• Mulai
  • Sebelumnya
  • 28 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 588 / Download: 269
Ukuran Ukuran Ukuran
PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN (4)

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN (4)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN

Najmuddin Thabasi

Penerjemah: Muhammad Habibi

PRAKATA PENERBIT

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Pusaka dan peninggalan berharga Ahlul Bait as. yang sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam khazanah mereka merupakan universitas lengkap yang mengajarkan berbagai ilmu Islam. Universitas ini telah mampu membina jiwa-jiwa yang berpotensi untuk menguasai pengetahuan dari sumber tersebut. Mereka mempersembahkan kepada umat Islam ulama-ulama besar yang membawa risalah Ahlul Bait as., ulama-ulama yang mampu menjawab secara ilmiah segala kritik, keraguan dan persoalan yang dikemukakan oleh berbagai mazhab dan aliran pemikiran, baik dari dalam maupun luar Islam.

Berangkat dari misi dan tugas yang diemban, Lembaga Internasional Ahlul Bait (Majma‘ Jahani Ahlul Bait) berusaha mempertahankan kemu-liaan risalah dan hakikatnya dari serangan tokoh-tokoh firqah (kelompok), mazhab, dan berbagai aliran yang memusuhi Islam. Dalam hal ini, kami berusaha mengikuti jejak Ahlul Bait as. dan penerus mereka yang sepanjang masa senantiasa tegar dalam menghadapi tantangan dan tetap kokoh di garis depan perlawanan.

Khazanah intelektual yang terdapat dalam karya-karya ulama Ahlul Bait as. tidak ada bandingannya, karena buku-buku tersebut berpijak pada landasan ilmiah dan didukung oleh logika dan argumentasi yang kokoh, serta jauh dari pengaruh hawa nafsu dan fanatik buta. Karya-karya ilmiah yang dapat diterima oleh akal dan fitrah yang sehat tersebut juga mereka peruntukkan kepada para ulama dan pemikir.

Dengan berbekal sekian pengalaman yang melimpah, Lembaga Internasional Ahlul Bait berupaya mengetengahkan metode baru kepada para pencari kebenaran melalui berbagai tulisan dan karya ilmiah yang disusun oleh para penulis kontemporer yang mengikuti dan mengamalkan ajaran mulia Ahlul Bait as. Di samping itu, lembaga ini berupaya meneliti dan menyebarkan berbagai tulisan bermanfaat dari hasil karya ulama Syi‘ah terdahulu. Tujuannya adalah agar kekayaan ilmiah ini menjadi sumber mata air bagi setiap pencari kebenaran di seluruh penjuru dunia. Perlu dicatat bahwa era kemajuan intelektual telah mencapai kematangannya dan relasi antarindividu semakin ter-jalin demikian cepatnya. Sehingga pintu hati terbuka untuk menerima kebenaran ajaran Ahlul Bait as.

Kami mengharap kepada para pembaca yang mulia kiranya sudi menyampaikan berbagai pandangan berharga dan kritik konstruktifnya demi kemajuan Lembaga ini di masa mendatang. Kami juga mengajak kepada berbagai lembaga ilmiah, ulama, penulis, dan penerjemah untuk bekerja sama dengan kami dalam upaya menyebarluaskan ajaran dan budaya Islam yang murni. Semoga Allah swt. berkenan menerima usaha sederhana ini dan melimpahkan taufik-Nya serta senantiasa menjaga Khalifah-Nya (Imam Al-Mahdi as.) di muka bumi ini.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. Najmuddin Thabasi yang telah berupaya menulis buku ini. Demikian juga kami sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Sdr. Muhammad Habibi yang telah bekerja keras menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia, juga kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan buku ini.

Divisi Kebudayaan Lembaga Internasional Ahlul Bait

PENDAHULUAN

Segera setelah negeri Shush—tempat Nabi Daniel as. dimakamkan—lepas dari kekuasaan orang-orang partai Baath, penduduk di sana secara bertahap kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Dan ketika itulah saya mendapat kehormatan untuk hadir bersama para pejuang. Di masjid jami kota bersejarah itu, saya menyampaikan rangkaian kuliah seputar Imam Zaman af. dengan mengacu kepada kitab Bihar al-Anwar karya ‘Allamah Majlisi ra.

Pada waktu itu, saya menyadari bahwa meskipun banyak sekali permasalahan telah dibahas seputar Imam Mahdi af. seperti: panjangnya usia beliau, falsafah keghaibannya, berbagai faktor penyebab kemunculannya, dan lain sebagainya, namun pembahasan tentang bagaimana imam Mahdi af. bangkit; bagaimana pemerintahannya dan seperti apa ia memimpin, belum menjadi obyek kajian yang memadai. Atas dasar itu, saya bermaksud untuk membahas masalah ini, sehingga barangkali saya dapat menemukan berbagai jawaban untuk beragam pertanyaan yang seringkali mengemuka dan menjadi bahan pikiran khalayak.

Di antara pertanyaan-pertanyaan itu ialah bagaimana Imam Mahdi af. kelak akan menggugurkan berbagai sistem sosial yang memiliki kemampunan dan kekuatan beragam di muka bumi, lalu menggantikannya dengan sebuah sistem pemerintahan global dan mendunia? Bagaimana sistem dan agenda pemerintahan imam Mahdi af., sehingga ketika ia memerintah, tak lagi tersisa kezaliman dan kerusakan sedikit pun di dunia, tak akan pula ditemukan seorang pun yang hidup kelaparan?

Berangkat dari berbagai pertanyaan semacam inilah saya terdorong selama empat tahun untuk melakukan penelitian. Dan tampaknya mulai menemukan hasil; yaitu berupa buku yang ada di hadapan para pembaca yang budiman ini.

Bagian pertama buku membahas kondisi dunia sebelum kemunculan Imam Mahdi af.; kondisi yang berkecamuk dengan peperangan, pembunuhan, kekeringan, kehancuran, kematian, tersebarnya wabah penyakit, kezaliman, ketakutan, dan kekacauan. Kelak kita akan menyimak bahwa pada masamasa itu, umat manusia akan merasa putus asa dan kecewa terhadap keberadaan berbagai sistem pemikiran dan pemerintahan yang semuanya mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia dan menjanjikan kebahagiaan serta keselamatan. Mereka merasa putus asa akan pulihnya situasi dan membaiknya kondisi dunia. Semua pihak ketika itu menanti kedatangan seorang juru penyelamat yang akan membimbing mereka menuju keselamatan.

Bagian kedua, mengupas seputar bagaimana kebangkitan dan revolusi global Imam Mahdi af. Inilah gerakan yang akan dimulai dari dekat Ka’bah dengan diumumkannya kemunculan beliau. Ketika itu, para pengikut sejati beliau dari segala penjuru dunia bergabung dengannya. Pasukan yang luar biasa terbentuk dengan teratur, para pemimpin ditentukan, dan dimulailah berbagai aksi global dalam tingkatan yang semakin meluas.

Imam Mahdi af. akan datang dan melenyapkan kezaliman dan orang-orangnya dari tengah-tengah umat manusia sampai ke akar-akarnya. Umat manusia yang dimaksud di sini tidak hanya terbatas pada mereka yang hidup di kawasan Hijaz, Timur Tengah, dan Asia saja, bahkan meliputi seluruh dunia.

Memperbaiki masyarakat yang dipenuhi berbagai kezaliman dan kerusakan seperti ini adalah pekerjaan yang sangat sulit. Setiap orang yang mengaku akan melakukannya, berarti ia juga mengaku telah memiliki mukjizat yang sangat besar. Sesungguhnya mukjizat seperti ini memang ada dan akan terwujud di tangan Imam Mahdi af.

Adapun bagian ketiga buku ini membahas pemerintahan Imam terakhir kita itu. Untuk menata dunia yang telah dipenuhi kezaliman dan kerusakan, juga mewujudkan legitimasi Islam, pemerintahan yang kuat dan kompeten, Imam Mahdi af. akan membentuk sebuah pemerintahan yang adil yang dibantu para sahabat terbaik di zamannya. Selain itu, ia pun dibantu para pembesar kekasih Allah seperti Nabi Isa as., Salman Al-Farisi, Malik al-Asytar, dan orang-orang baik lainnya yang merupakan al-salaf al-shaleh. Meskipun peran mereka dalam menggulingkan pemerintahan zalim tidak bisa diabaikan, amun peran sejati mereka adalah membangun dan membenahi dunia pada masa pemerintahan Imam Mahdi af.

Apa yang telah dijelaskan secara sederhana dalam pendahuluan ini merupakan pembahasan yang telah memanfaatkan berbagai literatur dari puluhan kitab terkemuka baik dari kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, dengan mengkaji ratusan riwayat dan disajikan secara sistematis dalam format buku yang kami anggap dapat dipertanggungjawabkan argumentasinya.

Walaupun tidak secara sempurna, semoga buku ini dapat melukiskan kondisi umat Islam setelah munculnya sang ratu adil. Mudah-mudahan buku ini dapat diterima oleh Imam Mahdi af. dan bermanfaat bagi seluruh lapisan kaum Muslimin dan orang-orang yang teguh menanti kemunculannya. Dan semoga saja buku ini dapat menambah kesiapan mereka untuk menyambut kedatangan sang Imam.

Kami memohon kepada Allah; Tuhan semesta alam, untuk membangkitkan Imam Khumaini—orang yang telah menampilkan sebuah contoh pemerintahan Imam Mahdi af di negeri Persia—bersama para Nabi dan manuisa-manuisa maksum. Semoga Allah mengaruniai keberhasilan bagi para pecinta Islam yang berkhidmat kepada Ahlul Bait as. dan tanah airnya, dan semoga Allah mengokohkan diri mereka dalam menjaga tanah air ibu kota Islam ini.

Di sini, rasanya penting sekali bagi saya untuk memberikan beberapa penjelasan sebelum Anda membaca buku ini:

 Kami tidak mengklaim telah membawakan pembahasan baru dalam buku ini, karena rangkaian riwayat yang dikemukakan merupakan riwayat yang telah dikumpulkan oleh ulama Islam terdahulu, dan dalam beberapa bagian mereka pun telah menyampaikan kesimpulannya. Tampaknya, kekhususan buku ini tidak terjebak pada berbagai istilah teknis yang sulit. Dengan metode baru, pembahasan disampaikan secara mudah dan gamblang, sehingga dapat dipahami oleh banyak orang.

 Berbagai kesimpulan yang ditarik dari riwayat tertentu yang tidak disebutkan sumber rujukannya adalah pendapat pribadi penulis. Oleh karena itu, mungkin saja dengan penelitian yang lebih mendalam atas berbagai riwayat tersebut akan ditemukan kesimpulan lain.

 Kami juga tidak mengklaim bahwa semua riwayat yang disajikan dalam buku ini adalah riwayat sahih yang tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, sebagaimana permasalahan ini telah dibahas secara terperinci dalam jurnal Entezar. Walaupun demikian, kami berusaha menukilkan apa-apa yang disampaikan oleh ulama hadis dan para penulis ternama dalam berbagai karya mereka. Selain itu, hanya dalam beberapa tempat saja kami membahas kebenaran sanad suatu riwayat; karena kami tidak bermaksud melakukannya dalam buku ini. Lagi pula, kebanyakan riwayat-riwayat yang kami gunakan pada umumnya dapat dipercaya, khususnya riwayat-riwayat dari jalur Ahlul Bait as.

 Riwayat-riwayat dalam buku ini telah dikumpulkan sebelum diterbitkannya kitab Mu’jam Ahadits Al-Imam Al-Mahdi.[1] Oleh karenanya, dalam sebagian tempat, kami mempersilahkan para pembaca untuk merujuk kepada kitab tersebut—yang terlebih dahulu disusun sebelum buku ini—untuk melihat hasil penelitian yang lebih terperinci.

 Dalam beberapa riwayat, kata al-sa’ah (waktu) dan alqiyamah (kiamat) telah ditafsirkan sebagai kemunculan Imam Mahdi af. Oleh karenanya, riwayat-riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda-petanda dekatnya kejadian as-sa’ah dan al-qiyamah kami bawakan sebagai riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda kemunculan Imam Mahdi af.

 Sebagian materi pembahasan dalam buku ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, meskipun telah ada usaha sebelumnya untuk meneliti berbagai permasalahan tersebut. Semoga Allah mengizinkan kami untuk memberikan catatan tambahan hasil penelitian yang lebih baik dalam buku ini pada cetakan berikutnya.

Sebelum mengakhiri kata pengantar ini, sebagaimana riwayat yang menyebutkan, “Barang siapa tidak berterima kasih kepada sesama makhluk, maka ia tidak berterima kasih kepada Sang Khaliq”, sepatutnya saya sampaikan banyak terima kasih kepada saudara-saudara dan teman-teman, khususnya dua saudara besar saya, yaitu Hujjatul Isam Muhammad Jawad dan Muhammad Ja’far Thabasi atas saransaran mereka, demikian juga kepada Hujjatul Islam Ali Rafi’i dan Sayid Muhammad Husaini Shahrudi atas bantuannya dalam menyusun buku ini.

Najmuddin Thabasi Qom, 1378 HS.

Bab 3

PASUKAN IMAM MAHDI AF.

Pasukan Imam Mahdi af. berasal dari bangsa yang beraneka ragam. Ketika beliau muncul, mereka akan dipanggil dengan berbagai cara khusus. Orang-orang yang sebelumnya telah dipilih sebagai pemimpin, akan memimpin sekelompok pasukan dan mengatur gerakan serta operasi-operasi militer yang akan dilakukan. Orang-orang yang diterima sebagai pasukan Imam Mahdi af. memiliki kriteria khusus.

Pada bagian ini, kami akan membawakan beberapa riwayat mengenai hal di atas.

A. Pemimpin Pasukan

Dalam beberapa riwayat, disebutkan adanya orang-orang tertentu yang bertugas memimpin dalam beberapa gerakan militer. Ada juga yang menjadi pemimpin sekelompok pasukan. Pada bagian ini, dikupas nama orang-orang tersebut beserta tugas-tugasnya.

1. Nabi Isa as.

Dalam sebuah khutbah, Imam Ali as. bersabda, “… Pada suatu saat, Imam Mahdi menjadikan Nabi Isa as. sebagai penggantinya dalam sebuah gerakan melawan Dajal. Nabi Isa as. bangkit untuk mengalahkan Dajal. Dajal yang telah menguasai bumi dan menghancurkan areal pertanian juga membinasakan manusia, senantiasa mengajak umat manusia mengikutinya. Setiap orang yang menerima ajakannya, diperlakukan dengan baik. Namun sebaliknya, di bunuh setiap orang yang menolaknya. Seluruh tempat selain Mekah, Madinah, dan Baitul Maqdis dihancurkannya. Semua anakanak haram dari Barat dan Timur dunia berkumpul di sekelilingnya.

“Dajal bergerak menuju Hijaz, dan Nabi Isa as. yang berada di sekitar Hirisya mendatanginya. Lalu ia berteriak lantang dan memukulnya dengan keras, kemudian memasukkannya ke dalam kobaran api. Dajal lenyap bagaikan timah yang meleleh terkena api.”[2]

Pukulan keras yang menyebabkan Dajal binasa barangkali karena dampak luar biasa senjata tercanggih di zaman itu. Mungkin juga hal ini menunjukkan mukjizat Nabi Isa as.

Tentang kekhususan Nabi Isa as., terdapat sebuah riwayat menyebutkan, “Nabi Isa as. memiliki wibawa yang sangat luar biasa, sehingga ketika musuh melihatnya, ia merasa gentar dan terlintas bayangan kematian di pikirannya, seakan-akan Nabi Isa as. berniat mencabut nyawanya.”[3]

2. Syu’aib bin Shaleh

Imam Ali as. bersabda, “Sufyani dan orang-orang yang mengibarkan bendera hitam saling berhadapan. Di antara mereka ada seorang pemuda dari Bani Hasyim dimana di telapak tangan kirinya terdapat bercak hitam. Adapun pemimpinnya adalah seorang lelaki dari Bani Tamim yang bernama Syu’aib bin Shaleh.”[4]

Hasan Bashri berkata, “Akan muncul seseorang bernama Syu’aib bin Shaleh di Ray. Ia adalah orang yang tak berjenggot. Bahunya indah. Ia memimpin empat ribu prajurit yang memakai pakaian putih dan memiliki bendera berwarna hitam. Mereka adalah pasukan barisan depan Al-Mahdi.”[5]

Ammar Yasir berkata, “Syu’aib bin Shaleh adalah pembawa bendera Imam Mahdi af.”[6]

Syablanji berkata, “Pemimpin pasukan barisan depan Imam Mahdi af. adalah seorang lelaki dari Bani Tamim yang memiliki sedikit janggut bernama Syu’aib bin Shaleh.”[7]

Muhammad bin Hanafiyah berkata, “Akan keluar pasukan dari Khurasan yang mengenakan sabuk hitam dan pakaian berwarna putih. Mereka adalah pasukan barisan terdepan yang dipimpin oleh orang yang bernama Syu’aib bin Shaleh atau Shaleh bin Syu’aib. Ia dari kabilah Bani Tamim. Mereka akan mengalahkan pasukan Sufyani, lalu pergi ke Baitul Maqdis dan mempersiapkan segalanya di sana, untuk menyam-but kedatangan Imam Mahdi af.”[8]

3. Ismail putra Imam Shadiq as. dan Abdullah bin Syuraik

Abu Khadijah berkata bahwa Imam Shadiq as. bersabda, “Aku pernah memohon kepada Allah untuk menjadikan anakku Ismail, sebagai penerus setelahku. Tetapi, Allah tidak mengabulkannya. Ia memberikan kedudukan yang lain untuknya. Ia adalah orang yang pertama yang akan muncul bersama sepuluh orang kawannya. Salah satu dari sepuluh orang tersebut adalah Abdullah bin Syarik. Ia adalah pemegang bendera pasukannya.’”[9]

Imam Baqir as. bersabda, “Seakan-akan aku sedang melihat Abdullah bin Syarik Amiri tengah memakai sorban hitam dan kedua ujungnya terjulur di kedua bahunya. Ia memimpin empat ribu orang yang menjadi pasukan garda depan Imam Mahdi af., dari kaki gunung menuju puncak gunung sambil mengucapkan Takbir.”[10]

4. Aqil dan Harits

Imam Ali as. bersabda, “… Imam Mahdi mengerahkan pasukannya dan terus bergerak sampai memasuki Irak. Ia berada di antara dua pasukan, pasukan barisan terdepan yang berada di hadapannya, dan pasukan yang berada di belakangnya. Pasukan barisan terdepan dipimpin oleh seorang lelaki bernama Aqil, dan pasukan di belakangnya dipimpin oleh Harits.

5. Jabir bin Khabur

Imam Shadiq as. menukil ucapan Imam Ali as., “Orang ini (Jabir) akan menunggu kedatangan al-Qaim (Imam Mahdi af.) di Jabal al-Ahwaz bersama empat ribu pasukannya dengan senjata di tangan mereka. Ia akan berperang bersama beliau af. melawan musuh-musuhnya.”[11]

6. Mufadhal bin Umar

Imam Shadiq as. berkata kepada Mufadhal, “Engkau bersama empat puluh empat orang lainnya akan bersama dengan alQaim af. Engkau akan berada di sisi kanan beliau melakukan amar makruf dan nahi munkar. Sesungguhnya orang-orang di zaman itu, lebih baik dari pada orang-orang di zaman ini dalam menaatimu.”[12]

7. Ashabul Kahfi

Imam Ali as. bersabda, “Ashabul Kahfi akan datang kembali untuk membantu Al-Mahdi (af).”[13]

B. Pasukan dari Berbagai Bangsa

Pasukan Imam Mahdi af. terbentuk dari orang-orang yang berasal dari berbagai negara. Dalam riwayat, banyak sekali ditemukan pembahasan tersebut. Terkadang disebutkan bahwa pasukan Imam Mahdi af. adalah orang-orang Ajam. Dalam sebagian riwayat disebutkan nama-nama negeri dan kota yang dari sana pasukan Imam Mahdi berdatangan. Disebutkan pula bahwa beberapa kaum kelak dibangkitkan kembali untuk menolong Imam Mahdi af., seperti kaum Bani Israil yang telah bertaubat, orang-orang Nasrani yang beriman, dan orang-orang mulia lainnya.

Dalam pembahasan ini, kami akan membawakan beberapa riwayat.

1. Bangsa Iran

Berdasarkan berbagai riwayat, sebagian dari anggota pasukan khusus Imam Mahdi af. adalah bangsa Iran. Mereka disebut dengan bermacam-macam panggilan, seperti sebutan orangorang Ray, orang-orang Khurasan, harta-harta dari Thaliqan, orang-orang Qom, bangsa Persia, dan sebutan lainnya.

Imam Baqir as. bersabda, “Akan datang pasukan berbendera hitam dari Khurasan ke kota Kufah. Ketika Imam Mahdi af. muncul, mereka akan membaiatnya.”[14]

Imam Baqir as. bersabda, “Pasukan al-Qaim (af.) berjumlah tiga ratus tiga belas orang yang berasal dari bangsa non-Arab (Ajam).”[15]

Abdullah bin Umar menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Allah Swt. meletakkan kekuatan kalian (kaum Muslimin) pada orang-orang Ajam. Mereka adalah harimau yang tak takut apa pun. Mereka akan menyeret kalian (orangorang Arab) dan membawa harta benda kalian.’”[16]

Ada kemungkinan bahwa riwayat ini mengisyaratkan tentang bersatunya kekuatan kafir dan serangan mereka terhadap Islam dan Muslimin. Hal ini tidak ada kaitannya dengan berbagai upaya menyambut kedatangan Imam Mahdi af.

Maka, kami mengeluarkan riwayat ini dari pembahasan sebenarnya. Paling tidak, kami kemukakan bahwa riwayat tersebut perlu dipertimbangkan kembali.

Hudzaifah juga menukilkan riwayat yang serupa dari Rasulullah saw.[17] Namun, sebenarnya perlu dipertanyakan kembali bagaimana signifikansinya tentang apakah orang-orang yang disebutkan dalam riwayat-riwayat di atas adalah orang Iran. Berdasarkan riwayat, akan datang suatu masa di mana bangsa Iran akan memerangi orang-orang Arab, agar mereka kembali memeluk Islam. Mereka pun menyebarkan agama mulia ini. Kondisi orang-orang Arab di zaman itu sangat memprihatinkan, dan mereka selalu menjalani hari-hari yang sulit.

Meskipun yang dimaksud dengan Ajam adalah orang-orang selain Arab, yang jelas bangsa Iran juga termasuk orang-orang Ajam. Menurut sebagian riwayat lainnya, disebutkan bahwa bangsa Iran memiliki peran penting dalam mempersiapkan dunia dalam menyambut kedatangan Imam Mahdi af. Sebagian besar dari korban perang adalah bangsa Iran.

Dalam beberapa khutbah yang diucapkan oleh Imam Ali as. mengenai prajurit Imam Mahdi af., nama beberapa kota di Iran disebutkannya.

Asbagh bin Nubatah menuturkan bahwa Imam Ali tengah berpidato dan menjelaskan kedatangan Imam Mahdi af. beserta orang-orang yang menjadi pasukannya. Beliau bersabda, “Dari Ahwaz satu orang; dari Syusytar satu orang; tiga orang dari Syiraz, yaitu Hafsh, Ya’qub, dan Ali; dari Isfahan empat orang, yaitu Musa, Ali, Abdullah, dan Ghulfan; satu orang dari Burujerd, yaitu Qadim; satu orang dari Nahavand, yaitu Abdur Razzaq; dari Hamadan[18] tiga orang, yaitu Ja’far, Ishaq, dan Musa; sepuluh orang dari Qom, di mana nama mereka sama seperti nama Ahlul Bait Rasulullah Saw. (dalam riwayat yang lain disebutkan delapan belas orang); satu orang dari Syiravan; satu orang dari Khurasan, yaitu Darid dan juga lima orang yang namanya sama dengan nama Ashabul Kahfi; satu orang dari Amul; satu orang dari Jurjan; satu orang dari Damaghan; satu orang dari Sarkhas; satu orang dari Saveh; dua puluh empat orang dari Thaleqan; dua orang dari Qazvin; satu orang dari Fars; satu orang dari Abhar; satu orang dari Ardabil; tiga orang dari Maraqe; satu orang dari Khuy; satu orang dari Salmas; tiga orang dari Abadan; dan satu orang dari Kazrun.’

Beliau as. kembali bersabda, ‘Rasulullah Saw. menyebutkan tiga ratus tiga belas orang dari pasukan Al-Mahdi (af.), sejumlah pasukan beliau di perang badar.’ Lalu beliau bersabda, ‘Allah akan mengumpulkan mereka dari Barat dan Timur bumi di Baitullah tidak lebih dari satu kedipan mata.’”[19]

Sebagaimana yang telah Anda simak, di antara tiga ratus tiga belas pasukan yang akan menyertai Imam Mahdi af. sejak awal, tujuh puluh dua orang di antaranya berasal dari kotakota yang kini terletak di Iran. Jika dihitung berdasarkan apa yang disebutkan dalam Dalailul Imamah karya Thabari, dengan menambahkan nama-nama kota yang pada masa itu berada dalam garis kekuasaan Iran, maka jumlahnya lebih besar lagi.

Dalam riwayat, terkadang nama sebuah kota disebutkan sebanyak dua kali. Adakalanya disebutkan nama beberapa kota dalam suatu negeri, lalu disebut juga nama negerinya.

Jika riwayat yang telah disebutkan adalah riwayat sahih, dapat dikatakan bahwa yang dijadikan tolak ukur adalah pembagian daerah di zaman itu. Pembagian daerah dari segi geografis, tidak dapat dijadikan sandaran untuk memahami riwayat tersebut. Karena, terkadang nama suatu kota diganti dengan nama lain, dan mengalami berbagai perubahan yang lain pula.

Hal penting yang juga perlu diperhatikan, ketika kita menyesuaikan nama-nama kota yang disebutkan dalam riwayat dengan apa yang terbentang dalam peta masa kini, mungkin kita dapat menarik kesimpulan bahwa para penolong Imam Mahdi af. bertebaran di dunia. Dari sini, barangkali yang dimaksud dengan kata Afranjah—yang disebutkan dalam riwayat—adalah suatu tempat di kawasan Barat. Jika hal ini benar, maka riwayat yang menerangkan bahwa bumi tidak akan kosong dari orang-orang baik akan memiliki makna yang jelas. Karena jika bumi kosong dari orang-orang yang baik, maka bumi akan hancur.

Dalam beberapa riwayat lainnya, disebutkan nama–nama kota tertentu seperti Qom, Khurasan dan Thaliqan.

Qom

Imam Shadiq as. bersabda, “Tanah Qom adalah tanah yang suci … bukankah penghuninya adalah para penolong Imam Mahdi af. dan termasuk orang-orang yang menyerukan kebenaran?”[20]

Affan Bashiri menuturkan bahwa Imam Shadiq as bersabda padanya, “Apakah engkau tahu mengapa Qom disebut dengan nama ini?’ Ia menjawab, ‘Allah, Rasul-Nya, dan engkau lebih mengetahuinya.’ Beliau bersabda, ‘Karena penduduk kota Qom akan berkumpul di sekitar Imam Mahdi af. dan tinggal bersamanya lalu menolongnya.’”[21]

Khurasan

Imam Ali as. menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘… di Khurasan, terdapat harta karun yang tidak berbentuk emas dan perak. Tetapi, para pria yang bersatu padu, karena ikatan keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya.’”[22]

Barangkali maksudnya adalah mereka memiliki keyakinan yang sama mengenai Allah dan utusan-Nya. Mungkin juga, pada suatu hari Allah akan mengumpulkan mereka bersamasama di Mekah.

Thaleqan

Imam Ali as. bersabda, “Betapa beruntungnya penduduk Thaleqan! Karena Allah memiliki harta berharga di sana yang tidak terbuat dari emas dan perak, melainkan orang-orang yang beriman. Mereka mengenal Allah dengan sebenarnya dan mereka adalah para penolong Imam Mahdi af. di akhir zaman.”[23]

2. Bangsa Arab[24]

Ada dua kategori riwayat yang menerangkan keberadaan bangsa Arab dalam kebangkitan Imam Mahdi af. Sebagian riwayat menerangkan ketidakikutsertaan bangsa Arab dalam revolusi Imam Mahdi af. Adapun sebagian lagi menjelaskan beberapa tempat di daerah Arab yang menjadi tempat para pendukung Imam Mahdi af.

Riwayat-riwayat yang menjelaskan ketidakikutan bangsa Arab dalam perjuangan Imam Mahdi af., jika sanadnya shahih, dapat ditafsirkan. Karena, mungkin saja orang-orang Arab tidak termasuk prajurit yang menyertai Imam Mahdi af. sejak awal perjuangannya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Hur Amili dalam kitab Itsbatul Hudat dalam rangka menafsirkan beberapa riwayat tersebut. Adapun, beberapa nama kota Arab yang disebutkan dalam riwayat, barangkali maksudnya adalah adanya sekelompok prajurit Ajam yang tinggal di sana dan datang untuk membantu Imam Mahdi af.; bukannya bangsa Arab yang tinggal di sana yang bergabung dengan Imam Mahdi af. Mungkin juga yang dimaksud adalah pemerintahan dan negara-negara Arab.

Perhatikan beberapa riwayat berikut ini:

Imam Shadiq as. bersabda, “Hindarilah bangsa Arab! Karena masa depan mereka suram. Bukankah tak seorang pun di antara mereka yang berjuang bersama Imam Mahdi af?”[25]

Syaikh Hur Amili berkata, “Mungkin maksud Imam Shadiq as. adalah ketidakikutan bangsa Arab dalam permulaan perjuangan Imam Mahdi af., atau mungkin juga karena sedikitnya orang-orang Arab yang ikut berjuang .…”

Rasulullah Saw. bersabda, “Akan datang orang-orang mulia dari Syam (Syiria) yang bergabung bersama Imam Mahdi af. Begitu juga orang-orang yang berasal dari kabilah-kabilah yang tinggal di sekitar Syam. Hati mereka bagaikan baja. Di malam hari, mereka takut kepada Tuhannya, dan di siang hari, mereka bagaikan harimau.”[26]

Imam Baqir as. bersabda, “Tiga ratus tiga belas orang, sebagaimana jumlah pasukan perang Badar, akan membaiat Al-Mahdi af. di antara rukun dan maqam Kabah. Di antara mereka adalah orang-orang bijak yang berasal dari Mesir, Syam, dan Irak. Ia akan memimpin sebagaimana yang dikehendaki Allah.”[27]

Mengenai kota Kufah, Imam as. juga bersabda, “Ketika alQaim af muncul dan bergerak menuju Kufah, Allah akan membangkitkan tujuh puluh ribu orang yang jujur di balik Kufah (Najaf). Mereka adalah para penolong Al-Mahdi af.”[28]

3. Pengikut dari Agama Lain

Mufadhal bin Umar menuturkan bahwa Imam Shadiq as. bersabda, ‘Ketika Imam Mahdi muncul, akan datang sejumlah orang dari belakang Ka’bah. Mereka adalah dua puluh tujuh orang dari kaum Nabi Musa as. (orang-orang yang menghukumi segalanya dengan benar), tujuh orang dari Ashabul Kahfi, Yusya’ penerus Musa as., orang-orang yang beriman dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Farisi, Abu Dujanah Anshari[29] , dan Malik Asytar.”[30]

Imam Shadiq as. kembali bersabda, “Ruh orang-orang yang beriman akan melihat keluarga Muhammad Saw. di gunung Radhwa. Mereka memakan makanannya dan meminum minumannya. Mereka berkumpul dan berbincang-bincang dengannya sampai Imam Mahdi af. muncul. Ketika Allah membangkitkan mereka, secara berkelompok mereka menyambut ajakan Imam Mahdi af. dan menyertai beliau. Di zaman itu, orang-orang yang memiliki akidah yang batil akan mengalami keraguan. Kelompok-kelompok dan partai-partai akan berpecah belah, dan hanya orang-orang yang mendekatkan dirinya kepada Allah yang akan selamat.”[31]

Ibnu Juraih berkata, “Aku mendengar bahwa ketika dua belas kabilah Bani Israil telah membunuh nabi mereka sendiri, satu kabilah di antara mereka menyesali perbuatannya. Lalu, mereka memohon kepada Allah untuk dipisahkan dari kabilah-kabilah lainnya. Allah menciptakan sebuah terowongan bawah tanah untuk mereka, lalu mereka berjalan di sana selama satu setengah tahun, sehingga mereka sampai ke Cina. Sampai saat ini mereka ada di sana[32] dan mereka adalah kaum Muslimin dan mereka akan bergabung dengan kabilah kami.”[33]

Sebagian mengatakan, “Dalam peristiwa Mi’raj, Allah mengirim Rasulullah Saw. ke tempat mereka berada. Lalu, beliau membacakan sepuluh surah Makkiyah. Mereka mengimani Rasulullah Saw. dan membenarkan beliau. Beliau memerintahkan mereka untuk tetap tinggal di sana dan tidak bekerja di hari Sabtu (hari libur orang-orang Yahudi), dan sebagai gantinya, mereka harus melakukan shalat dan membayar zakat. Mereka menerima perintah ini dan menjalankannya.[34] Dan kewajiban-kewajiban yang lain tidak diwajibkan untuk mereka.”

Ibnu Abbas berkata, “Dalam tafsir ayat, “Dan kami telah berkata kepada Bani Israil untuk tinggal di tempat itu sampai datang apa yang dijanjikan Tuhan lalu membangkitkan kalian.[35] mereka berkata, ‘Maksud dari apa yang dijanjikan Allah adalah kemunculan Nabi Isa, dimana mereka akan berjuang bersamanya.’ Namun, sahabat-sahabat kami berkata bahwa yang dijanjikan itu adalah kedatangan Al-Mahdi af.”[36]

Dalam tafsir ayat, “Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan”[37] , Al-Majlisi berkata, “Mengenai siapakah yang dimaksud dengan umat di atas, banyak perbedaan pendapat. Sebagian orang seperti Ibnu Abbas berkata, ‘Mereka adalah kaum yang hidup di suatu tempat di Cina dan di antara tempat tinggal mereka dengan Cina terdapat gurun pasir. Mereka sama sekali tidak akan pernah melakukan perubahan pada hukum Allah.’”[38]

Ketika berbicara tentang mereka, Imam Baqir as. bersabda, “Mereka tidak menganggap harta bendanya khusus untuk diri sendiri. Mereka beranggapan bahwa saudara seimannya memiliki hak untuk menggunakannya. Mereka di malam hari beristirahat dan di siang harinya bekerja dan sibuk dengan bercocok tanam. Tak seorang pun dari kita yang dapat me-nuju ke sana dan tak seorang pun dari mereka yang dapat menuju ke sini. Sesungguhnya mereka berada dalam kebenaran.”[39]

Mengenai ayat, “Dan diantara orang-orang yang mengatakan, "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya …”[40] , Imam Shadiq as. bersabda, “Orang-oran Nasrani akan menyadari jalan ini dan sekelompok dari mereka akan bersama al-Qaim af.”[41]

4. Jabilqa dan Jabirsa[42]

Imam Shadiq as. bersabda, “Di belahan timur dunia, Allah memiliki sebuah kota yang bernama Jabilqa yang memiliki dua belas ribu pintu yang terbuat dari emas. Jarak antara satu pintu dengan pintu yang lain adalah satu farsakh. Di atas setiap pintu, terdapat satu menara yang memuat dua belas ribu tentara. Mereka selalu siap untuk menyambut kedatangan Imam Mahdi af. Allah juga memiliki sebuah kota yang bernama Jabirsa di sebelah barat dunia (dengan kriteria yang sama) dan aku adalah hujjah Allah bagi mereka.”[43]

Banyak juga riwayat yang menerangkan adanya beberapa tempat di dunia, di mana penduduknya tidak melakukan maksiat dan selalu menaati Allah. Untuk keterangan lebih lanjut, Anda bisa merujuk kitab Bihar al-Anwar; jil. 54.

Dengan membaca berbagai riwayat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Imam Mahdi af. memiliki banyak pasukan yang berada di segala penjuru dunia. Mereka siap memasuki medan perang, ketika beliau datang nanti. Dari beberapa riwayat, kita mengetahui bahwa orang-orang yang akan menjadi pengikut Imam Mahdi af., sebelumnya telah meninggal dunia. Mereka dibangkitkan dan hidup kembali untuk membantu Sang Imam af.[44]

Imam Shadiq as. bersabda, “Najm bin A’yan adalah salah satu orang yang akan mengalami Raj’ah dan hidup untuk kedua kalinya untuk berjihad.”[45] Mengenai Hamran dan Maisar, beliau juga bersabda, “Seakan-akan aku melihat Hamran dan Maisar menggenggam pedang dan berpidato di hadapan orang banyak, di antara Shafa dan Marwah.”[46]

Ayatullah Khui dalam Mu’jam Rijal al-Hadis menafsirkan kata “berpidato” sebagai membunuh dengan pedang.

Pada suatu saat Imam Shadiq as. memandang Dawud Ruqqay lalu mengatakan, “Barang siapa ingin melihat seseorang yang termasuk prajurit Al-Qaim af., maka lihatlah orang ini (yakni dia akan dihidupkan kembali sebagai prajurit Imam Mahdi af.).”[47]

C. Jumlah Pasukan

terdapat banyak riwayat yang menjelaskan jumlah pasukan Imam Mahdi af. Sebagian riwayat itu menyebutkan bahwa jumlah mereka sebanyak tiga ratus tiga belas orang. Sebagian riwayat yang lain menyebutkan bahwa jumlah mereka sebanyak sepuluh ribu orang, bahkan lebih. Di sini, kita harus menjelaskan dua masalah penting:

Pertama, tiga ratus tiga belas orang yang dimaksud dalam sebagian riwayat, adalah orang-orang khusus yang akan berjuang bersama Imam Mahdi af. sejak permulaan perjuangannya. Mereka akan menjadi para pejabat dalam pemerintahan global Imam Mahdi af. Almarhum Ardabili dalam Kasyfun Ni’mah menuturkan, “Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa prajurit Imam Mahdi af. lebih dari sepuluh ribu orang, kita mengatakan bahwa sesungguhnya pengikut Imam tidak hanya terbatas pada tiga ratus tiga belas orang saja. Karena tiga ratus tiga belas orang tersebut adalah orang-orang pilihan yang berjuang sejak awal kebangkitan Imam Mahdi af.”

Kedua, jumlah empat ribu, sepuluh ribu, dan lain sebagainya, bukan jumlah keseluruhan pasukan Imam Mahdi af. Bahkan jumlah tersebut adalah jumlah pasukan yang akan berjuang bersama Imam Mahdi af pada suatu zaman tertentu, atau pada suatu medan peperangan tertentu (tidak semuanya). Barangkali ada hal lainnya yang tidak kami ketahui dan kelak akan lebih jelas ketika Imam Mahdi af. muncul.

1. Orang-orang Pilihan

Yunus bin Dzibyan menuturkan, “Pada suatu hari aku berada di dekat Imam Shadiq as. Beliau menyebutkan nama-nama pengikut Imam Mahdi af seraya bersabda, ‘Jumlah mereka adalah tiga ratus tiga belas orang. Setiap orang dari mereka, melihat dirinya seorang yang berada di antara tiga ratus orang.’”[48]

Maksud dari kata “setiap orang dari mereka melihat dirinya seorang yang berada di antara tiga ratus orang” ada dua kemungkinan. Pertama, kekuatan tubuh setiap orang dari mereka, seperti kekuatan tiga ratus orang biasa; dan kedua, setiap orang dari mereka memiliki tiga ratus pengikut. Kemungkinan besar yang benar adalah kemungkinan kedua, yakni setiap orang memimpin tiga ratus orang, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama.

Imam Zainal Abidin as. bersabda, “Orang-orang yang kelak akan menjadi penolong Imam Mahdi af. berjumlah tiga ratus tiga belas orang. Mereka akan berkumpul di Mekah pada pagi esok harinya.”[49]

Imam Jawad as. menuturkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Imam Zaman akan muncul di negeri Tihamah (Mekah). Ia memiliki harta berharga yang tidak terbuat dari emas maupun perak, melainkan kuda-kuda (kendaraan-kendaraan) yang kuat dan prajurit yang jumlahnya sama dengan jumlah prajurit perang Badar. Jumlah mereka sebanyak tiga ratus tiga belas orang dan akan berkumpul mengelilinginya dari penjuru dunia. Beliau memiliki sebuah kitab yang tertulis di dalamnya nama-nama prajurit setianya lengkap dengan nama tempat tinggal, jenis keturunan, dan biografinya. Mereka semuanya senantiasa menaati Al-Mahdi af.”[50]

Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika ia (Imam Mahdi af.) muncul, orang-orang mengerumuninya, sampai datang tiga ratus tiga belas orang lelaki dan juga terdapat orang perempuan di

antara mereka. Ia akan memenangkan peperangan melawan semua orang yang zalim dan juga keturunannya. Ia akan menegakkan keadilan, sehingga orang-orang yang hidup berharap dihidupkannya kembali orang-orang yang telah mati, supaya mereka dapat merasakan keadilan.”[51]

Imam Baqir as. bersabda, “Imam Mahdi tiba-tiba akan muncul bersama tiga ratus tiga belas pasukannya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Mereka bersebaran bagaikan awan musim gugur dan singa di siang hari yang beribadah di malam harinya.”[52]

Aban bin Taghlib berkata menuturkan bahwa Imam Shadiq as. pernah bersabda, “Tak lama lagi akan datang tiga ratus tiga belas orang (yang adil) ke masjid kalian (Mekah). Orang-orang Mekah tahu bahwa mereka tidak memiliki tali keturunan dengan nenek moyangnya (mereka bukan orang Mekah). Mereka semuanya membawa pedang yang terukir di atasnya sejumlah kata-kata. Dari kata-kata tersebut, seribu kata (yang susah) akan terselesaikan.”[53]

Dalam beberapa riwayat, ada beberapa orang yang disebutkan namanya. Di sini, hanya menyebutkan dua riwayat saja:

Imam Shadiq as. berkata kepada Mufadhal bin Umar, “Engkau dan empat puluh empat orang yang lain, akan menjadi prajurit Al-Qaim af.”[54]

Barangkali yang dimaksud dengan empat puluh empat orang adalah mereka yang termasuk para sahabat Imam Shadiq as.

Beliau juga bersabda, “Ketika Yang Bangkit (Imam Mahdi) dari keluarga Muhammad Saw. muncul, akan keluar dua puluh tujuh orang dari balik Ka’bah dan dua puluh lima orang dari pengikut Nabi Musa as. Semuanya adalah orangorang yang menghukumi segalanya dengan benar, yang dihidupkan kembali dari matinya. Begitu juga dengan tujuh orang Ashabul Kahfi, Yusya’ pengganti Musa, Mu’min keluarga Fir’aun, Salman Al-Farisi, Abu Dujanah Anshari, dan Malik Asytar.”[55] Dalam sebagian riwayat nama Miqdad bin Al-Aswad juga disebutkan.

Menurut beberapa riwayat, ada malaikat yang bertugas untuk memindahkan mayat orang-orang yang baik ke tempat-tempat suci seperti Ka’bah.[56] Oleh karena itu, mungkin orang-orang yang muncul dari balik Ka’bah adalah orang-orang yang telah dipindah jasadnya ke sana oleh para malaikat. Lalu, Allah mengizinkan mereka untuk hidup kembali di dunia. Sebagian riwayat yang lainnya menjelaskan bahwa orang-orang tersebut akan muncul dari balik kota Kufah, yakni kota Najaf. Ini pun bisa dibenarkan, karena tidak bertentangan dengan riwayat tersebut.

Perlu dijelaskan bahwa orang-orang yang disebutkan di atas, memiliki pengalaman dalam perjuangan politik melawan orang-orang yang zalim. Khususnya Salman Al-Farisi, Abu Dujanah, Malik Asytar, dan Miqdad. Mereka pernah ikut serta dalam peperangan di zaman Rasulullah Saw. Mereka telah menunjukkan kemampuannya masing-masing, dan sebagian dari mereka pernah menjadi pemimpin.

2. Pasukan Imam Mahdi af.

Abu Bashir berkata, “Seorang lelaki dari Kufah bertanya kepada Imam Shadiq as., ‘Berapa orang yang akan berjuang bersama Imam Mahdi af?’ Orang-orang menjawab, ‘Jumlah prajurit Imam Mahdi sama seperti jumlah prajurti Rasulullah Saw. di perang Badar; yakni tiga ratus tiga puluh orang.’ Imam as. bersabda, ‘Al-Mahdi af tidak akan muncul, kecuali disertai oleh pasukan yang kuat. Ia memiliki lebih dari sepuluh ribu pasukan yang tangguh.’”[57]

Beliau juga bersabda, “Ketika Allah mengizinkan Al-Qaim muncul, akan ada tiga ratus tiga belas orang yang membaiatnya. Beliau berdiam di Mekah sampai terkumpul sepuluh ribu pasukannya, lalu berangkat menuju Madinah.”[58]

Imam Ali as. bersabda, “Al-Mahdi akan muncul paling sedikit dengan dua belas ribu pasukan dan paling banyak dengan lima belas ribu pasukan. Pasukan Al-Mahdi memiliki wibawa dan keagungan yang luar biasa. Tak satu pun musuh yang berhadapan dengan mereka, tidak terkalahkan. Beliau dan pasukannya tidak menghiraukan cacian orang-orang. Syi’ar pasukannya adalah ‘Gempurlah! Gempurlah!’”[59]

Imam Shadiq as. bersabda, “Imam Zaman tidak akan muncul sebelum pasukannya terkumpul dengan sempurna.” Perawi bertanya, “Berapakah jumlah pasukannya?” Imam menjawab, “Sepuluh ribu orang.”[60]

Syaikh Hur Amili berkata, “Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa jumlah keseluruhan pasukan Imam Mahdi af. adalah seratus ribu orang.”[61]

3. Pengawal dan Penjaga

Ka’ab berkata, “Seseorang dari Bani Hasyim tinggal di Baitul Maqdis. Jumlah pengawalnya sebanyak dua belas ribu orang. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa jumlah pengawalnya sebanyak tiga puluh enam orang. Di setiap jalan besar yang berhubungan dengan Baitul Maqdis, terdapat dua belas ribu orang dari mereka yang selalu siaga di sana.”[62]

Sebenarnya kata “حرس ” yang terdapat dalam riwayat di atas juga memiliki arti membantu dan menolong. Mungkin yang dimaksud adalah penolong dan pembantu Imam Mahdi af.