Imam Ali as
Sabda Imam Ja’far as Ketika Dikabari Bahwa Seorang Sahabat Beliau Mendapat Karunia Anak Laki-Laki
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Maka beliau bersabda: Semoga Allah memberimu sikap bersyukur kepada Sang Penganugerah dan semoga Allah memberkati untukmu pada anugerah-Nya, dan semoga Allah memanjangkan umurnya (bayimu) hingga mencapai usia dewasa dan semoga Allah menganugerahkan untukmu sikap baktinya kepadamu.
99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) c
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Hadis Nabi saw. dan para Imam Suci Ahlulbait as., sifat ‘Iffah juga mendapat pujian yang luar biasa. Di antaranya sebagai berikut:
Nabi saw. bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ! إِيَّاكَ وَالسُّؤَالَ، فَإِنَّهُ ذُلٌّ حَاضِرٌ، وَفَقْرٌ مُتَعَجِّلٌ، وَفِيهِ حِسَابٌ طَوِيلٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Wahai Abu Dzarr! Waspadalah terhadap meminta-minta, karena sesungguhnya itu adalah kehinaan yang hadir, kemiskinan yang disegerakan, dan di dalamnya terdapat hisab yang panjang pada hari Kiamat.”
99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) b
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Dalam hadis lain, beliau saw. bersabda:
ثَلاثَةٌ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِنَّ إلّا خَيراً : التَّواضُعُ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا ارتِفاعاً ، وذِلُّ النَّفسِ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا عِزّاً ، والتَّعَفُّفُ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا غِنىً .
“Tiga hal yang Allah tidak menambahnya kecuali dengan kebaikan: Kerendahan hati/ tawâdhu’, Allah tidak menambahkannya kecuali dengan ketinggian derajat, kerendahan jiwa/rendah hati di hadapan kebenaran, Allah tidak menambahkannya kecuali dengan kemuliaan, menjaga kehormatan diri (menahan diri dari yang haram dan meminta-minta), Allah tidak menambahkannya kecuali dengan kekayaan (kecukupan dan keberkahan).
99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) a
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Wahai Kumail, keindahan akhlak seorang mukmin adalah kerendahan hatinya, keelokannya adalah menampakkan sifat ‘Iffah, kemuliaannya adalah mendalami ilmu agama, dan kehormatannya adalah meninggalkan perbincangan sia-sia.
Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Imam Ali as bersabda:
اِستَنزِلُوا الرِّزقَ بِالصَّدَقةِ.
Turunkanlah rezeki dengan bersedekah.
إِذَا أَمْلَقْتُمْ فَتَاجِرُوا اللَّهَ بِالصَّدَقَةِ.
Apabila kalian jatuh miskin, maka berdaganglah dengan Allah melalui sedekah.
Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
(Diambil dari Buku Tafsir Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd)
يَا كُمَيْلُ، الصَّدَقَةُ تُنْمَى عِنْدَ اللهِ.
Wahai Kumail, sedekah itu berkembang di sisi Allah.
Wilayah Sebagai Inti Agama
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Jika seluruh riwayat ini dibaca secara menyeluruh, tampak sebuah benang merah yang kuat: wilayah bukan tema pinggiran dalam agama, melainkan inti dari keberlangsungan risalah.
Muhkam dan Mutasyabih dalam Sejarah Umat
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Dalam salah satu riwayat yang menarik, Imam Ja’far al-Shadiq as mengaitkan ayat tentang muhkam dan mutasyabih dengan realitas sejarah umat Islam.
Para Imam sebagai Pembimbing Kebenaran
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang menjadi pusat petunjuk Ilahi di setiap zaman. Sebagaimana Al-Qur’an merupakan petunjuk tertulis, para Imam adalah petunjuk hidup yang menjelaskan dan menjaga makna Al-Qur’an dari penyimpangan.
Mengganggu Ali Berarti Mengganggu Rasul
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Al-Qur’an melarang kaum mukmin menyakiti Rasulullah saw. Dalam riwayat-riwayat Ahlulbait, larangan ini juga mencakup tindakan memusuhi Ali as dan para Imam.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw:
“Barang siapa menyakiti Ali, maka sungguh ia telah menyakitiku.”
Ketaatan yang Mengantarkan Keberuntungan
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Penafsiran ini berangkat dari prinsip bahwa para Imam adalah penerus otoritas Rasulullah saw dalam menjaga agama. Maka, ketaatan kepada mereka merupakan kelanjutan dari ketaatan kepada Nabi, sebagaimana penolakan terhadap mereka berarti penolakan terhadap sistem petunjuk Ilahi yang telah ditetapkan Allah. (Al-Kafi, jil. 1, Kitab al-Hujjah; Nur al-Tsaqalayn, jil. 4).
Menunaikan Nazar Wilayah
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Ketika menafsirkan ayat “Mereka menunaikan nazar” (QS. al-Insan: 7), Imam Ali al-Ridha as menjelaskan bahwa salah satu maknanya adalah memenuhi janji setia kepada wilayah Ahlulbait.
Bersama Imam Ali di Medan Perjuangan
- Dipublikasi pada
Ketika Imam Ali as akhirnya memegang tampuk kekhalifahan, Imam Hasan menjadi salah satu pendukung utama dalam perjuangan menegakkan keadilan. Ia terlibat dalam berbagai peristiwa penting, termasuk peperangan yang dihadapi oleh ayahnya.
Isyarat Kesyahidan Imam Ali as
- Dipublikasi pada
Dalam suasana itu, Rasulullah saw menangis. Ketika ditanya sebabnya, beliau menyampaikan nubuwah tentang kesyahidan Imam Ali as di bulan Ramadhan. Beliau menggambarkan bagaimana kepala Ali akan ditebas ketika sedang salat hingga janggutnya memerah oleh darah.
Wasiat Imam Ali kepada Putranya Al-Hasan: Bahaya Hawa Nafsu dan Tipuan Dunia
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Taqi Misbah Yazdi
“Aku bersegera menuliskan wasiat ini sebelum hawa nafsu dan tipu daya dunia mendahuluinya, sehingga engkau menjadi seperti unta pembangkang.”
Wasiat Imam Ali kepada Putranya Al-Hasan: Hati Anak Muda, Tanah yang Belum Ditanami
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Taqi Misbah Yazdi
Salah satu metafora paling kuat dalam wasiat ini adalah perumpamaan hati anak muda sebagai tanah kosong:
“Sesungguhnya hati anak muda seperti tanah yang belum ditanami; apa pun yang ditanam di atasnya, ia akan menerimanya.”
Tanda Iman (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Abdul Karim
Cinta dalam pandangan Imam ʿAlī juga adalah sumber keberanian. Ia pernah berkata, “al-qalb al-muḥibb lā yakhāf,” hati yang mencintai tidak mengenal takut. Cinta kepada kebenaran menyingkirkan rasa takut karena ia menautkan manusia kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Inilah yang menjelaskan mengapa cinta kepada beliau menjadi ukuran iman: karena iman sejati menumbuhkan keberanian moral.
Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Dalam al-Mu’jam al-Kabir karya al-Thabrani jilid 2, halaman 253:
عن جابر بن سمرة قال: كنت مع أبي ورسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم) يخطب فقال: لا تبرحون بخير ما قام عليكم اثنا عشر أميرا
Dari Jabir bin Samurah yang berkata: aku pernah bersama ayahku di mana saat itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah, beliau bersabda: Kalian (yaitu umat ini) tidak akan pernah berpisah dengan kebaikan selama 12 amir masih tegak atas kalian
Tanda Iman (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Abdul Karim
Dalam pandangan teologis, cinta memiliki akar yang dalam dalam struktur iman. Ia adalah bentuk tertinggi dari pengetahuan karena mengandung kesatuan antara mengetahui dan mengalami. Cinta kepada Imam ʿAlī adalah bentuk maʿrifah yang aktif, sebab ia menuntut pemahaman terhadap nilai-nilai ilahiah yang diwujudkan dalam kehidupan beliau. Cinta ini tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang meniru akhlak dan sikapnya.
Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Tidak benar kalau prinsip Muslim Syi‘ah dalam mentaati para imam Ahlul Bait as itu diposisikan berhadap-hadapan dengan ketaatan pada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW. Sebab—berdasarkan hadis shahih di kitab Sunni sendiri—pada hakikatnya ketaatan pada Tuhan, nabi dan imam merupakan satu kesatuan ketaatan yang tak dapat dipisahkan

