Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib as (Bagian7)

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib as (Bagian7)0%

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib as (Bagian7) pengarang:
: Tanpa Nama
: Tanpa Nama
Kategori: Imam Ali as

  • Mulai
  • Sebelumnya
  • 5 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 275 / Download: 87
Ukuran Ukuran Ukuran
Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib as (Bagian7)

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib as (Bagian7)

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Oleh

H.M.H. Al Hamid Al Husaini

M U Q A D D I M A H

Usaha menyingkat sejarah kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dalam

lembaran-lembaran buku, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sejak semula telah

terbayang kesukaran-kesukaran yang bakal dihadapi. Betapa tidak!

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a., terutama pada tahap-tahap terakhir,

sejak terbai'atnya sebagai Khalifah sampai wafatnya sebagai pahlawan syahid,

bukankah satu kehidupan biasa. Ia merupakan satu proses kehidupan yang lain

daripada yang lain. Ia menuntut penalaran luar biasa, menuntut kekuatan

syaraf istimewa pula.

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. penuh dengan ledakan-ledakan luar

biasa, keagungan dan hal-hal mempesonakan. Tetapi bersamaan dengan itu

juga penuh dengan gelombang kekecewaan dan kengerian.

Oleh karena itu penulisan tentang semua segi kehidupannya menjadi benar-benar tidak mudah.

Ditambah pula dengan adanya pihak-pihak yang menilai beliau secara berlebih-lebihan. Baik

dalam memujinya maupun dalam mencacinya.

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri tidak senang pada orang-orang yang menilai diri beliau

secara berlebih-lebihan. Hal itu tercermin dengan jelas dari kata-kata beliau: "Ada dua fihak

yang celaka karena berlebih-lebihan menilai sesuatu yang sebenarnya tidak kumiliki. Sedangkan

pihak yang lain ialah yang demikian bencinya kepadaku sehingga mereka melontarkan segala

kebohongan tentang diriku."

Dari sini pulalah maka Imam Ali r.a. mengatakan: "Ada segolongan orang yang demi cintanya

kepadaku mereka bersedia masuk neraka. Tetapi ada segolongan lain yang demi kebenciannya

kepadaku sampai-sampai mereka itu bersedia masuk neraka."

Ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya pertentangan penilaian mengenai menantu dan

sekaligus saudara misan Rasul Allah s.a.w. itu. Dua faktor itu ialah sifat atau watak pribadi

Imam Ali r.a. sendiri dan situasi serta kondisi kehidupan Islam pada zaman hidupnya tokoh

penting Islam itu.

Faktor mana yang lebih dominan, sehigga pribadi Imam Ali r.a. mempunyai kedudukan yang

unik dalam sejarah Islam sulit dikatakan. Yang jelas kedua faktor itu memegang peran penting

dan memberi arti khusus yang pengaruhnya hingga kini masih terasa. Bahkan sejak

meninggalnya pada tahun 40 Hijriyah pendapat yang kontroversial mengenai dirinya itu tidak mereda, malahan makin berkembang sehingga sangat mewarnai sejarah Islam sampai abad ke-

15 Hijriyah sekarang ini.

Periode kehidupan Imam Ali r.a. ditandai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh

ummat Islam, terutama setelah wafatnya Rasul Allah s.a.w. Belum lagi jenazah Rasul Allah

s.a.w. dimakamkan telah muncul krisis. Dan krisis itu disusul pula oleh krisis-krisis lain.

Ancaman dari dalam dan dari luar sangat membahayakan kedudukan Islam yang masih muda

itu.

Pertentangan pribadi, qabilah, suku, golongan, bangsa dan antar-negara bermunculan hampir

secara simultan. Keseimbangan kehidupan rohani dan jasmani, masalah keagamaan dan

kenegaraan yang serasi dan seimbang di bawah satu pimpinan, yaitu di tangan Rasul Allah

s.a.w. semasa hidupnya, tiba-tiba saja mengalami kegoncangan, ketidak-seimbangan dan

ketidak-serasian.

Proses kristalisasi dan disintegrasi yang menyusul wafatnya Rasul Allah s.a.w. dihadapkan pada

tokoh-tokoh terkemuka ummat Islam, yang selama itu merupakan pembantu-pembantu

terdekat Rasul Allah s.a.w. Diantaranya Imam Ali r.a. sebagai salah satu tokoh yang menonjol

dan dekat sekali dengan Rasul Allah s.a.w. Dan dialah salah seorang yang paling merasa

berkepentingan terhadap kemaslahatan Islam dan ummatnya. Sebab dialah yang paling dini

melibatkan diri sebagai pengikut setia Nabi Muhammad s.a.w.

Awal tahun Hijriyah ditandai oleh peranan Imam Ali r.a. Malam sebelum Rasul Allah s.a.w.

melakukan hijrah ke Madinah, yang sangat bersejarah itu, rumah kediaman beliau dikepung

rapat oleh para pemuda Qureiys: Mereka bertekad hendak membunuh nabi Muhammad s.a.w.

Pada saat itulah Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya mengenakan mantel

hijau buatan Hadramaut dan agar saudara misannya itu berbaring di tempat tidur beliau. Imam

Ali r.a. dengan kebanggaan dan keberaniannya melaksanakan tugas tersebut.

Ketika para pemuda Qureisy yang berniat jahat itu mengintip, mereka mengira Rasul Allah

s.a.w. berada di dalam. Padahal sebenarnya saat itu Rasul Allah s.a.w. telah berhasil

menyelinap keluar menuju ke rumah Abu Bakar r.a.

Ketaatannya kepada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya pada malam hijrah itu bukan

merupakan kasus tersendiri. Pada masa-masa hidupnya lebih lanjut, faktor keberanian ini

sangat mewarnai kehidupan Imam Ali r.a. Dasar-dasar keberanian ini tambah diperkuat oleh

keyakinannya yang makin teguh pada kebenaran ajaran Rasul Allah s.a.w. dan ketaqwaannya

pada Allah s.w.t.

Ketaatannya pada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya dalam membela serta menegakkan

kebenaran-kebenaran agama Allah merupakan pendorong utama, sehingga kemudian ia

diagungkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai pahlawan besar ummat Islam.

Hal itulah yang antara lain telah menimbulkan perbedaan penilaian yang hasilnya melahirkan

perselisihan pendapat. Yang menilai positif melambangkan Imam Ali r.a. sebagai contoh tokoh

yang paling ideal, pelanjut cita-cita dan perjuangan Rasul Allah. Kemudian eksesnya menjadi

berlebih-lebihan, sehingga sama sekali tidak disukai oleh yang bersangkutan sendiri.

Sebaliknya mereka yang menilai negatif, Imam Ali r.a. mereka anggap sebagai tokoh yang amat

berambisi untuk mendapat kedudukan memimpin ummat Islam. Penilaian terakhir ini

mengundang sifat-sifat kebencian dan menjurus ke permusuhan, dan akhirnya memuncak dalam

bentuk peperangan melawan Imam Ali r.a.

Kepribadian dan watak Imam Ali r.a. yang unik itulah yang mengembangkan pendapat ekstrim

tentang dirinya. Yang mengaguminya, kemudian memitoskan dan mendewakannya. Tidak jarang, karena ekses penyanjungan kepada Imam Ali r.a. akhirnya secara sadar atau tidak sadar

golongan ini mengaburkan peran agung Rasul Allah s.a.w. Sebaliknya yang membenci Imam Ali

r.a. melahirkan ekses mengkafirkannya.

Dua fihak yang sangat bertentangan penilaian terhadap Imam Ali r.a. tercermin pada dua

kelompok yang terkenal dalam sejarah Islam.

Kaum Rawafidh bukan saja pengagum Imam Ali r.a., malahan boleh dibilang sebagai "kaum

penyembah Imam Ali r.a." Semasa hidupnya, Imam Ali r.a. sendiri sudah berulang kali melarang

tindak dan sikap mereka yang sangat keliru itu, tetapi sikap Imam Ali r.a. yang tidak mau

disanjung dan disembah itu bahkan mereka nilai sebagai sikap yang agung. Imam Ali r.a.

sampai-sampai mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu syirik. Peringatan itu

sama sekali tidak menyurutkan pendirian mereka.

Begitu fanatiknya mereka kepada Imam Ali r.a. sehingga mereka bersedia mengorbankan

segala-galanya demi tegaknya pendirian itu. Bahkan ketika mereka dijatuhi hukuman dengan

dibakar hidup-hidup, hukuman itu mereka terima dengan penuh ketaatan. Di tengah kobaran

api unggun yang membakar diri mereka di depan umum, dengan penuh gairah mereka berseru:

"Dia (Imam Ali) adalah tuhan. (Sebab) dialah yang menetapkan adzab neraka ini". Mereka rela

mati dibakar dengan penuh keikhlasan. Mereka memandang layak hukuman demikian

dijatuhkan oleh "tuhan" mereka sendiri.

Sangat berlawanan dengan kaum Rawafidh ini, adalah pendirian golongan Nawasib dan

Khawarij yang sangat benci kepada Imam Ali r.a. Ironisnya, kaum Khawarij ini sebelumnya

justru merupakan pengikut Imam Ali r.a. yang paling setia dan taat. Mulamula mereka sangat

cinta, kagum, taat dan setia. Lalu berbalik 180 derajat menjadi muak, benci, mengutuk,

bahkan mengkafirkan Imam Ali r.a. Itu terjadi ketika tokoh yang mereka kagumi itu bersedia

menerima "perdamaian" dengan Muawiyah. Peristiwa yang dalam sejarah terkenal sebagai

"Tahkim bi Kitabillah".

Kaum Khawarij itu menuntut kepada Imam Ali r.a. agar ia bertaubat kepada Allah atas

perbuatan salah yang dilakukannya (mengadakan perdamaian dengan Muawiyah). Begitu

mendalamnya kebencian mereka sehingga pada kesempatan apa, kapan dan di mana saja

mereka melancarkan kecaman pedas dan memaki habis. Bahkan sejarah mencatat, Imam Ali

r.a. wafat akibat pembunuhan yang dilakukan golongan Khawarij.

Sulit untuk dicari bahan bandingan bagi seorang tokoh yang begitu hebat menimbulkan

pertentangan pendapat seperti yang ada pada diri Imam Ali r.a. Lebih sulit lagi untuk menarik

kesimpulan dari kenyataan ini. Apakah karena ia orang besar, maka timbul pertentangan

pendapat yang begitu hebat? Ataukah karena adanya pertentangan pendapat itu hingga ia

menjadi mitos. Kenyataan adanya pertentangan pendapat itu sendiri sudah mengungkapkan,

bahwa Imam Ali r.a. adalah tokoh potensial sekali, khususnya bagi ummat Islam.

Juga merupakan ironi sejarah, salah seorang yang pertama-tama berperan vital dalam membela

Islam, akhirnya dijatuhkan oleh seorang yang ayahnya justru paling memusuhi Islam ketika

Rasul Allah s.a.w. mulai dengan da'wahnya. Orang yang sejak masa anak-anak sudah

mempertaruhkan segala-galanya demi tegak dan berkembangnya Islam, kepemimpinannya

direbut oleh orang-orang yang pada awal Islam paling gigih menentang.

Lebih menyedihkan lagi karena orang yang melawan Imam Ali r.a. menempuh segala usaha dan

tipu-daya "dengan mengatas-namakan Islam". Lebih parah lagi karena dengan "mengatasnamakan

Islam" selama 136 tahun, kekuasaan Bani Umayyah, nama Imam Ali ditabukan,

direndahkan dan dihina. Pada setiap khutbah, pada setiap doa sehabis shalat tidak pernah

ditinggalkan cacian dan kutukan terhadap Imam Ali agar ia disiksa Allah.

Bahkan nama Imam Ali digunakan oleh dinasti Bani Umayyah untuk menegakkan kekuasaan

otoriter. Tiap orang atau kelompok yang berani menentang, atau tidak sependapat dengan

kebijaksanaan penguasa Bani Umayyah dapat ditindak dengan menggunakan dalih "pengikut

Imam Ali" (Pecinta Ahlulbait).

Siapa yang mempelajari sejarah Imam Ali r.a. dengan jujur, pasti akan menemukan pada

dirinya salah satu segi yang khas ada pada kehidupan tokoh legendaris itu. Nama Imam Ali r.a.

identik dengan sifat-sifat manusiawi yang mendalam. Baik sejarah sendiri, maupun sejarawan

tidak cukup mampu mengungkapkannya. Kaitan yang seperti itu biasanya oleh seorang penulis

terpaksa dikesampingkan saja dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.

Makin berkurangnya faktor-faktor kejiwaan yang menyulitkan pembahasan dan makin

dibatasinya segi-segi sejarah yang hendak ditulis, bisa jadi lebih mendekati objektivitas. Tetapi

apakah begitu jadinya?

Para sejarawan mengungkapkan bahwa pada ghalibnya makin lama seorang telah meninggal

akan lebih mudah ditemukan objektivitas untuk pengungkapan riwayat orang yang

bersangkutan. Akan tetapi kalau menyangkut Imam Ali r.a. hal itu masih dipertanyakan.

Dalam batas-batas pengungkapan yang demikianlah, buku "Imam Ali bin Abi Thalib r.a." ini

mengetengahkan riwayat kehidupan Imam Ali pada masa asuhan, keluarganya, rumahtangganya,

peranan kepahlawanannya semasa Rasul Allah masih hidup, wafatnya Rasul Allah

s.a.w., masa-masa kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., delapan hari tanpa

khalifah, Perang Unta, Perang Shiffin, Gerakan Khawarij, keutamaan, pintu ilmu dan sebuah

kenangan.

Bab XII : GERAKAN KHAWARIJ

Imam Ali r.a. adalah seorang yang tidak pernah berbuat sesuatu yang berlainan antara ucapan

dan perbuatan. Ia menolak keras hasil perundingan antara Abu Musa dengan Amr, tetapi karena

ia telah menyatakan kesediaan menerima "tahkim" --walaupun hanya karena ia ditekan oleh

pengikutnya-- prinsip itu dipertahankan dengan konsekuen, selama fihak lawan benar-benar

hendak mencari penyelesaian berdasarkan hukum Al-Qur'an.

Hal ini dapat dibuktikan dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan kepada beberapa orang

pengikutnya yang mengajukan pertanyaan. Dalam penjelasannya itu Imam Ali r.a. mengatakan:

"Kami menerima tahkim. Oleh karena itu tahkim harus didasarkan kepada Kitab Allah, Al-

Qur'an. Al Qur'an itu tertulis pada lembaran-lembaran. Al-Qur'an tidak berbicara dengan lisan

dan tidak bisa tidak memerlukan penafsiran. Penafsiran itu sudah tentu keluar dari ucapan

orang. Setelah mereka minta kepada kami supaya kami mengadakan penyelesaian berdasarkan

tahkim Al-Qur'an, kami tidak mau menjadi fihak yang berdiri di luar Al-Qur'an. Sebab Allah

'Azaa wa Jalla telah berfiman, artinya: "Jika kalian bertengkar mengenai sesuatu, maka

kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya." (S. An Nisa: 59).

"Mengembalikan persoalan kepada Allah," kata Imam Ali r.a. seterusnya, "berarti kami harus

mencari penyelesaian hukum di dalam Kitab Allah. Dan mengembalikan persoalan kepada

Rasul-Nya, berarti kami harus mengambil sunnah Rasul Allah. Jika persoalan benar-benar

hendak diselesaikan berdasar hukum yang ada dalam Kitab Allah, sesungguhnyalah kami lebih

berhak berbuat daripada orang lain. Dan kalau hendak diselesaikan berdasarkan sunnah Rasul

Allah, pun kami jugalah yang lebih berhak daripada orang lain."

"Adapun ucapan mereka yang mengatakan: 'mengapa diadakan tenggang waktu (gencatan

senjata) dalam menempuh jalan tahkim?' Kata Imam Ali r.a. lebih lanjut, hal itu kami lakukan

agar menjadi jelas bagi orang yang tidak mengerti, dan agar menjadi mantap bagi orang yang sudah mengerti. Mudah-mudahan selama gencatan senjata itu Allah akan memperbaiki keadaan

ummat, agar menjadi terang, dan awal kesesatan itu dapat segera diluruskan."

"Sesungguhnya yang paling afdhal di sisi Allah," kata Imam Ali r.a. pula, "ialah orang yang lebih

menyukai berbuat kebenaran walau kebenaran itu mendatangkan kesukaran dan kerugian

baginya. Yaitu orang yang pantang berbuat kebatilan, walau kebatilan itu akan mendatangkan

kemudahan dan keuntungan baginya. Jadi, bagaimanakah kalian sampai menjadi bingung, dan

dari manakah keraguan yang menghinggapi fikiran kalian?"

Imam Ali r.a. Digugat

Sekarang, setelah ternyata politik tahkim itu benar-benar hanya tipu muslihat Muawiyah,

kelompok kontra tahkim yang terdapat dalam pasukan Imam Ali r.a. menggugat, mengungkit

dan melemparkan segala kesalahan kepada pundak Imam Ali r.a. Lebih aneh lagi karena banyak

yang tadinya pro tahkim, setelah kelompok kontra tahkim bergerak, mereka ikut-ikutan

menentang Imam Ali r.a. dan bergabung dengan kelompok kontra tahkim.

Kelompok kontra tahkim itu dalam sejarah dikenal dengan nama Khawarij (orang-orang yang

keluar meninggalkan barisan Imam Ali r.a.). Pada suatu hari kelompok ini berkumpul di rumah

Abdullah bin Wahb Ar Rasibiy. Di tempat pertemuan ini tampil tokoh-tokoh mereka bergantian

beragitasi membakar semangat perlawanan terhadap Imam Ali r.a.

Abdullah Ar Rasibiy dalam pidatonya mengatakan: "Saudara-saudara, bagi kaum yang beriman

kepada Allah Ar Rahman, yang patuh kepada hukum Al-Qur'an, kehidupan dunia ini harus diisi

dengan amr ma'ruf dan nahi mungkar, serta dengan perkataan yang benar walau pahit dan

berbahaya. Sekalipun pahit dan berbahaya, tetapi pada hari kiyamat kelak orang akan

memperoleh keridhoan Allah dan kekal menikmati kehidupan sorga. Oleh karena itu marilah

kita keluar meninggalkan negeri yang penduduknya sudah menjadi dzalim ini dan pergi ke

daerah lain! Kita harus menolak bid'ah yang sesat ini (yakni: tahkim) dan menentang hukum

yang durhaka!"

Sedang Hurqush bin Zuhair berkata: "Saudara-saudara, kesenangan di dunia ini sungguh amat

sedikit. Tidak ayal lagi, kita ini pasti akan berpisah dengan dunia. Oleh karena itu kalian jangan

sampai merasa terikat oleh keindahan dan kegemerlapannya, atau ingin tetap hidup selamalamanya!

Janganlah kalian lengah dari kewajiban menuntut kebenaran dan menentang

kebatilan. Sesungguhnya Allah senantiasa beserta orang yang bertawa dan orang-orang yang

berbuat kebajikan. Hai saudara-saudara, kita sudah bersepakat bulat mengenai kebenaran itu.

Sekarang angkatlah salah seorang dari kalian sebagai pemimpin. Sebab bagaimana pun juga

kalian tetap memerlukan tiang untuk bersandar, dan membutuhkan adanya suatu lambang di

mana kalian akan berhimpun di sekitarnya dan kembali kepadanya."

Habis berkumpul di rumah Abdullah Ar Rasibiy, mereka pergi bersama-sama ke rumah Zafr bin

Hushn At Tha'iy. Di rumah ini Zafr beragitasi dengan hebatnya: "Hai saudara-saudara,

sebenarnya kita ini telah berjanji setia kepada Allah s.w.t. untuk berbuat amr ma'ruf dan nahi

mungkar, berkata benar dan berjuang menegakkan jalan yang lurus. Allah sudah

memerintahkan kepada Rasul-Nya, Daud: "Hai Daud, engkau telah kami jadikan Khalifah di

bumi, maka laksanakanlah hukum dengan adil di antara sesama manusia, dan janganlah engkau

menuruti hawa nafsu, sebab hal itu akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Orang-orang

yang sesat dari jalan Allah akan memperoleh siksa amat berat" (As Shad:26).

"Juga Allah telah berfirman," kata Zafr: "Barang siapa tidak menetapkan hukum menurut apa

yang telah diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang kafir." (Al-Ma'idah: 44).

"Oleh karena itu", kata Zafr selanjutnya, "bersumpahlah kalian untuk melawan orang yang dulu

kita dukung ajarannya. Orang itu sekarang sudah mengikuti hawa nafsu, mengabaikan hukum

Allah, berlaku dzalim dalam menetapkan hukum dan melaksanakannya. Oleh karena itu perjuangan melawan orang-orang seperti itu adalah wajib bagi kaum mukminin.

"Aku bersumpah, demi Allah, seandainya tak ada seorang pun yang mau berjuang menghapus

kemungkaran itu, atau tidak ada orang yang mau membantu perjuangan melawan orang-orang

bathil dan durhaka itu, aku akan memerangi mereka seorang diri sampai aku berjumpa dengan

Allah s.w.t. Biarlah Allah sendiri yang menjadi saksi, dengan lidah aku telah berjuang

memperbaiki keadaan sesuai dengan kehendak-Nya dan menurut keridhoan-Nya."

"Saudara-saudara, hantamlah muka dan kepala mereka dengan pedang, sampai Allah 'Azaa wa

Jalla ditaati oleh mereka. Jika orang itu sudah mau taat kepada Allah sebagaimana yang kalian

inginkan, Allah akan mengaruniakan pahala kepada kalian sebagai orang-orang yang telah

membuktikan ketaatan dan telah melaksanakan perintah-Nya. Jika kalian mati terbunuh,

apakah yang lebih penting daripada berjalan menuju keridhoan Allah dan sorga-Nya?

"Ketahuilah saudara-saudara, mereka sekarang sudah siap untuk mempertahankan hukum yang

sesat. Marilah kita semua keluar menuju ke sebuah daerah yang telah kita sepakati dalam

pertemuan kita ini. Kalian telah menjadi pembela-pembela kebenaran di tengah-tengah ummat

manusia. Sebab kalian sudah mengumandangkan kebenaran dan tetap bertekad hendak berkata

benar."

"Marilah kita pergi ke Madain yang telah kita sepakati itu, kita buka pintunya dan kita kerahkan

penduduknya, kemudian kita kirimkan utusan kepada saudara-saudara kita di Bashrah, agar

mereka mau bergabung dengan kita!"

Sesudah agitasi Zafr ini, tampil Zaid bin Hushn At Tha'iy, saudara Zafr, dengan kata-kata: "Di

daerah itu nanti akan ada orang-orang yang merintangi kalian masuk, dan mereka pun akan

mencegah kalian menduduki daerah itu. Oleh karena itu sebaiknya kita segera menulis surat

kepada saudara-saudara kita di Bahsrah. Beritahukan mereka tentang keluarnya kalian sekarang

ini. Setibanya di sana, berhentilah kalian di Nehrawan!"

Semua pidato itu mendapat sambutan hangat dan yang hadir menyatakan persetujuan bulat.

Kemudian ditulislah sepucuk surat kepada teman-teman mereka di Bashrah. Isinya sebagai

berikut : "…Orang-orang yang dulu kami dukung seruannya (yakni Imam Ali) sekarang sudah

mengangkat orang untuk menetapkan tahkim terhadap agama Allah. Mereka membiarkan

orang-orang durhaka menguasai hamba-hamba Allah. Oleh sebab itu kami sekarang menentang

mereka dan sudah meninggalkan mereka. Dengan cara itu kami hendak mendekatkan diri

kepada Allah, dan sekarang kami sudah berada di jembatan Nehrawan. Kami ingin memberi

tahukan kalian, agar kalian dapat ikut ambil bagian untuk memperoleh pahala. Wassalaam."

Jawaban dari teman-teman mereka di Bashrah mengatakan, bahwa mereka mendukung dan

membenarkan tekad mereka, serta siap menjalankan perintah Allah dan bersedia ambil bagian

dalam perjuangan melawan Imam Ali r.a. dan pendukungnya. Surat itu diakhiri dengan katakata:

"Kami sudah bersepakat untuk segera berangkat guna bergabung dengan kalian."

Menurut rencana, mereka hendak berangkat pada malam Kamis. Sebelum berangkat mereka

berkumpul sekali lagi di rumah Hurqush bin Zuhair. Setelah mengadakan pembicaraan sejenak,

akhirnya mereka sepakat mengundurkan waktu keberangkatan

menjadi malam Jum'at. Kesepakatan itu berubah lagi berdasarkan saran Hurqush: "Malam

Jum'at sebaiknya kalian tinggal di sini saja dulu untuk banyak-banyak beribadah kepada Allah,

dan pergunakanlah sebagai kesempatan untuk meninggalkan wasiyat-wasiyat. Malam Sabtu

barulah kalian berangkat, seorang-seorang atau dua-dua, agar jangan sampai menyolok mata

orang banyak."

Ke Nehrawan

Untuk berusaha menginsyafkan kaum Khawarij yang sudah mulai berangkat ke Nehrawan guna mempersiapkan pemberontakan bersenjata, Imam Ali r.a. cepat-cepat menulis surat kepada

mereka, dibawa oleh seorang kurir. Dalam surat tersebut Imam Ali r.a. menjelaskan seperti

yang sudah pernah dikemukakan dalam khutbah-khutbahnya. Sebelum menutup suratnya

dengan kata-kata "Wassalaam", Imam Ali r.a. menegaskan ajakannya: "Seterimanya surat ini,

hendaknya kalian segera kembali kepada kami. Kami sudah siap untuk berangkat menghadapi

musuh kami dan musuh kalian, dan kami tetap memegang pimpinan seperti semula!"

Surat Imam Ali r.a. itu cepat dijawab oleh kaum Khawarij dengan penuh ejekan dan tuduhan

tak semena-mena: "Engkau marah bukan karena Allah. Engkau marah hanya karena dirimu

sendiri! Allah tidak akan menyelamatkan tipu-daya orang-orang yang berkhianat!"

Setelah membaca surat jawaban Khawarij yang seperti itu, Imam Ali r.a. putus harapan

mengajak mereka bersatu kembali. Tadinya ia berniat hendak berangkat menghadapi pasukan

Muawiyah di Shiffin, tetapi sekarang..., apa boleh buat! Daripada tertusuk dari belakang, lebih

baik kaum Khawarij "dibenahi" lebih dahulu. Usaha memberi pengertian sudah ditempuh.

Mengajak bersatu kembali telah dicoba. Ajakan untuk berjuang lagi melawan pasukan Syam

sudah ditolak. Bahkan mereka sekarang siap mengacungkan pedang. Bahaya harus ditanggulangi

satu demi satu. Yang lebih ringan perlu disingkirkan lebih dulu.

Sekarang Imam Ali r.a. merobah niat semula. Menangguhkan perlawanan terhadap pasukan

Syam dan menumpas kaum Khawarij lebih dulu. Pasukan disiapkan untuk berangkat mengejar

kaum Khawarij. Lalu Imam Ali r.a. mengucapkan amanat yang berisi petunjuk dan komando:

"Barang siapa meninggalkan perjuangan dan menjauhi perintah Allah, ia berada di tepi jurang

bahaya, sampai Allah sendiri menyelamatkan dengan rahmat-Nya. Oleh karena itu, hai para

hamba Allah, bertaqwalah kalian semua kepada-Nya. Perangilah orangorang yang bertindak

memerangi kaum pengemban Amanat Allah. Perangilah mereka yang mengubah agama Allah,

orang-orang yang tidak mau mengerti Kitab Allah, dan tidak mau mengerti isyarat-isyarat Al-

Qur'an, yaitu mereka yang tidak mau melihat persoalan dari sudut agama. Mereka itu

sesungguhnya orang-orang yang belum begitu lama memeluk agama Islam."

"Demi Allah," kata Imam Ali r.a. seterusnya, "seandainya mereka itu sampai dapat menguasai

kalian, mereka pasti akan berbuat seperti Kisra dan Kaisar (raja-raja Persia dan Romawi).

Berangkatlah sekarang dan siap bertempur. Aku sudah mengirim utusan ke Bashrah agar

saudara-saudara yang ada di sana bergabung dengan kalian. Insya Allah, mereka akan segera

datang!"

Waktu Imam Ali r.a. bersama sejumlah pasukan pengejar berangkat, kaum Khawarij sudah

sampai di sebuah pedusunan yang bernama Harura. Walaupun segalanya telah siap untuk

menumpas pemberontakan bersenjata, tetapi Imam Ali r.a. masih tetap ingin supaya orangorang

Khawarij itu dapat diajak bersatu kembali dan berjuang bersama-sama melawan pasukan

Syam.

Orang-orang yang tergabung dalam kelompok Khawarij itu banyak berasal dari prajurit-prajurit

berpengalaman. Mereka mempunyai keyakinan yang sangat teguh dan keras sekali terhadap

lawan. Lebih-lebih karena mereka semua adalah bekas pengikut Imam Ali r.a. sendiri. Dengan

ketangguhan luar biasa mereka telah menyumbangkan andil besar dalam perjuangan

mematahkan pemberontakan Thalhah dan Zubair. Dalam menghadapi pemberontakan Muawiyah

mereka pun telah memberikan jasanya, walau belum sepenuhnya.

Sudah menjadi kepribadian Imam Ali r.a., bahwa ia tidak melihat orang hanya dari segi

kekurangan dan kesalahannya saja, tetapi juga tidak melupakan kebaikan dan kebenarannya.

Selain itu, walau kelompok Khawarij sekarang berbalik menentang Imam Ali r.a., namun

mereka itu tidak menyeberang atau berfihak kepada Muawiyah. Harus disayangkan, dalam

keadaan sedang genting-gentingnya menghadapi lawan yang kuat, Syam, kelompok yang sangat ekstrim itu hendak menusuk dari belakang atau menggunting dalam lipatan.

Dengan berbagai perasaan yang serba resah seperti itu, Imam Ali r.a. masih ingin mencoba

sekali lagi mengembalikan mereka tanpa kekerasan. Mereka hendak diajak bertukar-fikiran

mengenai masalah gawat yang sedang mencekam perhatian mereka, yaitu "tahkim". Lewat

seorang kurir Imam Ali r.a. minta supaya kaum Khawarij mengirimkan seorang wakil untuk

diajak bertukar-fikiran, dengan jaminan bahwa wakil itu akan dilindungi keamanan dan

keselamatannya.

Dalam permintaannya itu Imam Ali r.a. menyatakan janji, jika hujjah (argumentasi) yang

dikemukakan oleh wakil mereka itu kuat dan benar, Imam Ali r.a. bersedia mohon

pengampunan kepada Allah dan bertaubat atas kesalahannya menerima "tahkim". Sebaliknya,

jika ternyata hujjah Imam Ali r.a. yang kuat dan benar, mereka pun harus bersedia mohon

pengampunan dan bertaubat kepada Allah s.w.t.

Permintaan Imam Ali r.a. dapat disetujui kaum Khawarij. Mereka mengirim Ibnul Kawwa

sebagai wakil. Berlangsunglah diskusi panjang lebar. Masing-masing mengemukakan alasan dan

hujjah untuk memperkuat dan membenarkan pendiriannya sendiri-sendiri. Tetapi akhirnya

dengan mengadu hujjah berdasar Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, Ibnul Kawwa tergiring ke

sudut sampai tidak dapat lagi menemukan alasan untuk menyanggah hujjah-hujjah yang

dikemukakan Imam Ali r.a. secara terperinci.

Selesai diskussi, Ibnul Kawwa kembali kepada kaumnya. Dengan jujur Ibnul Kawwa

mengatakan, bahwa berdasar hujjah-hujjah yang dikemukakan, Imam Ali r.a. berada di fihak

yang benar menurut hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya. Semua hujjah Imam Ali r.a. wajib

diterima oleh mereka. Demikian kata Ibnul Kawwa kepada kaumnya.

Kaum Khawarij tak dapat menerima hasil diskusi yang telah berlangsung antara Imam Ali r.a.

dengan Ibnul Kawwa. Ibnul Kawwa dikatakan bukan imbangannya untuk berdiskusi dengan

Imam Ali r.a. Ibnul Kawwa tidak boleh diberi kesempatan lagi untuk menghadapi diskusi dengan

Imam Ali r.a., karena ia tidak akan mampu menghadapi hujjah, logika dan kesanggupan berfikir

Imam Ali r.a. Mereka menuntut pertukaran-fikiran seperti itu dihentikan saja.

Kaum Khawarij bersikeras untuk tetap melancarkan pemberontakan bersenjata dan tidak mau

menerima apa yang datang dari Imam Ali r.a. Mereka tetap memandang Imam Ali r.a. sebagai

orang yang sudah murtad dan menjadi kafir karena menerima "tahkim". Oleh karena itu mereka

memandang Imam Ali sebagai orang yang telah keluar dari rel agama dan harus diperlakukan

sebagai musuh Allah! Begitulah pendirian kaum Khawarij yang sudah tidak dapat berubah lagi.

Betapa pilu hati Imam Ali r.a. menghadapi pendirian orang-orang yang kemarin masih menjadi

pendukung dan pembelanya, tetapi hari ini sudah berbalik menjadi lawan yang sangat keras

kepala. Ia sangat menyesal karena mereka sekarang sudah dikuasai oleh fikiran kacau, sampai

mereka buta melihat kebenaran.

Jalan Kekerasan

Akhirnya Imam Ali r.a. yakin tak ada jalan lain lagi yang bisa ditempuh, selain terpaksa harus

menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Lebih-lebih setelah ada kenyataan bahwa mereka

ketika meninggalkan Kufah telah banyak merenggut nyawa kaum muslimin yang tidak berdosa.

Tiap orang yang tidak sependapat dengan mereka dicap "kafir". Setiap orang yang sudah

terkena cap itu, oleh mereka dihalalkan darahnya, harta bendanya dan keluarganya.

Abdullah bin Khabbab bersama isterinya yang sedang hamil tua mereka bantai di tepi sungai

bersama seekor babi, hanya karena waktu ditanya tentang sebuah hadits menjawab: "Ayahku

menyampaikan sebuah hadits berasal dari Rasul Allah s.a.w.: 'Sepeninggalku akan terjadi suatu

fitnah (bencana). Dalam fitnah itu hati orang akan menjadi mati, sama seperti tubuhnya yang juga mati. Sore hari ia menjadi orang yang beriman dan di pagi hari ia menjadi orang kafir'…"

Sebelum membantai dua orang suami isteri itu mereka sudah membantai lebih dulu 3 orang

wanita, hanya karena tidak sependapat dengan mereka. Salah seorang di antara tiga wanita itu

ialah: Ummu Saman, yang pada masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. pernah menjadi sahabat

setia.

Sekalipun sudah sejauh itu tindakan kaum Khawarij, Imam Ali r.a. tidak meninggalkan

kebiasaannya, yaitu lebih suka bersikap baik sebelum diserang. Kepada para sahabat dan

pasukannya ia berpesan: "Janganlah kalian menyerang lebih dulu sebelum kalian diserang!"

Kini Imam Ali r.a. dan pasukannya telah tiba di Nehrawan. Sebelum pasukan Imam Ali r.a.

datang, kaum Khawarij sudah tiba lebih dahulu dan terus siaga untuk mengangkat senjata.

Jumlah anggota pasukan Khawarij lebih kurang 1.500 orang, termasuk anggota-anggota pasukan

penunggang kuda. Orang-orang yang sekarang menjadi komandan mereka sejak dulu terkenal

cekatan, pemberani, gigih dan pantang mundur dalam pertempuran.

Imam Ali r.a. telah mengatur pasukannya. Pimpinan sayap kanan diserahkan kepada Hujur bin

Addiy, sedang pimpinan sayap kiri diserahkan kepada Syabatah bin Rab'iy. Pimpinan pasukan

berkuda diserahkan kepada Ayyub Al Anshariy, sedang pasukan infantri (pejalan kaki)

pimpinannya diserahkan kepada Abu Qatadah. Pengikut lainnya pimpinannya diserahkan kepada

Qeis bin Sa'ad bin Ubadah. Imam Ali r.a. sendiri berada di bagian tengah memimpin pasukan

Bani Mudhar.

Bendera tanda-aman kemudian ditancapkan tiangnya oleh Ayyub Al Anshariy sambil berseru

kepada pasukan Khawarij yang sudah berada di hadapan pasukan Imam Ali r.a.: "Barang siapa

dari kalian yang mendekati bendera ini, dijamin keselamatannya. Barang siapa pergi masuk

kota atau berangkat ke Iraq (Kufah) dan keluar dari gerombolan, akan dijamin keselamatannya!

Kami dilarang menumpahkan darah kalian, selama kalian tidak menumpahkan darah kami!"

Pasukan berkuda Imam Ali r.a. kemudian maju menjadi barisan terdepan. Sedang pasukan

pejalan kaki memecah diri menjadi dua barisan, berjalan di belakang pasukan berkuda.

Pasukan panah mengatur barisannya sendiri secara berlapis. Imam Ali r.a. masih tetap

mengingatkan perintahnya: "Jangan menyerang sebelum kalian diserang!"

Pasukan Khawarij mulai bergerak maju. Setelah agak dekat dengan pasukan Imam Ali r.a.,

pasukan Khawarij berteriak-teriaka: "Tidak ada hukum selain Allah." Sahut menyahut, silih

berganti sampai sedemikian hiruk pikuk dan gaduh.

Mendengar teriakan-teriakan itu Imam Ali r.a. berkata kepada beberapa orang sahabat: "Katakata

benar diartikan secara bathil. Yang mereka maksud sebenarnya tidak perlu ada imarah.

Imarah (pemerintahan) tidak bisa tidak harus ada. Soalnya apakah imarah itu baik atau tidak!"

Pasukan Khawarij berganti teriakan. Sekarang yang satu berteriak kepada yang lain: "Mari

berangkat ke sorga! Mari berangkat ke sorga!"

Di tengah-tengah gemuruhnya teriakan itu mereka serentak bergerak menyerang pasukan Imam

Ali r.a. Mereka juga menempatkan pasukan berkuda di barisan depan dan di belakangnya

pasukan pejalan kaki. Serangan serempak mereka itu disambut dengan hujan anak panah yang

dilepaskan pasukan pemanah Imam Ali r.a. yang diatur secara berlapis. Pasukan Khawarij

terpaksa mundur meninggalkan banyak korban.

Menurut Ats Tsa'labiy, ketika ia menceritakan pengalamannya sendiri mengatakan: "Waktu

kulihat Khawarij dihujani anak panah, mereka kelihatan seperti iring-iringan kambing yang

berusaha menghalangi hujan dengan tanduk. Pasukan berkuda Imam Ali kemudian menikung dari arah kanan ke kiri. Imam Ali sendiri bersama sejumlah pasukan yang dipimpinnya

melancarkan serangan menerobos ke jantung pasukan Khawarij dengan pedang dan tombak.

Demi Allah, kulihat belum sempat kaum Khawarij menyelesaikan serangan serentaknya, banyak

sekali dari mereka yang sudah jatuh bergelimpangan."

Masing-masing fihak bertempur mati-matian. Ketangguhan mental kaum Khawarij ternyata

memang tinggi. Sungguhpun demikian tidak sanggup menangkis serangan pasukan Imam Ali r.a.

Peperangan ini berakhir dengan kemenangan di fihak pasukan Imam Ali r.a. Kurang lebih

pasukan Khawarij yang masih hidup sebanyak 400 orang. Semuanya dalam keadaan luka parah.

Mereka itu orang-orang yang sangat keras dan berpendirian teguh. Semboyan "Menang atau

Mati" sudah menjadi perhiasan mereka sehari-hari.

Imam Ali r.a. tidak sampai hati membiarkan mereka dalam keadaan luka parah dan tidak

berdaya. Ia memerintahkan anggota-anggota pasukannya, supaya semua mereka itu diserahkan

kepada sanak famili atau handai tolannya, agar cepat memperoleh pengobatan dan perawatan.

Semua yang ditinggalkan oleh kaum Khawarij diambil oleh pasukan Imam Ali r.a. Senjatasenjata

dan hewan tunggangan dibagi-bagi, sedang barang-barang lain yang jelas dirampas oleh

kaum Khawarij pada waktu lari dari Kufah, dikembalikan kepada para pemiliknya semula.