• Mulai
  • Sebelumnya
  • 13 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 122 / Download: 30
Ukuran Ukuran Ukuran
Mengenal Ulama Besar syiah(2)

Mengenal Ulama Besar syiah(2)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

Mengenal Para Ulama Besar Syiah

Mengenal Para Ulama Besar Syiah (11)

Di beberapa seri sebelumnya kita telah berbicara tentang Muhammad bin Muhammad bin Nu'man atau Syeikh Mufid. Edisi sekarang akan mengupas biografi salah satu murid besar Syeikh Mufid yaitu Sayid Radhi.

Sayid Radhi adalah seorang ulama besar pada masanya dan ia menimba ilmu dari para guru besar dan ilmuwan zaman itu. Ia adalah seorang faqih yang luas ilmunya, ahli kalam yang mahir, sastrawan yang ulung, dan seorang ulama tafsir dan hadis. Ia adalah adik dari Sayid Murtadha, salah satu tokoh besar Syiah pada masa itu.

Abu al-Hasan Muhammad bin Husein al-Musawi yang bergelar Syarif Radhi dan terkenal dengan sebutan Sayid Radhi, dilahirkan di kota Baghdad, Irak pada tahun 359 Hijriyah. Nasab ayahnya sampai kepada Imam Musa al-Kazim as dan ibundanya merupakan cucu dari Imam Ali Zainal Abidin as.

Ayahnya, Abu Ahmad Husein adalah seorang tokoh besar, tetua para sayid, amirul haj, dan sosok yang bertanggung jawab untuk memproses pengaduan masyarakat. Ibunya, Fatimah putri Abu Muhammad adalah seorang wanita yang berilmu dan bertakwa. Sayid Radhi menulis buku Ahkam al-Nisa’ atas permintaan ibundanya.

Syeikh Mufid mengisahkan bahwa suatu malam aku melihat Sayidah Fatimah Zahra as dalam mimpiku dengan membawa kedua putranya yang masih kecil, Hasan dan Husein as. Ia menyampaikan salam kepadaku dan berkata, "Wahai syeikh, ajarkan fikih kepada kedua anak ini." Aku kaget dan langsung bangun. Di pagi hari itu juga, ibunda dari Sayid Radhi dan Sayid Murtadha datang kepadaku sambil membawa kedua putranya itu. Ia berkata, “Syeikh, keduanya adalah anak-anakku, mereka aku bawa ke hadapanmu supaya engkau ajarkan fikih.”

Syeikh Mufid menangis dan menceritakan mimpinya kepada ibunda Sayid Radhi. Kemudian Syeikh Mufid pun mengajarkan fikih kepada mereka. Allah Swt membukakan rahmat-Nya bagi mereka dan meluaskan ilmu dan kemuliaan mereka sehingga terkenal di seluruh dunia.

Sejak awal mengenyam pendidikan, Sayid Radhi sudah membuat rekan-rekan dan para gurunya takjub. Semakin tinggi jenjang yang ia tempuh, pujian para ilmuwan mengalir untuknya begitu pula dengan kedengkian musuh-musuh. Di usia sembilan tahun, orang-orang dibuat terpana dengan kejeniusannya ketika menjawab dengan teliti dan tepat mengenai soal-soal dari guru besar ilmu nahwu.

Selain Syeikh Mufid, Sayid Radhi juga berguru kepada para ulama besar dan ilmuwan pada masa itu. Ia belajar kepada para ilmuwan yang tinggal di Baghdad di berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti, saraf, nahwu, balaghah, tafsir, hadis, fiqih, ushul fiqh, dan ilmu kalam.

Ia memperoleh banyak pengetahuan dari mereka dan menyempurnakan keahliannya di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sayid Radhi dikenal sangat tekun dalam menimba ilmu dan selain kepada para ulama Syiah, ia juga berguru kepada ulama Sunni sehingga menguasai sumber-sumber hadis dan fiqih mazhab lain.

Oleh karena itu, Sayid Radhi sangat kompeten dalam berdebat dan membuktikan sesuatu dengan bersandar pada sumber-sumber dan argumen yang kuat. Sebelum mencapai usia baligh, Sayid Radhi telah mempelajari berbagai cabang ilmu dan ketika menginjak usia 20 tahun, ia menguasai semua ilmu yang berkembang pada masa itu dengan sempurna.

Sayid Radhi mulai menulis buku pada usia 17 tahun dan buku-bukunya tercatat sebagai karya ilmiah Syiah yang paling bernilai. Nama Sayid Radhi di kalangan ulama dan ilmuwan tidak bisa dipisahkan dari kitab Nahjul Balaghah. Ia mengumpulkan khutbah, surat, dan ucapan-ucapan Imam Ali as dari berbagai sumber dan mengumpulkannya dengan rapi dalam sebuah kitab bernama Nahjul Balaghah.

Pada dasarnya, Sayid Radhi mampu mempersembahkan sebuah kitab yang sempurna kepada dunia, yang bersumber dari ucapan manusia suci dan sosok pengganti Rasulullah Saw yaitu Imam Ali as. Lewat karya ini, ia tidak hanya menyumbangkan sebuah kontribusi besar kepada dunia Syiah, tetapi juga kepada seluruh umat manusia.

Karya lain Sayid Radhi adalah kitab Khashaish al-Aimmah dan tafsir al-Mutasyabih fi al-Quran, di mana dari kandungannya dapat diketahui kemampuan ilmiah dan keluasan pengetahuan penulisnya.

Sayid Radhi dikenal sebagai guru besar di bidang sastra Arab dan tidak ada tandingannya dalam ilmu sastra dan puisi. Ia mulai melantunkan puisi sejak usia 10 tahun dan qasidah pertamanya membuat para sastrawan terkagum-kagum. Syair-syair Sayid Radhi dihafali dan dilantunkan oleh masyarakat. Diwan syair Sayid Radhi mencakup 6.300 bait dan termasuk karya sastra Arab yang paling bernilai.

Seorang sastrawan besar, Shahib bin 'Ibad diliputi rasa kagum ketika pertama kali menyaksikan penggalan syair Sayid Radhi. Ia kemudian mengutus salah seorang ke Baghdad untuk menyalin buku diwan syair Sayid Radhi dan membawa salinan itu kepadanya. Peristiwa ini terjadi ketika Sayid Radhi masih berusia 26 tahun.

Selain menguasai ilmu dan sastra, Sayid Radhi memiliki keutamaan akhlak dan kesempurnaan jiwa. Ia dikenal dengan jiwa yang bersih, setia, dan dermawan, memegang teguh ajaran agama, serta menjaga perkara halal dan haram.

Meski sangat mahir dalam melantunkan syair dan pujian terhadap para tokoh agama dan politik, tetapi ia tidak pernah menerima imbalan dan tidak menjadikan syairnya sebagai sarana untuk menjilat orang lain, ia hanya berbicara fakta dan kebenaran dalam format syair. Ia sudah berkali-kali menolak hadiah yang diberikan oleh Baha al-Dawla Daylami, salah satu penguasa Dinasti Buyid.

Sayid Radhi terkenal sangat dermawan dan bermurah hati. Di tengah kesibukannya, ia membangun sebuah madrasah dan kemudian mendidik para santri, serta menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya pada masa itu. Madrasah ini diberi nama Dar al-‘Ilm dan ia sudah berdiri puluhan tahun sebelum dibangun Madrasah Nizhamiyah Baghdad.

Madrasah Nizhamiyah dibangun dengan anggaran pemerintah, tetapi Sayid Radhi mengeluarkan seluruh biaya operasional Dar al-‘Ilm dan santri dari uangnya sendiri. Sejumlah santri bahkan diberikan kunci gudang sehingga bisa mengakses apa yang dibutuhkan.

Sayid Radhi juga memikul tanggung jawab sosial yang besar dan selalu hadir untuk memberikan pelayanan kepada kaum Muslim. Sejak al-Mu'tadhid Billah (Khalifah Bani Abbasiyah) berkuasa pada tahun 279 H, keturunan alawi mulai dihormati dan diangkat satu tokoh dari keturunan sayid untuk menangani urusan-urusan mereka.

Di setiap kota, diangkat satu tokoh atau ulama alawi untuk mengurusi wilayahnya, tetapi Sayid Radhi ditunjuk sebagai pemimpin alawi di seluruh dunia Islam dan ini hanya terjadi di zamannya. Ia bertanggung jawab untuk mengurusi komunitas sayid termasuk urusan pengadilan, menengahi konflik, menangani urusan anak yatim, dan melaksanakan hukum-hukum syar’i tentang keturunan alawi.

Sayid Radhi secara tiba-tiba dan penuh misteri meninggal dunia pada usia 47 tahun. Kabar duka ini membuat para menteri, ulama, dan hakim Syiah dan Sunni berbondong-bondong datang ke rumahnya. Dihadiri oleh ribuan pelayat, jenazah Sayid Radhi dimakamkan di rumahnya di Karakh dan kemudian dipindahkan ke Karbala.

Mengenal Para Ulama Besar Syiah (12)

Ulama dalam budaya Islam memiliki posisi yang sangat tinggi dan dianggap sebagai pewaris para nabi di tengah umat. Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait as memperkenalkan ulama sebagai penjaga agama, penerang bumi, dan pewaris para nabi.

Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Ketika hari kiamat tiba, Allah Swt akan membangkitkan ulama dan ‘abid. Ketika mereka berdua berdiri di hadapan Allah Swt, datang perintah kepada ‘abid, ‘Masuklah ke surga’ dan dikatakan kepada ulama, ‘Tetaplah di sini dan berikan syafaat karena kalian telah mendidik orang-orang dengan baik.’”

Edisi sekarang akan mengkaji lebih jauh tentang posisi tinggi cendekiawan Muslim dengan memperkenalkan kepribadian dan kiprah para ulama besar Syiah.

Ali bin Husein bin Musa – masyhur dengan Sayid Murtadha Alamul Huda – adalah seorang fakih besar, teolog, dan tokoh masyarakat Syiah yang sangat berpengaruh pada abad keempat dan kelima Hijriyah.

Dari segi intelektual, Sayid Murtadha Alamul Huda memiliki posisi yang sangat tinggi sehingga hanya sedikit orang yang mencapai posisi ini pada masa itu. Dia sangat menonjol dalam banyak disiplin ilmu pada masanya seperti teologi, fiqih, yurisprudensi, tafsir, filsafat, astronomi, dan sastra, dan bahkan dianggap sebagai murid istimewa Syeikh Mufid.

Sepeninggal Syeikh Mufid, ia dianggap sebagai ulama besar fiqih, teolog, dan marja’ utama Syiah pada masanya. Sayid Murtadha juga dikenal sebagai penyebar agama pada awal abad kelima Hijriyah.

Sayid Murtadha – sepeninggal ayah dan saudaranya Sayid Radhi – selama 30 tahun menjadi pembesar kelompok Alawi (keturunan Nabi Saw), pemimpin haji, dan ketua dewan pemberantas kezaliman. Dewan ini menangani pengaduan masyarakat terhadap para penguasa dan gubernur.

Menurut Sayid Murtadha, bekerjasama dengan penguasa lalim adalah boleh dan benar bila memiliki fungsi-fungsi rasional dan syar'i, yakni seseorang dalam tanggung jawabnya mampu mengangkat kezaliman dan menegakkan keadilan atau menjalankan hukum-hukum Ilahi.

Sayid Murtadha adalah seorang pemikir rasionalis. Dia percaya bahwa untuk membuktikan Tuhan, diperlukan pencarian rasional dan penalaran, dan tidak dapat merujuk kepada teks-teks agama untuk membuktikan keberadaan Tuhan, sebab teks-teks agama sendiri akan dianggap valid ketika Tuhan sudah dibuktikan melalui akal dan beberapa sifat-Nya juga sudah diketahui.

Pandangan Sayid Murtadha ini berakar pada ajaran al-Quran bahwa prinsip-prinsip agama termasuk keyakinan pada Allah, kenabian, konsep imamah, hari kebangkitan, dan keadilan – sebagai rukun Islam – tidak dapat diterima hanya mengandalkan taklid dan ucapan orang lain, tetapi prinsip-prinsip ini harus dibuktikan dengan menggunakan akal, baru setelah itu seseorang dapat memanfaatkan teks agama dalam menerima rukun-rukun agama lainnya.

Ulama besar ini memandang akal sebagai hujjah dalam berakidah dan kajian teologis, dan segala sesuatu yang bertentangan dengan akal dianggap batil. Oleh karena itu, ketika ada riwayat yang bertentangan dengan akal, maka ia memilih pandangan akal dan percaya bahwa tidak semua riwayat yang sampai kepada kita adalah sahih.

Pada masa itu, kelompok Mu'tazilah juga aktif melakukan kegiatan ilmiah di Baghdad dan mereka merupakan kelompok yang berpegang pada rasionalitas. Oleh sebab itu, beberapa pihak menganggap Sayid Murtadha sebagai penganut mazhab Mu'tazilah, padahal tidak demikian.

Sebagai seorang pemikir Syiah, ia menentang pemikiran Mu'tazilah mengenai beberapa prinsip penting termasuk konsep imamah, kemaksuman, iradah Ilahi dan kehendak manusia.

Sayid Murtadha memiliki pendekatan rasionalitas di bidang fiqih dan meyakini bahwa jika tidak ditemukan dalil-dalil naqli untuk membuktikan hukum syariah pada suatu subjek, maka akal dengan sendirinya dapat menyingkap hukum syariah. Dia adalah salah satu pelopor metode ijtihad dalam fiqih Syiah yang dalam pengistimbatan hukum menggunakan dalil-dalil rasional.

Sayid Murtadha meninggalkan banyak karya yang berharga untuk mazhab Syiah. Almarhum Allamah Amini dalam kitab al-Ghadir menyebutkan 86 nama buku ulama besar tersebut, salah satunya adalah buku koleksi puisi dengan 20.000 bait. Di antara buku fiqih Sayid Murtadha adalah al-Intishar.

Buku ini termasuk salah satu contoh kitab fiqih pertama yang mengkaji persoalan-persoalan yang diperdebatkan antara Syiah dan Sunni, dan memuat hukum-hukum yang berhubungan dengan fiqih Syiah.

Karya penting lainnya di bidang fiqih adalah kitab al-Nasiriyat yang ditulis untuk menafsirkan pandangan fiqih kakeknya, Nasir Kabir. Sayid Murtadha menulis sebuah buku yang lengkap dan komprehensif di bidang yurisprudensi Syiah yaitu al-Zari'ah ila Usul al-Syari'ah dan memberikan penilaian tentang pandangan mazhab Sunni.

Kitab tersebut dianggap sebagai awal terbentuknya ilmu ushul fiqh di kalangan Syiah dan membuatnya terpisah dari ilmu ushul fiqh Sunni. Karya-karya lain Sayid Murtadha adalah kitab Amali tentang persoalan fiqih, kemudian buku-buku di bidang tafsir, hadis, syair, sastra, dan kitab al-Syafi yang membahas konsep imamah.

Sayid Murtadha sangat terkenal selama masa hidupnya dan disebutkan bahwa kuliahnya selalu dipadati oleh mahasiswa dan sebagian ulama, dan bahkan gurunya Syeikh Mufid kadang-kadang juga menghadiri kuliahnya. Dia memiliki rumah besar yang dijadikan sebagai madrasah dan mengajar berbagai mata kuliah seperti fiqih, yurisprudensi, teologi, tafsir, bahasa, syair, astronomi, dan matematika.

Pada waktu itu, para mahasiswa datang ke kota Baghdad dari penjuru terjauh untuk menimba ilmu dari guru-guru besar seperti Sayid Murtadha, namun kebanyakan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikannya selama di rantau. Sayid Murtadha mendedikasikan sebagian rumahnya untuk para mahasiswa. Dia adalah orang pertama yang mengubah rumahnya menjadi madrasah dan tempat diskusi serta menyediakan sebuah perpustakaan besar untuk mahasiswa.

Ketika buku-buku masih ditulis dengan tangan dan belum ada industri percetakan, perpustakaan Sayid Murtadha mengoleksi hampir 80.000 buku. Di madrasahnya, mahasiswa dari berbagai agama sangat terkesan dengan perilaku dan akhlak Sayid Murtadha. Kontribusi penting lain yang dilakukan Sayid Murtadha adalah mendedikasikan salah satu desa miliknya untuk memenuhi kertas yang dibutuhkan oleh para ilmuwan dan fuqaha.

Sayid Murtadha meninggal dunia pada usia sekitar 80 tahun pada tanggal 25 Rabiul Awal 436 H di kota Baghdad. Jenazahnya dimandikan oleh Abu al-Hussein Najashi dan murid-muridnya yang lain. Kemudian putranya Sayid Muhammad memimpin shalat jenazah dan Sayid Murtadha dimakamkan di rumahnya di daerah Karkh, Baghdad. Jasad Sayid Murtadha kemudian dipindahkan ke Karbala dan dimakamkan di samping makam suci Imam Husein as.

Mengenal Para Ulama Besar Syiah (13)

Abu Jakfar Muhammad bin Hasan bin Ali bin Hasan al-Thusi atau lebih dikenal dengan Syeikh Thusi atau juga sering disebut dengan nama Syeikh al-Thaifah (pembesar kaum/pemuka Syiah), adalah seorang faqih, ahli hadis, dan teolog besar Syiah yang hidup pada abad kelima Hijriyah.

Syeikh Thusi lahir pada bulan Ramadhan tahun 385 H/995 di Tus (Khurasan, Iran). Dia adalah salah satu tokoh besar dunia Islam dan Syiah yang memiliki banyak karya dan memberikan kontribusi luar biasa di berbagai bidang agama seperti fiqih, yurisprudensi, hadis, tafsir, teologi, dan ilmu rijal (pengenalan para perawi dan sifat-sifat mereka).

Syeikh Thusi adalah murid istimewa dari Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha. Ia menjadi pemimpin mazhab Syiah dan guru besar teologi di dunia Islam sepeninggal guru-gurunya tersebut. Syeikh Thusi adalah penulis dua kitab dari empat kitab rujukan hadis Syiah yaitu kitab al-Istibshar dan at-Tahdzib, dan pendiri Hauzah Ilmiah Najaf.

Sejarah kehidupan Syeikh Thusi tidak banyak diketahui hingga beranjak usia 23 tahun, tetapi kemungkinan besar ia menghabiskan masa-masa itu untuk mempelajari ilmu agama di kota asalnya, Tus. Di masa itu, Tus adalah salah satu dari empat kota yang terkenal di Khurasan yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Ghaznawiyah selama periode kehidupan Syeikh Mufid. Masyarakat Syiah di sana berada di bawah penindasan dan tidak bisa bernafas lega.

Kota Tus adalah salah satu kota yang paling terkenal dari segi budaya. Penyair dan ilmuwan besar lahir di kota tersebut seperti Ferdowsi, Khajeh Nasir al-Din Tusi dan Muhammad al-Ghazali al-Thusi. Keluarga Syeikh Tusi telah melahirkan para fuqaha dan ulama selama beberapa generasi. Putra Syeikh Tusi merupakan seorang faqih besar dan dikenal sebagai "Mufid Thani" karena kedudukan sosial dan pengaruhnya di bidang agama.

Putri-putri Syeikh Tusi juga tercatat sebagai ahli fiqih dan ilmuwan, dan cucunya bahkan menduduki posisi sebagai marja' (faqih dan ulama rujukan) dan pemimpin hauzah ilmiah. Karena ilmu dan takwa, keluarga Syeikh Tusi tercatat sebagai tokoh, ilmuwan, dan marja' yang berpengaruh di masanya.

Pada usia 23 tahun, Syeikh Tusi berhijrah ke Baghdad pada tahun 408 untuk melanjutkan pendidikannya dan menimba ilmu dari para ulama besar, dan ia menetap di Irak hingga akhir hayatnya. Dia belajar kepada Syeikh Mufid selama lima tahun dan setelah gurunya wafat, ia berguru kepada Sayid Murtadha selama bertahun-tahun.

Syeikh Tusi tetap tinggal di Baghdad selama 12 tahun setelah wafat gurunya, Sayid Murtadha. Ia memimpin komunitas Syiah dan kediamannya di daerah Karkh, Baghdad menjadi tempat rujukan dan tumpuan umat Islam. Banyak ulama dan ilmuwan dari berbagai penjuru negeri Islam melakukan perjalanan ke Baghdad untuk berguru kepada Syeikh Tusi.

Jumlah murid Syeikh Tusi dari para faqih dan mujtahid Syiah mencapai lebih dari 300 orang, dan pada saat yang sama beberapa ratus ulama Sunni juga menimba ilmu darinya.

Syeikh Tusi menetap di Baghdad selama hampir 40 tahun untuk belajar dan mengajar. Di masa kekuasaan Tughril Bey dari Dinasti Seljuk, orang-orang fanatik anti-Syiah menyerang pemukiman Syiah di Baghdad dan membunuh serta menjarah properti mereka. Kediaman Syeikh Tusi tidak luput dari aksi penjarahan ini. Orang-orang jahil ini menyerang rumahnya dengan tujuan membunuh Syeikh Tusi. Ketika ia tidak ditemukan di rumahnya, mereka membakar buku-buku dan isi rumah.

Peristiwa ini menunjukkan kondisi sulit yang dihadapi para ulama Syiah pada masa itu. Pasca insiden tersebut, Syeikh Tusi memutuskan hijrah dari Baghdad ke Najaf. Najaf pada waktu itu hanya sebuah desa kecil di mana sejumlah kecil warga Syiah tinggal di dekat kompleks makam Imam Ali as.

Setelah situasi mulai kondusif, Syeikh Tusi mendirikan Hauzah Ilmiah Najaf yang kemudian berubah menjadi pusat pendidikan terbesar di kalangan Syiah. Tidak lama kota ini berubah menjadi pusat keilmuan dan pemikiran Syiah. Tentunya sebagian orang yakin bahwa sebelum kedatangan Syeikh Tusi di Najaf juga sudah berdiri halaqah-halaqah ilmiah, namun peran ia telah mengokohkan dan mengatur Hauzah Ilmiah Najaf menjadi lebih rapi. Hauzah Ilmiah Najaf sudah berusia lebih dari 10 abad dan melahirkan ribuan faqih dan mujtahid di sepanjang periode itu.

Konsep pemikiran Syeikh Tusi merupakan penyempurna konsep pemikiran Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha. Pandangannya bertumpu pada argumentasi rasional dan naratif. Sebelumnya kami katakan bahwa mengabaikan kemampuan nalar dan hanya berpaku pada lahiriyah ayat dan hadis, telah memperlambat gerakan dan perkembangan ilmu fiqih dan yurisprudensi. Kondisi ini menyebabkan munculnya penyimpangan dalam akidah masyarakat.

Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha dengan perhatian khususnya pada kemampuan nalar dalam memahami al-Quran dan hadis, membuka jalan yang terang bagi kaum Syiah. Syeikh Tusi juga menekuni bidang ijtihad dan dengan memberikan perhatian khusus pada kemampuan nalar dalam memahami agama, ia berjuang melawan kesalahpahaman beberapa pihak dan kedangkalan pemikiran mereka.

Diskusi ilmiah, seminar, dan penulisan buku-buku teologis berkembang dengan pesat pada abad keempat dan kelima Hijriyah. Syeikh Tusi karena posisi ilmiahnya yang tinggi, ditunjuk oleh khalifah untuk memimpin kemajuan ilmu kalam.

Kalam adalah ilmu yang membahas prinsip-prinsip akidah dan pandangan dunia religius yang berdasarkan pada argumentasi akal dan teks untuk menjawab kerguan-keraguan di bidang akidah. Syeikh Tusi meninggalkan lebih dari 15 karya teologis dan yang paling penting adalah kitab Talkhis al-Shafi, yang akan kami perkenalkan pada seri berikutnya.

Ayatullah Syahid Murtadha Mutahhari, seorang pemikir dan cendekiawan Muslim dari Iran mengatakan, “Syeikh Tusi adalah contoh sempurna dari manifestasi Islam dalam tubuh orang Iran. Dari kehidupan orang-orang seperti Syeikh Tusi, dapat dipahami bagaimana spiritualitas Islam telah menembus jauh ke dalam jiwa orang-orang di wilayah ini, sehingga orang-orang seperti Syeikh Tusi telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani agama ini tanpa pernah istirahat.”

Syeikh Tusi tinggal di Najaf selama 12 tahun. Ia wafat pada malam Senin, 22 Muharram tahun 460 H/1068. Jenazahnya dimandikan oleh murid-muridnya dan dikuburkan di rumahnya. Sesuai wasiat dari almarhum, rumah yang ditinggalinya dibangun menjadi masjid. Masjid Syeikh Thusi sampai saat ini menjadi masjid yang paling terkenal di kota Najaf.

Mengenal Para Ulama Besar Syiah (14)

Abu Jakfar Muhammad bin Hasan bin Ali bin Hasan al-Thusi atau lebih dikenal dengan Syeikh Thusi atau juga sering disebut dengan nama Syeikh al-Thaifah (pembesar kaum/pemuka Syiah) adalah salah satu ulama besar dunia Islam dan Syiah yang hidup pada abad kelima Hijriyah.

Ia adalah murid kebanggaan dari Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha, dan pasca gurunya wafat, ia menjadi guru besar ilmu kalam di dunia Islam. Syeikh Thusi adalah penulis dua kitab dari empat kitab induk hadis Syiah (Kutub al-Arba'ah) dan pendiri Hauzah Ilmiah Najaf.

Syeikh Thusi memiliki banyak karya di berbagai bidang ilmu keislaman dan mewariskan sekitar 50 buku. Saat ini karya-karya Syeikh Thusi sudah diterbitkan dalam bentuk ensiklopedia.

Tahdzib al-Ahkam dan al-Istibshar, dua kitab dari Kutub al-Arba’ah ditulis oleh Syeikh Thusi dan setiap faqih atau mujtahid yang ingin mengeluarkan fatwa hukum, tidak punya jalan lain kecuali merujuk kepada kitab tersebut.

Kutub al-Arba’ah merupakan sebuah istilah yang mengacu pada empat kitab induk hadis yang digunakan ulama Syiah sebagai referensi. Tahdzib al-Ahkam merupakan karya pertama Syeikh Thusi dan salah satu kitab kumpulan hadis Syiah yang paling mu’tabar dan buku ketiga dari empat kitab yang diterima oleh seluruh ulama dan fuqaha Syiah.

Tahdzib al-Ahkam terdiri dari 393 bab dan 13.590 hadis dengan tema permasalahan fiqih dan hukum syariat yang bersumber dari riwayat Ahlul Bait Nabi as.

Kitab al-Istibshar juga ditulis oleh Syeikh Thusi. Kitab ini memuat 5.511 buah riwayat dan mengkaji hadis-hadis yang secara lahir bertentangan satu sama lain. Di antara hadis yang sampai dari Rasulullah Saw dan para imam maksum as, sebagian kecil darinya terlihat bertentangan satu sama lain.

Sekelompok ulama dan murid Syeikh Thusi memintanya untuk menulis sebuah buku yang mengumpulkan dan mengkaji berbagai riwayat yang saling bertentangan. Dalam buku ini, Syeikh Thusi mengumpulkan semua hadis sahih untuk berbagai persoalan fiqih, kemudian mengutip riwayat yang berlawanan dan mencari titik temu di antara keduanya.

Ia meneliti riwayat-riwayat yang secara lahir berbeda itu dan dengan penguasaannya atas sumber-sumber agama, ia memperjelas maksud asli dari hadis tersebut. Al-Istibshar terbilang unik dibandingkan kitab kumpulan hadis lain dan merupakan buku pertama yang ditulis untuk mencari titik temu di antara riwayat yang terlihat bertentangan.

Karya lain Syeikh Thusi adalah At-Tibyan fi Tafsir al-Quran yang lebih populer dengan sebutan tafsir at-Tibyan. Buku ini adalah kitab tafsir pertama Syiah yang menafsirkan seluruh ayat al-Quran dan merupakan sumber referensi kuno di bidang tafsir bagi para para mufassir Syiah.

Dalam karyanya ini, Syeikh Thusi menggabungkan dua metode yaitu naqli dengan mengutip riwayat dari Rasulullah dan Ahlul Bait, serta aqli dan dengan memperhatikan berbagai disiplin ilmu dan pendapat para mufassir zaman dulu dan kontemporer.

Kitab-kitab tafsir yang ditulis sebelum Syeikh Thusi – baik milik Ahlu Sunnah maupun Syiah – tidak menafsirkan seluruh ayat al-Quran, tidak terlalu dalam, dan hanya mengkaji serta menafsirkan lafal-lafal yang sulit dipahami.

Namun, at-Tibyan adalah sebuah tafsir yang mengupas semua ayat al-Quran dan ayat-ayatnya dikaji dari perspektif berbagai ilmu al-Quran seperti, qiraah, ma'ani bayan, tata bahasa, dan ilmu nahwu. Juga karena Syeikh Thusi sangat menguasai ilmu kalam, tafsir ini sekaligus menjawab keraguan dan sanggahan dari kelompok ateis dan penganut ajaran batil seperti, kelompok Jabariyyah dan Tashbih.

Metode yang dipakai Syeikh Thusi dalam bukunya ini tergolong baru dibandingkan dengan kitab tafsir ulama Syiah sebelumnya dan merupakan buku tafsir pertama Syiah yang tidak hanya mengumpulkan dan menukil hadis, tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan ijtihad.

Sebelum ini, kitab-kitab tafsir Syiah hanya menukil hadis untuk menjelaskan maksud dari ayat al-Quran, sementara penulis tidak memberikan analisa dan evaluasi. Kibat at-Tibyan dianggap penting karena kandungannya dan metode baru yang diperkenalkan oleh Syeikh Thusi. Kitab ini menjadi rujukan untuk para ulama tafsir setelahnya.

Hadis dan riwayat memainkan peran yang sangat penting untuk memahami agama. Untuk itu, para penukil hadis dituntut untuk memegang amanah dan bersikap jujur. Banyak dari adab dan hukum bersumber dari ucapan Rasulullah Saw. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah kajian yang teliti untuk menyingkap mana hadis yang benar-benar datang dari Rasulullah dan para imam maksum, dan mana hadis palsu atau hadis yang sudah terdistorsi karena kesalahan para perawinya.

Untuk keperluan itu, dibutuhkan ilmu rijal untuk memperkenalkan para perawi hadis, mengkaji reputasi mereka, dan mengukur tingkat kejujuran perawi. Pada awal abad keempat dan seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan pemalsuan hadis mulai marak terjadi.

Syeikh Thusi memahami bahaya ini dan agar lebih mudah bagi generasi mendatang untuk melacak perawi yang jujur, ia kemudian menulis sebuah buku berjudul al-Abwab atau Rijal Thusi. Ulama besar ini juga mengarang buku lain dengan judul al-Fehrest untuk bidang yang sama. Buku-buku ini sekarang menjadi salah satu rujukan utama yang diandalkan oleh para ulama kontemporer.

Sejak awal kehadiran fiqih Syi'ah, kitab-kitab fiqih terdiri dari kumpulan riwayat dan hadis dari Ahlul Bait yang berbicara tentang persoalan halal-haram, hukum jual-beli, dan lainnya seperti tema akhlak, pengetahuan umum, dan akidah.

Setelah tiga abad berlalu, muncul sebuah metode baru di mana para fuqaha selain mengutip hadis, juga memaparkan kesimpulannya dari hadis tersebut di setiap persoalan yang kemudian dikenal dengan fatwa. Selain metode ini, para ulama juga memperkenalkan sebuah metode baru yang dikenal dengan al-Fiqh al-Istidlali.

Untuk mengetahui status hukum tentang sebagian permasalahan kontemporer yang belum pernah dibahas pada masa Rasulullah dan imam maksum, serta tidak disinggung secara langsung oleh ayat dan riwayat, maka dibutuhkan sebuah metode baru dalam fiqih untuk menjawab persoalan ini. Metode ini melibatkan akal untuk mengeluarkan kaidah umum dari teks-teks ayat dan riwayat. Dengan kaidah umum ini, para fuqaha mengeluarkan fatwa terhadap permasalahan kontemporer yang dihadapi umat Islam.

Di masa hidupnya, Syeikh Thusi merasakan perlunya sebuah reformasi di bidang fiqih dan ijtihad, dan perubahan ini tidak akan terwujud jika tanpa sebuah gerakan yang melawan tradisi pada masa itu. Di sini, dibutuhkan keberanian, ilmu yang cukup, dan akhlak yang mulia untuk melawan tradisi tersebut.

Syeikh Thusi dengan keberanian, ilmu, dan akhlak yang dimilikinya, membuat sebuah terobosan dengan menulis buku al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyah dan mengantarkan fiqih dan ijtihad dalam Syiah ke sebuah fase baru.

Seorang cendekiawan Muslim asal Iran, Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari mengatakan, “Seluruh wujud Syeikh Thusi dipenuhi dengan iman, semangat Islamis, dan haus akan pengabdian kepada Islam. Dia adalah sosok yang sangat bergairah, tetapi semangat, iman, dan gairah ini tidak pernah menyeretnya ke arah jumud (kaku) dan berpandangan dangkal. Ia bangkit melawan kelompok jumud dan orang yang berpikiran dangkal. Dia mengenal Islam sebagaimana mestinya dan karena itu menghormati kebenaran akal.”

Mengenal Para Ulama Besar Syiah (15)

Abu Ali Fadhl ibn Hassan Tabresi atau Syeikh Tabarsi (468-548 Hijriah Qamariah) adalah salah satu ulama besar Syiah, dan mufasir Al Quran abad ke-5 dan ke-6 Hq. Syeikh Tabarsi menulis sejumlah kitab tafsir Al Quran, dan yang paling terkenal adalah Majma Al Bayan.

Syeikh Tabarsi lahir pada tahun 468 Hq, dan ayah beliau memberinya nama Fadhl. Allamah Majlesi meyakini kata Tabresi merupakan pelafalan kata bahasa Farsi, Tafresh dalam bahasa Arab, oleh karena itu Syeikh Tabarsi berasal dari Tafresh, salah satu daerah yang masih bagian dari kota Qom.

Keluarga Syeikh Tabarsi merupakan keluarga terkenal di kalangan Syiah. Ayah beliau Hassan bin Fadhl adalah ulama di masanya, dan putra beliau Radhi Ad Din Tabarsi bersinar seperti mentari di langit ilmu pengetahuan, kezuhudan, dan ketakwaan. Radhi Ad Din adalah murid ayahnya, dan penulis banyak kitab salah satunya Makarim Al Akhlaq.

Syeikh Tabarsi atau Fadhl bin Hassan menghabiskan masa kanak-kanak, dan pelajaran dasarnya di lingkungan Makam Suci Imam Ridha as, setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan belajar ilmu-ilmu Islam, dan mengikuti kelas para ulama besar.

Syeikh Tabarsi dikenal luar biasa dalam sastra Arab, qiraat, tafsir Al Quran, hadis, fikih dan ushul, juga kalam, ia bahkan sampai ke derajat ahli di masing-masing bidang ilmu tersebut. Meski di masa itu di sekolah-sekolah tidak lazim diajarkan ilmu berhitung, matematika, dan yang lainnya, namun Syeikh Tabarsi mempelajarinya dan menjadi pakar matematika.

Ulama-ulama besar dan para penulis riwayat hidup menyebut Syeikh Tabarsi sebagai seorang mujtahid dan fakih besar. Dengan bantuan lebih dari 500 ayat Al Quran tentang hukum ibadah, dan muamalah, Syeikh Tabarsi membahas tema-tema fikih di kitab-kitab tafsirnya. Dia pertama menjelaskan pendapat berbagai mazhab Islam, kemudian menyampaikan pendapatnya sebagai fatwa dari sudut pandang Syiah. Kebanyakan ahli fikih atau fakih besar Syiah memuji pandangan-pandangannya.

Syeikh Tabarsi tinggal selama sekitar 54 tahun di kota suci Mashhad, kemudian pindah ke Sabzevar pada tahun 523 Hq atas undangan tokoh-tokoh besar kota itu. Pasalnya di Sabzevar fasilitas untuk mengajar, menulis dan menyebarkan luaskan agama, tersedia lengkap baginya.

Hal yang pertama dilakukan Syeikh Tabarsi di Sabzevar adalah menerima tanggung jawab mengurus Madrasah Darvazeh Iraq, yang kelak berubah menjadi sebuah Hauzah Ilmiah besar dan penting, di bawah kepemimpinannya. Kekayaan budaya, dan ilmu pengetahuan tempat ini menarik banyak pelajar dari tempat-tempat jauh di Iran. Para pelajar agama atau Talabeh muda dengan kecintaannya untuk mencapai kesempurnaan, dan melayani agama, menuntut ilmu di madrasah itu, seperti ilmu fikih dan tafsir dari Syeikh Tabarsi.

25 tahun di Sabzevar adalah masa terbaik Syeikh Tabarsi dalam mendidik para pelajar agama, menulis buku dan meneliti. Ia mencetak murid-murid cemerlang di Sabzevar, salah satunya adalah putranya sendiri Radhi Ad Din Tabarsi penulis kitab Makarim Al Akhlaq, Ibn Shahr Ashoub Mazandarani penulis kitab Maalim Al Ulama, Syeikh Muntajab Al Din penulis kitab Fehrest, Qutb Al Din Ravandi, dan Sadzan bin Jibril Qomi.

Karya Syeikh Tabarsi yang paling terkenal adalah tafsir Majma Al Bayan. Allamah Amini dalam kitab Syuhada Al Fadhilah, terkait kedudukan keilmuan Syeikh Tabarsi menulis, Amin Al Islam atau yang dikenal dengan Syeikh Tabarsi adalah pemegang panji ilmu dan ayat hidayah. Dia adalah pemuka agama dan pemimpin mazhab Syiah paling terkemuka. Tafsir Majma Al Bayan cukup untuk menggambarkan lautan keutamaan dan kedalaman ilmu Syeikh Tabarsi. Kitab tafsir yang memancarkan cahaya hakikat, dan sinar ilmu serta wahyu Ilahi, sebuah kitab yang memenuhi kebutuhan ilmu semua orang.

“Saya menyingsingkan lengan baju dengan tekad kuat, saya bangkit dan berpikir, sangat dalam berpikir dan di hadapan saya ada sejumlah tafsir yang berbeda, dan saya memohon bantuan kepada Tuhan, lalu mulai menulis sebuah kitab yang hasilnya padat, rapih dan tersusun dengan tertib, kitab ini memuat berbagai bidang ilmu tafsir, dan mutiara-mutiara, baik itu ilmu qiraat, sastra Arab, dan lughat, kerumitan serta kebenaran akidah termasuk ushul dan furu, ilmu akal dan naql, dibuat seimbang, ringkas, lebih tinggi dari singkat, lebih rendah dari rinci, pasalnya pemikiran-pemikiran kontemporer sangat berat, dan tidak mampu bertanding di lomba-lomba besar, karena ulama hanya tinggal nama, dan ilmu hanya tinggal sisa-sisanya.”

Syeikh Tabarsi menulis kitab tafsirnya Majma Al Bayan dalam waktu tujuh tahun, dengan mengutip kitab tafsir Al Tibyan milik Syeikh Thusi, dan menjelaskan masing-masing teknik Al Quran secara terpisah dalam susunan yang tertib dan rapih. Keteraturan unik ini menyebabkan para ilmuwan Syiah dan Sunni, menganggap kitab tafsir Syeikh Tabarsi lebih unggul dari kitab-kitab tafsir lain dan memujinya.

Majma Al Bayan ditulis dalam 10 jilid kitab, dan dicetak dalam lima jilid. Kitab ini dimulai dengan mukadimah penting, dan menjelaskan tujuh teknik terkait jumlah ayat Al Quran, dan manfaat mengenalnya, mencatumkan nama-nama qari terkenal, dan pendapat mereka, definisi tafsir, tawil dan maani, nama-nama Al Quran dan artinya, pembahasan tentang Ulumul Quran dan masalah-masalah terkait, dan kitab-kitab yang ditulis seputar itu, hadis-hadis terkenal terkait keutamaan Al Quran dan pemilliknya, penjelasan yang penting bagi para qari (seperti membaca Al Quran dengan indah).

Di salah satu bagian kitabnya, Syeikh Tabarsi berusaha menjelaskan makna ayat, dan memberikan penjelasan lebih dalam, pada sebuah pembahasan yang dinamai Fasl. Tema-tema semacam takwa, hidayah, tobat, dan syaratnya, ikhlas, nama Nabi Muhammad Saw, dan akhirnya ringkasan dari nasihat dan hikmah Lukman Hakim, contoh dari Fasl ini. Begitu juga hadis dan riwayat dalam jumlah yang banyak ditulis dalam kitab ini yang jumlahnya lebih dari 1.300 hadis.

Imam Al Mufasirin, Amin Al Islam Tabarsi meninggal dunia setelah hidup kurang lebih 80 tahun pada 9 Dzulhijjah 548 Hq. di malam Idul Adha di kota Sabzevar. Beberapa penulis Islam, menyebut Syeikh Tabarsi sebagai syahid, dan mereka mengatakan ia meninggal karena diracun. Di sisi lain ada yang menganggap Syeikh Tabarsi meninggal dibunuh sekelompok penyerang. Jenazah beliau dibawa dari Sabzevar ke Mashhad, dan dikebumikan di dekat Makam Suci Imam Ridha as.

Mengenal Para Ulama Besar Syiah (16)

Abad keenam Hijriyah adalah masa pemerintahan dua dinasti besar Persia yaitu Dinasti Seljuk dan Dinasti Khwarazmian.

Di era itu terutama pada periode Dinasti Seljuk, pemikiran tradisionalisme mengalahkan pemikiran rasionalisme dan banyak buku ilmu-ilmu 'aqli dan filsafat dibakar. Para penguasa Seljuk khususnya menteri terkenal mereka, Khwaja Nizam al-Molk memimpin gerakan untuk melawan kaum rasionalis.

Pecahnya Perang Salib dan invasi Eropa ke Dunia Islam memiliki banyak konsekuensi seperti penjarahan perpustakaan kaum Muslim, tetapi terlepas dari peristiwa-peristiwa di atas, abad keenam patut disebut sebagai abad kebangkitan ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan lahir pada masa itu dan mereka menyumbangkan kontribusi besar kepada Islam melalui kegiatan ilmiah yang tiada henti.

Di antara para ilmuwan pekerja keras itu adalah seorang ulama besar dan pakar hadis, Sa'id Hibat Allah al-Rawandi yang dikenal sebagai Qutbuddin al-Rawandi. Sa'id Hibat Allah Rawandi al-Kashani adalah seorang ahli hadis, mufassir, teolog, faqih, filsuf, dan sejarawan besar Syiah yang hidup di abad keenam Hijriyah.

Cendekiawan besar ini merupakan salah satu murid istimewa dari Syeikh Tabarsi, penulis buku tafsir Majma' al-Bayan. Para ulama menganggap Allamah Qutbuddin al-Rawandi sebagai salah satu perawi hadis Syiah yang terbesar dan memiliki kejeniusan dalam ilmu-ilmu agama, tetapi hanya sedikit yang menyadari kedudukan tingginya.

Allamah Qutbuddin al-Rawandi dilahirkan di desa Rawand di pinggiran kota bersejarah Kashan, Iran. Sayangnya tidak banyak literatur yang menuturkan tentang kehidupan masa kecilnya. Tahun kelahirannya juga tidak diketahui dengan pasti, tetapi ia wafat pada 14 Syawal tahun 573 H, dan hari itu kemudian ditetapkan sebagai "Hari Peringatan Allamah Qutbuddin al-Rawandi."

Tentang kehidupan masa kecil dan keluarganya, diketahui bahwa ayah dan kakeknya adalah seorang ulama besar pada masanya, dan Sa'id Hibat Allah menerima pendidikan dasar dari ayahnya. Setelah itu, ia belajar kepada guru-guru besar seperti Abu Ali Tabarsi, Emad al-Din Tabari, dan Sayid Murtadha Razi.

Sa'id Hibat Allah kemudian hijrah ke kota Qom – pusat keilmuan Syiah – untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Ia berhasil menjadi salah satu tokoh Syiah terkemuka dalam waktu singkat.

Dari segi intelektual, Qutbuddin al-Rawandi berada dalam barisan ulama yang pemikirannya telah mengharumkan Dunia Islam selama berabad-abad. Ia membawa pemikiran para tokoh besar seperti Syeikh Saduq, Sayid Murtadha, Sayid Razi, dan Syeikh Tusi.

Allamah Tabarsi, penulis buku tafsir Majma' al-Bayan merupakan salah seorang guru Qutbuddin al-Rawandi dan nama dari kedua ulama besar ini tidak bisa dipisahkan.

Qutbuddin al-Rawandi telah menukil dan mengumpulkan hadis dari para ulama besar di kota Isfahan, Khorasan, dan Hamedan. Dari sini dapat diketahui bahwa ia telah melakukan tur ilmiah ke berbagai kota.

Meski minimnya fasilitas di masa itu, para ulama tetap harus melakukan tur ilmiah untuk belajar kepada guru-guru besar dan juga mendapatkan akses sumber-sumber ilmu pengetahuan. Jumlah tur ilmiah setiap ulama terkait langsung dengan tingkat keluasan ilmu mereka.

Salah satu perbedaan mencolok Qutbuddin al-Rawandi dengan ulama lainnya adalah kritik konstruktifnya terhadap pendapat ulama dan aliran pemikiran lain. Pemikiran kritisnya tidak hanya berkontribusi pada perkembangan ilmiah dunia ini, tetapi dengan mengajukan kritikannya itu, ia telah menyingkap kelemahan pemikiran pihak lain sehingga menjadi perhatian para ilmuwan. Upaya ini telah mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh, Qutbuddin al-Rawandi dalam bukunya, Tahafut al-Falasifah membahas beberapa ambiguitas dan kontradiksi yang ditemukan dalam pandangan para filsuf. Hal ini mendorong para filsuf untuk memberikan jawaban dan menghilangkan ambiguitas tersebut. Sejatinya, kemajuan manusia di bidang sains tidak lepas dari kritik dan catatan yang diberikan oleh ilmuwan lain.

Karya lain Qutbuddin al-Rawandi adalah Tafsir al-Quran dan Ta'wil al-Ayyat… Dalam buku ini, ia mengkaji sebab-sebab turunnya ayat al-Quran seperti Ayat Tathir (ayat 33 surat al-Ahzab) yang berbicara tentang kedudukan Ahlul Bait. Ia menulis buku, Ayyat al-Ahkam yang secara khusus mengkaji ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum Islam.

Namun, karya terpenting Allamah Qutbuddin al-Rawandi adalah kitab al-Kharaij Wa al-Jaraij yang berisi tentang persoalan teologis dan fiqih. Bagian penting dari buku ini berbicara tentang mukjizat Nabi Muhammad Saw dan para imam maksum. Setelah mengisahkan setiap mukjizat, penulis kemudian menyajikan riwayat-riwayat sahih yang berhubungan dengan peristiwa luar biasa itu.

Allamah Qutbuddin al-Rawandi tidak hanya mengajarkan ilmunya di masjid, rumah, dan madrasah, tetapi juga memberikan pencerahan kepada umat dalam berbagai perjalanannya. Ia mendidik banyak murid untuk mengabdi kepada Dunia Islam dan ia menggunakan setiap kesempatan untuk mentransfer ilmunya kepada para pencari kebenaran.

Kerja keras Allamah Qutbuddin al-Rawandi telah melahirkan para tokoh dan ulama terkemuka. Di antara sekian banyak murid yang telah belajar darinya, terdapat nama-nama anaknya seperti Husein ibn Sa'id Hibat Allah al-Rawandi yang kemudian menjadi ulama besar.

Ibn Shahr Ashub Mazandarani, seorang faqih dan mufassir besar Syiah pada abad keenam, tercatat sebagai murid yang paling berprestasi dari Allamah Qutbuddin al-Rawandi.

Setelah bekerja tanpa henti dalam menyebarkan ajaran Ahlul Bait, Allamah Qutbuddin al-Rawandi menyambut panggilan Ilahi pada 14 Syawal tahun 573 H. Pada hari itu, para ulama, pemikir, dan pecinta Ahlul Bait berkumpul di rumah Qutbuddin al-Rawandi untuk melepas kepergian seorang tokoh besar yang berilmu dan saleh.

Kepergiannya menyisakan rasa duka yang mendalam bagi Dunia Islam. Setelah dilakukan acara tasyi', jasad Allamah Qutbuddin al-Rawandi dimakamkan di samping Makam Sayidah Maksumah as di kota Qom.

Setelah delapan abad berlaku, para insinyur yang sedang melakukan renovasi Kompleks Makam Sayidah Maksumah, secara tidak sengaja membongkar sebagian sisi makam Allamah Qutbuddin al-Rawandi, namun mereka benar-benar terkejut ketika menyaksikan jasad ulama ini masih utuh setelah 800 tahun dikuburkan. Jasadnya tetap utuh seperti buku dan karya-karya yang ditinggalinya.

Mengenal Para Ulama Besar Syiah (17)

Ibnu Syahr Asyub adalah seorang ilmuwan besar yang menduduki derajat tinggi di berbagai disiplin ilmu keislaman dan fokus mendidik murid-muridnya, melakukan penelitian, dan menulis buku sampai akhir hayatnya.

Kehidupan Ibnu Syahr Asyub sarat dengan spiritualitas dan antusiasme, dan para tokoh menganggapnya teladan dalam takwa dan jihad. Muhammad bin Ali bin Syahr Asyub Sarawi Mazandarani yang lebih dikenal dengan Ibnu Syahr Asyub dilahirkan pada bulan Jumadil Akhir tahun 488 H. Keluarganya berasal dari kota Sari di Provinsi Mazandaran, Iran, atau tepatnya di pantai selatan Laut Kaspia, tetapi ayah dan kakeknya tinggal di Baghdad.

Apakah Ibnu Syahr Asyub lahir di Sari atau Baghdad, ini masih menjadi perdebatan di antara sejarawan. Sebagian orang memandang dia berasal dari Sarawi dan lahir di Mazandaran, tapi sebagian yang lain meyebutkan kelahirannya di Bagdad.

Ayahnya bernama Syekh Ali yang merupakan salah satu ahli hukum, pakar hadis, dan ulama besar di dunia Syiah, dan dia bekerja keras dalam mendidik putranya itu.

Di bawah asuhan ayah yang alim dan berakhlak mulia, Muhammad menorehkan banyak prestasi. Pada usia 8 tahun, dia telah menghafal seluruh al-Quran, dan karena akhlaknya yang baik dan kata-katanya yang sopan membuatnya sangat disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Semangat belajar dan melakukan penelitian adalah warisan yang ditularkan ayahnya kepada Muhammad.

Rezeki halal yang diperoleh ayahnya telah membantu hati dan pikiran sang anak dalam menerima kebenaran dan berjalan di jalur kesempurnaan. Ayahnya sangat perhatian dengan masalah ini dan ia menjauhkan makanan yang haram dari raga dan jiwa anak-anaknya. Islam sangat menekankan masalah pengaruh makanan halal terhadap kesuksesan manusia dalam mencapai kesempurnaan.

Setelah mempelajari al-Quran dan mata kuliah pengantar, Ibnu Syahr Asyub menekuni ilmu-ilmu agama seperti, fiqih dan ushul fiqih, hadis, teologi, ilmu rijal, dan tafsir. Ulama besar seperti Syeikh Tabarsi dan Allamah Qutbuddin al-Rawandi termasuk di antara guru-gurunya. Juga kakeknya yaitu Syahr Asyub Sarawi (penduduk kota Sari) termasuk di antara guru yang sangat berjasa padanya.

Ibnu Syahr Asyub menimba ilmu di berbagai hauzah Iran dan belajar kepada para ulama besar selama perjalanan ilmiahnya ke berbagai kota di Iran seperti, Mashad, Qom, Rey, Kashan, Naishabur, Isfahan dan Hamedan. Ia kemudian hijrah ke kota Baghdad. Di masa itu, Baghdad adalah pusat ibukota Dinasti Abbasiyah dan pusat ilmu Islam yang paling terkenal. Para ilmuwan hebat dari berbagai penjuru datang ke kota itu untuk kegiatan-kegiatan ilmiah.

Tidak lama kemudian, Ibnu Syahr Asyub pindah ke kota Hillah (Irak Tengah) yang bersejarah dan terkenal di dunia, dan setelah bertahun-tahun di sana, ia meninggalkan Hillah menuju ke kota Mosul. Setelah lama tinggal di Mosul, dia pergi ke kota Aleppo (Halab), Suriah dan menetap di sana sampai akhir hayatnya. Pada waktu itu, Aleppo menjadi tempat kediaman para ulama besar dan masyarakat di kota itu memperlakukan orang Syiah dengan baik dan menghormati ulama Syiah.

Banyak ulama dan ilmuwan yang sangat dihormati yang hidup sezaman dengan Ibnu Syahr Asyub, tetapi Ibnu Syahr Asyub memiliki keunggulan dan derajat ilmunya diakui lebih tinggi. Dia selalu bersanding dengan para ulama besar di setiap kota di wilayah negara Islam yang ia singgahi, kegiatan kuliah dan ceramahnya selalu lebih ramai daripada yang lain. Lautan pengetahuan dan kemampuannya yang luar biasa membuat banyak orang belajar kepadanya.

Ibnu Syahr Asyub sangat tekun dalam beribadah dan selalu berwudhu. Dia adalah sosok yang baik budi, jujur, rendah hati, dan lembut tutur kata. Di samping kegiatan ilmiahnya seperti mengajar dan menulis, ia tidak melupakan tugas lain yaitu menyampaikan ceramah dan nasihat kepada masyarakat. Dengan cara ini, Ibnu Syahr Asyub menularkan ilmunya kepada masyarakat awam dan ulama.

Salah satu ciri khas yang membuat Ibnu Syahr Asyub lebih menonjol dari ulama lain pada masanya adalah memiliki pandangan ilmiah yang moderat dan unggul. Pandangan ilmiahnya memiliki landasan dan argumen yang kuat, dan meskipun seorang ulama Syiah, ia sangat menguasai sumber-sumber teologi dan sejarah Sunni melebihi para ulama Sunni yang hidup sezaman dengannya. Karakteristik ini membuat sebagian ulama pencari kebenaran dari Sunni – di samping ulama Syiah – memuji dan mengagumi ulama besar ini.

Ibnu Syahr Asyub juga terkenal di bidang penulisan. Ia meninggalkan buku-buku yang inovatif di sebagian besar ilmu Islam termasuk, fiqih, yurisprudensi, teologi, hadis, sejarah, tafsir, dan ilmu rijal, yang selalu menjadi rujukan bagi para ulama dan ilmuwan.

Buku berharga, Manaqib Al Abi Thalib adalah karya Ibnu Syahr Asyub yang paling terkenal yang telah dicetak berulang kali sampai sekarang. Kitab yang memuat sejarah kehidupan dan keutamaan 14 imam maksum ini, dengan jelas menunjukkan tingkat keterampilan dan penguasaan penulis terhadap sejarah dan hadis. Kitab Manaqib Al Abi Thalib diawali dengan uraian tentang kabar gembira pengutusan Rasulullah Saw, sejarah hidupnya, mukjizat, nama dan gelar, dan mikraj nabi. Setelah itu, ia membahas tentang konsep imamah dan ayat-ayat serta riwayat yang terkait dengannya, kemudian menjelaskan biografi para imam maksum serta Sayidah Fatimah Zahra as dan keutamaan-keutamaan mereka satu per satu.

Buku kecil tapi berharga, Ma'alim al-Ulama merupakan karya lain dari Ibnu Syahr Asyub yang memuat nama dan biografi dari 1.021 ulama Syiah. Buku ini lebih lengkap daripada kitab al-Fihrest karya Syeikh Tusi yang membahas topik yang sama, dan penulis memperkenalkannya sebagai penyempurna al-Fihrest.

Ibnu Syahr Asyub juga menulis sebuah buku tentang tafsir al-Quran yang berjudul, Mutasyabih al-Quran wa Mukhtalafuhu yang mendapat perhatian khusus dari para ulama dan dapat dianggap sebagai kitab pertama di bidangnya. Dalam buku ini, Ibnu Syahr Asyub mengkaji ayat-ayat mutasyabih dalam al-Quran.

Ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang sifatnya kompleks dan memiliki banyak arti, dan maknanya baru dapat diketahui dengan benar dengan merujuk pada ayat-ayat yang tegas dan jelas.

Ibnu Syahr Asyub, ulama fiqih yang bijaksana dari mazhab Ahlul Bait, meninggal dunia pada Jumat malam, 22 Sya'ban tahun 588 H di kota Aleppo, Suriah setelah menjalani hidup hampir 100 tahun.

Jenazah suci ulama besar ini dimakamkan di Mashhad al-Siqth atau Jabal Jawshan di pinggiran kota Aleppo. Menurut masyarakat Syiah Halab, tempat ini adalah lokasi dimakamkannya Muhsin al-Siqth, putra Imam Husein as. Oleh karenanya ia dikenal dengan nama Mashhad al-Siqth.

Meski ia telah tiada, semilir ajaran Ahlul Bait yang dibawakan olehnya tetap menjadi penghapus dahaga bagi para para pencari kebenaran. Imam Ali as berkata, “Orang alim tetap hidup meskipun ia telah meninggal, dan orang bodoh telah mati meskipun ia masih hidup.”