• Mulai
  • Sebelumnya
  • 22 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 69 / Download: 21
Ukuran Ukuran Ukuran
PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN (5)

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN (5)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN

Najmuddin Thabasi

Penerjemah: Muhammad Habibi

PRAKATA PENERBIT

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Pusaka dan peninggalan berharga Ahlul Bait as. yang sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam khazanah mereka merupakan universitas lengkap yang mengajarkan berbagai ilmu Islam. Universitas ini telah mampu membina jiwa-jiwa yang berpotensi untuk menguasai pengetahuan dari sumber tersebut. Mereka mempersembahkan kepada umat Islam ulama-ulama besar yang membawa risalah Ahlul Bait as., ulama-ulama yang mampu menjawab secara ilmiah segala kritik, keraguan dan persoalan yang dikemukakan oleh berbagai mazhab dan aliran pemikiran, baik dari dalam maupun luar Islam.

Berangkat dari misi dan tugas yang diemban, Lembaga Internasional Ahlul Bait (Majma‘ Jahani Ahlul Bait) berusaha mempertahankan kemu-liaan risalah dan hakikatnya dari serangan tokoh-tokoh firqah (kelompok), mazhab, dan berbagai aliran yang memusuhi Islam. Dalam hal ini, kami berusaha mengikuti jejak Ahlul Bait as. dan penerus mereka yang sepanjang masa senantiasa tegar dalam menghadapi tantangan dan tetap kokoh di garis depan perlawanan.

Khazanah intelektual yang terdapat dalam karya-karya ulama Ahlul Bait as. tidak ada bandingannya, karena buku-buku tersebut berpijak pada landasan ilmiah dan didukung oleh logika dan argumentasi yang kokoh, serta jauh dari pengaruh hawa nafsu dan fanatik buta. Karya-karya ilmiah yang dapat diterima oleh akal dan fitrah yang sehat tersebut juga mereka peruntukkan kepada para ulama dan pemikir.

Dengan berbekal sekian pengalaman yang melimpah, Lembaga Internasional Ahlul Bait berupaya mengetengahkan metode baru kepada para pencari kebenaran melalui berbagai tulisan dan karya ilmiah yang disusun oleh para penulis kontemporer yang mengikuti dan mengamalkan ajaran mulia Ahlul Bait as. Di samping itu, lembaga ini berupaya meneliti dan menyebarkan berbagai tulisan bermanfaat dari hasil karya ulama Syi‘ah terdahulu. Tujuannya adalah agar kekayaan ilmiah ini menjadi sumber mata air bagi setiap pencari kebenaran di seluruh penjuru dunia. Perlu dicatat bahwa era kemajuan intelektual telah mencapai kematangannya dan relasi antarindividu semakin ter-jalin demikian cepatnya. Sehingga pintu hati terbuka untuk menerima kebenaran ajaran Ahlul Bait as.

Kami mengharap kepada para pembaca yang mulia kiranya sudi menyampaikan berbagai pandangan berharga dan kritik konstruktifnya demi kemajuan Lembaga ini di masa mendatang. Kami juga mengajak kepada berbagai lembaga ilmiah, ulama, penulis, dan penerjemah untuk bekerja sama dengan kami dalam upaya menyebarluaskan ajaran dan budaya Islam yang murni. Semoga Allah swt. berkenan menerima usaha sederhana ini dan melimpahkan taufik-Nya serta senantiasa menjaga Khalifah-Nya (Imam Al-Mahdi as.) di muka bumi ini.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. Najmuddin Thabasi yang telah berupaya menulis buku ini. Demikian juga kami sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Sdr. Muhammad Habibi yang telah bekerja keras menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia, juga kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan buku ini.

Divisi Kebudayaan Lembaga Internasional Ahlul Bait

PENDAHULUAN

Segera setelah negeri Shush—tempat Nabi Daniel as. dimakamkan—lepas dari kekuasaan orang-orang partai Baath, penduduk di sana secara bertahap kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Dan ketika itulah saya mendapat kehormatan untuk hadir bersama para pejuang. Di masjid jami kota bersejarah itu, saya menyampaikan rangkaian kuliah seputar Imam Zaman af. dengan mengacu kepada kitab Bihar al-Anwar karya ‘Allamah Majlisi ra.

Pada waktu itu, saya menyadari bahwa meskipun banyak sekali permasalahan telah dibahas seputar Imam Mahdi af. seperti: panjangnya usia beliau, falsafah keghaibannya, berbagai faktor penyebab kemunculannya, dan lain sebagainya, namun pembahasan tentang bagaimana imam Mahdi af. bangkit; bagaimana pemerintahannya dan seperti apa ia memimpin, belum menjadi obyek kajian yang memadai. Atas dasar itu, saya bermaksud untuk membahas masalah ini, sehingga barangkali saya dapat menemukan berbagai jawaban untuk beragam pertanyaan yang seringkali mengemuka dan menjadi bahan pikiran khalayak.

Di antara pertanyaan-pertanyaan itu ialah bagaimana Imam Mahdi af. kelak akan menggugurkan berbagai sistem sosial yang memiliki kemampunan dan kekuatan beragam di muka bumi, lalu menggantikannya dengan sebuah sistem pemerintahan global dan mendunia? Bagaimana sistem dan agenda pemerintahan imam Mahdi af., sehingga ketika ia memerintah, tak lagi tersisa kezaliman dan kerusakan sedikit pun di dunia, tak akan pula ditemukan seorang pun yang hidup kelaparan?

Berangkat dari berbagai pertanyaan semacam inilah saya terdorong selama empat tahun untuk melakukan penelitian. Dan tampaknya mulai menemukan hasil; yaitu berupa buku yang ada di hadapan para pembaca yang budiman ini.

Bagian pertama buku membahas kondisi dunia sebelum kemunculan Imam Mahdi af.; kondisi yang berkecamuk dengan peperangan, pembunuhan, kekeringan, kehancuran, kematian, tersebarnya wabah penyakit, kezaliman, ketakutan, dan kekacauan. Kelak kita akan menyimak bahwa pada masamasa itu, umat manusia akan merasa putus asa dan kecewa terhadap keberadaan berbagai sistem pemikiran dan pemerintahan yang semuanya mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia dan menjanjikan kebahagiaan serta keselamatan. Mereka merasa putus asa akan pulihnya situasi dan membaiknya kondisi dunia. Semua pihak ketika itu menanti kedatangan seorang juru penyelamat yang akan membimbing mereka menuju keselamatan.

Bagian kedua, mengupas seputar bagaimana kebangkitan dan revolusi global Imam Mahdi af. Inilah gerakan yang akan dimulai dari dekat Ka’bah dengan diumumkannya kemunculan beliau. Ketika itu, para pengikut sejati beliau dari segala penjuru dunia bergabung dengannya. Pasukan yang luar biasa terbentuk dengan teratur, para pemimpin ditentukan, dan dimulailah berbagai aksi global dalam tingkatan yang semakin meluas.

Imam Mahdi af. akan datang dan melenyapkan kezaliman dan orang-orangnya dari tengah-tengah umat manusia sampai ke akar-akarnya. Umat manusia yang dimaksud di sini tidak hanya terbatas pada mereka yang hidup di kawasan Hijaz, Timur Tengah, dan Asia saja, bahkan meliputi seluruh dunia.

Memperbaiki masyarakat yang dipenuhi berbagai kezaliman dan kerusakan seperti ini adalah pekerjaan yang sangat sulit. Setiap orang yang mengaku akan melakukannya, berarti ia juga mengaku telah memiliki mukjizat yang sangat besar. Sesungguhnya mukjizat seperti ini memang ada dan akan terwujud di tangan Imam Mahdi af.

Adapun bagian ketiga buku ini membahas pemerintahan Imam terakhir kita itu. Untuk menata dunia yang telah dipenuhi kezaliman dan kerusakan, juga mewujudkan legitimasi Islam, pemerintahan yang kuat dan kompeten, Imam Mahdi af. akan membentuk sebuah pemerintahan yang adil yang dibantu para sahabat terbaik di zamannya. Selain itu, ia pun dibantu para pembesar kekasih Allah seperti Nabi Isa as., Salman Al-Farisi, Malik al-Asytar, dan orang-orang baik lainnya yang merupakan al-salaf al-shaleh. Meskipun peran mereka dalam menggulingkan pemerintahan zalim tidak bisa diabaikan, amun peran sejati mereka adalah membangun dan membenahi dunia pada masa pemerintahan Imam Mahdi af.

Apa yang telah dijelaskan secara sederhana dalam pendahuluan ini merupakan pembahasan yang telah memanfaatkan berbagai literatur dari puluhan kitab terkemuka baik dari kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, dengan mengkaji ratusan riwayat dan disajikan secara sistematis dalam format buku yang kami anggap dapat dipertanggungjawabkan argumentasinya.

Walaupun tidak secara sempurna, semoga buku ini dapat melukiskan kondisi umat Islam setelah munculnya sang ratu adil. Mudah-mudahan buku ini dapat diterima oleh Imam Mahdi af. dan bermanfaat bagi seluruh lapisan kaum Muslimin dan orang-orang yang teguh menanti kemunculannya. Dan semoga saja buku ini dapat menambah kesiapan mereka untuk menyambut kedatangan sang Imam.

Kami memohon kepada Allah; Tuhan semesta alam, untuk membangkitkan Imam Khumaini—orang yang telah menampilkan sebuah contoh pemerintahan Imam Mahdi af di negeri Persia—bersama para Nabi dan manuisa-manuisa maksum. Semoga Allah mengaruniai keberhasilan bagi para pecinta Islam yang berkhidmat kepada Ahlul Bait as. dan tanah airnya, dan semoga Allah mengokohkan diri mereka dalam menjaga tanah air ibu kota Islam ini.

Di sini, rasanya penting sekali bagi saya untuk memberikan beberapa penjelasan sebelum Anda membaca buku ini:

 Kami tidak mengklaim telah membawakan pembahasan baru dalam buku ini, karena rangkaian riwayat yang dikemukakan merupakan riwayat yang telah dikumpulkan oleh ulama Islam terdahulu, dan dalam beberapa bagian mereka pun telah menyampaikan kesimpulannya. Tampaknya, kekhususan buku ini tidak terjebak pada berbagai istilah teknis yang sulit. Dengan metode baru, pembahasan disampaikan secara mudah dan gamblang, sehingga dapat dipahami oleh banyak orang.

 Berbagai kesimpulan yang ditarik dari riwayat tertentu yang tidak disebutkan sumber rujukannya adalah pendapat pribadi penulis. Oleh karena itu, mungkin saja dengan penelitian yang lebih mendalam atas berbagai riwayat tersebut akan ditemukan kesimpulan lain.

 Kami juga tidak mengklaim bahwa semua riwayat yang disajikan dalam buku ini adalah riwayat sahih yang tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, sebagaimana permasalahan ini telah dibahas secara terperinci dalam jurnal Entezar. Walaupun demikian, kami berusaha menukilkan apa-apa yang disampaikan oleh ulama hadis dan para penulis ternama dalam berbagai karya mereka. Selain itu, hanya dalam beberapa tempat saja kami membahas kebenaran sanad suatu riwayat; karena kami tidak bermaksud melakukannya dalam buku ini. Lagi pula, kebanyakan riwayat-riwayat yang kami gunakan pada umumnya dapat dipercaya, khususnya riwayat-riwayat dari jalur Ahlul Bait as.

 Riwayat-riwayat dalam buku ini telah dikumpulkan sebelum diterbitkannya kitab Mu’jam Ahadits Al-Imam Al-Mahdi.[1] Oleh karenanya, dalam sebagian tempat, kami mempersilahkan para pembaca untuk merujuk kepada kitab tersebut—yang terlebih dahulu disusun sebelum buku ini—untuk melihat hasil penelitian yang lebih terperinci.

 Dalam beberapa riwayat, kata al-sa’ah (waktu) dan alqiyamah (kiamat) telah ditafsirkan sebagai kemunculan Imam Mahdi af. Oleh karenanya, riwayat-riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda-petanda dekatnya kejadian as-sa’ah dan al-qiyamah kami bawakan sebagai riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda kemunculan Imam Mahdi af.

 Sebagian materi pembahasan dalam buku ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, meskipun telah ada usaha sebelumnya untuk meneliti berbagai permasalahan tersebut. Semoga Allah mengizinkan kami untuk memberikan catatan tambahan hasil penelitian yang lebih baik dalam buku ini pada cetakan berikutnya.

Sebelum mengakhiri kata pengantar ini, sebagaimana riwayat yang menyebutkan, “Barang siapa tidak berterima kasih kepada sesama makhluk, maka ia tidak berterima kasih kepada Sang Khaliq”, sepatutnya saya sampaikan banyak terima kasih kepada saudara-saudara dan teman-teman, khususnya dua saudara besar saya, yaitu Hujjatul Isam Muhammad Jawad dan Muhammad Ja’far Thabasi atas saransaran mereka, demikian juga kepada Hujjatul Islam Ali Rafi’i dan Sayid Muhammad Husaini Shahrudi atas bantuannya dalam menyusun buku ini.

Najmuddin Thabasi Qom, 1378 HS.

Bab 5

PERTOLONGAN GHAIB

Meskipun dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa peperangan pada masa kemunculan Imam Mahdi af didukung penuh para pengikutnya, yang datang dari segala penjuru dunia. Tetapi, menguasai seluruh dunia, dengan melihat ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat sebelum kedatangan Imam Mahdi af. Nampaknya, hal ini pekerjaan yang sangat sulit sekali. Bahkan terkesan mustahil terjadi, kecuali jika dilakukan seorang pemimpin pilihan Allah Swt.

Pertolongan Allah kepada Imam Mahdi af. terkadang berupa kekuatan luar biasa dalam menyelesaikan berbagai urusannya. Selain itu, timbulnya rasa takut yang telah dilemparkan ke dalam hati musuh-musuh beliau. Kadangkala pertolongan Allah Swt. juga datang dalam bentuk diutusnya para malaikat untuk membantu beliau. Dalam beberapa riwayat, dijelaskan bahwa akan ada prajurit yang memiliki kekuatan seperti malaikat untuk membantunya. Disebutkan pula bahwa terdapat semacam peti dan benda-benda khusus yang ada di dalamnya, sebagai peralatan yang dipersiapkan untuk membantu Imam Mahdi af. dalam menjalankan tugasnya.

Pada bab ini kita akan mengupas beberapa riwayat tersebut:

A. Rasa Takut Menjadi Senjata

Imam Shadiq as. bersabda, “Al-Qaim Ahlul Bait (Imam Mahdi af.) akan mendapat pertolongan berupa rasa takut (yang terbenam di hati musuh).”[2]

Beliau juga bersabda, “Allah akan memberi bantuan kepada Al-Qaim berupa tiga pasukan: malaikat, orang-orang Mukmin, dan rasa takut (di hati musuh).”[3]

Mengenai permasalahan ini, Imam Baqir as. bersabda, “Rasa takut akan muncul di hati para musuh Imam Mahdi af., padahal beliau dan pasukannya berada sejauh satu bulan perjalanan di depan mereka dan di belakang mereka.”[4] Beliau juga bersabda, “Rasa takut akan muncul di dalam hati para musuh Imam Mahdi af. Padahal, mereka berada sejauh satu bulan perjalanan dari arah depan bendera Imam Mahdi, dari arah belakangnya, kanan, dan kiri.”[5]

Dengan membaca riwayat di atas, kita dapat memahami bahwa ketika Imam Mahdi af. berniat menuju suatu tempat, pada waktu itu juga musuh-musuhnya yang berada di sana merasakan ketakutan dalam menghadapi beliau dan pasukannya. Begitu pula, ketika beliau dan pasukannya beranjak dari tempat itu, karena mereka takut musuh-musuh beliau yang ditaklukannya sama sekali tidak berani memberontak. Penafsiran seperti ini, tidak bertentangan dengan apa yang dijelaskan oleh riwayat-riwayat di atas.

B. Para Malaikat dan Jin

Imam Ali as. bersabda, “... Allah akan memberikan pertolongan kepada Imam Mahdi af. berupa para malaikat, jin, dan para pengikutnya yang berhati ikhlas.”[6]

Aban bin Taghlib menuturkan bahwa Imam Shadiq as. bersabda, “Seakan-akan saat ini, aku melihat Imam Mahdi af. berada di balik kota Najaf. Ketika sampai di sana, ia menaiki seekor kuda berwarna hitam yang memiliki bintik-bintik putih dan di antara kedua matanya terdapat titik putih yang menyala. Lalu, ia menguasai seluruh negeri. Tiada satu pun kota di seluruh penjuru dunia kecuali mengira Imam Mahdi af. sedang berada di tengah-tengah mereka. Ketika ia mengibarkan bendera Nabi Saw., tiga belas ribu tiga belas malaikat yang telah lama menunggu kedatangan beliau, berkumpul di bawah benderanya. Mereka adalah para malaikat yang pernah menyertai Nabi Nuh as. di kapalnya, Nabi Ibrahim as. ketika dibakar, dan Nabi Isa as. ketika beliau diangkat ke langit.

“Juga ada empat ribu malaikat lainnya yang akan datang membantu Imam Mahdi af. Mereka adalah para malaikat yang pernah turun ke tanah Karbala untuk berperang bersama Imam Husain as., tetapi mereka tidak dizinkan untuk melakukannya, lalu mereka pergi ke langit. Ketika diizinkan berjihad, mereka mendapati Imam Husain telah syahid dan selalu bersedih karenanya. Mereka senantiasa berkabung, sampai hari kiamat dan berputar mengitari makan Imam Husain as. seraya meneteskan air mata.”[7]

Imam Baqir as. bersabda, “Seakan-akan saat ini aku melihat Imam Mahdi af. bersama para pengikutnya ketika itu Jibril berada di sisi kanannya dan Mikail berada di sisi kirinya dalam keadaan berjalan. Lalu, Allah mengendapkan rasa takut di hati para musuh yang berada di depan dan di belakangnya, meski jarak mereka sejauh satu bulan perjalanan dari Imam Mahdi af. Allah Swt. mengirimkan lima ribu malaikat langit untuk membantunya.”[8]

Beliau juga bersabda, “Para malaikat yang pernah membantu Rasulullah Saw. di perang Badar, hingga saat ini belum kembali ke langit supaya nanti dapat membantu Imam Mahdi af. Mereka berjumlah lima ribu malaikat.”[9]

Imam Shadiq as. bersabda, “Akan turun sembilan ribu tiga ratus tiga belas malaikat, untuk membantu Al-Qaim af. Mereka adalah para malaikat yang menyertai Nabi Isa as. ketika diangkat ke langit.”[10]

Imam Ali as. bersabda, “Imam Mahdi af. akan dibantu oleh tiga ribu malaikat. Mereka akan menghantam para musuh dari depan dan belakang.”[11]

Dalam tafsir ayat yang berbunyi, “Perkara Allah telah datang, maka janganlah terburu-buru akan perkara itu.”[12] Imam Shadiq as.

bersabda, “Perkara Allah ini adalah perkara kami, yakni Allah memerintahkan kita untuk tidak terburu-buru dalam menanti kebangkitan Al-Mahdi af. Karena, Allah akan membantu beliau dengan pasukan berupa para malaikat, orang-orang yang beriman, dan rasa takut yang dilemparkan ke dalam hati musuh-musuhnya dan kita pun akan sampai kepada hak kita.”[13]

Imam Ridha as. bersabda, “Ketika Imam Mahdi af. muncul, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengucapkan salam kepada orang-orang yang beriman dan ikut hadir bersama mereka dalam majlis-majlis keagamaan. Jika salah satu dari orang-orang yang beriman itu mempunyai urusan dengan Imam af, maka beliau akan memerintahkan beberapa malaikat untuk memikulnya dan membawakannya kepada beliau. Ketika urusannya telah selesai, maka ia akan dikembalikan ke tempatnya semula.

“Sebagian orang-orang yang beriman berjalan di atas awan, dan sebagian yang lain terbang di langit bersama para malaikat. Sekelompok orang berjalan bersama para malaikat dan sebagian yang lain ada yang mendahului para malaikat. Para malaikat menjadikan sebagian orang-orang yang beriman sebagai hakim. Di hadapan Allah swt., seorang Mukmin lebih berharga dari malaikat, sehingga nanti Imam Mahdi af. akan menjadikan seorang mukmin sebagai hakim bagi ratusan ribu malaikat.”[14]

Mungkin keberadaan orang-orang yang beriman sebagai hakim bagi para malaikat adalah untuk menyelesaikan perbedaan dalam permasalahan ilmiah. Hal ini tidak ber-tentangan dengan kemaksuman para malaikat.

C. Para Malaikat Bumi

Muhammad bin Muslim menuturkan bahwa ia bertanya kepada Imam Shadiq as. mengenai harta karun Ilmu dan ukurannya. Beliau menjawab, “Allah memiliki dua kota, yang satu di barat dan yang lain di timur bumi. Di kedua kota itu, tinggal orang-orang yang tidak mengetahui keberadaan Iblis dan tidak mengetahui penciptaannya. Meskipun sekali saja, aku akan menemui mereka. Mereka bertanya kepadaku mengenai berbagai permasalahan hidupnya dan juga mengenai doa, lalu aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Mereka juga menanyakan waktu munculnya Imam Zaman af. Mereka adalah orang-orang yang gigih dan giat dalam beribadah kepada Allah.

“Kota itu memiliki beberapa pintu, antara satu pintu dengan pintu lainnya berjarak seratus farsakh[15] . Mereka senantiasa menyibukan diri dengan berdoa dan beribadah. Jika melihatnya, kalian akan menganggap kecil perilaku diri kalian dibandingkan dengan mereka. Ketika mereka berdiri untuk menunaikan shalat, mereka akan sujud selama satu bulan. Makanan mereka adalah pujian kepada Allah. Pakaian mereka adalah dedaunan. Pipi mereka terang bercahaya. Jika mereka melihat salah satu imam Ahlul Bait, mereka akan mengerumuninya dan mengambil tanah bekas imam berdiri untuk mencari barokah. Jika mereka shalat, suara tangisan mereka lebih kencang dari suara angin topan. Sebagian dari mereka—sejak awal mereka menanti kedatangan Imam Mahdi af.—tidak pernah meletakkan senjatanya di atas tanah sekali pun. Mereka senantiasa dalam keadaan seperti ini. Mereka, selalu memohon agar Allah menampakkan Imam Mahdi af.

“Setiap orang dari mereka hidup selama seribu tahun. Efek kerendahan hati, ibadah, dan amal baik mereka nampak di wajahnya. Ketika kami tidak berkunjung, mereka mengira kami tidak menyukainya. Ketika kami hendak mendatanginya, mereka sangat mementingkan kedatangan kami dan mereka duduk menanti kami. Mereka, tak pernah merasa lelah sedikit pun.

“Mereka membaca Al-Qur’an sebagaimana yang telah kami ajarkan kepada mereka. Jika mereka menyampaikan qira’at yang telah kami ajarkan kepada mereka di depan umum, maka orang-orang yang ada di sana tidak bersedia menerimanya. Ketika kami menjawab pertanyaan mereka seputar AlQur’an, mereka membuka hati dan pikiran selebar-lebarnya, agar dapat mereka pahami. Mereka memohon kepada Allah supaya kami panjang umur, sehingga mereka tidak kehilangan kami. Mereka mengerti bahwa apa yang telah kami ajarkan kepadanya adalah karunia yang dianugerahkan Allah kepada mereka.

“Ketika Imam Mahdi af. muncul, mereka akan menyertai beliau di setiap waktu dan mendahului pasukan-pasukan beliau yang lainnya. Mereka selalu memohon kepada Allah supaya mampu menolong agama yang benar.

“Mereka terdiri dari sekumpulan orang-orang tua dan muda. Ketika salah seorang anak muda di antara mereka menemui orang yang lebih tua, ia menghormatinya, duduk bagaikan budak di hadapannya, dan tidak akan berdiri kecuali dengan seizinnya jika Imam memberikan perintah kepadanya, maka mereka dengan gigih menjalankannya sampai selesai, kecuali jika Imam memberikan pekerjaan yang lain kepada mereka.

“Ketika mereka ditugaskan untuk berperang di barat dan timur dunia, dengan sekejap mereka menumpas para musuh. Tak ada senjata yang dapat melukainya. Mereka memiliki pedang yang terbuat dari besi Ketika mereka memukulkan pedangnya ke gunung, maka gunung itu akan terbelah menjadi dua, lalu mereka memindahkan dari tempatnya. Imam akan mengirimnya untuk berperang di India, Dailam, Kurdi, Romawi, Barbar, Persia dan tempat lainnya dari timur hingga barat

Jika mereka bertemu dengan pemeluk agama lain, mereka mengajak semuanya untuk memeluk agama Islam, menerima Tauhid, dan mengimani kenabian Rasulullah Saw. serta menerima kepemimpinan kami, Ahlul Bait. Setiap orang yang menerima ajakannya, mereka dibiarkan hidup dan setiap orang yang menolak akan dibunuh. Sehingga, tak seorang pun orang yang hidup di barat dan timur dunia, kecuali ia adalah orang yang beriman.”[16]

Dengan membaca riwayat di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mungkin mereka adalah para malaikat yang tinggal di bumi dan senantiasa menunggu kedatangan Imam Mahdi af.

D. Peti Nabi Musa as.

Dalam kitab Ghayah al-Maram dinukil dari Rasulullah Saw. bahwa beliau bersabda, “Ketika Imam Mahdi af. muncul, Nabi Isa as. akan turun ke bumi dan mengumpulkan kitabkitab di Antiokhia. Allah akan menyingkapkan wajah “Irama dzatil I’mad”[17] untuknya, lalu istana yang telah dibangun oleh Nabi Sulaiman as. sebelum ia meninggal akan nampak baginya. Beliau mengumpulkan harta benda yang ada di istana, lalu membagikannya kepada kaum Muslimin. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah peti, yang pernah dilemparkan Armiya di danau Tabrestan atas perintah Allah.

Segala apa yang ditinggalkan oleh keluarga Nabi Musa as. dan Nabi Harun as. ada di dalam peti tersebut. Di dalamnya, terdapat berbagai peninggalan Nabi Musa as., tongkat beliau, pakaian Nabi Harun as., dan beberapa makanan milik Bani Israil yang mereka simpan untuk keturunannya. Dengan bantuan peti itu, beliau menguasai banyak negeri, sebagaimana yang telah mereka lakukan sebelumnya.”[18]

Yanabi’ul Mawaddah juga menukilkan pembahasan ini dengan sedikit perbedaan. Di sana disebutkan, “Imam Mahdi af. akan keluar dari sebuah goa di Anatolia. Ia mengeluarkan beberapa kitab dan ia mengeluarkan kitab Zabur dari danau Tabirestan.

Di dalam kitab itu terdapat berbagai peninggalan keluarga Nabi Musa as. dan Nabi Harun as. Para malaikat yang akan memikulnya dan di dalamnya juga terdapat lembaran-lembaran dan tongkat Nabi Musa as.”[19]

Bab 6

IMAM MAHDI AF. DAN MUSUH

Setelah berabad-abad dalam penantian panjang, akhirnya ia menampakkan diri. Kehadirannya, menyibak tirai kegelapan. Sinarnya memancarkan kebahagiaan dan ketentraman bagi penghuni jagat raya. Inilah, sang pemimpin zaman yang diutus Allah untuk menumpas kezaliman hingga akarakarnya. Imam Mahdi af. datang melakukan reformasi menyeluruh dari segi material dan spiritual, sehingga terbangun umat manusia yang diridhai Allah Swt.

Ketika ada beberapa pihak yang menghalangi dan melawan ditegakkannya pemerintahan global yang berkeadilan ini, maka mereka akan ditumpas oleh Imam Mahdi af. sendiri. Karena, mereka termasuk musuh agama Allah Swt. dan umat manusia.

Pihak-pihak yang tidak menyukai pemerintahan Imam Mahdi af. adalah orang-orang yang tangannya telah terlumuri darah orang-orang yang tak berdosa. Mungkin juga mereka adalah orang yang tidak perduli dengan keadaan sesamanya yang dizalimi di zaman sebelum kedatangan Imam Mahdi af. Kemudian ketika beliau muncul, dengan segala daya mereka mengangkat bendera melawan beliau. Mereka adalah orangorang bodoh yang menyangka bahwa segala yang mereka pahami lebih baik dari pada ucapan pemimpin dunia tersebut. Jelas sekali, orang-orang seperti itu harus ditindak, sehingga masyarakat selamat dari bahaya yang akan mereka timbulkan. Dengan demikian, sikap yang dipilih Imam Mahdi af. terhadap mereka adalah sikap yang keras. Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk menumpasnya.

Pada bab ini, kita akan membahas dua permasalahan penting yang berasal dari beberapa riwayat.

A. Ketegasan Imam Menindak Musuh

Hal yang kita bahas di sini adalah seputar sikap Imam Mahdi af. dalam menghadapi musuh-musuhnya. Ia tidak memberikan hukuman kepada mereka, tetapi ia menumpas sebagian dari mereka dalam peperangan. Bahkan, orang-orang yang melarikan diri dan terluka pun dikejar sampai ke mana saja mereka mampu berlari. Beliau menjatuhkan hukuman mati kepada beberapa orang, merobohkan rumah mereka, ada juga yang diasingkan, dan ada yang dipotong tanganya.

1. Peperangan dan Pertumpahan Darah

Zurarah bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq as., “Apakah sikap Imam Mahdi af. sama seperti sikap yang diambil Rasulullah Saw.?” Imam menjawab, “Tidak tidak wahai Zurarah! Sikapnya (dalam berhadapan dengan musuh) tidak seperti sikap Rasulullah Saw. Rasulullah bersikap lembut dan ramah kepada semua orang agar beliau dapat mengambil hati mereka dan mereka dapat menyukainya. Adapun sikap Imam Mahdi af. adalah membunuh siapa saja yang menentangnya. Ia akan bersikap sesuai dengan keputusannya dan tidak menerima permohonan maaf siapa saja. Maka, celakalah orang-orang yang menentangnya.”[20]

Hasan bin Harun menuturkan, “Sewaktu itu aku berada di majelis Imam Shadiq as., Mu’ali bin Khunais bertanya kepada beliau, ‘Apakah ketika Imam Mahdi muncul, ia akan bersikap berbeda dengan Imam Ali as?’ Imam Menjawab, ‘Ya. Imam Ali as. bersikap lembut dan ramah, karena ia tahu bahwa setelahnya nanti para pengikutnya akan dikuasai dan dizalimi oleh musuh-musuhnya. Adapun Imam Mahdi af. bersikap tegas dan keras kepada mereka. Bahkan ia menahan orangorang yang menentangnya. Karena ia mengetahui bahwa setelahnya tidak akan ada orang-orang keji dan zalim yang menguasai para pengikutnya.’”[21]

Imam Ridha as. bersabda, “Ketika Imam Mahdi af. muncul, yang ada hanyalah pertumpahan darah, pemenggalan kepalakepala, dan kuda-kuda yang tersungkur (saking banyaknya yang tewas).”[22]

Mufadhal menuturkan bahwa Imam Shadiq as. tengah mengingatkan kami tentang Imam Mahdi af. ia berkata, ‘Aku berharap pemerintahan Imam Mahdi af. dapat berdiri dengan mudah.’ Kemudian Imam bersabda, ‘Tidak mungkin. Pemerintahannya tidak akan berdiri, kecuali setelah kalian mengalami banyak penderitaan.’”[23]

Imam Shadiq as. menuturkan bahwa Imam Ali as. pernah bersabda, “Aku bisa membunuh orang-orang (yang memerangi Imam Ali as.), yang lari dari peperangan dan juga orangorang yang terluka. Hanya saja, aku tidak mau ketika Syiahku berperang, mereka (musuh-musuh pengikut Imam Ali) membunuh sebagian pengikutku yang lari dan terluka. Tetapi, Imam Mahdi af. akan melakukannya. Ia akan membunuh musuh-musuhnya yang lari dari peperangan dan juga orangorang yang terluka dan tak berdaya.’”[24]

Imam Baqir as. bersabda, “Jika semua orang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Imam Mahdi af. ketika muncul, maka kebanyakan dari mereka berharap untuk tidak pernah melihatnya sama sekali. Karena, ia akan membunuh banyak orang. Pembunuhan tersebut akan dilakukan untuk pertama kalinya di tengah-tengah Quraisy. Setelah itu, tak ada yang ia lakukan kecuali memegang pedang kembali dan tidak memberikan apa pun kecuali pedang. Imam Mahdi af. akan melakukan beberapa perbuatan yang sekiranya orang-orang melihatnya niscaya mereka mengatakan bahwa beliau bukan dari keluarga Muhammad Saw. Karena, jika keturunan Nabi Muhammad Saw., ia pasti baik hati.”[25]

Imam Baqir as. juga bersabda, “Imam Mahdi af. akan bangkit dengan sunnah dan pengadilan baru. Akan tiba masa yang menyakitkan bagi bangsa Arab. Dan tidak ada yang layak dilakukan Imam Mahdi af. selain membunuh musuh-musuh tersebut.”[26]

2. Hukuman Mati dan Pengasingan

Abdullah Mughirah menuturkan bahwa Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Qaim dari keluarga Muhammad (Imam Mahdi af.) muncul, ia akan menjatuhkan hukuman mati kepada lima ratus orang Quraisy dalam keadaan berdiri. Kemudian, ia menjatuhkan hukuman yang sama kepada lima ratus orang yang lainnya. Hal ini, beliau lakukan sebanyak enam kali.” Abdullah bertanya, “Apakah jumlah mereka sebanyak ini?” Imam menjawab, “Ya, mereka dan sekutunya.”[27]

Imam Baqir as. bersabda, “Ketika Al-Qaim af. muncul, ia menawarkan iman kepada setiap orang Nashibi. Apabila mereka benar-benar menerima kebenaran, ia akan melepaskannya. Namun, jika mereka tidak menerima, maka beliau akan memenggal kepala mereka atau mengambil jizyah dari mereka (sebagaimana saat ini negara Islam melakukannya terhadap Ahlu Dzimmah). Lalu, mengasingkan mereka di suatu daerah yang jauh.”[28]

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Imam Mahdi af. muncul, ia mengenali musuh-musuhnya hanya dengan melihat wajah mereka. Kemudian ia memegang kepala dan kaki mereka, lalu membunuhnya.”[29]

3. Potong Tangan

Harawi menuturkan bahwa ia bertanya kepada Imam Shadiq as., “Sebelum melakukan apa-apa, hal apakah yang akan dilakukan oleh Imam Zaman af. pertama kalinya?” Imam menjawab, “Mula-mula ia akan mendatangi Bani Syaibah, lalu memotong tangan-tangan mereka, karena mereka adalah pencuri di rumah Allah.”[30]

Imam Shadiq as. kembali bersabda, “Ketika Imam Mahdi muncul, ia akan menangkap Bani Syaibah, lalu memotong tangan dan kaki mereka. Kemudian ia meletakkannya di tengah-tengah keramaian dan mengumumkan bahwa mereka adalah para pencuri di rumah Allah.”[31]

Beliau juga bersabda, “Peristiwa menegangkan yang akan terjadi untuk pertama kalinya adalah berhadapannya Imam Mahdi af. dengan Bani Syaibah. Ia akan memotong tangantangan mereka dan menggantungnya di Ka’bah. Kemudian ia mengumumkan ke semua orang bahwa mereka adalah para pencuri di rumah Allah.”[32]

Pada peristiwa pembebasan Mekah, Syaibah memeluk agama Islam, lalu Rasulullah Saw. menjadikannya sebagai pemegang kunci Ka’bah. Kemudian, kabilah Bani Syaibah menjadi pemegang kunci itu untuk beberapa masa. Selain itu, mereka juga sebagai pengurus kain yang diletakkan di Ka’bah.[33]

Almarhum Mamaqani berkata, “Bani Syaibah adalah para pencuri di rumah Allah. Insya Allah, tangan mereka akan dipotong akibat ulah ini, lalu digantungkan di Ka’bah.”[34]

B. Menghadapi Beragam Kalangan

Ketika Imam Mahdi af. muncul, ia akan berhadapan dengan berbagai kalangan. Sebagian dari mereka, berasal dari suatu ras tertentu. Sebagian lagi pemeluk agama bukan Islam. Sebagian yang lain, adalah orang-orang yang zahirnya Muslim, namun perilakunya sebagaimana kaum munafik. Ada juga orang-orang abid yang bodoh dan selalu menentang apa yang dibicarakan Imam Mahdi af. Sebagian kelompok yang lain, adalah para pengikut sekte tertentu yang menyimpang. Dalam menghadapi beragam kelompok tersebut, sikap Imam Mahdi af. tidak sama, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai riwayat berikut ini.

1. Bangsa Arab

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Qaim kami muncul, tidak ada hal lain kecuali peperangan antara dia dengan orangorang Arab terutama suku Quraisy.”[35]

Sambil mengisyaratkan ke leher yang dipegangnya, Imam Shadiq as. bersabda, “Tidak ada jalan antara kami dengan orang-orang Arab selain memenggal kepala.”[36]

Mengenai peperangan dengan suku Quraisy, Imam Shadiq as. juga bersabda, “Ketika Imam Mahdi af. muncul Quraisy akan menjadi sasaran. Tak ada yang ia ambil dari mereka selain pedang, dan tak ada yang ia berikan kepada mereka selain pedang.”[37]

Barangkali, maksud dari “tidak mengambil apa-apa, selain pedang dari Quraisy” adalah orang-orang Quraisy tidak mematuhi Imam Mahdi af. Mereka selalu berusaha menciptakan keributan dan huru hara. Secara langsung atau tidak, mereka melawan Imam Mahdi af. Akhirnya, Imam pun tidak melihat jalan yang lebih baik selain mengangkat pedang.

2. Ahli Kitab

Abdullah bin Bukair bertanya kepada Imam Musa Kadzim as. mengenai tafsir ayat,“Dan segala yang ada di langit dan di bumi berserah kepada-Nya, baik karena taat maupun terpaksa.” [38]

Imam menjawab, “Ayat ini diturunkan mengenai Imam Mahdi af. Ia akan mengenalkan Islam kepada orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin, penganut Dahriyah (sepaham materialism), orang-orang murtad, dan kaum kafir di barat dan timur dunia. Jika mereka menerima agamanya, maka beliau memerintahkan mereka untuk mendirikan shalat, membayar zakat, dan memenuhinya sebagaimana dijalankan seorang Muslim. Jika mereka menolak, maka ia akan memenggal kepalanya, sehingga di barat dan timur dunia tidak tersisa seorang pun kafir.”

Abdullah bin Bukair bertanya, “Semoga aku jadi tebusanmu, wahai Imam! Di zaman itu jumlah umat manusia sangat banyak sekali, bagaimana beliau mampu menjadikan mereka semua sebagai Muslimin atau memenggal mereka?”

Imam menjawab, “Jika Allah menghendaki, maka ia akan menjadikan sesuatu yang sedikit menjadi banyak dan sesuatu yang banyak menjadi sedikit.”[39]

Syahr bin Husyab menuturkan bahwa Hajjaj berkata kepadanya, “Hai Syahr! Ada satu ayat Al-Qur’an yang melelahkanku, karena aku tidak memahami maksudnya.” Kemudian, Syahr bertanya, “Ayat apakah itu?” Ia menjawab, “Ayat yang berbunyi‘Dan tidak ada satu orang pun dari Ahli Kitab kecuali mereka akan beriman sebelum mereka mati.[40] ketika aku memperhatikan lidah dan bibir orang Yahudi atau Nasrani, yang kupenggal kepalanya. Aku tidak melihat mereka mengucapkan syahadat, hingga nyawa berpisah dari badannya.”

Syahr bin Husyab berkata, “Makna ayat tersebut tidak seperti yang kamu pikirkan. Tetapi yang benar adalah sebelum kiamat nanti, Nabi Isa as. akan datang dan beliau akan menjadi pengikut Imam Mahdi af. Pada waktu itulah tidak ada seorang pun Yahudi dan Nasrani yang tidak mengimaninya.”

Hajjaj bertanya, “Dari mana kamu memahami penafsiran seperti itu? Siapakah yang memberitahukannya kepadamu?” Syahr menjawab, “Dari Imam Baqir as.” Hajjaj kembali berkata, “Kamu telah mempelajarinya dari mata air pengetahuan.”[41]

Rasulullah Saw. bersabda, “Kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah kalian berperang dengan Yahudi. Pada waktu itu, (karena kalah) orang-orang Yahudi melarikan diri dan bersembunyi di balik bebatuan. Kemudian batu-batu tersebut berteriak kepada kalian, ‘Wahai kaum Muslimin orangorang Yahudi bersembunyi di balikku.’”[42]

Beliau juga bersabda, “... orang-orang Yahudi yang tengah bersama Dajal pergi melarikan diri dan bersembunyi. Kemudian pohon-pohon dan batu-batu berteriak, ‘Wahai Ruhullah, Mereka ada di sini!’ Lalu beliau membasmi mereka semua dan tak menyisakan seorang pun.”[43]

Tindakan Imam Mahdi af. dalam menghadapi Ahli Kitab tidak selalu sama. Karena, dari beberapa riwayat kita dapat memahami bahwa kadangkala Imam bersedia menerima jizyah dan membiarkan mereka pada agamanya masingmasing. Terkadang pula, beliau mengajak mereka berdiskusi dan berdebat, dengan jalan ini beliau menarik mereka menuju Islam. Dapat dikatakan bahwa pada mulanya, Imam Mahdi af. mengajak mereka untuk berdiskusi seputar agama yang benar. Setelah itu, orang-orang yang mengetahui kebenaran tapi menyembunyikannya, beliau perangi.

Abu Bashir menuturkan bahwa ia pernah berkata kepada Imam Shadiq as., “Apakah Imam Mahdi af. akan terus tinggal di Masjid Sahlah (Kufah) sampai akhir umurnya?” Imam menjawab, “Ya.” Kemudian ia bertanya, “Apa pandangan beliau terhadap Ahlu Dzimmah?” Imam menjawab, “Beliau bersikap baik dengan mereka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Mereka akan membayar jizyah dengan hina.”[44]

Ibnu Atsir berkata, “Di zaman itu tidak akan ada Ahlu Dzimmah yang tersisa, kecuali mereka membayar Jizyah.”[45]

Ibnu Syaudzab berkata, “Alasan Al-Qaim af. disebut dengan Mahdi karena ketika muncul, ia akan diarahkan ke salah satu dari gunung-gunung Syam. Lalu di sana, ia mengeluarkan kitab Taurat kemudian membahasnya bersama orang-orang Yahudi. Sebagian dari orang-orang Yahudi, ada yang menerima Islam dan mengikuti Imam Mahdi af.”[46]

3. Aliran Sesat

Imam Baqir as. bersabda, “Celakalah orang-orang Murjiah. Ketika Imam Mahdi af. muncul Kelak, siapakah yang akan memberikan perlindungan kepada mereka?” Perawi bertanya, “Maksud Anda, ketika kami dan Anda adalah setara di hadapan keadilan?” Imam Menjawab, “Jika mereka bertaubat, maka Allah akan memaafkan mereka. Tetapi, jika mereka

menyimpan kemunafikan di hatinya, maka Allah tidak akan menyiksa dan menyengsarakannya. Jika kemunafikan mereka nampak dan diketahui, maka Allah akan menumpahkan darah mereka.”

Kemudian, sambil memegang leher suci beliau dan mengisyaratkannya, Imam berkata, “Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya ia akan memenggal kepala mereka sebagaimana tukang daging memenggal kepala kambing.”

Perawi berkata, “Aku mendengar bahwa ketika Imam Mahdi af. muncul, segalanya akan berjalan sesuai harapannya dan ia tidak akan menumpahkan darah.”

“Tidak. Tidak akan seperti itu. Demi Allah! Iia akan menumpahkan darah mereka dan mengusap keringat dari keningnya.” Balas Imam sambil mengisyarahkan keningnya.[47]

Ketika Imam Ali as. berjalan melewati mayat-mayat kaum Khawarij, beliau bersabda, “Yang mendorong kalian untuk membunuh adalah yang menipu kalian.” Para sahabat Imam bertanya, “Siapakah yang menipu itu?” Imam menjawab, “Setan dan nafsu kotor.” Mereka berkata, “Semoga Allah memotong tipu daya mereka sampai Hari Kiamat.”

Imam membalas, “Tidak. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya mereka berada di sulbi para lelaki dan rahim para wanita. Mereka akan terlahir secara berangsurangsur, sampai pada suatu saat mereka akan dipimpin oleh seorang yang bernama Ashmath di antara sungai Dajlah dan Furat. Di zaman itu, seorang lelaki dari Ahlul Bait kami akan datang untuk memerangi dan melenyapkannya. Setelah itu, tidak akan ada lagi perlawanan yang dilakukan oleh kelompok Khawarij.”[48]

Mengenai kelompok Baturiyah[49] beliau juga bersabda, “Ketika Imam Mahdi muncul, ia bergegas menuju Kufah. Di sana, kira-kira terdapat sepuluh ribu orang yang disebut dengan orang-orang Baturiyah. Ketika itu, mereka memegang senjata dan menghalangi jalan beliau seraya berkata, ‘Kembalilah ke tempat asalmu! Kami tidak membutuhkan anak-anak Fathimah.’ Kemudian Imam Mahdi mengeluarkan pedangnya dan menumpas mereka semua.”[50]

4. Orang-orang yang Berlaga Suci

Imam Baqir as. bersabda, “... Imam Mahdi af. berangkat menuju Kufah. Di sana, terdapat enam belas ribu orang Baturiyah bersenjata menghadang jalan Imam. Mereka adalah para ulama agama, pembaca Al-Qur’an, dan orang yang banyak beribadah, sehingga di kening mereka terdapat bekas sujud. Muka mereka kuning saking sering bangun di malam hari untuk menunaikan shalat, akan tetapi kemunafikan menyelimuti diri mereka. Ketika itu, mereka serentak berteriak, ‘Wahai putra Fathimah! Kembalilah ke tempat yang asalmu. Kami tidak membutuhkanmu.’

“Lalu Imam Mahdi af. memerangi mereka di balik kota Kufah sejak zuhur hari Jum’at sampai malam hari dan mereka semua dibinasakan. Dalam peperangan ini, tak satupun prajurit Imam Mahdi af. yang terluka.”[51]

Abu Hamzah Tsumali menuturkan bahwa Imam Baqir as. selalu berkata, “Permasalahan yang akan dihadapi oleh Imam Mahdi ketika beliau muncul di antara umat manusia, seukuran permasalahan yang pernah dihadapi oleh Rasulullah Saw. atau lebih dari itu.”[52]

Fudhail menuturkan bahwa Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Al-Qaim kami bangkit nanti, ia merasa sedih akibat ulah orang-orang bodoh di zamannya. Kesedihan ini melebihi yang dirasakan oleh Rasulullah Saw. akibat kebodohan umat di zaman beliau.”

Ia bertanya, ‘Bagaimana dan mengapa?’ Beliau menjawab, ‘Rasulullah diutus kepada orang-orang yang menyembah batu, kayu, dan berhala. Tetapi, Imam Mahdi af. diutus kepada orang-orang yang menggunakan Al Qur’an sebagai senjata mereka untuk memeranginya. Lalu menakwil ayat-ayat tersebut untuk menolak keberadaan Al-Mahdi af.’”[53]

Imam Shadiq as. juga bersabda, “Imam Mahdi akan membunuh banyak orang, sehingga banjir darah menggenangi dunia hingga betis kaki. Seseorang dari anak-anak ayahnya tidak menyukai perbuatan beliau dan berkata: ‘Engkau mengusir manusia bagaikan mengusir kambing-kambing! Apakah ini adalah cara yang dipakai Rasulullah Saw.?’

“Salah seorang pengikutnya berdiri dan berkata kepada orang itu, ‘Diamlah, kalau tidak aku potong lehermu.’ Kemudian, Imam Mahdi af. mengeluarkan surat perintah yang ditulis oleh Rasulullah Saw yang waktu itu beliau bawa, lalu menunjukkannya.”[54]

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Imam Mahdi af. muncul, sekelompok orang keluar dari agama dan wilayah. Tetapi, mereka terlihat seperti pengikut Imam Mahdi af. Sebagian orang yang lain, ada yang menerima kepemimpinan Imam Mahdi, tetapi mereka terlihat seperti para penyembah matahari dan bulan.”[55]