Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Bersama Kafilah Ramadhan (28)

1 Pendapat 05.0 / 5

Rasulullah Saw bersabda, “Manusia yang teguh

pendiriannya selalu ditemukan di masjid-masjid, di mana

malaikat Allah duduk dan akrab bersama mereka. Ketika

mereka tidak hadir di masjid malaikat akan mencarinya,

ketika mereka sakit malaikat akan menjenguknya, dan

karena membutuhkan bantuan dalam pekerjaan-

pekerjaannya, malaikat akan membantu mereka.” (Bihar

al-Anwar, jilid 80)

 

Pada shalat jamaah, orang-orang berdiri dalam satu

barisan dan menanggalkan semua atribut duniawi seperti,

kedudukan, etnis, bahasa, status sosial, dan lain-lain.

Di situ yang terlihat hanya keakraban dan pertalian

hati di antara para jamaah. Pertemuan kaum Mukmin dalam

barisan shalat memberikan kehangatan serta menumbuhkan

kekuatan dan harapan.Shalat jamaah merupakan pentas

untuk merapatkan barisan, mendekatkan hati, dan

memperkuat semangat persaudaraan. Kehadiran di masjid

merupakan bentuk lain dari kegiatan silaturahim, yang

memberi ruang untuk terciptanya semangat kepedulian

sosial.

 

Ada banyak riwayat yang mendorong kaum Muslim untuk

menumbuhkan sikap kepedulian sosial itu. Dalam sebuah

riwayat disebutkan, “Jika seorang jamaah bermakmum

kepada imam, maka setiap rakaat dari shalat mereka

memiliki pahala 150 shalat, dan jika dua orang

bermakmum, setiap rakaatnya memperoleh pahala 600

shalat, dan semakin banyak jumlah jamaah, maka pahala

mereka akan semakin besar hingga mencapai 10 orang dan

jika jumlah mereka sudah lebih dari 10, maka jika

seluruh langit menjadi kertas, laut menjadi tinta,

pepohonan jadi pena, dan jin, manusia, dan malaikat

jadi penulisnya, mereka tidak akan mampu mencatat

pahala satu rakaat shalat tersebut.”

 

Bulan Ramadhan memberi nuansa baru bagi kehidupan kaum

Muslim dan mereka berusaha untuk menunaikan shalatnya

secara berjamaah di masjid-masjid. Bersama datangnya

Ramadhan, sejumlah masjid menyusun program-program

khusus seperti, kegiatan shalat berjamaah, tadarus,

menggelar kelas agama, dan lain-lain. Masyarakat Islam

juga menaruh perhatian besar untuk memakmurkan masjid

di bulan Ramadhan dan mereka antusias mengikuti

kegiatan ceramah agama dan safari Ramadhan yang digelar

di masjid-masjid.

 

Menurut ayat suci al-Quran dan perkataan para imam

maksum,ikhlas merupakan landasan agama dan pondasi yang

kokoh baginya. Dalam surat az-Zumar ayat 11, Allah Swt

berfirman, “Katakanlah! Sesungguhnya aku diperintahkan

supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan

kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”Para ulama

akhlakmentamsilkan ikhlas dengan susu murni, yang tidak

ada warna kemerahan di dalamnya dan juga tidak

tercampur dengan noda, tapi sepenuhnya murni dan suci.

Niat dan perbuatan ikhlas juga seperti itu dan sama

sekali tidak ada motivasi lain di dalamnya kecuali

tulus karena Allah Swt. Orang-orang yang ikhlas adalah

mereka yang tidak menaruh harapan kepada siapa pun

selain Allah Swt, lahir dan batin mereka sama, mereka

tidak mengenal kelelahan dan penyesalan, serta pujian

dan cacian masyarakat sama di mata mereka.

 

Sementara riya’ – sifat yang bertentangan dengan

ikhlas–bermakna pamer diri dan memamerkan dirinya

kepada orang lain. Dengan kata lain, seseorang

melakukan perbuatan dengan niat untuk mempertontonkan

kepada orang lain dan ia menikmati pujian dan sanjungan

yang diperoleh dari masyarakat. Perasaan riya’

merupakan salah satu sarana penting syaitan untuk

menyesatkan manusia. Syaitan menyalahgunakan kebutuhan

alamiah manusia akan pujian dan membuat mereka

berbangga diri serta menyibukkan mereka dengan aspek-

aspek lahiriyah perbuatan.

 

Syaitan berupaya maksimal untuk merusak dan mengotori

perbuatan manusia dengan riya’. Syaitan kadang

membisikkan manusia untuk menunaikan shalat dengan

tenang, tidak tergesa-gesa, dan khusyu’ sehingga

lingkungan sekitar menganggapnya sebagai seorang mukmin

dan shaleh. Namun, godaan syaitan kadang dilakukan

dalam bentuk yang lebih halus dan tampil dalam jubah

ketaatan. Sebagai contoh, syaitan berkata, “Engkau

adalah orang alim dan masyarakat menilaimu, jika engkau

memperindah shalat dan ibadahmu, mereka akan bermakmum

di belakangmu dan engkau ikut serta dalam pahala

mereka.”

 

Model godaan syaitan sesekali muncul dalam bentuk yang

lebih rumit dan tersembunyi.Misalnya saja ia berkata

kepada orang yang sedang shalat, “Jangan dirikan shalat

berjamaah, sebab di sana mungkin saja niatmu akan

ternodai, cukup tunaikan shalatmu di rumah saja, atau

ketika engkau shalat di tengah jamaah, tinggalkanlah

shalat sunnah dan shalatlah dengan cepat sehingga tidak

terkontaminasi dengan riya’.” Sayangnya, tidak sedikit

orang yang terjebak dalam godaan ini dan mereka harus

kehilangan pahala shalat sunnah yang sangat ditekankan

oleh agama.

 

Bulan Ramadhan merupakan sebuah kesempatan berharga, di

mana manusia selain bisa memperoleh berkah puasa, juga

melatih dan menambah kadar keikhlasan di seluruh amalan

lain sehingga menghasilkan sebuah perbuatan yang bebas

dari riya’. Puasa merupakan satu-satunya amal ibadah

yang terlepas dari riya’, karena aturan-aturan dalam

puasa seperti, tidak makan dan tidak minum pada waktu

tertentu, dapat disembunyikan dari khalayak. Kecuali

ada pengakuan dari orang yang sedang menjalaninya.

Berkenaan dengan puasa, Sayidah Fatimah az-Zahra as

berkata, “Allah mewajibkan puasa untuk mengokohkan

keikhlasan.”

 

Suatu hari, Abu Dzar duduk di sisi Ka’bah sambil

berpikir bahwa berdiam diri tidak ada gunanya dan lebih

baik bangkit memberi nasihat kepada masyarakat. Dia

kemudian bangkit dan berkata, “Wahai manusia! saya

adalah Jundab al-Ghifary, sahabat Rasulullah, kemarilah

kalian untuk menemui saudara kalian yang menasehati

dengan penuh kasih sayang.”Maka tatkala mereka

berkumpul disekelilingnya, Abu Dzar bertanya, ”Bukankah

kalian tahu bahwa jika salah satu di antara kalian

ingin berpergian maka dia akan mempersiapkan bekal yang

akan mengantarkannya ke tempat tujuan?”Mereka menjawab,

”Benar, memang demikian seharusnya wahai Abu Dzar.”

 

Abu Dzar pun berkata, ”Jika demikian, maka ketahuilah

bahwa perjalanan di Hari Kiamat lebih jauh dari apa

yang kalian tuju di dunia ini, maka ambillah bekal yang

dapat menyelamatkan kalian.”Mereka bertanya, ”Apakah

bekal yang layak kami persiapkan untuk perjalanan

tersebut wahai sahabat Rasulullah?”Beliau

menjawab,”Tunaikanlah ibadah haji, berpuasalah di hari

yang panas untuk menghadapi lamanya berdiri di Padang

Mahsyar, shalatlah dua rekaat di kegelapan malam,

karena alam kubur itu menakutkan. Berbicaralah dengan

santun dan jangantanggapi ucapan buruk untuk menghadapi

saat-saat sendirian di Padang Mahsyar, bersedekalah

dengan hartamu, agar kalian selamat dari kesusahan di

hari itu.”

 

Abu Dzar kemudian melanjutkan, ”Jadikanlah dunia untuk

dua majelis;majelis untuk mencari rezeki yang halal dan

majelis untuk mengejar akhirat. Adapun majelis ketiga,

akan mendatangkan kerugian bagi kalian. Wahai Manusia!

Jadikanlah harta milikmu menjadi dua bagian; bagian

pertama sebagai nafkah yang halal untuk keluargamu dan

bagian kedua untuk bekal akhiratmu, selain itu akan

mendatangkan madharat bagimu.”

 

Sahabat besar Rasulullah Saw ini mengatakan, “Wahai

manusia! Jadikanlah dunia menjadi dua waktu; pertama

waktu yang sudah lewat dan kalian tidak bisa

mengembalikannya, kedua waktu yang belum datang dan

kalian juga tidak yakin apakah kalian akan tetap hidup

di waktu itu. Untuk itu ambillah waktu yang sekarang.

Sekarang engkau berada di dalamnya dan gunakan ia untuk

keuntungan kalian dan berjuanglah untuk melawan

ketidaktaatan kepada Allah. Janganlah berbuat dosa atau

kalian akan binasa.”