari. Oleh karenanya, Sarah meminta kepada Ibrahim as agar Hajar dan Ismail tinggal di tempat lain. Ibrahim as menyetujui permintaan istrinya.
Sarah selalu berharap pertolongan Allah. Suatu hari ia berkata kepada Ibrahim, "Sekalipun aku sudah tua dan tidak mampu lagi, tapi pelita harapan dalam batinku selalu menyala. Saya sampai pada keyakinan bahwa sangat mungkin saya akan memiliki anak. Kekuasaan Allah akan menghilangkan kekurangan saya ini. Saya meminta kepdamu agar mendoakan aku."
Nabi Ibrahim as menyanggupi permintaan istrinya dan bermunajat kepada Allah agar hajat dan keinginan Sarah terkabulkan. Doa Ibrhaim terkabulkan dan akhirnya Allah Swt menganugerahkan seorng anak kepadanya lewat Sarah di usia tua. Kisah ini disebutkan dalam al-Quran surat Hud ayat 69-73.
"Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, "Selamat". Ibrahim menjawab, "Selamatlah,"maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth". Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata, "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh". Para malaikat itu berkata, "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."
Selama bertahun-tahun Sarah menghadapi ujian sulit ilahi di sisi Ibrahim as menjadikannya seorang yang bertakwa dan suci. Sedemikian besar potensi yang dimiliki Sarah, sehingga ia dapat bertemu dengan para malaikat dan berbicara dengan mereka. Derajat ini hanya diraih oleh manusia-manusia khusus dan wali Allah. Fakta ini menjelaskan bahwa dalam budaya monoteisme dan tauhi, seorang perempuan juga memiliki keagungan dan nilai yang tinggi seperti pria. Dengan keimanan yang kuat dan ketakwaan yang ikhlas, mereka dapat berbicara dengan malaikat dan menerima kabar gembira dari Allah lewat para malaikat menunjukkan rahmat dan pertolongan Allah.
Peran perempuan dalam mengelola urusan rumah tangga sangat penting dan sekalipun secara hukum perempuan tidak memiliki kewajiban yang demikian, tapi atmosfer cinta, keakraban dan kasih sayang keluarga membuat perempuan berusaha bersama suaminya untuk menciptakan kesejahteraan dan ketenangan. Dengan keindahan rasa yang bersumber dari semangat kasih sayangnya, perempuan mempersiapkan tempat yang telah dihiasi demi mendidik generasi akan datang. Dalam teladan yang disampaikan al-Quran untuk perempuan mengelola rumah tangga secara spesifik telah ditekankan tentang bagaimana mereka menerima tamu dan menjelaskan kisah masuknya para malaikat ke rumah Nabi Ibrahim as. Sebuah contoh yang jelas mempertontonkan model perilaku seorang perempuan yang mengurus rumah tangga.
Menurut Allamah Majlisi, faktor dan tanda kepribadian serta kesempurnaan Sarah, istri Nabi Ibrahim as adalah pekerjaan mengurus rumah tangga dan menerima tamu Ibrahim as. Dia senantiasa melayani tamu-tamu Nabi Ibrahim as dan Allah Swt dalam al-Quran mengingatkan akan kebaikan Sarah ini, "Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, ..." (QS. Hud: 71). Sarah dalam menjamu tamu-tamu suaiminya menunjukkan ketrampilannya, bahkan ketika ada tamu yang tidak diundang mendatangi rumah mereka. Tidak menunggu lama, dia melayani mereka dengan cara terbaik, sebagaimana dalam al-Quran disebutkan, "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat". Ibrahim menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang."
Sarah adalah perempuan pertama yang beriman kepada Ibrahim as. Dalam peristiwa Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, Sarah meminta kepada Allah Swt untuk menyelamatkan Ibrahim dan setelah peristiwa ini, masyarakat mengusir Ibrahim, Sarah dan Luth, sehingga mereka pergi ke daerah Syam. Sarah mempersiapkan diri menanggung segala kesulitan dalam perjalanan dan keterasingan agar seruan dan ajakan Ibrahim dapat diterima luas. Akhirnya, setelah menjalani kehidupan bercahaya dan melewati jalan yang lurus ilahi serta mendukung Nabi Ibrahim, Sarah meninggal dunia dalam usia 120 tahun.
Perempuan adalah bagian dari masyarakat manusia yang tidak berbeda dari laki-laki dalam bidang iman dan kesempurnaan, bahkan terkadang mereka mencapai status yang orang lain harus mengambil pelajaran kesalehan, keberanian, keagamaan dan kerendahan hati dihadapan Tuhan.
Al-Quran dalam ajakan umum menyebutkan, "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya ..." (QS. al-Nisa: 136). Al-Quran telah menggambarkan jalan menuju kesempurnaan sebagai kelanjutan perjalanan di jalur keimanan untuk setiap laki-laki dan perempuan dan membuat perumpamaan dari pribadi-pribadi ini agar menjadi pelajaran bagi masyarakat, sehingga menjadi jelas jalan untuk mendaki puncak keimanan bagi laki-laki dan perempuan. Hajar, istri Nabi Ibrahim as merupakan salah satu dari perempuan hebat ini.
Hajar bersama bayinya melakukan perjalan dengan Ibrahim as. Ia tenggelam dalam pikirannya membayangkan masa depan anaknya. Ketika tunggangan Ibrahim berhenti, ia mendekatinya dan bertanya, "Mengapa engkau berhenti di tengah gurun pasir ini?" Ibrahim menjawab, "Saya berkewajiban membawa engkau ke daerah ini." Hajar berkata, "Tapi di sini tidak tanda-tanda kehidupan. Bagaimana kami dapat berlindung dari cahaya matahari yang panas menyengat dan serangan binatang?"
Selintas Ibrahim as menangis akan nasib istrinya. Hajar melihat cahaya kecemasan di mata suaminya dan memeluk bayinya. Setelah itu, dengan suara bergetar yang menyakitkan hati Ibrahim, Hajar berkata, "Saat ini kami memiliki sedikit makanan, tapi hati kami penuh dengan harapan akan pertolongan Allah."
Ketika Nabi Ibrahim as meninggalkan istri dan anaknya di tempat itu, beliau mengangkat tangan ke arah langit dan berkata, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)
Suara tangisan anak kecil memecah keheningan gurun pasir. Hajar tidak kuat mendengar tangisan anaknya. Dengan segera ia mendekapnya dan dengan cemas menatap ke bukit di depanya. Ia seakan melihat air jernih di rentang bukit itu. Hajar pun meletakkan anaknya di atas tanah dan bergerak cepat mencari air. Tetapi ketika ia sampai ke bukit itu, air tidak juga ditemukan. Hajar terduduk di atas batu di bukit itu dengan frustasi dan kecewa. Kali ini Hajar melihat di depan bukit itu ada air jernih. Tanpa mempedulikan dirinya, Hajar berlari ke arah air, tapi yang terjadi hanyalah fatamorgana. Tapi dari tempat pertama ia kembali melihat air, Hajar kembali berlari ke sana dan ke mari sehingga 7 kali untuk mencari air di bukit itu, tapi ia tidak kehilangan harapan akan pertolongan Allah.
Setelah berkali-kali berusaha tapi tidak membuahkanhasil, Hajar kembali menuju anaknya dengan keletihan dan lemah. Anaknya sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menangis. Anaknya menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Tiba-tiba Hajar melihat tanah di bawah kaki anaknya lembab. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hajar menutup kelopak matanya dengan kuat. Di benaknya, Hajar berpikir bahwa ini pasti fatamorgana lagi. Tapi tidak, yang terjadi adalah mukjizat.
Hajar kemudian menggali tanah lembab itu dengan jari-jarinya. Waktu itu kehidupan seperti muncul kembali. Air jernih dan sejuk keluar dari tanah. Segera saja Hajar mengambil air itu dan meminumkannya kepada anaknya. Badan Ismail menunjukkan kembali tanda-tanda kehidupan dan memunculkan kembali harapan di hati sang ibu. Hajar yang menyaksikan hasil dari kesabaran dan tawakl kepada Allah, segera bersujud dan bersyukur kepada Allah Swt. Setelah itu, ia sendiri meminum air tersebut. Hajar menatap Ismail dan berkata, "Betapa baiknya Allah menganugerahkan anak ini kepadaku."
Hajar adalah perempuan teladan kesabaran dan harapan Bila hubungan Hajar terputus dengan Tuhan, ia tidak akan mampu menampilkan ketegarannya. Sudah pasti keputusasaan dan keletihan telah mengalahkannya. Benar, iman kepada Allah, yakin akan rahmat Allah dan harapan penuh kepada Allah menyebabkan semangat, ketegaran dan keteguhan ditiupkan ke dalam jiwa manusia. Tawakal Hajar yang tinggi kepada Allah sangat hebat! Karena setelah Ibrahim as meninggalkan dirinya dan anaknya, Hajar menerima untuk hidup di lembah itu bersama anaknya.
Harapan Hajar akan rahmat Allah juga luar biasa. Karena ia tidak pernah putus asa dalam berusaha, sehingga ia melihat di didekat rumah Allah, air keluar dari tanah yang berada di bawah kaki Ismail! Kekuatan ini, resistensi, ketegaran dan keteguhan hanya akan diraih manusia ketika memiliki iman kepada Allah Swt. Di dunia ini, tidak ada faktor selain iman kepada allah yang mampu memberikan manusia kekuatan, ketegaran dan resistensi.
Tak diragukan lagi bahwa kesabaran Hajar dan kemampuannya menanggung kesulitan di lembah di dekat gunung Abu Qubais berasal dari kejujuran dan keyakinan agama yang mendalam. Tawakal yang hakiki dan murni dari Hajar kepada Allah Swt menciptakan mukjizat dan rahmat ilahi baginya dan anaknya serta memberikannya kemampuan untuk menghadapi masalah lingkungan alam yang dikemudianhari menjadi pusat agung bagi tauhid di gurun pasir kering dan tanpa air itu. Hari ini, Ka'bah menjadi kerindungan jutaan umat Islam di atas bumi dan bergabung dengan nama Gajar dan Ismail. Makam Hajar berada di dekat Ka'bah dan menjadi tempat peziarah pecinta ilahi.
Banyak manusia yang berusaha dalam hidupnya, tapi Allah Swt memilih usaha perempuan saleh di lembah kering ini dan menjadikannya bagian dari manasik haji. Di sini Allah menunjukkan kepada manusia seberapa bernimainya usaha seseorang, sehingga Allah membesarkannya lalu menjadikannya bagian dari manasik haji. Sekalipun kita tidak mengetahui nilai usaha ini, tapi kita tahu bahwa pilihan ilahi selalu berdasarkan Sunnah Ilahi, aturan dan perhitungan. Kita tidak mengetahui Sunnah ini kecuali sangat sendikit.
Hajar sebelumnya adalah budak bermartabat, loyal, taat dan dipercaya yang diberikan raja Mesir kepada Sarah, istri Nabi Ibrahim as. Dalam sistem penilaian yang biasa dipakai, perempuan seperti ini tentu tidak punya tempat. Usahanya juga tidak akan diletakkan dalam prioritas, tapi Allah Swt memberikan penilaian lain. Penilaian Allah berbeda dengan cara manusia menilai. Itulah mengapat Allah memberi penghormatan kepada budak ini dan usahanya dijadikan bagian manasik haji.
Allah memberi perintah kepada para nabi dan wali-Nya untuk pergi menapaktilasi jalan yang dilakukan perempuan saleh dan layak ini. Mereka harus meletakkan kakinya di antara bukit Shafa dan Marwah seperti yang dilakukan Hajar. Semuan penghormatan dikarenakan seorang perempuan yang diuji Allah di sebuah lembah kering ribuan tahun lalu. Perempuan ini dalam usahanya selalu rela kepada Allah dan selalu berdoa meminta pertolongan-Nya. Sekalipun tidak ada yang menyaksikan usahanya, tapi Allah melihatnya dan mengijabahi doanya. Allah Swt memuliakan perempuan saleh ini dan membuat usahanya abadi agar manusia belajar bagaimana Allah memberikan nilai dan parameter kepada manusia. Parameter Allah adalah ketakwaan dan kehormatan sementara orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.
Sifat mulia lain Hajar adalah berserah diri dihadapan Allah. Ia bukan hanya taat kepada Nabi Allah untuk hidup jauh dari rumah, tapi benar-benar menaati kehendak Allah. Ketika Ibrahim as diperintah untuk mengorbankan anaknya, Ismail, setan pertama kali mendatangi ayah dan anak, tapi kemudian ia putus asa. Setelah itu ia mendatangi Hajar danberkata, "Ibrahim ingin mengorbankan anaknya." Hajar menjawabnya, "Pergilah! Jangan bicara yang tidak ada artinya. Ia mencintai anaknya dan mengasihinya." Setan berkata, "Ibrahim membayangkan itu merupakan perintah Allah." Hajar berkata, "Bila itu merupakan perintah Allah, maka harus berserah diri dihadapan perintah-Nya."
Kisah-kisah indah dan memuat pelajaran dalam al-Quran memanifestasikan seni ilahi. Allah Swt menjelaskan banyak pengertian dan peristiwa dengan bahasa seni, sehingga manusia dapat memahaminya dengan baik.
Dalam kisah-kisah al-Quran terkait para perempuan terpilih dan istimewa, kita temuak mereka memiliki kecerdasan dan kemampuan hakikat yang sulit. Mereka telah mencapai derajat, sehingga dapat menyelesaikan masalah dan fenomena sosial dan politik, bahkan ketika otak dan pemikir besar masa itu tidak mampu memahami dan mempertanyakan pandangan mereka.
Salah satu nama perempuan terpilih dalam al-Quran adalah Balqis, putri Syurahbil, keturunan raja negara Saba, bagian dari Yaman saat ini, yang memiliki kekuasaan sangat luas. Sejarah mencatat singgasana legendaris bagi perempuan ini dan dikatakan bahwa ia bersama kaumnya sebelum beriman kepada Allah Yang Esa adalah penyembah matahari.
Dalam kisah Balqis, dipertunjukkan seorang perempuan yang berpikir jauh. Perempuan yang berkuasa di sebuah masyarakat dan ketika cahaya hakikat menerpanya, ia menuntun rakyatnya untuk mengikutinya. Kisah ini menunjukkan bahwa setiap kali seseorang jauh dari keangkuhan dan cacat pikir, ia dapat berserah diri dihadapan hakikat dengan cahaya akal dan imannya, sehingga menjadi manusia yang beruntung.
Di antara para utusan Allah, Nabi Dawud dan Sulaiman as termasuk pada nabi yang memiliki kekuasaan yang besar. Dalam surat al-Naml disebutkan, Nabi Sulaiman as mewarisi kekuasaan Nabi Dawud as dan memiliki ilmu pengetahuan dan derajat yang luar biasa. Beliau mengetahui bahasa hewan, khususnya burung dan kekuasaannya sangat luas, tidak hanya berkuasa pada manusia, tetapi juga menguasai kekuatan alam, seperti angin.
Nabi Sulaiman termasuk para nabi yang dianugerahkan kenabian dan kekuasaan. Bahkan beliau memiliki kemampuan memerintahkan angin dan unsur-unsur alam. Beliau memahami bahasa hewan dan burung, dimana mereka juga mengetahui keagungan kekuasaan Sulaiman. Al-Quran mengutip kehidupan Nabi Sulaiman dengan pelbagai peristiwa yang patut didengarkan. Salah satu kisah yang disebutkan al-Quran adalah kisah Balqis, Ratu Saba dan bagaimana ia beriman.
Nabi Sulaiman as bersama rombongannya tengah berjalan pulang ke Syam setelah melakukan ziarah ke Ka'bah dan tiba di gurun pasir yang kering. Nabi Sulaiman meminta agar dihadirkan burung Hud Hud agar mencari air, tapi beliau memahami Hud Hud tidak ada. Nabi Sulaiman as bertanya, "Mengapa saya tidak melihat Hud Hud? Bila ia kembali, saya akan memberi sanksi yang berat, kecuali ia dapat memberikan alasan yang benar."
Hud Hud benar-benar terlambat datang, sehingga tidak ada yang berani untuk berbicara. Ketika Hud Hud tiba, sebelum Nabi Sulaiman membentaknya, ia berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya memiliki satu masalah yang tidak engkau ketahui dan ilmu serta kekuasaanmu tidak dapat mengetahuinya. Ada tanah air bernama Saba. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk." (QS. al-Naml: 23-24)
Mendengar berita itu, Nabi Sulaiman as terkejut dan berkata, "Saya akan mengkaji kebenaran berita ini. Bila hakikat sesuai dengan yang engkau jelaskan, bawakan surat saya kepadanya dan kembali dengan jawaban darinya."
Balqis, Ratu Saba dengan hati senang dan duduk di singgasana istananya dengan aggun. ketika tiba-tiba dengan penuh keheranan ia melihat burung yang menjatuhkan sebuah surat kepadanya. Ia lantas membuka surat itu dan setelah membacanya, ia sempat termenung. Setelah itu ia mengangkat kepalanya dan berkata, "Wahai para pembesar! Ada surat penting yang sampai kepadaku. Surat ini dari Sulaiman. Di surat ini disebutkan, Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Jangan merasa lebih tinggi dariku dan taatilah aku."
Mendengar itu, para komandan pasukan Balqis marah. Sebagian dari mereka berkata, "Kita memiliki kekuatan dan kekayaan yang banyak dan kita mampu berperang melawannya." Sebagian lain mengatakan, "Wahai Balqis! Kami telah memilihmu sebagai pemimpin kami dan kami percaya akan kelayakanmu. Lakukan apa saja yang engkau anggap baik." Balqis berpikir keras. Ia berpikir agar tidak terjebak dengan kekuatannya dan pasukannya. Saat ini bukan tempatnya untuk bersikap egois. Menurutnya, "Kita harus menguji Sulaiman."
Balqis tidak terpedaya kekuatannya dan para pendukungnya. Ia berpikir dengan serius dan ingin bersahabat dengan Sulaiman serta hendak mengujinya. Ratu Saba ingin mengetahui apakah Sulaiman sebenarnya mengajak kepada Allah ataukah sama seperti para penguasa dunia lainnya yang setiap kali ingin melakukan ekspansi akan melakukan sesukanya. Dengan keputusan ini, ia menjelaskan pengalamannya akan peristiwa pahit yang terjadi pada bangsa-bangsa dan para raja sebelumnya seraya mengatakan, "Dia berkata, 'Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu." (QS. Al-Naml: 34-35)
Para nabi diutus untuk menyelamatkan manusia dan harta duniawi tidak berarti di mata mereka, bahkan dunia dengan segala fasilitasnya tidak pernah membohongi mereka. Tidak berapa lama, para utusan Balqis tiba menghadap Sulaiman dengan banyak hadiah. Sulaiman menerima kedatangan mereka dan mengatakan, "Apakah kalian ingin membantuku dengan harta. Apa yang dianugerahkan Allah kepadaku lebih banyak dan lebih baik dari yang diberikan kepada kalian, tapi kalian begitu bangga dengan hadiah kalian."
Ketika itu para utusan Ratu Saba berkata, "Sekarang kami akan kembali dan membawa pasukan menghadapi kalian, dimana kalian tidak punya kemampuan menghadapinya." Ketika Balqis mendengar Sulaiman tidak menerima hadiah-hadiah yang begitu banyak, ia langsung tersenyum dan melihat ke arah jauh. Para utusannya dengan keheranan bertanya, "Mungkinkah kami bertanya, apakah yang membuat Ratu gembira?" Balqis menjawab, "Sekarang saya memahami bahwa Sulaiman seorang pria yang benar dan hatinya suci. Sekarang kita harus segera menemuinya dan memahami agama barunya."
Hud Hud kemudian mengabarkan kepada Sulaiman bahwa Balqis akan menemuinya. Sulaiman berkata kepada mereka yang ada di sekelilingnya, "Balqis adalah seorang wanita yang cerdas. Saya harus menunjukkan kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya dan ia merasa yakin akan kejujurannku dalam urusan kenabian. Siapa yang dapat membawa singgasananya, sebelum ia sampai di sini. Singgasana yang merupakan contoh dari kebesaran kekuasaannya?"
Asif ibn Barkhiya yang menguasai ilmu kitab berkata, "Saya akan membawanya kepadamu dalam hitungan kedipan mata." Ketika Sulaiman melihat singgasana itu, beliau langsung tertunduk dan berkata, "Ini merupakan anugerah Allah agar mengujiku apakah aku bersyukur atau justru mengingkarinya. Barangsiapa yang bersyukur, maka kesyukuran itu akan kembali kepadanya dan menguntungkannya."
Setelah itu Sulaiman berkata, "Ubahlah singgasana Balqis agar kita bisa mengetahui apakah ia memahami ataukah ia orang yang tidak akan mendapat hidayah." Ketika Balqis dan rombongannya tiba, mereka takjub akan keagungan Sulaiman. Pada waktu itu, Sulaiman bertanya kepadanya, "Apakah singgasanamu seperti ini?" Balqis yang masih dipenuhi keheranan mengatakan, "Sepertinya ini milikku." Sulaiman kemudian mengantarnya ke istana kaca.
Ketika Balqis memasuki istana kaca, ia menyingkap kain yang menutupi kakinya agar dapat melewati air. Sulaiman mengatakan, "Ini bukan air, tapi fatamorgana yang transparan dari kaca. Pada waktu itu juga Balqis menepis tirai kelalaian dan menangkap keagungan ilahi. Setelah itu ia berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-Naml: 34)
Dengan demikian, Balqis dengan pemahamannya menyingkirkan kekuguran dan kembali pada fitrahnya. Balqis dengan segala kepribadian dan posisi khusus yang dimilikinya ternyata lebih memilih iman dan hidayah ketimbang lahiriah materi dan tanpa kesombongan ia segera menyampaikan penjelasan indah akan manifestasi ilahi.
Setiap kali jalan hidayah telah menyala dan jelas, para perempuan menjadi yang terdepan mengikuti dan menaati perintah ilahi dan terlibat penuh cinta dan jujur. Kenyataan seperti ini juga dapat ditemukan dalam kehidupan para nabi seperti Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad Saw. Di abad terakhir, upaya para perempuan mengeyahkan kezaliman dan menciptakan sistem berdasarkan kebenaran dan ilahi telah membangkitkan pujian semua manusia.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa al-Quran mampu menggambarkan perempuan sebagai manusia bernilai dengan meletakkan dirinya di jalur fitrah menjadi elemen bermanfaat dan mampu menciptakan gerakan. Sebagaimana Balqis yang menjauhkan egoisme dan meletakkan dirinya di jalur normal dan sehat juga ikut memberi hidayah kaumnya. Ini merupakan risalah semua perempuan yang tidak menjadikan dirinya sebagai tampak lahiriah yang menipu dan dunia yang fana, dengan memahami tanggung jawabnya yang berharga dalam menididik generasi manusia dari cara pandang sederhana sehingga dapat tumbuh dan menyempurna.
Aisah adalah putri Muzahim dan istri Firaun, salah seorang perempuan mukmin dan sabar yang dijadikan contoh dalam al-Quran.
Asiah salah satu perempuan terbaik dunia. Asiah adalah Putri Muzahim dan istri Firaun adalah salah seorang perempuan mukmin dan sabar yang dijadikan contoh dalam al-Quran. Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei tentang Asiah berkata, "Dalam Islam sudah ditetapkan tiga bidang bagi aktivitas perempuan. Pertama, bidang kesempurnaan dan pertumbuhan spiritual perempuan. Perempuan dan pria di bidang ini tidak memiliki perbedaan dalam pertumbuhan dan penyempurnaan spiritual. Artinya, pria dapat mencapai derajat tertinggi dari sisi spritual, perempuan juga sama dapat mencapai derajat yang tinggi dari sisi spiritual. Pria dapat mencapai derajat tertinggi seperti Ali bin Abi Thalib as dan perempuan juga dapat mencapai derajat Fathimah az-Zahra as.
Ketika al-Quran ingin menyebutkan contoh dari manusia beriman, itu tidak dilakukan dengan pria, tapi menyebutkannya dari perempuan. Al-Quran menyebutkan, 'Dan Allah membuat isteri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman.' Allah Swt dalam hal ini menyebutkan dua perempuan sebagai dua contoh dari manusia hebat dan mukmin, bukan dari perempuan-perempuan hebat. Yakni, dari sisi kemanusiaan dan kesempurnaan spiritual, Allah Swt ketika ingin menjelaskan contoh spesial ternyata tidak berbicara mengenai para nabi, pria agung, pribadi cendekiawan dan agamis, tapi membawakan dua perempuan, dimana yang pertama adalah istri Firaun. Perempuan yang berada pada posisi berjuang melawan kekuasaan taghut suaminya. Perempuan yang memiliki independensi penuh dan tidak mau berada di bawah suami zalim, kuat dan memiliki sifat firaun yang juga bernama Firaun.
Keagungan perempuan ini ada pada kenyataan bahwa suaminya tidak dapat memaksakan jalan kesesatan terhadapnya, sekalipun suaminya dalam posisi seperti Firaun dengan kekuatan dan pribadi seperti itu. Jutaan pria berada di bawah kekuasaan Firaun dan tidak memiliki kehendak sendiri, tapi istrinya di rumah tidak pernah kalah dari kehendak suaminya. Ia bebas dan memilih untuk beriman kepada Allah. Ia meninggalkan jalan Firaun dan memilih jalan ilahi dan jalan kebenaran. Oleh karenanya, ia menjadi sebuah entitas dan manusia hebat, bukan saja di antara para perempuan, tetapi terpilih di antara semua manusia."
Di halaman Istana Firaun, udara terasa menyenangkan. Asiah dan suaminya, Firaun, duduk di sofa dan menyaksikan aliran air saat mereka berjalan-jalan di taman. Tiba-tiba, sesuatu di atas air menarik perhatian Asiah. Dia berkata kepada Firaun, "Lihatlah kotak itu, yang ada di atas air. Sepertinya ada sesuatu di dalamnya." Firaun memerintahkan anak buahnya untuk membawa kotak itu kepada mereka. Ketika Asiah membukanya, wajahnya tersenyum gembira dan berkata, "Sungguh anak yang cantik! Apa yang dia lakukan di sini?"
Firaun bergegas mendekat dan berkata, "Mungkin putra seorang dari Bani Israil yang menurut para penasihat akan lahir di tahun ini dan akan membinasakanku. Bawa dia ke sini!" Pada waktu itu Asiah memohon, "Tapi ini bakal membahagiakan aku dan kamu. Jangan bunuh dia! Mungkin itu baik untuk kita. Mari kita bawa dia dan mengangkatnya sebagai anak." Karena Firaun dan Asiah tidak memiliki putra, Firaun menyerah pada permintaan istrinya dan tidak mengatakan apa-apa.
Asiyah telah mengambil Nabi Musa as dari air sejak masih kecil dan merawatnya hingga besar. Atas kehendak Allah, sekalipun tanpa mengenal ibunya, tapi ibunya yang menyusui Nabi Musa as, sementara Asiah sendiri tidak membiarkan Musa terganggu. Al-Quran dalam ayat 9 surat Qashash menyebutkan, "Dan berkatalah istri Firaun, 'Anak ini adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak, sedang mereka tiada menyadari."
Memikirkan jalur kehidupan Asiah, membuat manusia memhami perempuan dengan poetensinya yang tersembunyi. Situasi yang melingkupi lingkungan hidup perempuan suci dan mukmin ini bisa menenggelamkannya di lautan kekufuran dan kesesatan, tetapi bantuan keinginan mencari Allah lewat fitrahnya, Asiah tidak tersesat dan dengan percaya kepada pencipta, dia tumbuh dan mencapai kesempurnaan. Karena itu, mempelajari kehidupan istri Firaun adalah hujjah dan dalil terakhir bagi semua perempuan yang menganggap kondisi keluarga dan latar belakang yang kurang beruntung sebagai alasan penyimpangan mereka. Sementara setiap manusia mampu mengatasi segala kondisi paling sulit untuk menghadapi semua kebodohan dan kesesatan.
Karena Asiah tidak memiliki kekuatan untuk mengubah kepercayaan Firaun dan memperbaiki kerusakan aparatur negara, setidaknya dia tidak mengabaikan tugasnya pribadinya dan seorang diri mengungkapkan keimanan dan memohon kepada Allah untuk membebaskannya dari linkungan kufur dan kesombongan. Satu-satunya kesenangan bagi Asiah adalah kehadiran Musa as, dimana spritual dan kesucian batinnya menarik Asiah dan menyebabkan dirinya bersedia menjadi pendukungnya. Berkali-kali Firaun memutuskan untuk membunuh anak ini, tetapi ia mencegahnya untuk melakukannya. Suatu hari Musa yang masih menyusui dan berada dalam pelukan Firaun, menarik jenggot Firaun, sehingga sebagian rambut jenggotnya putus dan menampar wajah Firaun dengan keras.
Firaun marah dan berkata, "Anak ini adalah musuhku." Waktu itu juga ia meminta algojo untuk membunuh anak itu. Aisah berkata kepada Firaun, "Tahan tanganmu! Ini bayi dan tidak mengerti baik dan buruk. Untuk mengkonfirmasi ucapan saya, saya akan memberinya sepotong batu rubi dan sepotong arang membara. Jika dia mengambil batu rubi, berarti ia memahami, sementara bila mengambil arang panas, kita tahu bahwa ia tidak mampu mengetahui apa yang dilakukannya. Asiah kemudian melakukan apa yang diucapkannya. Musa as ingin menjulurkan tangannya ke arah batu rubi, tapi malaikat Jibril mengarahkan tangannya ke arah arang yang membara.
Akhirnya, Musa mengambil batu arang membara dan membawanya ke arah mulutnya. Tangannya melepuh. Melihat itu, perlahan-lahan kemarahan Firaun menurun dan tidak jadi membunuh Musa. Dengan demikian, Asiah berhasil menyelamatkan anak kecil yang di kemudian hari menjadi penentu dan bagian terpenting dari sejarah dan kezaliman taghut serta tumbuh besar di lingkaran kekuasaan Firaun. Ayat 14 surat Qashash mengatakan, "Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
Asiah seorang perempuan yang tercerahkan dan pandangannya luas. Dia, yang imannya berkobar di dalam hatinya, dengan kematangan pemikiran dan budayanya mengidentifikasi dan mengakui kebenaran Musa dan langsung mengimani kenabiannya. Ketika Istri Firaun melihat mukjizat Musa (terhadap) penyihir, dia langsung mengisi hatinya dengan cahaya iman dan cinta, dan sejak saat itu, dia percaya pada Musa. Asiah terus menyembunyikan keyakinannya untuk menghindari penganiayaan Firaun. Namun, Firaun pada akhirnya menyadari keimanannya dan memintanya untuk meninggalkan agama Musa, tetapi Asiah bersikeras dan tidak tunduk pada permintaan Firaun. Akhirnya, Firaun memerintahkan untuk memaku tangan dan kakinya dan meletakkannya di bawah sinar matahari yang membakar serta meletakkan sebuah batu besar di dadanya. Kesabaran Asiah terhadap penyiksaan kejam Firaun dan agen-agennya adalah bukti kuatnya pemahaman dan keimanan perempuan yang taat ini.
Asiah as adalah contoh manusia beriman yang salah satu ciri di antaranya adalah tidak keluar dari jalur ilahi, bahkan ketika menghadapi kesulitan hidup. Jika seseorang mencapai tingkat iman yang tinggi, tidak mungkin untuk berhenti beriman. Karena dia telah melihat keindahan absolut dan pencipta keindahan. Imam Shadiq as dalam menggambarkan orang beriman ini mengatakan, "Orang beriman lebih keras daripada sepotong besi. Memang benar bahwa bagian besi berubah ketika dimasukkan ke dalam api, tetapi jika seorang mukmin dibunuh lalu hidup dan kemudian dibunuh lagi, hatinya tidak akan berubah dan berpaling dari kebenaran.
Istri Firaun, dengan cinta dan iman kepada Tuhan dan Hari Akhirat telah menggambarkan kepribadian dirinya, sehingga Allah menjadikannya teladan dan contoh bukan hanya untuk para perempuan, tapi bagi semua manusia beriman. Seperti yang Allah tunjukkan dalam ayat 11 dari surat al-Tahrim, "Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, 'Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim."
Allah juga memberinya derajat tinggi di dunia dan akhirat untuk menghargai iman yang kuat ini. Dam mengabulkan doa perempuan mukmin dan penuh pengorbanan ini, serta menempatkannya bersama para perempuan terbaik dunia.
Disebutkan ada beberapa nama yang dikutip untuk ibu Nabi Musa as, dimana yang paling terkenal adalah Yukabid. Seorang perempuan yang keabadian epiknya dalam mewujudkan tujuan Allah dan melindungi manusia pilihan ilahi, Musa as. Kehidupan Musa as adalah manifestasi yang jelas dari perjuangan antara yang benar dan yang salah, dimana setiap perempuan memiliki kehadiran yang signifikan.
Nabi Musa berasal dari para nabi Israil dan sezaman dengan Firaun, Raja Mesir. Firaun adalah penguasa paling kejam di masanya, yang akan membuat klaim bahwa dirinya adalah tuhan. Al-Quran dalam surat al-Qashash ayat 4 memperkenalkan Firaun seperti demikian, "Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."
Dari ayat tersebut jelas bahwa ketika berkuasa di Mesir, Firaun memerintahkan agar dalam rentang waktu tertentu, setiap anak laki-laki dari Bani Israil yang lahir harus dipenggal lehernya. Perintah ini berdasarkan mimpi yang dilihat Firaun dalam tidurnya.
Firaun, Raja Mesir yang sangat sombong berjalan di teras istananya. Tiba-tiba ia berteriak, "Beri tahu dan panggil para ilmuwan dan pentakbir mimpi!" Sejumlah orang dengan cepat mendatanginya. Mereka berlutut di hadapannya dan bersujud. Firaun berkata, "Ketika aku bermimpi, api membakar dari Baitul Maqdis dan menjalar ke seluruh Mesir dan di antara nyala api itu, semua etnis kita turut terbakar, tapi api tidak sampai membakar Bani Israil. Apa takbir dari mimpi ini?" Para pentakbir mimpi saling memandang dan tergagap karena panik.
Firaun bertanya, "Apa yang terjadi dengan kalian? Mengapa kalian terdiam?" Mereka menjawab, "Mimpi ini berarti bahwa seorang putra akan segera lahir di antara Bani Israil yang akan menghancurkan tahta dan mahkota Anda." Firaun melilit seperti ular yang terluka dan berkata, "Aku tidak akan membiarkan anak laki-laki hidup. Awasi perempuan Bani Israil. Bunuh setiap putra yang lahir. Hanya anak perempuan yang dibiarkan hidup." Bani Israil merasakan sedih. Karena setiap anak lak-laki dibunuh tanpa belas kasih dan kezaliman meraja lela.
Namun, sekalipun semua cara telah ditempuh dan pengawasan semakin intensif, tapi sesuai dengan kehendak Allah Swt, seorang anak laki-laki yaitu Musa terlahir ke dunia.
Sejumlah nama dikutip untuk menyebut nama ibu Nabi Musa as, dimana yang paling terkenal adalah Yukaibd atau Jochebed. Yukabid adalah istri Imran. Setelah ia merasakan sakit untuk melahirkan, dan dengan mencermati perintah kerajaan untuk membunuh setiap bayi laki-laki dan demi mencegah bahaya di masa depan, Yukabid menyerahkan segalanya kepada Allah dan mengundang bidan ke rumah agar mempersiapkan kelahiran bayinya. Ketika Musa terlahir ke dunia, bidan melihat cahaya di dahi bayi yang baru lahir dan merasakan cinta dan keakraban Musa dalam hatinya. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk tidak memberitahukan peristiwa ini kepada siapapun dan menutupi rahasia kelahiran bayi tersebut.
Tetapi insiden itu belum berakhir dan setiap saat ada bahaya membunuh bayi yang baru lahir. Pencarian para petugas terus berlanjut yang membuat hati ibu Musa terus-menerus khawatir tentang nasib yang dia harapkan untuk anaknya. Di sinilah pesan ketenangan diilhamkan kedalam hatinya, "Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul." (QS. Al-Qashash: 7)
Yukabid kemudian mencari seorang tukang kayu dan memintanya untuk membuatkan kotak. Setelah selesai membuat kotak, dengan berhati-hati ia membawanya ke rumah lalu meletakkan bayinya ke kotak tersebut dengan hati penuh kepercayaan kepada Allah Swt. Ia kemudian menutup pintu kotak dengan kuat dan melepaskannya di sungai Nil. Gelombang sungai mengantarkan Musa yang berada dalam kotak tersebut sampai ke istana Firaun.
Firaun dan istrinya tengah duduk-duduk di pinggir sungai Nil, ketika tiba-tiba mata mereka menyaksikan sebuah kotak. Firaun memerintahkan agar para pengawalnya mengambil kotak tersebut dan membawa kepadanya. Ketika ia membuka kotak tersebut, ia meyaksikan seorang bayi tampan. Allah meletakkan kecintaan kepada bayi tersebut ke dalam hati Asiah, sehingga ia berkata kepada Firaun, "Bayi ini akan menjadi sumber kebahagiaan aku dan engkau. Jangan membunuhnya dan mungkin ia bermanfaat bagi kita atau kita mengangkatnya sebagai anak."
Ketika Yukabid melepaskan Musa di sungai Nil, ia memerintahkan putrinya untuk melangkah mengikuti kotak tersebut dan melihat sampai di mana nasibnya. Saudara perempuan Musa mengikuti saudaranya dalam kondisi yang sulit dan tanpa diketahui ia sampai di istana Firaun. Di sanalah ia kemudian mengetahui bahwa orang-orang Firaun sedang mencari seseorang yang dapat menyusui Musa. Karena Musa tidak mau menyusui dari yang ditawarkan kepadanya. Pada waktu itu, saudari Musa tanpa memberitahukan identitasnya, berkata, "Apakah kalian mau aku beri informasi seorang perempuan yang tidak pernah menolak untuk menyusui seorang bayi?"
Istri Firaun yang sangat ingin mendapatkan seorang perempuan seperti ini memintanya agar menunjukkan perempuan yang menyusui itu agar ke istana. Yukabid tiba di istana. Di tengah jalan ia berpikir bagaimana Allah Swt dengan hikmah-Nya melakukan semua ini. Ketika ia masuk dan melihat bayinya, dimana semula ia sangat takut akan Firaun, matanya langsung berbinar-binar gembira dan bersyukur kepada Allah. Bayi itu juga seakan-akan membaui ibunya langsung tenang dalam pelukannya dan mulai menyusu. Ayat 13 dari surat al-Qashash menceritakan masalah ini, "Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."
Dengan demikian, lewat kebijakan ilahi dan semua telah diatur-Nya, Yukabid justru bisa bertemu dan bersama anaknya dan dirinya menyaksikan janji ilahi yang telah diilhamkan ke dalam hatinya. Setelah itu, keyakinan Yukabid akan kebenaran ilahi menjadi berlipat ganda.
Salah satu poin yang patut mendapat perhatian dalam cerita ini adalah pentingnya membesarkan anak di pangkuan ibu. Keluarga adalah pusat pertama pertumbuhan dan pendidikan manusia, serta kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Di sini kita melihat bahwa ibu Musa adalah seorang wanita yang kekuatan iman dan kepercayaannya kepada Allah memberinya kemampuan untuk menghadapi masalah-masalah serius dan keras seperti meninggalkan seorang anak di sungai. Ya, ibu Musa memiliki posisi dan kapasitas sedemikian rupa sehingga wahyu ilahi turun kepadanya dan kehendak Allah diletakkan kepadanya sehingga Musa akan tumbuh dari entitas bernilai dan penyembah tauhid bernama Yukabid serta besar dalam kecintaan ibunya.
Tidak diragukan lagi, setiap pusat keluarga, dengan adanya ayah dan ibu yang kompeten dan beriman, dapat menjadi titik fokus yang cocok untuk pertumbuhan yang tepat bagi anak-anak dan yang paling penting, keluarga adalah tempat yang berharga untuk ketenangan mental anak-anak. Ketika Musa menemukan kedamaian bersamanya, maka dari itu perlu memperhatikan setiap kerusakan yang terjadi pada institusi keluarga ini, pada kenyataannya, bahwa rumah kehilangan nilai dan pendidikannya.
Sebenarnya, kehendak Allah adalah bahwa Musa as harus dididik dan dibesarkan bersama ibu kandungnya. Para Nabi as dan para lelaki ilahi agung harus tumbuh bersama para ibu yang layak untuk mencapai posisi yang diinginkan. Ketika ibu Musa as diminta untuk memberikan Musa ASI dengan rencana yang tepat, itu dikarenakan karakteristik ibu ditransfer ke kehidupan anak melalui air susu ibu.
Masalah pengaruh ASI dan pemindahan sifat-sifat kepribadian dengan cara ini kepada anak yang akan memiliki citra transendental di masa depan adalah pemunculan nilai-nilai seorang perempuan dihadapan keberadaan seorang nabi. Ibu yang ahli dalam mendidik anaknya sangat berhasil. Ia bukan saja mendidik Musa untuk menjadi seorang nabi tetapi juga berhasil mendidik Harun, anaknya yang lain sehingga berlaku sebagai teman dan pembela saudaranya dan selalu mendukung saudaranya dalam semua tahap kehidupannya.
Sementara itu, Yukabid juga mendidik putrinya sedemikian rupa, sehingga dengan penuh keberanian membela adiknya. Demi menyelamatkan agama Allah, Yukabid siap mengobarkan nyawanya dan dalam kondisi yang mencekam dan di bawah pemerintahan zalim dan taghut, ia dapat mendidik anaknya sebagai pejuang, tahu tujuan, monoteis, dan anti taghut.
Ibu Musa as dengan semua ciri khas perilaku di masanya bahkan untuk masa depan tetap menjadi contoh yang kompeten bagi perempuan lain. Ia mengajarkan kepada kita bahwa seorang perempuan yang mensucikan dirinya, beriman, bertawakal, percaya diri, independen dalam berpikir, cerdas dan berani dapat mencapai derajat kedekatan dengan Allah Swt dan mendapat pertolongan ilahi agar sampai pada tujuannya. Ia telah menunjukkan bahwa perempuan juga sama seperti para nabi dapat menjadi utusan Allah di muka bumi untuk melayani makhluk-Nya.
Beberapa percaya bahwa manusia produk masyarakat dan kondisi serta hubungan yang mengaturnya, sehingga ia tidak dapat keluar dari hubungan ini. Dengan kata lain, mereka menyamakan lingkungan kehidupan seseorang dengan pohon dan menganggap manusia sebagai buah, yang nasibnya telah ditetapkan sebelumnya dan tidak ada cara untuk melarikan diri.
Sementara dalam perspektif al-Quran, manusia dipengaruhi oleh lingkungan, tapi kondisi apa pun mereka dapat menentang hubungan yang kejam terhadapnya dan tidak tergantung pada kondisi lingkungan.
Oleh karenanya, al-Quran hanya mengenal setiap orang sebagai penanggung jawab perbutannya sendiri. Manusia tidak dapat membuat alasan bahwa lingkungan khusus telah membuatnya tidak mendapat hidayah dan pencerahan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal ini dan setiap orang bertanggung jawab atas perilaku dan perbuatannya dan ia mendapat balasan dan imbalan sesuai dengan perbuatannya.
Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt dalam ayat 32 surat al-Nisaa, "(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan..." Sebagaimana dalam sejarah banyak juga pribadi yang hidup bersama tokoh-tokoh besar, tapi tidak ada pengaruhnya sedikitpun baginya. Sebagai contoh, sebagian dari istri para nabi.
Dalam surah al-Tahrim, empat perempuan dijadikan perumpaan dan menjadi contoh orang baik dan jahat. Seperti yang kami sebutkan dalam artikel sebelumnya, gambaran dua sampel perempuan disampaikan sedemikian rupa sehingga lingkungan kekafiran dan penindasan tidak dapat merusak kepercayaan mereka. Termasuk fakta bahwa istri Firaun, di lingkungan di mana suaminya mengaku sebagai tuhan, ia percaya pada Tuhan yang Esa dan menerima roh kebenaran dan cahaya iman.
Karena tujuan dari artikel ini adalah untuk mengungkapkan kisah perempuan yang kafir kami mempertimbangkan ayat 10 dari surat al-Tahrim, "Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)".
Istri-istri dari dua nabi besar Allah, Lutt dan Nuh, adalah perwujudan dari kekafiran dan pengkhianatan bagi semua manusia. Al-Quran menekankan nasib buruk kedua perempuan ini karena mereka berada di pusat keimanan dan pengetahuan para nabi Allah, tapi memilih jalan kekafiran dan pengkhiatan. Hasil dari kekafiran dan pengkhianatan terhadap Allah dan utusan-Nya adalah kebinasaan dan kehancuran. Tidak ada perbedaan siapa saja yang melakukannya. Dalam sistem penghakiman ilahi, koneksi dan hubungan individu dengan tokoh besar atau para nabi tidak memiliki efek pada keselamatan mereka dari hukuman Allah kecuali mereka berusaha dan melewati jalan hidayah.
Istri nabi Nuh dan Luth yang sebelumnya bersama para nabi ternyata kedekatan itu tidak berpengaruh pada nasib mereka. Karena masalah ini merupakan Sunnah Ilahi yang telah disebutkan dalam ayat 51 surat Ibrahim as, "Agar Allah memberikan pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha Cepat hisab-Nya."
Al-Quran menyebut Nabi Luth as 27 kali dan menyebut beliau sebagai seorang nabi yang rasul dan saleh yang menghadapi ketidaktaatan dan mengikuti nafsu. Beliau mengajak mereka untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim as, tapi mereka membangkang dari perintahnya. Luth adalah salah satu nabi ilahi yang dipilih untuk memberi hidayah kaumnya di salah satu kota Palestina. Kaum Nabi Luth as berada di puncak kerusakan dan kemaksiatan.
Mereka begitu tenggelam dalam kerusakan, sehingga setiap kali melakukan pekerjaan, selalu memilih keburukannya. Masyarakat yang tidak beriman, tidak mengenal Tuhan, zalim, berani melanggar dan kasar. Kaum Nabi Luth tidak tahu malu dan skandal kaum ini sampai pada batas, dimana mereka melakukan hubungan sesama jenis. Para pria justru menjauhi perempuan dan tidak mau menikahi mereka. Ketika kaum perempuan melihat perilaku pria mereka, sebagai bentuk protes dan membalasnya, mereka juga melakukan hal yang sama, sehingga hubungan sesama jenis menjadi pemandangan biasa di kaum ini.
Sebagaimana kalian ketahui bahwa perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan untuk mempertahankan spesies manusia tetap berlangsung, sehingga satu sama lain saling membutuhkan. Selama kecenderungan ini berada di jalur yang benar dan fitrahnya, dan dipenuhi lewat jalur yang benar dan logis menjadi satu hal yang suci. Namun, ketika keluar dari jalur asilinya dan bukan wasilah bati tujuan yang memiliki nilai, tapi menjadi alat untuk merusak ruh dan jiwa pribadi dan masyarakat.
Kaum Luth, untuk memuaskan naluri seksnya bersikeras untuk melakukan perbuatan tidak layaknya dan melakukan hubungan buruk dan tidak sah dengan laki-laki dengan cara mereka sendiri. Selain beberapa ayat dikhususkan untuk membahas kaum Luth, agar perbuatan buruk yang dilakukan kaum tersebut membuat mereka diazab, al-Quran membahasnya agar menjadi pelajaran bagi manusia. Tetapi sayangnya, kita sekarang melihat bahwa cara yang tidak masuk akal dan tidak wajar yang dilakukan oleh kaum Luth, karena ketidaktahuan dan kesesatan mereka, telah menjadi populer di beberapa masyarakat, terutama negara-negara Barat, dan anehnya dibuat acara resmi dan legal untuknya. Ini adalah hal yang sangat memalukan bagi masyarakat yang mengklaim sains dan peradaban.
Apa yang paling menyiksa Nabi Luth as dari perilaku kaumnya adalah penyimpangan pemikiran dan kesesatan istrinya. Karena istri beliau dipengaruhi masyarakat dan lingkungannya yang tidak beragama dan tidak mengenal Tuhan. Istri Nabi Luth as tetap menjaga kesuciannya, tapi tidak sesuai dengan keinginan Nabi Luth as. Ia punya perangai yang kasar dan buruk. Selalu berusaha mengotori astmosfer rumah dengan riya dan kelicikan. Kesalahan istri Luth bukan karena ada penyimpangan seksual atau berbuat di luar dari kehormatan seorang wanita.
Kebanyakan ahli tafsir mengatakan bahwa pengkhianatan istri Luth dan Nuh karena mereka berkolaborasi dengan musuh para nabi menyampaikan rahasia di rumah kepada musuh. Karena ucapan dari istri Nabi Nuh dan Luth telah disebutkan dalam surat yang menyebutkan ucapan dua istri Nabi Muhammad Saw, dimana mereka mencampuri urusan Nabi Saw dalam peristiwa pengungkapan rahasia dan mengganggu beliau, serta kesesuaian kisah ini dengan kisah pengungkapan rahasia rumah Nabi Muhammad Saw yang membuat makna dari pengkhianatan adalah mengungkap rahasia.
Ketika malaikat datang untuk mengunjungi Luth sebagai tamu dengan wajah muda dan tanpan. Istri Nabi Luth as mengabarkan kedatangan para tamu suaminya kepada masyarakat, padahal telah dilarang oleh suaminya. Kaum Luth pelaku hubungan sesama jenis langsung mendatanginya. Kekhawatiran Luth adalah jangan sampai mereka melakukan hal yang tidak-tidak kepada para tamunya, sehingga meminta mereka untuk tidak mengganggu tamunya. Untuk itu Nabi Luth as bersedia untuk menyerahkan putrinya menjadi suami mereka. Oleh karenanya beliau berkata kepada mereka, "Ini adalah putriku, nikahi mereka. Mereka bersih dan suci untuk kalian dan jangan permalukan aku di depan para tamuku."
Kisah ini disebutkan dlam surat al-A'raf ayat 80-84.
"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri". Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu."
Istri Luth telah melakukan pengkhianatan dan kemunafikan terhadap apa yang diperjuangkan Nabi Luth. Perilakunya ini bukan saja telah membuatnya jauh dari rahmat ilahi, tapi menderita azab ilahi bersama kelompok yang menyimpang.
Setelah menyimak tentang kisah istri Nabi Luth as, kini giliran memahami istri Nabi Nuh as dari al-Quran.
Di masa kehidupan Nabi Nuh as, korupsi menyebar di bumi sehingga orang-orang berpaling dari agama tauhid dan keadilan dan kembali menyembah berhala. Kesenjangan kelas secara bertahap meningkat. Mereka yang kuat menginjak-injak hak-hak mereka yang lebih lemah dan penguasa semakin melemahkan mereka yang berada di bawahnya. Dalam kondisi yang seperti ini, Allah mengutus Nuh sebagai nabi-Nya dan mengirimnya ke tengah masyarakat bersama sebuah kitab samawi dan syariat untuk mengajak mereka ke agama tauhid dan meninggalkan para berhala serta menegakkan persamaan di antara mereka.
Nabi Nuh as menemui kaumnya, "(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui."
Nuh adalah nabi Ulul Azmi pertama yang bangkit untuk tauhid dan melawan penyembahan berhala. Nuh berasal dari keluarga yang tinggal di kota dan nama istrinya adalah Waghilah. Sekalipun menjaga kehormatan dirinya, tapi Waghilah memiliki perilaku yang tidak baik, yang membuat al-Quran menyalahkannya. Istri Nabi Nuh membawa rahasia di rumah ke luar lalu mengadukan suaminya kepada siapa saja.
Waghilah adalah seorang kafir dan tidak beriman kepada Allah Yang Esa serta berada di bawah penyimpangan pemikiran masyarakat yang berada di sekelilingnya. Ia menolak Allah yang Maha Kuasa sebagai pencipta alam dan menolak nasihat dan peringatan Nabi Nuh as.
Kisah istri Nabi Nuh menggambarkan lingkungan sosial ternyata tidak seratus persen mempengaruhi pendidikan agama seseorang dan manusia memiliki hak memilih dan kehendak sebagai faktor paling menentukan dan bergerak berbeda dari lingkungan dan kondisi sosial. Dengan ungkapan lain, perilaku setiap manusia yang memilih sesuatu dengan sadar dan kehendaknya itulah yang menentukan kebahagiaan dan kesengsaraannya. Sekalipun istri Nabi Nuh as berada di pusat hidayah, tapi dengan pilihan yang tidak benar, ia telah meletakkan dirinya di jalur kebinasaan.
Pada zaman Nuh as, orang-orang berada dalam kelalaian dan ketidaktahuan, mereka tidak berpikir tentang filosofi penciptaan dan penciptaan mereka, juga tidak merasa malu dengan kepercayaan takhayul dan perbuatan buruk mereka. Bertahun-tahun lewat. Selama tahun-tahun ini, jumlah mereka yang menjadi pengikut Nuh dan menerima dakwahnya tidak mencapai ratusan! Istri Nuh bersama masyarakat tetap pada kekufuran dan ketidaktaatan. Bahkan ketika mendatangi masyarakat, ia justru memperingatkan mereka agar tidak menerima dakwah Nuh, suaminya. Ia mengatakan, "Nuh sudah tua dan kekuatan berpikirnya sudah hilang!"
Dengan demikian, Nuh bukan saja tersiksa dengan kaumnya yang menyimpang, tapi ucapan istrinya lebih menyakitkan dirinya. Padahal bila dibanginkan orang lain, istrinya lebih banyak berada di bawah sinar mentari risalah Nuh as dan setiap harinya mendapat siraman rohani, tapi patut disayangkan bahwa ia risalah suaminya tidak menciptakan penerangan di dalam jiwanya yang tidak suci. Bila seseorang mempertahankan kesucian fitrahnya dan selalu berusaha mencari kesempurnaan, ia dapat melangkah di jalur kebenaran dan kebahagiaan dan menjadi pendukung terbaik bagi suaminya. Tapi ia selalu melemahkan suaminya, seorang hamba yang dipilih Allah dan memilih untuk menjauh dari jalur hidayah.
Salah satu tujuan penting pernikahan adalah terciptanya ketenangan di antara suami dan istri. Adanya keasikan dan keakraban dalam keluarga petanda keberhasilan pernikahan dalam meraih tujuan utamanya dan efeknya adalah suami dan istri keduanya melaksanakan kewajibannya terhadap satu sama lain.
Sementara itu, mengingat adanya emosi yang sangat kuat pada perempuan, peran mereka dalam memberikan kesehatan mental keluarga lebih mencolok. Seorang perempuan dapat mengubah kejiwaan suaminya yang lelah dan frustrasi dalam menghadapi masalah, atau setidaknya menjadi tempat bersandar atas ketidaknyamanan dengan kesabarannya. Begitu juga istri dapat berperan efektif dalam melemahkan semangat suaminya dan menyebabkan melemahnya sistem keluarga.
Ketika kegelapan kufur mendominasi tingkat eksistensial manusia dan merendahkan kemanusiaan bawaannya dan senantiasa mencari Tuhan, dikhawatirkan bahwa faktor eksternal yang terkuat tidak akan mampu menghilangkan kegelapan material dari jiwa manusia. Kisah istri Nabi Nuh menjelaskan kebenaran yang pahit ini. Dalam surat al-Tahrim ayat 10, dijelaskan tentang istri Luth, selain istri Nabi Nuh. "Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)."
Ayat ini menerangi karakter orang-orang kafir dalam kebrutalan dan kehancuran, dengan mengatakan, "Jika kondisi istri Nuh atau Luth demikian, karena pengkhianatan mereka kepada Allah dan utusan-Nya dan akhir pengkhianatan terhadap Tuhan dan Rasul sperti ini." Siapa pun yang melakukan pengkhianatan semacam itu akan berakhir menyedihkan, sekalipun ia berafiliasi dengan para nabi.
Keteladanan dan karakternya juga ada yang positif dan ada yang negatif. Ciri khas terbesar yang disebutkan untuk perempauan jahat dalam al-Quran adalah pengkhianatan. Istri Nuh adalah seorang perempuan yang berada di inti dari wahyu dan di sebelah nabi yang sabar. Tetapi pada saat yang sama, sangat asing dengan ajaran ilahi sehingga ia disebut sebagai pengkhianat.
Dia mengacaukan posisi dirinya sebagai istri dan menuduh pria hebat itu gila kepada orang lain. Al-Quran menunjukkan bahwa perempuan ini adalah istri nabi, tapi berkhianat, sehingga berusaha menutup jalan kejabian dan berusaha membungkam cahaya yang benar. Dia bendera ketidakkonsistenan dan keras kepala dan karenanya berada di neraka.
Akhirnya, seorang perempuan yang tumbuh dengan bibit keimanan dapat menjadi pendukung Nabi Allah yang terbaik, menjadi musuh Nabi Nuh karena telah terbenam dalam pelbagai faktor seperti ketidaktahuan dan takhayul dan menderita hukuman abadi. Kapanpun seseorang - bahkan dalam posisi seorang istri hamba yang saleh dari Tuhan, tidak menghiraukan dirinya sendiri, dan rutinitas sehari-hari dan upaya materi menjadi tujuannya, maka dimensi maknawi dan spiritualnya akan dilupakan, hubungan dengan Allah akan sepenuhnya terputus, atau hubungan akan berada dalam bentuk yang murni formal dan tanpa semangat dan isi.
Istri Nuh layak menerima azab ilahi sebagai salah satu dari orang-orang kafir, yang kekufuran dan kekotoran syirik telah mengakar dalam dirinya. Setelah bertahun-tahun berjuang dan mengajak masyarakat kepada Allah serta menyempurnakan hujjah kepada mereka, Nabi Nuh akhirnya putus asa untuk membimbing mereka. Beliau kemudian mengutuk umatnya dan kemudian Allah memerintahkannya untuk membangun kapal.
Istri Nuh telah dicontohkan kepada manusia yang jahat baik laki-laki maupun perempuan agar menjadi jelas bahwa kehadiran fisik di pusat para nabi ilahi tanpa kepercayaan pada mereka bukanlah tali yang dapat dipegang untuk menyelamatkan diri dari azab ilahi, tetapi apa pun yang terjadi kembali pada pilihan seseorang yang dapat membuatnya diazab atau justru membebaskannya. Jadi, setiap orang harus dengan berhati-hati dan teliti dalam mempertimbangkan kepercayaan dan pemikiran mereka, dan merefleksikan kedalaman dan kebijaksanaan dari apa yang mereka rasakan.
Daftar Isi:
1
Perempuan 1
dalam Al-Quran 1
Pendahuluan 2
Hawa 8
Sarah 14
Hajar 21
Balqis 27
Aisah (Istri Firaun) 34
Yukabid (Ibu Nabi Musa as) 40
Istri Nabi Luth as 46
Istri Nabi Nuh as 52