Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Sejarah Islam Sampai ke Nusantara

0 Pendapat 00.0 / 5


Oleh: Ahmad Hidayat

Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Karena itu sebagaimana fithrahnya, maka cepat atau lambat akan menyebar keseluruh dunia dan memenuhi alam semesta. Keniscayaan inilah yang kemudian membawanya sampai ke wilayah Nusantara Indonesia.

Kepulauan Melayu-Indonesia terletak dibagian ujung dunia Muslim. Ia merepresentasikan salah satu wilayah paling jauh dari pusat-pusat Islam di Timur Tengah. Fakta geografis ini sangat penting jika orang mencoba memahami dan menjelaskan islamisasi di kawasan ini. Jauhnya Nusantara membuat islamisasi ini sangat berbeda dengan islamisasi di kawasan umat Islam lainnya di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Selatan. Berlawanan dengan wilayah-wilayah semacam Persia dan India – yang dalam banyak hal mengalami islamisasi setelah ekspansi militer dan kekuatan politik Islam dari Asia Barat – praktis tidak ada satu bagian dari kepulauan Melayu-Indonesia yang mengalami islamisasi seperti itu. Di sisi lain, Islam datang ke Indonesia ketika agama tersebut bukan lagi merupakan agama yang unggul baik secara politik, ekonomi, militer, maupun budaya, tetapi secara umum mengalami masa-masa surut. Konsekwensinya, umat Islam tidak mampu mendesakkan pengaruhnya untuk mentransformasi budaya lokal menjadi konstruk peradaban Islam yang sebenarnya.
Islam bukan merupakan arus yang cukup kuat ketika pertama kali menyebarkan agamanya. Karena itu para sejarawan menyebutkan bahwa, “penyebaran Islam lebih bersifat asimilatif ketimbang revolusioner. Islam datang ke Nusantara bukan melalui penaklukan tetapi melalui jalur perdagangan. Para sarjana dan peneliti tentang proses kedatangan dan penyebaran Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia hampir bersepakat dengan kenyataan bahwa islamisasi di kawasan ini umumnya terjadi melalui jalan damai. Tentu saja ada sedikit kasus tentang penggunaan kekuatan oleh penguasa Muslim Melayu-Indonesia untuk mengonversi rakyat atau masyarakat di sekitarnya menjadi Islam, tetapi secara umum pengislaman berlangsung melalui cara-cara damai.

Islam harus banyak berkompromi dengan berbagai elemen tradisi lokal dan bersikap toleran terhadap berbagai tradisi yang asing bagi karakter dasarnya. Oleh karena itu, Islam dianggap sebagai sekedar suatu lapisan tipis dari berbagai simbol yang dilekatkan kepada inti ajaran-ajaran animisme dan/atau tradisi Hindu-Budha, hal ini terutama sekali terjadi di pulau Jawa.

Para sejarawan tidak memiliki kesepakatan tentang kapan tepatnya Islam mulai memasuki wilayah Nusantara. Sebagian besar menyebutkan bahwa Islam pertama kali dikenal di Indonesia sekitar abad ke 3 Hijriah/abad ke 9 masehi atau bahkan lebih awal dari itu. Namun Islam tidak menyebar di seluruh wilayah dalam intensitas yang sama. Pada awalnya Islam tampak berkembang pesat di wilayah-wilayah yang tidak banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Budha, seperti Aceh, Banten, Sumatra Barat, Makassar dan Maluku, serta wilayah-waliyah lain yang para penguasa lokalnya memiliki akses langsung kepada peradaban kosmopolitan berkat maraknya perdagangan antar bangsa ketika itu. (lihat J.C. Van Leur, Indonesian Trade and Society, dalam DR. Fauzan Saleh, Teologi Pembaruan). Di wilayah-wilayah ini, Islam dapat memainkan peran yang signifikan dalam kehidupan sosial dan mempengaruhi secara mendalam kesadaran keagamaan serta hubungan sosial-politik pada penganutnya yang baru.

Dalam sebuah buku yang cukup terkenal, A History of Modern Indonesia; c 1300 to the Present., M.C. Ricklefs, mengatakan bahwa abad ke 14 merupakan babak pertama sejarah Indonesia modern. Ia menyebutkan bahwa elemen fundamental yang menyebabkan periode sejarah sejak sekitar tahun 1300-an, yakni segi kultural dan religius, bahwa Islamisasi Indonesia sejak tahun 1300-an masih terus berlangsung hingga kini. Setidaknya hingga pertengahan abad ke 15, umat Islam bukan saja telah menyebar luas keseluruh kepulauan Indonesia, tapi secara sosial bahkan telah muncul menjadi agen perubahan sejarah yang penting. Meskipun belum sepenuhnya mencapai kepedalaman, mereka misalnya telah banyak membangun apa yang disebut sebagai, “diaspora-diaspora perdagangan” terutama di pesisir pantai. Dengan dukungan kelas saudagar terhadap para ulama, proses Islamisasi berlangsung secara besar-besaran dan hampir menjadi landscape histories yang dominan di Indonesia ketika itu.

Penyebaran Islam dari Daerah-Ke daerah

Untuk mengelaborasi lebih jauh, penduduk daerah pesisir yang secara ekonomi bergantung pada perdagangan internasional, dalam satu dan lain hal, cenderung menerima Islam dalam rangka mempertahankan para pedagang Muslim yang sudah berada di Nusantara sejak paling kurang pada abad ke 7, untuk tetap mengunjungi dan berdagang di pelabuhan-pelabuhan mereka. Dengan masuk Islam, penguasa lokal pada batas tertentu mengadobsi aturan-aturan perdagangan Islam untuk digunakan dalam masyarakat pelabuhan sehingga pada gilirannya akan menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi perdagangan. Contoh kasus ini adalah konversi penguasa Malaka, Parameswara, yang agaknya menerima Islam demi menarik kedatangan para pedagang Muslim ke pelabuhannya yang baru di bangun.

Sejak saat itu Islam mulai menyebar dan secara alami terjadi proses asimilasi dan akulturasi terhadap budaya lokal. Dalam seminar tentang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Aceh pada tahun 1978, menyebutkan bahwa Perlak, Lamuri dan Pasai adalah kerajaan Islam yang pertama di Indonesia. Menurut Prof. A. Hasymi, kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada abad ke 3 Hijriah. Hanya saja terdapat sedikit perbedaan mengenai tahun berdirinya kerajaan tersebut, ada yang menyebutkan 225 H dan yang lain menyebut 227 H. (Lihat Izhhar al-Haqq dan Tadzkirah Thabaqat dalam Prof A. Hasymi. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, PT. Alma’arif, Bandung 1981).

Dalam keterangan Marcopolo mengatakan bahwa, “perlu diketahui bahwa Perlak selalu disinggahi saudagar Arab, sebab di kerajaan Perlak ini mereka telah mengislamkan penduduknya.”

Selanjutnya Prof. A. Hasymi menulis, pada tahun 173 H sebuah kapal layar telah berlabuh di Bandar Perlak, membawa angkatan dakwah dibawah Nakhoda Khalifah, yang datang dari Teluk Kambay Gujarat, pada tanggal 1 Muharram 225H Kerajaan Perlak di Proklamasikan menjadi sebuah kerajaan Islam dan Sayid Abdul Aziz dilantik menjadi raja dengan gelar Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah.

Angkatan dakwah yang dipimpin Nakhoda Khalifah berjumlah 100 orang yang terdiri dari orang Arab, Persia, dan India. Salah seorang dari mereka adalah Sayid Ali dari suku Quraisy yang kawin dengan seorang putri Perlak yaitu Makhdum Tansyuri adik dari Meurah (kepala suku) Perlak yang bernama Syahir Nuwi, adalah anak dari Pangeran Salman yang datang ke Perlak 50 tahun sebelum kedatangan angkatan dakwah tersebut. Jadi dapat diduga bahwa Islam masuk ke Aceh pada awal abad ke dua Hijriah atau akhir abad pertama Hijriah.

Dari perkawinan Sayid Ali dengan Makdum Tansyuri lahirlah Sayid Abdul Aziz. Dari sini dapat kita telusuri bahwa silsilah Sayid Abdul Aziz adalah Abdul Aziz bin Ali bin al-Muktabar bin Muhammad ad-Diba bin Jakfar Shiddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain asy-Syahid bin Ali bin Abi Thalib/Fathimah binti Rasulullah Saw.

Sejak saat itu penyebaran Islam dari daerah ke daerah mengalami perkembangan yang pesat. Sejumlah kerajaan seperti kerajaan Pasai, kerajaan Aceh sampai ke Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Pariaman juga menerima Islam.

Di Pasai pada pemerintahan Raja Meurah Silu (al-Malik as-Saleh) yang memerintah Samudra Pasai pada tahun 650-688 H / 1261-1289 M menunjukkan bahwa beliau adalah keterunan Raja Perlak, yaitu Makhdum Sultan malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (365 - 402 H / 976 – 1012 M). Pada masa kejayaannya di masa pemerintahan Sultan Ahmad Bahian Syah Malik az-Zahir tahun 727-750 H/1326-1345M, Samudera Pasai memainkan peranan dalam perkembangan Islam di Jawa dan Sulawesi.

Sejak saat itulah di wilayah kerajaan-kerajaan Aceh berdatangan sejumlah ulama dari Arab yang mengajarkan Islam. Di antaranya adalah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisy atau Syekh Nuruddin ar-Raniry, dari Gujarat, India. Tahun 1031 H/1621 M belajar ke Tarim, Hadramaut, kemudian melanjutkan ke Mekkah dan Madinah. Nuruddin ar-Raniry adalah pengikut Tarekat Rifaiyah, yang didirikan oleh Ahmad Rifa’i. Ia masuk terekat tersebut atas rekomendasi dari Sayid Abu Hafis Umar bin Abdullah Basyaiban dari Tarim. Sedangkan Basyaiban di rekomendasi oleh gurunya Sayid Muhammad Alaydrus yang lahir tahun 1561 M. di samping ulama seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani (1638 M), dan Abdurauf Singkel (1693 M)

Di Sumatra bagian Selatan menurut Ahmad mansyur Suryanegara dalam makalah yang berjudul Masuknya Agama Islam ke Sumatra Selatan, menulis bahwa, pertama. Penguasaan jalan laut perdagangan oleh bangsa Arab jauh lebih maju dari bangsa Barat. Jauh sebelumnya bangsa Arab telah mengusai samudra India atau Samudra Persia. Sekitar abad ke 10 navigasi perdagangannya sudah sampai ke Korea dan Jepang, di tengah perjalanan di Selat Malaka mereka berhubungan dagang dengan Zabaj (Sriwijaya), karena suluruh kapal yang melewati Selat Malaka singgah mengambil perbekalan di bandar Sriwijaya. Kedua, dapat dipastikan bahwa Islam masuk di daerah Sriwijaya pada abad ke-7. hal ini mengingat cerita buku sejarah Cina yang menyebutkan bahwa Dinasti Tang memberitakan tentang utusan Tache (sebutan untuk orang Arab) ke Kalingga pada tahun 674 M. dari sana dapat disimpulkan bahwa pada saat itu telah terjadi proses Islamisasi. Apalagi disebutkan bahwa pada zaman Dinasti Tang telah dikabarkan bahwa telah ada perkampungan Arab Muslim di pantai barat Sumatra pada tahun 674 M. ketiga, Para penulis seperti Ibnu Batuta (900M), Sulaiman (850M), dan Abu Said (950 M) menyebutkan bahwa sejak kekhalifahan Umayyah (661-750M) dan Abbasiyah (750-1268M) hubungan dagang mereka telah samapai ke wilayah kekuasaan Sriwijaya. Juga di saat yang sama para pedagang Sriwijaya telah berlayar ke negara-negara Timur Tengah.

DR. taufiq Abdullah dalam makalahnya yang berjudul beberapa Aspek Perkembangan Islam di Sumatra Selatan, menulis. “….setidaknya sejak akhir abad ke 16 Palembang merupakan salah satu enclave Islam terpenting atau bahkan pusat Islam di bagian selatan ‘pulau emas’ ini. Ini bukan saja karena reputasinya sebagai pusat perdagangan yang banyak dikunjungi oleh pedagang Arab/Islam pada abad-abad kejayaan Sriwijaya, tetapi juga dibantu oleh kebesaran Malaka. Ini berarti proses Islamisasi telah terjadi jauh sebelumnya…”

Salman Aly di dalam makalahnya yang berjudul Sejarah Kesultanan Palembang, menulis. “Pada waktu Gede Ing Suro mendirikan kesultanan Palembang, agama Islam telah lama ada di kawasan ini kira-kira pada tahun 1440 M…orang-orang Arab di masa ini terdapat sekitar 500 jiwa yang kebanyakan tinggal di tepi Sungai Musi…”

Di masa Sultan Muhammad Mansur, terdapat seorang ulama yaitu Sayid Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Fakih Jalaluddin yang berjasa menyebarkan agama Islam di daerah Komering Ilir dan Komering Ulu bersama-sama dengan ulama lainnya yaitu Sayid al-Idrus yang sekaligus merupakan nenek moyang masyarakat dusun Adumanis.

Di pulau Jawa, menurut laporan sejarawan bahwa Islam sampai pada abad ke 13. dokumen yang paling awal yang dianggap dapat dipercaya bagi penyebaran Islam di tanah Jawa ialah ditemukannya batu nisan makam fathimah binti Maimun (1082) di desa Leran, Gresik, Jawa Timur. Lihat G.W.J. Drewes, “New Ligh on the Coming of Islam in Southeast Asia dalam Ahmad Ibrahim et al (eds), Reading on Islam in Southeast Asia (Siangapore; Institute of Southeast Asian Studies, 1985), h. 7 – 19. dan lihat juga, “Makam Siti Fathimah binti Maimun; awal sejarah Gresik terlupakan”, Kompas, 10 Mei 2002, h. D (Suplemen Jawa Timur).

Dalam buku Sejarah Tanah Jawa karangan Fruin Mees, jilid II halaman 8, dikatakan sebagai berikut; “Sunan Kalijaga hidup pada awal abad ke enam di Kerajaan Kadilangu, Demak. Di sana terdapat sebuah masjid terkenal yang didirikan pada tahun 874 H (1468M). sebelum itu Demak di namakan Bintara. Maka di pastikan di masa sebelum itu Islam telah ada di sana…”

Seluruh sejarawan menyebutkan bahwa penyebaran Islam di pulau Jawa adalah para wali sembilan yang lebih terkenal walisongo. Tokoh yang paling utama dan tertua dari sembilan wali adalah Maulana Magribi atau Maulana Malik Ibrahim. Beliau datang ke pulau Jawa dan menetap di sebuah desa yang bernama Leran, terletak di luar kota Gresik. Kota Gresik pada saat itu merupakan kota pelabuhan perdagangan yang sering dikunjungi oleh para pedagang dari luar negeri. Ketika sampai di Gresik Maulana Malik Ibrahim menghadap ke Raja Majapahit untuk menyatakan maksud kedatangannya untuk berdakwa dan sekaligus mengajaknya masuk Islam. Oleh Raja Majapahit beliau diberi sebidang tanah di desa Gapura, Gresik sebagai tempat mengembangkan agama Islam. Tanah itu kemudian dikenal dengan nama “tanah perdikan”. Di atas tanah itu didirikan sebuah Masjid untuk pusat kegiatan ibadah dan dakwah.

Berdasarkan tulisan yang ditemukan pada batu nisan Maulana Malik Ibrahim, beliau wafat pada tahun 1419 M. dalam riwayat hidupnya, beliau berdakwa di Gresik selama 20 tahun. Jadi dapat diduga bahwa beliau mulai menetap di Gresik pada tahun 1399 M. Tepatnya, beliau meninggal pada tanggal 12 Rabiul awal tahun 882 H/1419 M.

Menurut Prof. DR. Hamka, Maulana Malik Ibrahim datang dari Kasyan, Persia, dan seorang bangsa Arab keturunan Rasulullah. Hal yang sama dibenarkan oleh Prof. DR. Hoessein Djajadiningrat, bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan Zainal Abidin, cicit Nabi Muhammad Saw. AF. Martadji menuliskan bahwa nasab beliau adalah sebagai berikut; S. Maulana Malik Ibrahim bin S. Zainal Alam Barakat bin S. Jamaluddin Husein bin S. Ahmad Basya bin S. Abdullah Syahin Syah bin S. Abdul Malik bin S. Alwi bin S. Muhammad Sahib Mirbat bin S. Ali Khali Qasam bin S.Alwi bin S. Muhammad bin S. Alwi bin S. Abdullah Ubaidillah bin S. Ahmad Muhajir bin S. Isa bin S. Muhammad bin S. Ali Uraidhi bin S. Ja’far Shadiq bin S. Muhammad al-Baqir bin S. Ali Zainal Abidin bin S. Sayyidina HUsein bin S. Sayidina Ali/Siti Fathimah binti Rasulullah Saw.

Demikian juga dengan para walisongo lainnya, seperti Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang pada tahun 1479 berhasil mendirikan Masjid Agung Demak. Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan Rajanya Raden Patah yang direstui oleh Sunan Ampel. Sunan Berikutnya adalah Sunan Giri atau Sultan Abdul Faqih atau lebih dikenal dengan nama Ainul Yaqin lahir pada 1365, yang juga masih keturunan Rasulullah. Beliau berdakwa di daerah Blambangan. Di Kudus ada Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq, beliau dijuluki “waliyul ilmi”. Sunan Kudus mendirikan Masjid al Manar/al-Aqsa di Kudus pada tahun 965 H / 1549 M. Menurut Prof DR. Hamka, “Sunan Kudus adalah keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib dan memakai juga nama moyangnya Ja’far Shadiq imam ke empat menurut kepercayaan kaum Syiah dan menurut Babat Tanah Jawa. Nama belaiu waktu kecil adalah Untung. Beliau bekerja keras menyiarkan agama Islam berpusat di satu tempat yang diberui nama Quds (tempat suci), diambil dari nama negeri Bait al-Muqaddas sendiri, sebab dari sana konon beliau datang…”

Demikian halnya dengan Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim, Sunan Drajat atau Syarifuddin Hasyim, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, Sunan kalijaga atau Muhammad said, dan Sunan Muria atau Raden Said bin Raden Syahid. Seluruh walisongo adalah putra-putra keturunan Nabi Muhammad Saw. Dengan perjuangan dalam dakwah mereka yang tidak mengenal lelah maka hampir seluruh Tanah Jawa dapat di Islamkan.

Di Kalimantan kerajaan tanjungpura pada masa Raja Sorgi yang bergelar Giri Kusuma menerima seorang ulama Islam yang bernama Syekh Husein. Karena tertarik dengan ajarannya maka Raja segera memeluk Islam. Syekh Husein kemudian di kawinkan dengan putri dari sepupu Raja Kusuma dengan perjanjian bahwa jika Syekh Husein mandapatkan anak laki-laki dari perkawinan itu dan raja Kusuma mendapatkan anak perempuan atau sebaliknya, maka mereka akan dikawinkan, karena kepada merekalah nantinya tahta kerajaan akan diwariskan.

Syekh Husein dari pernikahan itu mendapat anak yang diberi nama Syarif Hasan. Ketika raja Kusuma meninggal 1604 M, Syarif Hasan diangkat menjadi raja setelah sebelumnya menikah dengan Putri Raja. Sejak saat itu Islam berkembang dengan pesat hingga masa pemerintahan Sultan Zainuddin II.

Di Pontianak rombongan para pendakwah Islam yang datang dari kota Tarim, Hadramaut, diantaranya adalah habib Husein al-Gadri. Setelah berdakwa sekitar 3 tahun di daerah Pontianak datanglah utusan dari raja Mempawa yang bernama Opu Daeng Menambon (keturunan Raja Luwu Sulawesi Selatan yang kawin dengan Ratu Mas Indrawati Putri Sultan Zainuddin II dari Raja Tanjungpura) untuk menjemput Habib Husein al-Gadri. Tanggal 8 Muharram 1160 H dengan 5 buah perahu berangkatlah ke Mempawa.

Di Mempawa Habib Husein al-Gadri sebelum Wafatnya pada tanggal 3 Dzulhijjah 1184 H, beliau menikahkan Putranya yang bernama Syarif Abdurrahman dengan Putri raja Mempawa Utin Cendramindi. Ketika beliau berada di Banjar oleh Sultan Banjar diangkat menjadi Pangeran Sayid Abdurahman Nur Alam yang kemudian menjadi Raja Pontianak dengan gelar Sri Sultan Syarif Abdurrahman bin Habib Husein al-Gadri.

Kerajaan terbesar setelah kerajaan Sriwijaya dan Majapahit adalah kerajaan di Sulawesi adalah Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa berdiri sekitar tahun 1300 an. Sebagai kerajaan di pesisir selat Makassar yang merupakan salah satu lintas laut perdagangan yang paling ramai. Maka hubungan dengan dunia luar tercipta baik dalam urusan ekonomi, sasial, politik, budaya dan agama.

Sulaiman as-Sirafi, pengelana dan pedagang dari pelabuhan Siraf di Teluk Persia mengatakan bahwa di Sili terdapat beberapa orang Islam, yaitu sekurang-kurangnya pada akhir abad ke 2 Hijriah. Hal ini sesuatu yang telah pasti dan tidak butuh pen-tahqiq-an lagi karena perdagangan rempah-rempah dan wangi-wangian yang berasal dari kepulauan Maluku pasti membuat pedagang-pedagang Muslimin sering berkunjung ke sana dan ketempat-tempat yang berdekatan dengan kepulauan ini. Menurut Syaikh Syamsuddin Abu Ubaidillah Muhammad bin Thalib ad-Dimasyqi yang terkenal dengan nama Syaikh ar-Rabwah dalam bukunya Nukhbah ad Dhar bahwa kepulauan Sili atau Sulu adalah Sulawesi. Lebih lanjut beliau mengatakan, “sekelompok Alawiyin telah memasuki pulau-pulau itu di waktu mereka melarikan diri dari kejaran golongan Bani Umayyah. Mereka lalu menetap dan berkuasa di sana sampai mati dan dikuburkan di daerah itu …”

Islam mulai diterima secara resmi dalam struktur kerajaan sekitar tahun 1500 an, pada masa Raja Gowa ke IX yang bernama Daeng Mantanra Karaeng Tamapa’risika Kallonna. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya Masjid yang dibangun pertama kali di daerah Manggalekanna tahun 1538 M. Pada masa pemerintahan Raja I Manga’rangi Daeng Manrobbia yang bergelar Sultan Alauddin di datangkanlah 3 orang ulama yang berasal dari Sumatra, yaitu:

1. Khatib Tunggal Abdul Makmur digelar Dato’ri Bandang dan menjadi penyebar agama di daerah Makassar

2. Khatib Sulaiman yang digelari Dato’ri pattimang yang terutama menyebarkan Islam di daerah Kerajaan Luwu

3. Khatib Bungsu yang digelar Dato’ri Tiro menjadi penyebar agama di daerah Bulukumba.

Kerajaan Gowa di Selatan dan Keraajaan Luwu di Daerah Utara Sulawesi Selatan menjadi pusat penyebaran Islam sejak Islam di jadikan sebagai agama resmi kerajaan, sehingga hampir seluruh Sulawesi Selatan kecuali Tana Toraja memeluk agama Islam.

Raja Gowa ke 32,33 dan ke 36 memakai gelar Aidid di belakang namanya. Mereka adalah keturunan dari Sayyid Jalaluddin bin Muhammad Wahid al-Aidid seorang ulama dari Hadramaut yang datang dari Aceh. Menurut cerita, pada abad ke 17 yaitu sekitar tahun 1632 M, telah datang di desa Cikoang, di Semenanjung Laikang pesisir selatan Sulawesi Selatan, seorang Sayid yang berasal dari Hadramaut bernama Sayid Jalaluddin bin Muhammad Wahid al-Aidid. Di Cikoang Sayid Jalaluddin mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Sebelum tiba di desa Cikoang, beliau terlebih dahulu menyiarkan Islam di Kutai, Kalimantan. Di Kutai beliau kawin dengan seorang Putri bangsawan Gowa. Dari perkawinannya tersebut kini tidak kurang dari 200 orang kepala keluarga yang bergelar sayid. Mereka sering menyebut dirinya sebagai kelompok Ahlulbait yang maksudnya keturunan dari nabi Muhammad Saw. Disebutkan bahwa Syekh Yusuf al Makassari ulama terkemuka Nusantara abad ke 17 sebelum berangkat belajar ke Timur Tengah terlebih dahulu beliau belajar kepada Sayid Jalaluddin al-Aidid dan Sayid Ba’alawi bin Abdullah al-Allamah Al-Thahir yang hidup di Bontoala. Setalah berdakwa sekitar 30 tahun di wilayah Makassar dan sekitarnya Sayid Jalaluddin melanjutkan perjalanan dakwah ke Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara, sedangkan keluarga dan keturunannya di tinggalkan di Cikoang. (lihat, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, DR. Muhammad Syamsu, As, Lentera. Dan, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, Prof. Azyumardi Azra, Mizan).

Diantara ajaran Sayid Jalaluddin yang dapat dilihat hingga hari ini adalah Maulud Nabi Muhamamad saw yang disebut “tradisi Maudu Lompoa”. Pada masa pemerintahan Sayid Ja’far Ash-Shadiq al Aidid menjadi Raja Gowa, maka tradisi Maudu Lompoa di tetapkan sebagai hari besar agama yang sangat penting sampai sekarang. Acara ini digelar selama 18 hari sejak 12 Rabiulawal sampai 30 Rabiulawal. Pelaksanaannya dilaksanakan secara langsugn oleh “ 40 Anrongguru” yakni guru-guru makrifat yang terdiri dari para sayid keturunan Sayid Jalaluddin al-Aidid.

Di Sulawesi Tengah penyiaran Islam di bawa oleh ulama dari Bugis keturunan Hadramaut. Diaantaranya ialah Sayid Zen al-Idrus serta Syarif Ali yang kawin dengan Saeran putrid bangsawan Buol, Toli-Toli. Tahun 1666 M syarif Ali bersama dengan putranya yang bernama Syarif Mansur yang gigih dalam berdakwa bertempur dengan Belanda. Setelah perjuangan panjang itu berlalu Syarif Mansur berserta 40 orang pengikutnya memasuki kota Manado.

Dalam kurun waktu berikutnya seorang ulama Arab bernama Habib Idrus bin Salim al-Jufri. Menurut cerita seorang tua bermarga al-Hamid yang di lahirkan di daerah Makassar menyebutkan bahwa Habib Idrus berangka ke Palu atas petunjuk gurunya di Pekalongan yaitu habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Attas. Habib Idrus mengajarkan Islam kepada penduduk Palu. Atas usaha tersebut dengan bantuan murid-muridnya dan masyarakat setempat di bangunlah sebuah madrasah/pesantren yang di beri nama “al-Khaerat”. Kemudian di resmikan sebagai Lembaga Pendidikan al-Khairat pada tanggal 30 Juni 1930 Masehi bersamaan dengan 14 Muharram 1349 Hijriah.

Di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara pada abad ke 18 Rajanya adalah seorang pemeluk agama Kristen, karena penjajah asing. Bernama Yakob Manoppo. Pada zaman pemerintahan Cornelius Manoppo sejumlah ulama keturunan Arab yang dating dari Makassar karena hubungan dan pengaruh dakwah yang kuat akhirnya Raja Yakob Manoppo tanpa keraguan memeluk agama Islam. Demikian di tulis Prof Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam jilid IV.

Kemudian seorang ulama keturunan Arab yaitu Sayid Umar bin Salim bin Jindan kemudian menikah dengan putrid kerajaan Bolaang Mongondow yang bernama Launa (saudara dari Loren Manoppo). Lalu Sayid Umar di angkat menajdi kepala daerah di daerah Sangaji.

Di Maluku, sejak abad ke 10 dan 11 perniagaan rempah-rempah terutama cengkeh dan pala adalah primadona. Para pedagang dari Arab dan Persia sudah keluar masuk sambil menyampaikan penyebaran agama Islam. Diceritakan bahwa di Ternate telah dating seorang ulama Islam yang bernama Datu Maulana Husein. Ulama ini sangat pandai membaca al-Quran dengan suara merdu sehingga pendduk tertarik untuk mendengarkan. Tetapi oleh Maulana Husein memberikan syarat bahwa setiap yang ingin mendengarkan bacaan Qurannya harus lebih dahulu mengucapkan dua kalimah syahadah, sehingga sejak saat itulah penduduk Ternate mulai memeluk agama Islam. Raja Ternate saat itu adalah Gapi Buta menerima Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Zainal Abidin (1465-1486 M).

Sumber sejarah lama dan cerita rakyat secara tradisional menyebutkan bahwa semua sultan yang memerintah di empat kerajaan utama di maluku Utara berasal dari keturunan Nabi Muhammad saw. Jakfar Shadiq yang sampai di Ternate pada tanggal 10 Muharram 470 Hijriah (kira-kira 1015 M) kawin dengan Nur Safah. Dari pernikahannya dikarunia delapan orang anak empat putra dan empat putri. Dari ke empat putranyalah yang memerintah 4 kerajaan di daerah Maluku, yaitu; Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan. (Lihat Beberapa Segi Sejarah Daerah Maluku, Drs. Bambang Soewondo, h. 40-42, Dept. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. 1978).

Secara keseluruhan daerah kepulauan Maluku seperti Hitu, Jadi, Kepulauan Kei terjadi sejak tahun 1500 an. Sampai pada tahun 1580 Sultan Babullah telah meluaskan kekuasaannya ke pulai-pulau sekelilingnya, sehingga dari Pulau Mindanau ( Pilipina) hingga Pulau Sumbawa, serta dari Irian hingga ke Sulawesi Tenggara.

Di Bali tidak ada keterangan yang pasti kapan Islam sampai. Akan tetapi ada beberapa petunjuk yang dapat dijadikan dasar Islam sampai ke pulau Dewata itu. Antara lain :

1. Dalam sejarah Sulawesi diterangkan bahwa Islam saat itu dijadikan agama resmi Kerajaan Gowa sehingga daerah-daerah yang di kuasainya, termasuk bali pasti disampaikan tentang Islam

2. Sejak Makassar berselisih dengan Kompeni belanda, pertempuran terjadi pada tahun 1653-1655 M. ini mengakibatkan banyak banyak nelayan Bugis pindah ke Bali, pasukan Gowa juga banyak yang mampir ke Bali.

3. Pada tahun 1690 M terjadi pertempuran antara penguasa ban Bukit di Singaraja yang bernama I Gusti Ngura Panji Sakti melawan pasukan Jembrana di bawah pimpinan Aryo Pancoran. Dalam pertempuran itu Aryo Pancoran menggunakan meriam Bugis.

4. Pada tahun 1715 M, I Gusti Agung Alit Tekung yang menjadi penguasa di Jembrana banyak bekerjasama dengan umat Islam Bugis seperti Daeng Ma’rema dan daeng Kudadempet, keduanya adalah ahli silat yang dianggap sakti dan menjadi guru silat di Jembrana.

Dari sejumlah alasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Islam pada periode tersebut sudah sampai ke sana.

Pada abad ke XVII telah datang ke Bali dua orang ulama Arab, yaitu Sayid Muhammad Alaydrus. Oleh Raja Bali saat itu yaitu Ratu Dewa Agung Putera Susuhunan Raja yang menjadi penguasa Bali dan Lombok. Beliau di angkat menjadi penasehat Raja, betapapun Raja beragama Hindu tetapi sayid Muhammad Alaydrus tetap dapat bekerjasama dan dapat menyiarkan agama Islam. Yang ke dua adalah Sayid Ali bin Abu Bakar al-Hamid. Oleh Raja Kalungkung Bali diangkat menjadi Sekretaris Raja untuk urusan perdagangan dengan Bugis dan Makassar. Dengan tugas ini Sayid Ali dapat menyebarkan dakwah Islam.

Pada tahun 1719 M dari Pontianak sekelompok pasukan mendarat di Pantai Air Kuning yang sekarang di sebut Yeh Kuning di bawah pimpinan Syarif Abdurrahman al-Gadri. Bersamaan dengan itu datang pula ulama yang bernama Syarif Abdullah bin Yahya Maulana al-Gadri. Mereka membangun Masjid di Air Kuning yang sampai sekarang masih berdiri. Inilah peninggalan arkeologi tertua tentang Islam di Bali sekalipun bentuknya telah berubah karena pemugaran.

Kesimpulan

Secara umum dapat disebutkan bahwa para pembawa agama Islam pertama kali ke wilayah Nusantara-Indonesia adalah para pedagang dan Muballigh dari Arab, Persia dan India. Mereka mengunjungi daerah-daerah pesisir nusantara yang berhubungan langsung dengan bandar-bandar perdagangan internasional. Aceh dengan kerajaan Perlak dan Pasai telah menjadi penyangga penyebaran Islam yang utama ke wilayah lainnya di Nusantara. Sebab ditemukan laporan bahwa hampir seluruh ulama yang menyebarkan Islam ke daerah lain adalah berasal atau paling tidak berguru ke kepada ulama yang ada di kedua kerajaan tersebut.

Setidaknya hingga pertengahan abad ke 15, umat Islam bukan saja telah menyebar luas keseluruh kepuluan Indonesia, bahkan secara sosial telah muncul menjadi agen perubahan sejarah yang penting. DR. Kuntowijoyo menyebutkan bahwa daya pikat utama agama baru ini adalah pada gagasan persamaannya, sebuah gagasan yang sangat menarik bagi kelas saudagar yang sedang tumbuh, dan yang tidak ditemukan dalam konsep stratifikasi sosial Hindu. Islam dengan demikian menyediakan “cetak biru untuk organisasi politico-ekonomi”, dan dengan ini sedang dipersiapkan jalan bagi terjadinya proses-proses perubahan struktural baru dari system agraris-patrimonial kearah persamaan dan pertumbuhan ekonomi atau “kapitalisme-politik”.

Dari cetak biru politico-ekonomi inilah, Islam menyentuh kalangan menengah pedagang pribumi memeluk agama Islam untuk berpartisipasi dalam komunitas moral perdagangan Muslim Internasional. Melalui Malaka yang sejak ahir abad ke 14 telah berkembang menjadi “entrepot-state” (Negara penyalur perdagangan lintas laut).

Dengan demikian hubungan perdagangan antar pulau di wilayah Nusantara semakin terbuka. Dan itu berarti memperluas jangkauan dakwah dan penyebaran Agama Islam. Para ulama – yang nota bene adalah para Sayid keturunan Rasulullah – yang sebagiannya menjadi Sultan atau paling tidak menjadi anggota keluarga kerajaan karena perkawinan dengan kerabat para raja menajdi leluasa dalam menyebarkan Islam. Hal inilah yang mempercepat proses islamisasi di wilayah kepulauan Nusantara-Indonesia.

Daftar Pustaka

1. A. Hasymi. Prof. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, PT. Alma’arif, Bandung, 1981.

2. Abdulgani, Roeslan. DR. Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia. Pustakan Antar Kota, Jakarta, 1983

3. Atjeh, Abubakar, Aliran Syi’ah di Nusantara, Islamic Research Institute, Jakarta, 1977

4. Azra, Azyumardi, Prof. DR. Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara. Mizan, Bandung, 2002

5. Habib Alwi bin Thahir al-Haddad, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, Lentera, Jakarta, 2001

6. Kuntowijoyo, DR, Paradigma Islam, Mizan, Bandung, 1991

7. Saleh, Fauzan, DR. Teologi Pembaruan, Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX, Serambi, Jakarta, 2004.

8. Syamsu, As, Muhammad, Drg, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Lentera, Jakarta, 1999

9. Lubis, Nabilah, DR. Syekh Yusuf al-Taj al-Makasari, Menyingkap Intisari Segala Rahasia, Mizan, Bandung, 1996

10. Sejarah Masjid-Masjid Kuno di Indonesia, Badan Penelitian Pengembangan Agama, Departemen Agama RI, 1999.