Artikel
-
Al Qur'an Al Karim
Artikel: 575, Kategori: 4 -
Akidah
Artikel: 44, Kategori: 5 -
Rasulullah & Ahlulbait
Artikel: 395, Kategori: 15 -
Hadits & Ilmu Hadits
Artikel: 7, Kategori: 4 -
Fiqih & Ushul Fiqih
Artikel: 19, Kategori: 2 -
Sejarah & Biografi
Artikel: 101, Kategori: 3 -
Bahasa & Sastra
Artikel: 12, Kategori: 2 -
Keluarga & Masyarakat
Artikel: 1886, Kategori: 3 -
Akhlak & Doa
Artikel: 258, Kategori: 3 -
Filsafat & Irfan
Artikel: 306
MENGAIS SEPERCIK DARI SEGARA DOA ARAFAH: Horizon Kosmik dan Kritik Kesadaran
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz DR. Muhsin Labib, MA
Doa ini juga meluaskan pandangan ke horizon kosmik, seakan-akan seluruh realitas adalah jaringan tanda yang menunjuk pada satu sumber kemurahan. Rezeki tidak lagi dibaca sebagai peristiwa ekonomi, kesehatan tidak lagi sekadar kondisi biologis, dan keselamatan tidak lagi dipahami sebagai kebetulan. Semuanya bertransformasi menjadi bahasa rahmat yang terus berbicara—namun jarang benar-benar didengar akibat kebisingan kesadaran manusia yang terjebak pada dirinya sendiri.
MENGAIS SEPERCIK DARI SEGARA DOA ARAFAH: Anatomi Jiwa yang Jujur
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz DR. Muhsin Labib, MA
Di dalam struktur batinnya, doa ini menyingkap anatomi jiwa yang sangat jujur. Manusia tidak digambarkan sebagai subjek yang utuh dan mapan, melainkan sebagai kumpulan keadaan yang saling bertabrakan. Namun, Husain melangkah lebih jauh dari sekadar pengakuan psikologis—ia membangun argumen teologis yang menggetarkan:
MENGAIS SEPERCIK DARI SEGARA DOA ARAFAH
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz DR. Muhsin Labib, MA
Doa Arafah adalah sebuah bentangan kesadaran spiritual yang tidak sekadar berbentuk permohonan, melainkan semacam peta batin tentang bagaimana manusia memahami dirinya di hadapan Yang Tak Terhingga.
Haji: Ziarah Keesaan dan Transformasi Peleburan (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz DR. Muhsin Labib, MA
Dalam fikih Ahlulbait, pelaku haji dilarang memakai wewangian atau segala bentuk kepura-puraan yang menutupi hakikat diri. Bahkan bercermin pun dilarang, sebab narsisme dan kesombongan adalah dosa yang dikenai sanksi berat. Kepala dibiarkan terbuka, membiarkan sengatan matahari menjadi pengingat akan dahsyatnya hari mahsyar. Haji juga mengajarkan cinta pada kehidupan — tak boleh membunuh seekor nyamuk atau mencabut tanaman tanpa alasan.
Haji: Ziarah Keesaan dan Transformasi Peleburan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz DR. Muhsin Labib, MA
“Barang siapa yang mampu menangkap ruh keesaan Allah dalam ibadah haji, ia tak akan membiarkan jiwanya terjerumus ke dalam kehinaan dan penindasan.” — Imam Ali bin Abi Thalib
Wilayah Sebagai Inti Agama
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Jika seluruh riwayat ini dibaca secara menyeluruh, tampak sebuah benang merah yang kuat: wilayah bukan tema pinggiran dalam agama, melainkan inti dari keberlangsungan risalah.
Muhkam dan Mutasyabih dalam Sejarah Umat
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Dalam salah satu riwayat yang menarik, Imam Ja’far al-Shadiq as mengaitkan ayat tentang muhkam dan mutasyabih dengan realitas sejarah umat Islam.
Para Imam sebagai Pembimbing Kebenaran
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang menjadi pusat petunjuk Ilahi di setiap zaman. Sebagaimana Al-Qur’an merupakan petunjuk tertulis, para Imam adalah petunjuk hidup yang menjelaskan dan menjaga makna Al-Qur’an dari penyimpangan.
Mengganggu Ali Berarti Mengganggu Rasul
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Al-Qur’an melarang kaum mukmin menyakiti Rasulullah saw. Dalam riwayat-riwayat Ahlulbait, larangan ini juga mencakup tindakan memusuhi Ali as dan para Imam. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw: “Barang siapa menyakiti Ali, maka sungguh ia telah menyakitiku.”
Ketaatan yang Mengantarkan Keberuntungan
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Penafsiran ini berangkat dari prinsip bahwa para Imam adalah penerus otoritas Rasulullah saw dalam menjaga agama. Maka, ketaatan kepada mereka merupakan kelanjutan dari ketaatan kepada Nabi, sebagaimana penolakan terhadap mereka berarti penolakan terhadap sistem petunjuk Ilahi yang telah ditetapkan Allah. (Al-Kafi, jil. 1, Kitab al-Hujjah; Nur al-Tsaqalayn, jil. 4).