Artikel
-
Al Qur'an Al Karim
Artikel: 567, Kategori: 4 -
Akidah
Artikel: 44, Kategori: 5 -
Rasulullah & Ahlulbait
Artikel: 356, Kategori: 15 -
Hadits & Ilmu Hadits
Artikel: 7, Kategori: 4 -
Fiqih & Ushul Fiqih
Artikel: 19, Kategori: 2 -
Sejarah & Biografi
Artikel: 101, Kategori: 3 -
Bahasa & Sastra
Artikel: 12, Kategori: 2 -
Keluarga & Masyarakat
Artikel: 1806, Kategori: 3 -
Akhlak & Doa
Artikel: 249, Kategori: 3 -
Filsafat & Irfan
Artikel: 305
Titik Balik Kehidupan Manusia dalam Pengutusan Nabi Muhammad Saw (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- soleh lapadi
Dalam Khutbah 89 Nahj al-Balagha, Imam Ali as, penerus Nabi Muhammad Saw, menyajikan gambaran akurat tentang kondisi sosial dan intelektual sebelum misi Nabi, “Allah mengutus Muhammad pada saat tidak ada nabi yang diutus, manusia tertidur lelap, fitnah semakin meningkat, keadaan kacau, api peperangan berkobar, dunia menjadi gelap dan penuh tipu daya, daun pohon kehidupan telah menguning, dan tidak ada harapan akan berbuah.”
Titik Balik Kehidupan Manusia dalam Pengutusan Nabi Muhammad Saw (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- soleh lapadi
Misi Nabi Muhammad Saw dapat dianggap sebagai titik balik dalam sejarah. Sebuah peristiwa yang, dengan mengandalkan pembacaan Al-Qur'an, penyucian, pengajaran, dan kebijaksanaan, telah mengubah struktur intelektual dan sosial manusia.
Pendidikan Sebelum Penyelewengan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Taqi Misbah Yazdi
Pesan tidak langsung yang sangat kuat dalam wasiat ini adalah pentingnya islah (pembenahan) sebelum inhiraf (penyimpangan). Imam Ali as seakan berkata: jangan menunggu hati ternoda baru membersihkannya. Karena dosa yang menumpuk akan mematikan sensitivitas moral.
28 Rajab: Hari Ketika Imam Husain Meninggalkan Madinah (3)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Para sejarawan mencatat bahwa Imam Husain berulang kali menegaskan alasan perjalanannya. Ia tidak keluar untuk ambisi pribadi, tidak pula untuk mencari kerusakan. Ia keluar karena merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki umat kakeknya. Pernyataan ini diriwayatkan dalam berbagai redaksi, namun maknanya sama: keheningan di hadapan penyimpangan adalah bentuk keterlibatan. (Maqtal al-Husain, Abu Mikhnaf; Tarikh al-Tabari, jil. 4)
Menghargai Kesempatan Sebelum Hilang
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Taqi Misbah Yazdi
“Kesempatan berlalu seperti awan; maka tangkaplah kebaikan ketika ia datang.” (Ghurar al-Hikam, no. 2904)
Islam yang Diselamatkan oleh Al-Husain
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mahdi Ayatullahi
Dari seluruh rangkaian nash ini, satu kesimpulan menjadi tak terelakkan: Imam Al-Husain a.s. bukan hanya produk Islam, tetapi penjaga Islam. Syahadahnya di Karbala adalah kelanjutan logis dari kedudukan yang telah ditegaskan sejak kelahirannya.
Wasiat Maksum untuk Semua Manusia
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Taqi Misbah Yazdi
Sebagian orang mungkin bertanya: apakah seorang maksum memerlukan wasiat seperti ini? Jawabannya terletak pada tujuan wasiat itu sendiri. Imam Ali as tidak menyampaikan wasiat ini dalam kapasitas kemaksuman, tetapi sebagai ayah. Dengan demikian, beliau menjadikan dirinya dan putranya sebagai “peraga” agar setiap ayah dan anak dapat bercermin.
Sunnah Nabi: Al-Husain sebagai Ukuran Iman
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mahdi Ayatullahi
Hadis-hadis Nabi Saw semakin menegaskan posisi ini. Dalam Shahih al-Tirmidzi, diriwayatkan dari Ya‘la bin Murrah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Husain adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Husain.”
Bulan Sya‘ban: Bulan Kelahiran Para Manusia Agung dan Malam Harapan (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- Wikishia
“Saya mengucapkan selamat kepada semua kaum Mukminin atas datangnya bulan Syakban yang penuh berkah. Bulan ini adalah bulan di mana Imam Husain ibn Ali (as), Imam Ali ibn al-Husayn (as), dan Abal Fazl al-Abbas dilahirkan. Bulan ini merupakan kesempatan yang besar untuk kembali kepada Allah dan memohon ampunan.”
Merajut Syukur dalam Keseharian
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Dalam kehidupan praktis, bagaimana kita menghidupi ajaran ini? Mulailah dari hal sederhana. Di pagi hari, sebelum menyentuh gawai, ucapkan Hamdalah (Alhamdulillahi robbil ‘alamin) dilanjutkan dengan Shalawat Nabi Saw terima kasih untuk napas pertama yang masuk ke paru-paru. Saat minum air, jangan lupa Basmalah, rasakan kesegaran yang mengalir, dan ucapkan syukur dengan mengingat Kekasih Allah yang kehausan saat Syahidnya (Cucu Nabi Saw, Imam Husain as), dilanjutkan dengan Hamdalah.