Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

DIALOG ANTARA MUSLIM DAN KRISTIAN [10]

0 Pendapat 00.0 / 5

Selayang Pandang Sejarah Kenabian


Wilson: Sejarah agama-agama tauhid menunjukkan bahwa seluruh nabi mereka berasal dari ras Semitik dan kebanyakan dari mereka merupakan keturunan Nabi Ibrahim, baik dari keturunan Nabi Ishak atau putra-putri Ismail. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai sebuah keistimewaan yang dengannya Bani Israil dan Bani Ismail unggul dari keseluruhan manusia. Namun hal yang sukar dipercaya untuk diyakini bahwa Tuhan menghadirkan pesan langit hanya kepada dua komunitas ini. Tuhan merupakan Tuhan seluruh bangsa dan pesan-Nya harus diwahyukan kepada seluruh bangsa juga. Jika sejarah agama benar adanya, harus terdapat beberapa alasan kenapa kenabian hanya dibatasi kepada dua komunitas ini saja.



Chirri: Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa pemahaman manusia, pada masa-masa awal, tidak mampu mengangkat isu-isu metafisis, atau menerima ide-ide universal dan tinggi. Adapun interaksi manusia, masing-masing individu terbatas hanya kepada kecintaan terhadap keluarga dan kekerabatan. Seluruh suku yang lain, adalah asing dan kafir baginya. Konsep kebangsaan dan kemanusiaan jarang terlintas dalam benaknya.

Namun demikian, beberapa orang yang berbakat hidup di kalangan manusia pada saat itu, mampu memahami matlab-matlab yang mendalam, dapat mencerap apa yang berada di atas indra, siap untuk menerima tanggung jawab dalam membimbing dan mengajar manusia kala itu. Dengan mengetahui kapasitas luar biasa mereka, Tuhan Mahakasih mewahyukan kepada mereka kebenaran dan membebankan kepada mereka tugas yang paling berat, membimbing umat manusia.

Orang-orang ini dipilih atas asas kepatutan mereka, bukan lantaran hubungan mereka kepada ras atau komunitas tertentu. Sebagaimana diharapkan, orang-orang ini berhadapan dengan kesulitan dan kesukaran yang tak teratasi. Orang-orang tidak siap mengikuti atau menerima ajaran mereka, dan kebanyakan dari mereka seperti Nabi Nuh hanya memperoleh sejumlah kecil pengikut, atau seperti Nabi Ibrahim, yang hampir sepanjang hidupnya sebagai seorang nabi tanpa seorang pun pengikut.

Karena masyarakat menolak untuk berubah, dituntut seorang nabi seperti Ibrahim menjamin keberlangsungan agamanya melalui anak-anaknya, Ismail dan Ishak, yang dengan penuh iman mengikuti keyakinan ayah mereka dan menyampaikannya kepada anak-anak mereka. Ajaran agama berlanjut tersebar hampir sepanjang garis kesukuan. Abad dan kurun berlalu, keyakinan tidak memperoleh para pengikut dari luar, juga tidak diyakini oleh seluruh keturunan Ibrahim.

Tujuan Ilahi, bagaimanapun, tidak membatasi iman dalam konteks kesukuan atau batasan negara. Tuhan Mahakasih dan Mahasayang bertujuan untuk menyebarkan iman di seantero penjuru dunia dan menunjukkan kepada seluruh manusia jalan lurus. Tuhan Yang Mahakuasa mengurus alam semesta melalui jalur-jalur natural dan wajar. Seluruh kejadian di dunia berlaku menurut hukum sebab dan akibat. Dia menjaga iman yang diwahyukan dan memeliharanya untuk tetap hidup, meski pada titik perhentian, melalui sebuah komunitas kecil, yang diberkati dengan mewarisi iman tersebut dari ayah sucinya. Dia yang menyebabkan iman itu tetap menyala dan menyebar tatkala komunitas itu tumbuh berkembang dan memperoleh kekuasaan yang memadai untuk penyebarannya dan menjaganya untuk tetap ada dan hidup, meskipun hanya terbatas, melalui suatu masyarakat kecil, yang mendapat berkah warisan dari kekudusan iman sang ayah. Dia menyebabkan iman itu membakar dan menyebar ketika masyarakat itu tumbuh dan memperoleh kekuasaan yang memadai untuk mengemban tugas besar dalam penyebaran keimanan.

Masyarakat kecil itu diperuntukkan untuk bertumbuh melalui dua garis keturunan, melalui Bani Ismail dan Bani Israil. Mereka berdua diberkati dan kedua-duanya diuji dan dibebankan tugas yang besar untuk memelihara dan menyebarkan iman, kendati ujian tersebut tidak berlangsung bersamaan. Meskipun [demikian] Ismail adalah putra yang pertama Ibrahim dan memperoleh suatu warisan dalam bentuk iman dan saudaranya Ishak juga mendapat berkah seperti itu, dan Allah menangguhkan ujian dari keturunan-keturunan Ismail selama berabad-abad. Ia sedang menyiapkan mereka untuk melanjutkan misi dimana misi tersebut telah dimulai melalui keturunan-keturunan Ishak.

Dengan memulai generasi Ishak, Tuhan Yang Mahakuasa mengikat perjanjian dengannya. Dari Perjanjian Lama kita membaca: "Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. (Kejadian 17:20)



Wilson: Sesuai dengan ucapan Anda, tujuan Ilahi bukan bermaksud untuk membatasi keimanan kepada seseorang atau dua komunitas atau bangsa tetapi untuk menyebarkan keimanan yang benar ke seluruh penjuru dunia dan memperkenalkan ajaran-ajaran Tuhan kepada seluruh bangsa. Namun, hal ini bukan menjadi persoalan. Perjanjian Lama secara berulang menyebut bangsa Israil sebagai bangsa pilihan Tuhan. Ia menyebut bangsa lain sebagai kafir (bukan bangsa Yahudi). Hal ini menunjukkan bahwa Bani Israil mendapatkan perhatian utama dari risalah langit ini.



Chirri: Dengan perjanjian yang dirajut antara Tuhan dan Ishak, Bani Israil seharusnya memeluk dan mengikut dengan tulus perintah dan titah Tuhan dan menuntun seluruh bangsa di dunia ke jalan Tuhan. Namun Bani Israil tidak memenuhi harapan ini. Hanya sebagian kecil yang mengikuti ajaran langit dan kelompok minoritas itu tidak mampu menerima keimanan sebagai sesuatu yang universal atau manusiawi. Sebagai hasilnya, nabi-nabi Bani Israil yang datang berikutnya berbicara kepada umat mereka berdasarkan kepada pemahaman dan pengetahuan mereka. Dalam keadaan ini, keimanan diberi warna sifat kesukuan atau kebangsaan; Tuhan adalah Tuhannya Bani Israil, dan Bani Israil merupakan bangsa pilihan-Nya. Para nabi telah berusaha untuk membuat masyarakat Yahudi memeluk keimanan mereka secara tulus. Perhatian seluruh nabi Bani Israil berpusat pada umat Yahudi, tidak ada umat lain yang menjadi perhatian mereka. Bahkan Isa, sesuai dengan Mathius, memiliki sikap yang sama:

Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.
Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.
Jawab Yesus: Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: Tuhan, tolonglah aku. Tetapi Yesus menjawab: Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. (Matius 15:22-26)



Wilson: Kitab Injil mengatakan bahwa Tuhan telah memerintahkan Ibrahim untuk memperingatkan, istrinya, dan membuang Ismail di sahara Paran, dimana di tempat itu tidak tersedia makanan dan minuman. Perintah ini tidak hanya kelihatan kejam, tapi juga menyiratkan bahwa Tuhan tidak memiliki tujuan apa pun untuk Ismail dan keturunannya.



Chirri: Persiapan yang dilakukan untuk Ismail telah dimulai semenjak Tuhan menasihati hamba utama-Nya Ibrahim untuk memperingatkan istrinya, Sarah, dengan membawa Ismail dan ibunya Hajar pergi ke dataran kering Paran. Para pembaca Perjanjian Lama mesti merasa takjub akan hikmah nasihat sedemikian itu yang nampaknya secara lahir kejam dan tak berbelas kasih. Namun tatkala kita merenungi apa yang ditimbulkan dari peristiwa yang terjadi dalam sejarah ini, kita boleh jadi mengerti hikmah dan kebijaksanaan tersebut.

Tugas untuk menyebarkan sebuah agama yang benar merupakan tugas mentransformasi karakter-karakter individual dan merubah kehidupan seluruh bangsa. Hal yang pertama dihadapi oleh tugas ini adalah sebuah ketidaksepakatan antara guru sebuah ideologi baru dan orang-orang yang ia coba untuk pengaruhi. Usaha semacam ini biasanya menjumpai perlawanan dan resistensi, dan merupakan hal yang wajar bahwa resistensi dapat menuntun kepada sebuah konflik bersenjata. Dalam kasus seperti ini, kebebasan untuk meyakini, mendakwahkan dan mengamalkan terancam, dan dapat diselamatkan dan dilindungi hanya ketika ideologi baru ini siap menerima tantangan dan menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Misi ini, kemudian, memerlukan seorang pemimpin Ilahi yang didukung oleh masyarakat yang memiliki kekuatan, keprawiraan dan ketakwaan yang siap melakukan pengorbanan tanpa ragu-ragu.

Dari seluruh bangsa dan umat di Timur-Tengah, bangsa Arab, selama beberapa abad, telah teruji dan oleh karena itu, memenuhi kualifikasi untuk menunaikan tugas tersebut. Semenanjung Arab tetap tidak dapat ditembus untuk ditaklukkan dan dijajah oleh kekuatan asing. Orang Arab menikmati sebuah kebebasan yang jarang diperiksa oleh penguasa. Ia menjadi percaya diri (self-confident), siap melindungi dirinya dan kebebasannya dengan kekuatannya sendiri dan mencetuskan keinginannya dengan perbuatan. Sebuah bangsa atau umat yang terdiri orang-orang semacam ini memenuhi syarat untuk menunaikan sebuah misi besar; dan ketika mereka diilhami oleh seorang pemimpin langit, ia akan mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik.

Untuk menanamkan agama Ibrahim kepada umat yang seberani dan sekuat itu dan untuk mempersiapkan bangsa tersebut untuk masa depan yang gemilang, Tuhan menasihatkan hamba-Nya Ibrahim untuk mendengarkan istrinya, Sarah, dengan mengutus putranya Ismail pergi sehingga ia dapat bermukim di tengah-tengah masyarakat Arab. Melalui perkawinan antar mereka, keturunan Ismail bersatu dan menjadi sebuah bangsa besar yang ditakdirkan untuk memikul misi besar ini di masa yang akan datang.

"Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar. Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir." (Kejadian 21:17-21)

Dengan menempatkan Ismail di semenanjung Arabia , Ibrahim telah menanamkan biji keimanannya di bumi Arab. Untuk membuat benih ini tumbuh dan keimanan berlanjut, ia membangun bangunan masa depan dengan membangun Rumah Suci, Ka'bah, di tengah-tengah wilayah Arab, sebagai candi pertama Tuhan di dunia. Karena Tuhan telah mengatakan sebelumnya kepada Ibrahim dan sebagaimana yang telah diharapkan Ibrahim, Ka'bah menarik para penduduk Arab dan menjadi markaz suci di negeri itu. Kota suci Mekkah kemudian dibangun di sekelilingnya, dan kemudian setelah itu panggilan Ibrahim setiap tahunnya dipenuhi oleh sejumlah besar peziarah yang mengungjungi Rumah Suci dan beribadah kepada Tuhan di candi-Nya. Dari al-Qur'an kita membaca:

"Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir." (Qs. Hajj [22]:26-28)

Berat bagi Ibrahim meninggalkan putra pertamanya di sahara Arabia dimana di tempat itu tiada buah, tiada air, dan juga tiada kota . Namun ia memiliki dua tujuan yang ingin ia capai, dan masing-masing merupakan tujuan besar yang membuat Ibrahim rela mempersembahkan pengorbanan semacam itu dan ia melakukannya dengan segala upaya dan kesungguhan. Tujuan pertama dari dua tujuan tersebut adalah segera membangun Rumah Suci dan mengangkat putranya sebagai penjaga Rumah Suci tersebut yang akan beribadah kepada Tuhan, menunaikan perkhidmatan sesuai dengan agama benar Tuhan, dan mengajarkan putranya dan masyarakat di tempat itu ajaran-ajaran yang benar. Dengan melakukan hal ini, Ibrahim tidak hanya meluaskan wilayah keimanannyan tapi juga menjamin kontinuitas keyakinannya. Sekiranya keturunan Ishak gagal dalam menunaikan tugas-tugas keagamaan yang dibebankan kepadanya, keimanan dapat berlanjut melalui anak-anak Ismail di negeri Arab. Dari al-Qur'an kita membaca, "Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur."(Qs. Ibrahim [14]:37)

Kita tidak tahu keluasan perkembangan iman Ibrahim di tanah Arab. Sejarah tidak memberitahukan kepada kita secara jelas suasana agama di bumi Arab selama masa panjang yang terbentang semenjak masa Ibrahim hingga akhir abad kelima masa Kristen. Pada abad keenam, kita dapatkan mayoritas masyarakat ketika itu adalah para penyembah berhala Arabia . Namun demikian, kita jumpai, pada saat yang sama, beberapa ritual dan praktik yang hanya dapat diatributkan kepada ajaran Ibrahim. Di antara ritual tersebut adalah ziarah ke Baitullah di Mekkah dan sirkumsisi (sunat/khitan) yang dilakukan dan dipraktikan oleh seluruh kabilah Arab yang bukan beragama Kristen.

Di sepanjang ritual dan pratik ini, kita temukan sebagian kecil masyarakat Arab, beriman kepada Tuhan, beribadah kepada-Nya dan menolak menyembah berhala.

Tujuan kedua Ibrahim adalah menyiapkan putra-putra Ismail dan umat dimana mereka bersatu, untuk masa depan yang gemilang dan jauh -tatkala orang-orang yang berbahasa Arab diutamakan dan dihormati untuk mendapatkan Nabi Pamungkas di antara mereka-; ketika mereka siap menerima pesan agungnya dan menyebarkan firman Tuhan ke seantero jagad. Dari al-Qur'an kita membaca:

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." (Qs. al-Baqarah [2]:127-129)



Doa Nabi Ibrahim diterima (dan menjadi kenyataan) pada abad ketujuh. Nabi yang diramalkan datang dengan sebuah metode yang baru yang mampu menopang kebenaran, menjamin kebebasan yang dibutuhkan dan membuka jalan bagi ajaran-ajaran samawi. Metode yang menggunakan logika sebagai media utama untuk meyakinkan dan menunjukkan kekuatan di hadapan setiap orang yang mengancam kebebasan-kebebasan suci tersebut.

Pada abad ketujuh, dunia diberkati dengan kemunculan Nabi Terakhir dan Universal Muhammad Saw, yang bangkit dari Mekkah, pusat tanah Arab, menyinari Timur dan Barat.