Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Apa maksud riwayat-riwayat yang mengecam warga kota Mekah dan Madinah serta menganggap warga Suriah lebih buruk dari warga Roma?

0 Pendapat 00.0 / 5

Dua riwayat yang dikutip dalam pertanyaan merupakan riwayat-riwayat sahih dari sisi sanad.


Riwayat pertama menyandarkan sifat kufur kepada warga Mekah dan Madinah disebabkan oleh karena sebagian dari warga Mekah dan Madinah meski dengan adanya dalil-dalil dan bukti-bukti terang akan keberadaan Tuhan, sikap permusuhan, kebencian dan takabur, namun mengingkari Tuhan sedemikian sehingga mereka keluar dari rel dan jalur Islam dan Muslimin. Demikian juga sebagian warga Mekah dan Madinah menyatakan kebencian mereka terhadap keluarga suci Rasululah Saw.


Riwayat kedua: Kemungkinan ucapan ini dikeluarkan pada masa Bani Umayah dimana sebagian warga Suriah (Syam) menyatakan Islam secara lisan namun kafir dalam hati. Mereka adalah orang-orang yang melaknat dan mencela Imam Ali As dan hal ini merupakan kekufuran kepada Allah Swt. Namun orang-orang Kristen tidak melakukan hal ini. Karena itu atas dasar ini mereka lebih buruk dari warga Roma.

Kirannya kita perlu camkan poin ini bahwa kelompok pertama riwayat tidak mencakup seluruh warga di wilayah ini; karena di antara mereka terdapat kaum Muslimin dan orang-orang yang beriman kepada Islam dan para Imam Maksum As. Dan hanya orang-orang yang benci, memusuhi dan bersikap keras kepala, setelah mengenal kebenaran dan hakikat, namun menolaknya yang termasuk dari riwayat-riwayat di atas dan tidak termasuk sebagai orang yang selamat.

Adapun orang-orang yang secara umum hidup di Mekah, Madinah, Suriah dan Roma adalah orang-orang yang tidak tahu menahu tentang hal ini serta tidak memiliki permusuhan dan kebencian, dengan kemurahan dan rahmat Ilahi adalah termasuk orang-orang yang selamat.


Dua riwayat yang dikutip dalam pertanyaan merupakan riwayat-riwayat sahih dari sisi sanad. Berikut ini mari kita kaji riwayat ini dari sisi sanad dan petunjuknya (dalâlah).

Abu Basir meriwayatkan dari Imam Baqir As atau dari Imam Shadiq As, "Sesungguhnya orang-orang Mekkah telah kafir kepada Tuhan secara terang-terangan dan orang-orang Madinah lebih nista daripada orang-orang Mekkah. Mereka lebih nista tujuh puluh kali."[1]

Untuk memahami dan menyimpulkan secara benar riwayat ini kiranya perlu memperhatikan beberapa poin berikut ini"

 

Apabila kita menelisik pelbagai peristiwa yang terjadi pada warga Mekah semenjak zaman Nabi Saw dan seterusnya kita akan jumpai bahwa biasanya warga Mekkah mereka tunjukkan jati dirinya sebagaimana adanya; artinya apabila mereka beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya mereka akan menyatakannya demikian dan apabila mereka musyrik mereka akan menyatakan kemusyrikannya. Sikap dan perilaku mereka terhadap Rasulullah Saw dan kaum Muslimin jelas. Mereka tidak bersikap mendua dan hipokrit.[2]

 

Namun galibnya penduduk kota Madinah tidak demikian. Semenjak Rasulullah Saw datang dari Mekkah ke Madinah, sikap mendua dan hipokrit di antara sebagian orang yang menampakkan dirinya sebagai seorang Muslim tersebar. Kelompok munafik ini sedemikian kosong dari kebenaran dan sedemikian mereka mahir melakukan kemunafikan sehingga ia dapat menempatkan dirinya pada barisan kaum Muslim sejati tanpa ada yang menyadarinya; al-Quran membongkar tindak tanduk sekelompok orang munafik, motivasi-motivasi dan sifat-sifat mereka dalam beberapa surah seperti al-Baqarah, Ali Imran (3), al-Maidah (5), al-Taubah (9), al-Ankabut (29), al-Ahzab (33), Muhammad (47), al-Fath (48), al-Hadid (57), al-Mujadalah (58), al-Hasyr (59) dan al-Munafikun (63). Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang munafik adalah kelompok yang penting dalam masyarakat Islam. Sebagian mereka dikenal dengan namanya, sebagian dengan dustanya dan sebagian lainnya tidak dikenal, karena mereka mengenakan kedok iman dan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Apabila orang-orang munafik itu adalah kelompok yang berjumlah sedikit dan tidak begitu berarti, tentu saja al-Quran tidak akan sedemikian banyak bercerita tentang mereka.[3] Al-Quran terkait dengan hal ini menyatakan, "Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar." (Qs. Al-Taubah [9]:101)

 

Penyandaran kekufuran kepada warga Mekkah; hal itu disebabkan oleh karena sebagian pendudukan Mekkah dan Madinah, meski dengan bukti-bukti nyata dan dalil-dalil terang tentang keberadaan Tuhan, mereka mengingkari Tuhan karena kebencian, permusuhan dan sikap angkuh sedemikian sehingga mereka keluar dari rel Islam dan jalur utama kaum Muslimin.[4] Begitu pula karena sebagian warga Mekkah dan Madinah melontarkan permusuhan kepada keluarga Rasulullah Saw[5] yang sebagiannya masih tetap berlanjut hingga hari ini. Warga Mekkah dan kebanyakan masyarakat Hijaz cenderung tidak menyukai Bani Hasyim khususnya Imam Ali As dan keluarganya. Mereka lebih condong ke para pemimpin Saqifah dan setelahnya khususnya Bani Umayyah. Imam Sajjad As menyingkap realitas ini dengan berkata, "Di Mekkah dan Madinah kami tidak memiliki 20 puluh orang yang mencintai kami."[6] Abu Ja'far Iskafi dalam hal ini berkata, "Seluruh warga Mekah memusuhi Imam Ali dan seluruh Quraisy berada pada kubu yang menentangnya serta seluruh orang beserta Bani Umayah berkomplot untuk melawannya."[7]


Sebagian orang berkata, "Adapun kekufuran yang disandarkan kepada warga Mekkah disebabkan oleh karena mereka membangkang atau menyembah selain Tuhan atau lantaran mereka tidak menyukai para wali Allah;[8] karena Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun yang datang dari tempat yang jauh (berhak mendapatkan azab Ilahi), dan barang siapa yang bermaksud menyeleweng dari kebenaran dan berbuat zalim di dalam negeri ini, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih." (Qs. Al-Hajj [22]:25) Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Imam Shadiq As dalam menafsirkan ayat ini berkata, "Barang siapa (bermukim) di Mekkah menyembah selain Tuhan atau tidak mencintai para wali Allah maka ia telah menjadi musyrik dan bagi Allah Swt menimpakan azab pedih kepadanya."[9]

 

Abu Bakar Hadhrami berkata, "Saya bertanya kepada Abi Abdillah As, ‘Apakah orang-orang Suriah yang buruk atau orang-orang Roma?' Imam Shadiq As menjawab, "Sesungguhnya orang-orang Roma kafir namun mereka tidak memusuhi kami sementara orang-orang Suriah (Syam) telah kafir dan memusuhi kami."[10]

Kemungkinan ucapan ini disampaikan pada masa Bani Umayyah dimana orang-orang Syam adalah para pengikut Bani Umayah dan menjadi antek-anteknya. Sebagian dari mereka adalah orang-orang munafik yang menyatakan Islam dengan lisannya namun ingkar dalam hatinya dan tentu saja seorang munafik lebih buruk dari orang kafir.


Mereka adalah orang-orang yang memaki dan melaknat Imam Ali As yang mana perbuatan ini sendiri merupakan bentuk kekufuran kepada Allah Swt namun orang-orang Kristen dan Roma tidak melakukan hal demikian. Karena itulah mereka lebih buruk dari orang-orang Roma. Perbedaan di antara kota-kota ini adalah karena kebanyakan penentang pada waktu itu adalah kelompok Nashibi yang menyimpang dari Ahlulbait As. Sebab perbedaannnya terletak pada permusuhan mereka terhadap Ahlulbait As. Karena itu tidak terdapat keraguan bahwa orang-orang Nasibi lebih nista daripada orang-orang kafir.[11]


Nasai, pengarang buku al-Sunan al-Kubrâ salah satu literatur riwayat terama Ahlusunnah, tatkala memasuki Syam ia menyadari bahwa masyarakat di kota itu memiliki kebencian yang sengit terhadap Imam Ali As dan mereka mencela Imam Ali As; karena itu tatkala al-Nasai menyusun sebuah buku terkait dengan kemuliaan dan keutamaan Imam Ali As yang kemudian menimbulkan reaksi negatif pada warga Syam. Mereka meminta Nasai untuk menulis buku tentang keutamaan Muawiyah. Nasai tidak memenuhi permintaan ini dan dalam menjawab permintaan itu, ia berkata, "Saya tidak melihat satu pun keutamaan pada diri Muawiyah, kecuali satu hal yaitu tatkala Rasulullah Saw bersabda, "Semoga Allah tidak mengenyangkan perut Muawiyah."[12] Mendengar itu, warga Syam sedemikian menghajarnya sehingga Nasai jatuh sakit dan akibatnya ia meninggal dunia."[13]


Bagaimanapun, perlu diperhatikan bahwa kelompok riwayat ini tidak mencakup seluruh warga di tempat-tempat ini; hal itu disebabkan oleh dua dalil: Pertama: Tentu saja di antara mereka terdapat kaum Muslimin dan orang-orang beriman kepada Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As.


Kedua: Dari al-Quran dan riwayat dapat disimpulkan bahwa kaum Mustadhafin yaitu orang-orang yang tidak memiliki akses untuk menerima bimbingan, tidak dapat melakukan hijrah ke negeri-negeri lain dan lain sebagainya. Namun mereka hidup sesuai dengan fitrah manusia, akan tetap memperoleh rahmat Ilahi yang mahaluas.[14] Karena itu hanya mencakup orang-orang yang membenci dan bersikap keras kepala, setelah mengenal kebenaran dan hakikat, kemudian menampiknya. Demikian juga orang-orang yang memandang enteng dalam mengenal kebenaran dan dianggap sebagai muqasshir termasuk orang-orang yang dimaksud dalam riwayat-riwayat di atas dan bukan termasuk orang-orang yang selamat.


Adapun orang-orang yang pada umumnya hidup di Mekah, Madinah, Suriah dan Roma adalah orang-orang yang tidak tahu menahu tentang hal ini serta tidak memiliki permusuhan dan kebencian, dengan kemurahan dan rahmat Ilahi adalah termasuk orang-orang yang selamat.

 

[1]. Muhammad Yakub Kulaini, al-Kâfi, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, jil. 2, hal. 410, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Keempat, 1407 H. Sesuai dengan hasil penelitian dalam beberapa literatur hadis rijal; seluruh perawi hadis ini telah mendapat tautsiq. Karena itu hadis ini dari sisi sanad merupakan hadis sahih.


عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عِیسَى عَنْ سَمَاعَةَ عَنْ أَبِی بَصِیرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا(ع) قَالَ: «إِنَّ أَهْلَ مَکَّةَ لَیَکْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِینَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَکَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِینَ ضِعْفاً».


[2]. Sebab Penolakan Islam oleh Masyarakat Mekkah dan Penerimaan Masyarakat Madinah, Pertanyaan 30250.


[3]. Ja'far Subhani, Simâi ‘Aqâid Syiah, terjemahan Persia Dalil al-Mursyidin ila al-Haq al-Yaqin oleh Jawad Muhadditsi, hal. 329, Nasyr Ma'syar, Teheran, Cetakan Pertama, 1386 S.


[4]. Yusuf bin Ahmad Muhaddits Bahrani, al-Hadâiq al-Nâdhirah fi Ahkam al-‘Itrah al-Thâhirah, Riset dan edit oleh Muhammad Taqi Irawani dan Sayid Abdurrazaq Muqarram, jil. 5, hal. 183-184,Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakan Pertama, 1405 H.


[5]. Muhammad Baqir Majlisi, Mir'at al-‘Uqul fi Syarh Akhbar Âli al-Rasul, Riset dan edit oleh Hasyim Rasuli Mahallati, jil. 11, hal. 220, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Kedua, 1404 H; Muhammad Hasan Najafi, Jawâhir al-Kalâm fi Syarh Syarâ'i al-Islâm, Riset dan edit oleh Abbas Qucani dan Ali Akhundi, jil. 6, hal. 60-61, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Ketujuh, 1404 H.


[6]. Ibrahim bin Muhammad bin Said bin Hilal Tsaqafi, al-Ghârat aw al-Istinfâr wa al-Ghârat, Riset dan edit oleh Jalaluddin Muhaddits, jil. 2, hal. 573, Anjuman Atsar Melli, Teheran, Cetakan Pertama, 1395 H; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, Riset dan edit oleh Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, jil. 4, hal. 104, Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi, Qum, Cetakan Pertama, 1404 H.


[7]. Syarh Nahj al-Balâghah, jil, 4, hal. 103.


[8]. Muhammad Saleh bin Ahmad Sarwi Mazandarani, Syarh al-Kafi (al-Ushul wa al-Raudhah), Riset dan edit oleh Abul Hasan Sya'rani, jil. 10, hal. 108, al-Maktabah al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Pertama, 1382 H.


[9]. Al-Kâfi, jil. 8, hal. 337.


[10]. Ibid, jil. 2, hal. 410. Sesuai dengan hasil penelitian dalam beberapa literatur hadis rijal; seluruh perawi hadis ini telah mendapat tautsiq (label tsiqah). Karena itu hadis ini dari sisi sanad merupakan hadis sahih.


مُحَمَّدُ بْنُ یَحْیَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عِیسَى عَنِ الْحُسَیْنِ بْنِ سَعِیدٍ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ أَیُّوبَ عَنْ سَیْفِ بْنِ عَمِیرَةَ عَنْ أَبِی بَکْرٍ الْحَضْرَمِیِّ قَالَ: قُلْتُ لِأَبِی عَبْدِ اللَّهِ(ع) أَهْلُ الشَّامِ شَرٌّ أَمْ أَهْلُ الرُّومِ فَقَالَ: «إِنَّ الرُّومَ کَفَرُوا وَ لَمْ یُعَادُونَا وَ إِنَّ أَهْلَ الشَّامِ کَفَرُوا وَ عَادَوْنَا»


[11]. Mir'at al-‘Uqul fi Syarh Akhbar Âli al-Rasul, jil. 11, hal. 219-220.


[12]. Abu Daud Sulaiman bin Daud Thiyalisi, Musnad Abi Daud al-Thiyâlisi, Riset oleh Muhammad bin Abdul Muhsin Turki, jil. 4, hal. 464, Dar Hajir, Mesir, Cetakan Pertama 1419 H; Muslim bin Hajjaj, Qusyairi Naisyaburi, al-Musnad al-Mukhtashar benaqli al-‘Adl ‘an al-Adl ili Rasulillah Saw (Shahih Muslim), Riset oleh Muhammad Fuad Abdul al-Baqi, jil. 4, hal. 2010, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Tanpa Tahun.


[13]. Ali bin Muhammad Harawi Qarawi, Mirqat al-Mafâtih Syarh Misykat al-Mashâbih, jil. 1, hal. 26, Dar al-Fikr, Beirut, 1422 H; Mir Husain Hamid, ‘Abaqât al-Anwâr fi Itsbât Imâmah al-Aimmah al-Athar, jil. 13, hal. 181, Kitabkhane Amir al-Mu'minin, Isfahan, Cetakan Kedua, 1366 S.


[14]. Silahkan lihat, Orang-orang Qashir dan Keselamatan dari Neraka, Pertanyaan 323; Neraka dan Non-Muslim, 47.