• Mulai
  • Sebelumnya
  • 20 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Pengunjung: 438 / Download: 116
Ukuran Ukuran Ukuran
Menjawab Syubhat-syubhat Sekte Al-Yamani(1)

Menjawab Syubhat-syubhat Sekte Al-Yamani(1)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

Menjawab

Syubhat-Syubhat Sekte Al-Yamani

Tim Muslim Menjawab

Kelompok Al-Yamani Gunakan Dalil Lain yang Tidak Ada Kaitannya

Masih dalam pembahasan mengenai sosok Ahmad Hasan Bashri, penggagas sekte Al-Yamani yang mendakwakan diri sebagai keturunan sekaligus pelanjut Imam Mahdi. Pembahasan ini berputar dalam riwayat-riwayat yang menyebutkan nama “Ahmad” atau beberapa tanda tertentu yang kemudian hal tersebut diklaim sebagai dalil yang membenarkan akidah sekte Al-Yamani ini.

Sebagaimana yang sudah kita ulas dalam beberapa postingan sebelumnya, riwayat-riwayat yang diambil dalam kasus ini setelah dilakukan penelitian dan merujuk pada sumber aslinya, ternyata bahkan riwayat-riwayat tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan dakwaan yang mereka lontarkan.

Kali ini kita juga akan berupaya melihat salah satu riwayat yang digunakan oleh mereka sebagai pendukung keyakinan mereka.

Ali Abu Raghif, salah satu penulis dan penyusun tulisan-tulisan dari sekte Al-Yamani, dalam karyanya yang berjudul At-Thariq Ila Ad-Da’wah Al-Yamaniah menukil sebuah riwayat dari Imam Ali AS yang berkata:

“…وَإنَّ مَنهم اَلغلام اَلأصفر اَلساقين اَسمه أَحمد …”[1]

“… dan sesungguhnya dari mereka (terdapat) seorang anak lelaki yang kedua kakinya kuning, namanya adalah Ahmad…”

Riwayat tersebut sebetulnya hanyalah sebuah penggalan pendek dari penggalan riwayat dibawah ini:

أَلاَ وَ إِنِّي ظَاعِنٌ عَنْ قَرِيبٍ وَ مُنْطَلِقٌ لِلْمَغِيبِ فَارْهَبُوا اَلْفِتَنَ اَلْأُمَوِيَّةَ وَ اَلْمَمْلَكَةَ اَلْكَسْرَوِيَّةَ وَ مِنْهَا فَكَمْ مِنْ مَلاَحِمَ وَ بَلاَءٍ مُتَرَاكِمٍ تقتل [تَفْتِلُ] مَمْلَكَةَ بَنِي العباس … وَ قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فِي اَلْخُطْبَةِ اَلْغَرَّاءِ وَيْلٌ لِأَهْلِ اَلْأَرْضِ إِذَا دُعِيَ عَلَى مَنَابِرِهِمْ بِاسْمِ اَلْمُلْتَجِي وَ اَلْمُسْتَكْفِي وَ لَمْ يُعْرَفِ اَلْمُلْتَجِي فِي أَلْقَابِهِمْ وَ لَكِنْ لَمَّا بَيَّنَّا صِفَتَهُمْ وَجَدْنَا اَلْمُلَقَّبَ بِالْمُتَّقِي اَلَّذِي اِلْتَجَأَ إِلَى بَنِي حَمْدَانَ ثُمَّ يَذْكُرُ اَلرَّجُلَ مِنْ رَبِيعَةَ اَلَّذِي قَالَ فِي أَوَّلِ اِسْمِهِ سِينٌ وَ مِيمٌ وَ يَعْقُبُ بِرَجُلٍ فِي اِسْمِهِ دَالٌ وَ قَافٌ ثُمَّ يَذْكُرُ صِفَتَهُ وَ صِفَةَ مُلْكِهِ وَ قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ إِنَّ مِنْهُمُ اَلْغُلاَمَ اَلْأَصْفَرَ اَلسَّاقَيْنِ اِسْمُهُ أَحْمَدُ وَ قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ يُنَادِي مُنَادِي اَلْجَرْحَى عَلَى اَلْقَتْلَى وَ دَفْنِ اَلرِّجَالِ وَ غَلَبَةِ اَلْهِنْدِ عَلَى اَلسِّنْدِ وَ غَلَبَةِ اَلْقُفْصِ عَلَى اَلسَّعِيرِ وَ غَلَبَةِ اَلْقِبْطِ عَلَى أَطْرَافِ مِصْرَ وَ غَلَبَةِ أَنْدُلُسَ عَلَى أَطْرَافِ إِفْرِيقِيَةَ وَ غَلَبَةِ اَلْحَبَشَةِ عَلَى اَلْيَمَنِ وَ غَلَبَةِ اَلتُّرْكِ عَلَى خُرَاسَانَ وَ غَلَبَةِ اَلرُّومِ عَلَى اَلشَّامِ وَ غَلَبَةِ أَهْلِ إِرْمِينِيَّةَ عَلَى إِرْمِينِيَّةَ وَ صَرَخَ اَلصَّارِخُ بِالْعِرَاقِ هُتِكَ اَلْحِجَابُ وَ اُفْتُضَّتِ اَلْعَذْرَاءُ وَ ظَهَرَ عَلَمُ اَللَّعِينِ اَلدَّجَّالُ ثُمَّ ذَكَرَ خُرُوجَ اَلْقَائِمِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ[2]

“Ingatlah! sesungguhnya aku sebentar lagi akan pergi dan bertolak menuju alam Ghaib (alam setelah dunia), dan takutlah kalian dari fitnah-fitnah Umawiyah dan kerajaan Kasrawi (kerajaan Persia), dan diantaranya peperangan kejam serta bencana secara terus menerus yang ada pada (masa) kerajaan Bani Abbas…” dan perkataannya (Imam Ali AS) dalam khutbah Al-Gharra: “Celaka bagi para penduduk bumi apabila diseru di atas mimbar-mimbar mereka nama; Al-Multaji dan Al-Mustakfi.” Dan tidak dikenal Al-Multaji dengan julukannya akan tetapi apabila ketika kami sebutkan sifatnya kita akan menemukan yang dijuluki dengan Al-Muttaqi yang berlindung pada Bani Hamdan. Kemudian ia juga menyebutkan seorang lelaki dari (kota) Rabi’ah yang ia sebutkan pada awal namanya dengan huruf “Sin” dan “Mim” dan diikuti dengan seorang lelaki dengan namanya “Dal” dan “Qaf”, kemudian ia menyebutkan sifatnya dan sifat pemerintahannya. Dan perkataan beliau AS “Dan dari mereka seorang anak laki-laki yang memiliki dua kaki (betis) kuning, namanya adalah Ahmad[3] .” Dan perkataan beliau AS “Dan akan menyeru penyeru orang terluka atas orang yang terbunuh dan penguburan orang-orang dan kemenangan India atas Sind dan … (hingga akhir)” Kemudian ia menyebutkan kemunculannya Al-Qaim (Imam Mahdi AFS).

Dari riwayat di atas terdapat beberapa poin yang sepatutnya bisa kita perhatikan secara baik-baik:

Pertama, riwayat tersebut secara umum dari awal hingga akhirnya berbicara mengenai kondisi yang akan terjadi atau menimpa masyarakat setelah kepergiannya. Dari mulai perselisihan antara Bani Umayah dan Bani Abbas hingga bercerita jauh sampai saat kemunculan Imam Mahdi.

Kedua, riwayat di atas perlu penelitian yang lebih dalam terkait sanad serta perlu pemisahan antara perkataan imam dengan perkataan perawi. di samping itu memerlukan kajian sejarah yang sesuai berdasarkan berita yang dikabarkan pada riwayat tersebut.

Ketiga, jika yang dimaksud Ahmad dalam riwayat adalah Ahmad Hasan Bashri, mengapa urutannya disebutkan setelah kisah mengenai para khalifah dari bani Abbas (Al-Multaji dan Al-Mustakfi). Dan Imam kemudian menjelaskan kondisi akhir zaman lalu menutup perkataannya diakhir dengan kemunculan Al-Qaim (Imam Mahdi Afs). Sementara itu yang didakwakan adalah Ahmad sebagai pelanjut Imam Mahdi, hal ini sedikit pun tidak disinggung atau disebutkan di dalam riwayat tersebut. Sehingga riwayat tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan penerus imam Mahdi, yang ada malah menyinggung kemunculan beliau Afs.

Sekte Al-Yamani Pilih Hadits Sesuai Selera

Seperti pembahasan-pembahasan sebelumnya, seri kali ini masih mengupas riwayat-riwayat yang dijadikan dalil oleh kelompok al-Yamani. Lebih tepatnya lagi, berbagai riwayat yang menyinggung tentang Ahmad, yang kemudian dianggap sebagai dalil keabsahan Ahmad Hasan Bashri sebagai wakil atau washi Imam Mahdi oleh sekte tersebut.

Di antara riwayat yang digunakan oleh kelompok ini, adalah riwayat yang memuat tentang “perbendaharaan Allah di Thaliqan” di mana di dalam riwayat tersebut dimuat bahwa selogan mereka adalah Ahmad Ahmad.

Demikian Abdul Razaq al-Dirawi salah seorang penulis berpaham al-Yamani memuat di dalam kitabnya:

“Telah diriwayatka dari Imam Baqir: sesungguhnya Allah Swt memiliki perbendaharaan di Thaliqan, bukan emas dan perak. Dua belas ribu di Khurasan, slogan mereka adalah Ahmad Ahmad. Pemimpin mereka seorang anak muda dari bani Hasyim yang menaiki baglah (hewan peranakan kuda dan keledai)…..[4]

Setelah mengutip riwayat di atas ia berkata:

“Para pengikut al-Yamani berdalil dengan riwayat ini bahwa perbendaharaan dari Thaliqan menisbatkan Ahmad kepada Qaim (Imam) dan mereka menjadikan namanya sebagai slogan yang didengung-dengungkan.[5]

Sebagaimana dapat dilihat oleh para pembaca, riwayat di atas telah dijadikan dalil oleh kelompok al-Yamani sebagai pengakuan atas pemimpin mereka yang ketepatan namanya juga Ahmad.

Riwayat ini sebagaimana riwayat-riwayat yang telah dibahas sebelumnya, memiliki beberapa masalah.

Pertama: Riwayat dengan matan serta konten seperti yang disebutkan di atas hanya terdapat di dalam kitab Muntakhab al-Anwar al-Mudhiah karangan Ali bin Abdul Karim Bahauddin Naili Najafi.

Kedua: Terdapat kejanggalan di dalam penggalan riwayat; di mana pada awalnya riwayat tersebut bercerita tentang “perbendaharaan di Thaliqan” tapi kemudian secara tiba-tiba dan tanpa ada pendahuluan atau mukaddimah, kemudian riwayat mengganti topik pembicaraan menjadi Khurasan.

Kenyataan ini melahirkan pertanyaan; sebenarnya yang memiliki slogan Ahmad Ahmad tersebut, orang-orang dari Thaliqan sebagaimana diklaim oleh penulis buku di atas, atau dari Khurasan?

Sebab jika mengikuti alur dari cerita hadits di atas, seharusnya slogan tersebut milik orang-orang dari Khurasan bukan Thaliqan.

Yang ketiga: Di dalam berbagai kitab lain[6] , yang juga memuat hadits tentang “perbendaharaan dari Thaliqan” tidak memuat penggalan: “Slogan mereka adalah Ahmad Ahmad” akan tetapi memuat “slogan mereka adalah Ya Latsaratil Husain (wahai para penuntut darah Husain)”

Di sini akan disebutkan riwayat yang termaktub di dalam kitab Surur Ahl al-Iman:

“Dari Abu Abdillah As, ia berkata: Ia memiliki perbendaharaan yang bukan emas dan perak di Thaliqan. Ia memiliki bendera yang semenjak digulung tidak pernah dikibarkan. Ia juga memilki penggikut yang mempunyai hati laksana kepingan besi yang lebih keras dari batu. Dan mereka tidak pernah meragukan Allah Swt. ……, mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada Tuhan-Nya, mereka meminta kesyahidan, berharap untuk shyahid di jalan Allah Swt. slogan mereka adalah “Ya Latsaratil Husain” (wahai para penuntut darah Husain).[7]

Hadits ini dimulai dengan penggalan awal yang sama dengan riwayat yang dikutip pengikut al-Yamani, tapi dengan perincian yang sangat jelas, di mana disebutkan bahwa Imam Mahdi memiliki beberapa hal berupa:

Pertama: Perbendaharaan yang bukan emas dan perak di Thaliqan

Kedua: bendera, dan

Ketiga: Pengikut dengan penjelasan karakteristiknya yang sangat gamblang. Yang salah satunya, slogan mereka adalah “Ya Latsaratil Husain”

Oleh karena itu akan sangat tidak tepat, jika kemudian menggunakan satu hadits yang memiliki masalah sebagai dalil klaim yang diajukan, dan pada saat yang sama mengabaikan hadits yang lebih baik dan jelas karena tidak sesuai dengan keinginan.

Merenungkan ‘Jawaban’ Hasan Al-Yamani

Satu per satu, pernyataan Ahmad Hasan al-Yamani tentang dirinya—yang mengaku sebagai penerus al-Mahdi—telah kami jawab dan patahkan di dalam tulisan sebelumnya. Untuk mengimbangi beberapa tulisan sebelumnya, penulis hendak menyuguhkan pernyataan Hasan al-Yamani yang berbentuk tanya-jawab di dalam kitabynya, Al-Jawabul Munir Abral Atsir.

Di dalam kitab tersebut, seolah dengan sengaja ia hendak membongkar pikirannya yang jauh dari kata sempurna itu, bahkan jauh dari ciri-ciri yang sering ia suarakan: penerus Imam Mahdi. Tak perlu berlama-lama, berikut adalah tanya-jawab antara pengikut al-Yamani dengan pimpinannya, Hasan al-Yamani.

Tanya: Bismillahirrahmanirrahimm, Allahumma Salli Ala Muhammad wa Aali Muhammad Al-A’immah wal Mahdiyiin wa Salama Taslima.

Sayyid Yamani, Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Hari ini di berbagai tempat dengan beragam cara seseorang dapat melakukan hack server internet tanpa membayar kepada sang pemilik internet. Seseorang bisa menyambungkan internetnya ke berbagai saluran internet secara gratis dengan menggunakan aplikasi yang memungkinkan masuk ke jejaring internet melalui salah satu sarana milik pelanggan internet. Perbuatan ini dinamanakn sebagai hack. Lantas, apa hukum dari perbuatan ini di mana ia mendapatkan saluran (internet) secara gratis? Sesungguhnya, pusat internet itu kebanyakan bukan milik pemerintahan. Akan tetapi, bersangkutan dengan pribadi masyarakat itu sendiri.

Jawab: Tidak diperbolehkan, kecuali seorang pemilik saluran internet (wifi) adalah musuh dari para Imam dan Mahdiyin (Aliran Yamani). Dalam hal ini, maka boleh hartanya untuk dipakai.

Sekilas, kalau kita membaca jawaban di atas memang ada benarnya. Namun, saat kita lebih fokus membacanya, seperti ada yang ganjal. Iya, seperti yang kita tahu selain kepada orang yang tidak memusuhi para imam dan Mahdiyin, ia tidak membolehkan untuk memakai hartanya tanpa izin. Yang ia bolehkan untuk memakai hartanya adalah mereka yang memusuhi para Imam dan Mahdiyin.

Pertanyaannya, jika saja ia menghalalkan harta milik orang yang memusuhi alirannya, maka bagaimana dengan orang-orang Syiah yang tak sedikit menentang alirannya tersebut? Artinya, di dalam jawabannya, ia hendak mengatakan bahwa kita boleh memakai harta orang lain yang memusuhi para imam dan mahdiyin tanpa seizin mereka.

Sebelum kita menutup bacaan ini, mari kita akhiri dengan sebuah pertanyaan lagi, apakah ketika ada orang yang memusuhi kita, lantas kita boleh seenaknya memakai hartanya tanpa izin? Benarkah ajaran semacam ini?

Riwayat-riwayat 12 Imam

Sebelumnya pernah kita singgung bahwa hadis atau riwayat yang masyhur di kalangan Mazhab Syiah perihal jumlah imam atau khalifah setelah Rasulullah Saw ialah riwayat 12 (dua belas) Imam atau Khalifah. Dan riwayat mengenai 12 (dua belas) Mahdiyiin, sebagaimana yang pernah kita kupas sebelumnya adalah riwayat yang langka dan ditolak oleh ulama-ulama Syiah. Kalaupun jika riwayat itu ada, maka yang dimaksud dengan Mahdiyiin adalah orang-orang Syiah, bukan imam tambahan setelah 12 imam.

Pengklaiman yang dilakukan oleh Ahmad Hasan Bashri terkait dirinya yang merupakan Mahdi pertama dan Imam dari kalangan Ahlul Bait As, tentu saja bertentangan dengan riwayat dan hadis masyhur yang ada dalam Mazhab Syiah. Berdasarkan hadis dan riwayat yang muktabar tersebut, diyakini bahwa para Imam atau Khalifah selepas Rasulullah Saw berjumlah 12 orang tidak kurang dan tidak lebih. Dan klaim yang didakwakan oleh Ahmad Hasan Bashri bahwa dirinya merupakan Imam dari Ahlul Bait As, melazimkan adanya imam ke 13, dan itu bertolak belakang dengan riwayat Masyhur yang ada dalam Mazhab Syiah.

Untuk itu, pada kesempatan kali ini, kami akan bawakan beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa jumlah para Imam selepas Rasulullah Saw adalah 12 orang. Riwayat-riwayat ini termaktub dalam Kitab Kifayatul Atsar fin Nushush ‘alal Aimmati al Itsna ‘Asyar milik Syekh Abul Qasim Ali bin Muhammad bin Ali al Khazaz. Dalam kitab tersebut banyak sekali disebutkan riwayat-riwayat tentang 12 Imam. Namun kita hanya akan menyebutkan beberapanya saja.

Pertama, …dari al-Hasan bin Ali As ia berkata: Rasulullah Saw berkata: Sesungguhnya perkara ini (Kepemimpinan) setelahku akan dimiliki oleh 12 imam, sembilannya dari sulbi (keturunan) al-Husain, Allah Swt telah memberikan ilmuku dan pemahamanku pada mereka, setiap kaum yang menyakitiku terkait mereka, tidak akan Allah berikan syafaatku.[8]

Kedua, …dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: aku mendengar Rasulullah Saw berkata: Para imam setelahku ada 12 imam, Sembilan imam dari sulbi al-Husain, dan yang ke sembilan itu merupakan Mahdi mereka.[9]

Ketiga, …dari Abi Sa’id al-Khudri ia berkata: aku mendengar Rasulullah Saw berkata: Para imam setelahku ada 12 imam, dari sulbi al-Husain ada sembilan imam, dan yang kesembilannya Qaim mereka, maka kegembiraan bagi siapa yang mencintai mereka dan celaka bagi yang membenci mereka.[10]

Riwayat-riwayat di atas hanya sebagian kecil dari banyaknya riwayat-riwayat lain yang menjelaskan tentang adanya 12 Imam setelah Rasulullah Saw, tidak kurang dan tidak lebih.

Wallahu A’lam

Riwayat-Riwayat yang Menafikan Adanya Tambahan Setelah 12 Imam

Klaim yang dinyatakan oleh kelompok Ahmad Hasan Bashri terkait adanya pelanjut setelah Imam ke-12, Al-Mahdi Afs yang bersandar pada hadis wasiat menuai berbagai kritikan dan pertanyaan, sebagaimana hal tersebut telah kita bahas dalam tulisan-tulisan yang lalu.

Tidak hanya itu ternyata ada riwayat-riwayat lain yang bisa kita temukan, yang mana riwayat-riwayat tersebut secara jelas menafikan keberadaan tambahan imam ataupun pelanjut yang mewarisi pemerintahan dan otoritas mereka. Seperti dalam beberapa riwayat berikut ini:

Pertama,

عَنْ عَبْدِ اَلْعَزِيزِ اَلْقَرَاطِيسِيِّ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اَللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : اَلْأَئِمَّةُ بَعْدَ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ اِثْنَا عَشَرَ نُجَبَاءُ مُفَهَّمُونَ مَنْ نَقَصَ مِنْهُمْ وَاحِداً أَوْ زَادَ فِيهِمْ وَاحِداً خَرَجَ مِنْ دِينِ اَللَّهِ وَ لَمْ يَكُنْ مِنْ وَلاَيَتِنَا عَلَى شَيْءٍ[11]

Dari Abdul Aziz Al-Qarathisi berkata: Abu Abdillah (Imam Jafar As-Shadiq As) berkata: “Para imam setelah nabi kita Saw ada 12 orang pilihan yang memperoleh pemahaman (dari Allah Swt), barangsiapa mengurangi satu dari mereka ataupun menambahkannya maka ia telah keluar dari agama Allah dan tidak mendapat apapun dari wilayah kami (Ahlul Bait).”

Dalam riwayat ini bahkan orang yang mengurangi atau menambah jumlah para imam tersebut dianggap telah keluar dari Agama Allah Swt.

Kedua,

عَنْ سَدِيرٍ اَلصَّيْرَفِيِّ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَ اَلْمُفَضَّلُ بْنُ عُمَرَ وَ أَبُو بَصِيرٍ وَ أَبَانُ بْنُ تَغْلِبَ عَلَى مَوْلاَنَا أَبِي عَبْدِ اَللَّهِ اَلصَّادِقِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ… وَ أَمَّا غَيْبَةُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَإِنَّ اَلْيَهُودَ وَ اَلنَّصَارَى اِتَّفَقَتْ عَلَى أَنَّهُ قُتِلَ فَكَذَّبَهُمُ اَللَّهُ جَلَّ ذِكْرُهُ بِقَوْلِهِ: وَ مٰا قَتَلُوهُ وَ مٰا صَلَبُوهُ وَ لٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ كَذَلِكَ غَيْبَةُ اَلْقَائِمِ فَإِنَّ اَلْأُمَّةَ سَتُنْكِرُهَا لِطُولِهَا فَمِنْ قَائِلٍ يَقُولُ إِنَّهُ لَمْ يُولَدْ وَ قَائِلٍ يَفْتَرِي بِقَوْلِهِ إِنَّهُ وُلِدَ وَ مَاتَ وَ قَائِلٍ يَكْفُرُ بِقَوْلِهِ إِنَّ حَادِيَ عَشَرَنَا كَانَ عَقِيماً وَ قَائِلٍ يَمْرُقُ بِقَوْلِهِ إِنَّهُ يَتَعَدَّى إِلَى ثَالِثَ عَشَرَ فَصَاعِداً وَ قَائِلٍ يَعْصِي اَللَّهَ بِدَعْوَاهُ أَنَّ رُوحَ اَلْقَائِمِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَنْطِقُ فِي هَيْكَلِ غَيْرِهِ …[12]

Dari Sadir As-Shairafi berkata: Aku bersama Mufaddhal bin Umar, Abu Bashir dan Aban bin Taghlib mendatangi Abu Abdillah As-Shadiq As “…Adapun keghaiban Isa As maka sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani telah sepakat bahwasannya ia telah terbunuh, kemudian Allah Swt mendustakan mereka dengan firman-Nya: ‘padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang menurut mereka menyerupai (Isa).’ Begitu pula keghaiban Al-Qa’im (Imam Mahdi Afs), sesungguhnya umat akan mengingkarinya (keghaibannya) disebabkan lamanya waktu keghaibannya, diantaranya ada orang yang berkata bahwa ia (Al-Mahdi) belum dilahirkan, ada juga orang yang berbohong dengan perkataannya bahwasannya ia (Al-Mahdi) telah dilahirkan dan telah mati, ada juga yang mengingkari (keberadaan Al-Mahdi) dengan perkataannya bahwasannya imam ke-11 (Imam Hasan Al-Askari) mandul (tidak memiliki keturunan, ada juga yang keluar agama dengan perkataannya bahwasannya (jumlah imam) sampai pada 13 orang bahkan lebih dan ada juga yang bermaksiat pada Allah Swt dengan dakwaannya bahwasannya ruh Al-Qa’im As berbicara dalam jasad yang lain.”

Di sini juga sama, secara jelas seperti apa dihukumi orang-orang yang salah dalam menilai Imam Mahdi atau pun menambah jumlah para imam tersebut.

Ketiga,

وَ عَنْ سُلَيْمِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ سَلْمَانَ اَلْفَارِسِيِّ عَنِ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: أَنَا وَ أَخِي وَ اَلْأَحَدَ عَشَرَ إِمَاماً مِنْ أَوْصِيَائِي إِلَى يَوْمِ اَلْقِيَامَةِ، كُلُّهُمْ هَادُونَ مَهْدِيُّونَ أَوَّلُ اَلْأَوْصِيَاءِ بَعْدَ أَخِي اَلْحَسَنُ، ثُمَّ اَلْحُسَيْنُ، ثُمَّ تِسْعَةٌ مِنْ وُلْدِ اَلْحُسَيْنِ …[13]

Dari Sulaim bin Qais, dari Salam Al-Farisi dari Nabi Saw, berkata: “Aku dan saudaraku (Imam Ali As) dan sebelas imam dari para washiku hingga hari kiamat, semuanya adalah pemberi petunjuk yang telah dihidayahi, washi pertama setelah saudaraku (imam Ali As) adalah Hasan, kemudian Husein, kemudian sembilan orang dari keturunan Husein…”

Dalam riwayat ini juga secara jelas Nabi Saw menggambarkan para imam setelahnya serta menyebut jumlah mereka yang berjumlah 12. Pertama adalah Imam Ali As, kemudian Imam Hasan As dan Imam Husein As serta 9 orang dari nasab Imam Husein.

Keempat,

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ : أَنَا سَيِّدُ اَلنَّبِيِّينَ وَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ سَيِّدُ اَلْوَصِيِّينَ وَ إِنَّ أَوْصِيَائِي بَعْدِي اِثْنَا عَشَرَ أَوَّلُهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ آخِرُهُمُ اَلْقَائِمُ [14]

Dari Abdullah bin Abbas berkata: Rasulullah Saw berkata: “Aku adalah penghulu para nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah penghulu para washi, dan para washi setelahku ada 12 orang, yang pertama dari mereka adalah Ali bin Abi Thalib As dan yang terakhir dari mereka adalah Al-Qa’im.”

Pada riwayat ini dengan jelas Nabi menyebutkan bahwa para washinya berjumlah 12, diawali dengan Imam Ali dan diakhiri dengan Al-Qa’im (Imam Mahdi Afs).

Kelima,

حَدَّثَنَا فَضَالَةُ بْنُ أَيُّوبَ عَنْ أَبَانِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ: قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ عَلَيْهِ اَلسَّلاَمُ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ اَلسَّلاَمُ: يَا عَلِيُّ أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ثُمَّ أَنْتَ يَا عَلِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ثُمَّ اَلْحَسَنُ ثُمَّ اَلْحُسَيْنُ ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ اَلْحُسَيْنِ ثُمَّ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ، ثُمَّ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ مُوسَى بْنُ جَعْفَرٍ، ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ مُوسَى، ثُمَّ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ، ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ اَلْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، ثُمَّ اَلْحُجَّةُ بْنُ اَلْحَسَنِ اَلَّذِي تَنْتَهِي إِلَيْهِ اَلْخِلاَفَةُ وَ اَلْوِصَايَةُ وَ يَغِيبُ مُدَّةً طَوِيلَةً، ثُمَّ يَظْهَرُ وَ يَمْلَأُ اَلْأَرْضَ عَدْلاً وَ قِسْطاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْراً وَ ظُلْماً[15]

Bercerita pada kami Fadhalah bin Ayyub dari Aban bin Utsman dari Muhammad bin Muslim berkata: berkata Abu Jafar As: berkata Rasulullah Saw kepada Ali bin Abi Thalib As: “Wahai Ali, aku lebih utama terhadap mukminin ketimbang diri-diri mereka, kemudian engkau wahai Ali lebih utama terhadap mukminin ketimbang diri-diri mereka, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Jafar bin Muhammad, kemudian Musa bin Jafar, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian Al-Hujjah bin Hasan yang mana Khilafah (kekhalifahan) dan Wishayah (pewaris wasiat) akan berakhir padanya dan akan mengalami keghaiban dalam masa yang panjang kemudian akan muncul dan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebajikan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh ketidakadilan dan kezaliman.”

Dalam riwayat ini Nabi Saw menyebut para imam setelahnya secara satu persatu yang berjumlah 12 dan menyebut bahwa kekhilafahan dan ke-washi-an itu akan berakhir pada imam ke-12 atau Imam Mahdi Afs.

Keenam,

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْرُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا اَلْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَامِرٍ عَنِ اَلْمُعَلَّى بْنِ مُحَمَّدٍ اَلْبَصْرِيِّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ اَلْحَكَمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ : إِنَّ خُلَفَائِي وَ أَوْصِيَائِي وَ حُجَجَ اَللَّهِ عَلَى اَلْخَلْقِ بَعْدِي اِثْنَا عَشَرَ أَوَّلُهُمْ أَخِي وَ آخِرُهُمْ وَلَدِي قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ وَ مَنْ أَخُوكَ قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ قِيلَ فَمَنْ وَلَدُكَ قَالَ اَلْمَهْدِيُّ اَلَّذِي يَمْلَؤُهَا قِسْطاً وَ عَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْراً وَ ظُلْماً وَ اَلَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ نَبِيّاً لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ اَلدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ وَاحِدٌ لَطَوَّلَ اَللَّهُ ذَلِكَ اَلْيَوْمَ حَتَّى يَخْرُجَ فِيهِ وَلَدِيَ اَلْمَهْدِيُّ فَيَنْزِلَ رُوحُ اَللَّهِ عِيسَى اِبْنُ مَرْيَمَ فَيُصَلِّيَ خَلْفَهُ وَ تُشْرِقَ اَلْأَرْضُ بِنُورِهِ وَ يَبْلُغَ سُلْطَانُهُ اَلْمَشْرِقَ وَ اَلْمَغْرِبَ[16]

Telah bercerita pada kami Jafar bin Muhammad bin Masrur berkata: Telah bercerita pada kami Husein bin Muhammad bin Amir dari Al-Mualla bin Muhammad Al-Bashri dari Jafar bin Sulaiman dari Abdullah Al-Hakam dari ayahnya dari Said bin Jubair dari Abdullah bin Abbas berkata: Rasulullah Saw berkata: “Sesungguhnya para khalifah dan washiku serta para hujjah Allah atas makhluk-Nya setelahku ada 12 orang, yang pertama dari mereka adalah saudaraku (Imam Ali As) dan yang terakhir dari mereka adalah putraku.” Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah saudaramu?” ia berkata: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu ditanyakan: “Dan siapa putramu?” ia berkata: “Al-Mahdi yang akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebajikan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kerusakan dan kezaliman. Demi Dzat yang telah mengutusku dengan kebenaran sebagai nabi, seandainya tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari maka senantiasa Allah akan memanjangkan hari itu hingga keluar putraku Al-Mahdi pada hari itu, kemudian turunlah Ruhullah Isa putra Mariam dan menunaikan shalat di belakangnya, dan bercahayalah bumi dengan cahayanya, dan pemerintahannya akan sampai ke timur dan barat (meliputi seluruh dunia).”

Di sini pun Nabi menjelaskan bahwa khalifahnya itu berjumlah 12, diawali dengan Imam Ali As dan diakhiri oleh putranya Al-Mahdi. Kemudian ia menyebutkan pengaindaian usia dunia ini dengan satu hari maka disitu ia berkata bahwa Allah pasti akan memanjangkan hari tersebut hingga muncul putranya, Sang Imam ke-12 yang akan memenuhi dunia dengan keadilan. Hal ini dari satu sisi menjelaskan pada kita bahwa pemerintahan Imam Mahdi ini merupakan pemerintahan terakhir dari para khalifah Nabi Muhammad Saw.

Riwayat-riwayat seperti ini, masih banyak dapat kita temukan dalam kitab-kitab hadis yang ada, yang mana kandungannya menafikan keberadaan pewaris wasiat Nabi melebihi jumlah 12 orang. Sementara itu hadis yang diangkat oleh kelompok Ahmad Hasan Bashri sangatlah sedikit dan memiliki banyak masalah dari berbagai sisinya seperti yang telah diulas dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Wallahu A’lam bis Shawab

Seorang Yahudi dan Sabda Nabi Saw tentang 12 Imam

Sejauh ini, kami telah mengulas siapa itu Hasan Bashri al-Yamani berikut salah satu klaimnya yang paling menjadi soroton, yaitu mengaku sebagai putra dari Imam Mahdi. Bersamaan dengan pembahasan tersebut, deretan tulisan sebelumnya juga telah meluruskan bukti-bukti miring yang sering kali ia pakai untuk mencoba menarik pengesahan klaimnya dari banyak orang.

Karenanya, pernyataannya sebagai putra Imam Mahdi telah kami bantah melalui bukti-bukti ilmiah di deretan tulisan sebelumnya. Di dalam tulisan kali ini—sebagaimana yang juga telah diulas di dalam tulisan sebelumnya—hendak mengupas, apakah benar adanya imam lain selain dua belas imam. Artinya, apakah ada riwayat dari Nabi Muhammad Saw. maupun para imam Syiah dengan adanya imam ketiga belas dan seterusnya dan seterusnya?

Riwayat mengenai 12 imam ini dapat kita lihat dan baca di dalam kitab Kifayatul Atsar fin Nushush ‘alal Aimmati al- Itsna ‘Asyar. Buku ini berisi pembahasan tentang para imam Ahlulbait dan khalifah.Kitab ini ditulis oleh Al-Khazaz Abul Qashim Ali bin Muhammad bin Ali, ulama kenamaan Syiah abad keempat Hijriah. Di dalam kitab ini, kita dapat membaca sebuah percakapan orang Yahudi yang baru masuk Islam dengan Nabi Muhammad Saw tentang 12 imam.

Jandal berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Muhammad, beri tahu aku tentang para washi (pengganti) setelahmu, sehingga aku bisa berpegang teguh pada mereka.”

“Wahai Jandal para washi-ku setelahku jumlahnya seperti para pemimpin Bani Israil.”

“Wahai Nabi, sesungguhnya jumlah para pemimpin Bani Israil adalah 12 orang, seperti yang kami dapati di dalam Taurat,” kata Jandal

“Para pemimpin setelahku juga berjumlah 12 orang,” ujar Nabi Saw.

“Apakah mereka akan berada di dalam satu masa?” Tanya Jandal.

“Tidak, tetapi keberadaan mereka secara estafet (saling bergantian),” jawab Nabi Saw…[17]

Riwayat di atas menjadi bukti tambahan, bahwa para imam Syiah yang disebut-sebut oleh Rasulullah Saw., berjumlahkan 12 orang, tidak kurang tidak lebih. Artinya, riwayat di atas juga menjadi kekuatan untuk menafikan riwayat wasiat yang dibawa-bawa oleh Hasan al-Yamani, untuk membuktikan kalau dirinya sebagai keturunan Imam Mahdi.

Wallahu a’lam bi as-shawab.

Syubhat Riwayat 12 Pemimpin dari Keturunan Rasulullah Saw

Salah satu dalil yang dikemukakan dan digunakan oleh kelompok aliran al-Yamani sebagai pembenaran atas klaim kepemimpinan Ahmad Hasan Bashri ialah riwayat 12 pemimpin dari keturunan Rasulullah Saw. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Saw menyebut akan ada 12 pemimpin dari keturunanku. Lewat riwayat tersebut, kelompok al-Yamani mengungkapkan bahwa Imam-imam setelah Rasulullah Saw tidak terbatas pada 12 Imam, sebab Ali bin Abi Thalib As yang merupakan Imam pertama bukanlah keturunan Rasulullah Saw. Sehingga kepemimpinan Ahmad Hasan Bashri sebagai Imam setelah Imam Mahdi Af adalah sesuatu yang mungkin dan tidak bertentangan. Adapun riwayatnya adalah sebagai berikut:

Dari Abu Ja’far As ia berkata: Rasulullah Saw berkata: dari keturunanku ada 12 pemimpin yang terkemuka, yang diajak bicara (oleh Allah Swt), yang memperoleh pemahaman (dari Allah Swt), yang terakhir dari mereka adalah al-Qaim bil Haq yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan penindasan.[18]

Dalam menjawab persoalan ini, ada dua hal yang harus diperhatikan.

Pertama, riwayat diatas juga terdapat di kitab-kitab lainnya, dengan sanad yang sama namun dengan bentuk yang sedikit berbeda. Riwayat-riwayat tersebut ialah sebagai berikut:

* Pada kata (اثنی عشر ) “dua belas” yang ada pada riwayat diatas, tidak tercantum pada riwayat berikut ini, namun yang tercantum adalah (احد عشر ) “sebelas”, seperti yang termaktub dalam kitab Al-Ushul As-Sittah ‘Asyar.

Dari Abu Ja’far As ia berkata: Rasulullah Saw berkata: dari keturunanku ada 11 pemimpin yang terkemuka, yang diajak bicara (oleh Allah Swt), yang memperoleh pemahaman (dari Allah Swt), yang terakhir dari mereka adalah al-Qaim bil Haq yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan penindasan.[19]

* Pada riwayat berikutnya ini tidak terdapat kata (من ولدي ) “dari keturunanku”, namun yang tercantum adalah (من اهل بيتي ) “dari Ahli Baitku”, seperti yang termaktub dalam kitab Taqribul Ma’arif.

Dari Abu Ja’far As ia berkata: Rasulullah Saw berkata: dari Ahli Baitku ada 12 pemimpin yang terkemuka, yang diajak bicara (oleh Allah Swt), yang memperoleh pemahaman (dari Allah Swt), yang terakhir dari mereka adalah al-Qaim bil Haq yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan penindasan.[20]

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Imam Ali bin Abi Thalib merupakan bagian dari Ahlul Bait Nabi Saw, meskipun beliau As bukanlah keturunan Nabi Saw.

Kedua, seperti yang kita ketahui bahwa sebelas Imam Ma’shum merupakan putra atau keturunan Rasulullah Saw. Dikeranakan banyaknya dan dominannya para Imam tersebut dari keturunan Rasulullah Saw, terkadang keseluruhan 12 Imam dihitung sebagai putra atau keturunan Rasulullah Saw, meskipun satu Imam yaitu Ali bin Abi Thalib secara nasab bukanlah keturunan Rasulullah Saw. hal ini didasarkan pada sebuah riwayat yang dinukil oleh Imam Husain As. Dalam riwayat tersebut Rasulullah Saw menyebutkan setelahnya ada para Imam dari keturunanku, kemudian menyebut Ali bin Abi Thalib sebagai Imam yang pertama. Riwayat tersebut sebagai berikut:

Dari Al-Husain bin Ali As ia berkata: Seorang Arab menemui Rasulullah Saw… Wahai Rasulullah kabarkanlah padaku adakah setelahmu Nabi? Rasul Saw berkata, tidak, aku adalah penutup para Nabi, namun setelahku ada para Imam dari keturunanku yang akan mengakkan keadilan, yang berjumlah seperti jumlah para pemimpin Bani Israil, yang pertama dari mereka ialah Ali bin Abi Thalib, dia adalah Imam dan Khalifah setelahku, dan Sembilan imam dari sulbi ini -Rasul meletakkan tangannya ke dadaku (Imam Husain)- dan Al-Qaim yang kesembilan dari mereka (Keturunan Al-Husain) akan menegakkan agama di akhir zaman..[21]

Riwayat tersebut dengan jelas mengatakan bahwa Rasulullah Saw menyebut para Imam setelahnya -yang berjumlah sama seperti jumlah pemimpin Bani Israil yaitu dua belas- dengan dari keturunanku, lalu menyebut Ali bin Abi Thalib sebagai yang pertama, padahal kita tahu bahwa Ali bin Abi Thalib secara nasab bukanlah putra atau keturunan Rasulullah Saw.

Jadi, riwayat 12 pemimpin dari keturunan Rasulullah Saw tidak bisa membenarkan adanya pemimpin atau imam yang ketiga belas dikarenakan adanya satu dari mereka yang bukan dari keturunan Rasulullah Saw.

Sebagaimana yang telah kita jelaskan sebelumnya, mayoritas riwayat-riwayat muktabar menyebutkan bahwa pemimpin atau Imam setelah Rasulullah Saw berjumlah dua belas, tidak kurang dan tidak lebih.

Wallahu A’lam

Benarkah Ahmad Al-Hasan Wujud dari Yamani?

Mulanya, Ahmad Hasan Bashri memiliki partner untuk menyebarluaskan pahamnya ke banyak orang. Partner-nya itu bernama Haidar Mustat. Di awal-awal peregerakannya, Haidar Mustat di-setting sebagai al-Yamani yang kemunculannya digadang-gadang sebagai tanda kemunculan al-Mahdi, sedangkan Ahmad Hasan Bashri menjadi putra dari Imam Mahdi.

Seiring bergulirnya waktu, terjadi silang pendapat di antara keduanya, hingga akhirnya Hasan Bashri bergerak sendiri. Di dalam sebuah pernyataannya, Ahmad Hasan bilang begini, “Perkaraku lebih terang dari mentari di siang hari. Aku adalah Al-Mahdi dan Yamani yang dijanjikan.”[22]

Di dalam pembahasan kali ini, penulis hendak mencoba membuktikan, apakah yang dimaksud Yamani yang akan datang di muka bumi ini sebagai tanda kemunculan al-Mahdi adalah Ahmad Hasan Bashri itu sendiri, sebagaimana yang sering ia dan pengikutnya dengungkan.

Kalau kita membaca pembahasan seri al-Yamani ini dari awal, tentu kita sudah bisa menyimpulkan kalau al-Yamani yang hakiki bukanlah Ahmad Hasan Bashri Al-Yamani. Namun, demi menjunjung sisi ilmiah dan tidak asal-asalan dalam menghukumi, alangkah baiknya jika kita membuktikannya melalui argumentasi ilmiah.

Kata Yamani berarti orang Yaman, atau orang yang berasal dari Yaman. Seperti yang disinggung di mukaddimah tulisan ini, bahwa Yamani adalah istilah orang dari Yaman yang akan hadir sebagai penanda kemunculan Imam Mahdi yang sesungguhnya.

Ada banyak sanggahan untuk kata Yamani yang disematkan di diri Ahmad Hasan al-Bashri, namun penulis mencukupkan pada satu sanggahan saja.

Kalau kita perhatikan sifat-sifat Yamani yang sesungguhnya, sebagaimana yang termaktub di dalam sebagian riwayat, ia disebut sebagai pribadi yang memberi hidayah dan petunjuk ke arah Imam Mahdi, penjaga agama, pelindung anak-anak yatim dari keluarga Muhammad Saw dan sebagainya.[23]

Dengan sifat-sifat yang telah disebutkan di atas, Ahmad Hasan mengklaim kalau riwayat tersebut ditujukan kepadanya dan agar ia dikategorikan sebagai orang yang paling unggul dari segalanya, sehingga ia sejajar dengan al-Yamani yang sesungguhnya. Sementara, sejauh ini tak ada satu pun ulama Islam yang mengklaim seperti itu.

Oleh karenanya, rupanya, usaha yang dikerahkan oleh Ahmad Hasan bakal sia-sia belaka, sebab klaim-klaimnya untuk menyamai Yamani yang sesungguhnya tak ada gunanya, lantaran dari beberapa klaim yang selama ini ia gemborkan, sangat jauh dari dari sifat-sifat al-Yamani yang dijanjikan itu.

Munculnya Al-Yamani dari Yaman

Berdasarkan sebuah riwayat, salah satu ciri dari zuhurnya Imam Mahdi Af ialah munculnya dan bangkitnya Al-Yamani dari Yaman. Sementara itu, diketahui bahwa Ahmad Hasan Bashri yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin Al-Yamani bukanlah berasal dari Yaman ataupun akan bangkit dari Yaman. Ia sendiri berasal dari Bashrah Irak dan mengklaim akan bangkit dari Timur dan Khurasan. Tentu klaim tersebut bertentangan dengan riwayat yang datang dari AhlulBait As. Riwayat tersebut termaktub dalam kitab Kamaluddin wa Tamamu An-Ni’mah milik Syekh Shaduq.

…dan sesungguhnya yang termasuk dalam ciri-ciri kemunculannya (Al-Mahdi): Munculnya As-Sufyani dari Syam dan munculnya Al-Yamani (dari Yaman)…[24]

Pengikut Ahmad Hasan Bashri mencoba menyanggah matan dari riwayat tersebut dengan mengatakan bahwa kata (من اليمن ) “dari Yaman” dalam riwayat tersebut berada dalam tanda kurung, dan hal itu menunjukkan bahwa kata tersebut tidak bisa dipastikan ada dan termaktub dalam kitab Kamaluddin milik Syekh Shaduq. Untuk itu Al-Yamani yang merupakan dari Yaman tidak bisa dibuktikan.

Namun, pengikut Ahmad Hasan ini menyangka bahwa dalam kitab tersebut hanya ada satu riwayat itu saja, padahal dalam kitab yang sama terdapat riwayat lain yang menjelaskan tentang ciri-ciri kemunculan Imam Mahdi Af dan dengan jelas tertulis bahwa kemunculan atau kebangkitan Al-Yamani berasal dari Yaman. Disamping itu, dalam riwayat ini kata (من اليمن ) “dari Yaman”, tidak memakai tanda kurung seperti yang disanggah oleh pengikut Aliran Ahmad Hasan Bashri di riwayat sebelumnya.

…Munculnya As-Sufyani dari Syam, dan Al-Yamani dari Yaman…[25]

Riwayat ini juga termaktub di kitab-kitab lainnya seperti Biharul Anwar[26] dan lainnya yang isinya sama persis seperti yang ada di kitab Kamaluddin milik Syekh Shaduq, dengan menyertakan bahwa kemunculan Al-Yamani merupakan dari Yaman.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa Al-Yamani yang termaktub dalam kitab-Kitab Syiah, akan muncul atau bangkit dari Yaman. Dan hal tersebut bertentangan dengan klaim yang didakwakan oleh Ahmad Hasan Bashri yang mengaku dirinya sebagai pemimpin Al-Yamani yang bukan dari Yaman.

Ahmad Al-Hasan Bashri Bukanlah Yamani!

Di dalam tulisan sebelumnya kita telah membaca, bahwa Ahmad Hasan al-Bashri yang mengklaim dirinya sebagai Yamani tidaklah tepat, dengan alasan kalau-kalau dia bukanlah orang Yaman. Sejatinya ia adalah orang Bashrah, Irak. Sementara yang kita tahu, dan yang telah dipaparkan di beberapa riwayat, bahwa Yamani yang bakal hadir—sebagai tanda kemunculan Imam Mahdi—berasal dari Yaman.

Di dalam tulisan kali ini—untuk menegaskan—kalau Ahmad Hasan Al-Basri bukanlah Yamani yang disebut di dalam riwayat, dapat penulis buktikan dengan sebuah poin penting. Sebelum membahas ke poin tersebut, alangkah baiknya jika kita perlu tahu, bahwa di dalam riwayat, tidak ada kewajiban bagi kita untuk mengenal siapa itu Yamanai, Sufyani dan Khurasani. Artinya, mau kenal atau tidak terhadap tiga tokoh di atas, tidaklah ada pengaruhnya sama sekali di dalam amal-perbuatan kita di mata Allah Swt.

Salah satu tanda munculnya Yamani, sebagaimana yang tedapat di banyak riwayat, berbarengan dengan kemunculan Sufyani dan Khurasani. Karenanya, salah satu tolok ukur hadirnya Yamani adalah dengan hadirnya pula Sufyani dan Khurasani di satu masa. Yang kita lihat saat ini, keduanya (Sufyani dan Khurasni) belumlah muncul di bumi ini. Maka, klaim Ahmad Hasan al-Bashri sebagai Yamani jelas tertolak dengan sendirinya.

Seperti yang termaktub di dalam kitab al-Gaibah karya Syekh Thusi, di dalam kitab tersebut tertulis sebagai berikut.

“Munculnya Khurasani, Sufyani dan Yamani di dalam tahun, bulan dan hari yang sama…”[27]

Dengan membaca riwayat di atas, tentu kita semakin mantap bahwa Yamani sejati belumlah hadir di bumi ini, lantaran Sufyani dan Khurasani belum hadir di muka bumi ini. Hal ini menjadi bukti bahwa Ahmad Hasan al-Bashri bukanlah Yamani al-mau’ud.