Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Taubat Yazid

1 Pendapat 05.0 / 5

Tanya: Apakah setelah kejadian tersebut Yazid

bertaubat? Sebenarnya apakah taubat seseorang seperti

dia dapat diterima?

Jawab: Untuk menjawab pertanyaan ini kita membutuhkan

dua pembahasan; pembahasan seputar sejarah dan juga

pembahasan ilmu kalam. Pembahasan kedua dalam menjawab

pertanyaan ini bergantung dengan jawaban atas

pertanyaan-pertanyaan seperti apakah mungkin orang

seperti ini mendapatkan taufiq untuk bertaubat setelah

melakukan dosa luar biasa tersebut? Jika memang ia

bertaubat, apakah taubatnya memang benar-benar atau

hanya sekedar berpura-pura? Dengan membaca ayat-ayat

dan riwayat yang menerangkan bahwa segala dosa dapat

diampuni, apakah sebenarnya ada pengecualiannya? dan

pertanyaan-pertanyaan lain seperti itu… Pertanyaan ini

pada dasarnya adalah pertanyaan yang muncul dari

jawaban pertanyaan yang lain, yaitu pertanyaan “Apakah

Yazid benar-benar bertaubat dan membayar dosanya?”

Jika pertanyaan tersebut terjawab dengan jawaban “ya”,

maka barulah kita bertanya kembali “Apakah taubatnya

bisa diterima?”. Tapi jika terbukti dalam sejarah

Yazid sama sekali tidak menyesali perbuatannya, maka

jelaslah permasalahannya.

 

Hampir semua sejarawan, ulama dan ahli hadis Islam

meyakini Yazid sebagai seorang pendosa besar yang

patut dikecam, terutama setelah terbukti ialah yang

menciptakan peristiwa Asyura. Akan tetapi ada juga

sebagian tokoh seperti Ghazali dalam Ihyaul Ulum-nya

yang melarang kita melaknat Yazid karena mungkin dia

telah bertaubat.

 

Ghazali yang dengan ketenarannya itu tidak diterima

pendapatnya mengenai pembelaan terhadap Yazid. Banyak

yang menentang pendapatnya, seperti Ibnu Jauzi (597

H.) yang sampai menulis satu kitab yang berjudul

Arraddu Alal Mu’tashib Al Anid.

 

Akan tetapi di sepanjang masa sering terdengar bisik-

bisik mengenai adanya kemungkinan Yazid bertaubat,

khususnya dari para orientalis seperti Lamens, seorang

Yahudi, dalam Maqalatu Dairatul Ma’arif Al Islam

(cetakan pertama). Di kalangan Muslimin juga akhir-

akhir ini sering terdengar hal yang sama. Dengan

demikian kita merasa permasalahan ini sangat penting

sekali untuk dibahas.

 

Di sini kita akan membawakan beberapa potong teks yang

terdapat dalam beberapa sumber yang dijadikan oleh

banyak orang sebagai dalil adanya kemungkinan Yazid

bertaubat setelah peristiwa Asyura:

1.    Ibnu Qutaibah dalam Al Imamah wal Siyasah[1]

menulis: “Setelah kejadian-kejadian itu berlangsung di

istana Yazid, ia menangis begitu lama sehingga hampir

saja nyawa melayang dari tubuhnya karena kesedihan

yang dirasa.”

2.    Ketika kepala-kepala para syuhada dan juga para

tawanan dihadirkan di istana Yazid, Yazid terharu dan

menuding Ibnu Ziyad sebagai pelaku kejahatan lalu

berkata, “Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah

(Ubaidillah bin Ziyad) yang mencoreng mukaku di

hadapan Muslimin sehingga aku dibenci oleh mereka!”[2]

Dalam sumber yang lain disebutkan bahwa sebenarnya ia

tidak ingin bersikap keras terhadap Imam Husain as.

atas pertentangannya terhadap dirinya. Ia sama sekali

tidak menerima terbunuhnya Al Husain as. lalu menuduh

Ibnu Ziyad sebagai pembunuh Imam Husain as. yang

sebenarnya.[3]

3.    Ketika rombongan keluarga dan sahabat Imam Husain

as. sedang bergerak menuju Madinah, Yazid berkata

kepada Imam Sajjad as., “Semoga Allah melaknat Ibnu

Marjanah. Sumpah demi Allah, jika seandainya aku yang

berada di hadapan Al Husain as., maka aku akan

memenuhi apapun yang ia minta dan aku tidak akan

membiarkannya terbunuh meskipun apa yang kulakukan itu

menyebabkan kematian anak-anakku sendiri.”[4]

 

Jika anggap saja kita mau menerima riwayat-riwayat di

atas tanpa peduli dengan sanadnya, maka kita akan

mendapatkan beberapa poin berikut ini:

 

Pertama, pelaku pembunuhan Imam Husain as. yang

sbenarnya adalah Ibnu Ziyad dan Yazid sama sekali

tidak memberikan perintah kepada Ibnu Ziyad untuk

memenggal kepala beliau.

 

Kedua, Yazid sangat marah dan melaknat Ibnu Ziyad

akibat perbuatannya.

 

Ketiga, Yazid sangat terharu dan menyesali terbunuhnya

Imam Husain as.

 

Mengenai hal pertama, dalam sejarah dengan teramat

jelas tercatat bukti-bukti kejahatan yang telah Yazid

lakukan; dan dengan demikian jika Yazid mengaku tidak

bersalah maka artinya adalah kebohongan yang nyata.

Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, begitu tahta

pemerintahan jatuh di tangan Yazid setelah kematian

ayahnya, ia menuliskan sebuah surat yang diperuntukkan

kepada Walid bin Utbah yang isinya, “Begitu suratku

sampai di tanganmu, maka bergegaslah bawa Husain bin

Ali dan Ibnu Zubair ke hadapanmu, mintalah baiat dari

mereka berdua, dan jika mereka menolak, penggallah

kepala mereka berdua dan bawa kepadaku.”[5]

 

Dalam sumber-sumber yang lain juga disebutkan bahwa

begitu Yazid mengetahui keberadaan Imam Husain as. di

Makkah, ia mengirimkan beberapa orang utusannya dan

mereka ditugasi untuk membunuh beliau di saat

melaksanakan ibadah hajinya.[6] Hal ini juga

disinggung oleh Ibnu Abbas dalam suratnya yang ditulis

untuk Yazid.[7] Juga pernah disebutkan juga bahwa

ketika Imam Husain as. bergerak menuju Iraq, Yazid

dengan segera menuliskan suratnya kepada Ibnu Ziyad

untuk bersikap keras terhadap beliau[8] dan pada

akhirnya Ibnu Ziyad sendiri mengaku bahwa Yazid memang

memerintahkannya untuk membunuh Imam Husain as.[9]

 

Abdullah bin Abbas menulis sepucuk surat untuk Yazid

dan dalam surat itu Ibnu Abbas menyebutnya sebagai

pembunuh Imam Husain as. dan para pemuda keturunan

Abdul Muthalib. Ia mencaci Yazid dengan berkata,

“Jangan pernah kau kira aku lupa bahwa engkau telah

membunuh Husain dan para pemuda keturunan Abdul

Muthalib!”[10]

 

Kejahatan Yazid begitu jelas sekali. Anaknya sendiri

yang bernama Mu’awiyah bin Yazid pada suatu hari pergi

ke atas mimbar Masjid Jami’ Damaskus dan berbceramah

sambil memaki ayahnya dengan berkata, “…dia telah

membunuh keturunan Rasulullah saw.!”[11]

Kesimpulannya, kenyataan bahwa Imam Husain as. dibunuh

atas perintah Yazid tidak dapat diingkari lagi dan

tercatat jelas dalam sejarah.[12]

 

Adapun mengenai kemarahan Yazid ketika mendengar Ibnu

Ziyad memenggal kepala Imam Husain as., tak lain dan

tak bukan hanyalah kebohongan semata. Terbukti dalam

buku-buku sejarah bahwa ketika ia mendengar

terbununhnya Imam Husain as. ia justru merasa bahagia

dan bahkan memberikan acungan jempol kepada Ibnu

Ziyad. Dalam kitabnya, Sibth bin Jauzi menceritakan

pujian-pujian Yazid kepada Ibnu Ziyad, hadiah-hadiah

berharga yang ia berikan kepadanya, pesta semalaman

dengan acaara meminum minuman keras sekeluarga dan

lain sebagainya. Ia juga menukilkan syair-syair Yazid

yang kandungannya adalah dukungan serta pujiannya

terhadap Ibnu Ziyad yang telah membunuh cucu nabi.[13]

 

Sejarah juga menceritakan bahwa Yazid sama sekali

tidak punya niatan untuk menurunkan jabatan yang

disandang Ibnu Ziyad di Iraq. Ibnu Ziyad tetap di

jabatannya hingga tahun 63 H. dan saat Ibnu Zubair

memimpin gerakan perjuangannya, Yazid meminta Ibnu

Ziyad untuk ikut berperang melawannya.[14]

 

Oleh karenanya, jika seandainya ia menunjukkan

kemarahannya atas terbunuhnya Imam Husain as., maka

itu pasti karena ia berpura-pura. Saat itu banyak

orang terbawa ucapan Zainab as. dan Imam Sajjad as.

sehingga mereka membenci Yazid. Untuk menghilangkan

kebencian inilah Yazid berpura-pura tidak terima akan

perbuatan Ibnu Ziyad.

 

Adapun Yazid sangat bersedih dan menyesali kepergian

Imam Husain as., ini juga jelas-jelas bohong. Dalam

sejarah disebutkan dengan jelas bahwa ketika kepala-

kepala para syuhada dan para tawanan dihadirkan ke

hadapan Yazid di Damaskus, ia menampakkan

kegirangannya lalu memukul gigi-gigi Imam Husain as.

dengan tongkat kayu![15]

 

Ia juga tidak lupa membacakan syair-syairnya yang

menandakan kebencian keluarga Umayah terhadap Bani

Hasyim[16] karena pada suatu hari neneknya yang

bernama Hindun, saudaranya Walid, dan beberapa orang

dari keluarganya terbunuh di tangan para sahabat

Rasulullah saw.

 

Dalam syairnya terdapat kata-kata yang menggambarkan

kedangkalan pikirannya. Ia menganggap kenabian sebagai

alasan untuk mendapatkan kekuasaan duniawi. Ia

berkata, “Bani Hasyim telah bermain-main dengan

kekuasaan ini. Sungguh tidak ada yang namanya kenabian

dan juga tidak pernah turun yang namanya wahyu.”[17]

 

Ya, ia pasti menunjukkan kesedihannya saat itu; karena

jika ia menunjukkan kegembiraannya di saat orang-orang

di sekitarnya sedih pasti ia akan dihajar masa.

Sebagai penutup pembahasan ini, kami ingin menjelaskan

dua permasalahan:

 

Pertama, kita pasti bisa membaca bahwa ketika ia

menunjukkan rasa sedih atau kemarahan atas terbunuhnya

Imam Husain as., di saat-saat seperti itu maka

kenyataan yang sesungguhnya adalah kebalikannya. Ia

hanya bersiasat. Sama sekali tidak ditemukan tanda-

tanda ia menyesal dan bertaubat secara tulus. Oleh

karena itu, kita musti menganalisa sikap Yazid

tersebut dalam segi politik. Karena sikap yang

demikian tidak dapat disebut dengan taubat sehingga

kita musti bertanya-tanya lagi setelah itu, “Apakah

boleh kita melaknat Yazid jika ia telah bertaubat?”

 

Kedua, jika Yazid benar-benar bertaubat, mari kita

buktikan dengan melihat sikap dan perbuatannya setelah

taubat itu. Dengan jelas sejarah menceritakan

perilakunya sepanjang hidup yang jelas-jelas

bertentangan dengan taubat. Dua tahun sebelum

kepemimpinannya berakhir, ia melakukan dua kejahatan

yang lain:

 

1.    Membantai warga Madinah dan menghalalkan harta

benda mereka untuk pasukannya selama tiga hari. Banyak

para sahabat nabi yang terbunuh di kota itu. Kejadian

ini dikenal dengan kejadian Harrah.[18]


2.    Ia memerintahkan pasukannya untuk menyerang Makkah

dan menginjak-injak kehormatan Ka’bah dengan cara

membakarnya.[19]

 

Jika kita membaca sejarah, kita akan dapati bahwa

Yazid bukan hanya tidak menyesali perbuatannya, bahkan

ia terus melakukan kejahatan sesuka hatinya. Oleh

karena itu, tidak ada larangan untuk melaknat Yazid.

 

 

CATATAN :

[1] Al Imamah wal Siyasah, jilid 2, halaman 8.

[2] Sibth Ibnu Jauzi, Tadzkiratul Khawash, halaman

256.

[3] Al Kamil fi At Tarikh, jilid 2, halaman 578.

[4] Ibid.

[5] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 241.

[6] Luhuf, halaman 82.

[7] Tadzkiratul Khawash, halaman 275 yang mana Ibnu

Abbas berkata kepada Yazid, “Apakah engkau lupa bahwa

engkau pernah mengirimkan utusanmu menuju Makkah untuk

membunuh Al Husain as.?”; Tarikh Ya’qubi, jilid 2

halaman 249.

[8] Ibnu Abdur Rabbah, Al Aqdul Farid, jilid 5,

halaman 130; Suyuthi, Tarikhul Khulafa, halaman 165.

[9] Tajarubul Umam, jilid 2, halaman 77

[10] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 248.

[11] Ibid, jilid 2, halaman 254.

[12] Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut,

silahkan rujuk Arrikabul Husaini fis Syam wa minhu

ilal Madinah Al Munawarah, jilid 6, yang merupakan

bagian dari satu kumpulan Ma’ar Rikabil Husaini Minal

Madinah Ilal Madinah, jilid 6, halaman 54-61.

[13] Tadzkiratul Khawash, halaman 29.

[14] Tajarubul Umam, jilid 2, halaman 77.

[15] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 245.

[16] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jilid

14, halaman 280.

[17] Maqtal Khwarazmi, jilid 2, halaman 58;

Tadzkiratul Khawash, halaman 261.

[18] Al Kamil, Ibnu Atsir, jilid 2, halaman 593.

[19] Ibid, halaman 206.