Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Imam Ali as

Tanda Iman (3)

Tanda Iman (3)

Cinta dalam pandangan Imam ʿAlī juga adalah sumber keberanian. Ia pernah berkata, “al-qalb al-muḥibb lā yakhāf,” hati yang mencintai tidak mengenal takut. Cinta kepada kebenaran menyingkirkan rasa takut karena ia menautkan manusia kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Inilah yang menjelaskan mengapa cinta kepada beliau menjadi ukuran iman: karena iman sejati menumbuhkan keberanian moral.

Baca Yang lain

Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (3)

Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (3) Dalam al-Mu’jam al-Kabir karya al-Thabrani jilid 2, halaman 253:   عن جابر بن سمرة قال: كنت مع أبي ورسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم) يخطب فقال:  لا تبرحون بخير ما قام عليكم اثنا عشر أميرا  Dari Jabir bin Samurah yang berkata: aku pernah bersama ayahku di mana saat itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah, beliau bersabda: Kalian (yaitu umat ini) tidak akan pernah berpisah dengan kebaikan selama 12 amir masih tegak atas kalian 

Baca Yang lain

Tanda Iman (2)

Tanda Iman (2) Dalam pandangan teologis, cinta memiliki akar yang dalam dalam struktur iman. Ia adalah bentuk tertinggi dari pengetahuan karena mengandung kesatuan antara mengetahui dan mengalami. Cinta kepada Imam ʿAlī adalah bentuk maʿrifah yang aktif, sebab ia menuntut pemahaman terhadap nilai-nilai ilahiah yang diwujudkan dalam kehidupan beliau. Cinta ini tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang meniru akhlak dan sikapnya. 

Baca Yang lain

Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (2)

Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (2) Tidak benar kalau prinsip Muslim Syi‘ah dalam mentaati para imam Ahlul Bait as itu diposisikan berhadap-hadapan dengan ketaatan pada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW. Sebab—berdasarkan hadis shahih di kitab Sunni sendiri—pada hakikatnya ketaatan pada Tuhan, nabi dan imam merupakan satu kesatuan ketaatan yang tak dapat dipisahkan  

Baca Yang lain

Tanda Iman (1)

Tanda Iman (1) Cinta selalu menjadi inti dari setiap pencarian spiritual manusia. Ia bukan hanya emosi, tetapi keadaan batin yang menghubungkan manusia dengan sumber makna yang lebih tinggi. Dalam Islam, cinta tidak sekadar perasaan yang lahir dari afeksi, melainkan bagian dari struktur iman. Cinta kepada Allah, kepada Rasul, dan kepada orang-orang yang telah menjadi perwujudan nilai-nilai ilahiah merupakan poros bagi seluruh amal dan keyakinan.

Baca Yang lain

Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (1)

Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (1) Dalam kitab-kitab Sunni yang menjadi sumber primer di kalangan mereka seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Musnad Ahmad, Musnad al-Bazzar dan Syu‘ab al-Iman li al-Baihaqi, terdapat hadis shahih berikut ini:   

Baca Yang lain

Ali, yang Paling Dicintai Allah dan Rasul-Nya

Ali, yang Paling Dicintai Allah dan Rasul-Nya Hadis hidangan ayam yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik menegaskan kedudukan Ali secara simbolik dan teologis. Rasulullah saw berdoa: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku hamba-Mu yang paling Engkau cintai untuk makan bersamaku.” Yang datang adalah Ali bin Abi Thalib. (Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, al-Hakim an-Naisaburi, jil. III, hlm. 131; diriwayatkan melalui lebih dari 80 sanad sahih Ahlusunah)  

Baca Yang lain

Memandang Ali sebagai Ibadah

Memandang Ali sebagai Ibadah Sejumlah hadis menyebutkan bahwa menatap wajah Ali dan menyebut kebajikannya adalah ibadah. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Abu Bakar sering menatap wajah Ali. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Melihat wajah Ali adalah ibadah.” (Ar-Riyadh an-Nadhirah, Muhib ath-Thabari, jil. II, hlm. 219)  

Baca Yang lain

Hadis-Hadis tentang Cinta kepada Ali

Hadis-Hadis tentang Cinta kepada Ali Dalam satu hadis panjang, Rasulullah saw bersabda kepada Ali bahwa Allah telah menghiasinya dengan perhiasan paling mulia: zuhud terhadap dunia, keberpihakan kepada kaum tertindas, dan kepemimpinan yang dibanggakan oleh orang-orang miskin. Nabi menegaskan: “Berbahagialah orang yang mencintaimu dan bersahabat denganmu dengan tulus. Celakalah orang yang memusuhimu dan berdusta tentangmu.” (Usud al-Ghabah, Ibn al-Atsir, jil. IV, hlm. 23; Kanz al-‘Ummal, al-Muttaqi al-Hindi, jil. VI, hlm. 156)  

Baca Yang lain

Mencintai Ali Menurut Al-Qur’an dan Sunnah

Mencintai Ali Menurut Al-Qur’an dan Sunnah Cinta dalam Islam bukanlah emosi netral yang dibiarkan mengalir tanpa arah. Ia adalah kekuatan pembentuk jiwa, penentu orientasi, dan pengikat loyalitas. Karena itu, Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana mencintai, tetapi juga siapa yang pantas dicintai. Al-Qur’an dan Sunnah menempatkan cinta sebagai instrumen penyucian manusia dan sarana penjagaan agama setelah wafatnya para nabi.  

Baca Yang lain

Cinta Ali sebagai Poros Keselamatan

Cinta Ali sebagai Poros Keselamatan Mencintai Ali bin Abi Thalib as bukanlah slogan emosional atau identitas mazhab semata. Ia adalah perintah Al-Qur’an, teladan Nabi, dan poros keselamatan umat. Cinta ini melahirkan keberpihakan pada keadilan, keberanian melawan tirani, dan kesetiaan mutlak kepada kebenaran.  

Baca Yang lain

99 Wasiat Imam Ali as. Kepada Kumail bin Ziyâd (Bag. 4)

99 Wasiat Imam Ali as. Kepada Kumail bin Ziyâd (Bag. 4) Dalam wasiat ini, Imam ali as menekankan pentingnya mengambil ilmu, ajaran dan tuntunan Agama dari sumber yang terpercaya, yaitu Ahlulbait Suci Nabi saw. Dengan demikian, kemurnian Agama terjaga dan ia berhak disebut sebagai bagian dari Ahlulbait as. yaitu dari Syi’ah dan pengikut mereka.  

Baca Yang lain

Mengapa Imam Ali Memandang Empati Sebagai Bentuk Kebaikan Utama? (2)

Mengapa Imam Ali Memandang Empati Sebagai Bentuk Kebaikan Utama? (2) Sekilas pandangan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya mengandung filsafat mendalam tentang hidup bersama dan tanggung jawab sosial. Di dunia yang kerap dibentuk oleh individualisme dan jarak antarmanusia, empati dan saling membantu menjadi jembatan yang menghubungkan hati—jembatan kasih sayang, keadilan, dan pemahaman.

Baca Yang lain

Mengapa Imam Ali Memandang Empati Sebagai Bentuk Kebaikan Utama? (1)

Mengapa Imam Ali Memandang Empati Sebagai Bentuk Kebaikan Utama? (1) Sekilas pandangan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya mengandung filsafat mendalam tentang hidup bersama dan tanggung jawab sosial. Di dunia yang kerap dibentuk oleh individualisme dan jarak antarmanusia, empati dan saling membantu menjadi jembatan yang menghubungkan hati—jembatan kasih sayang, keadilan, dan pemahaman.  

Baca Yang lain

Mengapa Pemikir Non-Muslim Terpesona dengan Nahj al-Balaghah? (2)

Mengapa Pemikir Non-Muslim Terpesona dengan Nahj al-Balaghah? (2) Sayid Radhi, penyusun Nahj Al-Balaghah, menyatakan bahwa motivasi utamanya dalam menyusun kitab ini adalah permintaan para sahabatnya untuk mengumpulkan ucapan-ucapan fasih dan indah Imam Ali as. Ia hanya memilih sebagian dari sabda Imam, dan karena itu menamakan karya tersebut “Nahj Al-Balaghah”.  

Baca Yang lain

Mengapa Pemikir Non-Muslim Terpesona dengan Nahj al-Balaghah? (1)

Mengapa Pemikir Non-Muslim Terpesona dengan Nahj al-Balaghah? (1) Karniko, profesor sastra di Universitas Aligarh, India, menyebut Nahj Al-Balaghah sebagai “saudara kecil Al-Qur’an”, dan berpendapat bahwa keagungan karya ini memungkinkan adanya perbandingan dan penilaian terhadap Al-Qur’an.

Baca Yang lain

Para Sahabat Nabi saw dan Keutamaan Imam Ali as (2)

Para Sahabat Nabi saw dan Keutamaan Imam Ali as (2) Selain itu, Rasulullah saw bersabda: “Ali bagian dari diriku, dan aku bagian darinya.” (Musnad Ahmad, Shahih Bukhari, Sunan al-Kubra al-Baihaqi)

Baca Yang lain

Para Sahabat Nabi saw dan Keutamaan Imam Ali as (1)

Para Sahabat Nabi saw dan Keutamaan Imam Ali as (1) Semoga Allah menjadikan kita sebagai umat yang mampu merajut persaudaraan, memuliakan para sahabat dengan adil, dan menempatkan Ahlulbait Nabi saw pada kedudukan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Baca Yang lain

Imam Ali Bin Abi Thalib : Ladang Dulu, Pajak Belakangan (2)

Imam Ali Bin Abi Thalib : Ladang Dulu, Pajak Belakangan (2) Bagi Imam Ali bin Abi Thalin, pertanian, bukan sekadar sumber pangan. Ia adalah urat nadi perdagangan, penopang harga yang stabil, dan penjamin kedaulatan bangsa dan negara. Negara yang membiarkan tanahnya gersang, tak produktif dan petaninya miskin sedang menyiapkan liang kubur bagi negaranya sendiri. Pajak yang sehat lahir dari rakyat yang kenyang, bukan dari rakyat yang terhimpit.

Baca Yang lain

Imam Ali Bin Abi Thalib : Ladang Dulu, Pajak Belakangan (1)

Imam Ali Bin Abi Thalib : Ladang Dulu, Pajak Belakangan (1) Sejarah tidak pernah bosan mengajarkan bahwa kemegahan tanpa keadilan hanyalah istana di atas pasir. Ia akan runtuh ketika gelombang pertama datang. Pertanian, bagi Imam Ali, adalah pondasi itu. Bukan karena tanah semata, tetapi karena tanah adalah kehidupan. Dan kehidupanlah yang menjadi sumber sejati dari segala kemakmuran—termasuk pajak yang adil.

Baca Yang lain