Imam Husein as
Spiritualitas Ramadan Harus Melahirkan Kepedulian Sosial
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir
Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya, menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum penting untuk menata moralitas dan spiritualitas. Hal ini beliau sampaikan dalam rapat evaluasi bersama seluruh pengurus DPP ABI pada Kamis (27/02) di Kantor Pusat ABI, Jakarta Selatan.
Hayhāt minnā al-dhillah 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Jauh dari kami menerima kehinaan.
Di tangan Imam Husain, semboyan itu menjadi penolakan terhadap baiat yang dipaksakan. Semboyan yang sama menjelma menjadi prinsip moral yang melampaui ruang dan waktu. Ustadz Zahir mengingatkan bahwa kemuliaan manusia hanya dapat dipertahankan apabila kebebasan tetap dijaga, kehormatan tidak diperjualbelikan, dan kedaulatan tidak diserahkan kepada siapa pun selain Allah.
Hayhāt minnā al-dhillah 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Menjelang akhir ceramah, suasana majelis kembali hening. Setelah membawa hadirin menelusuri perjalanan panjang dari Madinah hingga Karbala, dari tragedi Asyura hingga makna kemerdekaan sebuah bangsa, Ustadz Zahir menutup seluruh argumentasinya dengan satu refleksi yang mengikat seluruh pembahasan.
Indonesia dan Relevansi Asyura
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Tekanan tersebut, lanjutnya, tidak selalu hadir dalam bentuk agresi militer. Di era modern, dominasi dapat muncul melalui pengaruh politik, ketergantungan ekonomi, tekanan finansial, hingga berbagai mekanisme yang secara perlahan mengurangi kemandirian sebuah negara dalam menentukan kebijakannya.
Indonesia dan Relevansi Asyura 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
“Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai bangsa yang telah merdeka?” tanyanya kepada hadirin.
“Apa yang harus kita lakukan agar kemerdekaan itu tetap terjaga dan bangsa ini terus hidup bermartabat di hadapan bangsa-bangsa lain?”
Indonesia dan Relevansi Asyura 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Dari pembacaan atas sejarah Karbala, pelajaran malam Asyura, hingga konsep tauhid dan penolakan terhadap thaghut, Ustadz Zahir akhirnya mengajak hadirin mengarahkan pandangan kepada Indonesia. Baginya, nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husain tidak berhenti sebagai warisan sejarah yang dikenang setiap Muharram. Nilai-nilai itu menuntut keberanian untuk diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karbala: Warisan Universal untuk Seluruh Umat Manusia 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Ustadz Zahir kemudian menyebut nama Presiden pertama India, Rajendra Prasad, sebagai contoh lain. Dalam pandangan tokoh yang dikenal sebagai salah seorang arsitek kemerdekaan India itu, pengorbanan Imam Husain telah melampaui batas geografis maupun agama. Karbala mewariskan satu pelajaran yang tetap relevan bagi setiap bangsa, yaitu bahwa kebenaran dan martabat manusia harus ditempatkan di atas kepentingan hidup itu sendiri.
Karbala: Warisan Universal untuk Seluruh Umat Manusia
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Setelah meletakkan fondasi teologis tersebut, Ustadz Zahir membawa hadirin melihat Karbala dari sudut pandang yang lebih luas. Baginya, kebangkitan Imam Husain tidak pernah dimaksudkan menjadi milik satu kelompok atau satu mazhab. Nilai-nilai yang diperjuangkan di Padang Karbala telah melampaui batas-batas identitas keagamaan dan menjadi inspirasi bagi banyak tokoh dunia.
Tauhid dan Penolakan terhadap Thaghut 3
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Karena itu, lanjut Ustadz Zahir, perintah Al-Qur’an untuk menjauhi thaghut bukan sekadar larangan teologis, melainkan seruan pembebasan.
Tauhid dan Penolakan terhadap Thaghut 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Ustadz Zahir mengantarkan hadirin kepada pembahasan berikutnya mengenai makna thaghut. Menurutnya, memahami konsep tersebut secara benar akan membantu umat membaca berbagai bentuk dominasi yang terus berubah dari zaman ke zaman, sekaligus memahami mengapa Al-Qur’an menjadikan penolakan terhadap thaghut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari seruan tauhid.
Tauhid dan Penolakan terhadap Thaghut 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Bagi Ustadz Zahir, prinsip itu bukan hanya pandangan politik, namun berakar langsung pada ajaran tauhid yang dibawa seluruh nabi. “Kemuliaan dan martabat yang dicari oleh setiap manusia dan setiap bangsa pada hakikatnya juga merupakan perintah agama.”
Dari Individu ke Bangsa: Martabat Kolektif
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Pelajaran yang dipetik dari malam Asyura tidak berhenti pada kebebasan individu dalam menentukan pilihan hidupnya. Dari situ Ustadz Zahir memperluas cakrawala pembahasannya. Jika kemerdekaan menjadi syarat tegaknya martabat seorang manusia, apakah prinsip yang sama juga berlaku bagi kehidupan sebuah bangsa?
Malam Asyura: Deklarasi Kemerdekaan Manusia
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Ustadz Zahir mengajak hadirin memperhatikan satu peristiwa yang menurutnya merupakan pelajaran paling berharga dari seluruh rangkaian tragedi Karbala, yakni malam Asyura.
Karbala: Perjuangan Martabat, Bukan Semata-mata Perlawanan 3
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
“Benar, dalam kebangkitan ini ada unsur jihad. Ada unsur amar makruf nahi mungkar. Ada unsur perlawanan terhadap kezaliman. Semua itu benar. Namun musuh-musuh Al-Husain tidak membunuh beliau karena tujuan-tujuan tersebut.”
Karbala: Perjuangan Martabat, Bukan Semata-mata Perlawanan 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Kalimat itu menjadi fondasi argumentasi yang terus di bangun. Ustadz Zahir mengajak hadiri membaca kembali sejarah Karbala secara utuh, bukan hanya melalui akhir tragedinya. Menurutnya, Imam Husain tidak pernah menjadikan peperangan sebagai tujuan. Sejarah menunjukkan bahwa beliau masih membuka berbagai jalan untuk menghindari pertumpahan darah selama kehormatan manusia tetap terjaga.
Karbala: Perjuangan Martabat, Bukan Semata-mata Perlawanan 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Pernyataan tersebut menggeser cara pandang terhadap Asyura. Tragedi Karbala tidak lagi ditempatkan semata sebagai kisah heroik melawan tirani, tetapi sebagai gerakan besar untuk mempertahankan sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu kemuliaan dan martabat manusia.
Tangisan Nabi dan Kabar dari Langit 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Jibril kemudian berkata, “Sesungguhnya umatmu akan membunuh cucumu ini. Jika engkau menghendaki, aku akan menunjukkan kepadamu tempat ia akan gugur.”
Tangisan Nabi dan Kabar dari Langit 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Gagasan itulah yang kemudian mengalir sepanjang ceramah. Ustadz Zahir tidak memulai pembahasannya dari peristiwa peperangan di Padang Karbala, melainkan dari kedudukan Imam Husain di sisi Rasulullah SAW. dan perhatian nabi terhadap syahadah cucu Nabi tersebut.
Asyura sebagai Landasan Martabat Bangsa
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Zahir Yahya
Peringatan Syahadah Imam Husain a.s. di Jakarta mengingatkan bahwa melawan kezaliman hanyalah tujuan antara, tujuan akhirnya adalah memerdekakan manusia dan menjaga kedaulatan bangsa dari segala bentuk tekanan.
Ketulusan sebagai Simpul Kekuatan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Ahmad Hidayat
Menutup ceramahnya, Ustadz Ahmad Hidayat menegaskan bahwa keberhasilan perjuangan melawan kezaliman pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas moralitas dan ketulusan umat. Menurut beliau, jawaban atas seruan Labbaika Ya Husain tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui akhlak dan kerja nyata.

