Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Apa Pengaruh Taqwa di Dunia?

1 Pendapat 05.0 / 5
Kita mengetahui bahwa taqwa memiliki berbagai sisi pembahasan yang luas dalam Alquran. Kali ini kita mencoba untuk membahas salah satu sisi pembahasan taqwa yaitu pengaruh taqwa di dunia, apa saja pengaruh-pengaruh taqwa bagi manusia di dunia.
 
Jika kita merujuk pada Alquran, kita akan dapati bahwa Allah swt menekankan pentingnya masalah taqwa, sehingga kita bisa mengatakan bahwa tidak ada masalah penting yang lebih Allah swt tekankan melebihi masalah taqwa. Bahkan dalam Alquran Allah swt menjadikan taqwa sebagai standar umat manusia dalam kedekatan kepadaNya, dan juga menjadikan taqwa sebagai  standar kemuliaan bagi umat Manusia di sisi Allah swt, bukan berdasarkan harta, tahta atau kedudukan. Allah swt berfirman :
﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللهَ عَليمٌ خَبيرٌ﴾[1]
 
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “
 
Ayat diatas menerangkan bahwa taqwa merupakan standar kedekatan diri pada Allah swt dan standar kemuliaan bagi manusia disisi Allah swt. Semakin bertambah ketaqwaan manusia semakin dekat dirinya kepada Allah swt, semakin sedikit ketaqwaan manusia, semakin jauh dirinya dari Allah swt.
 
Jika kita merujuk kembali pada Alquran, kita akan mengetahui bahwa taqwa memilki tingkatan-tingkatan tersendiri. Sebagaimana dalam ayat diatas, kata taqwa digunakan dengan memakai bentuk Af’alu Tafdhil yang menunjukkan bahwa taqwa memiliki tingkatan-tingkatan. Selain itu dalam Alquran Allah juga berfirman :
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[2]
 
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
 
Ayat diatas menunjukkan bahwa Allah swt menyuruh orang-orang beriman untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Hal tersebut kembali menunjukan bahwa taqwa memilki tingkatan tingkatan tersendiri.
Sekarang kita kembali pada pembahasan pertama kita mengenai apa pengaruh taqwa bagi manusia di dunia  ?
 
Dalam Alquran Allah swt berfirman :
﴿وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَ مَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْ‏ءٍ قَدْراً ﴾[3]
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberi rezeki kepadanya dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah menciptakan ketentuan bagi segala sesuatu.”
 
Ayat diatas menunjukkan pada kita beberapa pengeruh taqwa bagi manusia, yaitu pertama Allah akan memberikan kemudahan atau jalan keluar bagi orang yang bertaqwa. Artinya seorang yang bertaqwa (muttaqi) tidak akan  merasakan kehidupan yang sempit, sesuai janji Allah swt dalam ayat tersebut Allah akan memberikan kemudahan atau jalan keluar bagi mereka yang bertaqwa.
 
Pengaruh taqwa selanjutnya ialah Allah swt akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Perlu diketahui bahwa rezeki yang dimaksud bukan hanya rezeki yang bersifat materi seperti harta atau makanan dll. Tapi Allah swt juga memberikan rezeki yang bersifat ma’nawi bagi orang-orang yang bertaqwa. Jadi yang dimaksud rezeki dalam ayat tersebut mutlak, yakni baik itu rezeki yang bersifat materi atau pun rezeki yang bersifat ma’nawi. hal tersebut didukung dengan ayat dalam Alquran, Allah swt berfirman :
    وَ اتَّقُوا اللهَ وَ يُعَلِّمُكُمُ اللهُ وَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ[4]
“Bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
 
Ayat diatas menerangkan bahwa Allah swt memberikan rezeki ma’nawi kepada sesiapa yang bertaqwa yaitu ilmu. Jadi, tidak hanya rezeki yang bersifat materi saja yang Allah berikan kepada orang-orang bertaqwa, tapi Allah swt pun memberikan rezeki yang bersifat ma’nawi yaitu ilmu. Bertaqwalah kepada Allah maka Allah swt akan mengajarkanmu.
 
Kita bisa simpulkan sejauh ini, bahwa taqwa memiliki pengaruh bagi manusia, yaitu Allah swt meberikan kemudahan dan jalan keluar bagi mereka yang bertaqwa, kemudian memberikan rezeki kepada mereka dari arah yang tidak disangka-sangka, baik itu rezeki yang bersifat materi maupun yang bersifat ma’nawi.
 
Adapun pengaruh taqwa lainnya yang akan kita bahas selanjutnya yaitu Allah swt menjadikan orang-orang yang bertaqwa “Furqon” . yaitu mereka yang mempunyai kemampuan untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Allah swt berfirman :
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقاناً وَ يُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئاتِكُمْ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ وَ اللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظيمِ[5]
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu (kekuatan) pembeda (antara yang hak dan yang batil di dalam hatimu), menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
 
Dalam shalat kita sehari semalam, kita selalu bermunajat kepada Allah swt dengan meminta hidayah petunjuk untuk berjalan di jalan yang lurus (Shirat Almustaqim), dan bukan jalan yang dimurkai oleh Allah swt. Untuk bisa berjalan di Shirat Almustaqim, syarat yang harus kita penuhi adalah dengan menjadi Furqan, sehingga kita bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil, mana jalan yang lurus yang di ridhoi oleh Allah swt, mana jalan yang dimurkai oleh Allah swt, sehingga kita bisa mencapai tujuan kita untuk sampai kepada keridhoan ilahi. Dan sebagaimana yang telah kita singgung sebelumnya, bahwa Furqan merupakan pengaruh dari taqwa, sesiapa yang menginginkan dirinya menjadi Furqan, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah swt. Dan Furqan merupakan salah satu pengaruh yang paling penting dalam ketaqwaan kita pada Allah swt. Sehingga dengan menjadi Furqan, kita bisa menapaki jalan yang lurus yaitu jalan yang dianugerahi kenikmatan, bukan jalan yang dimurkai, sebagaimana yang sering kita panjatkan dalam shalat sehari-hari kita.
Wallahu A’lam
 
CATATAN :
 
[1] Q.S Al-Hujurat : 13
[2] Q.S Ali Imran : 102
[3] Q.S Thalaq : 2-3
[4] Q.S Al-Baqarah : 282
[5] Q.S Al-Anfal : 29