Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Nabi Muhammad saw dan masa depan umat Islam

1 Pendapat 05.0 / 5

Rasulullah saw mengetahui secara pasti bahwa umat akan

berselisih sepeninggalnya. Sentimen kesukuan masih

senantiasa menguasai pemikiran sosial masyarakat Muslim

yang baru dilahirkan ini. Begitu pula perseturnan

antarsuku juga masih mengakar dalam masyarakat Arab di

Jazirah Arab dan terus membayangi masa depan eksistensi

Islam.

Rasulullah saw telah mengabarkan bahwa umat Islam akan

berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan; yang

selamat hanyalah satu, sedangkan yang lain, semuanya

akan masuk ke dalam neraka.

Pokok perpecahan yang menghadang perjalanan Islam ini

adalah masalah kepemimpinan dan identitas penguasa

Muslim. Jika masalah kepemimpinan umat ini tergolong

masalah yang sangat berbahaya dan sumber utama dalam

perpecahan eksistensi Islam, maka apakah logis jika

Rasulullah saw mengambil posisi tidak peduli di hadapan

masalah besar ini, padahal beliau dikenal sangat

antusias terhadap keselamatan umat Islam?

Apakah juga mungkin kita mempercayai bahwa Rasulullah

saw yang begitu besar perhatiannya terhadap penyebaran

Islam dan mengibarkan bendera negara Islam akan

mengabaikan suatu perkara yang mengancam masa depan

Islam?

Pastilah bahwa hal ini tidak sejalan dengan sejarah

perjal­anan Rasulullah saw. Kita semua mengetahui bahwa

khalifah pertama telah mengambil sikap yang diketahui

semua orang. Sebelum memejamkan matanya yang terakhir

kali, Abu Bakar telah mengangkat seorang yang

menggantikannya dalam mengatur negara dan urusan

kekuasaan.

Begitu pula khalifah kedua (Umar bin Al-Khathab) juga

mengambil posisi penting dalam urusan pemerintahan ini

sebelum meninggalnya. Dia membentuk majelis syura untuk

memilih seorang yang akan menggantikannya dalam

mengatur roda pemerintahan dan kekhalifahan sesudahnya.

Dan dalam situasi yang kacau dan gawat akibat

terbunuhnya khalifah yang ketiga (Utsman bin Affan),

terpaksa Imam Ali as menerima untuk memikul tanggung

jawab memegang tampuk pemerintahan.

Imam Ali as telah mengungkapkan kekhawatirannya bahwa

banyak orang akan murtad dari agama mereka karena

mereka masih baru dalam ke-Islaman mereka. Oleh karena

itu, penerimaan tanggung jawab kekhalifahan ini demi

rasa tanggung jawabnya terhadap masa depan Islam.

Setelah melihat bukti-bukti ini, maka bagaimana mungkin

kita akan membenarkan diri kita untuk menggambarkan

bahwa Rasulullah saw tidak peduli terhadap masalah yang

paling penting ini?

Nabi saw Telah Mengumumkan Seorang Pengganti dalam

Kepemimpinan

Persoalan kekhalifahan dan kepemimpinan ini merupakan

salah satu persoalan yang paling penting yang mendapat

perhatian yang besar dari Nabi saw. Persoalan

kekhalifahan ini bukanlah termasuk pemikiran yang baru

(muncul) dalam kehidupan Nabi saw, bahkan ia telah

mengiringi kehidupan beliau sejak dakwah beliau yang

pertama.

Ya, persoalan kekhalifahan ini telah mengiringi

kehidupan Nabi saw sejak peristiwa dakwah pertama di

rumah beliau di Makkah, yaitu pada hari beliau

menyerukan kepada kerabat­kerabat beliau yang terdekat

untuk menerima dan membantu dakwah beliau, sampai

hari-hari terakhir dari umur beliau yang penuh dengan

keberkahan. Menjelang hari-hari beliau mening­galkan

dunia yang fana ini, beliau bersabda, “Berikanlah

kepadaku pena dan kertas agar aku menuliskan kepada

kalian sebuah surat yang kalian tidak akan tersesat

sesudahku selam­anya.”[1]

Langkah terakhir ini adalah upaya Nabi saw dalam

menent­ukan masa depan Islam Permintaan Nabi saw

tersebut tidak datang dari kehampaan, tetapi ia lahir

karena kekhawatiran dan kecemasan beliau pada masa

depan risalah Islam dan masa depan pemerintahan

sepeninggal beliau.

Akan tetapi, sangat disayangkan permintaan Nabi saw

pada hari-hari terakhir beliau ini mendapat

pertentangan dari sebagian sahabat beliau, bahkan

menimbulkan perdebatan dan kegaduhan (di kamar beliau)

sehingga beliau mengusir mereka semua dari kamar

beliau, setelah sebelumnya beliau meneg­askan secara

lisan hadis tsaqalain dan arti pentingnya bagi masa

depan Islam.

Sebelum terjadi peristiwa di kamar Nabi saw tersebut,

pada 18 Dzulhijjah beliau telah mengumumkan di hadapan

jamaah haji dalam jumlah yang sangat besar di sebuah

tempat yang terkenal dengan nama “Ghadir Khum” bahwa

Ali adalah khalifah beliau sepeninggal beliau.

Peristiwa bersejarah tersebut merupakan hari raya bagi

kaum Muslim karena dengannya Allah telah menyempurnakan

agama Islam, mencukupkan nikmat-Nya, dan telah meridhai

Islam sebagai agama bagi seluruh kaum Muslim.

Para penyair pun telah mengabadikan peristiwa penting

ini. Dan semua orang pun tahu bahwa Rasulullah saw

mengum umkan Ali menjadi “wali” ini bahwasanya yang

beliau maksud itu adalah pemimpin dan khalifah beliau

dalam kepemimpinan umat ini.

Rasulullah saw telah mengumumkan wilayah (kepemi­

mpinan) Ali ini secara berulang kali, beliau bersabda,

”Ali dariku dan aku dari Ali … dan tidak ada yang boleh

menyam­paikan dariku kecuali Ali. “[2]

Rasulullah saw menganggap mengikuti Ali sebagai

ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw

bersabda, “Barang siapa yang menaatiku, maka dia telah

menaati Allah; barang siapa yang menentangku, maka dia

tel ah menentangku, – barang siapa yang menaati Ali,

maka dia telah menaatiku; dan barang siapa yang

menentang Ali, maka dia telah menentangku.”[3]

Kedudukan Ali as di Sisi Nabi saw

Nabi Saw tidak hanya mengumumkan kedudukan Ali as di

Ghadir Khum saja, meskipun pengumuman di Ghadir Khum

ini lebih luas cakupannya dan disampaikan dalam

kesempatan yang sangat penting dalam sejarah Islam.

Kedudukan Imam Ali as telah mengkristal dalam beberapa

kesempatan yang berbeda dan semenjak dakwah Islam yang

pertama yang disampaikan oleh Nabi saw dalam upaya

beliau menanamkannya dalam hati orang-orang Islam, di

antaranya:

1.    Hadis Peringatan;

Yaitu ketika turunnya ayat, “Dan berilah peringatan

kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat!”

Setelah turunnya ayat tersebut, Nabi saw memerintahkan

Ali as untuk mengundang empat puluh orang dari tokoh-

tokoh Bani Hasyim, Bani Abdil Muththalib, dan Bani Abdi

Manaf. Dalam pertemuan tersebut, tampaklah kemukjizatan

Nabi saw berupa keberkahan makanan sedikit yang dapat

mengeyangkan dan memuaskan mereka semuanya.

Kemudian, setelah adanya kesempatan, Nabi saw bersabda

kepada mereka, “Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak

tahu bahwa ada seorang pemuda Arab yang datang kepada

kaumnya dengan membawa sesuatu yang lebih utama

daripada yang aku bawa kepada kalian. Demi Allah, aku

telah datang kepada kalian dengan membawa kebaikan di

dunia dan akhirat. Sungguh, Allah Ta’ala telah

memeritahukanku untuk menye­rukan dakwahku kepada

kalian. Maka, siapakah di antara kalian yang akan

membantuku dalam urusan ini yang dia akan menjadi

saudaraku dan pengemban wasiatku serta khalifahku di

antara kalian?”

Akan tetapi, mereka semua enggan menerima ajakan Nabi

saw itu. Maka, aku (Ali as) berkata, sedangkan

sesungguhnya aku adalah orang yang paling muda di

antara mereka, “Aku, wahai Nabi Allah yang akan menjadi

pembantumu dalam urusan ini.”

Maka, Nabi saw memegang leherku, kemudian beliau

bersabda, “Sesungguhnya orang ini (Ali) adalah

saudaraku, pengemban wasiatku (washiyyi), dan

khalifahku di antara kalian, maka dengarkanlah

perkataannya dan taatilah dia.”[4]

Jika kita perhatikan dengan seksama firman Allah Ta’ala

berkenaan dengan Nabi saw, “Dan tiadalah yang

diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang

diwahyuukan (kepadanya).”[5]

Maka, kita akan mengetahui bahwa apa yang terjadi pada

hari saat seruan beliau kepada para kerabatnya yang

terdekat di rumahnya itu dan bahwa pengumuman Nabi saw

itu adalah berdasarkan perintah Allah Swt, yaitu beliau

ingin mengum­umkan kenabian dan imamah pada hari yang

sama.

2.    Kekhalifahan adalah berdasarkan perintah Tuhan;

Akhnas bin Syarif, dia adalah seorang pemuka Arab yang

terkenal, pernah mensyaratkan bahwa dia akan

mengumumkan keimanannya kepada Nabi saw dan keislaman

dengan imbalan bahwa kepemimpinan kabilahnya hams

dipegang olehnya sepeninggal beliau.

Maka, Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya urusan ini

(kepemimpinan) adalah milik Allah, Allah-lah yang

memilih siapa saja yang dikendaki-Nya yang dipandang

layak untuk itu.”[6]

Akhnas bin Syarif pun menolak hal itu. Dia mengirimkan

utusan kepada Nabi saw yang membawa pesan bahwa dia

tidak dapat menerima beban (kewajiban) yang dipikulkan

Islam kepadanya, serta imamah dan kepemimpinan yang

dipemn­tukkan bagi selainnya.

Dari sini, kita mengetahui bahwa bukanlah termasuk hak

Nabi saw untuk menentukan imamah dan kekhalifahan

kecuali dengan seizin Allah Swt dan wahyu dari-Nya.

3.    Hadis Manzilah;

Hadis manzilah ini datang pada situasi yang sangat

sensitif, yaitu situasi yang genting yang karenanya

Nabi saw harus mengumumkan mobilisasi pasukan dan

membe­rangkatkan tentara Islam di utara jazirah Arab.

Sebelumnya, Nabi saw mendengar berita seputar

berkumpulnya pasukan Romawi dalam jumlah yang sangat

besar dengan tujuan mengh­ancurkan negara Islam yang

ham saja tumbuh.

Nabi saw juga mendengar bahwa kaum munafik, dan orang­

orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, hendak

meng­ambil kesempatan dengan melaksanakan rencana jahat

mereka terhadap Islam dan para pemeluknya pada waktu

ketidakhadiran beliau di Madinah.

Di sinilah kita melihat bahwa Nabi saw memilih Ali as

untuk kali yang pertama mengatur pemerintahan dan

menjaga keamanan dalam Kota Madinah.

Pada saat itu orang-orang munafik menyebarkan isu bahwa

sesungguhnya Nabi menyuruh Ali untuk menggantikan

beliau di Madinah karena beliau tidak menyukai Ali.

Maka, Ali as ingin menghentikan berkembangnya isu

tersebut dengan segera menyusul Nabi saw, dengan tujuan

menawarkan dirinya untuk ikut bergabung dalam pasukan

Islam yang hendak memerangi tentara romawi itu.

Di sinilah Nabi saw mengumumkan sabdanya yang

bersejarah itu, “Wahai Ali, apakah engkau tidak ridha

bahwasanya kedudu­kanmu di sisiku seperti kedudukan

Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi

sesudahku?”[7]

Jika kita merenungkan ayat 29-32 dari Surah Thaha, dan

bagaimana Allah Swt telah mengabulkan doa Nabi Musa as

untuk menjadikan Harun sebagai pembantunya dalam

penyam­paian risalah, maka kita akan mendapatkan posisi

yang krusial yang dikehendaki Nabi saw bagi Ali as. Ia

bukanlah suatu perkara yang sebenamya mempakan kehendak

Nabi saw pribadi karena kehendak beliau pada dasarnya

adalah kehendak Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu, ditegaskan dalam poin penting dalam

akhir hadis tersebut, yaitu bahwasanya Ali as

memperoleh segala keistimewaan yang didapatkan oleh

Harun as kecuali kenabian. Pengecualian ini disebabkan

oleh satu sebab, yaitu bahwasanya Nabi Muhammad saw

adalah penutup para nabi dan fenomena kenabian dan

wahyu berakhir dengan wafatnya Nabi saw.

Sa’d bin Abi Waqqash adalah termasuk salah seorang yang

menentang Ali as dalam kekhalifahannya. Akan tetapi,

walaupun demikian, dia menolak permintaan Mu’awiyah bin

Abi Sufyan untuk mencaci Ali. Bahkan, secara tegas dia

mengatakan bahwa dia sangat berangan-angan jika saja

dia dapat memiliki walaupun hanya satu keutamaan di

antara tiga keutamaan yang dimiliki Ali.

Pertama, sabda Rasulullah saw kepada Ali as, ”Kedudu­

kanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa,

hanya saja tidak ada lagi nabi sesudahku. 11

Kedua, sabda Nabi saw malam hari sebelum kejatuhan

benteng Khaibar pada keesokan harinya: ”Aku benar-benar

akan memberikan bendera ini besok pagi kepada seorang

laki­laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia

dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. ”

Ketiga, pada hari mubahalah. Peristiwa ini terjadi

ketika utusan Nasrani dari Najran mendebat Nabi saw

tentang kisah Isa as lalu turunlah ayat mubahalah,

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah

datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah

(kepadanya), “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan

anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri­istri kamu,

diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita

bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat

Allah ditimpakan kepada orang-orangyang dusta.”[8]

Maka, Nabi saw keluar dan ikut bersamanya: Ali,

Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husain untuk bermubahalah

dengan utusan Najran.[9]

4.    Hadis Bahtera Nuh;

Ini termasuk salah satu hadis yang mutawatir yang

diriwayatkan oleh para perawi hadis dan kalangan Ahlus

Sunnah dari Nabi saw.

Diriwayatkan dari Abu Dzarr Al-Ghifari bahwa Rasulullah

saw bersabda, “Perumpamaan Ahli Baitku di tengah-tengah

kalian seperti bahtera Nuh; barang siapa menaikinya,

maka dia akan selamat, dan barang siapa tertinggal

darinya (tidak menaikinya), maka dia akan tenggelam dan

binasa.”[10]

Informasi hadis ini sangat jelas. Ketika kedudukan

Ahlul Bait seperti bahtera Nuh, yang merupakan satu-

satunya perantara untuk selamat dari ketenggelaman

dalam badai yang sangat besar (yang tetjadi di masa

Nabi Nuh as) dan akibat yang buruk (membinasakan), maka

ini berarti bahwa Ahlul bait adalah jalan satu-satunya

untuk selamat dari penyimpangan, kesesatan, danjatuh

dalam lembah kebinasaan.

Tanda Tanya (?)

Tidak pemah disebutkan bahwa Khalifah pertama (Abu

Bakar) mendapatkan pertentangan dalam mencalonkan

khalifah kedua (Umar bin Al-Khathab).

Di hadapan peristiwa tersebut perlu diberikan tanda

tanya besar, yaitu: Bukankah hadis-hadis Nabi saw

seputar masa depan kekhalifahan dan pemerintahan sangat

jelas, yaitu ketika Nabi saw mengumumkan identitas

khalifah yang akan datang, yang dia tergolong

kepanjangan Nabi saw dalam garis perjalanannya?

Apakah ucapan khalifah pertama yang keluar dari

lisannya, sedangkan dia dalam keadaan tidak sadar lebih

jelas daripada hadis-hadis Nabi saw sepanjang lebih

dari dua puluh tahun?

Apakah khalifah pertama lebih peduli akan tanggung

jawab daripada penutup para nabi?

Dan bagaimana mungkin beramal dengan fatwa-fatwa mazhab

yang empat dan menaati para imamnya adalah suatu

keharusan yang diwajibkan, padahal tidak diriwayatkan

satu hadis pun dari Nabi saw yang membolehkan (umat

Islam) mengikuti mereka? Kemudian mengikuti mazhab

Ahlul Bait bukan suatu kewajiban, sementara hadis-hadis

Nabi saw secara gamblang mengharuskan umat Islam untuk

menaati Ahlul Bait?

Selain itu, hadis-hadis para imam Ahlul Bait as adalah

kepanjangan dari hadis-hadis Nabi saw dan riwayat dari

beliau, sementara mazhab yang empat hanya mencerminkan

pendapat-­pendapat pribadi dari empat imam tersebut.

5.    Hadis Tsaqalain;

Hadis ats-tsaqalain tergolong hadis yang paling sahih

dan tepercaya di kalangan ulama Islam, bahkan ia adalah

hadis yang telah mencapai derajat mutawatir.

Ia adalah sabda Nabi saw, “Wahai manusia, sesungguhnya

telah dekat masanya aku hendak dipanggil (wafat), maka

aku pun akan memenuhi panggilan itu. Sesungguhnya aku

telah meninggalkan kepada kalian dua peninggalan yang

sangat berharga (ats- tsaqalain), yaitu Kitabullah dan

keturunanku, Ahli Baitku.”[11]

Rasulullah saw juga bersabda, “Ali bersama al-Quran,

dan al-Quran bersama Ali.”[12]

Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa Nabi saw sering

mengulang-ulang hadis ats-tsaqalain dalam beberapa

kesempatan. Nabi saw menyebutkan hadis tersebut dalam

haji Wada’ di Arafah, ketika beliau sakit di Madinah

yang membawa pada kewafatannya, dan di Ghadir Khum,

serta ketika beliau kembali dari Thaif.

Ibn Hajar mengomentari pengulangan hadis ats-tsaqalain

ini dalam beberapa kesempatan bahwa hal itu sama sekali

tidak bertentangan. Sebab, Nabi saw mengulang-ulang

hadis ats­tsaqalain tersebut karena pentingnya al-Quran

dan keturunan beliau yang suci.[13]

Sesungguhnya penggabungan antara al-Quran al-Karim dan

Ahlul Bait as menunjukkan bahwa al-Quran membutuhkan

penafsiran dari Ahlul Bait, dan juga menunjukkan

keterikatan yang kuat antara keluarga Rasulullah as

dengan al-Quran al-­Karim, ia adalah ikatan yang kukuh

yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya penafsiran al-

Quran yang jauh dari penafsiran Ahlul Bait as akan

berakibat pada penyimpangan dan kesesatan.

Sebab, penggabungan antara al-Quran al-Karim dan Ahlul

Bait as menunjukkan bahwa keduanya berjalan pada garis

yang sama dan tujuan yang sama pula.

Oleh karena itu Nabi saw bersabda, “…dan sesungguhnya

keduanya (al-Quran dan Ahlul Bait) tidak akan pernah

berpisah hingga menjumpaiku di Haudh.”

Berdasarkan hal ini, berpegang hanya dengan salah

satunya sama halnya dengan menyingkirkan keduanya

sekaligus. Dan dari sini pula kita dapat mengetahui

bahaya perkataan, “Cukuplah bagi kita Kitabullah” yang

diucapkan pada situasi yang peka dalam sejarah Islam.

Kandungan hadis ats-tsaqalain ini juga mengungkapkan

makna penting seputar Ahlul Bait as, yakni kemaksuman

dan kesucian mereka sesuci-sucinya.

6.    Hadis Dua Belas Khalifah;

Nabi saw telah menegaskan bilangan khalifah beliau

dalam hadis yang terkenal yang diriwayatkan oleh dua

kelompok besar Muslim, Syi’ah dan Ahlus Sunnah. Nabi

saw bersabda, “Sesungguhnya khalifah­khalifahku sama

dengan bilangan para pemimpin Bani Israil, dua belas

pemimpin. Mereka semuanya berasal dari Quraisy.”[14]

Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Hanafi berkata, “Sebagian

ahli tahkik mengatakan, “Sesungguhnya hadis-hadis yang

menunjukkan bahwa bilangan khalifah Rasulullah saw

sepeninggal beliau ada dua betas khalifah telah

terkenal dan diriwayatkan dalam jalur riwayat yang

banyak. Maka, dengan penjelasan (berjalannya) waktu

serta pembatasan alam dan tempat, aku mengetahui bahwa

yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw dalam hadisnya

tersebut adalah para imam dua belas dari Ahlul Bait dan

keturunan beliau. Sebab, tidak mungkin hadis ini

diterapkan pada para khalifah sepeninggal beliau dari

kalangan sahabatnya karena sedikitnya jumlah mereka

yang kurang dari dua belas.

Tidak mungkin pula diterapkan pada raja-raja dari

kalangan Bani Umayyah karena jumlah mereka yang

melebihi dua belas dan juga karena kezaliman mereka

yang melampaui batas kecuali Umar bin Abdi! Aziz, juga

karena mereka bukan dari kalangan Bani Hasyim. Sebab,

Nabi saw bersabda, ‘Semuanya dari Bani Hasyim.’

Dalam riwayat Abdul Malik dari Jabir dan pelirihan

suara Nabi saw dalam ucapan ini menguatkan riwayat ini.

Sebab, mereka tidak menyukai kekhalifahan Bani Hasyim.

Demikian pula hadis dua belas khalifah ini tidak dapat

diterapkan pada raja-raja dari kalangan Bani Abbas

(Abbas­iyyah) karena bilangan mereka yang melebihi dua

belas orang dan karena kurangnya perhatian mereka

terhadap Ahlul Bait. Padahal Allah Swt telah berfirman,

“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah

pun atas seruanku kecuali kecintaanmu kepada

keluargaku.”[15] dan hadis kisa’.

Oleh karena itu, hadis dua belas ini harus diterapkan

pada para imam dua belas dari Ahli Bait Nabi saw dan

keturunan beliau. Sebab, mereka adalah orang-orang yang

paling pandai dan paling mulia pada zamannya. Mereka

paling wara: paling bertakwa, dan paling luhur nasab

mereka. Mereka adalah orang-­orang yang paling mulia di

sisi Allah. Ilmu mereka bersumber dari leluhur mereka

yang hersambung dengan kakek mereka, Nabi saw, dan dari

warisan serta ilmu laduni.”[16]

 

CATATAN :

[1] Musnad Ahmad, 1/344.

[2] Sunan At-Tirmidzi, 5130.

[3] Mustodrak Al-Hakim, 3/131.

[4] Tarikh Ath-Thabari, 2/320, dan Musnad Ahmad, 1/111.

[5] QS. an-Najm [53]: 3-4

[6] Tarikh Ath-Thabari, 2/172

[7] Shahih Al-Bukhari, 3/58.

[8] QS. Ali Imran [3]: 61

[9] Shahih Muslim, 7/120

[10] Kanzul Ummal, 1/250

[11] Shohih Muslim, 7/122.

[12] Yanabi’ul Mawaddah, 32, 40.

[13] Ash-Shawa’iqul Muhriqah, bab 11, hal. 89.

[14] Shahih Muslim, 612.

[15] QS. asy-Syu’ara [42]: 23.

[16] Yanabi’ul Mawaddah, hal. 446.