Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Kedermawanan para Imam

1 Pendapat 05.0 / 5

Seorang murid berdialog dengan gurunya

tentang Imam-Imam maksum yang dikenal begitu

dermawan:

Murid: “Dalam riwayat sering sekali

disebutkan kisah-kisah kedermawanan para

Imam. Apakah semua riwayat itu sahih dan

benar?”

Guru: “Ada kemungkinannya sebagian riwayat-

riwayat itu tidak benar. Namun karena riwayat

tentang kedermawanan para Imam sangat banyak

sekali, kita tidak bisa menolak semuanya.

Sebagai contoh, perhatikan riwayat-riwayat

berikut ini:

1. Abdurrahman Salami megajarkan surah Al

Fatihah kepada anak Imam Husain as, lalu

beliau memberinya seribu Dinar dan pakaian-

pakaian baru.[1]

2. Seorang musafir yang kehabisan bekal

mendatangi Imam Ridha as dan berkata, “Aku

seorang musafir yang kehabisan bekal. Berilah

aku biaya agar bisa kembali ke rumahku. Aku

berjanji nanti aku akan bersedekah kepada

orang-orang fakir sebanyak yang kamu beri.”

Imam Ridha as bangkit dan masuk ke dalam

rumah. Beliau membawa sekantung uang yang

berisi dua ratus Dirham lalu memberinya

kepada musafir itu seraya berkata, “Ambillah

ini. Tidak perlu kau bersedekah sebanyak yang

kuberi.”[2]

3. Imam Sajjad memberi dua belas ribu Dirham

kepada Farazdaq, seorang penyair yang hidup

di dalam penjara seraya berkata, “Terimalah

uang ini demi aku.” Lalu Farazdaq pun

menerimanya.[3]

4. Di’bil, seorang penyair yang sering

menciptakan syair-syair mengenang syahidnya

para Imam, pernah dikirim sekantong keping

emas oleh Imam Ridha as yang berisi seratus

Dinar. Di’bil menjual keping-keping itu

kepada orang-orang Iraq, yang mana tiap

kepingnya terjual sebanyak seratus Dirham.[4]

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang

lainnya…”

Murid: “Jika riwayat-riwayat itu memang

benar, lalu mengapa ada riwayat lain yang

menjelaskan bahwa para Imam sangat berhati-

hati dalam menggunakan uang Baitul Mal?

Misalnya diriwayatkan bahwa saat Aqil,

saudara Imam Ali as, meminta jatah yang lebih

dari Baitul Mal, Imam Ali as menolaknya dan

mendekatkan besi panas ke wajahnya sambil

berkata, “Engkau saja ketakutan dengan api di

dunia ini, bagaimana kamu mau menyeretku ke

api neraka dengan perbuatanmu?”[5]

Guru: “Jangan salah, jangan kamu pikir satu-

satunya pemasukan Imam hanyalah Baitul Mal

semata, sehingga bagimu kenyataan ini

terlihat bertentangan. Para Imam memiliki

sumber pencaharian yang bermacam-macam. Yang

bersangkutan dengan Baitul Mal, ya Imam

sangat berhati-hati, seperti apa yang

dilakukan Imam Ali as. Namun pendapatan para

Imam tidak terbatas pada Baitul Mal saja,

misalnya selama 25 tahun Abu Bakar, Umar dan

Utsman menjadi khalifah, beliau melihat para

pengikutnya berada dalam tekanan ekonomi.

Oleh karena itu beliu sibuk berladang dan

membuat perkebunan korma, yang hasilnya

beliau berikan kepada para pengikutnya. Lalu

beliau akhirnya mewakafkan ladang tersebut

supaya digunakan anak cucunya sebagai mata

pencaharian yang hasilnya dapat diberikan

kepada para pengikut Ahlul Bait as yang

butuh.

Imam Ja’far Shadiq as, Imam Baqir as, Imam

Kadzim as, dan Imam-Imam lainnya juga

memiliki pertanian dan peternakan, terkadang

juga mereka mengirim sebagian sahabatnya

untuk berdagang. Karena mereka tahu jika

pengikutnya tertekan karena kesulitan ekonomi

bisa jadi satu per satu mengulurkan tangan

meminta-minta kepada musuh. Oleh karenanya

para Imam berusaha mencari bantuan dari jalan

yang halal untuk memenuhi kebutuhan mereka.”

Murid: “Jadi pemasukan mereka tidak hanya

terbatas pada Baitul Mal saja. Bisakah anda

menyebutkan beberapa riwayat lagi mengenai

pemasukan mereka selain dari Baitul Mal?”

Guru: “Ya, misalnya:

1. Imam Ali as memiliki dua ladang yang

beliau serahkan kepada Abu Naizar untuk

dikelola. Dengan demikian salah satu

ladangnya bernama Ladang Abu Naizar dan

satunya lagi Bughaibughah.

Abu Naizar berkata, “Pada suatu hari, Imam

Ali as memasuki ladang dan bertanya, “Apakah

kamu punya makanan?”

Aku berkata, “Ya aku punya sedikit makanan

yang kuambil dari hasil ladang ini.” Lalu

beliau memakannya, setelah itu beliau

mengambil cangkul dan menggali perairan

ladang agar lebih baik. Beliau terus

mencangkul hingga badannya berlumuran

keringat, dan akhirnya perairan ladang

memiliki air lebih banyak dari sebelumnya.

Setelah itu beliau berkata, “Demi Tuhan aku

ingin mewakafkan ladang ini.” Ia meminta pena

dan kertas untuk menulis perjanjian wakaf.

Diriwayatkan bahwa Imam Husain as pernah

berhutang. Mu’awiyah pun mendengar kabar itu,

lalu mengirim dua ratus ribu Dinar kepada

beliau seraya berkata, “Juallah perkebunan

itu padaku.” Imam Husain as menolak dengan

berkata, “Ayahku telah mewakafkannya agar

kelak wajahnya aman dari api neraka. Aku

tidak akan pernah bersedia menjualnya.”[6]

2. Imam Baqir as sedag sibuk mencangkul dan

menyiapkan tanah untuk ditanami. Datang

seorang yang berlaga zuhud, yang bernama

Muhammad bin Munkadir, dan mengkritik Imam

dengan menyebutnya sebagai orang yang rakus

harta dunia. Ia berkata kepada Imam, “Jika

engkau mati dalam keadaan seperti ini, engkau

pasti akan dihisab dengan susah payah.” Namun

Imam Baqir as menjawab, “Demi Tuhan jika aku

mati dalam keadaan seperti ini berarti aku

mati di jalan ketaatan kepada Allah. Dengan

usaha dan jerih payah aku tidak mau meminta-

minta padamu dan siapapun. Aku hanya takut

mati dalam keadaan berdosa.”[7]

Riwayat serupa pun penah ditukil berkaitan

dengan Imam Shadiq as.[8]

3. Abu Hamzah berkata, “Ayahku pernah

berkata, “Aku pergi ke sebuah ladang, lalu

aku melihat Imam Kadzim as sedang sibuk

mencangkul. Badannya berlumuran dengan

keringat. Aku bertanya, “Di manakah pekerja-

pekerjamu yang lainnya? Mengapa anda

mencangkul sendiri?” Beliau menjawab, “Mereka

yang lebih baik dari aku dan ayahku, semuanya

bekerja dengan tangannya sendiri.” Lalu aku

bertanya, “Siapakah mereka?” Beliau menjawab,

“Mereka adalah Rasulullah saw, Amirul Mukinin

Ali as, kakek-kakeku, dan para nabi; semuanya

bekerja keras dengan tangan mereka sendiri,

dan inilah pekerjaan hamba-hamba Allah swt

yang saleh.”[9]

Murid: “Wah, menakjubkan sekali. Aku suka

mendengar lebih banyak dari anda jika ada

yang mau anda sampaikan.”

Guru: “Di jaman para Imam, pengikut-pengikut

Ahlul Bait as benar-benar dizalimi,

diasingkan dan hak-hak mereka tidak diberikan

oleh pemerintah zalim. Oleh karena itu para

Imam as bekerja keras untuk memudahkan hidup

mereka. Ya, uang Baitul Mal memang bisa

digunakan denga sangat hati-hati demi

terjaganya umat Islam; dan mereka, para Imam

berhak menggunakannya dalam tujuan ini. Namun

mereka tidak hanya memanfaatkan Baitul Mal,

mereka juga bekerja dengan keringat sendiri.

Semua itu dilakukan demi terjaganya umat dan

kemudahan hidup bersama.[10]


CATATAN :

[1] Manaqib Aali Abi Thalib, jilid 4, halaman

66.

[2] Furu’ Kafi, jilid 4, halaman 23 dan 24.

[3] Anwarul Bahiyah, halaman 125.

[4] Uyunu Akhbari Ridha, jilid 2, halaman

263.

[5] Nahjul Balaghah, khutbah 224.

[6] Mu’jamul Buldan, jilid 4, halaman 176.

[7] Irsyad Syaikh Mufid, halaman 284;

Mustadrak Al Wasail, jilid 2, halaman 514.

[8] Furu’ Kafi, jilid 5, halaman 74.

[9] Ibid, halaman 75.

[10] Seratus Satu Dialog, Muhammad Muhammadi

Isytihardi, halaman 337.