Imam Husein as
HUSEIN BERSAMAKU
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Dari Al-Husein yg penuh kelembutan, aku wartakan amanat perdamaian. Meski tak jarang, kita akan dikhianati oleh keserakahan. (2019) Dari ribuan lampau. Dari mil yang sangat jauh. Aku mendengar sayup-sayup merdu berbisik, “setiap orang, akan menjumpai padang karbalanya sendiri-sendiri” (1980 – ….. )
Ketika Kekuasaan Membungkam Para Pembawa Nurani
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- afifah ahmad
Rumi tidak hanya mengkritik penguasa, tetapi juga menunjukkan siapa yang pertama kali menjadi korban sistem yang rusak: mereka yang jujur, arif, dan membawa nurani.
Asyura dan Jantung Kemanusiaan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Karbala tidak berakhir di padang itu. Ia dibawa keluar oleh seorang saksi. Zainab binti Ali, saudari Husain, selamat dari pembunuhan dan ditawan. Di Kufah dan di istana Damaskus, di hadapan para penguasa, ia berdiri dan berbicara. Ketika Ibnu Ziyad bermaksud merendahkannya dengan mengungkit nasib keluarganya, ia menjawab dengan kalimat yang mengubah kekalahan menjadi kemenangan abadi, ma ra’aytu illa jamila, aku tidak melihat apa pun kecuali keindahan.
Temuan: Benang Merah Manusia yang Menolak Direduksi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Lima belas pemikir memandang Karbala dari sudut yang berbeda, tetapi satu kesaksian terus berulang. Foucault melihat keberanian mengatakan yang benar. Al-Farabi melihat kota utama melawan kota penindas. Habermas melihat kata yang menolak dipaksa. Fanon melihat martabat yang direbut kembali. Arendt melihat kekuasaan sejati pada yang sedikit. Levinas melihat wajah yang memerintah jangan membunuh. Weil melihat jiwa yang menolak menjadi benda. Buber melihat dunia Aku-Engkau.
Khamenei: ishlah, basirah, dan hukum Asyura yang berulang
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Lima belas lensa di atas menyoroti reduksi manusia pada bidang individu. Khamenei menambahkan bidang yang lain, yaitu bidang masyarakat dan sejarah. Ia membaca Asyura bukan sebagai ratapan, melainkan sebagai kerja analitis, dan membedakan dua lapis pembacaan. Pelajaran (durus) mengajarkan apa yang harus dilakukan, sedangkan moral (ibar) menjelaskan bagaimana sebuah masyarakat bisa runtuh. Lapis kedua ia nilai lebih utama.
Mulla Sadra: kematian sebagai puncak keberadaan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Husain memandang kematian sebagai kebahagiaan. Bagaimana mungkin? Mulla Sadra, dengan hikmah muta’aliyahnya, mengajarkan keutamaan wujud, bahwa yang sungguh nyata adalah eksistensi yang bertingkat-tingkat dalam intensitasnya, serta gerak substansial, bahwa jiwa terus bergerak dan menguat. Dalam kerangka ini, kematian bukan pemadaman, melainkan perpindahan ke derajat wujud yang lebih pekat.
Derrida: keadilan yang melampaui hukum, dan jejak yang tak terhapus
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Di padang pasir, air adalah keramahan yang paling dasar, dan memblokade air berarti melanggar keramahan pada lapisannya yang paling purba. Jacques Derrida membedakan keadilan dari hukum. Hukum bisa ditegakkan oleh kekuasaan lengkap dengan stempel resminya, tetapi keadilan selalu melampaui hukum dan menggugat hukum yang tidak adil.
Gadamer: peristiwa yang membaca kita
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Hans-Georg Gadamer mengajarkan bahwa memahami selalu merupakan percakapan antara cakrawala kita dan cakrawala peristiwa yang kita hadapi, yang ia sebut peleburan cakrawala, serta bahwa peristiwa besar terus membentuk kita melalui sejarah pengaruhnya. Karbala adalah contoh sempurna sejarah pengaruh itu. Setiap tahun, cakrawala kita melebur dengan cakrawala Karbala, dan pertanyaan-pertanyaannya menjadi pertanyaan kita.
Hume: simpati yang menyatukan hati lintas zaman
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Mengapa kisah ini mampu membuat manusia di mana pun meneteskan air mata? David Hume menjawabnya dengan satu kata, yaitu simpati. Bagi Hume, moralitas tidak lahir dari penalaran dingin, sebab akal seharusnya menjadi pelayan bagi rasa, dan ada mekanisme dalam jiwa yang membuat perasaan menular dari satu hati ke hati lain.
Camus: pemberontak yang berkata tidak, dan dengan itu berkata kita
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Albert Camus menulis bahwa pemberontak adalah manusia yang berkata tidak, tetapi dalam penolakannya ia sekaligus menegaskan sebuah ya, yaitu nilai yang ia anggap lebih berharga daripada nyawanya. Pemberontak Camus tidak bangkit demi merebut kuasa, melainkan karena ada garis yang tidak boleh dilanggar atas martabat manusia. Begitu ia berkata tidak demi dirinya, ia menemukan bahwa ia berkata tidak demi semua orang. Husain berkata tidak. Ia bahkan sampai akhir tidak menyerang lebih dahulu.
Frankl: kebebasan terakhir dan makna dalam derita
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Hurr bin Yazid al-Riyahi adalah panglima pasukan terdepan yang semula menghadang jalan Husain. Tetapi pada pagi Asyura, sesuatu bergetar dalam dirinya. Ia memilih antara surga dan neraka, lalu memacu kudanya menyeberang dari barisan penindas ke barisan yang tertindas, dan Husain menyambutnya dengan menegaskan bahwa ia memang merdeka sebagaimana ibunya menamainya. Viktor Frankl, yang menyusun logoterapi dari pengalamannya di kamp maut, menulis bahwa segala sesuatu dapat dirampas dari manusia kecuali satu, yaitu kebebasan terakhir untuk memilih sikap dalam keadaan apa pun, dan bahwa derita yang dipikul demi makna berhenti menjadi derita.
Heidegger: keberadaan yang menyongsong kematian dengan tegak
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Martin Heidegger menulis bahwa manusia adalah ada yang menyongsong kematian, dan bahwa hidup yang otentik dimulai ketika seseorang berhenti lari dari kefanaan, mendengar panggilan nuraninya, dan dengan tegak memeluk kematiannya sendiri sebagai miliknya yang paling pribadi, alih-alih larut dalam kerumunan yang anonim. Para sahabat Husain diberi tahu bahwa fajar membawa kematian yang pasti. Mereka tidak lari ke dalam kerumunan yang selamat. Dengung bacaan Al-Qur’an pada malam itu adalah suara mereka yang memiliki keberadaannya sendiri.
Buber: malam Asyura dan dunia Aku-Engkau
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Pada malam sebelum Asyura, Husain mengumpulkan para sahabatnya, melepaskan baiat mereka, dan mempersilakan mereka pergi di bawah gelap malam karena musuh hanya menginginkan dirinya. Tak seorang pun pergi. Mereka menjawab satu demi satu, sebagian berkata bahwa andai dibunuh lalu dihidupkan lalu dibunuh lagi berkali-kali, mereka tidak akan meninggalkannya. Tentang mereka, Husain bersaksi sendiri.
Simone Weil: kekuatan yang mengubah manusia menjadi benda
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Dalam telaahnya tentang Iliad, Simone Weil mendefinisikan kekuatan sebagai sesuatu yang mengubah manusia menjadi benda, kadang menjadi mayat, kadang membuat yang masih hidup lumpuh oleh teror sampai kehilangan jiwa. Blokade air adalah kekuatan dalam wujud paling telanjang.
Levinas: wajah yang memerintah jangan membunuh
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Di antara semua episode Karbala, yang paling sukar dipikul hati adalah kisah air. Abbas bin Ali, saudara Husain dan pembawa panji, pergi ke sungai membawa wadah air. Ia berhasil mengisinya, tetapi tidak meminumnya meski ia sendiri kehausan, sebab anak-anak di kemah belum minum. Dalam perjalanan kembali, kedua lengannya ditebas, wadah air tertembus anak panah, dan ia gugur di tepi sungai. Lalu ada bayi enam bulan, yang dikenal sebagai Ali al-Ashghar. Husain mengangkatnya di hadapan pasukan, meminta seteguk air untuk sang bayi, dan jawabannya adalah anak panah.
Arendt: kekuasaan kecil melawan kekerasan besar
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Umar bin Sa’ad, panglima yang memimpin pengepungan, sebenarnya ragu, tetapi ia diiming-imingi jabatan dan memilih karier di atas nuraninya. Hannah Arendt membedakan kekuasaan dari kekerasan. Kekuasaan lahir ketika manusia bertindak bersama dalam kesepakatan, sedangkan kekerasan bersifat instrumental dan bisu. Arendt juga menulis tentang kedangkalan kejahatan, tentang pelaku yang bukan monster melainkan birokrat yang berhenti berpikir.
Fanon: martabat yang direbut kembali
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Di antara para sahabat Husain ada Jaun, seorang bekas budak berkulit hitam yang dahulu dimerdekakan. Pada hari itu ia maju meminta izin berperang. Husain menawarkan agar ia pergi menyelamatkan diri, tetapi Jaun menolak. Ia memohon agar darahnya yang gelap diizinkan bercampur dengan darah keluarga suci itu, dan tradisi mengabadikan doa Husain agar wajahnya diterangkan dan namanya dimuliakan.
Habermas: kata yang tidak boleh dipaksa
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Yang dituntut dari Husain adalah baiat. Yang ia tolak adalah cara baiat itu diminta. Jurgen Habermas membedakan tindakan komunikatif dari tindakan strategis. Pada yang pertama, manusia mencapai kesepahaman melalui argumen, dalam situasi tanpa paksaan kecuali kekuatan argumen yang lebih baik. Pada yang kedua, manusia memperlakukan sesamanya sebagai alat.
Al-Farabi: kota yang utama dan kota yang menindas
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Mengapa Husain bangkit? Al-Farabi membangun gambaran al-madinah al-fadhilah, kota yang utama, yang disusun menyerupai tubuh yang sehat dan diarahkan kepada satu tujuan, yaitu sa’adah, kebahagiaan sejati seluruh warga. Di hadapannya ada kota-kota yang sakit, termasuk madinat al-taghallub, kota yang berdiri di atas penaklukan dan dominasi. Pemerintahan Yazid adalah potret kota yang menindas itu. Tujuannya bukan kebahagiaan warga, tetapi kelanggengan kuasa.
Foucault: keberanian mengatakan yang benar
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Husain menolak satu hal yang tampak kecil, yaitu baiat kepada Yazid. Penolakan itu yang memicu segalanya. Di akhir hidupnya, Michel Foucault mengembangkan konsep parrhesia, keberanian mengatakan yang benar. Parrhesiast adalah orang yang berbicara jujur kepada kekuasaan, dari posisi yang lebih lemah, dengan taruhan nyawanya sendiri. Ia tidak berbicara untuk menyenangkan.

